Lazada Harga Termurah

Travel the world

Berita Nasional

Berita International

Hidup Sehat

Jualan

Teknologi

Hadits

LucuDikit

Hikayat Islam

Hikayat Nusantara

Post Page Advertisement [Top]




SH.Mintarja

 “Pengecut tua, kau curi anakmu dengan laku seorang perempuan. Aku telah merampasnya dengan kejantanan. Aku telah melukai dua orang murid Wirasaba yang menghalangi maksudku. Seharusnya kau ambil perempuan itu dengan laku seorang jantan pula. Nah, sekarang aku datang untuk mengambilnya kembali,” teriak Samparan sambil menuding wajah Ki Asem Gede.
 Melihat tingkah laku, sikap dan kata-kata Samparan, Ki Asem Gede terkejut bukan kepalang. Apalagi yang mau diperbuat oleh setan kecil ini?
 Sedangkan Mantingan mempunyai tanggapan lain. Mungkin kawanan Lawa Ijo telah datang untuk menuntut balas atas kematian Watu Gunung dengan mempergunakan Samparan sebagai umpan.
 Lain pula dengan Ki Wirasaba. Melihat kedatangan Samparan dan mendengar katakatanya, matanya menjadi berkilat-kilat. Seakan-akan suatu cahaya terang memancar di dalam jiwanya.
 “Samparan, kau pun tidak berlaku jantan. Kau tidak mengambil istriku dari tanganku. Kau hanya berani melayani anak-anak yang baru dapat meloncat-loncat tak berarti. Kalau benar katamu, Bapak Ki Asem Gede mengambil istriku, Bapak Asem Gede ingin mengembalikan keadaan seperti semula. Nah, sekarang, kalau kau inginkan istriku, ambillah ia dari tanganku dengan laku seorang jantan,” sahut Wirasaba.
 Samparan tertawa dingin.  “Kau bermaksud demikian?”
 Ki Wirasaba tertawa nyaring. Wajahnya kini menjadi cerah seperti cerahnya matahari. Mahesa Jenar yang berotak cerdas segera menangkap arah persoalannya. Diam-diam ia memuji kelincahan otak Samparan. Tetapi lebih dari itu, ia kagum maksud baik Samparan, meskipun dengan tindakannya itu ia menghadapi kemungkinan yang berat sekali.
 “Kau telah mengundang orang-orang ini untuk melindungi istrimu?” tanya Samparan dengan nada menghina.
 Wirasaba yang tinggi hati, segera merasa tersinggung. Dengan marahnya ia menjawab. “Samparan, mulutmu terlalu lancang. Aku belum kenal mereka keduanya. Mereka datang bersama-sama Bapak Asem Gede. Urusan ini adalah urusanku dengan kau. Jadi kau dan akulah yang harus menyelesaikan.”
 Kembali Samparan tertawa dingin.
 “Wirasaba, jangan kau mimpi akan masa lampau. Memang beberapa tahun yang lalu kau merupakan seorang tokoh yang mempunyai nama cemerlang. Sebutanmu cukup menggetarkan. Tetapi dengan kakimu yang lumpuh sekarang ini, kau menjadi sebatang seruling gading yang telah retak,” kata Samparan.  Mahesa Jenar dan Mantingan terperanjat dua kali lipat. Ternyata Wirasaba adalah orang
yang terkenal dengan sebutan Seruling Gading. Seorang tokoh penggembala yang tak ada tandingannya diantara mereka. Kekuatan tubuhnya dan kepandaiannya meniup seruling merupakan suatu paduan yang sudah ditemukan. Tetapi Seruling Gading itu kini sudah lumpuh.
 Kata-kata Samparan itu juga merupakan jawaban atas teka-teki yang selama ini selalu membelit pikiran Mahesa Jenar dan Mantingan. Karena kelumpuhannya itu pulalah agaknya, maka Wirasaba tak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya.
 Mendengar ejekan Samparan itu, hati Wirasaba menjadi terbakar. Ia sudah hampir tak dapat menguasai kemarahannya. Cepat tangannya meraih senjatanya dari bawah bantalnya. Sebuah kapak bertangkai yang panjangnya kira-kira hampir sedepa.
 “Kalau kau tidak membawa senjata, Samparan ..., kau boleh meminjam senjata-senjataku. Manakah yang kau sukai?”
 kata Wirasaba sambil menunjuk ke sudut ruang. Pada dinding yang ditunjuk itu bergayutan bermacam-macam senjata. Kapak, tombak, pedang, keris dan sebagainya.
 Perlahan-lahan Samparan berjalan ke sudut ruang tempat senjata itu tergantung. Dengan tenangnya ia mulai menimang-nimang senjata itu satu demi satu.
 “Wirasaba, alangkah banyaknya jenis senjatamu sebagai pertanda kebesaran namamu."
 "Hanya saja tak satu pun sebenarnya yang cukup berharga kau pergunakan. Tetapi baiklah aku mencoba tombak pendekmu ini untuk melayani kapakmu yang terkenal itu.”
 Wirasaba menjadi bertambah marah mendengar celaan itu, sehingga kemudian ia tidak sabar lagi. Ia telah bersiap dan menggeser tubuhnya ke tepi pembaringan. Samparan yang telah mendapatkan pilihan senjata diantara sekian banyak macam senjata yang tergantung di sudut ruang itu pun segera mempersiapkan diri.
 Ki Asem Gede dan Mantingan segera mengetahui pula maksud Samparan. Itulah sebabnya mereka berdiri termangu-mangu penuh kekhawatiran akan keselamatan Samparan. Tetapi Samparan berdiri tenang-tenang saja, meskipun ia tahu pasti tingkat ketinggian ilmu Wirasaba.
 “Samparan, mulailah!” Wirasaba menggeram tidak sabar lagi.
 Samparan memperdengarkan suara tertawa yang hambar dan dingin. Sebentar ia memandang wajah Mahesa Jenar yang dikagumi. Sorot matanya memancar aneh, sebagai sorot mata anak-anak yang dilepas dari pelukan bapaknya yang akan pergi berperang.
 Tetapi sekejap kemudian Samparan segera meloncat dengan lincahnya, sambil memutar tombaknya menyerang Wirasaba.
 Mahesa Jenar melihat segala gerak Samparan dengan terharu. Ia memandang Samparan sebagai seorang anak yang telah hilang, dan kini sedang berusaha untuk kembali ke pangkuan kebenaran. Samparan sedang berjuang untuk menebus segala dosa yang pernah dilakukan.
 Samparan mulai dengan sebuah tusukan ke arah dada Wirasaba. Sebenarnya gerak
Samparan cukup lincah dan mantap. Hanya sayang bahwa ia tidak dapat menyelaraskan gerakan-gerakan kaki dengan tangannya. Sedangkan Wirasaba ternyata memang seorang yang berilmu cukup tinggi. Meskipun ia tidak dapat mempergunakan kakinya, tetapi dengan gerak tangannya yang tampaknya tidak banyak membuang tenaga, ia dapat menangkis serangan-serangan Samparan, sehingga tusukannya meleset ke samping. Bahkan sekaligus ia siap menghantam lengan Samparan dengan tangkai kapaknya.  Cepat Samparan menarik serangannya, dan selangkah meloncat ke kiri. Kembali mata tombak Samparan akan mematuk lambung lawannya. Namun Wirasaba cukup cekatan.
Dengan tenaganya, ia memutar kapaknya untuk menangkis serangan tombak Samparan.
 Demikianlah, pertarungan itu semakin lama semakin bertambah sengit. Samparan telah mengeluarkan hampir segenap ilmunya untuk menundukkan lawannya. Sedangkan Wirasaba, bagaimanapun hebatnya, namun karena ia hanya mampu menangkis serangan lawannya dan hanya mampu menyerang dalam jarak yang sangat terbatas, maka tampaklah ia mulai terdesak. Untunglah bahwa ia memiliki sepasang tangan yang kuat dan cekatan, sehingga pada saat-saat yang sangat berbahaya ia masih berhasil
membebaskan dirinya dari ujung tombak Samparan.
 Mahesa Jenar, Mantingan dan Ki Asem Gede, yang menyaksikan pertarungan itu, mengikuti dengan perasaan yang tegang. Berbagai macam gambaran membayang di kepala masing-masing. Kali ini pun mereka diliputi oleh kecemasan-kecemasan yang sangat tak menyenangkan.
 Apalagi Nyai Wirasaba yang tak dapat mengerti persoalan yang dihadapi saat itu. Hatinya menjadi bergolak sedemikian hebatnya, sehingga ia tidak berani lagi menyaksikan pertempuran itu.
 Maka, semakin lama semakin jelaslah bahwa Samparan akan berhasil menguasai keadaan. Ia mempergunakan suatu cara yang sangat menguntungkan. Sesaat ia meloncat maju sambil menyerang, tetapi sesaat apabila serangannya gagal, ia segera meloncat surut menjauhi Wirasaba untuk menghindari serangan-serangannya yang sangat berbahaya.
 Melihat cara Samparan bertempur, Wirasaba menjadi semakin kalap, disamping rasa penyesalan yang meluap-luap atas cacat kaki yang dideritanya. Karena itulah maka cara bertempurnya pun semakin lama menjadi semakin kabur. Sehingga pada suatu saat, dengan gerak tipu yang cepat sekali, tombak Samparan mengarah ke leher Wirasaba.
Wirasaba segera mengangkat tombaknya untuk menangkis serangan itu. Tetapi selagi kapak Wirasaba bergerak, Samparan mengubah serangannya. Dengan satu putaran yang cepat tombaknya mengarah ke perut Wirasaba.
 Melihat perubahan yang cepat sekali itu Wirasaba terkejut, secepat kilat ia mengayunkan kapaknya memukul tombak Samparan. Pada saat yang demikian, kedudukan Wirasaba menjadi lemah sekali. Kalau Samparan menghindari bentrokan itu, kemudian dengan perubahan sedikit ia memukul kapak Wirasaba dengan arah yang sama, maka mungkin sekali kapak itu akan terlempar jatuh. Tetapi pada saat ia akan melakukannya, tiba-tiba terlintaslah di dalam benaknya, suatu ingatan, bahwa ia tidak benar-benar berhasrat untuk mengalahkan Wirasaba.
 
 Samparan datang sekadar untuk membebaskan Mahesa Jenar dari syak wasangka.  Kalau ia betul-betul memenangkan pertarungan itu, maka maksudnya untuk menebus kesalahannya, tidak akan berhasil. Ia tidak akan dapat mengembalikan suasana ketenteraman rumah tangga Wirasaba yang telah dirusaknya. Malahan mungkin ia akan menyaksikan Wirasaba yang akan merasa sangat tersinggung kehormatannya itu, bunuh diri, bahkan akan disusul pula oleh istrinya. Karena pikiran yang demikian, maka sesaat Samparan kehilangan pemusatan pikiran.
 Sementara itu, waktu yang sesaat itu dapat dipergunakan oleh Wirasaba sebaik-baiknya. Segera ia dapat memperbaiki keadaan. Dengan suatu gerakan yang dahsyat, kapaknya mengayun ke arah kepala Samparan. Samparan tersadar tepat pada saatnya. Tetapi ia tidak lagi dapat menghindar. Segera disilangkannya tombak pendeknya untuk menangkis kapak Wirasaba. Maka terjadilah suatu benturan yang hebat.
 Ternyata tenaga Wirasaba luar biasa kuatnya. Juga tombak Wirasaba yang dipergunakan Samparan adalah tombak pilihan yang tak terpatahkan oleh kekuatan Wirasaba sendiri.
Tetapi tenaga Samparan lah yang tak dapat menandingi kekuatan-kekuatan itu, sehingga tangan yang memegang tombak itu tergetar hebat, dan tombak itu meleset lepas dari pegangannya.
 Mereka yang menyaksikan kejadian itu darahnya serasa terhenti. Sebab kelanjutannya tentu akan mengerikan sekali. Mahesa Jenar yang sudah dapat meramalkan apa yang akan terjadi, hampir saja meloncat maju untuk mencegahnya. Untunglah segera ia sadar, bahwa kalau ia berbuat demikian, akibatnya akan sangat tidak menyenangkan bagi dirinya maupun bagi ketenteraman hati Wirasaba. Maka yang dapat dilakukannya hanyalah mengharap suatu keajaiban sehingga apa yang ditakutkan itu tidak terjadi. Tetapi rupanya tidak demikianlah yang terjadi.
 Tombak Samparan yang disilangkan itu berhasil menyelamatkan kepalanya, tetapi kapak Wirasaba yang terayun demikian derasnya dan digerakkan oleh kekuatan yang luar biasa itu, tidak seberapa mengalami perubahan arah. Maka terjadilah suatu goresan panjang merobek dada Samparan.
 Terdengarlah suatu keluhan yang tertahan. Samparan terhuyung-huyung surut beberapa langkah. Dari lukanya menyembur darah yang merah segar. Mahesa Jenar, Mantingan dan Ki Asem Gede tergoncang hatinya melihat peristiwa itu. Telah berapa puluh kali
mereka melihat darah yang mengucur dari luka, tetapi jarang mereka mengalami kejadian seperti ini.
 Wirasaba yang tidak mengetahui latar belakang dari peristiwa itu, memandang Samparan dengan tak berkedip. Dari wajahnya memancar perasaan puas dan dendam sedalam lautan. Ia merasa bahwa dengan demikian telah terbalaslah sebagian rasa sakit hatinya, dan ia merasa bahwa tak ada hutang budi kepada siapapun.
 Samparan, yang dadanya terbelah, masih berusaha sekuat sisa tenaganya untuk keluar dari ruangan itu. Kedua tangannya ditekankan pada dadanya yang terluka itu.  Mahesa Jenar memandangnya dengan penuh haru. Cepat ia menyusul, diikuti oleh Mantingan dan Ki Asem Gede. Tepat sampai di luar pintu, rupanya Samparan sudah tidak dapat lagi menguasai keseimbangan badannya. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cepat menangkapnya, ketika ia hampir saja terjatuh. Dan dengan perlahan-lahan
Samparan diletakkan di atas tanah.
 Meskipun lukanya sangat membahayakan, tetapi wajah Samparan sama sekali tak menunjukkan rasa sakit. Bahkan dengan tenangnya ia memandang Mahesa Jenar, Matingan dan Ki Asem Gede berganti-ganti. Kemudian dengan tersenyum ia berkata,
 “Ki Asem Gede. Ki Dalang Mantingan dan Ki Sanak Mahesa Jenar, aku sudah berusaha untuk mengurangi kesalahanku.”
 “Puaskanlah hatimu. Nah sekarang biarlah aku mencoba menyembuhkan luka-lukamu,” jawab Ki Asem Gede sambil mengangguk-angguk.
 “Tak ada gunanya, Ki Asem Gede,”  Jawab Samparan sambil menggelengkan kepalanya, dengan suara sangat pelan.
 “Biarlah aku coba,” desak Ki Asem Gede, meskipun ia sendiri sudah melihat, bahwa hampir tak ada kemungkinan untuk mengobati luka Samparan itu.  Kembali Samparan memaksa dirinya tersenyum dan menggeleng perlahan-lahan. 
 “Ki Sanak Mahesa Jenar ..., sebelum aku mati, baiklah aku katakan kepadamu suatu rahasia yang ingin kau ketahui. Bukankah sekarang aku tidak perlu takut kepada Lawa Ijo dan kepada siapapun? Kau mau mendengar?” desah Samparan kemudian.  Mahesa Jenar segera merapatkan dirinya. Lalu jawabnya,
 “Aku ingin mendengar, Samparan. Tetapi sekarang bukan waktunya. Kau terlalu banyak mengeluarkan darah, karena itu kau harus beristirahat.”
 Samparan menarik nafas dalam-dalam.
 “Waktuku tinggal sedikit. Dengarlah. Menurut Watu Gunung, Lawa Ijo sekarang berada di Pasiraman. Sebuah telaga kecil di seberang hutan Mentaok. Desa tempat tinggalnya itu pun bernama Desa Pasiraman pula, desa itu terletak tepat di tepi hutan. Agak ke barat sedikit terdapatlah hutan yang hampir dipenuhi oleh pohon pucang, sehingga hutan itu disebut Alas Pucang Kerep,”
 Kata Samparan. Samparan berhenti sebentar. Terdengar arus nafasnya semakih cepat. “Beristirahatlah Samparan. Keterangan itu sudah cukup bagiku,” jawab Mahesa Jenar, Samparan berusaha untuk menggeleng.
 “Belum cukup. Di sana Lawa Ijo sedang menggembleng diri. Ia sedang berusaha untuk memulihkan luka-lukanya yang dideritanya ketika ia sedang berusaha mencuri pusakapusaka di Kraton Demak,” lanjut Samparan sangat lemah.
 Mahesa Jenar agak terkejut mendengar keterangan itu.
 “Kalau demikian, Lawa Ijo inilah yang pernah dilukainya dahulu,” pikir Mahesa Jenar.
 “Usaha Lawa Ijo untuk memulihkan diri, ternyata sekarang sudah berhasil. Ia selalu
berada dalam pengawasan gurunya. Aku belum pernah bertemu dengan gurunya itu, tetapi seperti apa yang digambarkan oleh Watu Gunung, aku dapat membayangkan bahwa gurunya itu adalah seorang iblis yang jarang ada duanya,” sambung Samparan hampir berbisik-bisik.
 Mahesa Jenar menjadi tertarik pada cerita Samparan, sehingga ia lupa bahwa ia berhadapan dengan seorang yang luka berat. Maka desaknya tidak sabar,
 “Siapakah nama gurunya itu?”
 “Ia adalah seorang yang mempunyai kesaktian luar biasa. Namanya Pasingsingan.”
 “Pasingsingan?” ulang Mahesa Jenar. Terkejutnya bukan alang kepalang.
 Mahesa Jenar pernah mendengar nama itu dari gurunya, baik Syeh Siti Djenar maupun Ki Ageng Pengging Sepuh. Tetapi tokoh ini sama sekali tak digambarkan sebagai seorang tokoh yang aneh dan sakti. Tetapi yang didengarnya, Pasingsingan adalah seorang yang luhur budi. Seorang penolong yang tak pernah memperkenalkan wajah aslinya, karena ia selalu memakai topeng. Hanya karena topeng itu dibuat sedemikian kasar dan jelek, maka Pasingsingan digambarkan sebagai seorang yang berwajah
menakutkan.
 Adakah sesuatu peristiwa yang terjadi sehingga tokoh itu berbalik diri dari lingkungan putih ke lingkungan hitam? Tetapi sementara itu Samparan telah mulai berbisik lagi.
“Beberapa waktu yang lalu ..., Lawa Ijo pernah dilukai oleh seorang senapati Demak, waktu ia sedang berusaha untuk mendapatkan pusaka.”
 Mendengar cerita ini Mahesa Jenar semakin tertarik.
 “Ki Sanak, dalam lingkungan golongan hitam terdapat suatu kepercayaan, bahwa barang siapa memiliki sepasang pusaka yang mereka perebutkan, adalah suatu pertanda bahwa orang itu akan dapat merajai seluruh golongan hitam. Dengan demikian akan cukup kekuatan dan dukungan bila pada suatu saat mendirikan suatu pemerintahan tandingan yang kekuasaannya akan dapat menyaingi kekuasaan Demak.”  Suara Samparan menjadi semakin perlahan-lahan, tetapi masih cukup jelas.
 “Sedangkan Lawa Ijo, atas petunjuk Pasingsingan, akan mencuri langsung pusaka asli,
yang menurunkan sepasang pusaka yang diperebutkan itu,” lanjut Samparan.
 “Apakah ujud dan nama pusaka-pusaka itu?” Tiba-tiba Ki Asem Gede menyela.
 Samparan menarik nafas untuk mengatasi denyut jantungnya yang semakin memburu.
 “Pusaka-pusaka itu berupa keris. Seekor naga bersisik seribu dan sebuah keris lain
berlekuk sebelas dengan pamor yang memancarkan cahaya kebiru biruan.”
 “Naga Sasra dan Sabuk Inten,” potong Dalang Mantingan mengejutkan.
 “Ya, demikian mereka menyebut namanya. Nagasasra dan Sabuk Inten. Tetapi yang sepasang, yang mereka perebutkan itu masih meragukan. Pasingsingan mengira bahwa keris itu hanyalah keturunannya saja, sedang yang asli masih berada di keraton.
Untunglah bahwa pada saat Lawa Ijo akan mencuri pusaka-pusaka itu, ada dua orang prajurit terlepas dari pengaruh sirepnya yang terkenal. Empat orang anak buah Lawa Ijo terbunuh, sedangkan Lawa Ijo sendiri terluka di bagian dalam dadanya,” jelas Samparan.
 Sekarang Mahesa Jenar semakin bertambah jelas bahwa Lawa Ijo yang berusaha
memasuki gedung perbendaharaan itulah yang dimaksud oleh Samparan.
 “Untunglah bahwa ada orang-orang seperti kedua prajurit itu. Alangkah gagahnya.
Kemudian Lawa Ijo dapat mendengar bahwa kedua prajurit itu bernama Rangga Tohjaya
dan Gajah Alit,” tambah Samparan.
 Sekarang Ki Asem Gede dan Mantingan yang terperanjat. Rangga Tohjaja adalah Mahesa Jenar. Jadi kalau demikian Mahesa Jenar pernah bertempur, bahkan melukai Lawa Ijo. Dengan tak mereka sadari terloncatlah sebuah pertanyaan dari mulut Ki Asem Gede,
 “Jadi Anakmas pernah melukai Lawa Ijo?”
 Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar menjadi bimbang sebentar. Samparan, yang meskipun dalam keadaan parah, tampak wajahnya berubah hebat mendengar pertanyaan Ki Asem Gede itu. Ia menyebutkan bahwa yang melukai Lawa Ijo adalah Rangga Tohjaja dan Gajah Alit, tetapi kenapa Ki Asem Gede bertanya kepada Mahesa Jenar?
 Mahesa Jenar menangkap perubahan wajah Samparan. Pikirannya mengatakan, tak baik orang yang pada saat-saat terakhir masih menyimpan teka-teki. Karena itu ia menjawab pertanyaan Ki Asem Gede. Tetapi jawaban ini ditujukan kepada Samparan.
 “Samparan, barangkali kau heran, bahkan mungkin tak percaya. Tetapi biarlah aku beritahukan kepadamu supaya kau percaya. Supaya kau menjadi jelas. Akulah Rangga Tohjaja yang kau maksudkan tadi. Memang aku pernah bertempur dan melukai Lawa Ijo di halaman dalam Istana Demak. Karena itulah aku akan selalu mencarinya.”
 Belum lagi Mahesa Jenar selesai berkata, tiba-tiba dilihatnya mata Samparan yang tenang itu, membasah. Lalu kata-katanya terputus-putus.
 “Jadi ... inikah pahlawan itu? Berbahagialah aku dapat bertemu dengan Tuan. Nah, Tuan Rangga Tohdjaja, mudah-mudahan usahaku yang kecil ini dapat mengurangi dosaku.
Akhirnya hendaklah tuanku ketahui, bahwa Pasingsingan berpendirian, apabila keturunan dari kedua pusaka itu saja mempunyai kasiat yang demikian, apalagi pusaka-pusaka aslinya.”
 Sejenak kemudian wajah Samparan menjadi semakin tegang. Beberapa kali ia berusaha
menguasai jalan pernafasannya. Tetapi bagaimanapun, keadaannya bertambah parah.
Darah masih mengalir dari lukanya.
 Tiba-tiba sebagai seorang tabib, tersadarlah Ki Asem Gede bahwa ia harus bertindak
secepatnya untuk menyelamatkan jiwa Samparan, sampai kemungkinan yang terakhir.
 “Adi Mantingan, marilah kita angkat Samparan ini ke Gandok Wetan. Barangkali ada
suatu cara untuk mengobatinya,” kata Ki Asem Gede kepada Mantingan.
 Mendengar kata-kata itu, segera Mantingan bangkit dan siap bersama-sama Ki Asem
Gede mengangkat Samparan.
 Dengan senyuman yang sayu, Samparan berbisik perlahan. “Terimakasih Ki Asem Gede.
Tetapi masih ada suatu rahasia lagi yang perlu Tuan ketahui, Rangga Tohjaja. Besok
pada bulan terakhir tahun ini, akan ada suatu pertemuan para sakti dari aliran hitam untuk
menilai ilmu masing-masing, dan sekaligus mencari seorang tokoh sebagai pemimpin mereka. Kecuali kalau sebelum itu seseorang diantara mereka dapat membuktikan bahwa
ia telah memiliki pusaka-pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten. Dalam hal ini maka mereka
hanya akan menentukan urutan hak saudara tua dari setiap gerombolan.”
 Kemudian denyut jantung Samparan turun dengan cepatnya. Wajahnyapun menjadi
semakin pucat. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk melanjutkan ceritanya.
 “Bulan terakhir tahun ini, tepat pada saat purnama naik, di lembah Tanah Rawa-rawa,
akan hadir dalam pertemuan itu antara lain Lawa Ijo dari Mentaok. Sepasang Uling dari
Rawa Pening sebagai tuan rumah, yaitu Uling Kuning dan Uling Putih. Suami-istri Sima
Rodra dari Gunung Tidar, Djaka Soka, Bajak Laut yang berwajah tampan dari
Nusakambangan, yang mendapat julukan Ular Laut.”
 Sebenarnya Samparan masih akan berkata menyebut beberapa nama lagi, tetapi ia sudah
terlalu lemah.
 “Sudahlah Samparan. Jangan pikirkan semua itu. Tenangkanlah dan beristirahatlah,”
potong Ki Asem Gede.
 Samparan tersenyum buat terakhir kalinya. Ia menarik nafas panjang, dan sesudah itu
terhentilah denyut jantungnya. Mereka yang menyaksikannya, untuk sesaat menundukkan
kepala masing-masing dengan rasa haru.
 Perlahan-lahan tubuh itu kemudian diangkat dan diletakkan di atas bale-bale di Gandok
Wetan. Tetapi wajahnya sekarang tidak lagi membayangkan kejahatan seperti yang
pernah dilakukan semasa hidupnya. Wajah itu kini bagaikan kotak kaca yang sudah
dibersihkan isinya dari kotoran-kotoran yang semula memenuhinya.
 Kemudian Ki Asem Gede segera memanggil beberapa orang pelayan dan murid-murid
Wirasaba. Mereka diminta merawat mayat Samparan. Mayat seorang yang pernah
menggemparkan Pucangan dengan kejahatan-kejahatan. Selain itu, kepada murid-murid
Wirasaba bahkan kepada Nyi Wirasaba, Ki Asem Gede minta supaya tidak mengatakan
suatu apapun tentang peristiwa Samparan dan kawan-kawannya kepada Ki Wirasaba.
 Maka, Samparan adalah satu-satunya diantara kelima orang gerombolannya yang
mendapat penghormatan terakhir pada saat penguburannya. Pengorbanan Samparan
sebagai penebus dosa tidaklah sia-sia. Untuk beberapa lama Ki Wirasaba dapat
menikmati ketenteraman hidupnya kembali di samping istrinya yang setia.
 Pada malam setelah semua peristiwa itu terjadi, Mantingan dan Mahesa Jenar diminta
untuk tinggal di rumah Ki Wirasaba bersama-sama Ki Asem Gede. Tetapi untuk
menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan salah faham, maka sengaja Mantingan dan
Mahesa Jenar tidak banyak bercakap-cakap dengan Ki Wirasaba. Hanya dalam
kesempatan itu, ketika mereka duduk-duduk bertiga, Mahesa Jenar, Ki Dalang Mantingan
dan Ki Asem Gede, berceriteralah orang itu, tentang sebab-sebabnya Ki Wirasaba
menjadi lumpuh.  “Wirasaba adalah seorang pilihan dalam kalangannya. Yaitu para penggembala. Ia
mendapat gelar Seruling Gading karena kepandaiannya meniup seruling. Pada usia yang
masih sangat muda, ia mulai dengan perantauannya dari satu daerah ke daerah yang lain
untuk menuruti keinginannya yang melonjak-lonjak di dalam dadanya. Ia sebenarnya
berasal dari Karang Pandan, di kaki Gunung Lawu. Sehingga pada suatu saat sampailah
ia ke Prambanan. Kedatangannya bagiku sangat menguntungkan. Sebab pada saat itu aku
sedang dibingungkan oleh sebuah lamaran yang mengerikan. Anakku, istri Wirasaba itu,
pada saat itu sedang menerima lamaran dari seorang yang sangat ditakuti di daerah kami.
 Tetapi orang itu bukanlah orang baik-baik. Adatnya sangat kasar dan angkuh. Sehingga
anakku bersumpah di hadapanku, kalau terpaksa ia harus menjalani perkawinan itu,
berarti bahwa hidupnya harus diakhiri,” cerita Ki Asem Gede.
 “Kehadiran Wirasaba merupakan angin baru bagi anakku. Perkenalan mereka semakin
lama menjadi semakin erat. Sebagai orang tua aku segera mengetahui bahwa hati mereka
terjalin. Pradangsa, orang yang ingin mengawini anakku itu, melihat hubungan yang
semakin erat itu. Ia menjadi marah bukan kepalang. Sebagai seorang yang merasa dirinya
tak terkalahkan, ia berusaha menyelesaikan persoalan itu dengan caranya. Ditantangnya
Wirasaba untuk berkelahi. Aku yang belum mengetahui tingkat ilmu yang dimiliki oleh
Wirasaba, menjadi cemas. Tetapi Wirasaba sendiri menerima tantangan itu dengan
senang hati,” lanjut Ki Asem Gede.
 Pada suatu hari yang telah ditentukan, dilangsungkanlah pertemuan itu di atas sebuah
gundukan pasir di pinggir sungai Opak. Aku yang selalu kecemasan, memerlukan dengan
diam-diam berusaha untuk dapat mengikuti pertemuan yang tidak menyenangkan itu.
 Yang mula-mula datang ke tempat itu adalah Wirasaba, tepat pada saat warna merah di
langit yang terakhir terbenam ke dalam warna kelam. Rupanya sengaja ia datang lebih
awal untuk mengetahui keadaan tempat itu.
 Setelah beberapa saat ia mengamati tempat itu sejengkal demi sejengkal, maka duduklah
Wirasaba di atas sebuah batu di tepi sungai yang mengalirkan airnya yang jernih. Dari
dalam bajunya dikeluarkannya sebuah seruling yang terbuat dari pring gadhing. Sambil
menunggu kedatangan lawannya, ia mulai berlagu dengan serulingnya itu.
 “Baru sekali itu aku mendengar Wirasaba meniup serulingnya. Dan memang sudah
sewajarnyalah kalau ia mendapat sebutan Seruling Gading,” kata Ki Asem Gede.
 Mula-mula serulingnya itu membawakan lagu yang sejuk menyongsong datangnya
bulan. Nadanya seperti silirnya angin senja. Kemudian lagu itu menurun makin dalam,
tetapi sesaat kemudian melonjak riang, seriang wajah gadis yang menyongsong
datangnya kekasih. Sesaat kemudian berubahlah lagu Wirasaba mendendangkan kisah
cinta. Sambil menatap wajah bulan, ia berlagu dengan lembutnya.
 Tetapi sebentar kemudian ia meloncat berdiri. Sedang serulingnya masih saja berlagu. Dipandangnya tenang-tenang Candi Jonggrang sebagai lambang keagungan cinta yang
tiada taranya. Kesanggupan Yang Maha Besar, yang dilahirkan karena cinta. Candi
Jonggrang yang mengagumkan itu dapat diciptakan hanya dalam waktu satu malam,
sebagai suatu usaha raksasa untuk memenuhi tuntutan cinta.
 Wirasaba sebagai lazimnya penggembala, tiada dapat terpisah dari serulingnya. Sahabat
pada saat-saat sepi, pada saat-saat binatang gembalanya asyik bermain di padang rumput.
Karena itulah maka setiap lagu yang dipancarkan dari serulingnya, selalu melukiskan
kisah yang terjalin di hatinya.
 Sebagai seorang yang hidup bebas di padang-padang terbuka, dalam berlagu pun
Wirasaba ternyata tidak mau terikat pada gending-gending yang sudah ada. Lagunya
menjangkau jauh melampaui batas gending-gending yang dirasanya terlalu miskin untuk
mengungkapkan seluruh perasaannya. Karena itu lagunya bebas terlontar tanpa ikatan.
Namun demikian dapat melukiskan segenap warna dalam jiwanya.
 Tetapi, ketika ia sedang asyik tenggelam dalam lagunya, tiba-tiba terdengarlah suara
tertawa yang merobek-robek kekhusukan lagu yang hampir sampai ke puncak
keindahannya.
 “Aku segera mengenal suara itu. Suara Pradangsa. Kali ini rupanya ia ingin
memperlihatkan kesaktiannya dengan menyalurkannya lewat suara tertawanya yang
mengerikan. Cepat-cepat aku berusaha untuk tidak hanyut ke dalam pengaruhnya. Tetapi
disamping itu aku pun menjadi cemas kembali. Wirasaba memang seorang ahli meniup
seruling. Tetapi Pradangsa bukanlah seorang penggemar lagu. Ia adalah seorang yang
kasar dan hanya dapat menghargai kekuatan tenaga. Bukan kemesraan dan kelembutan.”
 Ki Asem Gede melanjutkan ceritanya.
 "Apalagi ternyata suara tertawa itu tidak segera berhenti. Tetapi gelombang demi
gelombang terdengar seperti susul-menyusul. Seperti datangnya ombak lautan segulung
demi segulung menghantam tebing."
 “Dalam kecemasanku itu, tiba-tiba aku dikejutkan lagi oleh suara seruling Wirasaba.
Tetapi setelah itu aku menjadi bersyukur. Bahkan aku menjadi berbangga hati. Suara
seruling yang mesra lembut itu segera berubah melengking tajam. Kemudian Wirasaba
berteriak penuh kemarahan karena cintanya terganggu. Yang sama sekali tak aku duga,
adalah bahwa kemarahan Wirasaba yang dilontarkan lewat nada-nada serulingnya itu pun
ternyata mengandung pengaruh yang luar biasa pula. Maka kemudian seakan-akan
terjadilah benturan dahsyat antara suara tertawa Pradangsa dengan nada-nada seruling.
Wirasaba yang sebentar melonjak, naik tajam, dan kemudian turun menukik kembali, lalu
menggelegar seperti guruh yang dengan penuh kemarahan menghantam gunung,” cerita
Ki asem Gede.
 Karena benturan itulah maka seolah-olah tercapailah suatu keseimbangan, sehingga
kedua suara itu semakin lama semakin lirih ... semakin lirih. Bahkan akhirnya keduanya berhenti dengan sendirinya.
 Tepat pada saat suara itu berhenti, meloncatlah sebuah bayangan dari seberang, dengan
tangkasnya dari batu ke batu menyeberangi sungai Opak. Dari geraknya yang cepat dan
tangkas, sudah dapat dikira sampai dimana kekuatan tenaganya.
 Belum lagi Pradangsa menjejakkan kakinya di tepian, mulutnya sudah mendahului
berteriak dengan suara gunturnya.
 “Hai anak cengeng. Rupanya kau hanya mampu menjadi seorang penipu seruling. Itu
saja kau hanya bisa membawakan lagu-lagu cengeng seperti apa yang baru saja kau
lagukan.”
 Wirasaba adalah seorang yang tinggi hati. Mendengar dirinya disebut anak cengeng,
segera bangkitlah kesombongannya.
 “Memang, aku hanya mampu melagukan lagu-lagu cengeng. Lagu-lagu cinta dan kasih.
Tetapi aku adalah orang yang tahu diri. Sekali dua kali aku pernah bercermin, meskipun
hanya di permukaan air. Maka sadarlah aku bahwa wajahku jauh lebih tampan daripada
wajahmu yang kasar itu. Karena itulah aku berhak melagukan lagu cinta dan kasih. Tidak
saja lagu maut seperti yang kau miliki satu-satunya.”
 Pradangsa adalah seorang yang kasar dan sombong. Ia tidak pernah menerima hinaan
yang sampai sedemikian. Karena itu segera darahnya naik ke kepala.
 “Setan! Aku tidak pernah menyesal bahwa wajahku kasar dan jelek. Tetapi dengan
tenaga yang aku miliki, aku mampu berbuat apapun. Aku mampu memperistri setiap
perempuan yang aku kehendaki. Nah, kau sekarang mencoba mengganggu kebiasaanku
itu. Karena itu bersediakah untuk mati?” jawab Pradangsa.
 Wirasaba tidak mau banyak bicara lagi. Diselipkannya seruling pring gadingnya ke
dalam bajunya.
 “Kau hanya mau berbicara saja?” potongnya.
 Pradangsa bergumam di dalam mulutnya, dan kemudian kembali ia tertawa nyaring.
Tetapi suara tertawanya terputus ketika Wirasaba membentak.
 “Aku tidak banyak waktu, bersiaplah.”
 Pradangsapun rupanya juga menganggap bahwa waktunya telah tiba. Karena itu ia pun
segera bersiap. Dengan tidak banyak lagi persoalan, segera mereka terlibat dalam sebuah
perkelahian. Dalam bagian permulaan nampak bahwa Wirasaba dapat melayani
Pradangsa dengan baik, seperti suara serulingnya yang mengimbangi suara tertawa
lawannya. Geraknya cukup cekatan. Tetapi yang masih meragukan, apakah ia dapat
mengimbangi perkelahian ini?  Pradangsa hampir tidak pernah menghindarkan diri dari setiap serangan. Setiap serangan itu selalu dibenturnya dengan serangan pula, sebab ia sangat percaya pada kekuatannya, demikian pula agaknya pada saat itu.
 Pradangsa sama sekali tidak menghindarkan diri ketika Wirasaba menyerangnya dengan
dahsyat. Rupanya Pradangsa mengira bahwa Wirasaba hanya mampu meniup serulingnya
saja. Memang bentuk tubuh Wirasaba tidaklah sebesar Pradangsa. Tetapi apa yang telah
terjadi?
 Saat itu, ketika Pradangsa membalas serangan Wirasaba yang dahsyat, ternyata dalam
tubuh Wirasaba yang tidak sebesar lawannya itu tersimpan suatu tenaga yang hebat
sekali, yang sama sekali tak diduga oleh Pradangsa. Sedangkan Pradangsa sendiri adalah
seorang yang memiliki tenaga raksasa pula.
 Tetapi ternyata, Wirasaba yang telah sekian kali merantau, menjelajahi beberapa daerah,
memiliki pengalaman yang lebih banyak. Sedangkan Pradangsa hanyalah seorang tokoh
lokal yang telah mencapai puncak kekuatannya. Ia sudah merasa tak terkalahkan.
Memang Pradangsa adalah seorang kuat atas pemberian alam.
 Maka ketika terjadi benturan itu, tampaklah betapa picik pengetahuan Pradangsa. Ia
hanya memusatkan tenaga serta perhatiannya pada kedua belah tangannya. Dengan
sepenuh tenaga yang ada padanya menghantam tangan Wirasaba yang menyerang
dadanya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa pada sekejap sebelum benturan itu terjadi,
Wirasaba mengubah serangannya dengan menarik tangan kirinya. Ketika tangan
kanannya membentur tangan Pradangsa, ibu jari tangan kirinya sempat mengetuk leher
Pradangsa.
 Akibat benturan itu pun sangat hebat sekali. Bagaimanapun uletnya Wirasaba, ia tergetar
surut. Demikian juga Pradangsa, terdorong mundur. Karena ketukan jari pada lehernya,
Pradangsa merasa bahwa nafasnya menjadi sesak. Inilah sumber kekalahan Pradangsa.
Sebab dalam perkelahian seterusnya, Pradangsa selalu diganggu oleh peredaran nafasnya
yang semakin lama terasa semakin sesak dan sakit.
 Meskipun demikian, pertempuran itu masih juga berlangsung lama. Mereka tampaknya
seperti dua ekor ular yang saling berlilitan dan timbul-tenggelam diantara lawannya.
 Tetapi sampai sekian, kepastian dari akhir pertempuran itu sudah jelas. Sebab Wirasaba
jauh berpengalaman. Apalagi ia bertempur tidak saja dengan tenaganya, tetapi juga
dengan otaknya. Sedangkan Pradangsa hanyalah mirip seekor babi yang terlalu percaya
pada kekuatannya. Meskipun ia memiliki kelincahan, namun dalam beberapa saat
kemudian ia sudah benar-benar dikuasai oleh serangan-serangan Wirasaba yang menjadi
semakin keras. Akhirnya Pradangsa menjadi semakin terdesak. Dan tampaklah bahwa
pertempuran itu sudah hampir selesai.
 Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal yang sangat mengejutkan. Ketika Pradangsa merasa bahwa ia tidak mampu mengalahkan lawannya, dilakukannya suatu kelicikan. Tangannya
tiba-tiba menggenggam potongan-potongan besi lembut dari kantongnya, yang kemudian
dilemparkan ke arah Wirasaba. Tampaklah betapa terkejutnya Wirasaba.
 Potongan-potongan besi itu bertebaran mengarah hampir ke segenap bagian tubuhnya.
 Untunglah bahwa Wirasaba berpikir cepat. Dengan tangkasnya ia meloncat tinggi-tinggi.
Namun tindakannya itu tidak dapat menyelamatkan seluruh tubuhnya. Beberapa potong
besi itu masih juga mengenai kakinya. Akibatnya hebat sekali. Waktu ia terjun kembali,
ternyata ia sudah tidak dapat tegak lagi di atas kedua kakinya yang luka-luka. Mengalami
peristiwa itu, Wirasaba menjadi marah sekali. Ia menjerit nyaring.
 Tiba-tiba saja tangannya sudah menggenggam sebuah kapak kecil, suatu jenis senjata
yang digemari. Dengan penuh kemarahan kapak kecil itu dilemparkannya ke arah
lawannya. Demikian kerasnya lemparan itu, sehingga yang tampak hanyalah seleretan
sinar yang menyambar dada Pradangsa, yang kemudian disusul sebuah jerit ngeri dan
suara tubuh Pradangsa yang terbanting jatuh, untuk tidak bangun kembali.
 Ki Asem Gede berhenti. Beberapa kali ia menelan ludah. Agaknya ia menjadi haus
setelah berceritera demikian panjangnya. Meskipun demikian ia masih meneruskan
ceritanya.
 ”Pada saat itulah aku berlari-lari kepada Wirasaba yang masih terduduk di tanah.
Wirasaba terkejut melihat kedatanganku. Ia mengangguk hormat meskipun sambil
menyeringai kesakitan. Tetapi aku tidak sempat membalasnya. Perhatianku hanya
terpusat pada kakinya. Aku mempunyai dugaan bahwa potongan-potongan besi itu
berbisa. Sebab seorang seperti Pradangsa itu tidak mustahil berbuat demikian. Dan
dugaanku itu benar. Ketika luka-luka itu aku teliti, ternyata tak mengeluarkan darah
setetes pun. Maka cepat-cepat aku suruh Wirasaba menelan ramuan-ramuan obat pelawan
bisa. Tetapi hasilnya tidak seperti yang aku harapkan.”
 "Biasanya," lanjut Ki Asem Gede, setiap luka yang mengandung bisa, setelah menelan
ramuan obatku itu segera mengeluarkan darah yang berwarna kebiru-biruan. Ramuan itu
juga menghanyutkan segala racun yang telah menyusup ke dalam darah daging. Tetapi
tidak demikianlah kaki Wirasaba itu. Luka-luka di kakinya tetap tidak mengalirkan darah.
 Bahkan di sekitar luka itu tumbuhlah bengkak-bengkak. Maka dapatlah aku mengambil
kesimpulan bahwa bisa yang dipergunakan oleh Pradangsa adalah bisa yang keras sekali.
 ”Karena itu aku tidak berani memperpanjang waktu. Ramuan obat yang aku berikan
hanya sekadar menahan bisa itu saja. Tetapi karena kaki Wirasaba kedua-duanya hampir
tak dapat lagi dipergunakan, terpaksa aku memapahnya,” ujar Ki Asem Gede.
 ”Baru ketika sampai di rumah, di bawah cahaya lampu, aku dapat mengetahui dengan
pasti bahwa potongan-potongan besi itu direndam dalam ramuan warangan yang kuat
sekali. Aku mempunyai dugaan bahwa warangan itu dicampur dengan bisa sejenis laba-laba hijau yang terdapat di hutan Tambak Baya,” tambahnya.
 Meskipun Ki Asem Gede sudah berusaha keras sebagai seorang tabib, tetapi sama sekali
tak berhasil melawan bisa itu. Yang dapat dilakukan hanyalah membatasi menjalarnya
racun itu ke bagian tubuh yang lain.
 ”Itulah Anakmas Mahesa Jenar dan Adi Mantingan, sebab-sebab yang menimbulkan
cacat pada Wirasaba. Tetapi hal yang membesarkan hatiku adalah, bahwa anakku tetap
setia pada janjinya, meskipun laki-laki yang dikaguminya itu telah cacat. Sehingga
perkawinan mereka pun dapat dilangsungkan,” jelas Ki Asem Gede.
 Ki Asem Gede mengakhiri ceriteranya dengan suatu tarikan nafas yang dalam.
 Seolah-olah sesuatu yang menyumbat hatinya kini telah terlontar keluar. Meskipun
demikian nampak juga suatu perasaan kecewa yang tersirat di wajahnya.
 Sebagai seorang tabib kenamaan, Ki Asem Gede merasa mendapat suatu peringatan
langsung dari Sang Pencipta, bahwa bagaimanapun usaha anak manusia, namun
keputusan terakhir berada di tangan-Nya. Sudah beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang
yang ditolongnya, diobati dan disembuhkan. Namun terhadap sakit menantunya sendiri,
yang bergaul hampir setiap hari, ia tak mampu berbuat apa-apa.
 ”Tak adakah obat yang dapat menyembuhkannya?” tanya Mahesa Jenar.
 ”Tidak ada,” jawab Ki Asem Gede. Mata Ki Asem Gede jadi suram dan gelisah.
 ”Bahkan obat yang aku berikan itu pun tak dapat menanggulangi sepenuh-penuhnya.
Mungkin bisa itu tak menjalar ke bagian tubuh yang lain, tetapi pada bagian yang terluka
bisa itu seperti api yang tersimpan di dalam sekam. Sedikit demi sedikit membunuh
setiap bagian tubuh di sekitar luka itu,” lanjutnya.
 Ki Asem Gede terdiam sebentar.Seperti orang yang terbangun dari tidur, dan tiba-tiba ia
berkata,
 ”Ada Anakmas ..., ada.”
 ”Ada?” ulang Mahesa Jenar dan Mantingan berbareng.
 Namun kemudian tampaknya Ki Asem Gede menjadi kendor kembali.
 “Ada Anakmas, tetapi aku kira obat itu tidak dapat diketemukan.”
 “Sudahkah Bapak berusaha?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.
 Ki Asem Gede menggelengkan kepalanya.  “Mustahil ..., mustahil,” desisnya.
 “Katakanlah Ki Asem Gede, mungkin di antara kami ada yang pernah mendengar atau
melihatnya,” desak Mahesa Jenar.
 Ki Asem Gede tampak ragu-ragu sebentar, tetapi akhirnya ia berkata.
 “Anakmas, memang ada obat untuk melawan bisa yang bagaimanapun kerasnya. Tetapi
obat itu hampir hanyalah merupakan dongeng belaka.”
 Mahesa Jenar dan Mantingan mengerutkan keningnya bersama-sama seperti berjanji.
Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar bertanya.
 “Kenapa Ki Asem Gede? Apakah obat itu terlalu sulit untuk didapatkan?”
 “Anakmas benar. Sebab obat yang dapat melawan segala bisa itu, sepengetahuanku
adalah bisa Ular Gundala,” sahut Ki Asem Gede sambil mengangguk.
 “Ular Gundala?” ulang Mahesa Jenar.
 “Aku pernah mendengar nama ular itu,” sela Mantingan.
 “Ya, ular Gundala,” tegas Ki Asem Gede. “Ada dua macam ular Gundala. Yaitu ular
Gundala Seta dan Ular Gundala Wereng. Kedua-duanya mempunyai jenis bisa yang tak
terlawan. Tetapi kedua-duanya mempunyai sifat yang berlawanan. Bisa ular Gundala
Wereng, bekerja seperti pada umumnya bisa, meskipun ketajamannya berlipat-lipat.
Tetapi bisa ular Gundala Putih bekerja sebaliknya. Kalau kedua jenis ular bisa itu
berbenturan maka akhirnya akan menjadi tawar. Karena itulah maka bisa ular Gundala
Putih-lah yang dapat menjadi obat yang sangat mujarab untuk menawarkan segala
macam bisa, meskipun kalau bisa itu berdiri sendiri akan mempunyai akibat yang
berbeda.”
 “Itu adalah pengertian secara umum saja. Sebab disamping itu masih ada sebab-sebab
lain, kenapa bisa ular Gundala itu sedemikian ampuhnya. Menurut ceritera, ular Gundala
adalah semacam senjata dari para Dewa. Ular Gundala Wereng adalah senjata dari Sang
Batara Kala, sedangkan ular Gundala Seta adalah senjata Batara Wisnu.
 Kalau senjata-senjata itu sedang dipergunakan, maka memancarlah bunga-bunga api di
udara. Kalau sinarnya putih kebiru-biruan, itulah pancaran dari ular Gundala Seta, senjata
Wisnu. Sedangkan ular Gundala Wereng memancarkan cahaya merah membara agak
kehitam-hitaman,” jelas Ki Asem Gede.
 Wajah Ki Asem Gede masih membayangkan kekecewaan. Bahkan mendekati putus asa.
Tetapi ketika Mahesa Jenar mendengar ceritera ini, ia menjadi teringat kepada sahabat
karibnya semasa mereka masih muda. Pada saat mereka baru menginjak ambang pintu
kedewasaan. Yaitu seorang yang kemudian terkenal bergelar Ki Ageng Sela, yang pada masa anak-anaknya bernama Anis atau beberapa orang memanggilnya Nis dari Sela.
 Sela adalah seorang yang luar biasa. Geraknya cepat melampaui kilat. Bahkan sampai
beberapa orang mengatakan bahwa ia mewarisi kecepatan bergerak ayahnya yang juga
bergelar Ki Ageng Sela, yang menurut ceritera dapat menangkap petir.
 Pada suatu kali, ketika Ki Ageng Sela sedang menyepi di tepi sendang Jalatunda, tibatiba ia disambar oleh semacam sinar putih kebiru-biruan. Untunglah bahwa ia dapat
bergerak cepat luar biasa, sehingga ia dapat menghindari sambaran sinar itu. Bahkan ia
masih juga sempat menangkapnya.
 Tetapi demikian tangannya menyentuh benda itu, terkejutlah ia bukan kepalang. Sebab
pada saat itu tangannya terasa telah menangkap seekor binatang yang bulat panjang.
 Untunglah bahwa sebelumnya ia pernah mendengar ceritera tentang seekor ular yang
pandai terbang dan bercahaya. Ular yang diceriterakan menjadi penggembala hujan.
Maka secepat kilat benda yang ditangkapnya itu sebelum sempat menggigitnya,
dibantingnya ke tanah.
 Adalah suatu keuntungan bahwa binatang itu tidak dihantamkan pada sebatang pohon
atau batu. Sebab kalau demikian, binatang itu pasti akan remuk. Saat itu, ia dapatkan
binatang itu masih utuh, meskipun terbenam lebih dari sejengkal ke dalam tanah.
 Kemudian bangkai ular itu diambilnya. Ternyata ular itu adalah seekor ular yang aneh.
 Panjangnya dibanding dengan besarnya dapat dikatakan terlalu pendek. Sisiknya
berwarna putih mengkilap agak kebiru-biruan. Pada bagian kepalanya tergoreslah
semacam lukisan jamang, sedangkan pada ujung ekornya melingkarlah warna kuning
keemasan.
 Ketika ular aneh itu dibawa pulang, terlihatlah binatang itu oleh Ki Ageng Warana.
Melihat bangkai ular itu, Ki Ageng Warana terperanjat, apalagi ketika ia mendapat
keterangan dari Sela. Maka segera orang tua itu minta izin kepada Sela untuk mengambil
bisanya.
 Sela yang menganggap binatang itu hanya sebagai barang yang aneh, sama sekali tidak
keberatan. Ia tidak mengira kalau karena itu ia mendapat semacam obat yang tak ada
bandingnya. Obat penawar segala macam bisa yang bagaimanapun tajamnya. Racun dari
bisa binatang maupun tumbuh-tumbuhan.
 Oleh Ki Ageng Warana, binatang itu diperas bisanya. Dengan mempergunakan
keahliannya, ia dapat menampung bisa itu. Kemudian dengan berbagai ramuan, bisa itu
berhasil dipadatkan. Tetapi hanya tinggal kecil sekali, hanya kira-kira sebesar biji kacang
tanah. Biji sari bisa ular ajaib itu dihadiahkan kepada Ki Ageng Sela. Meskipun Ki
Ageng Warana minta sebagian kecil, Ki Ageng Sela pun sama sekali tidak keberatan.  Dengan biji bisa itu, Ki Ageng Warana telah membebaskan dirinya sendiri dari berbagai
macam bisa. Juga Ki Ageng Sela dan bahkan Mahesa Jenar sebagai seorang sahabat karib
Nis dari Sela, mendapat kesempatan untuk menikmati kasiatnya pula.
 Oleh Ki Ageng Warana, biji bisa ular itu direndamnya dalam air, yang kemudian dengan
mempergunakan duri yang telah direndam di dalam air itu, untuk menusuk simpul-simpul
jalan darah. Dengan demikian, mereka tawar dari segala macam bisa.
 Mahesa Jenar sebagai sahabat paling dekat Ki Ageng Sela, tidak hanya mendapat
kesempatan membebaskan diri dari segala pengaruh bisa dan racun, tetapi ia juga
mendapat hadiah dari sahabatnya, sebagian dari biji bisa itu.
 Maka, diceriterakannya semua itu kepada Ki Asem Gede. Tentang ular yang bersinar
putih kebiru-biruan serta tentang biji bisa Ular itu. Barangkali biji bisa itu dapat
dipergunakan untuk mengobati kaki Wirasaba sebagaimana bisa ular Gundala Seta.
 Ki Asem Gede dan Mantingan mendengar ceritera itu dengan penuh perhatian. Wajah Ki
Asem Gede sebentar tampak berkerut, sebentar terkejut, kemudian sebentar menjadi
cerah, untuk seterusnya muram kembali. Tetapi kemudian tiba-tiba jadi bersinar terang.
 "Anakmas," kata Ki Asem Gede kemudian setelah Mahesa Jenar selesai berceritera,
 "Ki Ageng Warana adalah raja dari segala tabib. Sayang aku sampai sekarang belum
pernah berkesempatan bertemu dengan beliau. Sebab beliau adalah seorang yang aneh.
Sebentar nampak, sebentar menghilang. Berbahagialah anakmas Nis dari Sela dapat
bertemu dengan orang tua yang aneh itu. Dan berbahagia pulalah Anakmas Mahesa Jenar
bersahabat dengan Anakmas Sela. Sebab menurut ciri-ciri yang Anakmas ceriterakan itu,
ular yang menyambar demikianlah yang bernama ular Gundala."
 “Tetapi Ki Ageng Warana tidak menamakan ular itu ular Gundala, tetapi disebutnya ular
Gundala seta.” Mahesa Jenar menjelaskan.
 Tiba-tiba cahaya mata Ki Asem Gede menjadi cerah secerah matahari pagi yang
memercik diatas rumput-rumput hijau.
 “Ya itulah Anakmas.... Memang terdapat beberapa dongeng mengenai ular ajaib
itu.Sebagai senjata dewa-dewa, ia disebut Ular Gundala. Tetapi sebagai penggembala air
dilangit ia disebut ular Candrasa Seta,” katanya hampir berteriak.
 Kemudian Mahesa Jenar mengambil sebuah tabung bambu kecil yang diikatkan di
bagian dalam pakaiannya. Tetapi meskipun obat itu tak pernah terpisah dari tubuhnya,
bahkan ia pernah mendapat tusukan di simpul jalan darahnya oleh Ki Ageng Warana,
namun ia masih belum pernah melihat bukti kasiatnya.
 Ki Asem Gede menerima benda itu dengan dada berdebar. Diamat-amatinya benda itu
dengan saksama.  “Anakmas Mahesa Jenar, marilah kita lihat kasiat benda ini,”
 Katanya. Kemudian Ki Asem Gedepun segera mengambil sebuah cawan tembikar dan
bumbung berisi bisa. Segera biji bisa ular itu direndamnya di dalam air, lalu
diteteskannya bisa dari dalam bumbungnya ke dalam air rendaman itu, setelah biji
bisanya disisihkan kedalam tempat yang lain.
 Apa yang terjadi sangatlah mengejutkan. Air di dalam cawan itu menjadi seakan-akan
menggelegak dan mendidih. Maka setelah timbul beberapa gumpal asap, air di dalam
cawan itu menjadi surut. Akhirnya sesaat kemudian air itu menjadi tenang kembali.
 Semuanya memandang peristiwa itu tanpa berkedip. Kemudian berkatalah Ki Asem
Gede,
 “Ini adalah suatu benturan langsung antara dua jenis bisa tanpa perantara. Maksudnya
adalah, bahwa kedua jenis bisa itu tidak bekerja atas sesuatu zat, misalnya yang satu
membekukan sedang yang lain mencairkan darah. Dan anakmas dapat menyaksikan
sendiri betapa hebatnya bisa Ular Gundala atau Candrasa itu.”
 Mahesa jenar termenung sejenak. Lalu katanya.
 “Kalau begitu, dapatkah Ki Asem Gede mengobati kaki kakang Wirasaba?”
 “Akan aku coba, tetapi harus perlahan-lahan. Sebab bisa di dalam tubuh Wirasaba telah
bekerja terlalu lama. Kalau tubuhnya itu tidak mempunyai daya tahan yang luar biasa, ia
telah lama binasa. Karena itu aku tidak berani mengobatinya sekaligus. Benturan yang
berlebihan di dalam tubuhnya antara dua jenis bisa itu akan dapat membunuhnya. Dan
untuk itu akan memerlukan waktu,” jawab Ki Asem Gede.
 Akhirnya Ki Asem Gede minta kepada Mahesa Jenar untuk diizinkan meminjam biji
bisa itu. Ia akan mencoba sedikit demi sedikit mengobati kaki Wirasaba yang bertahuntahun tak dapat dipergunakan.
 Sementara itu malam menjadi semakin dalam. Bunyi jangkrik terdengar saling
bersahutan dengan kemersik daun yang digerakkan oleh angin malam sejuk. Sementara
itu, Ki Asem Gede atas nama anak menantunya mempersilahkan kedua tamunya itu
untuk beristirahat.
 Tetapi malam itu Mahesa Jenar sama sekali tidak berhasrat untuk tidur. Ketika ia sudah
membaringkan dirinya, teringatlah kembali semua peristiwa yang dialaminya pada harihari terakhir. Maka barulah terasa penat-penat di bagian-bagian anggota badannya.
 Selain itu terngianglah kembali semua ceritera Samparan pada saat terakhir sebelum
menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Tentang Lawa Ijo, tentang pertemuan yang
akan diadakan oleh golongan hitam, tentang pusaka-pusaka Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten, dan tentang seorang yang disebut oleh Samparan bernama Pasingsingan. Semuanya
itu masing-masing bagi Mahesa Jenar memerlukan perhatian-perhatian khusus.
 Sebenarnya kalau Lawa Ijo atas petunjuk Pasingsingan ingin mendapat pusaka Kiai
Nagasasra dan Sabuk Inten dengan memasuki Gedung Perbendaharaan Istana, ia pasti
akan kecewa. Sebab kedua pusaka itu sedang jengkar meninggalkan tempat
penyimpanannya. Tak seorang pun yang mengetahui, kemana perginya dan siapa yang
membawanya.
 Sedangkan kepada Pasingsingan sendiri, Mahesa Jenar tak habis-habis heran. Bahkan
hampir tak masuk akal, kalau sampai Pasingsingan mempunyai seorang murid semacam
Lawa Ijo. Mengenai pertemuan golongan hitam itu pun akan merupakan suatu peristiwa
yang cukup menarik.
 Kecuali itu, bila Lawa Ijo telah menyatakan diri untuk mengambil bagian dalam
pertemuan itu, pastilah bahwa pagi-pagi ia telah mempersiapkan diri. Ini berarti bahwa
Lawa Ijo selalu berusaha untuk memperdalam segala ilmunya sampai sedalam-dalamnya.
Apalagi di bawah asuhan seorang sakti yang bernama Pasingsingan.
 Lalu bagaimanakah dengan dirinya? Dengan terbunuhnya salah seorang anggota
gerombolan Lawa Ijo, bahkan saudara muda seperguruannya, berarti Mahesa Jenar sudah
berhadapan langsung dengan golongan itu. Golongan Lawa Ijo yang bersarang di hutan
Mentaok.
 Karena itulah maka Mahesa Jenar mulai menilai dirinya kembali. Sebenarnya ia tidak
ingin lagi mempergunakan tenaganya dan ilmu tata berkelahi yang pernah dipelajarinya
untuk memecahkan soal. Tetapi berhadapan dengan gerombolan Lawa Ijo, soalnya
menjadi lain. Terhadap gerombolan itu, dan gerombolan hitam umumnya, ia tak dapat
berbuat lain, kecuali harus mempersiapkan diri dalam keadaan siaga tempur.
 Maka, dengan tak sesadarnya Mahesa Jenar mengamat-amati tangannya dengan jarijarinya yang kokoh kuat. Telah berapa jiwa melayang karenanya, selama ia berusaha
menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Dan sekarang, tangan ini harus siap membunuh
pula, juga untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Bahkan alangkah menariknya
untuk mengetahui pula kejadian-kejadian dalam pertemuan yang akan diselenggarakan
oleh golongan hitam itu, pada saat purnama naik, bulan terakhir tahun ini.
 Maka dengan tidak sengaja pula, Mahesa Jenar bangkit dan berjalan mondar-mandir di
dalam ruangan itu. Malam sudah begitu dalam dan sepi. Kecuali suara-suara binatang
malam yang sekali-kali memecah sunyi.
 Pada saat yang demikian tiba-tiba saja timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mencoba
kembali kekuatan tenaganya. Mungkin akan berguna nanti. Kalau ada kesempatan,
bukankah suatu hal yang baik sekali untuk membinasakan segala tokoh-tokoh hitam pada
saat mereka berkumpul? Tetapi mereka pun bukanlah kumpulan anak-anak kecil yang
dapat ditakut-takuti oleh seekor anjing yang sedang menggonggong.  Belum lagi Mahesa Jenar mendapat sasaran untuk memulai, tiba-tiba didengarnya sayupsayup suara yang bergetar panjang, mendirikan bulu roma. Suara itu menggetarkan udara
seperti getaran gelombang pantai. Bagi penduduk Pucangan, suara itu memang sering
terdengar. Bahkan hampir setiap malam, apabila kademangan itu telah terbenam dalam
sunyi malam. Setiap penduduk kademangan yang mendengar suara mengerikan itu
tubuhnya tentu akan menggigil karenanya.
 Tetapi sebaliknya adalah Mahesa Jenar. Mendengar suara itu tiba-tiba timbullah
kegembiraannya. Dengan lincahnya ia segera meloncat turun ke halaman. Untuk
beberapa saat ia berdiri mendengarkan dari mana arah suara yang menggeletar itu.
Mahesa Jenar merasa bahwa ia akan mendapat kawan berlatih yang baik. Maka kemudian
dengan tidak berpikir panjang lagi. Segera ia meloncat dan seperti kilat berlari ke arah
suara yang menarik hati itu, agak jauh di luar pedesaan.
 Ketika sekali lagi suara itu terdengar semakin panjang, Mahesa Jenar menjadi bertambah
gembira, sehingga ia semakin mempercepat langkahnya. Tampaklah ia kemudian seperti
bayangan yang terbang dalam kegelapan. Setelah beberapa lama berlari, Mahesa Jenar
menghentikan langkahnya. Dari sinilah arah suara tadi terdengar. Dengan hati-hati dan
penuh kewaspadaan, ia mengamat-amati keadaan di sekitarnya, yang penuh semak-semak
dan rumput-rumput ilalang yang tumbuh liar.
 Tiba-tiba telinga Mahesa Jenar yang tajam menangkap suara berdesir dari dalam semaksemak itu. Cepat ia membalikkan diri ke arah suara itu, dan bersiaga. Apa yang dicari,
kini telah muncul dari balik batang-batang ilalang.
 Mahesa Jenar tersenyum, ketika dilihatnya seekor harimau loreng sangat besar, hampir
sebesar kerbau, memandangnya dengan keheran-heranan. Matanya yang kehijaua-hijauan
memancar seperti lentera yang menyorot kepadanya. Untuk beberapa saat harimau itu
berdiri mematung. Agaknya harimau itu heran, manusia manakah yang telah
mengantarkan dirinya sendiri untuk menjadi santapan malamnya.
 Ketika harimau itu perlahan-lahan maju ke depan, darah Mahesa Jenar berdesir juga.
Alangkah besar dan garangnya. Dan dengan tidak sesadarnya, kembali Mahesa Jenar
mengawasi tangannya serta jari-jarinya yang kokoh kuat.
 Pada telapak tangan Mahesa Jenar, seolah-olah terbayang apa yang pernah terjadi pada
saat terakhir, sebelum gurunya melenyapkan diri dan kemudian ternyata wafat. Pada saat
ia mendapat warisan ilmu yang sebenarnya sangat hebat. Suatu ilmu yang dapat
dikatakan tersimpan di tangan Mahesa Jenar. Sebab kalau ia ingin menerapkan ilmu itu,
haruslah dipergunakan sisi telapak tangannya.
 Meskipun pada dasarnya ilmu itu mempergunakan kekuatan jasmaniah, tetapi tidaklah
demikian seluruhnya. Bertahun-tahun Mahesa Jenar melatih diri meyakinkan ilmu itu,
yang mempergunakan unsur-unsur gerak pendahuluan 10 macam. Sebelum itu ia masih
harus membiasakan keadaan jasmaniahnya. Setiap pagi dan sore menghantamkan sisi telapak tangannya pada bermacam-macam benda. Dari pasir, kayu, sampai ke batu.
Sepuluh unsur gerak pendahuluan itu hanyalah sekadar patokan untuk menekan lawannya
sampai sedemikian rupa sehingga pada saat yang terakhir dimana keadaan sudah
memungkinkan, dilontarkanlah pukulan dengan sisi telapak tangan.
 Tetapi pukulan itu tidak akan memenuhi harapan, bila saat itu tidak dibarengi dengan
suatu kekuatan batin yang luar biasa besarnya, serta pemusatan tenaga. Inilah sebenarnya
yang sulit dilaksanakan. Untuk dapat melakukan ini semua, Mahesa Jenar harus bekerja
keras beberapa tahun lamanya.
 Latihan-latihan itulah yang sangat terasa berat. Pada taraf permulaan Mahesa Jenar harus
melatih mengatur pernafasan, kemudian pemusatan pikiran dan terakhir menggabungkan
segenap kekuatan lahir batin. Semua itu untuk disalurkan lewat sisi telapak tangannya.
 Dalam pelaksanaannya tidaklah mesti 10 unsur gerak itu dilakukan berurutan. Tetapi
unsur yang hanya sekadar merupakan patokan yang dapat dibolak-balik, diambil
beberapa bagiannya saja menurut kebutuhan. Bahkan dapat dimasuki dan digabungkan
dengan unsur-unsur gerak yang lain.
 Setelah Mahesa Jenar menjalani semua latihan-latihan itu, hasilnya sangat hebat. Tangan
Mahesa Jenar, bila dikehendaki seolah-olah dapat berubah menjadi palu besi yang sangat
berat.
 Tetapi meskipun demikian, sampai saat itu Mahesa Jenar belum pernah mempergunakan
ilmunya itu untuk melawan sesama manusia. Ia baru mencoba menghantam-hancurkan
kayu dan bahkan batu. Tetapi terhadap sesama manusia, Mahesa Jenar masih belum
sampai hati mempergunakannya. Sebab, akibatnya dapat dibayangkan.
 Namun sekarang Mahesa Jenar merasa berhadapan dengan lawan yang tak dapat
diabaikan. Apalagi Lawa Ijo adalah murid Pasingsingan. Lebih-lebih kalau Pasingsingan
sendiri ikut campur dalam urusan ini.
 Karena itu, Mahesa Jenar memutuskan, bahwa ia harus mempersiapkan ilmunya itu.
Ilmu yang pernah dipelajarinya dengan sungguh-sungguh dan bersusah payah.
 Sekarang, ia mendapat sasaran yang tepat. Seekor harimau loreng yang sangat besar
sekali, yang pasti sangat mengganggu penduduk di sekitar daerah ini. Sebab seekor
harimau yang hampir sebesar kerbau ini tentu akan senang menangkap ternak para petani.
 Meskipun kekuatan jasmaniah harimau sebesar itu, jauh berlipat dari kekuatan jasmaniah
manusia biasa, Mahesa Jenar yakin bahwa ia akan dapat mengatasinya, dengan ilmunya
yang oleh gurunya disebut Sasra Birawa.
 Sementara itu, Mahesa Jenar segera tersadar oleh suara gemersik kaki harimau yang
berdiri tidak jauh di hadapannya. Harimau itu telah merunduk sangat rendah, dan siap
menerkam.  Sambil mengaum keras, harimau itu dengan garangnya meloncat akan menerkam
Mahesa Jenar. Kedua kaki depannya menjulur hampir lurus dengan tubuhnya. Kukukukunya yang tajam siap merobek-robek mangsanya. Sedang taring-taringnya yang
tajam-runcing, menyeringai. Mengerikan sekali.
 Tetapi Mahesa Jenar adalah seorang yang telah terlatih baik untuk menghadapi setiap
kemungkinan dan segala macam bahaya. Maka ketika dilihatnya harimau itu meluncur
menerkamnya, dengan cekatan Mahesa Jenar merendahkan diri dan meloncat ke
samping.
 Harimau itu kembali mengaum dengan hebatnya. Rupanya ia sangat marah ketika
mangsanya terlepas dari terkamannya. Tetapi selama harimau itu masih mengapung di
udara, ia sama sekali tak dapat mengubah geraknya.
 Ketika harimau itu mendarat di tanah, ia menjadi terkejut sekali. Tidak saja karena
sasarannya telah menghindarkan diri, tetapi juga karena tiba-tiba saja terasakan sesuatu
yang menghantam punggungnya, dan bahkan seperti melekat dengan eratnya.
 Setelah Mahesa Jenar berhasil menghindarkan diri, maka tepat pada saat harimau itu
menjejakkan kakinya di atas tanah, dengan kecepatan luar biasa Mahesa Jenar meloncat
ke atas punggung harimau itu, dan menghantamnya sekali. Seterusnya kedua tangannya
dengan eratnya berpegangan pada leher harimau itu.
 Tetapi harimau adalah binatang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Pantaslah
kalau disebut raja hutan. Apalagi seekor harimau yang sedang marah, seperti yang sedang
dihadapi oleh Mahesa Jenar.
 Harimau itu menggeliat dengan sepenuh tenaga untuk melepaskan pegangan Mahesa
Jenar. Tetapi Mahesa Jenar dengan eratnya mencengkeram leher harimau itu, sehingga
tangan itu tidak terlepas.
 Akhirnya harimau yang sudah mencapai puncak kemarahannya itu meloncat tinggi.
Setelah terjun kembali, segera menjatuhkan diri dan bergulingan di tanah. Bagaimanapun
eratnya pegangan Mahesa Jenar, tetapi mengalami hal yang demikian tak urung
tangannya terlepas juga. Bahkan ia terlempar ke samping, sampai beberapa langkah dan
jatuh berguling-guling. Untunglah bahwa Mahesa Jenar memiliki keuletan yang luar
biasa.
 Demikian Mahesa Jenar jatuh terguling beberapa kali, segera ia meloncat dan tegak
kembali tepat pada saatnya. Sebab pada saat itu, harimau yang marah itu telah siap
kembali menerkam. Tetapi setelah mengalami kegagalan, rupanya harimau itu mendapat
suatu pengalaman, bahwa dengan suatu terkaman dari jarak yang jauh, ia tak berhasil
menguasai mangsanya. Maka kali ini harimau itu tidak lagi merunduk lalu meloncat.
Perlahan-lahan tetapi pasti, harimau itu mendekati lawannya.  Mahesa Jenar bertambah berhati-hati melihat perubahan sikap harimau itu. Untuk
melawan langsung seekor harimau sangatlah berbahaya. Kuku-kukunya serta gigi-gigi
yang tajam itu dapat merobek kulitnya. Maka diputuskannya untuk segera mengakhiri
perkelahian.
 Mahesa Jenar segera bersikap. Tanpa mempergunakan unsur-unsur pendahuluan untuk
menekan lawannya. Ia berdiri di atas satu kakinya, menghadap langsung pada harimau
itu. Satu kaki lainnya diangkat dan ditekuk ke depan. Sebelah tangannya menyilang dada,
sedangkan tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi.
 Mahesa Jenar secepatnya mengatur peredaran nafasnya, memusatkan pikiran dan
menyalurkan segala kekuatan lahir dan batin ke sisi telapak tangannya. Maka ketika
harimau itu mengaum dahsyat, serta dengan garangnya menerkamnya, Mahesa Jenar pun
telah siap dan terdengar ia berteriak nyaring.
 Ia memutar kaki yang diangkatnya itu setengah lingkaran dan membuat satu loncatan
kecil kesamping. Berbareng dengan itu, tangan kanannya terayun deras sekali
menghantam tengkuk harimau itu. Akibatnya adalah dahsyat sekali. Harimau itu
mengaum lebih keras lagi dibarengi dengan gemeretak tulang patah.
 Sekejap kemudian harimau itu melenting tinggi, dan sesaat lagi terdengarlah gemuruh
tubuhnya jatuh ke tanah, tidak bergerak lagi selama-lamanya. Harimau itu mati karena
patah tulang lehernya oleh kekuatan tangan Mahesa Jenar yang telah mempergunakan
ilmu Sasra Birawa.
 Sesaat kemudian malam menjadi sunyi kembali. Yang terdengar, kecuali tarikan nafas
Mahesa Jenar, adalah suara-suara binatang malam dan belalang bersahutan.
 Di langit, bintang-bintang gemerlapan, seperti permata yang ditaburkan di atas selembar
permadani biru kelam.
 Dengan tajamnya Mahesa Jenar mengawasi lawannya yang sudah tidak bernyawa lagi
itu. Ia dapat sedikit berbangga hati, bahwa sampai sekarang ia mendapat kebahagiaan
untuk memiliki ilmu gurunya yang dahsyat itu. Seandainya yang dikenai itu manusia
biasa, maka dapatlah dibayangkan, bahwa manusia itu akan hancur lebur tanpa sisa.
 Belum lagi Mahesa Jenar puas menikmati kemenangannya, tiba-tiba terdengarlah suara
gemersik ilalang di belakangnya. Cepat-cepat ia memutar tubuhnya dan segera bersiaga.
 Tetapi ketika ia melihat siapakah yang berdiri di belakangnya, ia menjadi terkejut bukan
kepalang. Kalau misalnya Lawa Ijo yang berada di situ, ia tidak akan seterkejut pada saat
itu. Ternyata yang berdiri di belakangnya, dengan wajah cerah, secerah bintang yang
gemerlapan di langit, adalah Nyai Wirasaba.
 Dalam beberapa saat Mahesa Jenar tidak dapat mengucapkan sepatah katapun, sedang
Nyai Wirasaba tertunduk malu. Tetapi kemudian, Mahesa Jenar berhasil menguasai perasaannya, dan dengan sedikit tergagap ia bertanya.
 “Nyai Wirasaba, kedatangan Nyai sangat mengejutkan aku.”
 Nyai Wirasaba masih diam tertunduk. Sampai Mahesa Jenar meneruskan,
 “Apakah yang Nyai maksudkan, sehingga Nyai memerlukan datang kemari?”
 Akhirnya Nyai Wirasaba menjadi seperti tersadar dari sebuah mimpi. Memang
kedatangannya pun adalah seperti peristiwa dalam mimpi.
 Nyai Wirasaba, pada saat sebelum perkawinannya, sangat mengagumi suaminya karena
ketangguhan, kejantanan serta keberaniannya. Tetapi kemudian suaminya menjadi
lumpuh, sehingga tak ada lagi yang dapat dikaguminya. Meskipun demikian ia tetap
mencintainya.
 Tiba-tiba muncullah seorang yang menurut anggapannya sangat mengagumkan pula,
berani dan bersifat jantan. Ketika Mahesa Jenar keluar dari ruang tidurnya dan berdiri di
halaman, sebenarnya Nyai Wirasaba sudah berada di halaman pula, untuk membeningkan
pikirannya yang kusut. Mendadak pada saat itu terdengarlah aum harimau di kejauhan.
 Ketika dilihatnya Mahesa Jenar, menjadi gembira dan berlari ke arah suara itu, tanpa
sadar ia segera mengikutinya untuk sekadar dapat menyaksikan sikap jantan Mahesa
Jenar.
 Meskipun ia tidak berlari secepat Mahesa Jenar, arah suara harimau yang mengaum
berkali-kali itu telah menuntunnya sampai ke tempat pertarungan itu. Apalagi ketika ia
menyaksikan bagaimana Mahesa Jenar membunuh lawannya. Hatinya menjadi melonjak
dan tak dapat dikuasainya lagi.
 Karena itulah, ketika ia mendengar pertanyaan Mahesa Jenar, ia menjadi agak bingung.
Tetapi kemudian dijawabnya juga dengan penuh kejujuran.
 “Aku tidak tahu, kenapa aku kemari.”
 “Tidak tahu?” sahut Mahesa Jenar heran.
 “Ya, aku tidak tahu. Mungkin hanyalah terdorong oleh keinginanku menyaksikan suatu
peristiwa yang dapat mengungkat kembali suatu kenang kenangan yang indah pada masa
muda.”
 “Apa yang Nyai Wirasaba lakukan adalah sangat berbahaya. Bagaimana kalau aku tidak
dapat memenangkan pertandingan ini? Barangkali Nyai Wirasaba pun akan menjadi
santapan macan loreng itu,” kata Mahesa Jenar kemudian.
 “Tidak mungkin. Aku yakin kalau harimau itu akan terbunuh,” jawab Nyai Wirasaba.  “Nyai Wirasaba yakin?” tanya Mahesa Jenar. Matanya memancarkan berbagai
pertanyaan.
 Kembali Nyai Wirasaba tertunduk diam. Dia sendiri tidak tahu kenapa ia mempunyai
perasaan demikian.
 “Nah, sebaiknya Nyai Wirasaba sekarang pulang. Adalah berbahaya sekali bagi Nyai
untuk tetap berada disini.” Mahesa Jenar menasehati seperti anak kecil yang kemalaman
bermain.
 Tetapi Nyai Wirasaba tetap tak bergerak. Bahkan tiba-tiba saja perasaannya terbang ke
alam angan-angan yang pahit. Tiba-tiba saja ia rindukan kembali masa gadisnya beberapa
tahun lampau. Saat-saat pertemuan dan perkenalannya dengan Ki Wirasaba, serta citacitanya untuk dapat menimang seorang anak laki-laki yang segagah, seberani dan
sejantan ayahnya. Tetapi sekarang, selama Wirasaba lumpuh, hampir seluruh bagian
bawah tubuhnya, selama itu pula ia tak dapat mengharap menimang seorang anak lakilaki seperti yang dirindukannya.
 Kembali perasaan Nyai Wirasaba melonjak dan tak dapat dikendalikan, sehingga tibatiba ia tersedan.
 Mahesa Jenar adalah seorang laki-laki yang mempunyai perbendaharaan pengalaman
yang luas sekali. Tetapi meskipun ia pernah berkenalan dengan banyak sekali wanita, ia
sendiri belum pernah bergaul terlalu rapat.
 Sehingga wanita baginya adalah makhluk yang asing, yang mempunyai perasaan di luar
kemampuannya untuk menjajaginya. Apalagi ia sendiri belum beristri. Maka ketika
dilihatnya Nyai Wirasaba menangis, hatinya menjadi bingung kalang kabut.
 Mahesa Jenar menjadi semakin tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia sendiri
tidak merasakan adanya suatu kesalahan yang dapat menusuk perasaan. Karena itu untuk
beberapa saat ia hanya dapat berdiri diam seperti patung, sedangkan perasaannya
bergolak menebak-nebak, apakah sebabnya Nyai Wirasaba menangis. Akhirnya ia
sampai pada suatu kesimpulan yang sangat ditakutinya.
 
 Karena pengetahuan Mahesa jenar tentang perasaan seorang wanita sangat sempit, maka
ia telah mempunyai tanggapan yang salah terhadap Nyai Wirasaba.
 Karena itulah ia bertambah cemas.
 “Nyai, aku telah mengorbankan harga diriku dengan tidak menerima tantangan Ki
Wirasaba, sekedar untuk mengembalikan suasana ketenteraman rumah tangga kalian.
Dan sekarang, ketenteraman yang sudah hampir pulih kembali itu akan terganggu pula, apabila kita berdua pada malam begini berada di tempat ini. Karena itu pulanglah dan
lupakanlah segala angan angan itu,” kata Mahesa Jenar dengan suara gemetar.
 Nyai Wirasaba adalah seorang wanita yang berperasaan halus, sehalus rambut dibelah
tujuh. Ditambah pula sudah beberapa tahun ia meladeni suaminya yang cacat kaki,
sehingga ia menjadi semakin perasa.
 Maka ketika ia mendengar perkataan Mahesa Jenar, ia terperanjat. Meskipun Mahesa
Jenar sama sekali tak bermaksud jahat, dan perkataannya itu diucapkan dengan jujur
menurut perasaannya, tetapi akibatnya seperti sembilu yang lansung membelah ulu hati
Nyai Wirasaba. Sebagai seorang wanita yang dididik oleh seorang saleh seperti Ki Asem
Gede, maka sudah tentu ia mementingkan sifat-sifat keutamaan seorang wanita.
Diantaranya sifat setia dan bakti kepada suaminya.
 Dengan demikian, maka perkataan Mahesa Jenar telah menggelorakan darahnya. Ia
merasa tersinggung dengan anggapan itu. Meskipun ia sangat mengagumi keperwiraan
seseorang, namun ia menjadi gusar juga karena tuduhan itu. Maka dijawabnya kata-kata
Mahesa Jenar itu dengan suara yang bergetar.
 “Tuan, aku telah mengagumi keperwiraan Tuan, keberanian dan kejantanan Tuan. Dan
dengan tidak sadar pula aku telah mengikuti Tuan sampai ke tempat ini untuk
menyaksikan keperwiraan Tuan. Hal ini mungkin disebabkan aku terlalu mengagumi
kejantanan suamiku pada masa muda kami berdua. Dengan menyaksikan kejantanan
Tuan, aku mendapat suatu jembatan yang dapat menghubungkan kembali kepada
kenangan masa silam. Suatu masa yang penuh dengan harapan dan cita-cita. Tetapi Tuan
telah menuduh aku dengan tuduhan yang menyakitkan hatiku.” Suara Nyai Wirasaba
tersekat di kerongkongan oleh air matanya yang mendesak.
 Mendengar jawaban itu Mahesa Jenar tidak kurang terperanjatnya. Tetapi ia tetap tidak
dapat mengerti, Kalau demikian halnya, mengapa seorang wanita seperti Nyai Wirasaba
sampai bersusah payah mengikutinya. Karena Mahesa Jenar adalah seorang yang berdada
terbuka serta tidak suka menyembunyikan perasaannya, maka berkatalah ia,
 “Tetapi sampai demikian perlukah Nyai Wirasaba pergi ke tempat ini pada malam
begini?”
 Sekali lagi dada Nyai Wirasaba yang penuh itu terguncang. Ia menjadi bertambah gusar
mendengar kata-kata Mahesar Jenar itu. Tetapi seperti halnya Mahesa Jenar yang tak
dapat menjajagi perasaannya, Nyi Wirasaba pun tidak tahu sama sekali akan ketulusan
hati Mahesa Jenar. Bahkan ia menyangka bahwa dalam kesempatan itu Mahesa Jenar
ingin memancing-mancing untuk meraba-raba perasaannya. Karena itu dengan marahnya
ia berkata.
 “Tuan, aku tidak menyangka bahwa hati Tuan ternyata palsu. Maka baru sekarang aku
mengerti kenapa suamiku berkata, bahwa tak mungkin seseorang menyabung nyawanya
tanpa pamrih. Tetapi Tuan jangan mimpikan air mengalir ke udik.”  Sekarang Mahesa Jenar yang merasa dadanya terguncang. Ia tidak dapat membayangkan
bahwa wanita cantik seperti Nyai Wirasaba itu dapat sedemikian marahnya sehingga
mengeluarkan kata-kata yang menusuk perasaan demikian pedihnya. Karena itu, seluruh
tubuh Mahesa Jenar menggigil karena ia berusaha menahan diri. Disamping itu ia mulai
merasa bahwa mungkin perkataan-perkataannya telah menyinggung perasaan Nyai
Wirasaba. Maka dalam kebingungan itu, ia hanya dapat berdiri terpaku seperti patung.
 Tak ada sepatah katapun yang diucapkan. Sampai Nyai Wirasaba menyambung pula,
 “Tuan, barangkali Tuan menyangka bahwa suamiku hanya dapat bermain main dengan
suatu permainan yang jelek dengan Samparan. Tetapi ketahuilah Tuan, bahwa aku
mengharap ia lekas sembuh. Dan sesudah itu aku tidak tahu apakah aku masih dapat
mengagumi ketangkasan Tuan di hadapan suamiku.”
 Sekali lagi dada Mahesa Jenar terguncang. Ia adalah seorang laki laki yang
mengutamakan keperwiraan seorang ksatria. Ia sudah menahan dirinya sekian lama sejak
ia menerima sindiran-sindiran Wirasaba di hadapan Mantingan dan Ki Asem Gede.
Seandainya Nyai Wirasaba tidak langsung menyinggung harga dirinya sebagai seorang
laki-laki, mungkin ia masih dapat menahan dirinya, meskipun dadanya akan menjadi
sesak.
 Tetapi sekarang, Nyai Wirasaba yang karena marahnya, telah langsung merendahkan
harga dirinya sebagai seorang laki-laki dengan memperbandingkannya dengan Wirasaba.
Karena itulah maka Mahesa Jenar tidak dapat lagi membendung aliran perasaannya yang
semakin deras mendesak dan telah cukup lama tertahan. Meskipun demikian ia masih
berusaha untuk menyambut tantangan itu dengan sebaik mungkin, meskipun nafasnya
menjadi berdesakan.
 “Mudah-mudahan Ki Wirasaba lekas sembuh. Dan aku akan mencoba melayaninya,
meskipun barangkali aku tidak akan dapat memberi kepuasan... dan ....”
 Sebenarnya masih banyak yang akan diucapkan Mahesa Jenar, tetapi ia tidak tahu
bagaimana melakukannya. Sedangkan yang keluar dari mulutnya adalah,
 “Nyai, kalau ada kesalahanku maafkanlah, tak ada gunanya aku lebih lama tinggal di
sini. Perkenankanlah aku pergi. Tolong pamitkan kepada mereka berdua, dan lain kali
aku mengharap dapat bertemu kembali. Juga kepada Ki Wirasaba, sampaikan salamku,
sampai bertemu apabila ia telah sembuh kembali.”
 Belum lagi Mahesa Jenar mengucapkan seluruh kata-katanya, terdengar suara Nyai
Wirasaba hampir berteriak.
 “Salahkulah kalau aku sampai datang kemari, apapun sebabnya, karena aku seorang
wanita.”  Kemudian diluar dugaan Mahesa Jenar, Nyai Wirasaba segera berlari meninggalkan
tempat itu.
 Mahesa Jenar terpaku di tempatnya.
 “Alangkah tumpulnya perasaanku. Sungguh aku tidak mengerti, apa yang baru saja
terjadi,” gumamnya.
 Belum lagi Mahesa Jenar menemukan jawaban, didengarnya dari arah samping suara
gemersik rumput kering. Cepat ia memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu.
 Ternyata apa yang dijumpainya mengejutkannya pula. Orang yang datang itu adalah Ki
Dalang Mantingan. Sesaat darah Mahesa Jenar jadi berdegupan. Kalau ada orang ketiga
yang menyaksikan hadirnya Nyai Wirasaba di tempat itu, dapatlah menimbulkan
bermacam-macam kemungkinan. Tetapi karena ia percaya bahwa sahabatnya itu tidak
akan menjelekkan namanya, maka segera ia pun dapat menguasai dirinya kembali.
 Sementara itu terdengar Mantingan berkata.
 “Adimas, maafkanlah kalau kedatanganku sangat mengejutkan Adimas.”
 “Tidak. Tidak seberapa Kakang Mantingan. Tetapi sudah lamakah kakang berada di
sini?” jawab Mahesa Jenar sambil menggeleng lemah.
 “Sudah... Sudah lama. Aku menyaksikan semua yang terjadi. Sejak Adimas membunuh
harimau itu dengan tangan, sampai perselisihan paham yang terjadi antara Adimas dan
Nyai Wirasaba,” sahut Mantingan.
 Mahesa Jenar menundukkan kepalanya sambil kembali menggeleng lemah. Kemudian
katanya.
 “Aku tidak mengerti kenapa hal-hal serupa itu bisa terjadi. Kau dengar seluruh
pembicaraan kami Kakang?”
 “Seluruhnya. Aku datang ke tempat ini bersamaan waktunya dengan Nyai Wirasaba,”
jawab Mantingan.
 “Kau tahu bahwa aku di sini?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.
 “Ya, sebab ketika aku mendengar aum harimau dan terbangun dari tidurku, aku tidak
melihat Adimas di pembaringan. Segera aku pergi mencarinya. Ketika aku turun ke
halaman, aku melihat Nyai Wirasaba sedang berlari dengan kencangnya ke arah suara
harimau itu. Tentu saja aku tidak dapat membiarkan hal semacam itu. Segera aku pun
pergi menyusulnya. Dan seterusnya seperti apa yang terjadi di sini.”
 Mendengar keterangan Mantingan, Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian untuk beberapa saat mereka berdiam diri, tenggelam dalam pikiran masingmasing. Sampai kembali Mantingan berkata.
 “Adimas, sebenarnya apa yang terjadi hanyalah karena kesalah-pahaman belaka.”
 “Apa pendapat Kakang tentang hal itu?” sela Mahesa Jenar.
 “Maafkanlah kalau aku katakan, bahwa tidak banyak yang Adimas ketahui tentang
perasaan seorang wanita. Sebaliknya Nyai Wirasaba menerima keterbukaan dada Adimas
itu dengan kemasgulan dan kegusaran. Sebenarnya tak ada persoalan apa-apa antara
Adimas dan Nyai Wirasaba. Karena itu tak ada alasan bagi Adimas untuk tergesa-gesa
pergi.”
 Mahesa Jenar diam sejenak. Ia mencoba mencerna keterangan Ki Dalang Mantingan.
 Tetapi akhirnya kembali ia menggeleng lemah. Katanya.
 “Kakang Mantingan, aku kira lebih baik aku pergi. Banyak hal yang tidak
menguntungkan apabila aku tetap tinggal di sini. Kakang tahu bahwa aku bukanlah
seorang yang sabar dan pradah untuk menerima perangsang perangsang yang dapat
membakar perasaanku. Aku juga masih belum tahu apakah Wirasaba sudah puas dengan
kematian Samparan.”
 Kembali mereka berdiam diri. Udara malam yang lembab di daerah pegunungan
mengalir dibawa arus angin perlahan-lahan. Dan dalam keheningan itu kembali suarasuara malam bertambah jelas.
 Sebenarnya sangatlah berat perasaan Mantingan untuk melepas Mahesa Jenar pergi.
Meskipun baru beberapa hari ia mengenalnya, namun seolah-olah hatinya telah
tergenggam erat dalam tali persahabatan. Karena itu ia berusaha keras untuk menahan
Mahesa Jenar.
 “Adimas,” katanya sejenak kemudian mengusik sepi malam.
 “kalau Adimas berkeras untuk meninggalkan tempat ini, bukankah lebih baik Adimas
pergi ke Prambanan? Kakang Demang Penanggalan akan merasa berbahagia kalau
Adimas sudi tinggal beberapa hari di rumahnya.”
 Mahesa Jenar tidak segera menjawab ajakan itu. Memang pernyataan yang demikian itu
mungkin sekali. Tetapi mengingat kemungkinan-kemungkinan lain, dimana Ki Asem
Gede turut berkepentingan, adalah kurang pada tempatnya. Sedangkan ia sama sekali
tidak mengerti persoalannya. Tidaklah enak perasaan Mahesa Jenar untuk meninggalkan
keluarga Ki Asem Gede dan kemudian tinggal pada keluarga Mantingan.
 Dengan demikian suasana menjadi kaku, seperti garis-garis karang di tebing-tebing
pegunungan yang merupakan lukisan-lukisan hitam di atas dasar kebiruan langit yang ditaburi bintang-bintang.
 Akhirnya Mahesa Jenar mengambil suatu ketetapan. Ia harus pergi meninggalkan daerah
itu.
 “Kakang Mantingan, terpaksa aku tidak dapat mengubah keputusanku. Banyak hal yang
dapat aku lakukan kalau aku melanjutkan perjalananku. Mungkin aku dapat menemukan
sarang Lawa Ijo di hutan Mentaok atau gerombolan orang-orang berkuda yang membuat
upacara-upacara aneh dengan mengorbankan gadis-gadis itu.”
 Sampai sekian Mantingan sudah menduga bahwa sulitlah baginya untuk tetap menahan
Mahesa Jenar. Sementara itu Mahesa Jenar meneruskan.
 “Kakang Mantingan, meskipun aku bukan lagi seorang prajurit, namun aku masih tetap
ingin mengabdikan diriku. Sebab pengabdian yang sebenarnya tidak harus melulu
ditujukan kepada raja, tetapi sebenarnyalah bahwa pengabdian harus ditujukan kepada
rakyat. Karena itu aku akan merasa berbahagia sekali kalau aku dapat berbuat sesuatu
untuk ketenteraman hati rakyat. Nah kakang Mantingan, sampai sekian saja pertemuan
ini.”
 Tak sepatah katapun yang dapat diucapkan Mantingan. Betapa kagumnya ia terhadap
Mahesa Jenar yang telah menemukan garis tujuan bagi hidupnya. Meskipun ia sendiri
juga selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang serupa, yaitu membasmi kejahatan,
tetapi apa yang dilakukannya itu adalah diluar kesadaran bagi sesuatu tujuan yang besar.
Karena itu apa yang dilakukannya adalah suatu perbuatan sepotong-sepotong tanpa suatu
garis penghubung dari yang satu dengan yang lain.
 Kemudian terdengar kembali Mahesa Jenar berkata.
 “Kakang Mantingan, sampai di sini kita berpisah. Mudah-mudahan kita dapat bertemu
lagi. Kalau Kakang Mantingan tidak berkeberatan, di akhir tahun ini, dua hari sebelum
purnama penuh, kita bertemu di sekitar Banyu Biru dan Rawa Pening. Bukankah pada
saat itu akan terjadi sesuatu yang penting?”
 Seperti diperingatkan akan kelalaiannya, Mantingan menjawab.
 “Baiklah Adimas. Baiklah kita menyaksikan pertemuan para tokoh-tokoh sakti dari
aliran hitam itu. Sementara itu masih ada waktu bagiku untuk sedikit menambah
pengetahuanku yang sangat picik ini. Sesudah itu aku juga akan segera kembali ke
Wanakerta. Mudah-mudahan aku diizinkan oleh guruku, Ki Ageng Supit.”
 “Aku kira Ki Ageng Supit tidak akan keberatan, selama apa yang kita lakukan tidak
bertentangan dengan garis kebijaksanaan negara. Nah, Kakang Mantingan, selamat
tinggal. Salamku buat Ki Asem Gede dan Demang Penanggalan.”
 Dengan perasaan yang sangat berat Mantingan melepas Mahesa Jenar pergi. Sebenarnya Mahesa Jenar pun merasa betapa beratnya meninggalkan daerah ini, meskipun ia
mengalami banyak hal yang tak menyenangkan. Tetapi justru karena itu ia akan tetap
terkenang pada sahabat-sahabatnya, dimana ia sendiri sedang mengalami kesulitan.
 Kini kembali Mahesa Jenar dengan pengembaraannya. Mula-mula ia berjalan menyusur
jalan yang dilaluinya ketika ia mengikuti Ki Asem Gede. Tetapi ia tidak mau terus
sampai ke Prambanan. Karena itu, ketika jalan ini akan memasuki belukar, ia mengambil
jurusan lain. Ia memilih jalan yang membelok ke barat, menyeberangi Sungai Opak.
Meskipun ia sama sekali belum mengenal daerah yang dilaluinya, tetapi sedikit banyak ia
mengenal ilmu perbintangan yang diharapkan dapat menuntunnya ke arah yang
dikehendaki.
 Demikianlah Mahesa Jenar sebagai seorang perantau berjalan dari desa ke desa, dari
kademangan yang satu ke kademangan yang lain. Dilewatinya desa-desa Semboyan,
Kalimati, Temu Agal, terus ke selatan, lewat daerah Si Lempu dan Cupu Watu. Terus
kembali membelok ke barat tanpa berhenti.
 Maka pada saat fajar menyingsing sampailah Mahesa Jenar ke depan mulut hutan yang
lebat, yang terkenal dengan nama Alas Tambak Baya.
 Sampai daerah ini Mahesa Jenar berhenti sejenak. Dipandanginya hutan lebat yang
terbentang di hadapannya. Meskipun hutan itu tidak begitu besar, tetapi sangat
berbahaya. Di dalamnya bersarang banyak jenis binatang berbisa. Karena itu jarang orang
yang lewat. Sebab kecuali binatang-binatang berbisa yang dengan sekali sengat dapat
membunuh seseorang, juga di dalam hutan itu banyak bersarang penyamun-penyamun
dan perampok-perampok.
 Hanya rombongan yang agak besar dengan kawalan yang kuat sajalah yang berani
menyeberangi hutan ini. Kebanyakan mereka adalah pedagang-pedagang dari pesisir
utara yang membawa barang-barang untuk dipertukarkan dengan hasil-hasil hutan. Tetapi
meskipun rombongan-rombongan itu telah menyewa beberapa orang pengawal yang
dianggapnya kuat, namun tidak jarang diantara mereka yang tak berhasil keluar lagi dari
hutan ini.
 Pada saat nama Lawa Ijo sedang cemerlang beberapa saat yang lalu, daerah ini pun
merupakan daerah pengaruhnya. Tetapi tiba-tiba ia seakan-akan menarik diri dan
melepaskan semua hak-haknya atas beberapa daerah. Ternyata apa yang dilakukan oleh
Lawa Ijo adalah memusatkan perhatian dan waktunya untuk memperebutkan dan
menemukan pusaka-pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten, di samping persiapanpersiapan untuk menghadapi pertemuan puncak dari tokoh-tokoh sakti aliran hitam.
 Karena itu timbullah kesan seakan-akan kekosongan pemerintahan di wilayah pengaruh
Lawa Ijo. Penjahat-penjahat kecil yang semula harus tunduk pada setiap peraturan yang
dibuat oleh Lawa Ijo, sekarang merasa bebas dan dapat berbuat sekehendak hati mereka.
Tidak jarang terjadi bentrokan-bentrokan dan pertempuran-pertempuran antara satu
golongan dengan golongan yang lain, untuk memperebutkan rezeki.  Demikianlah kira-kira isi hutan lebat yang bernama Tambak Baya, yang sebenarnya
hanya merupakan anak dari induk hutan yang lebih besar dan dahsyat, yaitu Alas
Mentaok.
 Tetapi, meskipun seakan-akan Lawa Ijo telah menghentikan sebagian besar dari
kegiatannya, namun tak segolongan pun dari para penjahat kecil yang berani melakukan
pekerjaannya di hutan induk yang lebat ketat itu. Sebab bagaimanapun, mereka masih
menghormati pusat kebesaran kerajaan Lawa Ijo.
 Sementara itu Mahesa Jenar masih tegak memandang kehijauan hutan di hadapannya,
yang berkilat-kilat terkena cahaya matahari, karena pantulan embun pagi yang sedang
mulai menguap. Dalam keheningan udara pagi, hutan itu tampaknya seakan-akan tubuh
raksasa yang sedang terbujur lelap, mengerikan.
 Untuk menyeberangi hutan itu Mahesa Jenar memerlukan waktu beberapa hari, sampai
dijumpainya pedesaan kecil di daerah Pliridan. Sesudah itu ia akan sampai ke bagian
hutan yang bernama Beringan dan di bagian selatan yang penuh dengan rawa-rawa,
bernama Pecetokan. Untuk melampaui kedua daerah ini pun diperlukannya waktu
beberapa hari pula. Kalau ia ingin menemui padukuhan, ia harus menyusup ke selatan, ke
daerah Nglipura dan Mangir.
 Mengingat itu semua, Mahesa Jenar merasa perlu untuk mendapat bekal makanan
secukupnya. Maka sebelum memasuki hutan itu diperlukannya untuk singgah di
pedukuhan yang terdekat untuk membeli bahan makanan sekadarnya. Disamping itu ia
mengharap pula bahwa di dalam hutan itu pun akan tersedia bahan makanan, terutama
daging.
 Di sebuah gardu di tepi sebuah desa, dilihatnya banyak orang sedang berjualan. Rupanya
gardu itu merupakan tempat berkumpul bagi mereka yang akan menyeberangi hutan.
Mereka menunggu sampai jumlah yang cukup, kemudian bersama-sama mengupah
beberapa orang yang kuat untuk mengawal mereka sampai ke Nglipura, Mangir atau
daerah Begelen di seberang hutan Mentaok setelah melintasi pegunungan Manoreh.
 Lalu lintas ini mulai ramai kembali sejak Lawa Ijo melepaskan beberapa daerah
pengaruhnya. Sedangkan terhadap perampokan-perampokan kecil, para pengawal
bersama-sama para pedagang dalam jumlah yang cukup besar, merasa mampu untuk
menandingi perampok-perampok itu.
 Diantara mereka yang berkumpul di situ terdapat beberapa orang saudagar, beberapa
orang yang barangkali akan mengunjungi sanak saudara di tempat yang jauh. Mereka
semua menyandang senjata. Ada yang membawa tombak, kapak, pedang yang berjuntai
di pinggang, keris, dan sebagainya.
 Yang menarik perhatian Mahesa Jenar, diantara mereka ada seorang gadis yang cantik.
Menilik pakaiannya, ia pasti termasuk salah seorang dari keluarga yang cukup. Tetapi melihat wajahnya, tampaklah betapa suram dan sayu. Mungkin ada sesuatu masalah yang
memaksanya untuk melawat demikian jauhnya sehingga terpaksa harus menyeberangi
hutan Tambak Baya.
 Selain gadis itu, Mahesa Jenar juga tertarik kepada seorang muda yang berwajah tampan
dan bersih. Umurnya tak banyak terpaut dengan umurnya sendiri. Pemuda itu berpakaian
rapi seperti seorang pedagang kaya. Kainnya lurik berwarna cerah, sedangkan bajunya
agak gelap berkotak-kotak. Dari celah-celah bajunya tampaklah timang emasnya
berteretes intan. Serasi benar dengan kulitnya yang kuning bersih. Namun agaknya ia
terlalu berani dengan menonjolkan kekayaannya melewati daerah yang berbahaya itu.
 Kedatangan Mahesa Jenar diantara mereka sama sekali tidak menarik perhatian. Baik
bagi mereka yang akan mengadakan perjalanan maupun para pengawal yang tampaknya
telah siap. Sebab, keadaan Mahesa Jenar dengan pakaiannya yang kusut serta janggut dan
kumisnya yang serba tak teratur itu, tampak seperti seorang perantau yang biasanya
memang mencari kesempatan untuk dapat berbareng dengan rombongan-rombongan
yang demikian.
 Para pengawal sudah sering melihat hal yang serupa. Dan dari para perantau semacam
ini sama sekali tak dapat diharap untuk menambah upah mereka. Tetapi karena biasanya
para perantau itu tidak pernah mengganggu, maka para pengawal pun tak pernah merasa
keberatan, malahan hampir tak peduli. Bahkan dari para perantau ini dapat pula diambil
keuntungannya, dengan menambah jumlah orang dalam rombongan itu, yang juga berarti
menambah satu tenaga apabila sesuatu terjadi.
 Mula-mula Mahesa Jenar sama sekali tak menaruh perhatian atas rombongan itu, sebab
ia tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Tetapi karena diantara orang-orang itu agaknya
ada yang menarik perhatiannya, maka ia pun mencoba untuk mendekati mereka dengan
berpura-pura membeli beberapa macam makanan.
 Semakin dekat semakin jelaslah kedukaan yang menggores di wajah gadis cantik itu.
Menurut dugaan Mahesa Jenar, gadis itu umurnya berkisar diantara 20 tahun. Menilik
sikap, kata-kata dan beberapa gerak-geriknya, gadis itu adalah gadis yang manja. Tetapi
karena itu pulalah maka Mahesa Jenar menjadi bertambah heran. Mengapa gadis manja
ini menempuh perjalanan yang berbahaya?
 Pada saat itu Mahesa Jenar masih belum tahu, apakah gadis itu mempunyai kawan
seperjalanan diantara rombongan itu. Sedangkan pemuda tampan itu pun semakin
menarik perhatiannya pula.
 Meskipun pemuda itu berwajah tampan dan bersih serta bersikap sopan, tetapi ketika
Mahesa Jenar sempat memandang matanya, ia menjadi curiga. Mata yang redup dan
selalu bergerak-gerak bukanlah mata orang baik-baik. Bibirnya yang tipis dan selalu
menyungging senyum yang aneh itu pun telah menyatakan bahwa ia mempunyai sifat
yang tidak berterus terang dan meremehkan orang lain.  Karena itulah maka Mahesa Jenar kemudian membatalkan niatnya untuk mendahului
rombongan itu. Ia merasa tertarik untuk mengikuti iring-iringan itu. Ketajaman
perasaannya mengatakan bahwa ada hal yang tidak wajar pada pemuda tampan itu.
 Ternyata Mahesa Jenar tidak perlu menunggu lama, sebab sebentar kemudian
terdengarlah aba-aba dari pimpinan pengawal yang sudah setengah umur untuk
menyiapkan kawan-kawannya yang terdiri dari kira-kira 10 orang, untuk segera
berangkat, mumpung hari masih pagi.
 Semakin curigalah Mahesa Jenar terhadap pemuda itu, karena kemudian tampak
sikapnya yang semakin sopan berlebih-lebihan. Dengan sangat cekatan ia membantu
kawan-kawan dalam rombongan itu, terutama gadis cantik yang juga menarik perhatian
Mahesa Jenar itu.
 Sebentar kemudian siaplah semuanya. Beberapa orang pengawal membawa beban
masing-masing, disamping senjata mereka. Dan hampir setiap orang dalam rombongan
itu membawa bungkusan besar dan kecil. Tetapi tidak demikianlah pemuda itu. Kecuali
pakaian yang melekat di tubuhnya, tak sehelai benang pun dibawanya. Namun di
tangannya tergenggam sebatang tongkat yang agak panjang, berwarna hitam mengkilap.
 Kembali terdengar pemimpin rombongan itu memberikan aba-aba. Sesaat kemudian
mulailah iring-iringan itu bergerak. Jumlah orang yang ikut serta dalam rombongan itu,
kecuali para pengawal, kira-kira berjulmah 25 orang. Diantaranya hanya terdapat tiga
orang wanita. Dua diantaranya berjalan dengan suami masing-masing. Sedangkan gadis
cantik yang menarik perhatian Mahesa Jenar, ternyata hanya seorang diri.
 Mahesa Jenar segera mengikuti rombongan itu. Dan dengan tidak diduganya sama
sekali, seorang wanita yang berjalan dengan suaminya, memanggilnya. Mahesa Jenar
ragu-ragu sebentar. Tetapi agar tidak mencurigakan, ia mendatangi wanita itu.
 “Bapak, sukakah Bapak membawa beberapa bebanku ini? Nanti aku akan memberi
sekadar upah,” kata wanita itu kepada Mahesa Jenar.
 Mahesa Jenar bimbang sebentar. Hatinya menjadi geli.
 “Barangkali kau mau menentukan berapa besarnya upah yang kau minta?” sambung
suaminya.
 Cepat-cepat Mahesa Jenar membungkuk hormat. Lalu jawabnya.
 “Akh .., terserahlah kepada Tuan. Berapapun besarnya upah yang akan Tuan berikan,
pasti akan sangat menyenangkan. Dengan demikian aku akan dapat membeli sekadar
oleh-oleh buat anak-anakku.”
 Suami-istri itu mengangguk-angguk. Lalu diserahkannya beberapa bebannya kepada Mahesa Jenar.
 Hal ini sebenarnya menguntungkan Mahesa Jenar, sebab dengan demikian ia dapat
mendekati rombongan itu tanpa suatu kecurigaan. Tetapi ia terpaksa mendongkol juga.
Sebenarnya ia lebih senang jalan berlenggang daripada membawa beban yang cukup
berat itu. Meskipun sebenarnya Mahesa Jenar bertubuh kuat, namun ia pun harus berpura-pura merasa berat.
 Setelah beberapa saat mereka mengikuti jalan setapak di tengah-tengah rimba liar itu,
mulailah perjalanan mereka agak sulit. Beberapa kali pemimpin rombongan itu
memperingatkan supaya mereka berhati-hati terhadap segala jenis serangga, lebih-lebih
ular.
 Rupanya pemimpin rombongan itu sudah amat berpengalaman menempuh perjalanan
demikian. Karena itu tampaklah betapa bijaksana ia membawa orang-orang yang di
bawah tanggung jawabnya itu. Apabila jalan amat sulit, tidak segan-segan ia menolong,
bahkan menggendong para wanita dalam rombongan itu. Meskipun pemimpin
rombongan itu rambutnya telah berwarna dua, tapi ia masih tampak sehat, tangkas dan
kuat.
 Demikianlah rombongan itu berjalan sangat pelan, sehingga kemajuan yang dicapainya
amat lambat pula.
 Pada hari itu, perjalanan tak menemui gangguan apapun. Ketika matahari hampir
terbenam, segera pemimpin rombongan memerintahkan tiga orang pengawal berpencar
untuk mendapatkan tempat berkemah yang aman. Sebentar kemudian tempat itu pun
telah diketemukan, dan mulailah rombongan itu mengatur tempat peristirahatan buat
malam harinya. Dengan senjata masing-masing mereka membersihkan rumput-rumput
liar dan akar-akar pohon-pohon besar untuk kemudian dibentangkan tikar.
 Sebenarnya Mahesa Jenar sangat merasa tidak sabar berjalan bersama dengan
rombongan ini. Kalau ia berjalan sendiri, mungkin jarak yang ditempuhnya adalah 2 atau
3 kali lipat. Tetapi sekarang, setelah ia terikat dengan rombongan itu, maka ia tidak dapat
berbuat lain daripada mengikuti dengan menahan diri.
 Ketika malam telah gelap, para pengawal segera menyalakan api. Sebentar kemudian
lidah api itu pun telah menjilat-jilat ke udara. Panas yang dipancarkan terasa nyaman
sekali pada malam yang dingin itu. Dan sebentar kemudian, karena kelelahan, beberapa
orang telah jatuh tertidur.
 Tetapi Mahesa Jenar sama sekali tak tertarik untuk tidur. Meskipun ia juga merasakan
lelah. Oleh pemilik barang yang dibawanya, Mahesa Jenar mendapat pinjaman sehelai
tikar. Dan di atas tikar itu ia merebahkan dirinya.
 Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Binatang-binatang hutan mulai keluar
dari sarangnya. Suaranya terdengar bersahut-sahutan. Ada yang aneh kedengarannya, tetapi ada pula yang mengerikan, seperti teriakan bayi yang kehausan air susu ibunya.
 Dalam keremangan cahaya api, mata Mahesa Jenar yang tajam melihat betapa gadis
cantik itu menjadi ketakutan. Sebentar-sebentar ia duduk, sebentar berbaring. Tetapi
sebentar kemudian ia membenamkan kepalanya diantara bungkusan-bungkusan kecil
yang dibawanya. Sebab tidak ada seorang pun di dalam rombongan itu yang dapat
dimintai perlindungan seperti kedua wanita yang lain, kecuali bulat-bulat ia
menggantungkan dirinya kepada para pengawal.
 Tetapi yang terlebih menarik perhatian adalah si pemuda tampan. Tampak sekali betapa
gelisahnya. Ia sama sekali tak membawa apapun, kecuali tongkatnya. Karena itu ia sama
sekali tak berbaring.
 Sebentar ia duduk, sebentar kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir. Baru setelah
lewat tengah malam, tampaknya ia agak tenang. Ia duduk di atas sebuah batu dan
bersandar pada sebatang kayu. Tidak lama kemudian tampaklah pernafasannya berjalan
perlahan dan teratur. Rupanya ia tertidur.
 Melihat pemuda yang aneh itu tertidur, Mahesa Jenar pun menjadi agak tenang. Dan
tidak atas kehendaknya sendiri, Mahesa Jenar pun tertidur pulas.
 Malam kemudian menjadi bertambah kelam. Setitik demi setitik embun mulai
menggantung di dedaunan. Suara binatang hutan sudah mulai berkurang. Hanya kadangkadang saja masih terdengar aum harimau yang kemudian disusul jerit ngeri
 beberapa ekor anjing hutan.
 Tetapi dalam keadaan bagaimanapun, para pengawal itu tetap pada tugasnya. Mereka
bergiliran tidur. Tiap-tiap kali tiga orang yang tetap bangun dan dengan penuh tanggung
jawab melakukan tugasnya. Selain itu pemimpin rombongan itu pun kadang-kadang
bangun menemani mereka yang kebetulan sedang mendapat giliran. Sedangkan mereka
yang telah merasa mengupah orang untuk menjaga dirinya, merasa bahwa keadaan
mereka telah aman. Karena itu mereka tidak lagi merasa perlu untuk tetap bangun
semalam suntuk.
 Ketika malam sudah menjadi semakin jauh, telinga Mahesa Jenar yang tajam sekali itu,
mendengar suatu suara yang aneh. Meskipun pada saat itu ia sedang tertidur, tetapi suara
itu dapat didengarnya, bahkan telah menyadarkannya.
 Perlahan-lahan ia membuka matanya sedikit. Dan apa yang dilihatnya dari celah-celah
kelopak matanya adalah sangat mengejutkan sekali. Tetapi meskipun demikian ia tidak
segera bertindak.
 Dilihatnya pada waktu itu, tiga orang yang bergiliran jaga dan duduk di dekat perapian,
telah menggeletak tak bergerak. Sedangkan disampingnya berjongkok si pemuda tampan.  “Alangkah hebatnya pemuda ini,” pikir Mahesa Jenar. Ia dapat merobohkan ketigatiganya tanpa banyak ribut-ribut. Untunglah bahwa telinganya telah terlatih baik untuk
menghadapi segala kemungkinan.
 Melihat hal yang demikian, Mahesa Jenar menjadi semakin waspada. Apalagi ketika
pemuda tampan itu kemudian berdiri dan memandang berkeliling. Dan apa yang
diduganya adalah benar.
 Perlahan-lahan pemuda itu berjalan berjingkat ke arah gadis cantik yang sedang tidur
dengan nyenyaknya. Maka tahulah Mahesa Jenar bahwa pemuda tampan itu akan
melarikan gadis yang sedang lelap itu.
 Melihat hal yang sedemikian, ia tidak dapat tinggal diam. Meskipun ia sendiri tidak akan
bertindak langsung, tetapi seharusnyalah bahwa ia berusaha untuk mencegahnya.
 Perlahan-lahan dan hati-hati sekali tangannya meraba-raba mencari sebuah kerikil kecil.
Ketika sudah didapatnya, maka dengan hati-hati pula kerikil itu dijentikkan ke arah kaki
pemimpin pengawal yang sedang tidur pula.
 Rupanya pengawal itu mempunyai perasaan yang tajam pula. Ketika ia merasa tubuhnya
tersentuh kerikil yang dilemparkan Mahesa Jenar, ia pun segera terbangun. Maka apa
yang pertama-tama dilihatnya adalah ketiga orangnya yang sedang bertugas telah
menggeletak. Sesudah itu lalu dilihatnya si pemuda tampan berjalan hati-hati ke arah
gadis yang sedang tidur lelap.
 Melihat hal itu, kepala pengawal itu segera dapat menghubungkan persoalannya. Maka
marahlah ia bukan kepalang. Mukanya menjadi merah seperti darah. Dengan cekatan
sekali ia bangun dan meloncat dengan garangnya. Tanpa bertanya lagi tangannya segera
terayun ke arah tengkuk si pemuda tampan.
 Tetapi adalah di luar dugaan sama sekali, meskipun gerak pemimpin pengawal itu cukup
cepat dan tanpa diduga-duga, namun dengan suatu gerakan miring yang sederhana,
pemuda itu dapat menghindarinya.
 “Hebat...” pikir Mahesa Jenar. Pemuda ini cekatan luar biasa. Siapakah ia sebenarnya?
 Ketika pemimpin pengawal itu merasa bahwa pukulannya dapat dielakkan dengan
mudah, ia menjadi semakin marah. Dengan geramnya ia melompat maju sekaligus
tangannya menyambar leher. Tetapi kembali serangannya itu gagal. Dengan
mencondongkan tubuhnya, pemuda tampan itu dapat menghindarkan diri, bahkan
sekaligus kakinya mengait kaki lawannya. Untunglah bahwa orang tua itu masih lincah
juga, sehingga dengan satu loncatan ia dapat melepaskan diri.
 Melihat cara orang itu menghindari serangannya, si pemuda tampan menjadi tertawa
kecil.  “Bagus... Pak, kau masih juga pandai bermain bajing loncat,” kata pemuda itu.
 Sementara itu, para pengawal yang lain, serta orang-orang yang sedang tidur nyenyak itu
pun terbangun mendengar keributan-keributan itu. Beberapa orang menjadi gugup dan
bertanya-tanya. Tetapi para pengawal yang lain, yang melihat pemimpinnya bertempur,
segera ikut serta melibatkan diri tanpa banyak berpikir.
 Sejenak kemudian terjadilah suatu pertempuran yang sengit. Pemuda itu seorang diri
harus bertempur melawan tujuh orang. Tetapi ternyata pemuda itu benar-benar tangguh
luar biasa.
 Melawan tujuh orang yang telah berani menyatakan dirinya menjadi pengawal
perjalanan di daerah yang berbahaya, sama sekali ia tidak tampak mengalami kesulitan.
 Dengan tangkasnya ia berloncatan ke sana kemari diantara pepohonan hutan. Tongkat
hitamnya berputar-putar melindungi tubuhnya. Meskipun para pengawal itu
mempergunakan bermacam-macam senjata, ada yang memakai pedang, ada yang
mempergunakan tombak, gada besi dan sebagainya, tetapi semuanya itu tampaknya tidak
banyak berguna.
 Beberapa orang lain pun kemudian dapat menerka apa yang akan dilakukan oleh pemuda
itu. Karena dalam keadaan demikian, mereka merasa senasib, maka merekapun menjadi
marah. Beberapa orang kemudian segera bangkit dan menyatakan kesetiakawanan
mereka, untuk menangkap pemuda tampan itu.
 Tetapi adalah aneh sekali. Pemuda itu tampaknya licin seperti belut. Geraknya cepat dan
lincah sekali, bahkan mirip dengan gerak seekor ular yang melilit-lilit diantara
pepohonan, tetapi sejenak kemudian menjulur melakukan serangan yang berbahaya.
 Malahan setelah mereka bertempur beberapa lama, tampaklah bahwa pemuda itu tetap
menguasai keadaan. Bahkan beberapa saat kemudian ia masih sempat tertawa-tawa dan
berteriak nyaring.
 “Jangan kalian turut campur. Aku inginkan gadis itu.”
 “Jahanam,” bentak kepala pengawal, “aku telah menyanggupkan diri melindungi semua
yang menjadi tanggung jawabku. Bagaimanapun hebatnya kau, aku akan tetap melawan
sampai kemungkinan terakhir.”
 Kembali pemuda itu tertawa, katanya.
 “Aku akan menghitung sampai bilangan 10. Siapa yang tidak mau minggir, bukan
salahku kalau ia binasa.”
 Mendengar ancaman itu beberapa orang merasa ngeri juga sehingga bulu roma mereka
berdiri.  “Satu ... dua ... tiga .....” Pemuda itu mulai menghitung bilangan.
 Sampai bilangan ini, telah banyak diantara mereka yang meloncat keluar dari
gelanggang. Bagaimanapun perasaan kesetiakawanan mereka namun karena mereka tidak
langsung berkepentingan, maka mereka merasa lebih baik minggir daripada turut menjadi
korban. Karena itu, setelah bertempur beberapa lama, terasalah bahwa pemuda itu adalah
pemuda yang perkasa.
 Sampai bilangan ketujuh, tak ada lagi seorang pun yang berani membantu ketujuh
pengawal yang sedang bertempur mati-matian itu. Sehingga pertempuran itu semakin
nampak berat sebelah. Tetapi dalam pada itu Mahesa Jenar merasa kagum dan hormat
kepada ketujuh pengawal itu, yang tidak lagi menghiraukan keselamatan diri mereka
dalam melakukan kewajiban.
 Sejenak kemudian Mahesa Jenar merasa tak sampai hati melihat keadaan yang demikian,
maka segera ia melompat dan masuk ke dalam arena pertempuran. Tetapi sampai
sedemikian jauh ia sama sekali tidak merasa perlu memperlihatkan kepandaiannya. Ia
berkelahi dengan cara yang nampaknya sama sekali tak teratur dan sekaligus untuk
mengetahui sampai dimana keperkasaan lawannya.
 Pemuda tampan itu, ketika melihat Mahesa Jenar masuk ke dalam kancah perkelahian,
terpaksa menghentikan hitungannya dan berkata kepada Mahesa Jenar.
 “Hai orang tolol, kau jangan bermain-main di situ. Menyingkirlah.”
 Mahesa Jenar pura-pura tak mendengar seruan itu. Dengan gerak yang bodoh ia
menyerang terus bersama-sama ketujuh orang pengawal itu. Beberapa saat kemudian,
kembali pemuda itu mengulangi seruannya, tetapi juga kali ini Mahesa Jenar tidak
mempedulikannya. Ia berkelahi dengan gerak sekenanya saja. Bahkan ia menyerang
pemuda itu dengan segenggam tanah yang dilemparkan ke mukanya, karena ia memang
tidak bersenjata.
 Akhirnya pemuda itu menjadi gusar.
 “Bagus, kalau kau tak mau berhenti, aku akan melanjutkan hitunganku, lalu sesudah itu
kalian akan mampus semua. Dan gadis itu akan aku bawa pulang tanpa seorang pun dapat
menghalangi,” kata pemuda itu.
 Mendengar teriakan pemuda tampan itu, gadis cantik yang menjadi sasarannya menjerit
ngeri, tetapi suaranya hilang ditelan oleh kelebatan rimba.
 Akhirnya si pemuda sampai juga pada hitungan yang ke 10. Sesudah itu ternyata ia
benar-benar akan melakukan apa yang dikatakan. Secepat kilat ia maju menggempur
lawannya. Tongkatnya berputaran cepat bukan main, seolah-olah berubah menjadi
segulung awan hitam yang menakutkan.  Mahesa Jenar melihat gelagat ini, tetapi ia masih saja bertempur tanpa aturan.
 Pertempuran itu segera berubah menjadi semakin cepat dan dahsyat. Tongkat hitam itu
melayang menyambar-nyambar tak henti-hentinya. Tetapi sampai sekian lama tak
seorangpun yang dapat dikenainya. Si pemuda sendiri kemudian menjadi heran, kenapa
tongkatnya tak menyelesaikan pertempuran sebelum fajar. Menilik kepandaian ketujuh
orang yang mengeroyoknya, ia sudah dapat memastikan bahwa sedikitnya empat
diantaranya harus sudah binasa, apalagi si perantau tolol itu.
 Tetapi karena sampai sedemikian jauh ia masih belum mampu menjatuhkan seorang pun,
Mahesa Jenar, yang dalam mata si pemuda merupakan orang tolol yang berani, sangat
mengganggu perkelahian itu. Sekali waktu ketika tongkatnya melayang ke arah tengkuk
salah seorang lawannya, tiba-tiba perantau tolol itu melemparkan pasir ke arah mukanya,
sehingga ia terpaksa memejamkan matanya. Dengan demikian maka calon korbannya itu
sempat menghindarkan diri.
 Pada saat lain, ketika hampir saja tongkatnya berhasil menyodok leher, si pemuda tolol
itu kakinya terantuk batu, sehingga jatuh tertelungkup menimpa lawan yang hampir
binasa itu. Dengan demikian mereka jatuh bergulingan. Dan juga kali ini tongkatnya tak
menemukan sasaran.
 Si pemuda akhirnya marah kepada Mahesa Jenar.
 “Hai orang tolol. Jangan berbuat gila di sini. Kalau kau tak mau lekas minggir, kaupun
akan kubinasakan. Bahkan kaulah yang pertama-tama akan mengalami nasib jelek,”
teriaknya geram.
 Mendengar seruan itu, sadarlah Mahesa Jenar bahwa pemuda itu sudah benar-benar
marah. Maka tidak sepantasnya lagi kalau ia bermain-main saja. Maka segera ia pun
mempersiapkan diri untuk menyambut setiap serangan yang benar-benar akan
dilancarkan kepadanya.
 Sementara itu, terjadilah suatu hal yang sangat mengejutkan mereka semua. Tidak saja
para pengawal dan mereka yang melakukan perjalanan, tetapi juga pemuda itu dan
Mahesa Jenar. Tiba-tiba dalam suasana keributan pertempuran, diantara kesepian rimba
itu, menggetarlah suara tertawa nyaring yang semakin lama terdengar semakin
mengerikan.
 Segera, semua yang mendengar suara itu mengenal, bahwa itulah suara maharaja yang
kekuasaannya terbentang meliputi seluruh hutan Mentaok dan bagian-bagiannya. Ia
adalah yang sangat ditakuti dengan namanya yang seram, Lawa Ijo.
 Bahkan kali ini suara tertawa itu sedemikian mengerikan, seperti memenuhi seluruh
rimba dan mengepung mereka dari segala penjuru. Demikian hebatnya pengaruh suara
tertawa itu, seperti mengguncang-guncang dada. Sehingga arahnya pun tak dapat diketahui dari manakah sumber suara itu. Beberapa orang menjadi bingung dan
ketakutan, bahkan ada yang menjadi lemas dan hampir pingsan. Tidak ketinggalan para
pengawal pun segera nampak sangat cemas. Sebab munculnya Lawa Ijo setelah beberapa
lama lenyap itu, adalah sangat tiba-tiba dan tak disangka-sangka.
 Mahesa Jenar yang mempunyai telinga sangat tajam, dengan saksama memperhatikan
suara itu. Meskipun perlahan-lahan, akhirnya dapat diketahui dari manakah asalnya.
 Tetapi rupanya pemuda tampan itu pun bukan orang biasa. Pendengarannya ternyata
sangat tajam. Untuk mengetahui arah suara itu, diangkatnya wajah. Meskipun tidak
secepat Mahesa Jenar, ia pun akhirnya dapat mengetahui sumber suara itu. Maka segera
ia pun bersiaga menghadap ke arah suara itu, sambil berteriak.
 “Hai Lawa Ijo, kau jangan main gila di hadapanku. Ayo keluarlah dari sarangmu.
Apakah yang sebenarnya kau kehendaki dengan memperdengarkan suara tertawamu yang
memuakkan itu?”
 Mendengar seruan pemuda itu, semua orang, termasuk Mahesa Jenar, menjadi bertanyatanya dalam hati. “Siapakah dia, yang telah berani menantang Lawa Ijo ini?”
 Sementara itu suara tertawa Lawa Ijo pun semakin lama semakin surut, dan akhirnya
mereka dikejutkan oleh sebuah bayangan yang melayang turun dari dahan yang cukup
tinggi. Tetapi yang sama sekali tak diduga-duga, kecuali oleh Mahesa Jenar dan pemuda
tampan itu, ternyata Lawa Ijo bertengger di atas dahan yang hanya berjarak tidak lebih
dari 20 depa dengan mereka.
 Samar-samar oleh cahaya api yang masih menyala, tampaklah bahwa Lawa Ijo pun
sebenarnya masih muda. Usianya tidak juga terpaut banyak dengan pemuda tampan itu
maupun dengan Mahesa Jenar. Tubuhnya kekar kuat, matanya hitam mengkilat
memancarkan sinar kekejaman dan kebengisan. Sedangkan di bawah hidungnya
melekatlah kumis yang lebat hitam melintang menyeramkan.
 Meskipun pada saat itu Lawa Ijo tersenyum, tetapi senyumnya sama sekali tidak
menambah manis wajahnya, bahkan beberapa orang yang melihatnya menjadi gemetar
ketakutan, seakan-akan melihat senyuman malaikat pencabut nyawa yang berhasil
melakukan tugasnya dengan baik.
 Perlahan-lahan, setapak demi setapak, Lawa Ijo berjalan mendekati pemuda tampan itu.
Di pinggangnya membelit kain berwarna putih dengan lukisan hijau di atasnya. Pastilah
itu gambar yang menyeramkan. Kelelawar dengan kepala serigala. Sedangkan di tangan
kanannya tergenggam sebilah pisau belati panjang.
 Ternyata pemuda tampan itu sama sekali tidak gentar. Meskipun demikian ia tidak mau
merendahkan Lawa Ijo. Tangannya segera memutar tongkat hitamnya, dan tiba-tiba dari
dalamnya ia mencabut sebilah pedang kecil yang lentur.  Melihat hal itu Lawa Ijo tertawa, tetapi kali ini tertawanya pendek. Lalu ia berkata,
 “Ular Laut gila, kau jangan main gagah-gagahan di daerah ini.”
 Mendengar kata-kata Lawa Ijo, sekali lagi Mahesa Jenar terkejut. “Inilah agaknya yang
disebut Samparan dengan panggilan Ular Laut yang memiliki wajah tampan dan bernama
Jaka Soka. Karena itulah maka dengan enaknya ia dapat melawan tujuh orang, bahkan
lebih dari itu. Dan dengan beraninya pula ia menantang Lawa Ijo,” pikir Mahesa Jenar.
 Mendengar ucapan Lawa Ijo, Jaka Soka sama sekali tidak menjadi takut. Malahan
kembali bibirnya yang tipis itu menyungging senyum aneh.
 “Daerah inikah yang kau maksud?” jawab Jaka Soka.
 “Jaka Soka, kau jangan mencari perkara. Kau tahu bahwa seluruh hutan Mentaok dan
bagian-bagiannya serta segala isinya adalah daerah wewenangku,” sambung Lawa Ijo.
 “Hem... telah berapa bulan atau berapa tahun kau merendam diri di sarangmu? Dan tahutahu sekarang masih mengatakan daerah ini daerah wewenangmu. Lawa Ijo, menurut
pikiranku daerah ini sekarang merupakan daerah tak bertuan,” gumam Jaka Soka.
 “Kau jangan mengigau Soka. Aku belum pernah melepaskan hak yang pernah aku
miliki. Kalau beberapa waktu terakhir aku tidak pernah berbuat sesuatu, itu bukannya aku
tak lagi berwenang di daerah ini. Hanya saja, dalam waktu-waktu itu aku tak merasa
perlu untuk berbuat apa-apa. Anggapanmu bahwa daerah ini daerah tak bertuan itu sama
sekali salah, selama aku masih bernafas. Nah sekarang tinggalkan daerah ini,” perintah
Lawa Ijo.
 Jaka Soka sama sekali tak terpengaruh oleh kata-kata Lawa Ijo itu. Bahkan kemudian ia
tertawa kecil.
 “Lawa Ijo, kau jangan berlagak seperti seorang yang paling berkuasa. Apa dasarmu kau
berani memerintah aku untuk meninggalkan daerah ini? Kau masih belum menunjukkan
bahwa kau memiliki sepasang pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Juga belum
pasti bahwa kau akan berhasil memenangkan semua pertandingan yang akan kami
selenggarakan akhir tahun ini. Jadi pada saat ini kau dan aku masih belum mempunyai
sangkut paut apapun,” jawab Jaka Soka.
 Lawa Ijo menarik alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi sambil mengangguk-angguk.
Kemudian katanya.
 “Lalu bagaimana seharusnya?”
 “Seharusnya kau tak usah mengganggu aku. Tetapi kalau kau tetap tak menghendaki aku
melakukan perbuatan-perbuatan di daerah ini, seharusnya kau paksa aku pergi,” jawab
Jaka Soka.  Kembali Lawa Ijo tertawa pendek.
 “Kau masih seperti masa-masa lampau. Setelah kau capai tingkatmu yang hampir
sempurna sekarang ini, seharusnya kau tak lagi banyak bernafsu untuk berkelahi. Dan
apakah artinya pertempuran diantara kita. Beberapa waktu yang lampau kita pernah
berkelahi sampai beberapa hari. Dan tidak seorangpun dari kita yang kalah. Kalau pada
saat ini kami kembali bertempur, menurut pendapatku hasilnya akan sama saja. Karena
itu baiklah kita hormati persetujuan yang pernah kita buat mengenai daerah kerja kita
masing-masing,” kata Lawa Ijo.
 Jaka Soka menjadi bimbang. Dahinya berkerut dan otaknya berputar cepat. Melihat Jaka
Soka ragu, Lawa Ijo menambahkan.
 “Atau kalau kau merasa tidak perlu lagi dengan persetujuan itu, baiklah dihapus saja
sama sekali. Aku tak keberatan kau melakukan kegiatan di wilayah ini, tetapi kau jangan
menyalahkan aku kalau aku akan melakukan kegiatan di Nusa Kambangan dan di lautan.
Sebab aku pun pernah menjadi bajak laut pada usia 14 tahun.”
 Dahi Jaka Soka semakin berkerut. Dan akhirnya pecahlah tertawanya.
 “Memang, kau penjahat tak tanggung-tanggung Lawa Ijo. Baiklah kalau demikian aku
mengalah,” katanya.
 “Tetapi....” Jaka Soka berhenti berbicara, tetapi matanya merayap kepada gadis cantik
yang duduk gemetar dan ketakutan.
 Lawa Ijo pun mengerti maksud Jaka Soka. Sahutnya sambil tersenyum.
 “Soka, kemana kau pergi, selalu kau bawa pulang gadis-gadis. Apakah sarangmu masih
belum penuh?”
 Jaka Soka tertawa lirih, jawabnya.
 “Alangkah bodohnya kau. Nusa Kambangan cukup luas untuk menampung semua gadis
dari pulau Jawa ini. Dan atas gadis ini kau tidak keberatan?”
 Mendengar percakapan mereka, gadis itu menjadi semakin ketakutan. Tubuhnya
menggigil dan keringat dingin telah membasahi tubuhnya. Sekarang di hadapan kedua
penjahat terkenal itu, rombongan yang berjumlah 10 orang dengan mereka yang telah
tersadar dari pingsannya pun tidak mungkin dapat menghalangi maksud Ular Laut yang
gila itu. Meskipun orang-orang lain juga merasa ketakutan dan ngeri, tetapi sebesarbesarnya mereka hanya harus menyerahkan barang-barang mereka. Tetapi gadis itu harus menyerahkan dirinya.  Satu-satunya harapan baginya adalah kalau Lawa Ijo tetap pada pendiriannya, melarang Jaka Soka berbuat sesuatu di daerah ini. Sebab Lawa Ijo sendiri, menurut berita yang tersiar, tak pernah menculik atau menghendaki seorang gadis.
 Tetapi alangkah kecewanya gadis itu, bahkan hampir saja ia jatuh pingsan ketika
didengarnya Lawa Ijo berkata sambil tertawa pendek.
 “Jaka Soka, sebenarnya aku sama sekali tak mengubah pendirianku. Tetapi sebagai
seorang sahabat, baiklah aku hadiahkan gadis itu kepadamu. Aku sama sekali tak
berkepentingan dengannya, sebab aku mempunyai kepentingan lain.”
 Mendengar jawaban Lawa Ijo, Jaka Soka menjadi gembira sekali. “Lawa Ijo, memang
hanya itulah yang sebenarnya aku kehendaki dari rombongan ini. Hanya barangkali kau
anggap aku bersalah, bahwa aku tidak minta izinmu dahulu. Nah, sekarang kau telah
mengizinkan,” katanya.
 Sekali lagi Lawa Ijo tertawa. “Terserahlah kepadamu, Soka,” katanya.
 Mendengar keputusan Lawa Ijo, gadis itu semakin putus asa. Tak ada lagi harapan
baginya untuk melepaskan diri dari tangan penjahat itu.
 MAHESA JENAR selalu memperhatikan perkembangan keadaan dengan cermat. Ia
dihadapkan pada satu persoalan yang juga cukup rumit. Di sini, tanpa diduga-duga ia
telah bertemu dengan Lawa Ijo yang sengaja akan dicarinya. Tetapi di sini juga, ada
seorang yang dapat mengganggu pertemuan itu. Yaitu Jaka Soka yang ternyata
mempunyai kekuatan seimbang dengan Lawa Ijo.
 Kalau pada saat itu Mahesa Jenar membuat perhitungan dengan Lawa Ijo, ia sendiri
belum tahu pasti siapakah yang akan menang. Apalagi kalau kemudian Jaka Soka ikut
campur, maka masalahnya akan merugikan. Menurut perhitungan Mahesa Jenar,
melawan dua orang adalah pekerjaan yang berat sekali, bahkan mungkin diluar kuasanya.
 Tetapi diluar itu ia menghadapi soal baru. Jaka Soka menghendaki untuk membawa
gadis itu pulang ke Nusa Kambangan. Apakah hal yang demikian dan berlangsung di
bawah hidungnya akan dibiarkan saja? Andaikan ia bertindak, dalam hal ini pun ada
kemungkinan ia terlibat dalam pertempuran melawan kedua orang itu. Sebagai seorang
prajurit pilihan, Mahesa Jenar sama sekali tidak mengenal takut. Kalau ia sampai berpikir
demikian, masalahnya adalah atas dasar perhitungan cara dan bagaimana untuk mencapai
maksudnya.
 Selagi Mahesa Jenar sibuk berpikir, Jaka Soka dengan matanya yang redup dan senyum
aneh yang menghiasi bibirnya yang tipis, telah mulai bergerak dan berjalan perlahanlahan ke arah gadis cantik itu. Sementara itu Lawa Ijo berteriak bergurau.
 “Jaka Soka, sebenarnya aku iri hati melihat ketampanan wajahmu. Tetapi kau rupanya
adalah seorang tampan yang sial. Sebab gadis-gadis yang kau kehendaki menjadi pingsan kegirangan, karena akan mendapat pasangan yang setampan kau ini.”
 Jaka Soka sama sekali tak mendengar perkataan Lawa Ijo itu. Ia sedang kegirangan akan
mendapat gadis yang demikian cantiknya, melebihi semua gadis yang pernah dilihatnya.
 Tetapi terjadilah suatu hal diluar perhitungannya. Dalam keputus-asaan, gadis itu
memutuskan untuk lebih baik membunuh dirinya. Ia sama sekali tidak mau dinodai
kehormatannya oleh iblis-iblis yang demikian itu. Maka secepat kilat ia mengambil keris
dari dalam bungkusan yang dibawanya, dan segera ia menarik keris itu dari warangkanya.
 Jaka Soka sama sekali tidak mengira bahwa hal yang demikian akan terjadi. Karena itu
ia terkejut, sehingga langkahnya terhenti. Ia masih belum tahu, maksud yang sebenarnya
gadis itu menarik keris. Karena itu ia harus berhati-hati. Tetapi tiba-tiba saja ia melihat
keris itu melayang menuju kearah dada gadis itu sendiri.
 Jaka Soka tersadar. Karena itu harus dicegahnya. Tetapi sayang jaraknya masih terlalu
jauh. Sehingga terloncatlah teriakan dari mulutnya yang berbibir tipis itu dengan noda
yang cemas. Cemas akan kehilangan gadis itu.
 “Jangan .... Jangan lakukan itu.”
 Tetapi teriakannya itu menggetar tanpa sesuatu pengaruh apapun atas gadis yang sudah
bertekad untuk mati daripada jatuh di tangan bajak laut yang berwajah tampan itu.
 Tiba-tiba tampaklah sebuah bayangan melontar dengan cepatnya menyambar
pergelangan tangan gadis itu, sehingga keris yang digenggamnya tidak sampai menembus
dadanya. Gadis itu terkejut bukan kepalang. Demikian juga semua yang menyaksikan.
Bahkan Jaka Soka dan Lawa Ijopun menjadi terkejut dan heran melihat orang dapat
bergerak demikian cepatnya.
 Itulah Mahesa Jenar yang telah mencoba untuk menyelamatkan jiwa gadis cantik itu.
Dan sekaligus keris itupun telah berpindah ketangannya pula. Tetapi belum lagi debar
jantung mereka berhenti, kembali mereka terkejut, terutama Mahesa Jenar sendiri, Jaka
Soka dan Lawa Ijo, ketika mereka melihat keris yang sekarang sudah berada di
tangannya.
 “Kiai Sigar Penjalin,” desis mereka hampir bersamaan.
 Itulah nama keris yang dipegang oleh Mahesa Jenar. Keris yang berbentuk lurus. Satu
sisinya melengkung hampir setengah lingkaran, sedangkan sisi yang lain datar seperti
kebiasaan keris. Mirip seperti batang penjalin yang dibelah dua dan diruncingkan
ujungnya. Yang mengejutkan mereka adalah, keris itu terkenal sebagai pusaka seorang
sakti yang mempunyai nama sejajar dengan Pasingsingan. Yaitu Ki Ageng Pandan Alas
dari Klurak Wanasaba. Demikian terkejutnya Mahesa Jenar sampai tangannya yang
memegang keris itu gemetar.  Maka setelah agak reda sedikit dan nafasnya mulai teratur, Mahesa Jenar berdiri dengan teguhnya memandang tajam kepada Jaka Soka.
 “Apakah yang kau kehendaki dari gadis ini?” tanya Mahesa Jenar.
 Getar hati Jaka Soka sementara itu telah turun. Tetapi sekarang otaknya dihinggapi oleh
suatu pertanyaan. Perantau tolol itu, kenapa tiba-tiba saja dapat berbuat sedemikian
cepatnya, sehingga jiwa gadis cantik itu tertolong. Selain itu, gadis itu ternyata memiliki
keris Kiai Sigar Penjalin. Apakah hubungannya dengan Ki Ageng Pandan Alas?
 Jaka Soka berpaling kepada Lawa Ijo untuk mendapat pertimbangan. Ternyata Lawa Ijo
pun pada saat itu sedang berpikir keras. Ia memandang keris Sigar Penjalin yang berada
di tangan Mahesa Jenar itu tanpa berkedip. Baru setelah beberapa saat kemudian ia
berkata,
 “Jaka Soka, menurut pendapatku sebaiknya kita tidak membuka suatu persoalan dengan
Ki Ageng Pandan Alas. Sebab dengan membawa keris Sigar Penjalin, gadis itu
mempunyai hubungan dengan Ki Ageng Pandan Alas.”
 Jaka Soka dalam hati kecilnya membenarkan juga keterangan Lawa Ijo itu. Sebab ia pun
tahu bahwa Ki Ageng Pandan Alas termasuk orang yang aneh. Ia selalu berada di mana
saja merantau dari satu tempat ketempat lain.
 Namun demikian, ia sayang juga melepaskan gadis cantik yang sudah sekian lama
diikutinya. Sebab dalam pengamatannya, belum pernah ia menemukan gadis secantik itu.
Kalau kali ini ia tak berhasil membawanya pulang, maka seumur hidupnya belum tentu ia
akan menjumpainya lagi.
 Sebaliknya, gadis cantik itu sama sekali tidak menduga bahwa keris yang dibawanya
mempunyai pengaruh yang sedemikian hebatnya. Ia sendiri belum pernah mendengar
nama Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak. Keris yang dibawanya adalah keris
peninggalan ibunya pada saat ibunya menghembuskan nafas terakhir.
 Menurut ibunya, keris itu adalah keris kakeknya, seorang petani miskin yang pada saat
itu sedang merantau mencari daerah baru yang lebih subur, yang barangkali dapat dipakai
sebagai tempat tinggal yang baru. Dan menurut ibunya, kakeknya sekarang berada di
desa Pliridan. Daerah antara hutan Tambak Baya dan Beringan, bagian dari hutan
Mentaok. Suatu daerah yang baru dibuka oleh beberapa orang, yang nampaknya subur
untuk daerah pertanian.
 “Lawa Ijo,” kata Jaka Soka kemudian setelah berpikir sejenak. “Memang aku sebenarnya
segan terhadap orang tua itu. Tetapi menurut pikiranmu apakah ia mengetahui bahwa
gadis itu aku bawa pulang ke Nusa Kambangan?”
 “Soka,” jawab Lawa Ijo, “Pandan Alas itu tidak ubahnya seperti hantu yang berada di
mana saja, pada saat apa saja. Ia seolah-olah memiliki seribu mata dan seribu telinga yang bertebaran di seluruh tanah ini.”
 “Tetapi ternyata sekarang ia tak ada di tempat ini,” potong Jaka Soka
 “Kau jangan berkeras membawa gadis itu, Soka. Meskipun seandainya Pandan Alas
pada saat ini tidak melihat dan mengetahui, tetapi perbuatan itu kau lakukan di hadapan
saksi-saksi yang pada suatu ketika pasti akan terdengar pula oleh hantu yang bertelinga
seribu itu. Kalau sudah demikian halnya, kau tidak akan dapat lagi hidup tenteram dan
berlindung di mana pun di dunia ini.”
 Jaka Soka terdiam. Tampak alisnya berkerut-kerut. Tiba-tiba terdengarlah ia menjawab
dengan jawaban yang sama sekali tidak terduga-duga. Semua yang mendengar menjadi
terkejut, seperti tanah tempat mereka berpijak itu runtuh.
 “Lawa Ijo, kau benar. Memang aku seharusnya tidak berbuat itu di hadapan saksi-saksi.
Karena itu maka akan aku bunuh semua orang yang menyaksikan peristiwa ini, kecuali
kau,” kata Jaka Soka dengan suara mantap.
 Baru mendengar kata-kata itu, dan belum lagi Jaka Soka berbuat sesuatu, orang-orang
yang mendengarnya seolah-olah telah terbang nyawanya. Lawa Ijo yang matanya
memancarkan sinar kebuasan dan kebengisan itu pun terkejut mendengar keputusan Jaka
Soka untuk membunuh sekian banyak orang itu.
 “Jaka Soka, sebaiknya kau pikir masak-masak apa yang akan kau lakukan itu. Apalagi
hal itu terjadi di daerah kuasaku,” kata Lawa Ijo memperingatkan.
 “Lawa Ijo, kau tidak akan tersangkut dalam perkara ini. Dan percayalah, bahwa apabila
tak seorang pun yang hidup diantara orang-orang ini, maka bagaimanapun tajamnya
telinga Pandan Alas, ia tak mungkin dapat mendengarnya,” jawab Jaka Soka.
 Dahi Lawa Ijo tampak berkerut. Rupanya ia berpikir keras. Tetapi bagaimanapun, ia
tetap tidak dapat mengerti jalan pikiran Jaka Soka. Mengorbankan sekian banyak orang
hanya untuk mendapatkan seorang gadis. Seandainya taruhan itu untuk memperebutkan
sebuah pusaka atau harta benda yang tak ternilai, agaknya Lawa Ijo masih dapat
mengerti.
 Mereka yang mendengarkan percakapan itu, hatinya diliputi oleh suasana ketegangan
yang hebat. Mereka mengharap Lawa Ijo tetap pada pendiriannya, tak mengizinkan Jaka
Soka berbuat demikian kejamnya hanya untuk memanjakan nafsunya. Mereka rela
andaikata kemudian Lawa Ijo merampas segala harta benda mereka, asal nyawa mereka
diselamatkan. Bahkan ada diantaranya yang mulai menyesali gadis cantik itu. Karena
gadis itulah maka nyawa mereka terancam.
 Sampai beberapa saat Lawa Ijo tidak berkata-kata. Ia menjadi bimbang. Sebenarnya
lebih baik baginya untuk tidak menambah lawan. Apalagi seorang sakti seperti Ki Ageng
Pandan Alas.  Tetapi untuk menolak permintaan Jaka Soka pun akan mempunyai akibat yang tak
menyenangkan. Sebab ia tahu betul tabiat kawannya ini. Semua kehendaknya harus dapat
terlaksana. Apalagi kalau ia sedang tergila-gila kepada seorang gadis. Bagaimanapun
kejamnya Lawa Ijo, namun tak akan terlintas dalam pikirannya untuk berbuat demikian,
hanya untuk seorang gadis. Sebab ia sama sekali memang tidak pernah tertarik kepada
gadis seperti itu. Baginya, gadis-gadis demikian hanyalah akan mempersulit diri saja.
 “Lawa Ijo, seharusnya kau tak usah takut kepada Pandan Alas. Sebab Paman
Pasingsingan tentu tidak akan tinggal diam andaikata Pandan Alas salah duga
terhadapmu mengenai masalah ini,” sambung Jaka Soka ketika Lawa Ijo lama tak
menjawab.
 Mendengar desakan terakhir ini, Lawa Ijo tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi bagi mereka yang menyaksikan, anggukan kepala Lawa Ijo itu bagaikan melihat
jatuhnya palu keputusan hukuman mati bagi mereka semua.
 Maka terjadilah kegemparan diantara mereka. Beberapa orang telah menangis merintihrintih minta diampuni dan diselamatkan jiwanya. Mereka bersumpah untuk tidak
membuka mulut tentang peristiwa ini kepada siapa pun. Beberapa orang lagi jatuh
pingsan, dan yang lain menggigil ketakutan.
 Dalam keadaan yang demikian, terasalah kesetiakawanan mereka hancur lumat demi
keselamatan masing-masing. Bahkan ada diantara mereka yang sampai hati terangterangan mengumpati gadis yang sama sekali tak bersalah itu.
 
 DALAM keributan itu, tiba-tiba gadis cantik itu berdiri tegak. Kepalanya terangkat dan
dadanya menengadah. Lenyaplah kesan-kesan ketakutan dan kecemasan yang
membayang di wajahnya. Dari mulutnya yang mungil itu terdengarlah suaranya yang
gemetar.
 “Saudara-saudara seperjalanan... aku minta maaf kalau kehadiranku diantara saudarasaudara menyebabkan saudara-saudara menemui kesulitan. Tetapi ketahuilah bahwa
orang ini tidak akan berguna membunuh saudara-saudara sekalian, sebab aku telah
memutuskan untuk bunuh diri.”
 Kemudian gadis itu berpaling kepada Mahesa Jenar. Lalu katanya.
 “Ki Sanak, aku berterima kasih kepadamu, atas usahamu menyelamatkan jiwaku. Tetapi
adalah lebih berharga jiwa dari sekian banyak orang termasuk ki sanak sendiri, daripada
aku seorang. Karena itu berikanlah keris itu kembali kepadaku.”
 Sudah tentu Mahesa Jenar tidak dapat berpangku tangan menyaksikan semua itu terjadi.
Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri, mengabdikan diri bagi kedamaian hati rakyat dan kemanusiaan. Sebab dengan demikian ia telah mengabdikan dirinya pula kepada tanah
tumpah darah dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 Mahesa Jenar sangat terharu mendengar ucapan gadis yang menyediakan diri sebagai
tumbal keselamatan sekian banyak orang. Tetapi belum lagi ia sempat menjawab,
terdengar suara Jaka Soka.
 “Perantau tolol. Jangan kau serahkan kepadanya, supaya aku selamatkan jiwamu.
Berikan saja keris itu kepadaku.”
 Tetapi Mahesa Jenar sudah mendapat suatu ketetapan. Apalagi ketika ia mendengar
bahwa Jaka Soka akan membunuh semua orang yang ada, hanya untuk merampas
seorang gadis. Sedangkan gadis itu sendiri sama sekali tidak menghendakinya.
 Karena itu, dengan sikap seekor banteng, Mahesa Jenar melangkah, lalu berdiri diantara
gadis yang pucat itu. Wajahnya memancarkan kebulatan tekadnya, apapun yang akan
dihadapi. Meskipun ia harus melawan Jaka Soka dan Lawa Ijo sekaligus. Dengan
tenangnya pula ia menjawab kata-kata Jaka Soka.
 “Jaka Soka yang dikenal sebagai seorang Bajak Laut yang menakutkan. Buat apa aku
mengharap kau membebaskan jiwaku. Kalau aku terpaksa berkubur di tengah-tengah
hutan Tambak Baya ini. Karena aku membela kebenaran, aku sama sekali tidak akan
menyesal. Karena itu selagi aku masih bernafas, kau tak akan dapat menyentuh gadis
yang belum aku kenal sebelumnya ini.”
 Jawaban Mahesa Jenar ini hebat akibatnya. Muka Jaka Soka segera berubah menjadi
merah membara, dibakar oleh kemarahannya. Kalau tadi ia melihat orang itu dapat
bergerak begitu cepat, baginya bukanlah ukuran bahwa orang itu cukup berharga untuk
dilawannya. Apalagi sebelum itu, perantau tolol itu telah melawannya bersama-sama
dengan ketujuh orang pengawal, dan sama sekali tak menunjukkan keistimewaan apaapa. Meskipun demikian, dalam hati Jaka Soka mengakui, bahwa orang itu benar-benar
orang tolol yang berani.
 Selain itu, kata-kata Mahesa Jenar ternyata mempunyai akibat yang mengejutkan pula
terhadap para pengawal. Dengan tak terduga sama sekali, pemimpin pengawal yang telah
agak lanjut usia itu tiba-tiba meloncat ke samping Mahesa Jenar. Dengan penuh tanggung
jawab ia berkata.
 “Jaka Soka, akupun pernah mendengar kebesaran namamu. Dan sekarang aku sempat
menyaksikan pula. Bahkan sekaligus aku dapat mengetahui betapa biadabnya Bajak Laut
dari Nusa Kambangan ini. Karena itu, bagaimana aku berani berlagak di hadapanmu.
Tetapi karena kali ini aku sedang dibebani oleh suatu tanggung jawab, maka bersamasama perantau yang belum aku kenal ini, aku bersedia menjadi banten. Apa artinya sisa
umurku yang tinggal beberapa tahun lagi, kalau dilumuri oleh suatu pengkhianatan akan
tugas yang dibebankan di pundakku.”  “Cukup!”
 Potong Jaka Soka. Tetapi suaranya terputus sampai sekian, karena getaran
kemarahannya. Wajahnya menjadi semakin merah. Giginya gemeretak, sedangkan
matanya seolah-olah memancarkan api, seperti perapian yang masih menyala-nyala.
Apalagi ketika dilihatnya kesembilan pengawal yang lain pun tiba-tiba serentak berdiri
dengan teguhnya menggenggam senjata masing-masing demikian eratnya. Seakan-akan
teguhnya ingin mengatakan, bahwa gugurlah mereka dalam tugasnya dengan senjata di
tangan.
 Tetapi kembali terjadi hal yang sama sekali tak diduga-duga. Orang yang dianggapnya
sebagai perantau tolol yang menumpang berjalan, bahkan ada diantara mereka yang
memberikan beban dengan menyanggupinya untuk memberi upah sekedarnya itu, berkata
dengan lantangnya kepada pemimpin pengawal itu.
 “Bapak ..., Bapak telah lanjut usia. Apalagi orang yang dilawan bukan sembarang orang.
Karena itu minggirlah. Biarlah aku yang berumur sebaya melawannya, untuk mewakili
mereka yang berhati kecil, sekecil hati kelinci, sehingga kehilangan rasa kesetiakawanan
mereka. Bahkan ada yang sampai hati menyalahkan gadis ini pula. Tetapi karena aku
tidak sepantasnya mempergunakan keris Sigar Penjalin milik seorang sakti ini, baiklah
keris ini aku titipkan kepadamu. Janganlah gadis ini diberi kesempatan untuk bunuh diri
sebelum kita semua binasa.”
 Karena pengaruh perbawa kata-kata Mahesa Jenar itu, maka orang tua itu seolah-olah
diluar sadarnya menerima keris Sigar Penjalin. Sementara itu Lawa Ijo rupanya benarbenar tak mau terlibat dalam persoalan ini. Karena itu ia bersikap sebagai seorang
penonton saja, yang kemudian malahan perlahan-lahan duduk pada sebuah akar pohon.
 Sedang Jaka Soka kini telah sampai pada puncak kemarahannya. Meskipun demikian ia
masih ingat pada harga dirinya. Segera pedang kecilnya disarungkan ke dalam tongkat
hitam manis, dan melemparkan tongkat itu kepada Lawa Ijo.
 “Lawa Ijo, tolong bawakan tongkatku ini,”
 Kata Jaka Soka dengan nada geram. Lalu katanya kepada Mahesa Jenar.
 “Setan. Kau berani meremehkan aku. Aku harap kau maju bersama-sama, supaya cepat
selesai pekerjaanku. Membunuh kalian. Semua. Tak seorang pun akan aku sisakan.”
 Segera sesudah itu Jaka Soka bersiap untuk menghancur-lumatkan orang yang telah
berani menghinanya. Sementara itu Mahesa Jenar pun telah bersiap pula. Sebab ia tahu
benar bahwa lawannya itu adalah orang yang mendapat sebutan Ular Laut yang Ganas
dari Nusa Kambangan.
 Mereka yang menyaksikan adegan itu, hatinya berdegub, dipenuhi oleh bermacammacam persoalan. Meskipun ada juga yang merasa tersentuh oleh sindiran Mahesa Jenar, bahwa tak seorang pun diantara mereka yang berani membela gadis yang sedang dalam
kesulitan itu. Bahkan ada pula yang mengumpatinya, kecuali para pengawal yang merasa
memikul tanggung jawab.
 Tetapi tak seorang pun dari mereka yang menaruh setitik harapan kepada perantau yang
tolol meskipun berani itu. Bahkan ada yang menganggap kelakuan Mahesa Jenar itu
hanya akan menambah kemarahan Jaka Soka, sehingga akan mempercepat kematian
mereka tanpa pertimbangan lagi.
 Gadis cantik itu sendiri memandang Mahesa Jenar sebagai orang yang aneh. Setelah
menyaksikan Mahesa Jenar bersama-sama dengan para pengawal tak dapat
memenangkan perkelahian melawan pemuda tampan yang ternyata bernama Jaka Soka
itu, tiba-tiba sekarang ia, si perantau itu, ingin melawannya seorang diri.
 Disamping perasaan itu, timbul pula suatu perasaan lain yang asing dalam diri gadis itu.
Suatu perasaan dimana ia ingin mendapatkan perlindungan dari orang yang aneh itu lebih
daripada yang lain-lain, juga lebih daripada para pengawal itu sendiri, meskipun ia tidak
tahu apakah orang itu akan dapat melakukannya. Sesaat kemudian, kembali terdengar
Jaka Soka menggeram hebat.
 “Sebenarnya sayanglah tanganku ini dikotori oleh darah kelinci seperti tampangmu itu.
Tetapi karena kau adalah kelinci yang paling tak tahu diri, maka terpaksa aku ingin
menguliti tubuhmu.”
 Kata-kata itu benar-benar menyeramkan. Tetapi lebih-lebih lagi ketika orang-orang itu
melihat tangan Ular Laut itu menjulur dengan dahsyatnya ke arah tulang-tulang iga
Mahesa Jenar. Rupanya Jaka Soka yang seakan sedang gila dibakar oleh kemarahannya
itu, ingin membunuh lawannya dengan pukulan yang pertama.
 Mereka yang menyaksikan gerak Jaka Soka itu tersirat darahnya. Beberapa orang
memejamkan matanya, sebab menurut dugaan mereka tulang-tulang iga perantau tolol itu
segera akan rontok seluruhnya. Bahkan beberapa orang segera memegangi dada masingmasing, se-olah-olah tulang iga merekalah yang akan lepas berderai-derai.
 Untunglah bahwa pada saat itu Mahesa Jenar telah benar-benar siap dan waspada. Sebab
ia tahu bahwa lawannya bukanlah lawan biasa, tetapi ia adalah seorang pemuda yang
mempunyai nama di kalangan aliran hitam.
 Meskipun demikian ia kagum juga melihat kegesitan Ular Laut itu. Melihat serangan
yang datang dengan dahsyatnya, segera Mahesa Jenar dengan cepatnya pula mengelak ke
samping. Seterusnya ia tidak mau membuang-buang waktu lagi. Karena itu, ketika ia
berhasil membebaskan diri dari serangan pertama Jaka Soka, segera ia membuka
serangan pula. Sebuah serangan dengan kakinya menyambar perut lawannya.
 Tetapi Jaka Soka bukan anak kemarin sore. Ketika ia merasa bahwa serangannya yang
pertama gagal, segera ia mengubah sikapnya dan dengan satu gerakan melingkar ia berhasil mengelakkan serangan Mahesa Jenar.
 Sebaliknya Mahesa Jenar adalah seorang prajurit yang berpengalaman. Melihat
lawannya menghindar, cepat-cepat ia memotong arah dan tahu-tahu ia sudah berada di
muka Jaka Soka kembali, sekaligus menyerang dengan tangkasnya ke arah leher
lawannya. Jaka Soka menjadi terperanjat bukan buatan. Apalagi sebelumnya ia
memandang orang itu sebagai seorang yang tak berarti meskipun mempunyai cukup
keberanian. Dengan demikian kewaspadaannya jadi berkurang.
 Karena itu, ketika dengan tak diduganya sama sekali lawannya itu dapat bergerak dengan
lincahnya, ia tidak sempat mengelakkan diri. Mau tidak mau ia harus melawan serangan
itu dengan sebuah pertahanan yang rapat, kalau ia tidak mau binasa.
 Karena itu terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Mahesa Jenar telah mempergunakan
sebagian besar tenaganya, sedangkan Jaka Soka pun telah mengerahkan kekuatannya
pula. Akibatnya adalah hebat sekali. Tubuh Mahesa Jenar bergetar hebat dan ia terdorong
surut kebelakang. Jaka Soka pun terlempar beberapa depa, dan kemudian meski sudah
berusaha, ia tak berhasil menguasai keseimbangan tubuhnya. Sehingga ia jatuh beberapa
kali berguling, barulah ia berhasil meloncat tegak kembali.
 Mengalami hal ini, dada Jaka Soka serasa akan pecah. Darahnya mendidih dan
menggelagak sampai kepala. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa lawannya, yang dalam
pandangannya semula tidaklah lebih dari seekor kelinci yang tidak tahu diri itu, ternyata
memiliki tenaga yang demikian dahsyatnya. Karena itu, matanya menjadi semakin
menyala.
 Tahulah Jaka Soka sekarang, kenapa tadi ia sama sekali tidak berhasil membunuh
seorang pun dari para pengawal yang mengeroyoknya. Rupanya orang ini tidak saja
kebetulan menubruk kawan-kawannya, melemparnya dengan pasir pada saat tepat
tongkatnya hampir menyambar korban, kemudian jatuh bergulingan menimpa beberapa
orang yang dadanya hampir rontok oleh tongkatnya. Hal itu pastilah disengaja untuk
menyelamatkan para pengawal itu. Sebab ternyata bahwa orang itu mempunyai
kepandaian yang luar biasa.
 Mahesa Jenar sendiri terkejut pula mengalami benturan itu. Ternyata tenaga Jaka Soka
pun dahsyat, sehingga ia tergetar surut. Dalam hal ini Mahesa Jenar sadar, bahwa Jaka
Soka terlalu menganggapnya tak berarti, sehingga apabila Jaka Soka sungguh-sungguh
menggempurnya dengan segenap kekuatan dan ilmunya, maka keadaannya pasti akan
lain. Bahkan mungkin keadaannya akan berimbang.
 Sesaat kemudian, baik Jaka Soka maupun Mahesa Jenar telah mempersiapkan diri
kembali untuk memulai perkelahian. Mereka berdua sadar, bahwa kekuatan mereka tidak
terpaut banyak. Maka kunci kemenangan dari pertempuran ini terletak dalam kepandaian
serta keprigelan mereka membawakan diri dalam keadaan-keadaan yang genting.
 Sebentar kemudian perkelahian itu segera mulai kembali dengan sengitnya. Cara berkelahi Jaka Soka itu benar-benar seperti ular. Melingkar, melilit lawannya dan
mematuk dengan jari-jarinya demikian dahsyatnya. Geraknya cepat dan licin tak terdugaduga.
 Sedangkan Mahesa Jenar bersikap lebih tenang. Ia bertempur seperti seekor banteng
yang teguh, kokoh dan tangguh. Ia tidak begitu banyak bergerak, tetapi demikian
tubuhnya berkisar, menyambarlah udara maut ber-putar-putar.
 Perkelahian itu berlangsung demikian dahsyatnya. Mereka bergerak sambar menyambar
diantara pepohonan hutan, sehingga terdengarlah suara berderak batang-batang patah
kena sambaran tangan mereka yang keras bagaikan besi.
 Mereka yang menyaksikan pertempuran itu telah berlari-lari berpencaran. Sedang dalam
otak mereka berkecamuk seribu satu pertanyaan mengenai diri perantau aneh itu. Setelah
mereka menyaksikan betapa hebat tenaganya, serta betapa dahsyat caranya bertempur,
mereka menjadi kebingungan.
 Adanya Jaka Soka diantara mereka, serta munculnya Lawa Ijo dengan tiba-tiba itu saja,
telah cukup memeningkan kepala mereka. Apalagi keputusan Jaka Soka untuk
membunuh mereka semua, karena mereka menyaksikan perbuatannya, menculik seorang
gadis. Dan sekarang, tiba-tiba di hadapan mereka muncul seorang lagi, yang semula
mereka anggap sama sekali tak berarti, tetapi ternyata dapat mengimbangi ketangkasan
Jaka Soka. Karena itu, pastilah akan muncul pula sebuah nama diantara mereka yang
akan mengejutkan pula, Nama orang yang mereka sangka perantau tolol itu.
 Di saat yang sedemikian tegangnya, dimana berputar-putar udara yang bernafaskan
maut, pecahlah fajar di ujung Timur. Cahayanya yang kuning kemerah-merahan
melimpah ke persada bumi yang dipenuhi oleh segala macam pertentangan.
Pertentangan-pertentangan yang mudah diselesaikan, pertentangan-pertentangan yang
sulit diselesaikan, bahkan kadang-kadang terdapat pertentangan-pertentangan yang tak
mungkin dipecahkan.
 Meskipun cahaya kemerahan itu masih begitu lemah untuk dapat menerangi pedalaman
hutan yang lebat, tetapi berkas-berkas cahayanya yang menerobos dedaunan, sedikit
banyak telah dapat pula menyibak gelapnya malam, dan mengurangi kepekatan rimba,
menggantikan cahaya perapian yang telah terlalu lama padam. Maka makin lama semakin
tampak jelaslah dua bayangan yang sedang mati-matian mengadu tenaga itu.
 Sementara itu Lawa Ijo telah mengikuti pertempuran itu dengan saksama. Di dalam hati
ia memuji juga keuletan Jaka Soka yang pada akhir tahun ini akan bersama-sama
mengadakan semacam pertandingan dengan beberapa orang lainnya, termasuk dirinya.
 Diam-diam ia merasa mendapat keuntungan dengan kejadian itu. Sebab dengan
demikian ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan Jaka Soka, yang pada akhir tahun
ini pasti akan menjadi salah seorang lawannya yang berat. Karena itu sejak pertempuran
berkobar, perhatiannya terikat kepada setiap gerak Jaka Soka.  Tetapi setelah pertempuran itu berlangsung agak lama, Lawa Ijo menangkap gerak-gerak
yang menarik perhatiannya dari lawan Jaka Soka. Maka segera perhatiannya beralih.
Gerak orang ini demikian tenang, kokoh dan tangguh. Pastilah ia bukan orang
sembarangan. Sesaat kemudian mendadak Lawa Ijo terkejut sekali sampai ia meloncat
selangkah ke depan. Matanya dengan tajamnya mengawasi setiap gerak Mahesa Jenar
sampai matanya seolah-olah mau meloncat dari kepalanya.
 Tiba-tiba saja ia melihat sesuatu pada gerak-gerak Mahesa Jenar. Gerakan-gerakan yang
pernah dilihatnya, bahkan pernah dialami kedahsyatannya. Maka dengan suatu gerakan
yang cepat sekali, secepat sambaran halilintar, ia meloncat maju ke tengah-tengah arena
pertempuran. Sementara itu dengan nyaringnya mulutnya berteriak.
 “Jaka Soka, minggirlah!”
 Baik Jaka Soka maupun Mahesa Jenar serentak terkejut mendengar seruan itu. Apalagi
ketika mereka melihat bahwa Lawa Ijo telah meloncat ke tengah-tengah mereka. Maka
sesaat pertempuran itu terhenti, dan tanpa berjanji lebih dahulu, mereka bersama-sama
meloncat selangkah surut. Wajah Jaka Soka masih merah membara sebagai ungkapan
kemarahan yang menyala di dalam dadanya.
 “Lawa Ijo, apalagi yang kau maui dariku sehingga kau hentikan perkelahian ini.
Meskipun aku tidak segera dapat membunuh orang yang sombong ini, tetapi aku sudah
bertekad untuk melayani sampai berapa hari pun, bahkan bertahun-tahun sampai salah
seorang dari kami hancur,” kata Jaka Soka.
 “Kau benar Soka, tetapi sudah aku katakan, bahwa daerah ini adalah daerahku, sehingga
kaupun harus menurut angger-angger-ku,” sahut Lawa Ijo.
 Jaka Soka memandang Lawa Ijo dengan mata yang menyalakan api kemarahan.
 “Apalagi yang kau kehendaki dariku?” katanya.
 “Aku tak menghendaki apa-apa lagi daripadamu, Soka, kecuali serahkan orang ini
kepadaku,” jawab Lawa Ijo.
 Mata Jaka Soka bertambah berapi-api lagi.
 “Lawa Ijo, apakah kau sudah memandang aku sedemikian rendahnya sehingga kau perlu
menolong aku?” kata Jaka Soka lagi.
 Lawa Ijo mendengus pendek. Sambil menggeleng ia berkata.
 “Sama sekali tidak, kawan. Tetapi seperti yang kau katakan tadi, bahwa yang aku
hadiahkan kepadamu hanyalah gadis itu saja. Dan sekehendakmulah kalau yang lain-lain
akan kau bunuh. Tetapi orang ini tidak. Sebab aku sendirilah yang akan membereskannya.”
 Mendengar ucapan Lawa Ijo itu, wajah Jaka Soka menjadi semakin menyala. Giginya
gemeretak dan tubuhnya menggigil menahan marah. Dengan suara gemuruh ia
menjawab.
 “Aku bukan perempuan yang perlu perlindungan laki-laki. Buat apa aku menerima
hadiah dari seekor kelelawar busuk seperti tampangmu itu? Lawa Ijo... jangan coba
merendahkan aku.”
 Meskipun wajah Lawa Ijo nampaknya jauh lebih buas dari wajah Jaka Soka yang tampan
itu, namun ternyata kepala Lawa Ijo agak lebih dingin. Karena itu ia sama sekali tidak
menunjukkan kegusarannya mendengar kata-kata Jaka Soka itu. Bahkan ia masih
menjawab dengan tenang meskipun tampak pula kegarangannya.
 “Jaka Soka, aku tidak peduli atas tanggapanmu terhadap permintaanku. Serahkan orang
itu kepadaku. Sebab aku mempunyai urusan yang lebih penting dari urusanmu. Urusanku
menyangkut nama baik dan harga diri perguruanku, sedang urusanmu hanyalah urusan
perempuan itu saja.”
 Oleh keterangan Lawa Ijo yang terakhir itu, nyala kemarahan Jaka Soka menjadi surut.
 Sedang pancaran matanya yang berapi-api itu pun segera redup dan membayangkan
keheranan. Tanyanya kemudian.
 “Kau katakan bahwa kau mempunyai urusan dengan orang ini perkara perguruanmu?”
 Lawa Ijo mengangguk, Jaka Soka menjadi bertambah heran. Dan tanpa disengaja ia
memandang Mahesa Jenar. Baru sekarang ia memperhatikan lawannya itu dengan
saksama. Tubuhnya tegap kekar. Dadanya bidang. Meskipun ia berwajah lunak, tetapi
pandangan matanya memancarkan kecermelangan pribadinya.
 “Pantas bahwa aku tak dapat menjatuhkannya. Siapakah orang ini?” pikir Jaka Soka.
 Pertanyaan itu demikian saja meluncur dari mulut Jaka Soka.
 Dan sekaligus semua telinga yang berada di sekitar arena itu segera memperhatikan.
Sebab pertanyaan yang demikian itu timbul pula di setiap hati orang menyaksikan
pertempuran itu. Bahkan diantara mereka telah timbul harapan baru, setelah mereka
menyaksikan kridha orang yang mereka anggap tidak lebih dari seorang perantau. Lebihlebih sepasang suami-istri yang telah merasa terlanjur menyuruh orang itu membawakan
beban mereka.
 Maka semua perhatian pada saat itu tertambat pada mulut Lawa Ijo yang akan menjawab
pertanyaan Jaka Soka.  Sementara itu terdengarlah Lawa Ijo tertawa pendek. Kemudian barulah ia menjawab,
 “Jaka Soka... jangan kau terkejut kalau aku mengucapkan nama orang ini. Ia adalah
orang yang telah membunuh adik seperguruanku kemarin lusa. Watu Gunung. Dan yang
tidak akan pernah aku lupakan, orang ini pernah pula melukai bagian dalam dadaku.”
 Berdebarlah setiap jantung mereka yang mendengar kata-kata ini. Pastilah orang ini
bukan orang sembarangan. Tidak terkecuali Jaka Soka. Sudah sejak lama ia mengenal
Lawa Ijo. Dan pernah pula ia berkelahi melawan orang ini. Tetapi tak pernah salah
seorang dari mereka berdua dapat mengatasi yang lain. Kalau orang ini pernah melukai
Lawa Ijo pastilah ia memiliki kesaktian yang tinggi.
 Kemudian terdengarlah Lawa Ijo melanjutkan kata-katanya.
 “Sayang bahwa ia tidak bersikap perwira. Ia menyerang aku pada saat aku sedang
meloncat turun dari atap gedung perbendaharaan istana Demak.”
 Hati Mahesa Jenar melonjak mendengar sindiran Lawa Ijo. Ia sama sekali tak mau
menerima keterangan itu. Sebab pada saat ia menyerang Lawa Ijo, ia sedang berusaha
untuk melindungi Gadjah Alit yang justru diserang oleh Lawa Ijo dengan sikap yang
tidak perwira. Kecuali Lawa Ijo tidak menyerang dari depan, juga pada saat itu Gadjah
Alit sedang dikerubut oleh tiga orang. Tetapi meskipun demikian ia tidak merasa perlu
melayani fitnah itu. Karena itu ia diam saja.
 Dalam pada itu, Jaka Soka pun segera teringat bahwa memang Lawa Ijo pernah bercerita
kepadanya, tentang luka yang dideritanya pada saat ia berusaha memasuki gedung
perbendaharaan di Demak. Karena itu sebelum Lawa Ijo menyebut nama Mahesa Jenar,
ia mendahului berteriak.
 “Lawa Ijo, kalau demikian inikah orangnya yang bernama Mahesa Jenar dan bergelar
Rangga Tohjaya yang terkenal itu?”
 Mendengar nama itu tergetarlah perasaan mereka yang pernah mengenal kebesarannya.
Lebih-lebih para pengawal dan para pedagang yang datang dari pesisir utara. Tetapi
dalam pada itu, dalam dada masing-masing terbersitlah semacam harapan baru yang
menjadi semakin teguh, bahwa jiwa mereka akan tertolong. Karena itu menjadi semakin
besarlah hati mereka. Selain itu para pengawal kemudian telah bersiap pula terjun ke
dalam pertempuran seandainya Lawa Ijo dan Jaka Soka akan bersama-sama menyerang
Rangga Tohjaya.
 Tetapi rupanya Lawa Ijo tidak akan berbuat demikian.
 “Jaka Soka, karena itulah aku minta kerelaanmu untuk membuat perhitungan dengan
Rangga Tohjaya ini. Sebab aku mempunyai dugaan, bahwa ia pun sedang mencari aku.
Maka sebaiknya kami tidak menyia-nyiakan pertemuan ini,” kata Lawa Ijo.  Sekarang, setelah mengerti persoalannya, Jaka Soka tidak lagi merasa direndahkan oleh
Lawa Ijo. Ia pun menganggap bahwa sikap Lawa Ijo yang demikian itu adalah wajar.
Karena itu ia menjawab.
 “Sekehendakmulah Lawa Ijo. Sebab daerah ini adalah daerahmu. Tetapi urusan gadis itu
akan tetap menjadi urusanku, meskipun aku akan menunggu sampai kau selesai. Kalau
kau tak berhasil dalam usahamu untuk membalaskan dendam adikmu, aku akan juga
membuat perhitungan dengan orang ini. Sebab ia dengan sengaja telah mempermainkan
aku ketika ia bersama-sama dengan para pengawal yang mengerubut aku.”
 “Bagus. Sekarang minggirlah,” desis Lawa Ijo.
 Sesudah itu maka Lawa Ijo menghadap ke arah Mahesa Jenar. Matanya yang sudah
memancarkan kekejaman serta kebengisan itu menjadi bertambah mengerikan.
 “Tohjaya, bersiaplah. Aku akan membuat perhitungan,” ujar Lawa Ijo geram.
 Mahesa Jenar tak menjawab sepatah kata pun. Mulutnya terkatup rapat, tetapi ia maju
beberapa langkah mendekati Lawa Ijo dengan sikap yang meyakinkan dan penuh
kepercayaan pada diri sendiri.
 Sementara itu langit telah menjadi semakin cerah. Angin pagi yang bertiup lambatlambat menggoyangkan daun-daun pepohonan dan membuat suara berdesir diantara
cabang-cabangnya. Suaranya merintih, seolah-olah suara lagu yang mengiringi ratapan
hati setiap orang yang menyaksikan permainan maut antara Mahesa Jenar yang bergelar
Rangga Tohjaya dengan Lawa Ijo. Dua orang yang sama-sama terkenal dari aliran yang
berlawanan, yang pada saat itu sedang mengadakan perhitungan hutang pihutang nyawa.
 Namun betapa moleknya wajah pagi, tak seorang pun yang berada di sekitar arena
pertempuran itu sempat memperhatikan. Bahkan tak seekor burung pun di tempat itu
yang sempat berkicau menyambut datangnya matahari.
 Seperti Jaka Soka, Lawa Ijo pun tak akan merendahkan dirinya melawan Mahesa Jenar
dengan mempergunakan senjata. Tetapi setelah ia mengembalikan tongkat hitam Jaka
Soka, ia tidak menitipkan belati panjangnya, melainkan dengan kekuatan jari-jarinya,
belatinya itu dipatahkan, dan kemudian dilemparkan jauh-jauh. Mau tidak mau, mereka
yang menyaksikan pertunjukan itu hatinya terguncang.
 Segera setelah itu, maka dengan suatu suitan nyaring, Lawa Ijo mulai menyerang
lawannya. Kedua tangannya direntangkan dan jari-jarinya siap merobek tubuh lawannya.
Dengan suatu loncatan yang dahsyat, ia menyambar kepala Mahesa Jenar.
 Mahesa Jenar sadar bahwa apabila serangan ini mengenai sasarannya, maka ia yakin
bahwa kepalanya akan dapat berlubang sedalam jari. Sebelum ini, Mahesa Jenar pernah
bertempur dengan Lawa Ijo, karena itu ia tidak dapat mengira-ngirakan kekuatannya,
meskipun ia yakin bahwa selama ini pastilah Lawa Ijo telah mendapat tambahan yang tidak sedikit.
 Melihat serangan Lawa Ijo yang dahsyat itu, segera Mahesa Jenar merendahkan dirinya,
tetapi sekaligus dengan tangannya ia menyerang perut lawannya dengan empat jari.
 Sebenarnya Lawa Ijo sadar bahwa serangannya yang pertama pasti tak akan mengenai
sasarannya. Karena itu ia selalu waspada, sehingga ketika ia melihat serangan Mahesa
Jenar, dengan tangkasnya pula ia menghindarkan diri. Ia menarik sebelah kakinya ke
belakang dan berputar sedikit. Kemudian sambil merendahkan diri ia menghantam tangan
Mahesa Jenar dengan sikunya. Tetapi Mahesa Jenar tidak mau tangannya disakiti. Ia
segera menarik serangannya dan mendadak ia meloncat setengah langkah surut, tetapi
demikian kakinya menjejak tanah, demikian ia melontarkan dirinya ke samping Lawa Ijo,
dan dengan tumitnya ia menghantam lambung.
 Lawa Ijo terkejut melihat gerakan ini. Kaki Mahesa Jenar bergerak demikian cepatnya.
 Tetapi Lawa Ijo pun mempunyai cukup pengalaman. Segera ia merendah hampir rata
tanah, tetapi demikian ia merendah, kakinya secepat kilat menyambar betis Mahesa Jenar.
 Sekarang Mahesa Jenar yang berada dalam keadaan yang sulit, selagi satu kakinya
terangkat. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cukup tenang, sehingga dalam keadaan yang
nampaknya demikian sulitnya ia masih sempat mengelakkan diri. Dengan sebelah
kakinya ia menjejak tanah dan meloncat tinggi. Dengan satu gerakan kakinya, Mahesa
Jenar dapat mengubah arah, sehingga tubuhnya terjatuh kembali beberapa depa dari
lawannya.
 Lawa Ijo menjadi marah melihat serangan-serangannya yang dilakukan dengan segenap
tenaganya itu sama sekali tak berhasil. Karena itu segera ia pun menyerang kembali
dengan dahsyatnya. Tangannya, dengan sepuluh jari yang kokoh bergerak menyambarnyambar dari segala arah.
 Mereka yang menyaksikan pertempuran itu berdiri terpaku seperti patung. Hati mereka
terpukau oleh pertunjukan maut yang sedang berlangsung dengan dahsyatnya.
 Sebentar-sebentar terdengar suara gemeretak batang-batang kayu yang patah terhantam,
baik oleh Mahesa Jenar maupun oleh Lawa Ijo. Sedang tanah tempat mereka bertempur,
seolah-olah telah berubah sedemikian rupa sehingga menjadi bersih dari segala tumbuhtumbuhan.
 Perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin hebat. Tampaklah betapa hebatnya
mereka berdua. Sampai sekian lama tidak nampak siapakah diantara keduanya yang lebih
unggul. Lawa Ijo bertempur dengan penuh dendam akan pembalasan, sedangkan Mahesa
Jenar bertempur dengan suatu tekad yang telah bulat pula, melenyapkan kejahatan sampai
ke akarnya.
 Demikian dahsyatnya pertempuran itu, sehingga waktu berjalan cepat sekali. Dengan tak terasa, matahari telah miring rendah di ufuk barat. Seolah-olah sengaja mempercepat
jalannya untuk menghindari kesaksian, bahwa di tengah-tengah hutan Tambak Baya telah
terjadi suatu pergulatan maut yang mengerikan.
 Daerah pedalaman hutan yang selamanya tak pernah menerima cahaya matahari
sepenuhnya itu, kini telah kembali suram. Cahaya matahari yang sudah semakin lemah,
tidak mampu lagi menembus sepenuhnya kelebatan daun-daun pepohonan rimba yang
liar dan pekat itu.
 Dua orang perkasa yang sedang bertempur mati-matian itu pun nampak tenaganya
semakin lama menjadi semakin kendor. Mereka berdua adalah orang-orang yang
memiliki ketahanan jasmaniah yang luar biasa. Baik Mahesa Jenar maupun Lawa Ijo
memang pernah mengalami pertempuran sampai berhari-hari. Kali ini mereka telah
mengerahkan segala tenaga mereka. Setelah hal itu berlangsung hampir sehari penuh,
terasalah bahwa kemampuan mereka mulai menurun.
 Dalam hal ini, yang lebih merasa gelisah adalah Lawa Ijo. Perasaannya dibebani oleh
dendam yang tiada taranya. Sejak dirinya dilukai di halaman Kraton Demak, ia sudah
berjanji di dalam hatinya, bahwa pada suatu saat ia harus membinasakan orang yang telah
melukainya itu. Ditambah lagi, orang itu pula yang telah membunuh adik
seperguruannya.
 Karena itu tidak ada pilihan lain kecuali menghancurlumatkan orang ini.
 Tetapi ternyata, setelah sekian lama ia merendam diri serta mencecap ilmu gurunya yang
sakti, Pasingsingan, dengan penuh semangat, namun sudah sehari ia bertempur masih
belum ada tanda-tandanya bahwa ia akan dapat mengalahkan lawannya, apalagi
membinasakan. Karena itu ia menjadi tidak sabar lagi. Tujuannya hanyalah secepat
mungkin membinasakan Rangga Tohjaya. Dengan demikian barulah ia merasa puas.
 Untuk mencapai maksudnya itu, Lawa ijo meloncat mundur beberapa langkah dari
lawannya. Secepat kilat tangannya mengambil sebuah kantong kecil di ikat pinggangnya.
Segera cincin pemberian gurunya itu dikenakan di jari tangan kanannya. Tampaklah
bahwa cincin itu bermata batu akik merah menyala. Itulah batu akik yang dinamai
Kelabang Sayuta.
 Bentuk akik Kelabang Sayuta tidaklah seperti kebiasaan batu-batu akik yang diasah
halus, tetapi batu ini permukaannya kasar dan bahkan bergerigi tajam. Mahesa Jenar
tertegun melihat lawannya mengenakan cincin. Pasti itu bukan sembarang cincin, tetapi
belum lagi ia sadar benar Lawa Ijo telah meloncat menyerangnya dengan garang.
 Lawa Ijo telah mengerahkan segenap sisa tenaganya yang terakhir. Mahesa Jenar
terkejut diserang secara demikian. Lawa Ijo ternyata tidak lagi mempergunakan
perhitungan, melainkan asal saja ia membenturnya. Secepat kilat Mahesa Jenar
menghindar ke samping, tetapi seperti orang gila Lawa Ijo menerjangnya kembali, demikian terjadi beberapa kali.
 Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya banyaklah kesempatan bagi Mahesa Jenar
untuk memukul Lawa Ijo. Meskipun demikian ia masih belum mempergunakan
kesempatan itu, sebab ia masih ingin mengetahui latar belakang dari tindakan-tindakan
Lawa Ijo yang aneh itu. Sebagai seorang yang telah banyak makan garam, seharusnya
Lawa Ijo tidaklah kehilangan akal sampai sedemikian itu.
 Tetapi Mahesa Jenar tidak mempunyai kesempatan untuk banyak menduga-duga maksud
lawannya. Sebab Lawa Ijo merangsang semakin hebat. Sehingga akhirnya terpaksa
Mahesa Jenar melayani pula dengan segenap tenaganya. Maka pertempuran itu menjadi
semakin seru dan aneh. Gerak Lawa Ijo menjadi semakin liar dan seolah-olah membabi
buta namun tidak kurang pula berbahayanya.
 Akhirnya Mahesa Jenar tak dapat lagi menahan dirinya mengalami tekanan yang gila,
kasar dan liar itu. Karenanya, ketika ia melihat suatu kesempatan, maka segera ia
meloncat maju, dan dengan gerakan yang dahsyat ia menghantam pelipis lawannya.
Melihat serangan yang demikian hebatnya, Lawa Ijo sama sekali tak berusaha
menghindarkan diri. Memang kesempatan yang demikianlah yang ditunggunya setelah
sekian lama ia berusaha membentur tubuh lawannya, tetapi belum berhasil.
 Dengan mengerahkan segala sisa tenaganya yang ada, Lawa Ijo melawan dengan sebuah
pukulan yang dahsyat pula, menghantam tangan Mahesa Jenar. Maka terjadilah suatu
benturan yang mengerikan. Mulutnya menyeringai menahan sakit, seolah-olah menjalar
ke seluruh bagian tubuhnya. Sendi-sendi tulangnya seakan-akan copot dari
sambungannya. Sesaat pandangannya jadi kabur berputar-putar.
 Sementara itu mereka yang menyaksikan perkelahian dahsyat itu, darahnya serasa
berhenti mengalir, ketika mereka melihat keadaan Mahesa Jenar. Mereka menyaksikan
suatu keadaan yang tak terduga-duga. Pada saat terjadi benturan, tubuh Mahesa Jenar
tergetar hebat, sehingga ia terlempar beberapa langkah dan jatuh terguling pula.
 Ketika Mahesa Jenar berusaha untuk meloncat berdiri, tiba-tiba tangan kanannya terasa
pedih tak terhingga. Ketika ia mengamati tangan itu, ternyata terdapat sebuah goresan
kecil.
 Itulah luka akibat batu akik Kelabang Sayuta.!
 Seterusnya, tidak hanya rasa perih itu saja, tetapi tiba-tiba mengalirlah rasa dingin yang
seakan-akan menjalar menurut peredaran darahnya ke seluruh tubuh, sehingga tubuhnya
menjadi gemetar dan seakan-akan beku. Wajah Mahesa Jenar segera berubah menjadi
pucat seputih mayat.
 Jaka Soka yang selama itu, dengan enaknya melihat perkelahian itu, menjadi keheranheranan juga menyaksikan akibat dari benturan itu. Lama sekali tidak menduga bahwa
Mahesa Jenar yang sedemikian gagahnya, yang sudah bertempur hampir sehari penuh, dapat dirobohkan justru pada saat ia menyerang dan dibalas dengan sebuah serangan
pula.
 Para pengawal rombongan, yang merasa telah mendapat perlindungan dalam melakukan
tugasnya, melihat kejadian itu dengan hati yang remuk. Pemimpin pengawal, dengan
tidak menghiraukan keselamatan diri, segera meloncat mendekati Mahesa Jenar yang
masih terduduk dan menggigil hebat.
 Segera pemimpin pengawal itu berjongkok di samping Mahesa Jenar sambil merabaraba tangannya. Tetapi ketika ia menyentuh tangan Mahesa Jenar itu, alangkah
terperanjatnya. Tangan itu dingin seperti beku dan di beberapa tempat tampaklah
semacam bisul-bisul yang baru tumbuh. Segera pemimpin pengawal yang tua dan
berpengalaman itu mengetahui bahwa tubuh Mahesa Jenar telah terkena racun yang
mengerikan. Maka segera ia dapat memastikan bahwa racun ini pasti berasal dari cincin
yang dipakai oleh Lawa Ijo, yang bermata batu akik merah menyala, yang bernama
Kelabang Sayuta.
 Sejenak kemudian Lawa Ijo perlahan-lahan dapat menguasai dirinya kembali. Meskipun
masih agak pening, ia sudah dapat berdiri tegak. Maka ketika ia melihat Mahesa Jenar
terduduk di tanah dengan wajah yang pucat, ia menjadi bergembira. Dan tiba-tiba
terdengarlah suara tertawanya yang menakutkan seperti suara hantu yang memanggilmanggil dari lubang kubur.
 Semua yang mendengar suara itu tegaklah bulu romanya. Kekalahan Mahesa Jenar
berarti nyawa mereka akan lenyap. Sebab Jaka Soka telah mengambil keputusan untuk
menghilangkan jejak penculiknya.
 Hati pengawal tua yang menahan tubuh Mahesa Jenar yang lemas itu, juga berdebar. Ia
menjadi sangat sedih. Bukan karena takut menghadapi kematian yang sudah membayang
di matanya, tetapi hatinya menjadi pedih sekali bahwa kemungkinan besar jiwa Mahesa
Jenar, seorang pahlawan yang tanpa menghiraukan dirinya sendiri telah berusaha
menyelamatkan rombongan yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya, tak akan
tertolong lagi. Lebih-lebih ketika diingatnya bahwa Lawa Ijo telah melakukan perbuatan
yang curang dan keji, dengan mempergunakan racun yang keras sekali untuk
menumbangkan lawannya.
 Maka hati pengawal tua itu serasa menyala dibakar oleh kemarahan. Ia sudah mengambil
keputusan untuk melawan sampai mati. Seperti serangga menjelang api. Tetapi ketika ia
akan bangkit dan melawan dengan mengamuk sejadi-jadinya, tiba-tiba terasa hawa yang
hangat mengalir dalam tubuh Mahesa Jenar.
 Mahesa Jenar terkejut, tetapi ia tetap menahan dirinya. Hawa yang hangat itu ternyata
mengalir semakin deras dan bahkan hampir mencapai titik panas tubuh yang wajar.
 Timbullah berbagai pertanyaan dalam dirinya. Apakah yang akan terjadi dengan Mahesa
Jenar ini? Sebentar kemudian bahkan panas itu dengan cepat naik melampaui batas panas tubuh yang biasa. Hal ini menjadikan pengawal tua itu semakin bingung. Apalagi sampai
sekian lama Mahesa Jenar sendiri seolah-olah pingsan dan tidak bergerak sama sekali.
 Memang Mahesa Jenar pada saat itu sedang kehilangan tenaga. Batu akik Kelabang
Sayuta itu mempunyai kekuatan mirip dengan bekerjanya racun. Bahkan hampir sekuat
racun bisa ular Gundala Wereng. Sehingga tubuh yang dikenainya, meskipun hanya
segores kecil, akan menjadi bengkak-bengkak seperti ditumbuhi oleh beribu-ribu bisul.
Kemudian tubuh itu akan lemas dan mengalami kelumpuhan menyeluruh, dan akhirnya
disusul dengan kematian, dalam waktu yang singkat.
 Ketika kekuatan akik Kelabang Sayuta itu sedang bekerja didalam tubuh Mahesa Jenar
dengan mengikuti peredaran darah, tiba-tiba terjadilah suatu benturan yang dahsyat di
dalam tubuh itu. Sebab pada saat itu, ketika tersentuh rangsangan dari luar, bisa ular
Gundala Seta yang ada dalam tubuhnya mulai bekerja pula. Dalam pergolakan itu
timbullah panas, sehingga tubuh Mahesa Jenar menjadi melampaui titik panas yang
wajar.
 Bisa ular Gundala Seta mempunyai kasiat yang luar biasa. Lebih-lebih ular ini adalah
senjata Wisnu untuk melawan Kala, lambang dari keangkaramurkaan. Maka sedikit demi
sedikit bisa ular Gundala Seta yang memang sudah ada di dalam tubuh Mahesa Jenar itu
mendesak lawannya, menawar racun akik Kelabang Sayuta. Dengan demikian tubuh
Mahesa Jenar menjadi berangsur-angsur baik kembali.
 Meskipun demikian Mahesa Jenar adalah orang yang cerdik. Ia tidak segera
menunjukkan keadaan itu. Sebab apabila sampai diketahui bahwa ia berangsur-angsur
baik, tidak mustahil Lawa Ijo akan segera bertindak. Membinasakannya sekaligus.
 Dalam hal yang demikian ia masih saja berpura-pura tidak sadarkan diri dan
membiarkan tubuhnya ditahan oleh pengawal tua itu.
 Lawa Ijo, dengan dada menengadah, memandang tubuh Mahesa Jenar. Matanya
memancarkan kepuasan hatinya. Ia tertawa berkepanjangan sampai Jaka Soka
membentaknya.
 “Hai Kelelawar Hijau yang busuk.Jangan kau tertawa demikian. Aku bisa jadi pening
mendengar suaramu yang memuakkan itu.”
 Tetapi Lawa Ijo sama sekali tak mendengarnya. Ia sedang menikmati kemenangannya.
 “Soka, lihatlah.... Orang ini yang diagung-agungkan oleh prajurit Demak. Di sini ia
menjumpai kematian sedemikian nistanya. Dan tak seorang pun akan sempat
menguburnya. Apalagi dengan suatu upacara keprajuritan, diiringi dengan tunggultunggul dan panji-panji. Sebab orang-orang lain pun segera akan mengalami nasib yang
sama karena tanganmu,” kata Lawa Ijo.
 Jaka Soka merasa diperingatkan akan tugasnya. Segera ia pun tersenyum aneh, sedangkan matanya yang redup membayangkan tuntutan maut yang mengerikan.
 “Bagus, Lawa Ijo. Kita akan sama-sama menikmati kemenangan. Dan tak seorang pun
dapat menahan aku membawa gadis cantik itu pulang ke Nusa Kambangan,” jawab Jaka
Soka.
 Tetapi sebentar kemudian, kepuasan mereka dipecahkan oleh suatu kenyataan yang
sangat aneh bagi Lawa Ijo. Tak pernah seorang pun yang dapat melepaskan diri dari
kematian, apabila tubuhnya tergores sedikit saja oleh aji Klabang Sayuta. Tetapi apa yang
disaksikan sekarang adalah sama sekali tidak masuk akal.
 Demikianlah ketika Mahesa Jenar merasa bahwa tubuhnya telah pulih kembali, segera
dengan kecepatan gerak laksana kilat menyambar, ia meloncat, dan tahu-tahu ia sudah
berdiri dihadapan Lawa Ijo. Semua yang menyaksikan hatinya tercekam, seperti melihat
mayat yang bangun dari kubur. Bahkan mereka seolah-olah melihat diri mereka
sendirilah yang karena pertolongan Tuhan Yang Maha Esa telah dibebaskan dari daerah
mati.
 Mahesa Jenar disamping rasa sukur yang tak terhingga, bahwa lantaran sahabat karibnya,
Kiai Ageng Sela, ia telah menerima anugerah dari Allah SWT yang telah
membebaskannya dari pengaruh segala macam bisa. Namun ia juga menjadi marah bukan
kepalang kepada Lawa Ijo.
 Ternyata Lawa Ijo yang telah mematahkan pedangnya sendiri dengan jari-jari sewaktu
perkelahian akan dimulai, bukanlah benar-benar seorang jantan. Seperti juga Watu
Gunung, Lawa Ijo sama sekali tidak memperhatikan sikap kejujuran dalam segala
masalah.
 Wajah Mahesa Jenar berubah menjadi merah membara. Mulutnya terkatub rapat, tetapi
giginya gemeretak. Terhadap orang-orang yang demikian, tidak lagi ada sikap yang
manis.
 Maka karena marahnya yang meluap-luap, Mahesa Jenar tidak lagi dapat mengendalikan
dirinya sendiri. Sebelum Lawa Ijo sadar terhadap kejadian itu, Mahesa Jenar telah
mengangkat satu kakinya yang ditekuk ke depan, tangan kirinya disilangkan di atas
dadanya, sedangkan tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Secepat kilat Mahesa Jenar
meloncat maju, dan dengan sedikit merendahkan diri ia menghantam lambung lawannya
dengan ilmunya yang terkenal, Sasra Birawa.
 Lawa Ijo melihat segala gerak-gerik lawannya seperti dalam mimpi. Ia baru sadar ketika
tiba-tiba dilihatnya Mahesa Jenar meloncat dekat sekali di hadapannya, dan tangannya
melayang ke arah lambungnya. Tetapi segala sesuatunya telah terlambat. Terkena
pukulan sisi telapak tangan Mahesa Jenar yang dilambari ilmu Sasra Birawa itu rasanya
bagaikan tertimpa seribu gunung yang runtuh bersama-sama.
 Demikian Lawa Ijo merasakan kedahsyatan Sasra Birawa, pandangannya terlempar dengan derasnya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya mengarah tepat ke
sebatang pohon raksasa yang berdiri kokoh kuat bagai benteng baja.
 Mereka yang menyaksikan peristiwa itu menjadi bingung. Mereka tidak dapat mengerti
perasaan apa yang berkecamuk di kepalanya, seolah-olah terlepas dari kesadaran diri.
Sebab kejadian yang dilihatnya itu adalah hal yang tak dapat dibayangkan bisa terjadi.
 Tetapi belum lagi tersadar, telah disusul pula oleh suatu peristiwa yang lain, yang tidak
dapat mereka mengerti pula. Beberapa orang menjadi sedemikian bingungnya sehingga
pingsan.
 Tubuh Lawa Ijo yang melayang demikian derasnya dan hampir-hampir membentur
sebatang pohon raksasa itu, tahu-tahu sudah berada dalam dukungan seorang yang
berjubah abu-abu. Tak seorang pun tahu dari mana dan kapan ia datang. Wajah orang itu
sama sekali tidak tampak, karena ia mengenakan topeng yang buatannya kasar dan jelek,
semua orang memandang orang berjubah itu dengan tubuh gemetar.
 Dalam pada itu, tiba-tiba Jaka Soka segera melangkah maju dan dengan hormatnya.
 “Paman Pasingsingan, aku menyampaikan hormat setinggi-tingginya!”
 Kata Jaka Soka kepada orang berjubah itu.
 Pasingsingan. Nama itu mendengung kembali di telinga Mahesa Jenar. Inilah rupanya
Guru Lawa Ijo yang telah datang untuk menolong muridnya. Maka mau tidak mau
hatinya tercekam pula.
 Ia pernah mendengar kesaktian orang ini dari gurunya. Dan sekarang, ia telah berhadaphadapan dengan orang itu dalam keadaan yang tak menguntungkan.
 “Rangga Tohjaya....” Tiba-tiba terdengar Pasingsingan berkata, tanpa menghiraukan
salam Jaka Soka. Suaranya berat, dalam dan tak begitu jelas seperti bergulung dalam
perutnya, karena pengaruh topeng yang dipakainya itu.
 “Untunglah Lawa Ijo bukan sembarang orang, sehingga meskipun ia terluka parah, tetapi
aku yakin bahwa ia masih akan dapat hidup,” sambung Pasingsingan.
 Orang itu berhenti sejenak. Matanya yang berada dibalik topengnya itu memandang
 Mahesa Jenar dengan tajamnya.
 “Hal itu adalah karena pertolonganku. Kalau tidak, ia pasti sudah binasa terbentur pohon
ini. Karena itu, kau aku anggap telah melakukan pembunuhan atas muridku,” lanjut
Pasingsingan.
 Kembali hati Mahesa Jenar melonjak. Ia tahu apa arti kata-kata itu. Dalam hal yang demikian, tiba-tiba ia teringat kepada almarhum kedua gurunya yang merupakan
angkatan yang sama dengan Pasingsingan itu. Kalau saja mereka masih ada, pasti mereka
tidak akan membiarkannya berhadap-hadapan sendiri. Tetapi sekarang ia seorang diri
menghadapinya.
 Sebagai seorang prajurit pastilah Mahesa Jenar tidak selalu menggantungkan dirinya
kepada orang lain. Karena itu, meskipun ia tahu, bahwa kekuatannya tak seimbang, ia
bertekad untuk melawan mati-matian. Maka segera kembali ia memusatkan pikiran,
mengatur jalan pernafasannya dan mengumpulkan segala tenaganya pada sisi telapak
tangannya, meskipun ia belum bersikap.
 Tiba-tiba terdengarlah Pasingsingan mendengus lewat hidungnya.
 “Hem..., kalau Sasra Birawa itu gurumu yang mempergunakan, barangkali aku harus
berpikir bagaimana menghindarinya. Tetapi kalau hanya kau yang akan mencobakan
pada tubuhku, barangkali sebaiknya aku menyediakan diri sebelum aku membunuhmu!”
 Mendengar kata-kata Pasingsingan itu, mau tidak mau hati Mahesa Jenar bergetar hebat.
Bukan karena ia takut mati. Tetapi kematian yang demikian pada saat ia diperlukan untuk
melindungi suatu rombongan yang akan binasa, adalah sayang sekali.
 Tetapi apa boleh buat.
 Sementara itu tampaklah Pasingsingan bergerak maju. Ia selangkah demi selangkah
mendekati Mahesa Jenar tanpa meletakkan Lawa Ijo dari dukungannya.
 “Tohjaya, kau adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh. Dan kau telah beruntung
mewarisi ilmu saktinya Sasra Birawa. Karena itu lawanlah aku. Supaya kau mati dengan
tangan merentang, bukan mati sebagai seekor lembu yang disembelih,” kata
Pasingsingan.
 Mahesa Jenar yang sudah tidak melihat kemungkinan lain daripada mati, kini seperti
sudah tidak mempunyai perasaan lagi. Tak perlu lagi ada pertimbangan-pertimbangan
lain. Maka segera ia pun bersiap untuk menerjang lawannya, menjelang saat matinya.
Sementara itu Pasingsingan berdiri dengan acuh tak acuh saja seperti tidak akan terjadi
sesuatu atas dirinya.
 Orang-orang lain yang berada di situ, sudah seperti orang linglung yang tak tahu apaapa. Perasaan mereka sudah terbanting-banting beberapa kali sampai hancur.
 Meskipun ada diantara mereka yang matanya terbuka dan seolah-olah memandang
Mahesa Jenar dan Pasingsingan berganti-ganti, tetapi mereka tidak mengerti tentang apa
yang dilihatnya. Mereka tidak lagi dapat membayangkan, bahwa sebentar lagi
Pasingsingan akan dapat berbuat sekehendaknya atas Mahesa Jenar tanpa ada yang dapat
merintanginya.  Tetapi sesaat kemudian mereka dikejutkan oleh suara berdentangnya orang menebang
pohon. Ini adalah suatu keanehan baru, sesudah bertubi-tubi terjadi peristiwa-peristiwa
yang aneh berturut-turut.
 Pada saat itu, meskipun matahari belum tenggelam, tetapi sinarnya sudah demikian
lemahnya sehingga tidak dapat lagi menembus rimbunnya daun-daun pepohonan rimba,
sehingga di dalam hutan itu sudah menjadi agak gelap. Pada saat yang demikian, tidaklah
biasa seseorang menebang pohon.
 Apalagi di tengah hutan Tambakbaya. Orang-orang yang mencari kayu, baik kayu bakar
maupun untuk perumahan, tidak akan menebang kayu di tengah rimba yang demikian
lebatnya. Lebih-lebih tidak jauh dari tempat itu, baru saja terjadi pertarungan yang
dahsyat antara Mahesa Jenar dan Lawa Ijo. Berkali-kali terdengar Lawa Ijo bersuit atau
berteriak nyaring. Mustahil kalau suara-suara itu tak didengarnya.
 Tetapi ternyata suara itu terus terdengar. Bahkan semakin lama semakin jelas. Makin
nyatalah, bahwa sumber suara itu tidak begitu jauh. Yang lebih mengherankan lagi, suara
berdentangnya pohon yang ditebang itu, bagaikan nada-nada lagu yang mempesona.
 Rupanya Pasingsingan heran juga mendengar suara itu. Diangkatnya wajahnya yang
terlindung dibalik topengnya dan tampaklah ia mendengarkan suara itu dengan saksama.
Dalam keadaan yang demikian, suasana berubah menjadi sunyi. Suara berdentangnya
pohon ditebang itu menjadi bertambah jelas seakan-akan memenuhi seluruh rimba.
Gemanya bersahut-sahutan disegala arah sehingga amat sulitlah untuk mengetahui
dengan pasti sumber suara itu.
 Sebentar kemudian suara itu menjadi agak kendor dan semakin perlahan-lahan pula.
Tetapi sementara itu disusullah dengan mendengungnya suara baru yang juga seharusnya
tak mungkin terjadi.
 Di tengah-tengah rimba yang liar pekat, dan yang diliputi oleh suasana perkelahian dan
hawa pembunuhan itu, menggemalah sebuah lagu. Dandanggula yang diungkapkan oleh
sebuah suara yang indah. Lagu itu sedemikian mempesona, sehingga semua orang yang
mendengarnya menjadi lupa akan segala-galanya kecuali lagu itu sendiri.
 Jaka Soka dan Mahesa Jenar adalah orang yang cukup masak. Tetapi meskipun demikian
tampak juga bahwa mereka dihinggapi oleh perasaan-perasaan yang aneh. Dandanggula
itu terdengar begitu jelas sehingga kata demi kata dapat dimengerti dengan baik. Bunyi
syair dari tembang itu adalah:
 Lir sarkara, wasianing jalmi Ambudiya budining sasatnya Memayu yu buwanane, Ing
reh hardaning awruh, Wruhing karsa kang ambeg asih, Sih pigunane karya, mBrasta
ambeg dudu, Mengenep enging cipta, Wruh unggayaning tindak kang ala lan becik,
Memuji tyas raharja (Kusw)
 Tak seorang pun yang mengetahui tanggapan Pasingsingan atas lagu itu dengan pasti, sebab wajah orang itu tertutup oleh kedok. Tetapi melihat sikapnya, ia sama sekali tidak
senang mendengarnya, meskipun lagu itu dibawakan oleh suara yang merdu dan syairnya
mengandung nasihat yang baik. Sebagaimana seseorang harus berusaha menyelamatkan
dunia ini dengan banyak memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang luas tentang cinta
manusia untuk memberantas kejahatan. Serta dengan mengendapkan cipta untuk
mengetahui batas antara baik dan buruk. Disertai doa kepada ALLAH SWT untuk
kebahagiaan.
 Kemudian malahan Pasingsingan menjadi gelisah ketika ia mendengar lagu itu diulang
kembali, akhirnya, tiba-tiba ia berputar menghadap ke utara dan dengan garangnya ia
menggeram. Sedang kata-katanya sangat mengejutkan mereka yang mendengarnya,
seperti halilintar meledak di atas kepala masing-masing. Termasuk Mahesa Jenar dan
Jaka Soka.
 ”Setan tua...! Apa maksudmu mengganggu urusanku? Baiklah. Hanya sayang kali ini
aku tidak ada waktu untuk melayanimu. Karena itu lain kali aku akan menemuimu, kalau
aku tidak sedang membawa beban seperti kali ini. Sampai ketemu Pandan Alas!”
 Kata Pasingsingan, setelah itu tanpa diketahui arahnya, tahu-tahu Pasingsingan telah
lenyap dari pandangan mereka beserta Lawa Ijo.
 Lenyapnya Pasingsingan itu tidak begitu menarik perhatian Mahesa Jenar dan Jaka Soka.
Seperti berjanji, mereka setelah mendengar nama Pandan Alas, segera meloncat ke utara,
kearah mana Pasingsingan tadi menghadap. Mereka menduga, bahwa dari sanalah
sumber suara tadi datangnya. Sebab kebetulan Mahesa Jenar dan Jaka Soka berbareng
ingin melihat wajah orang aneh itu.
 Tetapi setelah agak jauh mereka menyusup, yang mereka temui hanyalah bekas luka
pada pokok sebuah pohon raksasa. Meskipun mereka hanya menemui bekasnya saja,
namun telah cukup menggetarkan hati mereka. Sebab menurut pendengaran mereka,
waktu Ki Ageng Pandan Alas menebang pohon itu hanyalah sebentar saja, sedang yang
mereka lihat bekasnya adalah luar biasa.
 Sebatang pohon raksasa yang besarnya lebih dari empat pemeluk, ternyata telah luka
hampir separonya. Sedang tatal kayu bekas tebangan itu, berbongkah-bongkah hampir
sebesar kepala anjing. Sungguh mengagumkan. Apalagi ketika disamping pohon itu,
yang mereka ketemukan hanyalah sebuah kampak kuno dari batu, yang diikat pada
setangkai dahan basah sebagai pegangannya.
 ”Luar biasa,” desis Jaka Soka.
 Mahesa Jenar mengangguk mengiakan.
 ”Aku tidak dapat mengira kekuatan apa yang telah membantu orang itu, sehingga ia
dapat berbuat sedemikian mengagumkan.”  Jaka Soka tidak menjawab. Tampaknya ia sedang berpikir keras. Akhirnya setelah
dipertimbangkan bolak-balik ia mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu
serta mengurungkan maksudnya menculik gadis yang memiliki keris Sigar Penjalin milik
Ki Ageng Pandan Alas.
 ”Mahesa Jenar, ternyata aku salah duga kepadamu. Karena itu baiklah kali ini aku
mengaku kalah dan mengurungkan niatku menculik gadis cantik itu. Aku merasa
bersyukur, bahwa kau tidak mempergunakan ilmumu yang menurut Paman Pasingsingan
disebut Sasra Birawa, ketika melawan aku. Kalau demikian halnya, maka aku kira aku
pun akan jadi lumat. Juga benar apa yang dikatakan oleh Lawa Ijo, bahwa Pandan Alas
benar-benar berada di segala tempat. Sekarang baiklah aku pergi dulu. Sampai lain kali,”
kata Jaka Soka kepada Mahesa Jenar.
 Selesai mengucapkan kata-kata itu, segera dengan lincahnya Jaka Soka alias Ular Laut
yang terkenal sebagai bajak laut yang bengis itu meloncat dan lenyap diantara lebatnya
hutan.
 Tinggallah kini Mahesa Jenar seorang diri. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai masalah
dan persoalan. Tetapi yang penting adalah mengatur rombongan itu kembali. Dan
kemudian membicarakan kemungkinan-kemungkinan lebih lanjut.
 Ketika Mahesa Jenar sampai di tempat rombongan, ia melihat bahwa beberapa orang
telah tampak mulai agak tenang kembali. Terutama para pengawal. Malahan ada
diantaranya yang sudah dapat mengatur barang-barangnya. Meskipun demikian mereka
masih saja nampak ketakutan. Ternyata ketika mereka mendengar gemerisik daun yang
disebakkan oleh Mahesa Jenar, mereka masih terkejut juga. Tetapi ketika mereka melihat,
bahwa yang datang adalah Mahesa Jenar, perasaan mereka nampak lega. Malahan ada
yang berlari-lari menyambut dan langsung berjongkok dan menyembahnya. Terutama
sepasang suami-istri yang telah minta kepadanya untuk membawa bebannya. Kedua
orang itu menyembah sambil menangis minta diampuni.
 Segera Mahesa Jenar pun menenangkan mereka, serta segera minta agar para pengawal
menyalakan api. Sebentar kemudian beberapa orang telah mengumpulkan kayu, serta
apipun segera dinyalakan.
 Mereka, seluruh anggota rombongan, telah duduk mengelilingi api yang menyala-nyala
dan menjilat-jilat ke udara. Daun-daun di atas nyala api itu bergerak-gerak seperti
menggapai-gapai kepanasan. Malam pun segera turun dengan cepatnya. Pepohonan serta
dedaunan nampak seperti diselimuti oleh warna yang hitam kelam. Di sana-sini mulai
terdengar kembali suara-suara binatang malam.
 Pada wajah-wajah di sekeliling api itu, masih menggores rasa cemas dan takut.
 Kejadian-kejadian siang tadi sangat berkesan di hati mereka. Pertarungan-pertarungan
dahsyat dan kejadian-kejadian yang aneh terjadi berturut-turut seperti peristiwa-peristiwa
dalam mimpi yang menakutkan, terutama gadis cantik yang hampir-hampir saja menjadi sumber bencana. Ia masih saja merasa bahwa dirinya bersalah sehingga rombongan itu
mengalami kekacauan, ia, bahkan hampir dimusnahkan, kalau tidak secara kebetulan ada
seorang perkasa yang melindunginya. Karena itu ia masih saja belum berani memandang
wajah-wajah kawan seperjalanannya.
 Sejenak kemudian, kesepian itu dipecahkan oleh Mahesa Jenar yang berkata kepada
orang-orang dalam rombongan itu.
 “Kawan-kawan, bahaya tidak lagi bakal datang, setidak-tidaknya malam ini. Karena itu
tenanglah dan beristirahatlah. Aku kira kalian sehari penuh masih belum juga makan.
Sekarang kesempatan itu ada. Sesudah itu kalian bisa tidur nyenyak seperti tadi malam.”
 Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, mereka serentak diperingatkan oleh rasa lapar
yang semula tak dihiraukan. Segera diantara mereka membuka bekal-bekal mereka, tetapi
tidak sedikit diantara anggota rombongan itu yang sudah tidak punya rasa lapar lagi. Juga
sesudah itu, tak seorang pun yang dapat merasa kantuk.
 Sejenak kemudian mulailah Mahesa Jenar berunding dengan para pengawal, tentang
bagaimana baiknya rombongan tersebut.
 Menurut pendapat Mahesa Jenar, sebaiknya rombongan itu tidak meneruskan perjalanan.
Sebab kalau pada langkah pertamanya mereka sudah menemui kesulitan, kelanjutannya
pun akan tidak menguntungkan.
 Kemungkinan-kemungkinan yang tak menguntungkan adalah banyak sekali. Lawa Ijo,
terang, bahwa ia tidak berdiri sendiri. Ia adalah seorang pemimpin dari sebuah
gerombolan yang cukup besar. Hanya sekarang gerombolan itu seakan-akan sedang
dibekukan. Tetapi, kalau sampai mereka mendengar, bahwa kepala mereka dilukai,
mereka pasti tidak akan tinggal diam. Karena itu, selagi masih ada waktu, sebaiknya
rombongan itu besok pagi berangkat kembali ke tempat semula.
 Tak seorang pun diantara mereka yang dapat menolak pendapat ini. Memang pada
umumnya mereka telah dihinggapi perasaan takut yang luar biasa. Untunglah, bahwa
pada saat itu datang Mahesa Jenar menolong mereka. Kalau tidak, mereka pasti sudah
jadi bangkai.
 Tetapi dalam suasana yang demikian, mendadak gadis cantik yang merasa dirinya
bersalah, berkata kepada Mahesa Jenar.
 “Tuan, aku terpaksa tidak dapat menerima saran Tuan untuk kembali. Sebab aku
memang tidak punya tempat untuk kembali. Tetapi aku juga tidak dapat memaksa
rombongan ini berjalan terus. Karena itu, baiklah kalau rombongan ini berjalan kembali
dengan para pengawal, aku akan berjalan sendiri melanjutkan perjalanan ke Pliridan.
Hanya sebagai bekal perjalanan, aku minta kerisku tadi dikembalikan kepadaku. Sebab
kalau aku bertemu seorang seperti pemuda yang akan menculik aku, sebaiknyalah kalau
aku bunuh diri.”  Gadis itu mengucapkan kata-katanya dengan mata sayu diwarnai oleh hatinya yang putus asa. Ia merasa tidak berhak lagi berkumpul dengan orang-orang serombongannya. Sebab ia telah merasa berbuat kesalahan yang tak termaafkan.
 Mahesa Jenar dan beberapa orang tampak mengerutkan keningnya. Memang dalam
keadaan terjepit, ada diantara mereka yang sampai hati mengumpati gadis itu. Tetapi
dalam keadaan yang demikian, timbul pulalah perasaan iba terhadapnya.
 
 Gadis itu menundukkan kepalanya semakin dalam. Matanya yang bulat, nampak
mengambang air mata yang ditahan sekuat-kuatnya, tak ada jalan buat kembali, ujarnya
lirih, dalam kata-kata itu, ternyata bahwa ada sesuatu rahasia yang menyelubungi diri
gadis itu.
 Tiba-tiba Mahesa Jenar ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang diri gadis itu, yang
sampai saat itu masih belum dikenal namanya.
 “Siapakah sebenarnya kau ini? Serta apakah hubunganmu dengan Ki Ageng Pandan
Alas?” tanya Mahesa Jenar kemudian.
 Gadis itu mengangkat mukanya sedikit. Lalu jawabnya.
 “Tuan, sebenarnya aku sama sekali tidak mengenal siapakah Ki Ageng Pandan Alas itu.
Kalau aku memiliki keris yang tuan hubungkan dengan nama Pandan Alas, adalah diluar
pengetahuanku. Aku menerima keris itu dari almarhum ibuku, sedangkan ibu
menerimanya dari kakek. Seorang petani miskin yang sedang merantau mencari daerah
baru, dan sekarang menurut almarhum ibuku, kakek itu tinggal di daerah Pliridan. Dan
sama sekali tak bernama Pandan Alas, tetapi bernama Ki Santanu, sedangkan aku sendiri
dinamai oleh ayahku, Rara Wilis”
 Mahesa Jenar mendengarkan jawaban gadis yang bernama Rara Wilis itu dengan
seksama, pengakuannya, bahwa ia sama sekali tak mengenal Ki Ageng Pandan Alas
semakin menarik perhatian Mahesa Jenar. Mendadak berkilatlah dalam hatinya, suatu
keinginan untuk mengetahui rahasia yang menyelubungi gadis itu. Sehingga berkatalah
Mahesa Jenar.
 “Bapak-bapak para pengawal, serta saudara-saudara seperjalanan. Barangkali aku
mempunyai suatu cara yang dapat memenuhi kehendak kalian. Sebaiknya kalian kembali
dengan para pengawal, mungkin tak akan banyak menemui halangan, sedangkan gadis
ini, yang berkeras hendak melanjutkan perjalanan dan menemui kakeknya, biarlah aku
antarkan saja. Sebab perjalanan ke Pliridan bukanlah suatu pekerjaan yang ringan”
 Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu melonjaklah kegirangan di hati Rara Wilis.  Tiba-tiba matanya yang berkaca-kaca itu jadi berkilat-kilat. Tetapi sebentar kemudian
kembali perasaan kegadisannya menguasai dirinya, sehingga wajahnya jadi kemerahmerahan, serta kembali ia menundukkan mukanya.
 Mahesa Jenar pun menangkap perubahan wajah Rara Wilis. Dan tidak disadarinya
hatinya pun bergoncang. Sebaliknya beberapa orang lain menjadi kecewa mendengar
keputusan Mahesa Jenar untuk tidak menyertai mereka kembali. Sebab bersama sama
dengan Mahesa Jenar, mereka semua merasa bahwa keamanan mereka terjamin.
 Sementara itu kembali Mahesa Jenar berunding dengan para pengawal, serta memberi
petunjuk mengenai beberapa kemungkinan. Sehingga akhirnya terdapat suatu keputusan,
bahwa mereka semuanya akan kembali dengan para pengawal, sedangkan Mahesa Jenar
sendiri akan mengantar Rara Wilis sampai ke Pliridan.
 Demikianlah pada malam itu hampir tak seorang pun dapat tidur, kecuali beberapa
orang, karena lelah lahir dan batin, seakan-akan terlena sambil bersandar di pokok
pepohonan. Berbeda dengan siang tadi, dimana hari seakan-akan berlari demikian
cepatnya, malam itu rasa-rasanya tak bergerak. Suara binatang malam, serta desiran angin
rimba terasa sangat menjemukan dan menakutkan. Mereka semua mengharap agar malam
lekas berakhir. Sehingga cepat-cepat mereka dapat pergi meninggalkan tempat yang
mengerikan itu.
 Baru setelah mereka mengalami kejemuan yang luar biasa, terdengar ayam rimba
berkokok bersahut-sahutan. Dari celah-celah kelebatan dedaunan hutan, tampaklah
membayang warna merah di langit. Segera orang-orang itu semua mengatur barangbarangnya dan menyiapkan diri untuk menempuh perjalanan yang berlawanan dengan
yang ditempuhnya kemarin, kecuali Rara Wilis yang setelah menerima kembali kerisnya
akan melanjutkan perjalanannya ke Pliridan, diantar oleh Mahesa Jenar sendiri.
 Maka setelah semuanya bersiap, serta setelah para pengawal dan mereka yang
mengadakan perjalanan sekali lagi mengucapkan terimakasih kepada Mahesa Jenar,
mulailah mereka berangkat kembali. Di depan sendiri berjalan pengawal tua itu dengan
senjata di tangan. Baru setelah rombongan itu lenyap dibalik pepohonan, Rara Wilis
beserta Mahesa Jenar pun berangkat melanjutkan perjalanan ke barat, ke daerah Pliridan.
 Di perjalanan, tidak banyak yang mereka percakapkan, kecuali apabila Mahesa Jenar
memandang perlu untuk memberitahukan tempat-tempat berbahaya atau binatang
binatang berbisa.
 Tetapi perjalanan Mahesa Jenar sekarang bertambah laju, karena tidak harus bersamasama dengan rombongan yang besar. Sekali dua kali Mahesa Jenar pun harus berlaku
seperti pemimpin rombongan pengawal, menuntun bahkan menggendong Rara Wilis
apabila jalan sangat sulit, meskipun keduanya agak segan-segan. Tetapi terpaksalah hal
itu dilakukan. Sebab memang sekali dua kali mereka menjumpai rintangan yang berat.
 Demikianlah mereka berjalan terus seakan-akan tak mengenal lelah. Bagi Rara Wilis, perjalanan ini, meskipun melewati daerah hutan yang tak kalah liarnya dengan yang
ditempuh kemarin, tetapi rasanya tidak begitu berat. Bahkan setelah lebih dari setengah
hari ia berjalan, sama-sekali tak terasa lelah olehnya, haus ataupun lapar.
 Perjalanan yang begitu sulit itu bagaikan sebuah tamasya, diantara kehijauan ladang
serta keindahan taman. Gemerisik daun kering yang dilemparkan oleh angin, terdengar
merdu. Rara Wilis sendiri tidak begitu menyadari, kenapa hatinya menjadi sedemikian
bening dan cerah.
 Tidak banyak hal yang mereka temui di perjalanan. Ketika malam datang, mereka
beristirahat di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Setelah rumput-rumput liar di
bawah pohon itu dibersihkan, segera Rara Wilis merentangkan tikarnya, sedangkan
Mahesa Jenar mengumpulkan kayu dan kemudian menyalakan api.
 Malam itu pun dilampauinya dengan tak ada sesuatu yang terjadi. Pagi-pagi setelah
mereka mempersiapkan diri, segera perjalanan pun dilanjutkan.
 Perjalanan itu masih harus melampaui satu malam lagi. Maka pada hari ketiga itu, Rara
Wilis serta Mahesa Jenar menempuh perjalanan yang terakhir untuk mencapai daerah
Pliridan.
 

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]