SH.Mintardja
Pertentangan itu sedemikian meruncingnya sehingga terpaksa diselesaikan dengan pertumpahan darah, Syeh Siti Jenar dilenyapkan, disusul dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga yang juga disebut Ki Ageng Pengging. Ki Kebo Kenanga ini meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet. Karena dibesarkan oleh Nyai Ageng Tingkir, kemudian Mas Karebet jugadisebut Jaka Tingkir. Jaka Tingkir inilah yang kemudian akan menjadi raja, menggantikan Sultan Trenggana.
Jaka Tingkir pula yang memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang. Pada masa yang demikian, tersebutlah seorang saudara muda seperguruan dari Ki Ageng engging yang bernama Mahesa Jenar. Karena keadaan sangat memaksa, Jaka Tingkir pergi meninggalkan kampung halaman, sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya. Ia merantau, untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan. Telah bertahun-tahun Mahesa Jenar mengabdikan dirinya kepada Negara sebagai seorang prajurit. Tetapi karena masalah perbedaan ajaran tentang kepercayaan, yang telah menimbulkan beberapa korban, ia terpaksa mengundurkan diri, meskipun kesetiannya kepada Demak tidak juga susut.
Hanya dengan bekal kepercayaan kepada diri sendiri serta kepercayaan kepada Allah SWT, Mahesa Jenar mencari daerah baru yang tidak ada lagi persoalan mereka yang berbeda pendapat mengenai pelaksanaan ibadah untuk menyembah Sang Pencipta. Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pilihan, pengawal raja. Ia bertubuh tegap kekar, berdada bidang. Sepasang tangannya amat kokoh, begitu mahir mempermainkan segala macam senjata, bahkan benda apapun yang dipegangnya. Sepasang matanya yang dalam memancar dengan tajam sebagai pernyataan keteguhan hatinya, tetapi keseluruhanwajahnya tampak bening dan lembut. Ia adalah kawan bermain Ki Ageng Sela pada masa kanak-kanaknya. Ki Ageng Sela, inilah yang kemudian menjadi salah seorang guru dari Mas Karebet, yang juga disebut Jaka Tingkir, sebelum menduduki tahta kerajaan.
Meskipun mereka bukan berasal dari satu perguruan, tetapi karena persahabatan mereka yang karib, maka seringkali mereka berdua tampak berlatih bersama. Saling memberi dan menerima atas izin guru mereka masing-masing. Gerak Mahesa Jenar sedikit kalah cekatan dibanding dengan Sela yang menurut cerita adalah cucu seorang bidadari yang bernama Nawangwulan. Betapa gesitnya tangan Ki Ageng Sela, sampai orang percaya bahwa ia mampu menangkap petir. Tetapi Mahesa Jenar lebih tangguh dan kuat. Dengan gerak yang sederhana, apabila dikehendaki ia mampu membelah batu sebesar kepala kerbau dengan tangannya. Apalagi kalau ia sengaja memusatkan tenaganya.
Pada malam yang kelam itu Mahesa Jenar mulai dengan perjalanannya dari rumah almarhum kakak seperguruannya, Ki Kebo Kenanga di Pengging. Ia sengaja menghindarkan diri dari pengamatan orang. Mula-mula Mahesa Jenar berjalan ke arah selatan dengan menanggalkan pakaian keprajuritan, dan kemudian membelok ke arah matahari terbenam.
Setelah beberapa hari berjalan, sampailah Mahesa Jenar di suatu perbukitan yang terkenal sebagai bekas kerajaan seorang raksasa bernama Prabu Baka, sehingga perbukitan itu kemudian dikenal dengan nama Pegunungan Baka. Salah satu puncak dari perbukitan ini, yang bernama Gunung Ijo, adalah daerah yang sering dikunjungi orang untuk menyepi. Di sinilah dahulu Prabu Baka bertapa sampai diketemukan seorang gadis yang tersesat ke puncak Gunung Ijo itu.
Mula-mula gadis itu akan dimakannya, tetapi niat itu diurungkan karena pesona kecantikannya. Bahkan gadis itu kemudian diambilnya menjadi permaisuri, ketika ia kemudian dapat menguasai kerajaan Prambanan. Gadis cantik itulah yang kemudian dikenal dengan nama Roro Jonggrang.
Dan karena kecantikannya pula Roro Jonggrang oleh Bandung Bandawasa, yang juga ingin memperistrinya setelah berhasil membunuh Prabu Baka, disumpah menjadi patung batu. Candi tempat patung itu lah yang kemudian terkenal dengan nama Candi Jonggrang.
Tetapi pada saat Mahesa Jenar menginjakkan kakinya di puncak bukit itu terasalah sesuatu yang tak wajar. Beberapa waktu yang lalu ia pernah mengunjungi daerah ini.Tetapi sekarang alangkah bedanya. Tempat ini tidak lagi sebersih beberapa waktu berselang. Rumput-rumput liar tumbuh di sana-sini.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, adalah ketika dilihatnya kerangka manusia. Melihat kerangka manusia itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak enak. Ia menjadi sangat berhati-hati karenanya. Tetapi ia menjadi tertarik untuk mengetahui keadaan di sekitar tempat itu. Ia menjadi semakin tertarik lagi ketika dilihatnya tidak jauh dari tempat itu terdapat beberapa macam benda alat minum dan batu-batu yang diatur sebagai sebuah tempat pemujaan. Dan di atasnya terdapat pula sebuah kerangka manusia.
Mahesa Jenar pernah belajar dalam pelajaran tata berkelahi mengenai beberapa hal tentang tubuh manusia. Itulah sebabnya maka ia dapat menduga bahwa rangka-rangka itu adalah rangka perempuan yang tidak tampak adanya tanda-tanda penganiayaan. Cepat ia dapat menebak, bahwa beberapa waktu berselang telah terjadi suatu upacara aneh di atas bukit ini. Tetapi ia tidak tahu macam upacara itu. Untuk mengetahui hal itu, ia mengharap mendapat keterangan dari penduduk sekitarnya.
Tetapi Mahesa Jenar menjadi kecewa ketika ia melayangkan pandangannya ke sekitar bukit itu. Tadi ia sama sekali tidak memperhatikan bahwa tanah-tanah pategalan telahberubah menjadi belukar.Agaknya sudah beberapa waktu tanah-tanah itu tidak lagi digarap.
Ketika ia sudah tidak mungkin lagi untuk mendapatkan keterangan lebih banyak lagi tentang kerangka-kerangka tersebut, maka dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputarputar dikepalanya, Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya ke barat, menuruni lembah dan mendaki tebing-tebing perbukitan sehingga sampailah ia di atas puncak pusat kerajaan Prabu Baka.
Dari atas bukit itu Mahesa Jenar melayangkan pandangannya jauh di dataran sekitarnya. Di sebelah utara tampaklah kumpulan candi yang terkenal itu, yaitu Candi Jonggrang. Sempat juga Mahesa Jenar mengagumi karya yang telah menghasilkan candi-candi itu. Menurut cerita, candi-candi yang berjumlah 1.000 itu adalah hasil kerja Bandung Bandawasa hanya dalam satu malam saja, untuk memenuhi permintaan Roro Jonggrang.
Tetapi ketika ternyata Bandung Bandawasa akan dapat memenuhi permintaan itu, Roro Jonggrang berbuat curang. Maka marahlah Bandung Bandawasa. Jonggrang disumpahsehingga menjadi candi yang ke 1.000. Candi itu dikitari oleh persawahan yang ditumbuhi batang-batang padi yang sedang menghijau. Daun-daunnya mengombak seperti mengalirnya gelombang-gelombang kecildi pantai karena permainan angin.
TIBA-TIBA Mahesa Jenar teringat akan kerangka-kerangka yang ditemukannya di atas Gunung Ijo. Di dekat persawahan yang sedang menghijau itu pasti ada penduduknya. Disana, mungkin ia akan mendapat beberapa keterangan tentang kerangka-kerangka itu. Karena pikiran itu maka segera ia menuruni bukit dan cepat-cepat pergi ke arah pedesaan di sebelah Candi Jonggrang di tepi Sungai Opak.
Ketika ia sampai di desa itu, terasa alangkah asingnya penduduk menerima kedatangannya. Anak-anak yang sedang bermain di halaman dengan riangnya, segera berlari-larian masuk ke rumah. Terasa benar bahwa beberapa pasang mata mengintip dari celah-celah dinding rumahnya.
“Apakah yang aneh padaku?” pikirnya.
Ia merasa susah untuk menemukan orang yang dapat diajak berwawancara untuk menjalankan beberapa soal, terutama mengenai peristiwa Gunung Ijo. Rumah-rumah di kiri kanan jalan desa itu serasa tertutup baginya. Beberapa kali ia berjalan hilir mudik kalau-kalau ia berjumpa dengan seseorang yang dapat ditanyainya atau seseorang yang menyapanya. Tetapi sudah untuk kesekian kalinya tak seorang pun dijumpainya, dan tak seorang pun menyapanya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengetuk salah satu dari sekian banyak pintu-pintu yang tertutup.
Tiba-tiba terasa sesuatu yang tidak wajar. Dari balik-balik pagar batu di sekitarnya, didengarnya dengus nafas yang tertahan-tahan. Tidak hanya dari satu-dua orang, tetapi rasa-rasanya banyak orang yang bersembunyi di balik pagar-pagar itu. Mahesa Jenar tidak mengerti maksud mereka mengintip dari balik-balik pagar. Karena itu ia pura-pura tidak mengetahui akan hal itu.
Tetapi ketika ia akan melangkahkan kakinya menginjak ambang regol sebuah halaman, berloncatanlah beberapa orang laki-laki dari balik pagar-pagar batu di sekitarnya. Semuanya membawa senjata. Golok-golok besar, tombak panjang dan pendek, pedang, keris dan sebagainya.
Mahesa Jenar sebentar terkejut juga, tetapi cepat otaknya bekerja. Ia segera mengambil kesimpulan bahwa agaknya memang pernah terjadi sesuatu di daerah ini. Ia juga menduga bahwa orang-orang itu tak bermaksud jahat. Mereka hanya berjaga-jaga dan waspada. Sebagai orang asing di daerah berbahaya sudah sepantasnyalah bahwa ia dicurigai. Itulah sebabnya ia mengambil keputusan untuk tidak berbuat apa-apa, dan hanya akan menurut semua perintah yang akan diterima. Orang yang menjadi pemimpin rombongan itu berperawakan sedang. Badannya tak begitu besar, tetapi otot-ototnya yang kuat menghias seluruh tubuhnya. Diantara jari-jari tangan kanannya terselip sebuah trisula, yaitu sebuah tombak bermata tiga. Disampingnya berdiri seorang yang berperawakan tinggi besar, berkumis lebat.
Pandangannya tajam berkilat-kilat. Ia tak bersenjata tajam apapun kecuali sebuah cambuk besar yang ujungnya lebih dari sedepa panjangnya, dan pada juntai cambuk itu diikatkan beberapa potongan besi, batu dan tulang-tulang. Rupa-rupanya ia merupakan salah seorang tokoh terbesar dari para pengawal desa itu,disamping beberapa pengawal lain yang segera mengepungnya.
“Ikut kami!” Tiba-tiba terdengarlah sebuah perintah yang menggelegar keluar dari mulutorang yang tinggi besar itu. Terasalah oleh Mahesa Jenar betapa orang yang tinggi besar itu ingin mempengaruhinya dengan suaranya. Mahesa Jenar yang sudah mengambil keputusan untuk tidak berbuat sesuatu yang dapatmenimbulkan keributan, menuruti perintah itu dengan patuh. Orang yang tinggi besar itu berjalan di depan bersama-sama dengan pemimpin rombongan, kemudian berjalanlah dibelakangnya Mahesa Jenar diiringi oleh para pengawal.
Rombongan itu berjalan menyusur jalan desa menuju ke sebuah rumah yang agak lebih besar dari rumah-rumah yang lain, berpagar batu agak tinggi dan berhalaman luas. Mereka memasuki halaman itu dengan melewati sebuah gerbang yang dikawal orang dikiri-kanannya, sedangkan di halaman itu pun telah pula menanti beberapa orang laki-laki yang juga bersenjata. Diantara mereka berdirilah seorang laki-laki yang sudah agak lanjut usianya. Pemimpin rombongan serta orang yang tinggi besar langsung mendatangi orang tua itu. Mahesa Jenar masih saja mengikuti di belakangnya.
“Kakang Demang,” lapor pemimpin rombongan itu, “orang ini terpaksa kami curigai. Selanjutnya terserah kebijaksanaan kakang.”
Orang tua yang ternyata demang dari daerah itu, mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa garis umur telah tergores di wajahnya, tetapi ia masih nampak segar dan kuat. Wajahnya terang dan bersih. Giginya masih utuh, putih berkilat diantara bibir-bibirnyayang tersenyum ramah.
“Ia sedang menyelidiki daerah kami, Kakang. Mungkin ia menemukan seorang gadis untuk korbannya,” tiba-tiba laki-laki yang tinggi besar itu menyambung dengan suaranya yang bergetar. Sesudah itu ia memandang berkeliling dan tampaklah setiap laki-laki yang kena sambaran matanya mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa.
Pikiran yang terang dari Mahesa Jenar segera dapat menghubungkan ucapan ini dengan kerangka-kerangka yang ditemuinya di Gunung Ijo. Mungkin ucapan orang itu bertalian dengan peristiwa yang sedang menjadi tanda tanya di dalam hatinya.
Demang tua itu memandang Mahesa Jenar dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Umurnya yang telah lanjut, menolongnya untuk mengenal sedikit tentang watak-watak orang yang baru saja dijumpainya. Dan terhadap Mahesa Jenar, ia tidak menduga adanya maksud-maksud buruk.
“Bolehkah aku bertanya?” kata Demang tua itu dengan nada yang berat tetapi sopan dan rumah. “Siapakah nama Ki Sanak dan dari manakah asal Ki Sanak? Sebab menurut pengamatan kami, Ki Sanak bukanlah orang dari daerah kami.”
Mula-mula Mahesa Jenar ragu. Haruskah ia mengatakan keadaan yang sebenarnya, ataukah lebih baik menyembunyikan keadaan yang sebenarnya ...? Ia masih belum tahu, sampai di mana jauh akibat tindakan-tindakan pemerintah Kerajaan Demak terhadap para pengikut Syeh Siti Jenar. Kalau ia tidak berkata yang sebenarnya, maka ada suatu kemungkinan bahwa kecurigaan orang terhadapnya semakin besar. Mungkin pula ia ditangkap, ditahan atau semacamnya itu. Akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk mengatakan sebagian saja dari keadaannya.
Oleh keragu-raguannya inilah maka sampai beberapa saat Mahesa Jenar tidak menjawab, sehingga ketika baru saja ia akan berkata, terdengarlah orang yang tinggi besar itumembentak,
“Ayo bilang!”
Mahesa Jenar sebenarnya sama sekali tidak senang diperlakukan sedemikian, tetapi ia tidak ingin ribut-ribut. Maka dijawabnya pertanyaan itu dengan sopan pula,
“Bapak Demang, kalau Bapak Demang ingin mengetahui, aku berasal dari Pandanaran. Aku adalah pegawai istana Demak, yang karena sesuatu hal ingin menjelajahi daerahdaerah wilayah Kerajaan Demak.”
Beberapa orang tampak terkejut mendengar jawaban ini. Seorang pegawai istana adalah orang yang pantas sekali mendapat kehormatan. Sedang orang ini? Orang yang mengaku menjadi pegawai istana itu menjadi orang tangkapan. Apakah kalau hal semacam ini sampai terdengar oleh kalangan istana, tidak akan menjadikan mereka murka?
Mahesa Jenar merasakan pengaruh kata-katanya itu atas orang-orang yang mengepungnya. Demikian juga wajah orang tinggi besar itu tampak berubah. Dahinya berkerinyut dan alisnya ditariknya tinggi-tinggi. Demang tua itu sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia bertanya lagi dengan nada yang masih sesopan tadi.
“Menilik sikap Ki Sanak, memang tepatlah kalau ki sanak seorang pegawai istana, atau setidak-tidaknya orang-orang kota seperti yang pernah aku kenal. Tetapi kedatangan Ki Sanak seorang diri kemari, merupakan sebuah pertanyaan bagi kami." Sekali lagi tampak wajah-wajah di sekitar Mahesa Jenar berubah. Mereka jadi ikut bertanya pula di dalam hati.
“Ya, kenapa seorang pegawai istana pergi sedemikian jauhnya seorang diri?” Tetapi tak seorangpun yang mengucapkan pertanyaan itu.
“Orang ini ingin memperbodoh kita Kakang,” kembali terdengar suara gemuruh orang yang tinggi besar itu dengan matanya yang berkilat-kilat. Sekali lagi ia memandang berkeliling, kepada orang-orang yang berdiri memagari. Dan sekali lagi orang-orang itu mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa. Sikap orang yang tinggi besar itu semakin tidak menyenangkan hati Mahesa Jenar, tetapi ia masih saja menahan dirinya dan menjawab dengan ramah pula.
“Bapak Demang, sebenarnya memang aku mempunyai banyak keterangan mengenai diriku, tetapi sebaiknyalah kalau keterangan-keterangan itu aku berikan khusus untuk Bapak Demang, tidak di hadapan orang banyak. Sebab ada hal-hal yang tidak perlu diketahui umum.”
Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa perkataannya itu mempunyai akibat yang kurang baik. Orang yang tinggi besar itu, yang sebenarnya bernama Baureksa, dan bertugas sebagai kepala penjaga keamanan Kademangan Prambanan, merasa sangat tersinggung. Ia merasa direndahkan oleh orang asing itu, dengan mengesampingkannya dari pembicaraan. Karena itu ia membentak dengan suaranya yang lantang.
“Apa perlunya Kakang Demang meladeni orang semacam kau? Sekarang saja kau bicara.” Perlakuan orang itu sebenarnya sudah keterlaluan. Tetapi Mahesa Jenar masih berusaha untuk menahan diri, dan menjawab dengan baik.
“Apa yang perlu kau ketahui telah aku katakan.”
“Belum cukup,” jawab Baureksa semakin marah.
“Apa yang akan kau katakan kepada kakang Demang?” Mahesa Jenar memandang kepada orang tua itu. Wajahnya yang bening menjadi agak suram. Sebenarnya ia dapat menerima permintaan Mahesa Jenar, tetapi ia tidak dapat menyakiti hati bawahannya yang merupakan tulang punggung kademangannya. Memang, Demang tua itu sendiri sering merasa tidak senang akan sikap Baureksa. Tetapi orang ini terlalu berpengaruh karena kehebatannya. Malahan pernah terpikir olehnya untuk suatu waktu memberi pelajaran sedikit kepada Baureksa, sebab meskipun usianya telah lanjut, tetapi ia masih merasa mampu untuk melakukannya. Tetapi hal yang demikian akan tidak baik pengaruhnya terhadap rakyat yang justru sekarang memerlukan perlindungan dari bahaya yang setiap saat dapat mengancam.
Dan tiba-tiba saja ia mendapat suatu pikiran baik. Menilik tubuh, sikap dan gerak-gerik Mahesa Jenar, orang tua yang sudah banyak pengalaman itu segera mengenal, bahwa Mahesa Jenar bukan orang yang pantas direndahkan. Ia tersenyum dalam hati karena pikiran itu.
“Lalu bagaimanakah sebaiknya Baureksa?” tanya Demang tua itu.
Sikap Baureksa semakin garang. Ia merasa bahwa demangnya akan menyerahkan segala sesuatu kepadanya.
“Orang itu harus berkata sebenarnya,” katanya.
“Kalau tidak mau?” pancing Demang itu.
“Dipaksa!” jawab Baureksa tegas-tegas. Dan jawaban ini memang diharapkan sekali oleh demang tua itu.
“Bagus... terserah kepadamu. Yang lain sebagai saksi atas apa yang terjadi,” katanya. Keadaan berubah menjadi tegang. Tak seorangpun mengerti maksud dari kepala daerahnya itu. Sebenarnya orang-orang itu sama sekali tak menghendaki kejadiankejadian semacam itu, sebab dalam pandangan mereka, Mahesa Jenar adalah orang yang sopan dan baik.
Kalau sekali Baureksa sudah bertindak, biasanya tak dapat dikendalikan lagi. Dan orang yang diperiksanya biasanya kesehatannya tak dapat pulih kembali. Tetapi tak seorang pun yang berani menghalang-halanginya sifat-sifatnya yang mengerikan itu. Apalagi kalau orang itu benar-benar pegawai istana, maka apakah kiranya yang akan terjadi?.
Berbeda sekali dengan pikiran Baureksa.Ia menjadi gembira seperti anak-anak yang mendapat mainan. Meskipun ia juga mempunyai otak, tetapi tidak dapat bekerja dengan baik. Adatnya keras dan lekas marah. Apalagi setelah beberapa waktu yang lalu, pada waktu terjadi huru hara, dan ia tidak mampu untuk mengatasinya. Maka sekarang ia ingin mengembalikan kepercayaan rakyat atas kehebatannya dengan menumpahkan segala dendamnya kepada orang asing itu. Tetapi untuk itu ia tidak akan segera turun tangan sendiri. Ia ingin melihat dahulu sampai dimana kekuatan barang mainannya. Sebab bagaimana tumpulnya otak Baureksa, namun ia masih juga melihat suatu kemungkinan yang ada pada calon korbannya.
Sebaliknya Mahesa Jenar mengeluh dalam hati. Cepat ia dapat menangkap maksud Demang tua yang bijaksana itu dengan menangkap pandangan matanya.
“Permainan berbahaya. Demang tua itu sama sekali belum mengenal aku, sebaliknya aku pun belum mengenal orang macam Baureksa itu,” pikir Mahesa Jenar. Tetapi bagaimana pun, Mahesa Jenar terpaksa melayaninya kalau ia tidak mau menjadi bulan-bulanan celaka.
“Gagak Ijo...!” tiba-tiba terdengar Baureksa berteriak keras-keras. Dan orang yang dipanggilnya Gagak Ijo itu dengan gerak yang cekatan meloncat kehadapan Baureksa.
Gagak Ijo yang nama sebenarnya adalah Jagareksa adalah seorang pembantu, bahkan tangan kanan Baureksa. Kedua-duanya mempunyai sifat yang hampir sama. Tubuhnya agak pendek bulat, sedang otot-ototnya menjorok keluar membuat garis-garis yang sama jeleknya dengan garis-garis wajahnya.
“Suruh orang itu bicara,” perintah Baureksa.
“Bicara tentang apa Kakang?” tanya Gagak Ijo.
Mendengar pertanyaan itu, Baureksa memaki keras-keras,
“Bodoh kau. Suruh dia bicara, di mana rumahnya, di mana gerombolannya, dan suruh dia katakan kapan gerombolannya akan datang lagi untuk menculik gadis.”-
Gagak Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang ia sudah tahu tugasnya. Memeras keterangan dari orang asing itu.
Perlahan-lahan Gagak Ijo memutar tubuhnya, menghadap Mahesa Jenar. Sebentar ia mengatur jalan nafasnya, dan dengan perlahan-lahan pula ia mendekati korbannya. Suasana menjadi bertambah tegang. Peristiwa semacam ini telah berulang kali terjadi, biasanya dilakukan terhadap para penjahat atau terhadap mereka yang melanggar adat. Tetapi sekali ini, orang-orang kademangan itu merasakan adanya suatu perbedaan dengan kejadian-kejadian yang pernah terjadi.
“Jawab setiap pertanyaanku dengan betul,” perintah Gagak Ijo dengan garangnya. Matanya menjadi berapi-api dan mulutnya komat-kamit.
“Siapa namamu?”
Pertanyaan yang pertama ini mengejutkan Mahesa Jenar. Ia tidak menduga bahwa dari mulut orang itu akan keluar pertanyaan yang demikian. Maka untuk pertanyaan yang pertama ini Mahesa Jenar menjawab dengan tenangnya.
“Namaku Mahesa Jenar.”
Rupa-rupanya ketenangannya ini sangat mengagumkan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. Tidak pernah ada seorang pun yang dapat bertindak setenang itu menghadapi Gagak Ijo, apalagi Baureksa.
“Bagus...” dengus Gagak Ijo. “Nama yang bagus. Mengenal namamu adalah perlu sekali bagiku. Kalau terpaksa tanganku membunuhmu. Orang-orang sudah tahu bahwa kau bernama Mahesa Jenar.”
Gagak Ijo lalu mengangguk-angguk dengan sikap yang sombong sekali. Memang, ia mempunyai kebiasaan untuk tidak segera bertindak. Ia senang melihat korbannya ketakutan dan bahkan pernah ada yang sampai terjatuh di tempat. Tetapi kali ini ia merasa aneh, Mahesa Jenar tenang bukan kepalang. Dan ini sangat menjengkelkannya.
“Kau sudah dengar perintah kakang Baureksa? Apa yang harus kau katakan, sekarang katakanlah.”
“Tak ada yang akan aku katakan,” jawab Mahesa Jenar. Gagak Ijo terkejut mendengar jawaban itu, sehingga membentak keras.
“Bicaralah!" Lalu suaranya ditahan perlahan-lahan. “Bicaralah supaya aku tidak usah memaksamu.”
Mahesa Jenar kemudian menjadi jemu melihat sikap Gagak Ijo yang sombong itu. Maka ia mengambil keputusan untuk cepat-cepat menyelesaikan pertunjukan yang membosankan itu, dengan membuat Gagak Ijo marah.
“Baiklah aku berkata, bahwa rumahku adalah jauh sekali seperti yang sudah aku katakan kepada Bapak Demang tadi. Tetapi kedatanganku kemari sama sekali tidak akan menculik gadis-gadis. Aku datang kemari karena aku ingin menculik kau untuk menakuti gadis-gadis.”
Mereka yang mendengar jawaban itu terkejut bukan main. Alangkah beraninya orang asing itu. Malahan akhirnya beberapa orang menjadi hampir-hampir tertawa, tetapi ditahannya kuat-kuat, kecuali demang tua itu yang tampak tersenyum-senyum.
Sebaliknya Gagak Ijo menjadi marah bukan kepalang. Mukanya menjadi merah menyala dan giginya gemeretak. Selama hidup ia belum pernah dihinakan orang sampai sedemikian, apalagi di hadapan Demang dan Baureksa. Maka ia tidak mau lagi berbicara, tetapi ia ingin menyobek mulut Mahesa Jenar yang sudah menghinanya itu. Dengan gerak yang cepat ia meloncat dan kedua tangannya menerkam wajah Mahesa Jenar.
Orang-orang yang menyaksikan gerak Gagak Ijo itu menjadi tergoncang hatinya. Mereka telah berpuluh kali melihat ketangkasan Gagak Ijo, tetapi kali ini gerakannya adalah diluar dugaan. Hal ini terdorong oleh kemarahannya yang meluap-luap, sehingga semua orang yang menyaksikan menahan nafas sambil berdebar-debar.
Tetapi gerakan ini bagi Mahesa Jenar adalah gerakan yang sangat sederhana. Bahkan mirip dengan gerak yang tanpa memperhitungkan kemungkinan yang ada pada lawannya. Untuk menghindari serangan ini Mahesa Jenar tidak perlu banyak membuang tenaga. Hanya dengan sedikit mengisarkan tubuhnya dengan menarik sebelah kakinya, Mahesa Jenar telah dapat menghindari terkaman Gagak Ijo itu. Dengan demikian, karena dorongan kekuatannya sendiri Gagak Ijo menjadi kehilangan keseimbangan.
Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat membalas serangan itu dengan suatu pukulan yang dapat mematahkan tengkuk Gagak Ijo. Tetapi Mahesa Jenar tahu, kalau dengan demikian akibatnya akan hebat sekali. Karena itu, ia hanya menyerang Gagak Ijo dengan sentuhan jarinya, untuk mendorong punggung Gagak Ijo dengan arah yang sama. Gagak Ijo yang memang sudah kehilangan keseimbangan, segera jatuh tertelungkup mencium tanah.
Mereka yang berdiri mengitari arena pertarungan itu, mula-mula mengira bahwa akan hancurlah muka orang asing itu diremas oleh Gagak Ijo. Tetapi ketika mereka menyaksikan kenyataan itu, menjadi sangat terkejut dan heran. Gagak Ijo itu sendiri malahan yang mencium tanah. Banyak diantara mereka tidak dapat melihat apa yang sudah terjadi.
Tetapi dengan demikian Mahesa Jenar tambah berhati-hati, sebab ia tahu bahwa apa yang dilakukan Gagak Ijo adalah diluar kesadarannya, karena terdorong oleh kemarahannya yang memuncak. Sehingga dalam tindakan selanjutnya, pastilah Gagak Ijo akan memperbaiki kesalahannya. Gagak Ijo sendiri kemudian merasa bahwa tindakannya kurang diperhitungkan lebih dahulu. Ia baru sadar ketika hidungnya sudah menyentuh tanah, dan sebentar kemudian seluruh mukanya. Peristiwa ini adalah memalukan sekali. Tokoh seperti Gagak Ijo dengan bulat-bulat terbanting di atas tanah tanpa dapat berbuat sesuatu untuk menahannya. Karena itu ia menjadi semakin marah. Hatinya menjadi seperti terbakar dan matanya merah menyala-nyala, seluruh tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan, tetapi setelah mengalami kejadian tersebut, ia tidak berani menyerang dengan membabi buta.
Karena itu, ketika ia mulai menyerang lagi, ia berbuat lebih hati-hati, dengan kecepatan yang tinggi, ia menyerang dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar, tetapi dengan cepat pula serangan ini dapat dihindari, dan sebelum Gagak Ijo dapat berdiri tegak kembali, Mahesa Jenar telah membalas menyerang dadanya, tetapi Gagak Ijo cukup waspada.
Gagak Ijo membuat gerakan setengah lingkaran ke belakang untuk menghindari serangan Mahesa Jenar, bersamaan dengan itu, kakinya menyambar tangan Mahesa Jenar. Mahesa Jenar cepat-cepat menarik serangannya, dan secepat itu pula tangannya yang lain menyentuh kaki Gagak Ijo itu ke atas, sekali lagi Gagak Ijo kehilangan keseimbangan, dan kali ini ia jatuh terlentang, dengan gugup Gagak Ijo berguling dan kemudian berusaha tegak kembali. Sementara itu Mahesa Jenar telah jemu dengan permainan ini, ia ingin segera mengakhirinya. Maka ketika Gagak Ijo hampir berhasil menegakkan dirinya, seperti sambaran kilat telapak tangan Mahesa Jenar melekat di dada Gagak Ijo. Meskipun Mahesa Jenar hanya mempergunakan tenaga dorong yang tidak seberapa, tetapi akibatnya hebat sekali. Nafas Gagak Ijo mendadak serasa berhenti, dan pandangannya menjadi kuning berkunang-kunang. Meskipun dengan susah payah, ia mencoba untuk menahan diri, tetapi perlahan-lahan ia terjatuh kembali. Ia terduduk di tanah dengan nafas tersenggal-senggal, sedangkan kedua tangannya berusaha untuk menahan berat badannya.
Orang-orang yang melihat pertandingan itu berdiri tanpa berkedip. Gagak Ijo termasuk orang yang dikagumi di desa itu. Tetapi Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat menjatuhkannya. Ilmu macam apakah yang dimilikinya?
Belum lagi mereka sempat berpikir lebih banyak, mereka dikejutkan oleh gertak Baureksa yang gemuruh seperti membelah langit. Ketika ia menyaksikan Gagak Ijo, orang kepercayaannya dipermainkan orang asing itu, hatinya menjadi panas.Meskipun di antara kemarahannya itu terselip pula perasaan was-was.Ternyata orang yang dianggapnya barang mainan itu, adalah barang mainan yang mahal. Itulah sebabnya maka sebelum mengadu tenaga, Baureksa akan berusaha untuk mengurangi kegesitan lawannya dengan melukainya lebih dahulu. Cambuknya yang besar dan panjang dengan potongan-potongan besi, batu dan tulang-tulang itu diputarnya di atas kepala sampai menimbulkan suara berdesing-desing. Mahesa Jenar kini harus benar-benar waspada. Suara yang berdesing-desing itu sedikit-banyak dapat menunjukkan kira-kira sampai dimana kekuatan Baureksa. Hanya apakah Baureksa dapat mempergunakan kekuatan serta tenaganya dengan baik, itulah yang masih perlu diuji.
Orang-orang yang menyaksikan menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika mereka melihat Baureksa akan mempergunakan senjatanya, maka menurut pikiran mereka, sedikit kemungkinannya Mahesa Jenar dapat menyelamatkan diri. Cambuk Baureksa yang berputar-putar itu, cepat sekali menyambar leher Mahesa Jenar, tetapi secepat itu pula Mahesa Jenar membungkuk menghindari, sehingga cambuk itu tidak mengenai sasarannya. Baureksa yang merasa serangannya gagal menjadi semakin marah. Dengan cepat ia mengubah arah cambuknya dan dengan mendatar ia menyerang arah dada. Mahesa Jenar sadar bahwa dalam jarak yang agak jauh sulit baginya untuk menghindari serangan-serangan cambuk Baureksa yang cukup cepat dan keras. Karenaitu sebelum cambuk Baureksa sempat mengenainya, Mahesa Jenar dengan gerakan kilat meloncat maju, dekat sekali disamping Baureksa, dan menggempur tangan Baureksa yang memegang senjata itu.
Gempuran itu terasa hebat sekali dan tak terduga-duga. Terasa tulang-tulang Baureksa gemertak. Perasaan sakit serta panas menyengat-nyengat, tidak hanya pada bagian yang terkena, tetapi seakan-akan menjalar sampai ke ubun-ubun. Cambuknya segera terlepas dan melontar jauh. Baureksa sama sekali tidak mengira bahwa hal yang semacam itu bisa terjadi. Karena itu sama sekali ia tak dapat memberikan perlawanan, dan membiarkan cambuknya terlontar.
Mengalami hal semacam itu, meskipun terpaksa menahan sakit, Baureksa menjadi bertambah kalap. Ia mengumpulkan segenap tenaganya dan ingin menebus malunya dengan mematahkan leher lawannya. Dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan rasa sakitnya, sehingga Mahesa Jenar tak dapat mengukur akibat gempurannya dengan pasti.
Baureksa cepat-cepat menarik diri untuk segera bersiap-siap menyerang, sedangkan Mahesa Jenar pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Kembali Baureksa menyerang lawannya ke dua arah sekaligus. Tangan kanannya menyodok perut, sedangkan tangan kirinya menghantam pelipis. Mendapat serangan ini Mahesa Jenar segera merendahkan diri serta memutar tubuh. Tetapi ketika Baureksa melihat bahwa Mahesa Jenar mencoba menghindar, segera Baureksa mengubah arah serangannya.
Cepat-cepat ia menarik tangannya dan dengan satu gerakan dahsyat ia meloncat dan menendang kepala lawannya. Mahesa Jenar tidak menduga bahwa Baureksa dapat meloncat secepat itu. Karena itu ia tidak lagi sempat mengelak. Sebenarnya Mahesa Jenar masih akan menghindari bentrokan-bentrokan secara langsung, sebab sampai sekian ia masih belum dapat menjajagi sampai di mana kekuatan Baureksa yang sebenarnya. Tetapi kali ini, ia harus melawan serangan kaki Baureksa itu.
Maka untuk tidak mengalami hal-hal yang tidak dikehendaki atas dirinya, terpaksa Mahesa Jenar mempergunakan sebagian besar dari tenaganya yang dipusatkan pada siku tangan kanannya. Ia merendah sedikit sambil memiringkan tubuhnya. Maka, terjadilah suatu benturan yang hebat antara kaki Baureksa dengan siku tangan Mahesa Jenar. Akibatnya hebat pula.
Baureksa ternyata telah mengerahkan seluruh tenaganya, dan ketika ia melihat bahwa Mahesa Jenar tidak sempat mengelakkan serangannya, ia sudah memastikan bahwa orang asing itu akan terpelanting dan tidak akan dapat bangun kembali. Tetapi dugaan itu ternyata meleset sama sekali. Ketika kaki Baureksa yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya itu menyentuh siku tangan Mahesa Jenar, Baureksa merasa bahwa kakinya seolah-olah menghantam dinding batu yang keras sekali. Dan kini tulang-tulang kakinyalah yang bergemeretakan, sedangkan ia terpental oleh kekuatannya sendiri dan dengan kerasnya terbanting di tanah, sehingga tidak sadarkan diri.
Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, serentak hatinya bergetar, sampai beberapa orang menggigil karena tegang. Beberapa orang tidak dapat mengikuti dengan pandangan matanya tentang apa yang terjadi. Yang mereka ketahui hanyalah Baureksa terbanting di tanah hingga pingsan.
Demang Pananggalan, demikian nama Demang tua itu, hatinya menjadi cemas menyaksikan pertempuran itu. Sebab kalau sampai terjadi sesuatu hal, dia lah yang harus bertanggungjawab. Cepat-cepat ia mendekati Baureksa yang sedang pingsan. Dirabanya seluruh tubuhnya. Ia menjadi terkejut sekali ketika tangannya meraba kaki Baureksa yang membentur siku Mahesa Jenar. Kaki itu terasa dingin sekali dan di beberapa bagian terasa adanya luka dalam yang berbahaya bila tidak lekas-lekas mendapat pertolongan.
Orang-orang yang berkerumun menjadi terdiam seperti patung. Mereka tidak tahu lagi bagaimana harus menilai kehebatan orang asing itu, yang dengan bermain-main saja telah dapat mengalahkan Gagak Ijo dan kemudian sekaligus Baureksa.
Sementara itu Baureksa dan Gagak Ijo telah diangkat orang ke dalam sambil menunggu Ki Asem Gede. Kini perhatian orang seluruhnya tertumpah kepada Mahesa Jenar yang masih belum bergeser dari tempatnya. Hanya sebentar mereka melirik juga kepada Demang Pananggalan, sambil bertanya-tanya di dalam hati, apakah seterusnya yang akan diperbuat oleh demang tua itu?
Sebenarnya pada saat itu Demang Pananggalan telah mengambil keputusan untuk mempersilahkan Mahesa Jenar masuk ke rumah kademangan dan memberikan keterangan-keterangan. Tetapi segera keadaan menjadi tegang kembali ketika seseorang dengan langkah yang tegap dan tenang memasuki gelanggang.
“Kakang Demang,” kata orang itu dengan nada yang berat berwibawa, “perkenankanlah aku memperkenalkan diri terhadap orang asing ini.” Alangkah terkejutnya Demang Pananggalan melihat orang itu memasuki gelanggang. Ia menjadi kebingungan, sebab sama sekali ia tidak menduga bahwa persoalannya akan berlarut-larut. Orang itu adalah pemimpin pasukan yang menangkap Mahesa Jenar tadi, dan ia adalah adik kandung demang tua itu. Beberapa kali adik kandungnya yang bernama Mantingan itu menyatakan ketidaksenangannya atas sikap Baureksa yang sering adigang-adigung-adiguna. Dan mendadak ia ingin membelanya. Melihat kebingungan dan keragu-raguan Demang Pananggalan, Mantingan menyambung,
“Aku tidak akan membela seseorang, Kakang. Tetapi aku tidak mau orang lain menyangka betapa lemahnya kademangan ini. Kami tidak tahu siapakah orang asing itu. Syukurlah kalau ia bermaksud baik, tetapi kalau orang itu ingin menjajagi kekuatan kita, alangkah berbahayanya. Sedangkan keterangan yang diberikan bukanlah berarti suatu kebenaran yang harus kita percaya demikian saja.”
“Tetapi maksudku bukan kau, Mantingan,” kata demang itu tergagap. Sebab ia tahu bahwa adiknya adalah orang yang berilmu. Ia adalah orang yang lebih hebat daripada dirinya sendiri. Ia adalah murid kedua Ki Ageng Supit di Wanakerta. Mantingan adalah seorang dalang yang secara kebetulan sedang mengunjungi kampung halamannya, yang baru saja didatangi oleh gerombolan yang menculik gadis-gadis. Dan Mantingan diminta untuk sementara tetap tinggal, kalau ada kemungkinan gerombolan penculik itu datang kembali.
Tetapi saat itu Mantingan seperti tidak mendengar kata-kata kakaknya. Ia segera menyerahkan trisulanya kepada orang terdekat yang dengan gugup menerima senjata itu tanpa kesadaran.
“Ki Sanak,” kata Mantingan kepada Mahesa Jenar dengan sopan, “aku belum pernah bertemu dengan kau sebelumnya dan juga belum pernah mempunyai suatu persoalan apapun. Tetapi tadi kau telah mempertunjukkan ketangkasan dan ketangguhanmu. Maka perkenankanlah aku sekarang mencoba untuk melayanimu dengan sedikit pengetahuan yang aku miliki.”
Mahesa Jenar sibuk menduga-duga dalam hati. Orang ini sikapnya agak berbeda dengan orang lain yang berada di situ. Menilik sikapnya, sudah seharusnya kalau Mahesa Jenar lebih berhati-hati melawannya.
“Dan sekarang,” sambung Mantingan, “awaslah... aku mulai.”
Dan sesudah itu, benar-benar ia mulai menyerang. Langkahnya tetap ringan. Ia membuka serangannya dengan kaki, sedangkan kedua tangannya bersilang melindungi dada. Melihat serangan ini, Mahesa Jenar terkejut. Ia kenal gerakan pembukaan ini. Ketika orang itu dipanggil namanya, sama sekali ia tidak menduga bahwa orang itu pulalah yang berdiri di hadapannya. Bahkan sedang mengadu tenaga dengan dirinya. Ia adalah Dalang Mantingan dari Wanakerta, murid Ki Ageng Supit. Ia sering mendengar nama itu.
Bahkan pernah tersebar khabar di Demak bahwa Dalang Mantingan seorang diri dapat menangkap tiga saudara perampok dari Jarakah, di kaki Gunung Merapi, yang dikenal dengan satu nama: Samber Nyawa. Gerak pembukaan ini jelas berasal dari Ki Ageng Supit, yang meskipun belum setaraf dengan gurunya tetapi Ki Ageng Supit juga mempunyai nama yang dikagumi.
Tetapi Mahesa Jenar tidak sempat berpikir banyak. Sebab ia segera sibuk melayani lawannya, yang bergerak menyambar-nyambar dengan gerakan-gerakan yang cukup tangguh. Akhirnya Mahesa Jenar tidak dapat hanya bersikap mengelak dan menghindar saja. Ia tidak bisa hanya bersikap mempertahankan diri saja. Untuk mengurangi kebebasan gerak lawannya, ia harus ganti menyerang.
Serangan Ki Dalang Mantingan semakin lama menjadi semakin hebat pula. Tangannya bergerak-gerak dengan cepat dibarengi gerak kakinya yang ringan cekatan. Sekali tangan Mantingan itu sudah berubah menyambar kening. Tetapi Mahesa Jenar adalah bekas prajurit pengawal raja, dan ia adalah murid Pangeran Handayaningrat yang juga disebut Ki Ageng Pengging Sepuh.
Untuk melawan Mantingan, sengaja Mahesa Jenar mempergunakan tanda-tanda khusus dari perguruannya, sebab jelas bahwa perguruannya mempunyai beberapa persamaan dengan gerak-gerak yang dilakukan oleh Mantingan. Segera Mantingan pun dapat pula mengenal tata berkelahi Mahesa Jenar yang juga seperti ilmunya sendiri, mempunyai sumber yang sama. Yaitu peninggalan almarhum Bra Tanjung, yang diwarisi oleh Raden Alit yang sedikit bercampur dengan gerak-gerak penyerangan yang mantap dari Lembu Amisani. Tetapi yang ia tidak tahu dari manakah Mahesa Jenar mempelajari tata berkelahi itu, yang memiliki banyak perubahan dan penyempurnaan-penyempurnaan dengan gabungan-gabungan yang tepat dan berbahaya.
Itulah sebabnya Mantingan harus berhati-hati benar dan memeras segala kepandaiannya untuk memenangkan pertandingan ini. Ketika Mantingan berhasrat untuk cepat-cepat mengakhiri pertandingan ini, ia memusatkan segala tenaga dan pikiran untuk kemudian sebagai angin ribut melanda lawannya.
“Hebat ...!” pikir Mahesa Jenar ketika ia menerima serangan bertubi-tubi dari Mantingan. “Memang perguruan Wanakerta memiliki keistimewaan yang tak dapat diabaikan.” Kemudian terpaksa ia membuat beberapa langkah surut. Tetapi Ki Dalang Mantingan tidak menyia-nyiakan tiap kesempatan. Cepat ia maju dengan melancarkan gempurangempuran hebat. Rupa-rupanya Ki Dalang Mantingan menjadi agak gusar ketika serangan serangannya tidak segera dapat mengenai lawannya, bahkan lawannya itu dapat pula mendesaknya. Karena itu gerakan-gerakan serta serangan-serangannya menjadi bersungguh-sungguh. Ia tidak mau mengorbankan namanya seperti Gagak Ijo dan Baureksa.
Demang Panggalan menjadi semakin cemas dan bingung. Ia tidak menghendaki orang asing yang belum diketahuinya benar-benar asal-usulnya itu mendapat cedera, sebab tidak mungkin ia berdiri sendiri. Apalagi kalau benar-benar ia orang Istana Demak. Tetapi disamping itu, Demang Pananggalan sangat sayang kepada adiknya, dan ia sama sekali tidak rela kalau adiknya mengalami hal-hal yang tidak diharapkan, baik tubuhnya maupun namanya.
Sementara itu pertarungan menjadi semakin sengit. Serangan-serangan Mantingan menjadi semakin dahsyat dan ia sudah hampir kehilangan pengamatan diri sehingga geraknya tak terkekang lagi. Ketika serangannya yang dilancarkan dengan kedua tangannya sekaligus mengarah kesasaran yang berbeda dapat dihindari oleh Mahesa Jenar, cepat ia mengubah serangan itu dengan serangan berikutnya, dengan kaki yang mengarah ke perut Mahesa Jenar. Melihat perubahan itu Mahesa Jenar terpaksa meloncat mundur.
Tetapi Mantingan rupa-rupanya sudah bertekad untuk memenangkan pertempuran itu dengan segera. Maka, demikian Mahesa Jenar meloncat mundur, disusulnya pula dengan kaki yang lain setelah ia memutarkan tubuhnya setengah lingkaran atas kaki yang pertama. Rupa-rupanya Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa seranganserangan Mantingan akan sedemikian bertubi-tubi datangnya, sehingga terasalah tumit Mantingan mengenai pinggangnya. Gempuran ini demikian hebat sehingga tubuh Mahesa Jenar bergetar dan hampir saja ia kehilangan keseimbangan. Meskipun tubuh Mahesa Jenar sudah cukup terlatih serta mempunyai daya tahan yang kuat, namun terasa juga bahwa tumit yang mengenai pinggangnya itu menimbulkan rasa sakit.
Kena tendangan ini, hati Mahesa Jenar menjadi agak panas juga. Karena itu ia berketetapan hati untuk melayani Ki Demang Mantingan dengan lebih bersungguhsungguh lagi. Maka segera geraknya berubah menjadi semakin cepat dan keras. Ia membalas setiap serangan dengan serangan pula. Dan ia sama sekali tidak mau tubuhnya disakiti oleh lawannya lagi.
Ki Dalang Mantingan terkejut melihat perubahan tendangan lawannya. Maka segera ia sadar bahwa orang yang dilawannya itu berilmu tinggi. Tetapi segala sesuatunya telah terlanjur. Satu-satunya kemungkinan baginya adalah, lawannya menghendaki pertempuran itu akan berlangsung mati-matian.
Dan memang sebenarnyalah demikian. Serangan-serangan Mahesa Jenar berikutnya datang bertubi-tubi seperti ombak yang bergulung-gulung menghantam pantai. Bagaimanapun kukuhnya batu-batu karang tebing, namun akhirnya segumpal demi segumpal berguguran jatuh juga ke laut.
Dalang Mantingan mengeluh di dalam hati. Sebagai seorang yang telah banyak mempunyai pengalaman, ia merasa bahwa lawannya memiliki kepandaian yang lebih tinggi. Dan yang kemudian terjadi adalah, Ki Dalang Mantingan mulai tampak terdesak. Bagaimanapun ia berusaha, kini ia terpaksa untuk bertahan saja. Ia sama sekali tidak berkesempatan untuk menyerang. Bahkan beberapa kali ia telah dapat dikenai oleh lawannya, meskipun tidak di tempat-tempat yang berbahaya. Tubuh Mantingan terasa nyeri sekali. Meskipun demikian ia bukanlah Mantingan kalau sampai ia menyerah.
Demang Pananggalan semakin kebingungan. Ia segera melihat kesulitan adiknya. Bagaimanapun, ia mempunyai perasaan tidak rela melihat hal yang demikian itu berlangsung. Mantingan yang dibangga-banggakan seluruh penduduk Kademangan, sekarang akan dikalahkan oleh orang asing di hadapan penduduknya sendiri. Karena itu hampir di luar sadarnya ia meloncat maju. Meskipun umurnya sudah lanjut dan tidak sekuat Mantingan, namun karena pengalamannya maka Demang tua ini nampaknya berbahaya juga. Langsung ia menyerang Mahesa Jenar dengan gerakan-gerakan yang tak terduga-duga untuk mengurangi tekanannya pada Mantingan.
Maka segera Mahesa Jenar menjadi sibuk berpikir, apakah maksud yang sebenarnya dari Demang tua ini. Penduduk yang mengitari pertarungan itu dengan asyiknya menyaksikan gerak masing-masing dengan keheran-heranan, sebagai suatu hal yang belum pernah dilihat sebelumnya. Mendadak mereka terkejut sekali melihat Demang terjun langsung ke arena.
Mereka serentak merasa bangun dari sebuah mimpi yang dahsyat. Dalam hal yang demikian, bagaimanapun hebatnya lawan, mereka merasa wajib membela pemimpin mereka meskipun harus menyerahkan nyawanya.
Serentak mereka menggenggam senjata masing-masing makin erat. Sedangkan beberapa
orang yang berdiri di baris paling depan sudah mulai bergerak.
Mahesa Jenar segera melihat kesulitan yang bakal datang. Karena itu ia semakin
waspada. Ia mulai menghimpun kekuatan-kekuatannya untuk membuat gempuran gempuran terakhir, meskipun hal itu dilakukan dengan berat hati. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa ia harus terlibat dalam masalah yang sama sekali tak diketahui sebabsebabnya. Tetapi bagaimanapun, ia tidak mau dijadikan bulan-bulanan dari peristiwaperistiwa yang tak diketahui ujung- pangkalnya itu. Tiba-tiba ketika keadaan sudah sedemikian memuncaknya, halaman itu digetarkan oleh sebuah teriakan nyaring.
“Adi Pananggalan dan Adi Mantingan, apa yang terjadi?”
Teriakan yang dilontarkan sepenuh tenaga itu bergetar memenuhi halaman Kademangan, sehingga semuanya terkejut karenanya. Dan pertarungan itu pun segera terhenti. Ternyata yang berteriak itu adalah Ki Asem Gede, yang datang untuk mengobati Baureksa dan Gagak Ijo.
“Apa yang terjadi ...?" ulangnya.
Perlahan-lahan matanya memandang berkeliling, ke wajah-wajah yang berdiri di sekitar halaman itu, kemudian dipandanginya wajah Mantingan dan Demang Pananggalan dengan matanya yang bening, sehingga membawa pengaruh yang sejuk. Alangkah damainya hati seorang yang mempunyai wajah dan mata yang begitu lunak. Umurnya sudah lanjut, dan hampir seluruh rambutnya sudah putih.
KI Asem Gede berjalan perlahan mendekati Mahesa Jenar. Lalu membungkuk dengan hormatnya. “Anakmas, apa yang terjadi?” tanyanya, dan kemudian ia menoleh kepada Demang Pananggalan dan Ki Dalang Mantingan
“Apa yang terjadi?” ulangnya kembali.
Demang Pananggalan merasa sulit untuk memberi jawaban. Memang ia sendiri bertanya kepada dirinya, kenapa ini sampai terjadi? Ketika Pananggalan tidak segera menjawab, Ki Asem Gede kembali memandang kepada Mahesa Jenar. Matanya hampir tiada berkedip, seakan-akan ia masih belum yakin kepada penglihatannya. Ketika ia memasuki halaman itu, dan melihat pertarungan yang sengit, hatinya tersirap. Ia pernah melihat orang yang bertempur melawan Demang Pananggalan kakak-beradik.
Ia merasa pernah bertemu dengan orang itu di Demak, ketika ia bersama-sama dengan kakaknya, yang juga seorang ahli obat-obatan, memenuhi panggilan Panji Danapati, untuk mengobati anaknya yang sakit.
“Anakmas...” katanya kemudian, “bolehkah aku ini, orang tua yang tak berharga menanyakan sesuatu kepada anakmas?”
Melihat wajah orang tua itu, hati Mahesa Jenar menjadi lunak seketika, bahkan ia agak malu kepada diri sendiri yang masih sedemikian mudahnya terbakar oleh nafsu.
“Silahkan, Bapak...” jawabnya. “Apakah kiranya yang ingin Bapak ketahui?"
“Maafkanlah orang tua ini,” kata orang tua itu selanjutnya sambil menatap Mahesa Jenar dengan penuh perhatian. “Maafkan aku, kalau aku berani mengatakan bahwa aku pernah bertemu dengan Anakmas di Demak.”
Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia mulai mengingatingat, apakah ia benar-benar pernah bertemu dengan orang itu.
“Aku pernah datang ke Demak,” sambung Ki Asem Gede, “bersama-sama dengan kakakku, untuk mencoba menyembuhkan sakit putera Panji Danapati, salah seorang perwira dari perajurit pengawal raja.”
Mendengar kata-kata Ki Asem Gede, tiba-tiba Mahesa Jenar jadi teringat pertemuannya dengan orang tua itu. Pada saat itu ia sedang berkunjung ke rumah kawan sepasukan yang pada saat yang bersamaan sedang memanggil dua orang tua untuk mengobati anaknya yang sedang sakit. Dan ia jadi teringat, bahwa salah seorang dari kedua orang itu, adalah yang sekarang berdiri di hadapannya.
“Di sana...” Ki Asem Gede melanjutkan, “aku bertemu pula dengan seorang perwira lain,
kawan Panji Danapati itu. Kenalkah Anakmas dengan Panji Danapati?”
Mahesa Jenar agak ragu, tetapi perlahan-lahan ia mengangguk juga.
“Nah...” kata orang tua itu pula, “kalau begitu aku tidak salah lagi, Anakmaslah yang aku jumpai di ndalem Danapaten. Benarkah?”
Mahesa Jenar masih saja ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin melupakan saja apa yang pernah terjadi. Meskipun sebenarnya ia masih ingin mengabdikan diri kepada negerinya, tetapi dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga, saudara seperguruannya, lebih baik ia menyingkirkan diri, dan mencari cara pengabdian yang lain. Juga penegasan tentang dirinya akan mempermudah setiap usaha untuk menangkapnya, apabila ia dianggap berbahaya seperti Ki Kebo Kenanga. Ia tidak ingin kalau sampai terjadi bentrokan dengan orang-orang yang sedang menjalankan kewajibannya, serta,kawan-kawan seperjuangannya dahulu. Maka lebih baik baginya untuk menjauhkan diri saja dari setiap kemungkinan itu.
Tetapi sekarang ia tidak dapat mengingkari pertanyaan orang tua itu. Karena itu, kembali Mahesa Jenar mengangguk lemah. Oleh anggukan itu, tiba-tiba Ki Asem Gede membungkuk lebih hormat lagi dan dengan suaranya yang lembut ia berkata, “Kalau begitu Anakmas ini adalah tuanku Rangga Tohjaya.”
Perkataan Ki Asem Gede itu seperti petir datang menyambar telinga Ki Dalang Mantingan serta Demang Pananggalan. Ia pernah mendengar nama itu, bahkan nama itu terlalu besar untuk disebut-sebut sebagai seorang pahlawan yang sudah mengamankan Demak dari gangguan-gangguan kejahatan. Mahesa Jenar sendiri agak terkejut juga mendengar nama itu disebutkan. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada mengiyakan. Sebab Ki Asem Gede itu pasti pernah mendengarnya dari Panji Danapati, bahwa ia sebagai seorang perwira pengawal raja, disamping namanya sendiri mendapat gelar Rangga Tohjaya.
Demang Pananggalan dan Ki Demang Mantingan masih berdiri termangu-mangu. Mereka masih belum yakin benar akan kata-kata Ki Asem Gede, sampai Ki Asem Gede menyapanya.
“Adi Pananggalan dan Adi Mantingan, belumkah adi berdua pernah mendengar nama itu?”
Mereka berdua tersadar oleh sapa itu. Dengan hati-hati Demang Pananggalan mencoba bertanya,
“Ki Asem Gede, aku memang pernah mendengar gelar itu serta kebesarannya, tetapi aku belum mengenal wajahnya, karena aku orang yang picik dan sama sekali tak berarti.
Tetapi perkenankanlah aku bertanya bahwa beliau tadi berkenan menyebut gelarnya dengan Mahesa Jenar ...?”
Ki Asem Gede tertawa lirih. “Benar Adi berdua, Mahesa Jenar adalah namanya, sedang gelarnya sebagai seorang prajurit adalah Rangga Tohdjaja.”
Hati Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan berdegup keras. Tetapi pandangan mata mereka masih mengandung seribu macam pertanyaan, sehingga akhirnya Mahesa Jenar sendiri mengambil keputusan untuk mengatakan keadaannya yang sebenarnya sebagai suatu hal yang tak mungkin lagi diingkari.
“Bapak Demang dan Kakang Mantingan, memang sebenarnyalah aku yang bernama Mahesa Jenar, telah menerima anugerah nama sebagai seorang prajurit, Rangga Tohjaya.”
Mendengar penjelasan itu detak jantung Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan serasa akan berhenti. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa mereka telah berhadaphadapan dengan seorang yang sakti. Untunglah bahwa segala sesuatunya belum terlanjur. Kalau sampai terjadi Rangga Tohjaya mengeluarkan segala kesaktiannya maka sulitlah bagi mereka semua untuk dapat keluar dari halaman itu dengan masih bernafas.
Seperti digerakkan oleh satu tenaga penggerak, Dalang Mantingan dan Demang Pananggalan cepat-cepat melangkah maju ke hadapan Mahesa Jenar, dan bersama-sama membungkuk hormat. Dengan agak terputus-putus karena berbagai perasaan yang berdesakan di dada,
Demang Pananggalan berkata,
“Kami mohon ampun ke hadapan Anakmas Rangga Tohjaya, bahwa kami telah berbuat suatu kesalahan yang besar sekali. Serta mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kemurahan Anakmas yang tidak sekaligus menghabisi jiwa kami. Dan sekarang kami menjerahkan diri untuk menerima segala hukuman yang seharusnya kami jalani.”
Mahesa Jenar terharu juga melihat Demang tua itu ketakutan. Sejak semula ia sudah menduga bahwa Demang tua itu sama sekali tak bermaksud jahat kepadanya. Hanya karena perkembangan keadaan saja maka semuanya itu terjadi. Bahkan mungkin di luar dugaan Demang tua itu sendiri. Maka berkatalah Mahesa Jenar,
“Bapak Demang Pananggalan dan Kakang Mantingan, tak ada sesuatu yang harus aku maafkan. Yang sudah terjadi tak perlu disesali. Yang perlu, sekarang silahkan Ki Asem Gede mengobati kedua orang-orangmu yang terluka. Tetapi percayalah, aku sama sekali tidak bermaksud untuk melukainya benar-benar.”
Kembali Demang Pananggalan dan Mantingan mengagguk hormat, lalu mereka mempersilahkan Mahesa Jenar masuk ke Kademangan. Orang-orang yang berada di halaman menyaksikan semuanya itu dengan keheran heranan. Mereka yang pernah mendengar nama Rangga Tohjaya dan pernah mendengar kesaktiannya, segera bercerita dengan suara yang berderai derai, seakan akan dengan mengenal nama itu mereka sudah terhitung orang yang terkemuka dalam kalangan kepahlawanan.
Sementara itu Ki Asem Gede sudah mulai melakukan kewajibannya. Ternyata luka Gagak Ijo dan Baureksa tidak ringan. Beberapa kali mereka tak sadarkan diri. Untung Ki Asem Gede segera turun tangan. Kalau sampai terlambat satu malam saja, mungkin mereka sudah tak tertolong lagi.
Kecuali itu, ternyata Ki Dalang Mantingan juga mengalami cedera. Beberapa bagian tubuhnya tidak bekerja seperti biasa dan di beberapa bagian yang terkena serangan Mahesa Jenar tampak membengkak dan kemerah-merahan. Untunglah, daya tahan tubuh Mantingan cukup kuat sehingga Ki Asem Gede tidak perlu bekerja terlalu keras untuk menolongnya.
Ketika keadaan sudah agak reda, dan Ki Asem Gede sudah tidak sibuk lagi, duduklah mereka di atas bale-bale besar di pendapa Kademangan, mengelilingi lampu minyak yang nyalanya bergoyang-goyang diayun-ayunkan angin. Di luar, gelap malam mulai turun sebagai tabir raksasa berwarna hitam kelam. Sedangkan di langit satu demi satu bintang mulai bercahaya menembus hitamnya malam.
Mereka mulai berbicara dan bercerita tentang diri masing-masing. Mahesa Jenar tidak lagi menyembunyikan sesuatu. Diceritakannya seluruh masalah mengenai dirinya, kenapa ia sampai meninggalkan Demak.
“Aku telah menanggalkan pakaian keprajuritan dan telah menyisihkan segala macam senjata, dengan suatu keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah Sang Pencipta.
Tetapi rupa-rupanya Sang Pencipta belum berkenan, sehingga aku masih dikendalikan oleh nafsu,” kata Mahesa Jenar.
Semuanya yang mendengarkan mengangguk-anggukan kepala, dan mereka merasa juga bersalah, sehingga Mahesa Jenar terpaksa menyesali dirinya. Sementara itu mulailah hidangan mengalir. Demang Pananggalan yang merasa telah menyakiti hati Mahesa Jenar, ingin sedikit mengurangi kesalahannya dengan menghidangkan apa yang mungkin dihidangkan pada saat itu. Sedangkan Ki Asem Gede, kecuali seorang yang bijaksana serta mempunyai ilmu obat-obatan, ternyata juga seorang yang jenaka. Banyak hal yang dapat ia ceritakan tentang dirinya dengan lucu sekali, sehingga suasana menjadi meriah dan akrab.
Diceritakan, bagaimana ia terpaksa sekali mengobati seorang yang sakit, hanya dengan
air saja, tanpa ramu-ramuan obat yang lain. Sebab, pada saat itu ia sedang berada dalam
perjalanan dan tak membawa obat-obatan yang diperlukan.
“Tetapi... tiga hari kemudian orang itu datang kepadaku, dengan membawa empat ikan
gurameh sebesar penampi, sebagai ucapan terima kasih atas obat-obatku yang mujarab,”
kata Ki Asem Gede. "Sebabnya," sambung Ki Asem Gede, kenapa obat-obatku banyak yang dapat berhasil,
adalah sebagian besar dari mereka yang aku obati mempunyai kepercayaan kepadaku.
Bahwa seseorang yang menderita sakit merasa berbesar hati, adalah merupakan obat yang
banyak menolongnya. Lebih daripada itu, semuanya adalah berkat kuasa Allah SWT.
tetapi... —suara Ki Asem Gede terputus—.
Mereka yang mendengarkan jadi bertanya-tanya dalam hati, kenapa tiba-tiba saja wajah
Ki Asem Gede yang cerah menjadi muram? Beberapa kali ia menelan ludah, seperti ada
sesuatu yang menyumbat kerongkongannya.
“Tetapi...” ulang Mahesa Jenar yang ingin mendengar kelanjutan ceritera Ki Asem Gede
itu.
“Ah tak apalah,” tukasnya. “Segala sesuatu ada pengecualiannya. Sebagai seorang yang
beratus bahkan beribu kali menyembuhkan orang sakit, maka sekali-kali Allah tak
memperkenankan juga. Itu adalah suatu bukti akan kebesaran-Nya,” lanjut Ki Asem
Gede.
Mahesa Jenar maklum bahwa ada sesuatu yang tak mau ia sebutkan. Karena itu ia tidak
bertanya lebih lanjut.
“Nah... Anakmas...” sambung Ki Asem Gede kemudian, sambil berusaha untuk
mengembalikan suasana, “kenapa tidak saja Anakmas berceritera tentang apa yang
Anakmas jumpai di perjalanan. Tidakkah Anakmas menjumpai kejadian kejadian yang
lucu, misalnya, seperti yang terjadi di sini? Seorang seperti Adi Pananggalan dan Adi
Mantingan berlagak sebagai seorang sakti.”
Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar tersenyum, demikian juga Demang
Pananggalan dan Dalang Mantingan, meskipun kalau teringat akan hal itu, hati mereka
masih tergetar.
Karena pertanyaan itu, Mahesa Jenar teringat akan keperluannya datang ke desa itu.
Yaitu, ingin mengetahui jawaban teka-teki tentang adanya kerangka yang dijumpainya di
puncak Gunung Ijo.
“Ki Asem Gede, Bapak Demang Pananggalan serta Kakang Mantingan. Memang
sebenarnya ada aku jumpai sesuatu dalam perjalananku yang ingin aku tanyakan. Itulah
sebabnya maka aku datang kemari.”
Ketika Mahesa Jenar tampaknya bersungguh-sungguh, maka mereka yang
mendengarkanpun menjadi bersungguh-sungguh pula.
“Di puncak Gunung Ijo,” sambung Mahesa Jenar, "aku jumpai sesuatu yang
mencurigakan. Alat-alat minum yang berserak-serakan. Bekas unggun api. Dan yang
paling mengherankan adalah adanya batu-batu yang disusun sebagai suatu tempat untuk sesaji, sedangkan di atasnya terdapat kerangka perempuan. Dan tidak jauh dari tempat
itu, aku ketemukan pula kerangka yang lain. Juga seorang perempuan.”
Mendengar pertanyaan itu Demang Pananggalan menundukkan muka dalam-dalam. Ki
Asem Gede mengerutkan dahinya yang sudah dipenuhi oleh garis-garis ketuaannya,
sedangkan Dalang Mantingan menarik nafas dalam-dalam.
Melihat keadaan itu maka makin nyatalah bagi Mahesa Jenar bahwa daerah ini pasti
langsung mengalami bencana yang bertalian dengan peristiwa Gunung Ijo.
“Anakmas...” jawab Ki Demang Pananggalan dengan suara yang dalam. “Akulah
orangnya, kalau ada orang tua yang sama sekali tak berguna.”
Ia berhenti sebentar menelan ludah, lalu sambungnya, “Apalagi aku sebagai seorang
Demang, yang seharusnya dapat memberikan perlindungan kepada rakyatku. Tetapi
nyatanya aku sama sekali tak mampu berbuat demikian.”
Kembali Demang tua itu berhenti berbicara. Matanya memandang jauh menusuk
gelapnya malam. Di halaman, beberapa orang masih duduk berkelompok-kelompok
sambil berceritera tentang kehebatan pertarungan siang tadi.
Demang Pananggalan mengeser duduknya sedikit. Matanya masih menembus gelap,
seolah-olah ada yang dicarinya di kegelapan itu. Tetapi rupa-rupanya ia ingin
melanjutkan ceriteranya. Ki Demang pun meneruskan ceritanya.
“Ketika itu, di daerah ini lewat serombongan orang-orang berkuda. Didesa ini mereka
berhenti dan minta untuk menginap barang semalam. Mereka memasuki desa ini
menjelang senja. Karena tak ada tanda-tanda yang aneh pada mereka, serta sikap
pimpinannya yang ramah maka kami tak dapat menolak permintaan itu. Rombongan itu
dipimpin oleh dua orang suami-isteri yang akan mengadakan ziarah ke Gunung Baka.
Tetapi ketika malam pertama telah lewat, mereka minta untuk diperkenankan bermalam
semalam lagi sambil melepaskan lelah dan mengadakan persiapan-persiapan untuk sesaji.
Permintaan ini pun tak dapat aku tolak.”
Sekali lagi ia berhenti. Rupa-rupanya ia sedang mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
Kemudian ia kembali menyambung ceritanya.
“Tetapi terkutuklah mereka. Terkutuklah rombongan orang-orang berkuda itu. Pada
malam kedua mereka menangkap seorang gadis yang sedang pergi ke sungai. Gadis ini
sempat menjerit, dan seorang yang baru pulang dari mengairi sawahnya dapat
menyaksikan peristiwa itu. Pengantar gadis itu, seorang pemuda tanggung dipukulinya
sampai pingsan, maka ketika hal itu disampaikan kepada kami, meledaklah amarah kami.
Segera Banjar Kademangan yang kami sediakan sebagai tempat penginapan mereka,
kami kepung rapat-rapat, mereka segera kami ancam untuk menyerah, tetapi yang terjadi
adalah diluar dugaan kami, mereka sama sekali tidak menghiraukan kehadiran kami,
orang-orang hampir seluruh desa ini, ketika kami mendengar gadis itu menjerit, hati kami tak tahan lagi, cepat-cepat kami menyerbu masuk, tetapi rupa-rupanya mereka telah siap
menanti kedatangan kami, dan segera terjadilah pertempuran. Orang-orang kami lebih
banyak dikendalikan oleh kemarahan yang meluap-luap, daripada kesediaan untuk
bertempur, apalagi rombongan berkuda itu ternyata terdiri dari orang-orang yang
tangguh, maka lenyaplah segala kesan keramah-tamahan mereka. Bahkan tampaklah
betapa dahsyat cara mereka menjatuhkan lawan. Beberapa saat pertempuran itu
berlangsung dengan dahsyatnya, tetapi segera tampak betapa lemahnya kami. Segera
orang-orang kami dapat dihantam dan dicerai-beraikan. Aku tidak lagi dapat berpikir lain
daripada bertempur mati-matian. Dan aku beserta Baureksa dan Gagak Ijo sebagai orangorang yang paling dapat dipercaya pada waktu itu, berhasil menerobos masuk ke banjar,
sehingga kami bertiga langsung terlibat dalam perkelahian melawan suami-istri
pemimpin gerombolan itu. Mungkin terdorong oleh kemarahanku maka terasa seolaholah tenagaku menjadi berlipat-lipat. Si istri itu pun ternyata mempunyai ilmu yang
tinggi, ditambah lagi betapa kasarnya cara mereka bertempur. Si Suami menerkam dan
mengaum seperti harimau, sedangkan si isteri menyerang dengan jari-jari yang
dikembangkan. Wajah-wajah mereka yang ramah itu sekarang sudah berubah menjadi
wajah-wajah iblis yang menakutkan.
Tetapi aku sama sekali tidak peduli. Mungkin saat itu, akupun berkelahi seperti iblis.
Tetapi kemudian ternyata bahwa kami bertiga bukanlah lawan mereka. Apalagi tenagaku
adalah tenaga orang tua yang sangat terbatas. Ketika nafasku sudah mulai mengganggu,
segera aku merasa terdesak, sedangkan serangan mereka semakin lama menjadi semakin
kasar.”
Demang tua itu menarik nafas sambil membetulkan duduknya, kemudian ia melanjutkan,
“Saat itu aku sudah berpikir bahwa rupa-rupanya ajalku sudah hampir tiba. Sebab daya
tahanku semakin lama menjadi semakin lemah. Apalagi Baureksa dan Gagak Ijo sama
sekali tak dapat berbuat sesuatu. Tetapi ternyata ALLAH menghendaki lain. Ruparupanya salah seorang telah memberitahukan kesulitan-kesulitan kami ini kepada Ki
Asem Gede, yang pada saat yang tepat datang menolong kami.”
Demang itu berhenti berceritera. Pandangan matanya yang suram itu dilemparkan
kepada Ki Asem Gede. Lalu katanya,
“Selanjutnya Ki Asem Gede-lah yang lebih mengetahuinya."
Mahesa Jenar mendengarkan cerita Demang tua itu dengan penuh perhatian. Terbayang
betapa Demang tua itu telah berusaha mati-matian untuk melindungi rakyatnya, sampai ia
tidak memikirkan nasibnya sendiri. Tetapi rupa-rupanya lawannya adalah orang yang
perkasa.
Ki Asem Gede yang diminta melanjutkan cerita itu, berkisar sedikit. Dipandangnya
pelita yang nyalanya bergerak-gerak oleh angin yang berhembus ke pendapa.Ia batukbatuk sedikit, lalu mulailah ia bercerita. “Anakmas, sebenarnya bukanlah pertolongan yang aku berikan, tetapi semata-mata
hanyalah karena kebetulan saja dan terutama atas kehendak ALLAH. Aku bukanlah
orang yang mempunyai kepandaian yang cukup untuk bertanding. Kalau pada masa
mudaku, sekali dua kali aku pernah terlibat dalam suatu pertarungan, itu sama sekali
bukan karena aku mampu melakukannya, tetapi itu hanyalah karena kebodohan dan
kesombonganku yang kosong saja.
Diam-diam Mahesa Jenar mengamati tubuh Ki Asem Gede yang sudah tua itu.Kulitnya
sudah melipat-lipat dan hampir seluruh rambutnya, bahkan alisnya pun telah memutih
seluruhnya. Namun gerak-geriknya masih tampak tanda-tanda kelincahan. Ini
menandakan bahwa pada masa mudanya ia adalah seorang yang kuat. Bahkan mungkin
sampai saat ini pun ia masih memiliki kekuatan itu.
“Pada masa mudaku,” sambung Ki Asem Gede, “memang aku pernah berguru kepada
seseorang yang dikenal dengan nama Ki Tambak Manyar.”
Mendengar nama itu disebut-sebut, Mahesa Jenar terhenyak, sebab ia pernah mendengar
nama itu dari almarhum gurunya bahwa almarhum Ki Tambak Manyar adalah seorang
prajurit Majapahit yang tangguh. Karena itu, mau tidak mau ia harus memandang Ki
Asem Gede sebagai seorang yang berilmu, baik dalam obat-obatan maupun ilmu tata
berkelahi. Bahkan rupa-rupanya ia memiliki kecerdasan otak yang tidak mengecewakan
pula.
“Tetapi,” lanjut Ki Asem Gede, “sebagai aku katakan tadi, aku tidak banyak mendapat
kemajuan. Barangkali tubuhku terlalu ringkih untuk melakukan hal-hal yang berat dan
keras. Karena itu Ki Tambak Manyar melatih aku dalam hal mempergunakan senjata
sebaik-baiknya. Baik jarak pendek maupun jarak jauh. Dan ini adalah suatu keuntungan.
Sebab ilmu ini dapat aku berikan kepada banyak orang sekaligus meskipun tidak
sedalam-dalamnya, kecuali hanya kepada satu-dua orang saja. Terutama dalam hal
mempergunakan bandil, panah, supit dan sebagainya.”
Orang tua itu berhenti sebentar dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia
melanjutkan,
“Kepandaian yang tak berarti itu ternyata berguna juga dalam suatu waktu, dimana Adi
Pananggalan hampir menjadi korban keganasan orang-orang berkuda itu. Ketika aku
datang, penduduk kademangan ini telah kehilangan semangat dan hampir putus-asa.
Sedangkan kalau sampai terjadi penduduk daerah ini melarikan diri, akibatnya akan hebat
sekali. Orang-orang berkuda itu pasti akan melakukan tindakan-tindakan yang ganas dan
kotor lainnya. Karena itu, segala usaha untuk mengusir mereka itu harus dijalankan. Pada
saat itulah, maka aku mengumpulkan orang-orang yang sudah ketakutan itu dan berusaha
untuk membangkitkan semangatnya kembali. Aku peringatkan kepada mereka bahwa
sebaiknya kita melawan orang-orang berkuda itu dari jarak jauh, sebab dengan mengadu
kekuatan sudah jelas bahwa kepandaian dan keperkasaan mereka jauh di atas kita. Dengan jumlah yang banyak dan serangan-serangan jarak jauh, mungkin kita akan
berhasil mengacaukan mereka.”
“Dengan mempergunakan senjata ini” lanjut Ki Asem Gede, “rupa-rupanya semangat
mereka bangkit kembali. Dan sebentar kemudian, setelah segala siasat ditentukan,
mulailah kami menyerang orang-orang berkuda itu dari jarak jauh dan dari segala
jurusan. Orang-orang kami mempergunakan panah, supit dan bandil. Sedang ruparupanya orang-orang berkuda itu tidak bersiap untuk melakukan pertempuran jarak jauh,
sehingga berhasilah siasat kami untuk mengacaukan perhatian mereka. Apalagi kami
mempergunakan panah yang ujungnya kami balut dengan kain berminyak serta kami
nyalakan. Akhirnya pemimpin mereka suami isteri itu terpaksa keluar dari Banjar dan
akhirnya merekapun dapat kami usir pergi”
“Tetapi yang menyedihkan kami adalah, Adi Demang Pananggalan, Baureksa dan Gagak
Ijo, mengalami luka-luka yang cukup berat, serta tidak sadarkan diri. Apalagi gadis yang
ditangkapnya itu. Ia mengalami ketakutan yang sangat sehingga akhirnya ia memerlukan
waktu yang cukup lama untuk mengembalikan kesadarannya.”
Kembali Ki Asem Gede berhenti. Ia membetulkan duduknya dan seolah-olah menunggu
Mahesa Jenar meresapi kata-katanya.
Bagi Mahesa Jenar, persoalannya menjadi semakin jelas. Bahwa pernah terjadi
percobaan untuk menculik gadis di daerah ini. Untunglah bahwa usaha itu dapat
digagalkan. Tetapi meskipun demikian, rupanya, di daerah ini rombongan itu berhasil
mendapatkan gadis-gadis untuk korban upacaranya yang aneh itu.
“Kemudian sesudah itu...” Ki Asem Gede melanjutkan lagi, “di atas salah satu puncak
pegunungan Baka, yaitu puncak Gunung Ijo, hampir tiap malam terlihat api yang
menyala-nyala. Kami kemudian hampir memastikan bahwa rombongan orang-orang
berkuda itu pergi kesana. Kami merasa bahwa rombongan itu adalah rombongan yang
berbahaya, tetapi kami tidak segera dapat memburunya sebab kami mengetahui
kekuatannya”
“Meskipun demikian kami memutuskan untuk pada suatu saat akan menyusul mereka.
Mengusir mereka atau kalau mungkin menghancurkan mereka sama sekali. Akan tetapi
beberapa waktu kemudian tidak lagi pernah nampak nyala api di puncak Gunung Ijo. Dan
sekarang Anakmas datang dengan membawa penjelasan tentang apa yang kira-kira
pernah terjadi di atas puncak Gunung Ijo itu.”
Cerita Ki Asem Gede diakhiri dengan suatu tarikan nafas yang panjang. Suatu tarikan
nafas penjelasan.
Mahesa Jenar sekarang sudah pasti, bahwa orang-orang berkuda itu adalah orang orang
yang mempunyai kepercayaan sesat.
Memang pernah terdengar adanya suatu aliran kepercayaan yang dalam upacaranya menggunakan gadis-gadis sebagai korban, disamping pemanjaan nafsu-nafsu lahirlah
yang lain. Minuman keras, makan dengan suatu cara yang hampir dapat disebut buas, dan
sebagainya.
Suasana kemudian menjadi sepi. Sedang malam semakin lama semakin dalam. Mereka
dihanyutkan oleh pikiran masing-masing serta gambaran-gambaran yang mengerikan
tentang apa yang terjadi atas gadis-gadis yang dijadikan korban kepercayaan sesat
semacam itu.
Di bagian belakang rumah Kademangan itu, tampak adanya suasana yang berbeda sama
sekali. Beberapa orang perempuan sedang sibuk mempersiapkan makan malam yang kali
ini berbeda dengan kebiasaan, karena adanya seorang tamu yang sangat mereka hormati.
Mereka telah menyembelih beberapa ekor ayam yang paling besar yang dapat mereka
tangkap. Mereka juga telah mengundang juru masak yang paling terkenal di Kademangan
itu. Sehingga tiba-tiba saja seolah-olah Demang Pananggalan sedang melangsungkan
suatu perhelatan.
Di pendapa Kademangan, Ki Asem Gede-lah yang mula-mula mencoba memecahkan
kesepian, dan berusaha untuk mengubah suasana, melenyapkan ketegangan yang
mencekam.
“Adi Pananggalan, tidakkah Adi berhasrat menjamu Anakmas Mahesa Jenar? Tentang
ceritera orang-orang berkuda itu, baiklah kita simpan lebih dahulu, sampai kesempatan
lain. Aku kira Anakmas Mahesa Jenar perlu melepaskan lelah setelah menempuh
perjalanan yang jauh serta telah meladeni Adi berdua bermain loncat-loncatan. Nah, Adi
Pananggalan, aku ada usul. Adi pasti setuju kalau gamelan Adi Pananggalan itu
dibunyikan.” kata Ki Asem Gede kepada Demang Pananggalan.
Demang Pananggalan tersenyum mendengar usul itu. Memang ia mempunyai
seperangkat gamelan yang bagus, baik bahannya maupun bunyinya. Tentu saja Demang
Pananggalan tidak dapat menolak usul itu. Maka, katanya kepada orang-orang yang
berada di halaman,
“Siapa yang di luar?”
“Aku, Bapak Demang,” jawab salah seorang diantaranya.
Sebentar kemudian orang itu berdiri dan melangkah naik ke pendapa.
“Berapa orang seluruhnya?” tanya Demang tua itu lebih lanjut.
“Enam atau tujuh orang, Bapak Demang,” jawab orang itu.
“Nah, aku kira telah cukup. Mari kita bermain-main dengan gamelan. Ki Asem Gede
ingin mengenang masa mudanya sebagai seorang penggemar gending,” ajak Demang
Pananggalan. Ki Asem Gede tertawa terkekeh-kekeh.
“Lebih dari itu..., aku adalah seorang penari juga. Tetapi tidak adakah seorang pesinden
yang baik di desa ini?” sahut Ki Asem Gede.
Kembali Ki Demang Pananggalan tersenyum, juga Mahesa Jenar dan Mantingan.
Rupanya Ki Asem Gede adalah seorang penggemar uyon-uyon.
“Nah, kalau begitu panggil Nyai Jae Manis,” kata Demang Pananggalan kepada orang
tadi, yang sudah turun ke halaman.
“Baik Bapak Demang,” jawabnya, sambil melangkah turun. Sebentar kemudian
terdengar suara berbisik-bisik dan meledaklah tawa yang tertahan dari orang-orang yang
berada di halaman.
“Tetapi yang paling gembira dengan usul ini,” sambung Ki Asem Gede, “adalah Adi
Mantingan, yang telah beberapa lama tidak mendengar suara gamelan.”
Kembali terdengar mereka tertawa riuh.
Sebentar kemudian mulailah segala sesuatunya berlangsung dengan meriah. Hidangan
yang disiapkan oleh Nyai Demang satu demi satu mengalir keluar. Sementara itu bunyi
gamelan yang berpadu dengan suara Nyai Jae Manis benar-benar dapat membelai hati
pendengarnya.
Di halaman, satu demi satu orang berdatangan untuk turut serta menikmati suara
pesinden kenamaan dari daerah ini.
Tetapi belum lagi mereka puas menikmati semuanya itu, tiba-tiba mereka dikejutkan
oleh suara derap kuda yang berlari kencang. Makin lama makin dekat dan makin dekat.
Mendengar derap kuda itu, Demang Pananggalan, Mantingan, Ki Asem Gede dan
Mahesa Jenar serentak mengangkat mukanya untuk mengetahui dari mana arah
kedatangan mereka. Sedangkan di halaman segera terjadi keributan. Perempuanperempuan berlari-lari kesana-kemari, anak-anak menangis menjerit-jerit. Mereka masih
belum melupakan peristiwa beberapa waktu yang lalu, ketika ada rombongan orangorang berkuda yang mengganggu ketenteraman desa mereka.
Untunglah bahwa Demang Pananggalan cepat bertindak. Ia segera meloncat ke halaman
dan mengatasi keadaan.
“Perempuan dan anak-anak masuk ke rumah,” perintah Demang Pananggalan dengan
suara nyaring.
“Sedangkan semua laki-laki di halaman ini, segera memencar dan berusaha untuk mendapatkan senjata apa saja. Kita masih belum tahu siapakah yang datang, tetapi
keselamatan desa ini di tangan kalian,” lanjut Demang.
Laki-laki Kademangan ini bukanlah bangsa pengecut. Tetapi meskipun demikian, hati
mereka berdebar-debar juga mengenangkan kebuasan orang-orang berkuda yang datang
beberapa waktu yang lalu.
Cepat-cepat mereka berpencar dengan senjata seadanya di tangan masing-masing.
Karena mereka sama sekali tidak bersiaga, maka kecuali yang sedang bertugas ronda,
mereka semuanya tidak bersenjata. Untuk mencukupi kebutuhan, ada yang memegang
sabit rumput, kapak pembelah kayu, kayu penumbuk padi, kayu tajam untuk mengupas
kelapa, bahkan ada yang bersenjata perunggu wilahan gamelan, di tangan kanan dan kiri.
Beberapa orang yang rumahnya berdekatan dengan pendapa kademangan, berloncatan
pulang untuk mengambil tombak, pedang dan apa saja yang ada untuk mempersenjatai
kawan-kawan mereka.
Tetapi getaran hati mereka terasa jauh berkurang ketika mereka melihat di atas tangga
pendapa kademangan berdiri Ki Asem Gede dan Ki Dalang Mantingan dengan trisulanya
di tangan, serta tamu mereka yang gagah perkasa, Mahesa Jenar, yang juga bergelar
Rangga Tohjaya, dengan sikap yang tenang dan meyakinkan.
Pada saat itu, suara derap kuda itu sudah demikian dekatnya. Sesaat kemudian mereka
melihat empat orang penunggang kuda berturut-turut menyusup regol memasuki halaman
Kademangan.
Ketika para penunggang kuda itu melihat kesiap-siagaan orang-orang di halaman itu,
mereka tampak terkejut, dan sekuat tenaga mereka menarik kendali kuda masing-masing
sehingga kuda-kuda itu berdiri dan meringkik-ringkik. Secepatnya kuda itu menjejak kaki
depannya di atas tanah, secepat itu pula para penunggangnya berloncatan turun.
Bersamaan dengan itu, lega pulalah hati setiap orang yang berdiri di halaman, karena
mereka menyaksikan bahwa kedua penunggang kuda yang di depan tampak samar-samar
oleh cahaya lampu, memakai sabuk putih, serta segulung tali berjuntai di pinggangnya
dan di pinggang yang lain tergantung kantong yang berisi batu-batu pilihan. Itulah ciriciri murid Ki Asem Gede yang bersenjatakan bandil. Dua orang yang lain pun tidak
menunjukkan tanda-tanda yang berbahaya, meskipun di pinggang mereka tergantung
kapak yang tajamnya putih berkilat-kilat oleh cahaya lampu.
Wajah Ki Asem Gede segera berkerut ketika menyaksikan orang-orang berkuda yang
datang itu. Dijelaskan bahwa ia sedang berusaha untuk menguasai debar jantungnya.
Begitu kedua murid Ki Asem Gede menjejakkan kakinya, segera mereka dengan cepat
menghadap gurunya, sedangkan kedua orang yang lain berdiri sambil memegang kendali
keempat ekor kuda itu.
Kedua murid Ki Asem Gede itu segera membungkuk hormat, dan salah seorang diantara
mereka berkata, “Ki Asem Gede, kedua kawan ini adalah murid-murid Ki Wirasaba.”
Mendengar laporan itu wajah Ki Asem Gede makin berkerut. Ia memandang kepada
kedua orang itu dengan gelisah, lalu dengan langkah cepat ia mendekatinya. Rupanya ia
ingin berbicara dengan orang-orang itu tanpa didengar oleh orang lain.
“Bagaimana?” tanya Ki Asem Gede, setelah orang itu mendekat. Meskipun kata-kata itu
diucapkan perlahan-lahan, tetapi karena jaraknya tak begitu jauh, maka suara itu
terdengar juga oleh orang-orang yang berdiri di atas tangga.
Dua orang itu sebelum menjawab, matanya menyambar beberapa orang yang berdiri di
halaman, lalu ke Ki Asem Gede.
“Katakanlah,” desak Ki Asem Gede.
“Mereka telah menculik Nyi Wirasaba,” jawab salah seorang diantaranya.
“He..?” Ki Asem Gede terkejut bukan alang-kepalang, tubuhnya yang sudah kisut itu
menggigil.
“Kalian tak berbuat apa-apa?”
Kedua orang itu menundukkan kepala. Mereka tak berani memandang wajah Ki Asem
Gede yang sedang menahan gelora hatinya.
“Kami telah mencoba, tetapi kekuatan kami tak berarti. Dua orang kakak seperguruan
kami telah mereka lukai dengan berat, dan bagi kami satu-satunya adalah melaporkan ini
kepada Ki Asem Gede. Tetapi kebetulan Ki Asem Gede tiada di rumah, sehingga kami
tadi diantar kemari.” jawab orang itu. Tampaklah tubuh Ki Asem Gede semakin
menggigil.
Diluar dugaan mereka yang berada di halaman itu, tiba-tiba secepat kilat Ki Asem Gede
meloncat ke atas salah satu kuda itu. Sekali tarik kendali, kuda itu telah berputar dan
meluncur bagai anak panah.
Mereka yang menyaksikannya menjadi terpaku diam, tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Demikian juga keempat orang yang datang berkuda tadi, berdiri saja tegak seperti patung.
Belum lagi mereka tersadar, mendadak mereka melihat sesosok tubuh melayang pula ke
atas punggung kuda yang satu lagi. Dengan kecepatan yang luar biasa pula, kuda ini
melompat mengikuti arah larinya kuda yang dinaiki oleh Ki Asem Gede.
Orang itu tidak lain adalah Mahesa Jenar. Ketika ia mendengar percakapan Ki Asem
Gede dengan keempat orang berkuda itu, ia sudah mengira kalau terjadi sesuatu. Maka
ketika secepat itu Ki Asem Gede melarikan kudanya, ia makin yakin bahwa tentu ada kesulitan dengan menantunya. Dan dialah orang yang pertama-tama dapat menguasai
dirinya dari pergolakan perasaannya, sehingga ia mengambil keputusan untuk mengikuti
orang tua itu.
Kuda Ki Asem Gede lari dengan kecepatan penuh di malam yang gelap dengan
meninggalkan debu putih yang berhambur-hamburan, ke arah utara menyusur kali Opak.
Jalannya begitu sempit dan berbahaya. Tapi Ki Asem Gede sama sekali tak
menghiraukan. Ia ingin cepat-cepat sampai ke Pucangan, dimana ia yakin kalau anaknya,
Nyi Wirasaba, ditahan. Ia tahu betul bahwa segerombolan orang-orang ternama di daerah
itu, yang merasa cukup mempunyai kesaktian, menjadi takabur dan berbuat sewenangwenang.
Kejahatan-kejahatan seringkali mereka lakukan. Pemerasan dan penganiayaan. Dan yang
paling jahat adalah pengambilan istri orang. Ini mereka lakukan, karena mereka merasa
tak terkalahkan. Bahkan mereka juga mengambil gadis-gadis untuk dijadikan istri mereka
yang keempat, kelima atau kesekian. Tak seorangpun yang dapat mencegahnya. Sedang
kali ini yang menjadi korban adalah anak Ki Asem Gede.
Mengingat semuanya itu, hati Ki Asem Gede bergolak hebat sekali karena marahnya.
Sejak ia mengasingkan diri diAsem Gede,iasudah tak pernah lagi berangan-angan bahwa
pada suatu kali ia masih harus bertempur. Ia merasa sudah masanya menyepi dan
mempergunakan sisa hidupnya untuk diabadikan pada perikemanusiaan.
Tetapi menghadapi persoalan seperti sekarang ini? Wajah Ki Asem Gede yang lunak dan
damai itu berubah menjadi merah darah. Mulutnya terkatub dan giginya gemeretak.
Kudanya yang berlari seperti setan itu rasa-rasanya begitu lambatnya, sehingga berkalikali Ki Asem Gede terpaksa menggebraknya.
Debu yang dihambur-hamburkan oleh kaki kuda Ki Asem Gede itu, telah menolong
Mahesa Jenar untuk dapat mengikutinya dari jarak yang agak jauh. Untunglah bahwa
kudanya agak lebih baik sedikit dari kuda Ki Asem Gede, sehingga jarak mereka makin
lama makin dekat.
Berapa lama mereka berkuda, tak lagi terasa, karena perasaan mereka masing-masing
begitu tegangnya. Ki Asem Gede ingin segera sampai ke tempat tujuannya, sedangkan
Mahesa Jenar sibuk menduga-duga apa yang sudah terjadi atas anaknya.
Perjalanan mereka kini menyusup belukar, menjauhi Sungai Opak. Meskipun keadaan di
dalam belukar itu gelapnya bukan main, Mahesa Jenar mempunyai penglihatan dan
pendengaran yang sangat tajam, sehingga dengan mendengarkan derap kuda Ki Asem
Gede, ia dapat menyusup lewat jalan sempit itu ke arah yang benar.
Setelah beberapa lama mereka menelusur jalan belukar, akhirnya mereka sampai ke
mulutnya. Begitu mereka muncul dari belukar, terasa hawa sejuk menyapu muka. Mahesa
Jenar lebih merasakan segarnya udara, sebab Ki Asem Gede perhatiannya penuh
tertumpah kepada putrinya. Kini jalan yang mereka lalui mulai menanjak dan berliku-liku. Rupanya mereka telah
sampai di kaki Gunung Merapi. Lama-lama di sebelah timur telah membayang warna
merah.
“Hampir fajar,” dengus Mahesa Jenar seorang diri. Kuda-kuda mereka kini telah mulai
menyusur jalan persawahan. Juga di daerah ini padi sedang berbunga. Batang-batangnya
yang berwarna hijau segar itu ditaburi oleh warna kemerahan fajar menjadi sedemikian
bagusnya, sehingga untuk sementara Mahesa Jenar terpaku perhatiannya.
Tetapi ketika diingatnya orang tua yang di depannya itu semakin melarikan kudanya, ia
pun segera mengesampingkan keindahan fajar. Sekali ia sentakkan kakinya, kudanya
berlari semakin cepat seperti terbang.
Tiba-tiba kuda Ki Asem Gede membelok ke timur, dan sebentar kemudian menyusup
masuk ke sebuah desa.
Itulah Pucangan. Mahesa Jenar tidak mau kehilangan jejak. Dengan ujung kendali,
kudanya dicambuk agar melaju lebih cepat lagi.
Ki Asem Gede tak sedikit pun mengurangi kecepatan kudanya. Ketika sampai di muka
sebuah rumah yang berhalaman luas dan beregol besar, ia membelokkan kudanya
memasuki halaman. Kuda yang semula lari seperti kuda gila itu, langsung menuju ke
pendapa rumah itu. Baru ketika jaraknya tinggal beberapa langkah, Ki Asem Gede
menarik kendali dan berhenti di muka pendapa.
Pendapa itu ternyata tertutup dinding di empat sisinya. Pintunya masih tertutup rapat,
dan lampu di dalamnya hanya menyala remang-remang. Cepat Ki Asem Gede turun dari
kudanya. Sebentar ia tertegun. Tempat itu tampaknya sunyi. Tetapi ia yakin kalau
putrinya berada di tempat itu. Itulah rumah pemimpin gerombolan orang-orang yang
merasa dirinya tak dapat dirintangi kemauannya, bernama Samparan.
Ki Asem Gede mengetok pintu itu keras-keras. Sekali, dua kali, tak ada yang menyahut.
Akhirnya Ki Asem Gede tak sabar lagi. Dengan kedua sisi telapak tangannya ia memukul
daun pintu itu sekuat tenaga, hingga berderak-derak. Maka patahlah palang pintu itu,
sehingga terbuka lebar-lebar. Cepat-cepat ia meloncat masuk, dan tampaklah
olehnyalimaorang sedang duduk di atas sebuah balai-balai bambu yang besar menghadapi
meja kecil berisi bermacam-macam makanan dan minuman keras.
Kelima orang itu memandang Ki Asem Gede dengan pandangan kosong, dan sikap yang
acuh tak acuh, sehingga Ki Asem Gede semakin marah.
”Kalian menculik anakku!” teriaknya. Sikap Ki Asem yang sudah tua itu tampak garang
dan sama sekali berobah dari sifat keramah-tamahannya.
”Kami sudah mengira kalau kau akan datang ke pondokku yang jelek ini,” jawab salah satu dari kelima orang itu, yang rupanya adalah pemimpinnya, Samparan.
”Tetapi adalah kurang bijaksana kalau seorang tamu mesti merusak pintu,” sambung
orang itu. Lalu terdengarlah suara mereka berlima tertawa berderai-derai.
Direndahkan demikian, Ki Asem Gede semakin marah. Cepat ia membungkuk
mengambil palang pintu yang telah dipatahkannya tadi, dan dilemparkan sekuat tenaga ke
arah meja kecil di atas bale-bale di antara kelima orang itu. Begitu hebatnya lemparan Ki
Asem Gede sehingga meja kecil yang tertimpa palang pintu itu pecah berserak-serakan.
Suara tertawa kelima orang itu jadi terputus karena terkejut.
Mereka cepat-cepat meloncat menjauh, dan turun dari balai-balai itu. Mereka sama
sekali tidak mengira kalau orang tua itu masih memiliki tenaga yang sedemikian kuatnya.
Sebentar kemudian terdengar Samparan tertawa terbahak-bahak.
”Bagus ..., bagus .... Alangkah hebatnya,” kata Samparan.
Ki Asem Gede sudah tidak mau mendengarkan lagi. Kembali ia berteriak.
”Aku datang untuk mengambil anakku.”
Lagi, Samparan tertawa, tapi kali ini tawanya dingin.
”Kami telah berbuat suatu kebaikan bagi penduduk di sekitar daerah ini, dengan
menyimpan anakmu.”
”Apa kau bilang?” potong Ki Asem Gede.
”Anakmu telah melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk dengan mengganggu
ketentraman rumah tangga orang, meskipun ia sudah bersuami.”
”Omong kosong!” teriak Ki Asem Gede semakin marah. Kembali Samparan tertawa.
”Sudah seharusnya kau tidak percaya, sebab kau ayahnya. Tetapi ketahuilah bahwa di
daerah ini telah timbul keributan karena pokal anakmu. Bahkan lebih dari itu, di daerah
barat daya telah timbul wabah penyakit. Kau tahu sebabnya? Ketahuilah, bahwa itu
disebabkan karena salah istrimu itu pula, sehingga danyang-danyang menjadi marah.”
sambung Samparan.
Ki Asem Gede sudah sampai pada puncak kemarahannya sehingga seluruh tubuhnya
bergetar. Ia tahu benar betapa liciknya orang-orang itu, dan betapa pandainya mereka
memutar balik kenyataan.
”Samparan...” jawab Ki Asem Gede dengan suara menggigil. ”Aku tahu siapakah kau.
Jadi kau tak usah banyak bicara di hadapanku. Aku tahu bahwa anakku menolak menuruti kehendakmu dan kawan-kawanmu, gerombolan iblis ini, sehingga kau terpaksa
menculiknya dan menyimpannya. Sekarang aku minta anakku itu kau serahkan
kepadaku.”
Samparan mendengus lewat hidungnya, lalu berkata lagi.
”Aku tetap pada keteranganku. Dan kami berlima atas persetujuan rakyat di daerah ini,
telah mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman atas anakmu itu. Aku hanya
meniru apakah hukuman yang dijatuhkan pada orang demikian pada jaman dahulu, yaitu
dilempari batu sampai mati.”
Mendengar jawaban itu, tubuh Ki Asem Gede semakin menggigil dan giginya gemertak
menahan marah yang hampir meledak.
”Hanya Sultan di Demak yang berhak menjatuhkan hukuman mati, atau orang yang telah
mendapat kuasanya. Orang-orang Pucangan ini pun tak berhak melakukan itu, apalagi
iblis-iblis macam kau ini.” teriak Ki Asem Gede.
Samparan mengangguk-angguk, lalu kembali terdengar tawa iblisnya.
”Betul..., betul Ki Asem Gede, tetapi di daerah terpencil sejauh ini, jari-jari kekuasaan
Demak tak begitu terasa. Maka sudah sewajarnyalah kalau kami yang merasa sedikit ada
kemampuan, membantu berlakunya undang-undang di daerah ini, menghapuskan
kekhianatan.”
Hampir Ki Asem Gede tak dapat menahan dirinya. Untunglah bahwa pikirannya masih
dapat bekerja. Ia merasa tak akan mampu melawan kelima orang itu.
”Di Demak,” kata Ki Asem Gede kemudian, ”untuk tiap-tiap keputusan ada hak
pembelaan. Berlaku jugakah peraturan ini?”
Mendengar pertanyaan ini kelima orang itu tampak berpikir. Tetapi sebentar kemudian
terdengar kembali tawa iblis keluar dari mulut Samparan.
”Kau cerdik sekali Ki Asem Gede. Kau ingin menjadikan persoalan ini menjadi
persoalan umum.”
”Bukankah telah kau katakan bahwa keputusanmu itu atas persetujuan penduduk di
daerah ini? Bukankah dengan demikian hal itu sudah menjadi persoalan umum?”
Samparan kembali merenung. Tampak ia berpikir untuk mengatasi usul Ki Asem Gede
itu. Kalau sampai terjadi ada semacam pengadilan bagi persoalan ini, dimana dapat hadir
saksi-saksi, maka terang hal ini tidak menguntungkan pihaknya. Tetapi akhirnya ia
ketemukan juga suatu cara untuk mengatasinya.
“Ki Asem Gede, kami adalah bangsa yang mengenal keadilan. Kenapa kami keberatan kalau diadakan pembelaan? Tetapi karena kekuasaan tertinggi dalam persoalan ini adalah
di tangan kami, maka kamilah yang menentukan cara pembelaan itu.”
“Bagaimana caranya?” Dalam kesulitan ini Ki Asem Gede hanya dapat mengharap suatu
perkembangan persoalan yang dapat menguntungkan dirinya.
Samparan menarik alisnya tinggi-tinggi, kemudian menjawab,
“Keadilan yang tertinggi terletak di tangan takdir. Karena itu pembelaan dalam persoalan
ini pun sudah seharusnya kalau didasarkan atas hal itu. Tegasnya, pembelaan itu hanya
dapat dilakukan dengan sebuah pertarungan. Kau boleh memilih seorang pembela, atau
barangkali kau sendiri?, sedang di pihak kami pun akan ada seorang yang harus
mempertahankan keputusan kami itu. Nah, kemudian segala sesuatu terserah pada
kehendak takdir.”
Kemudian Samparan menarik nafas panjang-panjang. Ia yakin kalau pihaknya pasti akan
menang. Sebab bagaimana hebatnya Ki Asem Gede, tetapi karena umurnya yang sudah
lanjut itu, tentu tidak akan berbahaya lagi.
“Setan...,” dengus Ki Asem Gede. Tetapi meskipun demikian ia masih berusaha untuk
mendapat suatu kesempatan.
“Bagus..., aku terima cara itu. Sekarang aku minta ditetapkan waktu. Minggu depan
barangkali?”
Samparan jadi tertawa terbahak-bahak. Ia menangkap maksud Ki Asem Gede.
“Kau memang licik sekali. Kau mengharap bahwa kau dapat mencari bantuan orang lain.
Atau dalam kesempatan itu kau dapat membebaskan anakmu. Nah Ki Asem Gede...
supaya persoalan ini tidak berlarut-larut, aku tetapkan hari pertarungan ini adalah hari ini.
Bukankah fajar sudah datang?”
Seperti disengat ribuan lebah, Ki Asem Gede mendengar putusan Samparan itu. Bahwa
setan itu betul-betul licik, kini telah terbukti. Dan ia sesali ketergesa-gesaannya tadi.
Kalau saja ia tadi membicarakan soal ini dengan sahabat-sahabatnya.
Ki Asem Gede sendiri bukan berarti takut menghadapi persoalan itu, meskipun misalnya
ia harus menyerahkan nyawanya. Tetapi taruhannya terlalu besar. Kalau ia kalah, berarti
kekalahan itu berlipat dua, sedangkan ia sendiri sadar bahwa tenaganya sudah mulai
surut.
Apalagi menghadapi iblis-iblis yang segar dan sedang tumbuh.
Kembali Ki Asem Gede menyesali dirinya. Biasanya ia berlaku tenang. Tetapi
menghadapi persoalan satu-satunya anak yang diharapkan dapat melanjutkan namanya, ia
jadi kehilangan ketenangan itu. Tetapi pada saat ia sedang kebingungan, tiba-tiba terdengarlah suatu suara yang berat,
dan mengandung pengaruh yang luar biasa.
“Ki Asem Gede akan menerima ketetapan hari itu. Dan Ki Asem Gede akan menunjuk
aku sebagai pembelanya.”
Mendengar suara itu, semua yang berada di dalam ruangan segera memandang ke arah
pintu di mana berdiri seorang dengan sikap yang tenang meyakinkan. Itulah Mahesa
Jenar.
Melihat kehadiran Mahesa Jenar tanpa diduga-duga itu, Ki Asem Gede menjadi girang
bukan kepalang, sampai hampir-hampir ia berteriak. Cepat-cepat ia melangkah mendekati
dan menggoyang-goyangkan tangan sahabatnya yang baru saja dikenalnya itu.
Sementara itu kelima orang penghuni rumah itu memandang dengan heran dan mencoba
menebak-nebak. Siapakah gerangan orang yang begitu besar kepala sehingga berani
menawarkan diri untuk membela anak Ki Asem Gede itu? Sedang wajah orang itu belum
pernah dikenalnya.
“Siapakah dia?” tanya Samparan kemudian.
Hampir saja Ki Asem Gede menyebut gelar Rangga Tohjaya untuk sekaligus menakutnakuti kelima orang itu. Tetapi melihat gelagat itu, segera Mahesa Jenar mendahului,
“Aku adalah Mahesa Jenar, sahabat Ki Asem Gede.”
“Mahesa Jenar?” ulang Samparan. Nama itu pun sama sekali tak terkenal di daerah ini.
Orang yang paling mereka takuti adalah Dalang Mantingan, yang beberapa waktu lalu
berhasil menangkap tiga serangkai perampok yang bernama tunggal Samber Nyawa. Dan
seandainya Dalang Mantingan pada saat itu ada di situ pun belum tentu dapat
mengalahkan mereka berlima yang merasa mempunyai kekuatan dua kali lipat dari
kekuatan Samber Nyawa itu. Hanya tentu saja kalau Mantingan ada di situ, ia takkan
berani membuat tantangan pertarungan yang demikian. Tetapi sekarang yang ada hanya
orang yang sama sekali tak ternama.
Melihat keragu-raguan orang-orang itu, serta takut kalau mereka mengubah
peraturannya, segera Mahesa Jenar menambahkan,
“Aku kira tak ada lagi persoalan. Apapun yang akan terjadi atas diri kami nanti, yang
melaksanakan pertandingan itu, bukanlah suatu soal yang perlu direnungkan. Aku adalah
laki-laki seperti kalian juga.”
Perkataan Mahesa Jenar ini rupa-rupanya telah berhasil menyentuh harga diri Samparan
serta kawan-kawannya, apalagi mereka telah merasa bahwa kehebatan mereka sukar
mendapat tandingan. Dalam pada itu salah seorang kawan Samparan segera melangkah setindak maju, dan
dengan suaranya yang nyaring berkata,
“Kakang Samparan, apa yang sudah terucapkan sebaiknya dilaksanakan. Aku belum
kenal orang ini, dan orang ini pun rupa-rupanya belum kenal kami. Baiklah kini kami
saling berkenalan. Aku usulkan sebagai pelaksanaan dari peraturan itu, pertandingan
diadakan di halaman rumah ini secara terbuka. Siapa saja boleh menyaksikan. Dan satu
soal lagi, pertarungan dilaksanakan sampai selesai. Maksudku, sampai salah satu pihak
tak mampu melawan. Jadi tidak boleh menarik diri. Siapa yang menang mempunyai hak
untuk berbuat apapun atas yang kalah, dan atas barang taruhan.”
Kata-kata itu diucapkan dengan penuh keyakinan, bahwa Mahesa Jenar merupakan
sebuah umpan yang sangat lunak.
Mahesa Jenar menarik nafas panjang. Sedang Ki Asem Gede yang semula sangat girang,
kini menjadi agak cemas juga.
“Kalau... seandainya... Mahesa Jenar kalah...? Akh tak mungkin,” pikir Ki Asem Gede.
Sementara itu Samparan tak mengangguk meskipun ia tidak seyakin Watu Gunung,
kawannya yang telah melengkapi peraturan tadi. Ia menduga bahwa orang itu pun
sedikit-banyak mempunyai pegangan sehingga berani menyatakan dirinya sebagai
pembela.
Belum lagi ia berkata apa-apa kembali Watu Gunung menyambung,
“Nah sekarang siapakah diantara kami yang pantas melayani kawan itu?”
Mendengar nada pertanyaan ini, Samparan tahu bahwa Watu Gunung bernafsu untuk
menjadi jago yang harus bertanding dengan Mahesa Jenar. Watu Gunung adalah seorang
yang termasuk paling kuat di antara mereka. Kalau Samparan yang terpilih menjadi
pemimpin, adalah karena dialah yang tertua dan terbanyak mempunyai pengalaman, baik
dalam tata perkelahian maupun dalam lika-liku pembicaraan dan tipu muslihat.
Agar tidak mengalami kegagalan, Samparan pun sependapat dengan Watu Gunung,
bahwa sebaiknya orang yang terkuatlah yang harus melayani orang asing ini, sehingga
tidak ada kemungkinan mengalami kekalahan.
“Baiklah kawan-kawan ..., aku memilih Adi Watu Gunung untuk melayani tamu kita
nanti,” kata Samparan.
Watu Gunung menjadi gembira mendengar putusan ini. Sebaliknya kawan-kawannya
yang lain merasa kecewa karena tidak dapat bermain-main dengan seorang yang sama
sekali tak bernama tetapi sudah berbesar kepala untuk mencoba-coba menghalanghalangi kemauan mereka. Tetapi bagaimana pun mereka akan turut merasakan hasil kemenangan Watu Gunung nanti.
Memang, sebenarnya Watu Gununglah yang paling berkepentingan pada saat itu.
Sebagai seorang pemuda, sebelum meninggalkan kampung halamannya, dahulu ia pernah
berangan-angan untuk dapat mengawini anak Ki Asem Gede. Tetapi ia kalah beruntung
dengan Wirasaba, sehingga ia terpaksa mengalami patah hati. Sekarang, ia ingin
membalas sakit hatinya dengan menculik Nyi Wirasaba.
Watu Gunung berperawakan tinggi gagah, bertubuh kekar, dan sebenarnya ia agak
tampan juga. Kalau ia sejak semula menjadi orang baik-baik, mungkin ia juga akan
mendapatkan istri yang cantik. Tetapi sekarang, hampir semua perempuan menjadi
pingsan kalau mendengar nama Watu Gunung disebut orang.
“Sekarang, sambil menunggu siang, sebaiknya tamu-tamu ini kami persilahkan
beristirahat di gandok sebelah timur. Adi Wisuda, tolong antarkanlah tamu kita kesana”
Orang yang dipanggil Wisuda, salah seorang darilimaorang itu, segera mempersilahkan
Ki Asem Gede dan Mahesa Jenar untuk mengikutinya ke gandok sebelah timur. Disana,
mereka berdua ditinggalkan untuk beristirahat.
Ki Asem Gede terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, ketika dilihatnya Mahesa Jenar
segera merebahkan dirinya di amben.
“Ki Asem Gede, semalaman aku tidak tidur, dan pagi-pagi benar aku sudah harus
berpacu kuda dengan Ki Asem Gede, maka sebaiknya aku tidur sebentar agar aku nanti
dapat melayani Watu Gunung itu dengan sedikit ada kegembiraan,” kata Mahesa Jenar.
Sesudah berdiam diri sebentar, terdengarlah segera nafas Mahesa Jenar mengalir secara
teratur. Ia sudah tertidur.
Ki Asem Gede heran bukan main. Sebentar lagi ia harus mengadu tenaga antara hidup
dan mati melawan seorang yang termasuk mempunyai kehebatan dalam tata pertarungan.
Tetapi sekarang, dengan enaknya ia tidur mendekur.
Ketika hal itu direnungkan dalam-dalam, ternyata Mahesa Jenar sama sekali tak
memandang remeh calon lawannya. Dengan beristirahat, meskipun hanya sebentar, ia
akan dapat memulihkan tenaganya, sehingga dengan demikian ia akan dapat bertanding
dengan baik. Mendapat pikiran yang demikian ia pun merasa bahwa dirinya juga perlu
mengaso, siapa tahu tenaganya nanti diperlukan.
Ternyata hatinya tidak setenang Mahesa Jenar. Ia tetap kuatir akan nasib anak satusatunya itu, dan ia juga khawatir kalau Samparan dan kawan-kawannya berbuat curang.
Karena itu ia hanya berbaring. Matanya sama sekali tak dapat dipejamkan.
Pada saat itu sinar mahatari pagi telah mulai masuk menyusup lubang-lubang dinding
meskipun masih condong sekali. Sekali dua kali telah terdengar suara gerobag lewat di jalan di depan rumah itu. Dan di halaman telah sibuk beberapa orang mengatur arena
untuk bertanding siang nanti. Beberapa orang yang lewat, ketika melihat beberapa
tonggak ditancapkan dan tali-tali direntangkan, mereka tahu bahwa akan ada
pertandingan lagi di halaman rumah Samparan yang juga dikenal sebagai rumah setan.
Sebenarnya tak seorang pun yang ingin dekat dengan rumah serta penghuninya itu, sebab
mereka takut kalau entah harta kekayaannya, entah ternaknya, dan yang ditakuti adalah
kalau istri atau gadisnya dikehendaki oleh iblis-iblis itu. Tetapi di samping itu mereka
juga ingin melihat tiap-tiap pertarungan yang memang sering diadakan di halaman itu,
dengan mengharap-harap sekali waktu ada orang yang dapat mengalahkan, syukur
mengubur kelima iblis penghuni rumah itu.
Tetapi sampai sekarang, kalau ada orang yang menuntut istri atau anaknya, dan terpaksa
melewati pertandingan di arena itu, tentu dibinasakan dengan kejamnya. Sedang istri atau
anak mereka, malahan menjadi barang taruhan yang makin tak berharga.
Demang Pucangan sendiri tak dapat mengatasinya. Dan tak seorangpun berani
melaporkan kepada atasan yang berwenang. Sebab dengan perbuatannya itu nyawanya
jadi terancam. Kembali kali ini akan ada sebuah pertandingan. Orang sudah menduga
bahwa hal ini tentu berhubungan dengan hilangnya Nyi Wirasaba. Tetapi siapakah yang
akan memasuki arena?. Ayahnya, Ki Asem Gedekah? Atau salah seorang muridnya?
Atau siapa?
Sementara itu Mahesa Jenar masih enak-enak tidur. Berbareng matahari semakin tinggi,
Ki Asem Gede semakin gelisah.
Adalah di luar dugaannya kalau pada saat itu salah seorang pelayan Samparan masuk ke
gandok itu dengan membawa hidangan minuman dan makanan. Rupanya mereka akan
menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang baik hati, serta perbuatannya itu betulbetul untuk kepentingan penduduk setempat.
Dengan ketajaman hidung seorang ahli obat-obatan, Ki Asem Gede mencium minuman
dan makanan itu, kalau-kalau ada semacam racun atau obat bius di dalamnya, tetapi
ketika menurut pendapatnya tak terdapat apa-apa maka sedikit demi sedikit ia mencoba
mencicipinya sebelum Mahesa Jenar bangun, yang tentu akan minum dan makan juga.
Rupanya minuman dan makanan itu benar-benar bersih.
“Rupanya Watu Gunung begitu yakin akan memenangkan pertandingan ini seperti yang
sudah-sudah,” pikir Ki Asem Gede.
Sementara itu Mahesa Jenar telah menggeliat bangun. Dengan tangannya ia menggosokgosok matanya yang nampak merah kurang tidur. Ketika ia melihat adanya beberapa
macam hidangan, ia memandang Ki Asem Gede dengan penuh tanda tanya.
KI Asem Gede tahu bahwa Mahesa Jenar ragu-ragu, sehingga ia segera menjelaskan. “Anakmas, kita telah mendapat kehormatan untuk menikmati masakan dari Pucangan.
Sebagai orang yang mendalami masalah obat-obatan, aku telah meyakinkan bahwa
makanan ini bersih dari racun maupun obat bius.”
Mendengar keterangan itu Mahesa Jenar menjadi tak ragu-ragu lagi. Cepat tangannya
menyambar mangkuk minuman dan segera minum beberapa teguk teh hangat, disusul
beberapa potong makanan. Segera setelah itu, tenaganya terasa telah pulih kembali,
setelah semalam tidak tidur dan berkuda sekian jauhnya.
Berita akan adanya pertarungan di halaman rumah Samparan itu segera meluas.
Beberapa orang yang pergi ke pasar bergegas untuk segera pulang, supaya dapat
menyaksikan pertandingan itu. Beberapa orang yang merasa mempunyai sedikit
kekuatan, mencibirkan bibir. Mereka menganggap bahwa orang yang berani mencoba
melawan rombongan Samparan adalah orang yang telah jemu hidup. Padahal orangorang itu tidak mampu melawan gerombolan Samparan.
Sementara itu, Mahesa Jenar yang diributkan, sama sekali tak menghiraukan kesibukan
orang-orang di halaman rumah Samparan. Pada saat-saat semacam itu, ia merasa perlu
menenangkan pikiran dan memusatkan tenaga. Seperti biasa, Mahesa Jenar sama sekali
tak pernah meremehkan lawannya. Sebab sikap yang demikian akan menghilangkan
kehati-hatiannya.
Ketika matahari sudah agak tinggi, selesailah segala persiapan.Parapenonton telah
banyak, mengelilingi arena. Sebentar kemudian terdengar kentongan dipukul
oranglimakali -limakali berturut-turut. Suaranya memencar menghantam dinding-dinding
jurang dan tebing pegunungan, yang kemudian dilemparkan kembali. Menggema seperti
aum harimau kelaparan mencari makan.
Demikianlah suara kentongan itu, seolah seperti suara malaikat pencabut nyawa yang
memanggil-manggil korbannya.
Kemudian keluarlah dari pendapa rumah itu, Samparan beserta empat orang kawannya.
Masing-masing dengan pakaian yang hampir sama. Celana hitam sampai lutut, kain lurik
merah soga, sabuk kulit ular bertimang emas, dan berikat kepala merah soga pula, tanpa
baju.
Kelima orang itu langsung menuju ke arena. Orang-orang yang berkerumun bersibak
memberi jalan.
Sementara itu Mahesa Jenar juga sudah dipanggil. Seperti orang yang segan-segan, ia
berjalan bersama Ki Asem Gede menuju ke arena. Pakaiannya adalah pakaian kusut, dan
habis dipakai tidur.
Meskipun ia bernama Mahesa Jenar, anehnya ia suka warna-warna hijau. Kainnya lurik
berwarna hijau gadung. Ikat kepala dan bajunya juga. Mahesa Jenar dengan acuh tak acuh menjawab,
“Selamat pagi Watu Gunung, aku sengaja tidak mandi, sebab aku takut kalau airmu
memperlemah semangatku, sehingga aku tak dapat melayani permainanmu dengan baik.”
Melihat Mahesa Jenar, beberapa orang mulai menilai-nilai. Memang agak aneh bagi
mereka. Begitu tenang dan sama sekali tidak gugup. Dipandang dari segi ketegapan
tubuhnya, ternyata Watu Gunung lebih tinggi sedikit dari lawannya, serta otot-ototnya
tampak lebih kuat. Umurnya pun tampaknya tak terpaut banyak.
Orang-orang yang sedang sibuk menilai itu menjadi bingung. Mereka sama sekali tak
menemukan satu hal pun dari Mahesa Jenar yang dapat melebihi lawannya. Tingginya,
besarnya, otot-ototnya dan segalanya. Tetapi ketika mereka memandang matanya seakanakan mereka menjadi yakin kalau Mahesa Jenar akan memenangkan pertarungan ini.
Mereka sama sekali tak sampai pada pikiran bahwa mata yang terang-cemerlang itu
memancarkan suatu kebesaran pribadi yang tak ada bandingnya.
Hal ini rupanya dirasakan juga oleh Samparan dan kawan-kawannya, sehingga ketika
Watu Gunung bertemu pandang dengan Mahesa Jenar, hatinya berdegup.
Untuk menutupi kerisauan hatinya, Watu Gunung berteriak,
“Kakang Samparan, senjata apa yang pantas aku pakai?”
Samparan yang tak mengira akan mendapat pertanyaan itu dengan sekenanya saja
menjawab,
“Apa yang kau pilih!”
Kembali Watu Gunung jadi kebingungan, dan untuk mengatasinya, ia ingin mencari
jawab pada lawannya dan sekaligus untuk lebih merapati kegelisahannya.
“Mahesa Jenar, senjata apakah yang kau ingin pakai?”
Mahesa Jenar merenung sebentar, kemudian jawabannya makin menjadikan Watu
Gunung kebingungan.
“Watu Gunung... senjata adalah barang yang berbahaya. Sedang permainan ini hanya
sekadar untuk menentukan pihak manakah yang dibenarkan Sang Pencipta, karena itu
aku menganggap bahwa aku tak ingin mempergunakan senjata.”
Watu Gunung menjadi semakin keripuhan, apalagi ketika Mahesa Jenar menyambung,
“Tetapi meskipun demikian, kalau kau ingin mempergunakan senjata, kalau itu sudah
menjadi kebiasaanmu, aku sama sekali tak keberatan, sedangkan bagiku sendiri senjata
itu hanya akan merepotkan saja.” Muka Watu Gunung menjadi merah seperti darah. Malu dan marah bercampur aduk.
Belum pernah ia direndahkan sedemikian. Dan sekarang orang yang tak bernama itu
berani berbuat demikian. Maka dengan suara lantang penuh kesombongan dan
kemarahan, ia menjawab,
“Aku bukanlah bangsa pengecut yang hanya berani bermain dengan senjata. Kalau aku
bertanya tentang senjata itu maksudku sudah tegas, berkelahi sampai salah satu diantara
kita mati. Tetapi kalau kau takut melihat tajamnya senjata, baiklah aku juga tidak akan
bersenjata, sebab dengan tanganku ini aku akan dapat mematahkan lehermu.”
Orang yang mendengar ucapan ini bulunya berdiri. Watu Gunung sudah terkenal
kehebatannya dan kekejamannya. Apalagi ia sekarang dikendalikan oleh kemarahan yang
besar. Tetapi hal itu bagi Mahesa Jenar adalah suatu keuntungan. Sebab dengan
kemarahan itu Watu Gunung akan kehilangan sebagian dari pengamatan dirinya.
Sementara itu Watu Gunung sudah berteriak,
“Mahesa Jenar marilah kita mulai.”
Mahesa Jenar segera mempersiapkan diri. Ia tidak mau dikenai oleh serangan yang
pertama kali dan digerakkan oleh hawa kemarahan, yang tentu akan menambah kekuatan
lawannya.
Dan apa yang diduga oleh Mahesa Jenar adalah benar. Belum lagi mulutnya terkatub
rapat, Watu Gunung sudah meloncat maju dan langsung menyerang ulu hati Mahesa
Jenar. Serangan itu begitu garang nampaknya seperti harimau menerkam mangsanya.
Orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu, darahnya sudah tersirat sampai ke
kepala. Tetapi Mahesa Jenar yang sudah bersiaga, cepat menarik kaki kirinya ke belakang
dan memutar sedikit tubuhnya, sehingga pukulan itu tak mengenai sasarannya. Gagal dari
serangan pertama ini Watu Gunung menyerang pula dengan kakinya ke arah perut
Mahesa Jenar, tetapi juga seperti serangannya yang pertama. Serangan ini pun dengan
mudahnya dapat dihindarkan.
Melihat kedua serangannya itu menyentuh pakaian lawan pun tidak, Watu Gunung
menjadi semakin marah. Kembali ia membuka serangan dengan tangannya ke arah dada,
dan sekaligus mempersiapkan tangan yang lain untuk menutup jalan menghindar. Ruparupanya serangan ini hampir berhasil mengenai lawannya. Tetapi pada saat terakhir
ketika tangannya sudah berjarak setebal jari dari dada, Mahesa Jenar segera menarik
tubuhnya ke belakang dengan satu loncatan yang cepat, ia menghindar ke arah sebelah
dari tangan yang lain. Watu Gunung menjadi semakin uring-uringan.
Dan meluncurlah kemudian serangan-serangan yang cukup dahsyat. Tetapi beberapa
orang telah menjadi cemas. Sebab dalam pandangan mereka, Mahesa Jenar selalu
terdesak. Pada saat terakhir, Mahesa Jenar merasa betul-betul terdesak. Memang lawannya pada saat itu tidaklah dapat dianggap ringan, meskipun belum sekuat
Mantingan, tetapi Watu Gunung mempunyai keistimewaan juga. Ia begitu percaya
kepada kekuatan jarinya, sehingga berkali-kali ia menyerang dengan menyodok perut,
kening dan mata.
Maka timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menguji kekuatan daya tahan lawannya.
Ketika pada suatu saat pertahanan dada Watu Gunung terbuka, cepat-cepat Mahesa Jenar
mempergunakan kesempatan ini. Seperti seekor burung menyambar belalang, ia
pergunakan sisi telapak tangannya untuk menghantam dada lawannya. Serangan itu
begitu mendadak dan cepat sehingga lawannya tak sempat menghindarinya.
Merasa kena hantaman di dadanya, cepat-cepat Watu Gunung mundur selangkah.
Mulutnya meringis sebentar menahan sakit. Tetapi oleh daya tahan badannya, segera rasa
sakit itu hilang.
Mengalami hal ini, Watu Gunung malahan sekali lagi meloncat mundur, dan aneh sekali,
ia tidak bersiap-siap untuk menyerang atau bertahan, malahan ia berdiri di atas kedua
kakinya yang direnggangkan dan kedua tangannya bertolak pinggang.
Melihat sikap yang demikian, Mahesa Jenar pun menjadi tertegun heran. Tetapi
menghadapi sikap ini ia tidak berani gegabah, sebab siapa tahu bahwa sikap ini adalah
suatu sikap untuk mengelabuinya dan memancingnya dalam suatu keadaan yang tak
menguntungkan.
Mahesa Jenar semakin heran ketika tiba-tiba Watu Gunung tertawa keras dengan
suaranya yang nyaring. Begitu kerasnya ia tertawa sampai menimbulkan getaran-getaran
di dada orang yang mendengarnya.
Sebaliknya para penonton yang melihat Watu Gunung bersikap demikian, seketika
tubuhnya menjadi gemetar. Sebab dengan demikian Watu Gunung sudah menemukan
suatu kepastian bahwa dalam waktu singkat ia pasti akan dapat menghancurkan
lawannya. Dan, biasanya dipegangnya kedua kaki lawannya itu, diputar di udara, dan
dengan sekali tetak dihantamkan pada pohon sawo di tepi arena itu sehingga kepalanya
menjadi pecah berserakan.
Melihat hal itu, Ki Asem Gede ikut menjadi cemas. Ia melihat nyata-nyata bahwa
pukulan Mahesa Jenar tepat mengenai dada, tetapi pukulan itu tak mengakibatkan apaapa.
Tetapi melihat ketenangan Mahesa Jenar, Ki Asem Gedepun menjadi agak tenang pula.
Satu kesalahan dari Watu Gunung dan para penonton pertarungan itu adalah bahwa
mereka tidak menyadari kalau pukulan Mahesa Jenar itu hanya mempergunakan sebagian
kecil dari seluruh kekuatannya. Dengan melihat akibat dari pukulan percobaan itu,
Mahesa Jenar dapat mengukur bahwa kalau ia mempergunakan tigaperempat saja dari
kekuatannya, dada Watu Gunung itu sudah pasti akan rontok. Ketika suara tertawa dari Watu Gunung makin menurun, para penonton pun menjadi
semakin gelisah. Sebab, demikian suara itu berhenti, demikian Watu Gunung akan
menyerang dengan dahsyatnya tanpa menghiraukan hantaman lawan. Dan biasanya pada
waktu yang singkat ia telah berhasil meringkus kaki lawan itu dan membenturkan
kepalanya di pohon sawo.
Berbeda dengan semua pikiran-pikiran itu, tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat kesan yang
aneh dari suara tertawa itu. Ia jadi terkenang pada suatu peristiwa yang sangat
memalukan dan hampir-hampir menjatuhkan namanya. Peristiwa itu terjadi beberapa
waktu yang lalu ketika ia masih menjabat sebagai perwira pasukan pengawal raja.
Pada saat Demak sedang membentuk dirinya dan memperkokoh kedudukannya, di mana
dibutuhkan kekuatan yang sebesar-besarnya, maka di daerah pantai selatan berdirilah
suatu himpunan dari beberapa tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam yang ingin
mempergunakan kesempatan untuk kepentingan diri sendiri serta golongannya.
Gerombolan ini diketuai oleh seorang yang sakti dan berkekuatan luar biasa, yang
menamakan dirinya Lawa Ijo. Sehingga gerombolan itu pun kemudian lazim disebut
gerombolan Lawa Ijo.
Pada masa jayanya, Lawa Ijo mempunyai daerah pengaruh yang luas di daerah selatan
sepanjang pantai sampai ke daerah Bagelen dan Banyumas. Menurut kabar, gerombolan
ini bersarang di hutan Mentaok.
Demikian merasa dirinya begitu kuat, sampai Lawa Ijo sendiri beserta beberapa orang
kepercayaannya berani melakukan pengacauan di ibukota kerajaan Demak. Meskipun
pasukan keamanan sudah dikerahkan namun Lawa Ijo tak pernah bisa dijumpai, kecuali
hanya bekas-bekas perbuatannya yang kadang-kadang tak mengenal perikemanusiaan,
dan tanda-tanda pengenal yang sengaja ditinggalkan, yaitu secarik kain yang bergambar
seekor kelelawar berwarna hijau dan berkepala serigala diikatkan pada sebilah pisau,
yang agak panjang.
Bahkan kekurangajarannya memuncak lagi dengan usahanya memasuki kamar
perbendaharaan istana, dimana disimpan harta kekayaan istana beserta benda-benda
untuk upacara yang terbuat dari emas, berlian dan permata-permata lainnya. Adalah suatu
aib yang tercoret di muka para pengawal istana, kalau pada saat itu tak seorang pun yang
mengetahui bahwa lima orang gerombolan Lawa Ijo yang dipimpin oleh Lawa Ijo sendiri
sampai dapat memasuki halaman istana bagian dalam.
Untunglah bahwa pada saat-saat dimana gerombolan Lawa Ijo sedang mengganas,
pasukan pengawal istana telah mengambil langkah-langkah seperlunya untuk
menghadapi segala kemungkinan. Sehingga tiap malam tidak hanya para prajurit yang
bertugas ronda keliling, tetapi juga para perwira.
Malam itu adalah malam dimana Mahesa Jenar sedang mendapat giliran bertanggungjawab pada keselamatan raja serta istana seisinya. Dan justru pada malam itu
pulalah gerombolan Lawa Ijo bertindak.
Pada malam itu kira-kira hampir tengah malam, Mahesa Jenar di ruang penjagaannya
merasakan angin aneh bertiup perlahan-lahan. Begitu nyamannya sampai para perajurit
merasa kantuk dengan tiba-tiba dan bahkan menjadi tak kuat lagi menahan matanya.
Mahesa Jenar sendiri merasa bahwa ia pun tak luput dari serangan itu. Tetapi ia adalah
seorang perajurit yang berpengalaman. Begitu ia merasakan suatu ketidakwajaran,
hatinya menjadi curiga. Meskipun demikian ia tidak segera bertindak.
Mula-mula ia pusatkan kekuatan batinnya untuk melawan akibat angin yang aneh itu,
sehingga lambat laun ia berhasil mengatasinya. Kemudian ia sendiri pun berpura-pura
merebahkan diri di samping seorang perwira bawahannya yang sudah hampir tak kuat
lagi menahan kantuknya. Tetapi begitu Mahesa Jenar berbaring, lalu berbisiklah ia
perlahan-lahan sekali kepada perwira bawahannya itu.
“Adi Gadjah Alit, rupa-rupanya dirimu telah terkena sirep. Sadarlah dan cobalah
melawan.”
Mendengar bisikan Mahesa Jenar ini, Gadjah Alit menjadi seperti tersadar dari
kantuknya. Cepat-cepat ia pun memusatkan seluruh kekuatan batinnya dan dengan sekuat
tenaga ia melawannya. Akhirnya ia pun sedikit demi sedikit berhasil menguasai dirinya
kembali.
Ketika Mahesa Jenar melihat bahwa Gadjah Alit telah dapat menguasai dirinya, kembali
ia berkata.
“Adi Gadjah Alit, rupa-rupanya ada sesuatu yang tidak wajar di dalam istana ini. Aku
kira sebagian besar penjaga sudah terlibat dalam cengkeraman sirep itu. Tetapi baiklah
kita tidak usah ribut. Marilah kita berdua berusaha untuk menguasai keadaan.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan kakang Rangga Tohjaya?” tanya Gadjah Alit.
“Dengan berpura-pura tidur, mereka tentu tidak mengira kalau kita tengah mengadakan
penyelidikan. Marilah kita berpencar. Lewat pintu belakang dari ruangan ini. Kau pergi
ke utara dan aku ke selatan. Kalau salah satu diantara kita melihat hal yang mencurigakan
dan kiranya kita masing-masing seorang diri tak mampu mengatasi, sebaiknya kita
memberi tanda dengan sebuah suitan.”
“Baiklah kakang Rangga,” jawab Gadjah Alit.
Dan setelah beberapa saat tak terjadi apa-apa, perlahan-lahan dan berhati-hati sekali
mereka berdua menyelinap pintu belakang ruang jaga dengan tidak membangunkan
seorang pun, agar orang yang bermaksud jahat itu sama sekali tak menduga bahwa
diantara sekian banyak penjaga itu ada yang terluput dari sirepnya. Dengan berlindung pada bayang-bayang dan batang-batang tanaman mereka berdua
menyelidiki keadaan taman itu dengan seksama. Gadjah Alit ke utara, sedangkan Mahesa
Jenar atau Rangga Tohjaya ke selatan. Beberapa lama mereka tak menemukan tanda apaapa. Malahan halaman dalam istana itu rasanya jauh lebih sepi dari biasanya. Tapi
Mahesa Jenar dan Gadjah Alit adalah orang-orang yang penuh dengan pengalaman dan
mempunyai ketajaman batin yang luar biasa.
Mahesa Jenar yang meskipun pada waktu itu belum melihat adanya sesuatu yang
mencurigakan, tetapi ia sudah mendapat firasat bahwa ia telah berdekatan dengan apa
yang dicarinya. Itulah sebabnya ia segera diam menenangkan diri di belakang sebuah
tanaman yang agak rimbun. Dipusatkannya segala perhatiannya ke suasana di
sekelilingnya. Angin aneh yang ternyata adalah mengalirnya kekuatan sirep dari
seseorang yang cukup kuat ilmu kebatinannya, masih saja bertiup. Bahkan daya sirep itu
demikian kuatnya sehingga baik Mahesa Jenar maupun Gadjah Alit harus tetap
menyediakan sebagian perhatianya untuk tetap melawan pengaruhnya.
Dengan mengukur kekuatan angin aneh itu, Mahesa Jenar sedikit banyak dapat
menjajaki sampai dimana kehebatan orang yang memasangnya. Dengan demikian
Mahesa Jenar harus betul-betul waspada, sebab ia tahu betul bahwa orang yang
memasang sirep itu tentulah seorang yang mempunyai kesaktian tinggi. Dari tempat
persembunyiannya Mahesa Jenar dapat melihat bahwa tiga orang yang bertugas jaga di
sudut dinding halaman itu telah tertidur semuanya.
Tombaknya disandarkan pada dinding halaman, dan mereka bertiga begitu saja
menggeletak tidur di atas rumput.
Maka setelah agak lama Mahesa Jenar menanti, datanglah saat yang menyebabkan
denyut jantung Mahesa Jenar bertambah cepat. Karena pendengarannya yang sangat
tajam itulah maka ia mendengar suara berdesir di atas atap balai perbendaharaan istana.
Ketika dengan matanya yang setajam telinganya itu pula ia mengamat-amati arah suara
itu, darahnya jadi tersirap. Dilihatnya samar-samar bayangan yang berkerudung hampir
seluruh tubuhnya berjalan mengendap-ngendap.
Tiba-tiba bayangan itu berhenti hanya beberapa depa saja di atasnya. Mahesa Jenar
segera mengatur jalan nafasnya supaya tidak didengar oleh bayangan itu. Dan memang
rupa-rupanya bayangan itu sama sekali tidak mengerti kalau di bawahnya bersembunyi
seseorang.
Bayangan itu kemudian berdiri dan terdengarlah suatu suitan nyaring. Setelah itu ia
berdiri tegak sambil memandang ke arah sudut pagar halaman. Tiba-tiba muncullah
berturut-turut, hampir seperti seekor berati yang terbang dan hinggap di atas dinding
pagar yang tingginya satu setengah kali tinggi orang. Dan kemudian terdengarlah tawa
itu.
Bayangan di atas balai perbendaharaan itu memperdengarkan suara tertawa yang
walaupun tidak keras tetapi memancarkan suatu pengaruh yang luar biasa, sehingga seseorang yang mendengarnya hatinya menjadi begitu pedih seperti mendengar rintihan
hantu kubur. Bukan itu saja.
Keempat bayangan yang muncul kemudian itu memperdengarkan suara tertawa yang
sama, sehingga terpaksa Mahesa Jenar harus segera dengan kekuatan batinnya menutupi
lubang-lubang pendengaran hatinya untuk tidak menerima pengaruh jahat dari suara itu.
Kemudian keempat orang itu meloncat dengangayaseperti seekor burung, turun ke
halaman. Seperti terapung di udara, mereka berlari ke arah bayangan di atas atap itu.
Sementara itu dari arah lain Mahesa Jenar melihat bayangan seorang yang pendek bulat
berlari seperti batu berguling-guling masuk jurang begitu cepatnya ke arah empat
bayangan itu. Belum lagi Mahesa Jenar berbuat sesuatu, bayangan itu sudah langsung
menyerang. Hati Mahesa Jenar berdebar bertambah cepat.
Bayangan yang gemuk pendek dan menggelinding cepat sekali tadi sudah pasti adalah
Gajah Alit. Rupanya ketika Gajah Alit mendengar suitan bayangan di atas atap itu, ia
mengira kalau Mahesa Jenarlah yang memberi tanda kepadanya untuk membantunya.
Maka ketika ia dengan hati-hati sekali pergi ke arah suara itu, ia mendengar suara
tertawa bersahut-sahutan. Dan ia melihat keempat bayangan itu seperti terbang mengarah
ke balai perbendaharaan. Maka dengan tidak banyak pertimbangan lagi ia langsung
menyerang keempat bayangan itu.
Keempat bayangan itu rupa-rupanya sama sekali tidak menduga kalau ia akan mendapat
serangan demikian hebatnya. Sehingga dalam beberapa saat rupa-rupanya Gajah Alit
telah berhasil melukai satu di antaranya. Tetapi ketiga yang lain menjadi sangat marah
dan segeralah terjadi pertempuran yang hebat sekali.
Sementara itu Mahesa Jenar belum memperlihatkan diri. Kecuali keadaan masih belum
memerlukan, rupanya Gajah Alit tidak begitu banyak mengalami kesulitan. Meskipun ia
harus bekerja mati-matian melawan tiga orang yang mempunyai tenaga tempur yang
cukup, ia sendiri memandang perlu untuk tetap mengawasi gerak-gerik bayangan di atas
atap balai perbendaharaan itu. Dan apa yang diduganya ternyata benar. Bayangan di atas
atap itu ternyata adalah pemimpinnya, yaitu Lawa Ijo sendiri.
Melihat keempat orangnya itu tak segera dapat mengatasi lawannya, Lawa Ijo
tampaknya tidak sabar lagi. Tiba-tiba ia mengeluarkan suatu suitan nyaring dan seperti
seekor elang menyambar ia terjun dari atap. Kedua tangannya dikembangkan dan
tampaklah jari-jari tangannya yang kokoh kuat itu siap menerkam Gajah Alit. Mahesa
Jenar yang memang sudah siap, tidak membiarkan Gajah Alit dilukai, segera ia pun
meloncat dari persembunyiannya. Geraknya tampak kuat, tangkas dan teguh seperti
seekor banteng yang terluka menyerang lawannya.
Mendengar suitan dari atas atap itu, Gajah Alit segera sadar bahwa suitan itu seperti
yang didengarnya tadi, ternyata bukanlah suara Mahesa Jenar. Maka segera ia
melontarkan diri jauh ke belakang sampai empatlimadepa, dan segera bersiap menghadapi kemungkinan dari musuhnya yang baru itu. Melihat gerak yang demikian
cepatnya ketiga musuhnya jadi terkejut, demikian juga Lawa Ijo yang terpaksa membuat
satu gerakan di udara untuk mengubah arah terjunnya.
Tetapi kembali di luar dugaannya bahwa dari arah lain datanglah dengan garangnya
suatu serangan yang dahsyat. Kembali Lawa Ijo mengubahgayatubuhnya. Meskipun
demikian ia tak mempunyai kekuatan lagi untuk menyerang ke arah yang berlawanan,
sehingga segera ia melipat tangan kanannya untuk melindungi dada, sedangkan tangan
kirinya disiapkan untuk menyerang.
Pada saat kaki Lawa Ijo baru saja menyentuh tanah, datanglah serangan Mahesa Jenar
dengan dahsyatnya, sehingga terjadilah suatu benturan yang sangat hebat dari dua tenaga
raksasa. Tetapi rupanya Mahesa Jenar menang perhitungan, sehingga Lawa Ijo terdorong
ke belakang dan kehilangan keseimbangan. Ia berguling dua kali ke belakang dan barulah
ia dapat tegak kembali.
Lawa Ijo merasakan dadanya sangat nyeri, nafasnya agak sesak. Pukulan Mahesa Jenar
yang dilontarkan sepenuh tenaga itu rupanya telah melukai bagian dalam tubuh Lawa Ijo.
Meskipun demikian, pada saat benturan itu terjadi, tangan kiri Lawa Ijo ternyata telah
dapat mengenai pundak Mahesa Jenar, sehingga tangan kanan Mahesa Jenar pun menjadi
sakit dan geraknya menjadi terbatas.
Gajah Alit yang melihat munculnya Mahesa Jenar dengan tiba-tiba itu menjadi girang,
dan geraknya bertambah mantap. Sambil menyerang kembali ia sempat berkata.
“Ee.., kakang Rangga, rupa-rupanya kau mau mengajak main sembunyi-sembunyian.”
Tetapi Mahesa Jenar diam saja, sebab ia sedang berhadapan dengan lawan yang sangat
tangguh.
Segera terjadi dua kancah pertarungan yang dahsyat. Mahesa Jenar melawan Lawa Ijo,
dan Gajah Alit melawan tiga orang pengikut Lawa Ijo. Mungkin karena Lawa Ijo telah
berhasil dilukainya lebih dahulu, maka pertempuran antara Mahesa Jenar dan Lawa ijo
yang namanya terkenal ke segala pelosok dan ditakuti oleh siapapun, berhadapan dengan
Mahesa Jenar tak dapat berbuat banyak. Sekali dua kali memang ia bisa mengenai tubuh
Mahesa Jenar, tetapi sebaliknya Mahesa Jenar telah mengenainya dua kali lipat.
Karena tangan kanannya terluka, Mahesa Jenar memusatkan serangannya pada
kecepatan gerak kakinya. Dan ternyata ini berbahaya sekali bagi Lawa Ijo. Pada suatu
kali Lawa Ijo dengan dahsyatnya menyerang arah tenggorokan Mahesa Jenar dengan dua
buah jarinya yang dirapatkan. Cepat-cepat Mahesa Jenar menghindar dengan menarik
tubuhnya sedikit ke samping. Tetapi secepat kilat Lawa Ijo mengubah serangannya
dengan suatu tendangan ke arah ulu hati Mahesa Jenar.
Serangan itu datangnya cepat sekali, sehingga hanya dengan gerakan yang kecepatannya
tak dapat dilihat, Mahesa Jenar berhasil menangkis serangan itu dan dengan tangannya mendorong kaki itu ke dalam. Dorongan itu begitu kuatnya sehingga Lawa Ijo terputar
setengah lingkaran. Maka kembali Mahesa Jenar mempergunakan kesempatan ini. Belum
lagi kaki Lawa Ijo itu menjejak tanah, Mahesa Jenar telah memberikan suatu tendangan
dan dengan tumitnya ia mengenai lambung lawannya. Kembali Lawa Ijo terlompat
beberapa langkah.
Karena dada Lawa Ijo memang sudah terluka, maka pukulan ini rasanya jauh lebih hebat
dari serangan yang pertama, sehingga Lawa Ijo terlompat ke belakang. Mahesa Jenar
yang akan memburunya, terpaksa segera menghentikan geraknya.
Seleret sinar putih terbang menyambar dadanya. Secepat kilat ia miringkan tubuhnya,
dan sinar putih itu lari hanya berjarak setebal daun dari dadanya, mengenai dinding balai
perbendaharaan dan langsung menancap disanahampir sampai ke tangkainya.
Ternyata benda itu adalah sebilah pisau yang pada tangkainyadiikatkan secarik kain yang
bergambar seekor kelelawar hijau dengan kepala serigala. Melihat pisau itu tertancap
begitu dalam, hati Mahesa Jenar tersirap juga. Kalau saja pisau itu menancap di dadanya,
entahlah apa jadinya.
Sementara itu terjadilah suatu hal di luar dugaan. Setelah melemparkan pisaunya, segera
Lawa Ijo meloncat ke belakang dan secepat kilat ia melarikan diri. Mahesa Jenar tentu
saja tak membiarkan Lawa Ijo lari, sehingga ia segera mengejarnya. Tetapi di luar
dugaannya pula, kedua orang yang turut mengeroyok Gajah Alit segera meninggalkannya
dan menghadangnya.
Mereka sekarang sudah memegang senjata di tangan masing-masing. Sebuah belati
panjang. Mahesa Jenar menjadi jengkel sekali. Sedianya ia sama sekali tak ingin
melayani orang itu, supaya tidak kehilangan Lawa Ijo. Tetapi kedua orang itu nekad
menyerang Mahesa Jenar. Terpaksa Mahesa Jenar berhenti untuk melayani kedua orang
itu. Baik Mahesa Jenar maupun Gajah Alit mengerti akan maksud kedua pembantu Lawa
Ijo itu, yaitu untuk memberi kesempatan kepada pemimpinnya supaya dapat meloloskan
diri.
Karena itu Gajah Alit pun berusaha untuk menghindari pertarungan dengan lawannya
yang tinggal seorang itu untuk dapat mengejar Lawa Ijo. Tetapi lawannya itu pun sudah
seperti orang kemasukan setan. Maka akhirnya Mahesa Jenar dan Gajah Alit mengambil
keputusan untuk menyelesaikan lawan masing-masing, baru berusaha menangkap Lawa
Ijo.
Tetapi belum lagi mereka berhasil menyelesaikan pertempuran itu, Lawa Ijo telah
meloncat ke atas dinding halaman. Kemudian kembali terdengar suara tertawa itu, suara
tertawa yang menusuk-nusuk hati begitu pedihnya seperti suara rintihan hantu kubur.
Dengan cepat tertawanya itu makin lama makin terdengar jauh dan lemah. Menyaksikan hilangnya Lawa Ijo di depan matanya, Mahesa jenar dan Gajah Alit
menjadi gusar bukan kepalang. Dan sekarang kegusarannya itu hanya dapat ditumpahkan
kepada lawannya yang ketika itu juga sudah berusaha untuk melarikan diri. Maka dengan
kekuatan penuh, Mahesa Jenar segera menghantam lawannya. Pisau yang dipegang oleh
kedua orang itu sama sekali tak berarti.
Pukulan Mahesa Jenar melayang mengenai kepala salah seorang di antaranya, sehingga
terdengar suatu jerit ngeri. Disusul teriakan keras dari yang seorang lagi karena tulangtulang rusuknya rontok disambar kaki Mahesa Jenar. Maka seperti batang pisang
keduanya roboh di tanah dan tak bergerak-gerak lagi.
Belum lagi gema teriakan itu berhenti, terdengarlah suara keluhan yang tertahan.
Rupanya Gajah Alit pun berhasil menyelesaikan pertempurannya. Hanya saja ia
mempunyai cara sendiri untuk menumpahkan kemarahannya. Dengan tangannya yang
pendek kukuh itu ia menyambar leher lawannya. Lalu dengan ibu jarinya yang kokoh ia
menekan leher itu sampai nafas lawannya putus.
Namun meskipun pada pagi harinya terjadi kegemparan dalam istana, serta hampir tiaptiap mulut menyatakan pujian terhadap Mahesa Jenar dan Gajah Alit, yang telah berhasil
menggagalkan usaha Lawa Ijo, bahkan dapat pula membinasakan empat orang
anggotanya, tetapi Mahesa Jenar tetap merasa kagum akan kekuatan tenaga batin
lawannya. Meskipun terjadi perkelahian begitu hebatnya, serta beberapa kali terdengar
teriakan dan suitan, namun tak seorang pun dari mereka yang tertidur karena pengaruh
sirep itu terbangun.
Apalagi suara tertawa itu. Alangkah tajamnya, sehingga mempunyai pengaruh yang luar
biasa. Orang yang tidak mempunyai daya tahan yang kuat tentu akan terpengaruh
karenanya, akhirnya menggigil ngeri dan kehilangan tenaga.
Sekarang, pada saat ia bertanding melawan Watu Gunung untuk kepentingan Ki Asem
Gede, kembali ia mendengar tertawa yang demikian. Mirip sekali dengan suara tertawa
Lawa Ijo. Orang-orang yang tak berkepentingan serta tak terlibat dalam perkelahian itu
pun menjadi menggigil karenanya. Bahkan beberapa orang telah terduduk lemah tanpa
kekuatan lagi untuk dapat berdiri.
Mengingat pengalaman berhadapan dengan Lawa Ijo, kegusaran hati Mahesa Jenar
seperti tergugah. Dalam sejarah hidupnya belum pernah ada seseorang penjahat yang
sudah berada di bawah hidungnya terluput dari tangannya. Meskipun ia sekarang bukan
lagi seorang prajurit Demak, ia tetap memiliki jiwa pengabdian untuk kedamaian hati
rakyat. Karena itu sekali lagi ia ingin bertemu dengan Lawa Ijo, yang sejak peristiwa itu
namanya tak pernah terdengar lagi.
Mahesa Jenar yakin, bahwa apabila tak terbinasakan, pada suatu saat pasti Lawa Ijo akan
muncul kembali. Watu Gunung yang memiliki ciri-ciri khas sama dengan Lawa Ijo, tentu
mempunyai hubungan erat. Mungkin Watu Gunung adalah bekas gerombolan Lawa Ijo,
atau mungkin juga muridnya. Maka timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mempermainkan orang ini sebagai undangan buat kehadiran Lawa Ijo.
Kenangan dan pikiran-pikiran itu hanya sebentar saja melintas di otak Mahesa Jenar.
Sementara itu suara tertawa Watu Gunung sudah kian lemah, kian lemah. Para penonton
pun menjadi kian ngeri dan ketakutan. Beberapa orang diantaranya terjatuh lemas seperti
dicopoti tulang-tulangnya. Saat yang mengerikan tentu segera tiba. Para penonton yang
mengharap segera berakhir riwayat kelima iblis itu, meratap dalam hati.
Tepat pada saat mulut Watu Ganung terkatup, matanya segera berubah jadi merah dan
liar. Wajahnya tampak bertambah bengis. Ia memandang Mahesa Jenar dengan tajam.
Tangannya direntangkan ke samping, sedangkan jari-jarinya yang kuat itu
dikembangkan, siap untuk menerkam dan merobek lawannya. Setapak demi setapak ia
maju mendekati umpannya.
Sementara Mahesa Jenar pun telah siap, dan telah mendapat keputusan untuk
mempermainkan lawannya. Tetapi ia tetap waspada dan hati-hati, sebab ia tahu betapa
kuatnya Lawa Ijo. Kalau saja orang ini dapat mewarisi segala kehebatan Lawa Ijo,
pertarungan tentu akan menjadi sangat sengit.
Ketika jarak mereka tinggal kira-kira dua depa, Watu Gunung menggeram hebat. Lalu
dengan gerak yang cepat sekali ia melompat menerkam Mahesa Jenar. Serangan yang
dilontarkan dengan sepenuh tenaga, serta dari jarak yang begitu dekat dengan kecepatan
yang tinggi, menjadikan darah para penonton berdesir. Apalagi ketika mereka melihat
Mahesa Jenar tidak sempat menghindari serangan itu. Ia hanya dapat melindungi dirinya
dengan tangannya, yang disilangkan di muka dadanya untuk menahan terkaman jari-jari
Watu Gunung.
Memang saat itu Mahesa Jenar sama sekali tidak berusaha menghindar. Ia hanya
mempergunakan tangannya untuk melindungi dadanya.
Ketika serangan itu datang, terdengarlah beberapa jeritan tertahan, justru dari para
penonton. Sedangkan Ki Asem Gede pun tak sempat mengedipkan matanya. Mereka
mengira bahwa akan terjadi suatu benturan yang dahsyat dan tangan Mahesa Jenar akan
dipatahkan.
Tetapi apa yang terjadi adalah jauh dari itu. Sama sekali tak terjadi benturan yang keras.
Sebab waktu tangan Watu Gunung menyentuh tangannya, Mahesa Jenar surut ke
belakang selangkah untuk memusnahkan tenaga lawan. Sesudah itu ia gunakan enam
bagian tenaganya untuk mendorong lawannya.
Watu Gunung sama sekali tidak mengira bahwa ia akan mengalami pelayanan yang
demikian. Karena itu seperti bola besi yang dilemparkan ke udara oleh tenaga seekor
banteng, ia melayang sebentar dan terjatuh beberapa depa ke belakang. Hanya karena
kelincahan dan keuletannya saja maka ia tidak terpelanting dan jatuh bergulingan.
Meskipun tubuhnya bergetar, Watu Gunung berhasil tegak di atas kedua kakinya, bahkan ia telah siap pula dengan sebuah pertahanan.
“Bagus. Ulet juga orang ini,” desis Mahesa Jenar.
Tetapi Mahesa Jenar tidak mau memberi kesempatan lagi. Watu Gunung geragapan,
cepat-cepat ia rendahkan tubuhnya dan melindungi lambungnya dengan siku. Tapi
rupanya Mahesa Jenar tidak betul-betul menyerang lambung itu, sebab sebentar
kemudian tangan kanannya sudah berputar mengenai tengkuk Watu Gunung. Kembali
Watu Gunung terhuyung-huyung ke samping. Dikerahkannya semua tenaganya untuk
menahan tubuhnya supaya tidak jatuh, dan dengan susah payah ia berhasil juga.
Perubahan yang terjadi demikian cepatnya itu, menyebabkan para penonton terkejut
bukan kepalang. Malahan kemudian ada yang tidak percaya pada apa yang terjadi. Setan
mana yang telah membantu Mahesa Jenar mendapat kekuatan itu.
Samparan beserta ketiga kawannya sampai berdiri. Sebagai orang yang penuh
pengalaman, Samparan segera melihat kekuatan Mahesa Jenar yang luar biasa itu.
Kalau mula-mula Mahesa Jenar tampak lemah dan tak bertenaga, itu karena ia sedang
menjajagi sampai di mana kekuatan lawannya. Kalau mula-mula ia merasa yakin bahwa
Watu Gunung akan berhasil, sekarang adalah sebaliknya, ia menjadi yakin kalau Watu
Gunung akan binasa, atau setidak-tidaknya namanyalah yang binasa. Rupanya ketiga
kawannya pun berpikir demikian.
Apalagi Mahesa Jenar telah mendesak demikian hebatnya. Anehnya, serangan serangan
Mahesa Jenar tidak tampak membahayakan. Pada suatu kali, ketika Mahesa Jenar
meloncat dengan dahsyatnya ke udara, kakinya bergerak menyambar kepala Watu
Gunung, sehingga Watu Gunung terpaksa merendahkan diri untuk menghindar. Tetapi
segera kaki itu ditarik, dan sekali menggeliat Mahesa Jenar telah berdiri di belakang
Watu Gunung. Tangannya bergerak cepat sekali ke arah kepala Watu Gunung. Serentak
hati para penonton tergetar. Hampir saja mereka bersorak, karena pasti kepala Watu
Gunung akan terhantam.
Tetapi rupanya Mahesa Jenar berbuat lain. Ia hanya menyambar saja ikat kepala Watu
Gunung yang berwarna merah soga itu.
Mendapat perlakuan ini, wajah Watu Gunung menjadi merah, semerah ikat kepalanya
yang disambar Mahesa Jenar itu. Giginya gemeretak menahan marah, dan tubuhnya
bergetar secepat getaran darahnya. Bagi orang seperti Watu Gunung, lebih baik
kepalanya diremukkan daripada dihina sedemikian.
Ki Asem Gede, yang sejak melihat perubahan sikap Mahesa Jenar sudah mendapat
kepastian akan akhir dari pertarungan itu, melihat Mahesa Jenar berbuat demikian tak
dapat lagi menahan geli hatinya. Tertawanya melontar tak terkendalikan sampai tubuhnya
berguncang-guncang. Mendengar suara Ki Asem Gede tertawa terkekeh-kekeh, hati Watu Gunung semakin
terbakar. Maka secepat halilintar menyambar, tangannya tergerak, dan seleret sinar
menyambar dada Mahesa Jenar.
Melihat sinar itu, sesaat Mahesa Jenar bimbang. Kalau ia menghindar, tentu pisau itu
akan mengenai salah seorang penonton yang berdiri diluar arena itu. Tetapi ia tidak
mempunyai waktu banyak untuk berbimbang-bimbang. Pada saat yang tepat ia miringkan
tubuhnya seperti apa yang ia lakukan sewaktu ia menghadapi keadaan yang sama, ketika
ia bertempur dengan Lawa Ijo. Tetapi sekarang ia tidak menghendaki pisau itu menelan
korban orang yang tak berdosa.
Dengan suatu gerakan yang sukar dilihat dengan mata, tangan Mahesa Jenar menyambar
tangkai pisau itu. Tahu-tahu pisau itu sudah di tangannya.
Melihat adegan itu, penonton menjadi gempar. Mereka menjadi lupa bahwa diantara
mereka masih ada empat orang iblis yang menyaksikan pertunjukan itu dengan penuh
kemarahan. Kecenderungan mereka untuk memihak Mahesa Jenar akan menambah
dendam keempat orang itu.
Ki Asem Gede yang paling tak dapat menguasai dirinya. Seperti orang anak kecil ia
berteriak-teriak memuji. “Bagus ..., bagus ..., bagus ....”
Tiba-tiba teriakannya dan kegemparan penonton pun mendadak terhenti. Mereka melihat
seorang dengan lincah meloncat ke dalam arena sambil memegang sebuah pedang
pendek.
Itulah Gagak Bangah. Anggota termuda dari kawanan iblis itu. Rupa-rupanya ia tidak
dapat lagi mengendalikan dirinya melihat Watu Gunung dihinakan sedemikian. Meskipun
ia merasa bahwa ia sendiri tidak akan mampu melawan Mahesa Jenar, tetapi berdua
dengan Watu Gunung adalah lain soalnya.
Gagak Bangah sendiri tidak sekuat Watu Gunung, tetapi ia mempunyai kelebihan dalam
hal kecepatan bergerak. Dan kecepatannya itu apabila digabungkan dengan kekuatan
tenaga Watu Gunung mungkin akan dapat merobohkan lawan yang bagaimanapun
tangguhnya. Melihat seorang kawannya memasuki arena, hati Watu Gunung yang sudah
tipis sekali itu menjadi tergugah kembali. Ia sudah tidak peduli lagi kepada peraturan
yang ditentukan dalam pertarungan itu.
Melihat seorang lagi masuk dalam arena, Mahesa Jenar terkejut. Ia surut beberapa
langkah ke belakang, dan pandangannya mengandung pertanyaan. Tetapi dengan tak
banyak cakap, Gagak Bangah sudah memutar pedang pendeknya dan dengan kecepatan
yang luar biasa ia menyerang Mahesa Jenar.
“Tunggu... apakah kau ingin menggantikan Watu Gunung?”
Terpaksa Mahesa Jenar ingin mendapat penjelasan sambil meloncat menghindari serangan itu. Tetapi, ia tidak mendapat jawaban, bahkan kini Gagak Bangah dan Watu
Gunung menyerang bersama-sama.
“Kalian melanggar peraturan,”
Sambung Mahesa Jenar sambil meloncat menghindari sambaran pedang pendek dan
kemudian cepat sekali ia meloncat dua depa ke belakang sebelum kaki Watu Gunung
mengenai tungkaknya.
“Tidak ada suatu peraturanpun yang dapat mengikat kami,”
Teriak Gagak Bangah dengan garangnya.
“Kami berdiri di atas segala peraturan. Kalau kami berhak menentukan peraturan, kami
pun berhak mengubah atau menghapus peraturan itu.”
Mahesa Jenar jadi sadar bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang licik dan tidak
bersikap jantan. Ia paling benci pada sifat-sifat yang demikian. Ia lebih menghargai
seseorang yang mengakui kekalahannya daripada orang yang licik dan curang. Itulah
sebabnya kemarahan Mahesa Jenar tergugah.
Tetapi ia sekarang berhadapan dengan dua orang yang mempunyai keistimewaan
masing-masing dan tergolong dalam tingkatan yang cukup tinggi. Karena itu ia harus
mengerahkan sebagian besar kepandaiannya.
Ki Asem Gede yang menyaksikan kecurangan itu pun menjadi gusar. Untuk melawan
dua orang, belum tentu Mahesa Jenar dapat menang. Karena itu ia sudah membulatkan
tekad untuk melibatkan diri dalam pertempuran itu. Tetapi baru saja ia akan meloncat,
tiba-tiba terdengarlah sebuah bisikan.
“Jangan berbuat sesuatu Ki Asem Gede.”
Ki Asem Gede terkejut bukan kepalang. Dan terasa di kedua belah lambungnya melekat
ujung senjata tajam. Ketika ia menoleh, dilihatnya Wisuda dan Palian, yakni anggota ke3 dan ke-4 dari kawanan iblis itu berdiri di belakangnya dan mengancamnya dengan
keris. Maka terpaksa Ki Asem Gede mengurungkan niatnya, meskipun hatinya bergelora
hebat, sambil menanti suatu kesempatan.
Sementara itu, pertempuran di arena bertambah hebat. Gagak Bangah dengan gesitnya
menyambar-nyambar sambil mempermainkan pedang pendeknya, seperti seekor Sikatan
menyambar belalang. Sedangkan Watu Gunung pun dengan mengandalkan kekuatannya
menyerang dengan garangnya. Apalagi kini ia telah memegang pula sebuah belati
panjang yang dicabutnya dari bawah kainnya, seperti yang dilemparkan tadi.
Mahesa Jenar ternyata tidak mengecewakan. Diam-diam ia merasa bersyukur bahwa
dengan tidak sengaja Watu Gunung telah memberinya sebilah pisau belati panjang. Dan dengan senjata itu ia melayani kedua lawannya. Ia pernah mendengar bahwa belati
kawanan Lawa Ijo terkenal keampuhannya serta terbuat dari baja pilihan. Apalagi kini
senjata itu ada di tangan Mahesa Jenar yang mempunyai kepandaian dalam
mempergunakan segala macam senjata. Maka dalam waktu yang singkat ujung belati itu
dengan dahsyatnya menyerang lawannya dan seolah-olah berubah menjadi beribu-ribu
mata pisau yang mematuk-matuk dengan garangnya.
Keadaan yang seimbang dari pertempuran itu tidak berlangsung lama. Sebab segera
Mahesa Jenar berhasil mendesak lawannya ke dalam keadaan yang sulit. Sebenarnya
Mahesa Jenar tidak biasa membinasakan lawannya, apalagi tidak ada sebab-sebab yang
memaksa. Ia lebih suka mengampuni seseorang apabila orang itu sudah tidak dapat
berbuat apa-apa.
Tetapi tidak demikian halnya terhadap orang-orang yang licik dan curang. Sebab orangorang yang demikian sudah tidak menghargai lagi sifat-sifat kejantanan dan kekesatriaan.
Orang-orang semacam itulah yang selalu akan menimbulkan bencana. Karena itu
terhadap orang-orang yang demikian, juga kepada lawannya itu, Mahesa Jenar telah
mengambil keputusan untuk membinasakannya.
Maka segera ia merangsang lawannya lebih hebat lagi. Pisau panjang yang berada di
tangannya itu bergerak semakin cepat sehingga hampir merupakan gumpalan gumpalan
sinar yang bergulung-gulung mengerikan sekali.
Watu Gunung dan Gagak Bangah sama sekali tidak menduga bahwa Mahesa Jenar
memiliki kepandaian yang demikian tinggi. Maka diam-diam mereka berdua mengeluh
dalam hati. Karena mereka tadi memberi kesempatan kepada orang ini untuk bertanding
membela anak Ki Asem Gede. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh mereka
berdua.
Sesaat kemudian terdengarlah bunyi berdentang dari senjata yang beradu. Ternyata pisau
panjang Mahesa Jenar telah menyambar pedang pendek Gagak Bangah. Sambaran itu
begitu kuatnya sehingga tangan Gagak Bangah merasa nyeri sekali. Belum lagi ia dapat
memperbaiki keadaannya, kembali pedangnya disambar oleh pisau Mahesa Jenar.
Dan benar-benar kali ini ia tidak mampu lagi berbuat apa-apa sehingga pedangnya
terpental jatuh.
Melihat keadaan itu, Watu Gunung segera berusaha menolong kawannya. Dengan
lompatan yang cepat ia mendesak maju, dan membabat tangan Mahesa Jenar. Tetapi
Mahesa Jenar telah menarik tangannya kembali dan dengan sisi telapak tangan kirinya ia
menghantam pergelangan tangan Watu Gunung. Hantaman itu sedemikian kerasnya
terlepas dari tangannya. Maka kini sampailah saatnya untuk mengakhiri pertempuran.
Mahesa Jenar tidak mau membunuh lawannya dengan senjata. Segera dilemparkannya
belati itu, dan secepat kilat sebelum Watu Gunung dan Gagak Bangah sempat
menjatuhkan dirinya, kedua tangan Mahesa Jenar masing-masing meraih kepala kedua orang itu. Dengan tenaga yang didasari kegusaran hati, dibenturkannya kedua kepala itu
sekuat tenaga. Maka terdengarlah suara hampir seperti sebuah ledakan diikuti oleh jerit
ngeri melengking. Sekejap kemudian suara itu terputus dan kedua orang itu rebah di
tanah dengan kepala pecah.
Berbareng dengan itu. Ki Asem Gede yang melihat bahwa pertempuran itu hampir
selesai, segera memutar otaknya. Bagaimana ia dapat membebaskan diri dari ancaman
Wisuda dan Palian. Sebab tidak mustahil apabila kedua orang itu melihat kedua
kawannya dibinasakan, maka mereka pun akan dibinasakan pula. Maka untuk sementara
Ki Asem Gede berbuat seperti orang yang ketakutan dan tak berdaya.
Ketika Wisuda dan Palian baru memperhatikan saat-saat terakhir dari kedua kawannya,
Ki Asem Gede segera bertindak. Dengan kecepatan yang luar biasa ia merendahkan
dirinya dan kedua tangannya menangkap pergelangan Wisuda dan Palian yang
memegang senjata. Dengan sekuat tenaga kedua orang itu ditarik ke depan lewat atas
pundaknya.
Pada saat kedua orang itu terpelanting dengan kedua kakinya di atas, Ki Asem Gede
mengubah gerakannya dengan menyentakkan kedua tangan korbannya itu kembali ke
belakang. Dengan demikian kedua orang yang sebelumnya sama sekali tidak curiga itu
terangkat dan dengan dahsyatnya terbanting ke depan. Kepala dua orang itu membentur
tanah. Maka tanpa ampun lagi kedua orang itu lehernya terpuntir dan nafasnya putus
seketika.
Orang-orang yang melingkari arena, melihat dua kejadian yang mengerikan dan terjadi
pada saat yang hampir bersamaan itu, terdiam seperti patung. Bahkan tubuh mereka
hanya dapat sebentar memandang Mahesa Jenar dan sebentar memandang Ki Asem
Gede, yang sesudah mengeluarkan seluruh tenaganya itu kemudian menjadi lemas dan
terduduk di atas tanah.
Mahesa Jenar tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Ki Asem Gede. Maka ketika ia
melihat keadaannya, ia menjadi cemas. Cepat-cepat ia melangkah menghampirinya. Dan
pada saat yang demikian para penonton menjadi tersadar tentang apa yang baru saja
terjadi. Segera terjadilah kegemparan. Beberapa orang berdesak-desakan ingin
menyaksikan mayat-mayat di tengah arena itu, tetapi sebagian ingin melihat apa yang
terjadi dengan Ki Asem Gede.
Kegemparan itu segera berubah menjadi jeritan yang hampir bersamaan keluar dari
beberapa mulut para penonton. Sebab pada saat Mahesa Jenar sudah hampir sampai pada
tempat Ki Asem Gede terduduk, ada tombak meluncur yang datangnya sangat cepat.
Apalagi Mahesa Jenar sama sekali tak mengetahui, karena perhatianya tertuju pada Ki
Asem Gede.
Mendengar jeritan-jeritan itu Mahesa Jenar terhenti. Dan segera perasaannya yang tajam
menangkap bahwa ada sesuatu terjadi di belakangnya. Cepat-cepat ia membalikkan diri.
Semuanya itu terjadi hanya dalam waktu yang singkat, maka tak ada kemungkinan bagi Mahesa Jenar untuk menghindarkan diri. Maka yang dapat dilakukannya hanyalah,
dengan tangannya melindungi dada.
Tetapi ketika tombak itu hampir menancap di tubuh Mahesa Jenar, terjadilah suatu
benturan yang dahsyat diiringi dengan suara gemericing senjata beradu, sehingga
timbullah bunga api yang memancar. Kembali para penonton terkejut bukan main.
Kecuali Mahesa Jenar dan Ki Asem Gede, tak seorangpun yang melihat bahwa dari arah
lain menyambar pula sebuah senjata sehingga membentur tombak yang hampir saja
menembus tubuh Mahesa Jenar.
Apalagi ketika dua senjata yang beradu itu jatuh di tanah, maka darah orang-orang yang
berkeliling arena itu berhenti dibuatnya. Ternyata tombak yang dilempar kearah Mahesa
Jenar itu patah ujungnya, sedangkan di sampingnya menancap sebuah trisula,
“Mantingan...!” Teriak salah seorang diantara mereka.
“Ya, Dalang Mantingan,” sahut yang lain.
Sebentar kemudian arena itu telah dipenuhi oleh teriakan orang menyebut nama
Mantingan. Memang, Mantingan telah terkenal di daerah itu sejak beberapa waktu yang
lampau. Tetapi kemudian lama ia tidak muncul, dan sekarang mereka melihat lagi sebuah
trisula, yang bertangkai kayu berian, dan pada pangkalnya berukiran kuncup bunga
kamboja. Hampir semua orang mengenal benda itu. Di mana benda itu berada, di sana
Mantingan pasti ada, dan sebaliknya.
Tetapi meskipun mereka sudah mengetahui hal itu, ketika mereka mengikuti arah
pandangan mata Mahesa Jenar, darah mereka tersirap juga melihat seseorang duduk
dengan tenangnya di atas seekor kuda yang berwarna abu-abu. Sungguh mengagumkan.
Tetapi kekaguman mereka segera berubah menjadi keheran-heranan ketika mereka
melihat Ki Dalang Mantingan, yang mempunyai nama demikian agungnya itu menunduk
hormat.
“Malaikat manakah orang ini, sehingga orang seperti Mantingan masih juga menunduk
hormat?” pikir mereka.
Tetapi mereka tidak sempat berpikir banyak, sebab mereka segera melihat Mantingan
meloncat turun dan memburu ke arah dari mana tombak pendek tadi dilemparkan.
“Kau Samparan?” desis Mantingan.
Dan tampaklah diantara penonton, Samparan yang pucat dan gemetar. Ia kenal betul
kepada Mantingan. Kalau pada saat yang lalu ia masih berani membusungkan dada, itu
karena membanggakan kekuatan mereka berlima. Tetapi kini empat kawannya telah
mengalami nasib yang mengerikan, sehingga hatinya pun berubah menjadi kerdil.
“Masih inginkah kau mengadakan sayembara tanding?” tanya Mantingan melanjutkan. “Ampun Ki Dalang. Aku hanya sekadar menuruti permintaan Watu Gunung,” jawab
Samparan gemetar.
Mantingan tersenyum mendengarkan jawaban ini, dan ia heran pula melihat kelakuan
Samparan yang begitu pengecut.
Sementara itu Mahesa Jenar dan Ki Asem Gede yang sudah agak pulih kekuatannya
telah pula berdiri di samping Mantingan.
Melihat tokoh-tokoh itu, hati Samparan semakin kecil dan wajahnya semakin
putih.Untunglah bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang berhati lapang, selapang
lautan yang sanggup menampung aliran sungai.
“Aku ampuni kau kalau anakku pada saat ini masih seperti pada saat kau ambil dari
suaminya,” kata Ki Asem Gede kemudian.
“Demi ALLAH, putrimu disentuh pun tidak,” jawab Samparan cepat-cepat.
“Antarkan aku padanya,” perintah Ki Asem Gede.
Segera Samparan mempersilahkan Ki Asem Gede, Mahesa Jenar dan Mantingan untuk
mengikutinya. Lewat Gandok sebelah barat, mereka masuk ke belakang menyusup masuk
ke dapur, dan di sana mereka masuk ke kamar mandi yang kosong tak berair. Ternyata
dasar kolam kamar mandi itu adalah sebuah pintu rahasia untuk memasuki ruang di
bawah tanah.
Ki Asem Gede dan kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Apakah tempat itu bukan suatu
alat perangkap saja.
“Kau mau main gila Samparan?” tanya Ki Asem Gede dengan suara geram.
“Mana aku berani berbuat sesuatu terhadap kalian,”
Sahut Samparan bersungguh-sungguh. Meskipun demikian mereka harus berhati-hati
juga. Ki Asem Gede kemudian berjalan dahulu, baru Samparan di belakangnya kemudian
Mahesa Jenar dan Mantingan dengan trisulanya di belakangnya lagi sambil mengawasi
kalau-kalau Samparan akan mengkhianati mereka.
Ruang di bawah tanah itu terdiri dua bagian. Bagian pertama adalah sebuah ruangan
yang terbuka dan kosong, diterangi beberapa obor yang ditancapkan pada dinding
ruangan. Di bagian atas ruangan tampak beberapa lubang udara yang dengan jalur-jalur
bumbung dari tanah liat dihubungkan dengan udara terbuka. Sedang bagian kedua adalah
sebuah ruang yang dipisahkan oleh sebuah dinding papan dengan ruang yang pertama.
Dinding itu mempunyai sebuah pintu yang kuat dan dikancing dengan sebuah palang
kayu yang cukup besar. “Di situlah Nyai Wirasaba disimpan oleh Watu Gunung,” kata Samparan sambil menunjuk pada palang pintu yang besar itu.
Ki Asem Gede jadi tertegun. Ia ragu-ragu untuk membuka pintu itu. Jangan-jangan ada
sesuatu yang berbahaya. Rupanya Samparan mengerti isi hati Ki Asem Gede, maka
sambungnya.
“Bolehkah aku membukanya?”
Ki Asem Gede masih ragu-ragu sebentar, tetapi kemudian katanya,
“Bukalah, tetapi jangan main gila.”
Samparan maju perlahan-lahan mendekati pintu itu. Matanya memandang dengan tajam,
seakan-akan ingin melihat langsung ke dalam ruangan yang tertutup itu. Baru setelah ia
merenung sejenak, tangannya bergerak membukanya.
Baru saja pintu itu terbuka, serentak mereka terkejut melihat seorang yang meloncat
keluar dan langsung menyerang Samparan dengan sebuah patrem. Untunglah bahwa
Samparan sempat menghindar. Tetapi serangan itu tidak hanya terhenti di situ, bahkan
bertambah sengit. Hanya sayang bahwa penyerangnnya tidak mempunyai pengetahuan
tata berkelahi yang cukup sehingga dengan mudahnya Samparan mengelakkan diri.
Ketika orang itu melihat beberapa orang lain berada di tempat itu, apalagi setelah
melihat Ki Asem Gede, ia jadi tertegun dan sebentar kemudian berubah menjadi keheranheranan.
Tetapi sesaat kemudian ia berlari menjauhkan diri dan memeluk kaki Ki Asem Gede. Ia
Nyai Wirasaba, putri Ki Asem Gede.
“Ayah!” serunya. Tetapi kemudian suaranya di kerongkongan. Ki Asem Gede pun
memandang putrinya dengan terharu. Dengan susah payah ia berhasil membendung air
matanya sehingga tidak mengalir. Baru beberapa lama ia tidak mengujungi putrinya itu.
Dan sekarang ia menyaksikan putrinya dalam keadaan yang menyedihkan.
Orang-orang yang menyaksikan perisitiwa itu, mau tidak mau juga merasa terharu.
Bahkan Samparan, seorang iblis yang selama ini tidak mempunyai rasa perikemanusiaan
sedikitpun, menyaksikan hal itu dengan suatu perasaan yang aneh. Perasaan yang belum
pernah dimilikinya.
Setelah suasana agak reda, segera mereka keluar dari ruangan di bawah tanah itu, dan
untuk menenangkan perasaan Nyai Wirasaba, mereka sementara waktu beristirahat di
gandok sebelah barat.
“Setan-setan itu tidak berbuat jahat kepadamu?” tanya Ki Asem Gede kepada putrinya. Nyi Wirasaba tidak segera menjawab. Tetapi ia memandang Samparan dengan
pandangan yang jijik, benci dan penuh kemarahan
.
“Manakah kawan-kawan iblis itu?” tanya Nyi Wirasaba kepada Ki Asem Gede.
Beberapa kali Nyi Wirasaba memandang Mahesa Jenar dan Mantingan dengan penuh
pertanyaan. Lamat-lamat ia ingat, bahwa dengan Mantingan ia pernah berkenalan. Tetepi
di mana, dan kapan? Sedangkan yang satu lagi sama sekali ia belum pernah melihat.
Ki Asem Gede mengerti perasaan putrinya, maka segera diceritakan apakah yang sudah
terjadi. Dan tiba-tiba saja Nyi Wirasaba berdiri lalu membungkuk hormat kepada Mahesa
Jenar dan Mantingan. Dengan suara yang terputus-putus ia menyatakan betapa besar
terima kasihnya atas pertolongan mereka. Sekaligus ia teringat bahwa Mantingan telah
dikenalnya pada waktu mereka masih sama-sama kecil. Tetapi yang kemudian tak lagi
pernah bertemu sejak Mantingan mengikuti gurunya ke Wanakerta.
Mahesa Jenar dan Mantingan tak habis-habisnya memandangi wajah Nyi Wirasaba.
Wajarlah kiranya kalau Watu Gunung tergila-gila kepadanya. Betapa bahagianya orang
itu, yang telah menerima anugerah Sang Penciptta berupa kecantikan wajah yang
sempurna, dan keserasian tubuh yang tanpa cela.
Mantingan yang pada masa kanak-kanaknya sering bermain dan bertengkar bersama,
tidak pernah membayangkan bahwa pada usia dewasanya perempuan ini akan memiliki
kelebihan dari kawan-kawannya sepermainan.
Tak seorang pun yang mengetahui bahwa Nyai Wirasaba sendiri selalu meratap di dalam
hati, menyesali nasibnya yang jelek. Karena memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang
bulat, yang telah beberapa kali menjeratnya ke dalam kesulitan-kesulitan yang hampir tak
dapat diatasi. Bahkan pada saat yang terakhir ini, ia telah mengambil keputusan bahwa
apabila tak ada pertolongan yang datang, ia lebih baik mengakhiri hidupnya dengan
sebilah patrem yang berhasil dibawanya di dalam sabuknya, daripada hidup di dalam
lingkungan iblis-iblis itu.
Setelah perasaan Nyi Wirasabaa agak tenang, maka segera Ki Asem Gede mengajaknya
meninggalkan rumah itu. Di luar masih banyak orang yang sejak tadi belum mau
meninggalkan halaman itu. Meskipun mereka setiap hari melihat wajah Nyi Wirasaba,
kalau Nyi Wirasaba kebetulan pergi ke pasar atau ke sawah, tetapi kali ini mereka ingin
juga melihat wajah itu. Wajah yang menjadi sebab berakhirnya kelaliman Samparan dan
kawan-kawannya.
Ketika Nyi Wirasaba tampak melangkah ke luar pintu rumah Samparan, orang-orang
berdesak-desakan mengerumuninya. Nyi Wirasaba menunduk malu. Di belakangnya
menyusul Ki Asem Gede, Mantingan, Mahesa Jenar dan kemudian Samparan. Suasana segera berubah menjadi tegang kembali ketika tiba-tiba Mahesa Jenar
membalikkan diri, dan secepat kilat menangkap tangan Samparan dan diputarnya ke
belakang. Samparan terkejut bukan kepalang, sambil menyeringai kesakitan. Tangan
Mahesa Jenar yang menangkapnya itu begitu erat seperti tanggem besi yang menjepit
tangannya. Bahkan tidak hanya Samparan yang terkejut, tetapi juga orang-orang yang
menyaksikan, termasuk Ki Asem Gede dan Mantingan.
“Adakah aku berbuat salah?" rintih Samparan.
“Kau tidak berbuat salah, tetapi aku ingin mendapat keterangan dari kau,” jawab Mahesa
Jenar.
Samparan dan orang-orang yang menyaksikan sibuk menduga-duga, keterangan apakah
gerangan yang dikehendaki oleh Mahesa Jenar.
“Samparan, kau dan Watu Gunung adalah termasuk dalam satu gerombolan yang
mempunyai persamaan kesenangan. Yaitu berbuat kejahatan. Dalam dunia kejahatan,
sahabat jauh lebih berharga dari saudara, bahkan orang tua. Rahasia rahasia yang tak
pernah didengar oleh keluarga sendiri, kadang-kadang didengar oleh sahabat-sahabatnya.
Nah, katakanlah, aku yakin kau mengetahuinya, apakah hubungan Watu Gunung dengan
Lawa Ijo?” lanjut Mahesa Jenar.
Mendengar pertanyaan ini Samparan terkejut seperti disambar petir meleset. Tidak pula
kalah terkejutnya Ki Asem Gede, Mantingan dan mereka yang ikut mendengarnya. Nama
Lawa Ijo adalah nama yang tabu diucapkan. Sebab dengan menyebut namanya saja,
sudah cukup alasan bagi Lawa Ijo untuk membunuh. Meskipun pada saat-saat terakhir
Lawa Ijo tidak pernah lagi muncul, tetapi apabila nama itu disebutkan, orang yang
mendengarnya telah cukup menggigil ketakutan.
Samparan tidak segera menjawab pertanyaan itu. Ia berdiri pada suatu titik yang
berbahaya sekali. Ia semakin takut kepada Mahesa Jenar, yang sama sekali tak diduganya
akan mengajukan pertanyaan semacam itu. Dari manakah gerangan ia mencium kabar
tentang Watu Gunung dan hubungannya dengan Lawa Ijo? Teranglah bahwa ia bukan
orang sejajarnya, bahkan tidak sejajar dengan Mantingan. Kalau tidak, ia tidak akan
seenaknya saja menyebut nama Lawa Ijo.
Ki Asem Gede dan Mantingan pun tergetar juga hatinya. Mereka berdua pun maklum
akan kehebatan Lawa Ijo.
“Jawablah!”- desak Mahesa Jenar. Sementara itu, pegangannya pun makin dikuatkan.
Samparan berdesis menahan sakit.
“Aku tak tahu,” jawab Samparan mencoba berbohong. Tetapi belum lagi ia selesai
mengucapkan jawabannya, tangannya yang terpuntir itu terasa semakin sakit, dan
terangkat ke atas. “Kau tak mau menjawab?” geram Mahesa Jenar. Keringat dingin memenuhi tubuh Samparan. Ia merasa serba salah, dan seakan-akan ia telah dihadapkan pada suatu
keharusan memilih, mati di tangan Lawa Ijo atau Mahesa Jenar.
“Aku tak mengetahui seluruhnya. Aku hanya pernah mendengar nama itu disebut-sebut
oleh Watu Gunung,” jawab Watu Gunung.
“Apa katanya?” desak Mahesa Jenar pula. Kembali Samparan ragu-ragu.
“Kau takut kepada Lawa Ijo?” bentak Mahesa Jenar yang sudah mulai jengkel.
“Bagus. Kau takut dibunuhnya. Tetapi bagaimana kalau yang melaksanakan
pembunuhan itu aku?” lanjut Mahesa Jenar.
Tubuh Samparan mulai menggigil. Ia sudah melihat kedua kawannya dipecahkan
kepalanya oleh orang itu. Kalau ia tidak menuruti perintahnya, jangan-jangan kepalanya
akan dipecahkan pula. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk berkata, dengan harapan
Lawa Ijo sudah tidak akan muncul kembali.
“Yang aku ketahui, Watu Gunung adalah tidak saja anggota gerombolan itu, tetapi ia
adalah saudara muda seperguruan Lawa Ijo.”
Mendengar jawaban Samparan ini, orang-orang jadi gemetar dan ketakutan. Saudara
muda Lawa Ijo binasa di desa mereka.
“Katakan yang lain, aku jadi tanggungan kalau Lawa Ijo marah,” sahut Mahesa Jenar.
Samparan merasa bahwa ia tidak dapat berbuat lain daripada menuruti perintah itu.
“Watu Gunung pasti pernah berkata, di mana Lawa Ijo sekarang.”
Samparan dengan sangat terpaksa akan menjawab pertanyaan itu. Tetapi sebelum
mulutnya bergerak, tiba-tiba ia merasa Mahesa Jenar mendorongnya sehingga ia
terpelanting jatuh.
Dan sementara itu sebuah pisau belati melayang tepat lewat tempatnya berdiri tadi,
langsung mengenai dinding dan tembus masuk ke dalam rumah. Dalam pada itu,
berkelebatlah sesosok tubuh di antara penonton meloncat lari meninggalkan halaman.
Mantingan tidak mau melepaskan orang itu begitu saja. Secepat kilat ia memburunya,
yang kemudian disusul oleh Mahesa Jenar. Tetapi Mantingan belum berpengalaman
menghadapi orang-orang gerombolan Lawa Ijo.
Maka ia tidak menyangka sama sekali bahwa orang yang dikejarnya itu tiba-tiba berhenti
membalikkan diri, dan sebuah sinar putih menyambar dadanya. Mantingan terkejut bukan main. Secepat kilat ia memukul sinar putih itu dengan trisulanya. Terdengarlah suara
berdentang hebat.
Tangan Mantingan yang memegang trisula itu bergetar hebat, sedangkan pisau yang
dilemparkan ke dadanya itu berubah arah. Tetapi meskipun demikian, lengannya tergores
juga sedikit. Ia tertegun mengalami peristiwa itu. Dan Mahesa Jenar yang melihat darah
di lengan Mantingan jadi terhenti pula.
Sementara itu orang yang telah melemparkan pisau itu sempat menyelinap di antara
pepohonan dan menghilang. Dari kejauhan terdengarlah gema suara orang tertawa. Suara
itu mengiris ulu hati seperti suara ringkikan hantu kubur.
“Lawa Ijo telah datang,” desis Mahesa Jenar.
“Diakah Lawa Ijo?” tanya Mantingan.
“Mungkin, tetapi setidak-tidaknya salah seorang dari gerombolan itu,” jawab Mahesa
Jenar.
“Aku ingin suatu kali dapat bertemu dengan Lawa Ijo. Nah lupakan dia Kakang
Mantingan untuk sementara. Marilah kita kembali. Mungkin Samparan dapat
menunjukkan tempatnya,” lanjut Mahesa Jenar.
Maka segera mereka kembali ke rumah Samparan. Tampaklah orang-orang yang masih
berdiri di halaman itu berwajah pucat-pucat ketakutan. Beberapa diantaranya menggigil,
terduduk tak berdaya. Apalagi waktu terdengar suara tertawa di kejauhan.
Ketika Ki Asem Gede melihat tangan Matingan berdarah, cepat ia berlari
menyongsongnya.
“Kau terluka?" tanya Ki Asem Gede.
Mantingan mengangguk mengiakan.
Cepat-cepat Ki Asem Gede memeriksa luka itu. Dan sebentar kemudian tampak ia
mengangguk-angguk.
“Tidak beracun,” gumannya.
“Karena itu marilah kita lekas meninggalkan tempat ini dan menyerahkan kembali
anakku kepada suaminya. Sementara itu aku dapat mengobati luka Adi Mantingan, yang
untung tak berbahaya,” kata Ki Asem Gede.
Sementara itu Ki Asem Gede melihat Samparan seperti orang yang tidak sadar terduduk,
di tanah. Tingkah Samparan tampaknya menggelikan. Sifat-sifat garangnya sama sekali
tak berbekas. Apalagi setelah ia hampir saja disambar pisau. Yang ia tahu pasti, bahwa itulah pisau gerombolan Lawa Ijo.
“Samparan, kau kenapa?” tegur Mahesa Jenar.
Samparan memandang kepada Mahesa Jenar dengan mata yang layu dan mengandung
suatu permohonan untuk mendapat perlindungan. Mahesa Jenar menangkap maksud itu.
“Samparan, kau jangan berbuat demikian. Tidakkah kau malu pada dirimu sendiri?
Bagaimanapun kau adalah laki-laki yang mengenal cara untuk membela diri. Meskipun
demikian, kalau kau memang merasa tak mampu berdiri sendiri, kau dapat mengikuti
Kakang Mantingan nanti ke Prambanan. Aku memang masih memerlukan engkau. Tetapi
pada saat ini kau barangkali tidak lagi dapat mengucapkan sepatah kata pun. Kakang
Mantingan nanti kalau kembali ke Prambanan, akan mampir kemari menjemputmu. Dan
percayalah bahwa pada waktu ini Lawa Ijo tidak akan berani menginjak rumah ini.
Sebaliknya kau pun jangan meninggalkan rumah ini. Sebab ada dua kemungkinan,
ditangkap oleh Lawa Ijo atau akulah yang akan memburumu,” kata Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar yang meyakinkan itu, Samparan menjadi agak
tenang sedikit. Perlahan-lahan ia berdiri dan membungkuk hormat kepada Mahesa Jenar.
Ia mempunyai suatu kesan yang aneh. Kehebatannya, kegarangannya, tetapi juga
keluhuran budinya. Sehingga tidak langsung, ia telah memandang ke dirinya sendiri,
yang beberapa saat lalu masih merasa sebagai seorang yang tak terkalahkan.
Samparan termenung. Alangkah luasnya dunia ini. Entah berapa saja orang-orang yang
sakti tinggal di dalamnya. Baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih. Yang
satu memenangkan yang lain, dan yang lain lagi dapat mengatasinya pula. Dalam waktu
yang sesingkat itu, Samparan telah menyaksikan orang-orang seperti Watu Gunung, Ki
Asem Gede, Mantingan, Lawa Ijo, dan Mahesa Jenar. Belum lagi nama-nama yang
pernah didengarnya dan yang belum dikenalnya.
Segera setelah itu, Ki Asem Gede beserta kawan-kawannya meninggalkan tempat itu
untuk menghantar Nyi Wirasaba kepada suaminya yang rumahnya tak begitu jauh, hanya
berantara dua bulak yang tak begitu lebar.
Di perjalanan itu, timbullah suatu pertanyaan di hati Mahesa Jenar maupun Mantingan.
Sebenarnya pertanyaan itu telah timbul sejak mereka mengetahui persoalan Nyi
Wirasaba.
Dalam persoalan ini, kenapa Ki Wirasaba sendiri tidak berbuat sesuatu untuk
membebaskan istrinya? Bahkan yang didengar oleh Mahesa Jenar dari murid Wirasaba
yang menghadap Ki Asem Gede, sudah ada dua orang murid Wirasaba terluka.
Mengingat bahwa Ki Wirasaba sedikitnya memiliki empat orang murid, menunjukkan bahwa ia pun memiliki pengetahuan tentang tata berkelahi, tetapi ia tak berbuat apa-apa.
Itulah suatu hal yang aneh. Mungkinkah Ki Wirasaba tidak mencintai istrinya, atau
barangkali terikat sesuatu perjanjian dengan Samparan dan kawan-kawannya?
Mahesa Jenar dan Mantingan, seperti orang yang sepakat untuk tidak menanyakan hal
itu. Mereka takut kalau-kalau ada suatu rahasia yang dapat menyinggung kehormatan Ki
Asem Gede.
Setelah mereka berjalan beberapa lama, segera mereka memasuki desa tempat Ki
Wirasaba tinggal.
Rumah Ki Wirasaba adalah rumah yang cukup besar, berdiri di tepi jalan induk di
desanya. Berhalaman luas dan mempunyai ciri-ciri yang agak berbeda dengan halaman di
sekelilingnya. Halaman Ki Wirasaba disegarkan oleh tanaman-tanaman berbunga yang
berdaun hijau sejuk. Di sudut halaman terdapat sebuah jambangan berisi air yang bersih
bening. Dan di sana-sini bergantung sangkar-sangkar burung. Berkeliaran pula binatangbinatang piaraan ayam, itik, angsa dan sebagainya.
Halaman itu berdinding batu merah yang disusun teratur, yang seakan-akan menjadi
batas dari dua daerah yang tampak sangat berlainan. Halaman-halaman lain di desa itu
masih ditumbuhi bermacam-macam pohon serba tak teratur. Bahkan di sana-sini masih
ada pohon-pohon liar yang tumbuh, rumpun-rumpun bambu yang hebat, pohon beringin
tua, dan randu alas, yang masih merupakan tempat-tempat yang dianggap keramat oleh
penduduk di sekitarnya.
Waktu Mahesa Jenar dan Mantingan melangkahkan kaki memasuki halaman rumah Ki
Wirasaba, telah dijalari suatu perasaan aneh. Mereka berdua adalah orang-orang yang
telah banyak melihat daerah-daerah lain, bahkan kota-kota besar, tetapi jarang mereka
merasakan kesejukan seperti yang dirasakan pada saat itu. Alangkah mesranya tangan
yang telah menggarapnya, sehingga halaman itu menjadi begitu indahnya.
Tetapi mereka tidak sempat merasakan kesejukan itu lebih lama lagi. Tiba-tiba mereka
tersentak melihat Nyi Wirasaba yang tiba-tiba saja berlari mendahuluinya. Pintu rumah
itu, yang ternyata tidak terkunci, didorongnya kuat-kuat sehingga hampir saja ia jatuh
tertelungkup. Ia segera menghilang di balik pintu rumahnya. Segera setelah itu
terdengarlah suara Nyi Wirasaba bercampur isak yang tertahan.
”Kakang ..., Kakang Wirasaba ..., aku kembali Kakang. Kembali kepadamu....” Sesudah
itu, yang terdengar hanyalah tangis Nyi Wirasaba yang tak tertahan lagi.
Ki Asem Gede, Mantingan dan Mahesa Jenar tertegun sejenak. Suatu peristiwa yang
mengharukan. Pertemuan antara seorang istri dengan suaminya yang dicintai, setelah
mereka dipisahkan beberapa saat tanpa adanya suatu harapan untuk dapat bertemu
kembali.
Ki Asem Gede bertiga berdiri saja di muka pintu seperti patung. Sebentar kemudian terdengarlah suara yang berat dan dalam.
”Nyai, masihkah aku berhak menerima kau kembali? Atau masih berhakkah kau kembali
kepadaku ...?”
Mendengar jawaban itu, mendadak tangis Nyi Wirasaba terputus karena terkejut. Ia tidak
begitu mengerti maksud jawaban suaminya, dan karena itu ia bertanya kepada Ki
Wirasaba.
”Apakah maksudmu, Kakang?”
”Nyai, kalau kau dibebaskan oleh Samparan dan kawan-kawannya setelah kau
menyerahkan dirimu, maka kau tidak berhak lagi kembali kepadaku. Tetapi kalau ada
orang lain yang membebaskan engkau, Nyai, maka akulah yang tidak berhak menerima
kau kembali.”
Mendengar penjelasan itu, Nyai Wirasaba terkejut bukan kepalang, maka kembali
meledaklah tangisnya.
”Kakang, aku masih bersih seperti kemarin, Kakang. Bukankah dengan demikian aku
masih berhak kembali kepadamu? Kalau aku tidak lagi merasa berhak kembali
kepadamu, kau hanya akan tinggal dapat mengenang namaku, sebab aku telah bertekad
untuk bunuh diri. Tetapi kalau orang lain yang membebaskan aku, kenapa kau merasa
tidak berhak lagi menerima aku?” kata Nyi Wirasaba diantara sedu-sedannya.
”Nyai, laki-laki yang tahu diri, hanya dapat memetik buah dari pohon yang ditanamnya
sendiri,” jawab Wirasaba.
Mendengar jawaban itu, Ki Asem Gede tidak kalah terkejutnya. Maka segera ia
melompati pintu dan cepat-cepat menemui menantunya. Mahesa Jenar dan Mantingan
yang merasa berkepentingan pula, segera mengikuti Ki Asem Gede. Barangkali mereka
dapat menolong memberikan beberapa keterangan yang diperlukan.
Mendengar kata-kata Wirasaba, Mahesa Jenar dan Mantingan dapat menduga, kalau
orang itu mempunyai harga diri yang cukup tinggi. Tetapi yang masih merupakan
pertanyaan, mengapa Wirasaba sendiri tak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya?
Melihat kedatangan Ki Asem Gede dan dua orang yang tak dikenalnya, Wirasaba
menjadi agak terkejut. Tetapi segera ia membungkuk hormat dengan tetap masih duduk
bersila di atas pembaringannya.
”Selamat datang Bapak Asem Gede.”
Ki Asem Gede membalas hormat.
”Selamat Wirasaba, aku datang mengantarkan istrimu. Mudah-mudahan kau mau menerimanya dengan baik. Kau tidak usah mempersoalkan siapakah yang
membebaskannya. Yang penting, ia pulang dengan selamat, dan masih tetap seperti saat
ia diambil darimu.”
Wirasaba diam sejenak. Ia tundukkan kepalanya sambil berpikir. Sebenarnya ia adalah
seorang jantan yang memang agak tinggi hati. Ia tidak mau menerima pertolongan orang
lain berdasarkan belas kasihan. Apalagi dalam persoalan ini, persoalan seorang istri.
”Siapakah yang telah membebaskan istriku?” tanya Wirasaba.
Ki Asem Gede tertegun sejenak. Ingin ia mengaku telah membebaskan anaknya untuk
menjaga perasaan menantunya, tetapi ia takut kalau dengan demikian ia dikira orang
yang tak mengenal budi. Sebaliknya Mahesa Jenar pun sebenarnya ingin mengatakan
bahwa Ki Asem Gede telah membebaskan anaknya, tetapi ia pun takut kalau-kalau hal ini
dianggap merendahkan orang tua itu.
Melihat gelagat yang demikian, Ki Wirasaba dapat menebak bahwa seseorang telah
membebaskan istrinya. Bahkan tidak mustahil kalau orang itu adalah salah seorang yang
sekarang berada di hadapannya, atau kedua-duanya. Maka segera muncullah sifat tinggi
hatinya.
“Bapak Asem Gede, aku mempunyai dugaan bahwa orang itu telah membebaskan
istriku. Aku juga mempunyai dugaan bahwa orang itu telah berhasil membebaskan istriku
dengan kekerasan. Sebab mustahil Samparan dan Watu Gunung akan melepaskan
korbannya begitu saja sebelum nyawanya dapat dicabut. Adakah orang yang menyabung
nyawa tanpa pamrih?”
Mendengar sindiran itu, hati Mahesa Jenar tergoncang hebat. Tidak kalah pula
terperanjatnya Mantingan dan Ki Asem Gede, sehingga wajah mereka menjadi semburat
merah. Nyi Wirasaba melihat gelagat yang kurang baik itu. Dan kembali sebuah goresan
tajam melukai hatinya yang sudah hampir sembuh. Cepat ia menjatuhkan diri di samping
pembaringan suaminya, berlutut sambil menangis.
“Kakang, aku telah kembali kepadamu. Jangan lepaskan aku lagi.”
Mendengar ratap istrinya, sebenarnya hati Wirasaba terobek-robek karenanya. Ia pun
sebenarnya sangat mencintai istrinya, sebagaimana istrinya mencintainya. Tetapi
perasaan harga diri yang berlebih-lebihan telah melibat hati Wirasaba, sehingga sedikit
pun ia tidak menunjukkan getaran perasaannya.
Mata Wirasaba yang sayu memandang keluar lewat jendela di samping pembaringannya.
Memandang daun-daun yang bergoyang-goyang digerakkan angin, serta kilatan-kilatan
matahari yang jatuh bertebaran di atas tanah pegunungan yang kemerah-merahan.
Suasana kemudian dikuasai oleh kesepian yang tegang. Mahesa Jenar mengeluh dalam
hati. Kutuk apakah yang ditimpakan Tuhan atas dirinya, sehingga ia mengalami suatu kejadian yang demikian rumitnya? Haruskah pada suatu saat ia berhadapan dengan
Wirasaba sebagai lawan? Kalau demikian, maka menang atau kalah ia akan tetap sama
saja. Sama-sama mengalami penderitaan batin.
Kalau Mahesa Jenar kalah, maka kekalahan itu tak akan dapat dilupakannya seumur
hidupnya. Sebaliknya kalau ia menang, bagaimanakah nasib Nyai Wirasaba? Sebab
dengan demikian Ki Wirasaba pasti tidak akan mau menerimanya kembali. Bahkan
mungkin ia akan membunuh dirinya.
Belum lagi Mahesa Jenar menemukan jalan keluar, tiba-tiba didengarnya Wirasaba
berkata,
“Nyai, aku akan menerima kau kembali sebagaimana kau terlepas dari tangan
Samparan.”
Suara Wirasaba itu terdengar sebagai gemuruhnya seribu guntur yang menggelegar
bersama-sama. Suasana menjadi bertambah tegang. Peluh dingin telah mengalir di
seluruh tubuh Mahesa Jenar. Apa yang diduganya ternyata benar-benar terjadi.
Sampai saat itu pun ia masih belum dapat menemukan suatu pilihan. Bagaimanapun,
sebagai seorang laki-laki ia tidak bisa menelan tantangan itu begitu saja. Sehingga
dengan demikian tubuhnya menjadi gemetar menahan perasaannya yang melonjak lonjak.
Hampir saja ia melangkah maju dan menerima tantangan itu. Tetapi ketika dilihatnya
Nyai Wirasaba masih menangis, bahkan makin menjadi-jadi, ia kembali ragu-ragu.
Akhirnya setelah perasaannya berjuang beberapa lama, Mahesa Jenar mengambil suatu
keputusan yang sangat berat. Sebagai seorang laki-laki, apalagi sebagai seorang yang
berjiwa prajurit, ia belum pernah menghindari suatu tantangan. Tetapi kali ini bertekad,
berkorban buat kedua kalinya, untuk ketentraman hidup putri Ki Asem Gede. Karena itu
ia berdiam diri, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ki Asem Gede menjadi kebingungan, dan tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Ia
pun mempunyai pikiran yang sama dengan Mahesa Jenar. Kalau saja Mahesa Jenar
menerima tantangan itu, Mahesa Jenar bukanlah tandingan Wirasaba. Bagaimanapun
hebatnya menantunya, tetapi setinggi-tingginya yang dapat dicapainya adalah tingkat
Dalang Mantingan. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang ini.
Belum lagi suasana yang tegang itu terpecahkan, mendadak mereka dikejutkan oleh
suatu bayangan yang melayang, meloncat masuk lewat jendela yang terbuka di samping
pembaringan Wirasaba. Geraknya cepat dan lincah sekali. Mereka menjadi semakin
terperanjat ketika mereka melihat siapakah orang itu. Ternyata orang yang telah berdiri
tegak diantara mereka adalah Samparan.


No comments:
Post a Comment