SH.Mintarja
Matahari telah miring ke barat, hutan Tambakbaya semakin lama semakin bertambah tipis. Pepohonan tidak lagi selebat dan liar seperti daerah pedalaman. Sementara itu terasa debaran jantung yang aneh dalam dada Rara Wilis. Telah lebih sepuluh tahun ia tak berjumpa dengan kakeknya. Sekarang, ia ingin mencarinya di daerah yang tak dikenalnya. Sebentar kemudian mereka telah sampai pada perbatasan hutan. Di depan mereka tinggallah beberapa grumbul kecil yang tidak begitu berarti.
“Inilah daerah Pliridan,” gumam Mahesa Jenar hampir kepada dirinya sendiri. Mendengar ucapan Mahesa Jenar, Rara Wilis yang berjalan di depan jadi terhenti. Beberapa macam perasaan bercampur aduk di otaknya. Sekali ia menarik nafas panjang. Alangkah lega hatinya setelah hutan yang lebat itu dapat dilewatinya. Tetapi sementara itu lalu kemana ia mesti pergi?
Sekali dua kali ia menoleh kepada Mahesa Jenar. Wajahnya yang cerah itu menjadi agak suram oleh kebimbangan hatinya. Mahesa Jenar dapat menangkap perasaan Rara Wilis.
“Rara Wilis, dapatkah kau menunjukkan di daerah manakah kira-kira kakekmu tinggal?” tanya Mahesa Jenar.
Rara Wilis menggelengkan kepalanya. Memang ia sama sekali tak mengerti arah tempat tinggal kakeknya. Ia hanya mendengar, bahwa kakek itu tinggal di daerah Pliridan,.Mahesa Jenar juga menjadi agak bimbang. Ia beberapa tahun yang lalu pernah mengenal daerah ini. Tetapi apa yang dilihatnya sekarang, ternyata mengalami banyak perubahan.
“Tuan,” kata Rara Wilis dengan penuh keragu-raguan, “Aku sama sekali tidak
membayangkan kalau demikianlah keadaan daerah Pliridan. Menurut gambaran angananganku. Pliridan adalah sebuah desa yang dilingkungi oleh persawahan dan ladang.
Tetapi ternyata daerah ini hanyalah padang rumput yang diselingi oleh gerumbulgerumbul liar.”
“Tetapi aku kira tidaklah demikian seluruhnya, Rara Wilis. Beberapa tahun yang lalu,
desa-desa seperti yang kau bayangkan itu memang pernah ada. Entahlah kenapa sekarang
keadaan itu berubah. Meskipun demikian aku yakin, bahwa di sekitar daerah ini masih
juga didiami orang. Karena itu baiklah kita coba mencarinya.”
Di wajah Rara Wilis masih saja membayang kebimbangan hatinya, bahkan kebimbangan
itu kemudian berubah menjadi suatu ketakutan. Bagaimanakah kalau ia tak dapat
menemui kakeknya? Pastilah, bahwa Mahesa Jenar tak akan dapat terus-menerus
menemaninya. Melihat perubahan wajah Rara Wilis, Mahesa Jenar pun menangkap
perasaannya, karena itu ia mencoba menghiburnya.
“Rara Wilis, tak usah kau merasa takut. Aku masih mempunyai perasaan kuat, bahwa di
sini masih didiami orang. Seandainya tidak demikian, maka aku bersedia mengantar kau
pulang ke rumah ayahmu.”
Tetapi akibat perkataan itu adalah sebaliknya dari yang diharapkan. Karenanya Mahesa
Jenar menjadi terkejut sekali ketika dilihatnya Rara Wilis malahan meneteskan air mata.
Meskipun sudah ditahan sekuat-kuatnya.
Sekarang Mahesa Jenar yang kebingungan. Sekali lagi ia merasa demikian tumpulnya
perasaannya. Ia pernah mengalami suasana yang bersamaan, meskipun keadaannya
berbeda. Yaitu pada waktu ia berhadapan dengan Nyai Wirasaba. Pada saat itu juga ia
menjadi kebingungan dan tidak mengerti apa yang harus dikerjakan.
Sekarang Rara Wilis itu pun menangis di hadapannya tanpa sebab. Justru pada saat ia
berusaha untuk menghiburnya. Karena itu perasaannya menjadi tidak enak sekali.
Tetapi setelah ia mempunyai sebuah pengalaman yang tak menyenangkan, ia tidak lagi
mau menebak-nebak. Maka terlintaslah dalam pikirannya, bahwa jalan yang terbaik
adalah menanyakan sebabnya, kenapa Rara Wilis menangis. Mendapat pikiran yang
demikian, Mahesa Jenar menjadi agak lega sedikit. Dan dengan hati-hati sekali ia
mencoba bertanya.
“Rara Wilis, aku telah mencoba untuk menenangkan hatimu, tetapi justru akibatnya
adalah sebaliknya. Karena itu, dapatkah aku menanyakan, apakah sebabnya kau
menangis?” Rara Wilis tidak segera menjawab. Ia melangkah beberapa kali ke samping, dan
kemudian menjatuhkan dirinya duduk di rumput-rumput liar. Dari matanya masih saja
terurai tetesan-tetesan airmata. Baru setelah beberapa saat, ia menjawab dengan kata-kata
yang tersekat-sekat.
“Tuan, aku merasa bersyukur, bahwa aku dapat berjumpa dengan seorang yang demikian
baik hati seperti Tuan. Karena itu tak adalah jalan bagiku untuk menyatakan terima
kasihku yang tak terhingga. Tetapi sangatlah menyesal Tuan ..., bahwa kalau aku tak
dapat menemukan kakekku, aku tak dapat kembali kepada ayahku. Meskipun ayahku
dahulu tergolong orang yang berada, tetapi tak adalah tempat bagiku di sana.”
Mahesa Jenar menjadi semakin menebak-nebak tentang keadaan gadis aneh itu. Rupanya
banyak rahasia yang menyelubungi dirinya, sehingga ia terpaksa menempuh perjalanan
yang sedemikian berbahayanya.
“Rara Wilis,” tanya Mahesa Jenar kemudian, “aku bukanlah ingin terlalu banyak
mengetahui tentang dirimu, tetapi bagiku kau adalah seorang gadis yang diselubungi oleh
kabut rahasia yang kelam.”
“Mungkin Tuan benar,” jawab Rara Wilis, “Tetapi buat tuan tidaklah sepantasnya kalau
aku menyembunyikan sesuatu rahasia.”
Mata Rara Wilis yang bulat tetapi sayu itu memandang Mahesa Jenar, seperti mata
kanak-kanak yang minta perlindungan. Mahesa Jenar menjadi semakin tidak mengerti
apa yang harus dilakukan. Di luar kesadarannya ia pun ikut serta duduk diatas rumputrumput liar.
Setelah diam sejenak, Rara Wilis memulai ceritanya. “Tuan, ayahku adalah seorang yang
banyak mempunyai pengaruh di daerah Pegunungan Kidul. Meskipun daerah itu tandus
dan kering, tetapi ayahku mempunyai peternakan yang cukup, sehingga dapatlah ia
digolongkan orang berada. Tetapi ibuku adalah keturunan orang yang miskin. Kakekku
semasa masih tinggal di Pegunungan Kidul, tidaklah lebih dari seorang buruh yang
bekerja dengan upah yang sangat kecil. Meskipun demikian kakek termasuk orang yang
tidak mau menjadi beban orang lain. Sepuluh tahun yang lalu kakek yang merasa
kehidupannya semakin hari semakin sulit, terpaksa pergi meninggalkan kampung
halaman. Memang sebelum itupun kakek adalah seorang perantau. Mungkin ini
disebabkan oleh kehidupannya yang sulit, sehingga pada saat-saat tertentu, yaitu pada
saat paceklik, kakek pergi meninggalkan kampung untuk beberapa bulan. Tetapi sejak 10
tahun yang lalu, kakek tidak kembali pulang.”
Rara Wilis pun bercerita bahwa pada masa kanak-kanak.
"Apabila kakek berada di rumah, selalu digendongnya kemana ia pergi. Kepergiannya
tidak terlalu lama mempengaruhi perasaanku. Sebab ayah dan ibuku selalu memanjakan
aku. Tetapi akhir-akhir ini terjadilah peristiwa-peristiwa yang merusak kehidupan damai itu. Beberapa tahun yang lalu, di kampung halamanku, datanglah seorang perempuan dari
Bagelen. Kelakuannya tidaklah seperti lazimnya perempuan-perempuan di daerah kami.
Di daerah kami banyak pendekar yang ternama, termasuk ayahku yang bernama Ki
Panutan. Tetapi tidaklah biasa seorang perempuan jadi pendekar. Berbeda halnya dengan
perempuan pendatang itu. Ternyata ia adalah seorang pendekar perempuan, yang tidak
diduga-duga. Ia pun telah dapat mengalahkan beberapa pendekar ternama di daerah
kami."
Rara Wilis berhenti sejenak. Alisnya tampak berkerut. Ia mencoba mengingat kembali
peristiwa-peristiwa yang pernah berlaku.
"Tuan ...," sambungnya beberapa saat kemudian. "Keanehan perempuan itu tidak saja
pada kependekarannya, tetapi juga pada tingkah lakunya. Kadang-kadang ia bersikap
garang dan kasar seperti halnya pendekar laki-laki di daerah kami. Tetapi kadang-kadang
ia menjadi lunak dan mesra, penuh sifat halus seorang wanita."
Rara Wilis kembali berhenti bercerita sejenak.
"Rupanya gabungan dari kedua sifat-sifat itulah yang telah memecahkan kebahagiaan
rumah-tangga kami. Sebab ternyata hubungan perempuan itu dengan ayahku semakin
hari semakin rapat. Ibuku adalah perempuan lugu, yang hanya dapat bekerja di dapur dan
meladeni seorang suami seperti apa yang dilakukan perempuan-perempuan lain di desa
kami. Ibuku tidaklah dapat memberi saran, nasihat atau apapun semacam itu kepada
ayahku sebagai seorang pendekar. Juga ibuku tidak pandai merayu hati laki-laki. Dan
karena itulah maka semakin dekat ayahku dengan perempuan pendatang itu, semakin
jauh ia dari ibuku. Rupanya hal itu dapat dilihat oleh penduduk di daerah kami, sehingga
menimbulkan suasana yang kurang menyenangkan. Tetapi lebih daripada itu, ayah pun
perangainya seakan-akan berubah. Ia pun kemudian mempunyai kebiasaan-kebiasaan
aneh. Minum minuman keras dan hal-hal kasar lainnya. Kepadaku pun ayah menjadi
semakin jauh pula."
Lagi-lagi Rara Wilis berhenti sejenak.
"Alangkah benciku kepada perempuan itu, seperti ia juga sangat benci kepadaku.
Bahkan ia selalu menyakitiku tanpa ada pembelaan dari ayah, apalagi ibu yang hanya
dapat memelukku dan menangisi. Waktu itu, tak banyak yang dapat aku ketahui, selain
pada suatu hari datanglah beberapa orang pendekar terkenal, yang dulu adalah sahabatsahabat ayahku. Tanpa kuketahui sebab-sebabnya, mereka bertempur melawan ayahku
serta perempuan pendatang itu. Rupanya ayahku memang seorang pendekar pilihan dan
perempuan itu pun tak kalah garangnya. Sehingga meskipun ayah dan perempuan itu
dikerubut, tetapi dapat juga memberi perlawanan yang berarti. Ibuku sendiri waktu itu tak
dapat berbuat lain, kecuali memelukku dan menangis sejadi-jadinya di belakang dapur
rumah kami. "
"Akhirnya ...," lanjut Rara Wilis, "bagaimanapun kuatnya ayahku serta perempuan
pendatang itu, namun tidaklah dapat menahan arus kemarahan pendekar-pendekar ternama di dareh kami yang demikian banyak jumlahnya. Sehingga sejak itu, ayahku
pergi dengan perempuan pendatang itu, dan tidak pernah kembali. Sejak itu pula ibu
selalu menanggung kesedihan yang tak terhingga, meskipun anehnya, tetangga-tetangga
bersikap baik sekali. Bahkan para pendekar yang mengerubut ayahku, bersikap manis
sekali kepada ibuku. Bahkan istri-istri mereka selalu berusaha untuk dapat bercakapcakap dan menghibur ibuku. Tetapi rupanya ibuku lebih suka mengurung dirinya serta
membenamkan diri dalam duka." Kata Rara Wilis.
"Beberapa tahun kemudian membayanglah puncak kesedihan yang bakal terjadi. Ibuku
sakit. Semakin lama sakit itu semakin keras dan seolah-olah sudah terasa, bahwa sakit itu
tak akan dapat diobati. Ternak kami yang sekian banyaknya, kekayaan kami, tidak dapat
membendung arus kematian yang semakin lama semakin deras bergulung-gulung
menghantam tebing-tebing kehidupan ibuku.
Maka setelah beberapa tahun kemudian dari kepergian ayahku, ibuku menutup mata,
serta meninggalkan keris yang Tuan namakan Sigar Penjalin itu kepadaku, sebagai suatu
bukti bahwa aku adalah keturunan Ki Santanu dari Pegunungan Kidul. Jadi sama sekali
bukan Ki Ageng Pandan Alas dari Wanasaba. Maka akupun akhirnya merasa, bahwa aku
tidak dapat hidup tanpa ada satu pun yang aku cintai. Meskipun aku mendapat warisan
yang cukup banyak, tetapi semuanya itu tak berarti bagi hidupku yang kering."
Rara Wilis mengakhiri ceriteranya dengan sedu-sedan yang seperti meledak dari rongga
dadanya.
Mahesa Jenar mendengarkan ceritera Rara Wilis itu dengan penuh haru. Rupanya
kegersangan hati gadis itulah yang mendorongnya untuk menempuh jalan yang sangat
berbahaya, mencari kakeknya, sekadar untuk dapat menyangkutkan cinta serta
harapannya. Mungkin ia mengharapkan kakeknya suka kembali ke kampung halaman,
untuk bersama-sama hidup dalam suasana yang hanya dapat dikenangnya kembali.
Tetapi meskipun Mahesa Jenar dapat ikut serta sepenuhnya merasakan betapa keringnya
hidup tanpa sangkutan cinta, namun ia tidak dapat berbuat suatu untuk menenangkan hati
gadis cantik itu. Oleh karenanya ia menjadi gelisah sendiri. Perlahan-lahan ia berdiri lalu
berjalan mondar-mandir tanpa tujuan.
Sementara itu, matahari telah hampir menyelesaikan perjalanannya yang sunyi
mengarungi langit. Cahayanya yang masih ketinggalan, tampak gemerlapan di atas
punggung-punggung bukit.
Mahesa Jenar masih saja berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Dalam hatinya
berkecamuk perasaan heran yang tiada habis-habisnya. Bagaimana mungkin seorang
ayah dapat melupakan putrinya, hanya karena seorang perempuan yang tak dikenal asalusulnya, sehingga ia telah melepaskan hari depan gadisnya serta hari depan garis
keturunannya?
Beberapa saat kemudian, ketika Rara Wilis telah menjadi agak tenang, Mahesa Jenar pun segera mempersilahkannya untuk berjalan kembali. Sebab bagaimanapun Mahesa Jenar
masih mengharapkan untuk dapat menjumpai seseorang di daerah ini.
Perjalanan di daerah ini tidaklah sesulit berjalan di hutan. Mereka hampir tidak pernah
menemui rintangan-rintangan yang berarti.
Setelah mereka berjalan beberapa saat, tiba-tiba Mahesa Jenar berhenti. Matanya
memandang ke satu arah dengan tajamnya, dan sejenak kemudian ia meloncat beberapa
langkah, lalu berjongkok, mengamati sesuatu.
Rara Wilis terkejut bercampur heran melihat tingkah laku Mahesa Jenar. Ia pun segera
berlari dan ikut serta mengamati arah yang sama. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Karena
itu dengan herannya ia bertanya.
"Tuan, adakah Tuan melihat sesuatu? "
"Rara Wilis .... Lihat rumput-rumput ini," jawab Mahesa Jenar.
Rara Wilis memandang rumput yang ditunjuk oleh Mahesa Jenar itu dengan seksama,
tetapi ia tetap tidak melihat sesuatu.
"Ada apa dengan rumput-rumput itu?," tanyanya.
"Lihatlah, rumput ini rebah dan patah-patah. Lihatlah di tempat itu, juga terdapat hal
yang sama, juga di sebelah sana dan sana. Kau tahu artinya? Apalagi di tempat yang
tanahnya agak gembur ini."
Rupanya otak Rara Wilis pun tidak begitu tumpul, sehingga ia berteriak menebak.
"Telapak kaki manusia ...?"
“Ya..” Sahut Mahesa Jenar.
“Telapak kaki yang masih agak baru. Pasti seseorang baru saja melewati daerah ini.
Mungkin ia adalah penduduk daerah Pliridan ini, atau mungkin....”
Mahesa Jenar tidak melanjutkan perkataannya. Tetapi Rara Wilis dapat menangkap
kelanjutannya. Mudah-mudahan bukanlah penjahat-penjahat itulah yang sengaja dikirim
untuk mematai-matai perjalanan kita, katanya.
Perlahan-lahan Mahesa Jenar berdiri sejenak. Otaknya bekerja keras untuk mencoba
menebak, siapakah kira-kira yang meninggalkan bekas tapak kaki yang masih segar itu.
Menurut pendapatnya, ada empat kemungkinan, yaitu penduduk setempat, Jaka Soka,
Pasingsingan, atau Ki Ageng Pandan Alas. Diam-diam ia membandingkan telapak kaki
itu dengan telapak kakinya sendiri. Ternyata telapak kaki itu agak lebih dalam. Menurut pendapatnya, pastilah orang itu
adalah orang yang gemuk sekali, atau orang yang membawa beban agak berat. Tiba-tiba
terlintaslah dalam benaknya, bahwa Pasingsingan adalah kemungkinan yang paling
dekat, sebab Pasingsingan dalam perjalanannya kembali ke Pasiraman mendukung Lawa
Ijo yang terluka. Dan tidaklah mustahil kalau jalan ini dilewati, sebab arah perjalanannya
sesuai dengan arah jalan ini.
Mahesa Jenar ragu-ragu sebentar. Ia tidak ingin menggelisahkan hati gadis itu. Karena
itu ia menjawab.
"Tidaklah begitu penting Rara Wilis, tetapi sebaiknya kita beralih jalan."
Rara Wilis mengerutkan dahinya, otaknya memang cukup cerdas, karena itu ia
menjawab.
"Kalau Tuan sampai menganggap perlu untuk menempuh jalan lain, pastilah ada sesuatu
yang sangat penting. Katakanlah Tuan, supaya aku tidak usah menebak-nebak."
Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain, kecuali mengatakan segala sesuatu yang
berkecamuk di dalam otaknya. Rara Wilis pun sependapat dengan pikiran itu. Maka
mereka memutuskan untuk mencari jalan lain.
Demikianlah mereka meninggalkan dan menjauhi jalan setapak yang paling mungkin
dilalui orang. Mereka membelok ke arah selatan, menyusup gerumbul-gerumbul kecil
menuju ke arah pepohonan yang agak lebat di depan mereka. Mungkin di daerah itu
terdapat mata air, atau tempat yang aman untuk bermalam, atau sukurlah kalau didiami
orang.
Ketika mereka sampai, ternyata tempat itu tidak juga ditinggali manusia. Memang, di
sana terdapat sebuah mata air yang mengalirkan air cukup deras, dan ditampung dalam
sebuah telaga yang hijau bening.
Pada saat itu, matahari telah sampai di garis cakrawala. Sinarnya sudah tidak lagi dapat
menembus takbir gelapnya malam, yang turun perlahan-lahan, tetapi pasti akan menelan
bumi.
Mehesa Jenar segera mengadakan persiapan untuk bermalam. Hanya untuk kali itu,
menurut pertimbangan Mahesa Jenar, sebaiknyalah kalau tidak menyalakan api,
meskipun Mahesa Jenar sadar bahwa andaikata bekas-bekas kaki tadi benar-benar bekas
kaki Pasingsingan, pastilah ia tidak sengaja akan menjebaknya. Sebagai orang seperti
Pasingsingan, apabila dikehendaki tentu tidak akan meninggalkan jejak sedemikian
jelasnya.
Meskipun demikian Mahesa Jenar harus selalu tetap waspada. Dipersilahkan Rara Wilis
untuk beristirahat, berbaring di atas tikar yang masih saja dibawanya ke mana-mana. Sedang Mahesa Jenar sendiri duduk bersandar pohon sambil memperhatikan suasana di
sekitarnya.
Alam pun segera menjadi hitam. Untunglah, bahwa bulan yang remaja menghiasi langit
diantara taburan bintang-bintang. Sehingga sinarnya yang remang-remang dapat
menembus dedaunan yang tidak begitu lebat seperti lebatnya hutan.
Mata Mahesa Jenar yang tajam itu selalu menembus keremangan malam untuk
menangkap tiap-tiap gerakan yang mungkin mencurigakan. Tetapi tiba-tiba saja mata itu
terbanting ke tubuh seorang gadis cantik yang berbaring diam di depannya. Dengan
demikian jantungnya berdesir cepat tanpa sadar.
Mahesa Jenar pernah bertemu, melihat dan berkenalan dengan puluhan bahkan ratusan
gadis cantik. Bahkan ia pernah berkenalan dengan seorang yang menurut pendapatnya
memiliki kecantikan yang sempurna, yaitu Nyai Wirasaba.
Tetapi tidaklah pernah ia merasakan suatu getaran yang aneh seperti dirasakannya pada
malam itu.
Diam-diam Mahesa Jenar memandangi tubuh yang terbaring seperti sebuah golek
kencana itu. Dari ujung kakinya, tangannya, dadanya sampai ke rambutnya yang
bergerak-gerak dibelai angin malam yang berhembus lirih.
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sebagai manusia biasa, Mahesa Jenar juga
kadang-kadang membayangkan suatu rumahtangga yang tenteram dan lumrah. Tetapi
segera Mahesa Jenar dapat langsung memandang ke dirinya sendiri. Ia tidak lebih dari
seorang perantau yang akan menjelajahi desa demi desa, hutan demi hutan, untuk
mengabdikan keyakinannya. Untuk itu, maka masih banyaklah yang harus dikerjakan.
Karenanya, oleh kesadarannya tentang dirinya, maka segala perasaan-perasaan yang
berdesir di hatinya terhadap gadis cantik itu segera didesak sekuat-kuatnya.
Maka dengan serta merta direnggutkannya pandangannya dari tubuh Rara Wilis, dan
segera dilemparkan kembali ke arah bayang-bayang daun dan ranting-ranting yang selalu
bergerak-gerak, seolah-olah sedang mengganggunya. Angin malam yang berdesir di
dedaunan masih saja menyapu wajahnya, dan sekali-sekali terdengar di kejauhan ringkik
kuda liar yang terkejut mendengar teriakan-teriakan anjing hutan.
Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba saja ia terbanting kembali ke dalam suasana
yang kini sedang dihadapi. Suatu daerah asing yang diliputi oleh suasana yang
membahayakan. Segera diangkatnya kepalanya, serta diperhatikannya keadaan di
sekelilingnya dengan saksama. Sebagai seorang yang mempunyai pengalaman yang luas,
Mahesa Jenar mendapatkan suatu firasat, bahwa ada sesuatu yang mencurigakan.
Mendadak telinganya yang tajam itu mendengar suara berdesir lambat sekali. Tetapi
Mahesa Jenar sudah cukup mendapat gambaran bahwa seseorang datang mendekatinya. Orang itu pasti bukanlah orang yang mempunyai ilmu yang terlalu tinggi. Sebab gerak
serta pernafasannya tidaklah dikuasainya dengan baik.
Karena itu sekaligus Mahesa Jenar dapat mengetahui dari arah mana orang itu datang.
Tetapi ia tidak segera mengadakan tindakan apa-apa. Ia ingin mengetahui lebih dahulu,
apakah kira-kira maksud orang itu mengintainya. Karena itu ia tetap duduk di tempatnya,
serta bersikap seperti tak mengetahuinya. Meskipun dalam keadaan yang demikian ia
sudah bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan.
Suara berdesir itu pun semakin lama semakin jelas, serta suara tarikan nafasnya semakin
memburu pula. Tetapi pada jarak tertentu suara itu tidak lagi maju. Rupanya orang itu
baru mempersiapkan diri untuk menyerang.
Mendadak Mahesa Jenar terkejut ketika mendengar suara itu mundur dan menjauh.
Segera Mahesa Jenar tahu, bahwa orang itu tidak bermaksud menyerang, tetapi hanya
mengintai saja. Hal yang demikian itu malahan akan dapat mengandung bahaya yang
lebih besar. Karena itu segera Mahesa Jenar bangkit dan dengan beberapa loncatan saja ia
sudah berdiri di samping orang yang mengintainya.
Orang itu terkejut. Mahesa Jenar yang dikira tidak mengetahui kehadirannya, kini tibatiba sudah ada di sampingnya. Karena itu tidaklah mungkin ia dapat melepaskan diri.
Dengan demikian ia menghentikan langkahnya, dan tidak ada jalan lain kecuali
mendahului menyerang. Orang itu segera mengangkat goloknya, dan dengan sekuat
tenaga dibabatnya pundak Mahesa Jenar.
Mendapat serangan yang tiba-tiba, Mahesa Jenar menjadi terkejut pula. Ternyata
meskipun orang itu tidak dapat menguasai pernafasannya dengan baik, tetapi ia
mempunyai keistimewaan pula.
Mendengar desing golok yang terayun deras sekali, Mahesa Jenar barulah dapat
mengukur kekuatan tenaga orang asing itu. Ketika golok itu sudah hampir menyinggung
tubuhnya, segera Mahesa Jenar berkisar sedikit, serta meloncat selangkah ke samping.
Dengan demikian golok yang tak mengenai sasarannya itu terayun deras sekali, sehingga
oran gyang memegangnya agak kehilangan keseimbangan.
Dalam keadaan yang demikian Mahesa Jenar segera meloncat maju dan menangkap
pergelangan tangan orang itu, langsung diputarnya ke belakang. Dengan sekali dorong,
orang itu telah jatuh tertelungkup dan tidak dapat bergerak lagi, kecuali berdesis menahan
sakit.
"Kau siapa?," tanya Mahesa Jenar geram. Tetapi orang itu tidak menjawab. Demikianlah
sampai Mahesa Jenar mengulangi pertanyaan itu dua kali. Akhirnya Mahesa Jenar
menjadi jengkel dan menekan punggung orang itu semakin kuat serta memutar tangan
yang terpuntir itu semakin keras, sehingga orang itu mengaduh kesakitan. "Kalau kau tak menjawab, tanganmu akan aku patahkan," desak Mahesa Jenar.
Rupanya orang itu pun masih merasa perlu memiliki tangan sehingga dengan terpaksa
menjawab.
"Aku adalah Sagotra."
"Apa maksudmu mengintai kami? “
Desak Mahesa Jenar lebih lanjut. Kembali orang itu diam saja. Mahesa Jenar menjadi
semakin jengkel, dan ia menekan orang itu lebih keras lagi, sehingga orang itu mengaduh
lebih keras pula.
"Jawablah! Atau tanganmu betul-betul patah." Mahesa Jenar makin geram.
"Tak ada gunanya kau memaksa aku berkata lebih banyak lagi, jawabnya. Rupa-rupanya
ia harus merahasiakan tugasnya betul-betul, sehingga sampai ke ajalnya kalau perlu.
"Keadaanku sudah pasti, berkata atau tidak berkata, aku akan menemui kematian.
Karena itu biarlah aku mati dengan menggenggam rahasia," sambung orang itu.
Mahesa Jenar kagum juga melihat kejantanan orang itu, sampai berani menantang maut.
Tetapi ia ingin untuk mendapat keterangan tentang maksud orang itu, yang pasti tidak
baik.
Maka setelah mendapat suatu cara ia berkata.
"Baiklah, kalau kau tidak mau berkata. Aku hormati kejantananmu. Tetapi janganlah
tanggung-tanggung. Aku ingin melihat pameran kesetiaan. Kau pernah mendengar cerita,
bahwa di daerah ini banyak terdapat Ngangrang Salaka...? "
Mendengar Mahesa Jenar menyebut Ngangrang Salaka, tengkuk orang itu serentak
meremang. Jantungnya berdegup hebat, sampai tubuhnya terasa gemetar. Ngangrang
Salaka adalah sejenis semut ngangrang yang luar biasa buas serta rakusnya. Binatang
apapun yang sampai terperosok ke sarangnya pasti hancur dimakannya. Keluarga semut
itu membuat sarang di bawah pohon-pohon yang sudah membusuk, dengan memerlukan
tanah 10 atau 15 langkah persegi. Tubuh semut itu besarnya tidak terpaut banyak dengan
semut ngangrang biasa, hanya warnanya yang merah mempunyai beberapa baris-baris
putih perak.
Mahesa Jenar merasakan, bahwa kata-katanya mempunyai akibat pada orang itu. Dengan
demikian ia melanjutkan.
"Kalau kau belum pernah mendengar, baiklah kau akan aku perkenalkan dengan semut
itu. Tetapi sebelumnya lebih baik kalau kakimu aku patahkan dulu supaya kau tidak dapat lari darinya."
Selesai mengucapkan kata-kata itu, segera Mahesa Jenar melepaskan tangan orang itu.
Tetapi segera pula menangkap lipatan lutut kaki kanan, sedangkan tangan Mahesa Jenar
siap mematahkan pergelangan kaki kirinya, dijepitkan pada lipatan lutut kaki kanan.
"Jangan..., jangan...!" teriak orang itu tiba-tiba.
"Bunuhlah aku dengan cara lain. Tetapi aku jangan kau siksa di sarang semut Salaka"
"Itu adalah urusanku. Sekehendakkulah untuk memilih cara bagaimana sebaiknya
membunuh kau," jawab Mahesa Jenar.
Tampaknya Mahesa Jenar betul-betul akan melaksanakan ucapannya itu, karenanya
maka kembali orang itu berteriak.
"Jangan, jangan, bunuhlah aku dengan cara lain."
Kembali Mahesa Jenar tertawa dingin.
"Seorang yang telah berani menyatakan dirinya sebagai pengemban tugas, seharusnya
tidak takut menghadapi segala macam bahaya."
"Aku sama sekali tidak takut mati. Tetapi cara kematian yang demikian adalah
mengerikan sekali. Lepaskan aku dan biarlah aku bunuh diri," teriak orang itu.
Kembali Mahesa Jenar mengagumi orang itu, tetapi keterangan yang diperlukan harus
didapatnya. Maka katanya.
“Kalau kau mau berkata, aku beri kau kebebasan untuk memilih jalan kematian”
Lagi orang itu diam menimbang-nimbang. Rupanya terjadi pergolakan hebat di dalam
dirinya. Baru ketika Mahesa Jenar menekan pergelangan kakinya ia berteriak,
“Baiklah aku berkata asal aku dibebaskan dari siksaan ngangrang Salaka”
“Baiklah...,” berkatalah, jawab Mahesa Jenar.
Lalu dilepaskannya pergelangan kaki orang itu, dan ia melangkah satu langkah surut.
Mengalami perlakuan yang demikian, orang itu ternyata sangat terkejut. Ia tidak tahu
maksud lawannya yang dengan begitu saja telah melepaskan tangkapannya. Sehingga
untuk beberapa saat ia tetap tertelungkup tanpa bergerak, sampai Mahesa Jenar
menegurnya. “Duduklah dan berkatalah”
Kembali ia tersentak mendengar tegur Mahesa Jenar. Perlahan-lahan ia bangkit dan
duduk di hadapan Mahesa Jenar. Sementara itu Mahesa Jenar telah pula duduk
menghadapi orang yang menamakan dirinya Sagotra.
Sagotra memandang Mahesa Jenar dengan mata yang hampir tak berkedip. Rupanya ia
sedang mencoba memahami sikapnya. Mula-mula Sagotra menganggap bahwa Mahesa
Jenar adalah seorang yang bengis dan kejam, seperti yang tiap-tiap hari dilihat di dalam
tata pergaulannya. Tetapi kemudian seperti orang yang sama sekali tidak menaruh
prasangka apa-apa, ia dilepaskan.
Kalau hal itu disebabkan karena keyakinan akan kemenangannya, pastilah ia tidak
bersikap sedemikian lunak. Mungkin ia sudah diangkatnya tinggi-tinggi, diputar di udara,
lalu dibantingnya ke tanah. Barulah setelah setengah mati, disuruhnya ia berkata. Atau
mungkinkah segala-galanya akan dilakukan nanti setelah ia selesai berkata? Sebab
menurut pertimbangannya, tidaklah mungkin orang yang melakukan pengintaian seperti
apa yang dilakukannya itu akan dilepaskan, karena akibatnya akan membahayakan.
Mengingat hal itu, Sagotra menjadi ngeri.
Mahesa Jenar menangkap kebimbangan hati Sagotra.
"Sagotra," berkatalah. "Aku hanya ingin keteranganmu, lebih daripada itu tidak."
Sagotra sama sekali tidak mengerti maksud Mahesa Jenar. Tetapi meskipun demikian
ketakutannya menjadi jauh berkurang. Menilik sikap, kata-kata serta maksudnya, pastilah
Mahesa Jenar bukan orang yang bengis dan kejam. Karena itu Sagotra menjadi malu
kepada diri sendiri. Bahwa orang yang dipercaya untuk melakukan tugas ini dapat luluh
hatinya hanya oleh gertakan saja.
Tetapi disamping itu ia menjadi kagum pada Mahesa Jenar yang mempunyai sifat-sifat
yang tak pernah dijumpainya dalam tata pergaulan di sarangnya. Tiba-tiba saja ia merasa
kengerian dan kejemuan untuk dapat bertemu dengan gerombolannya kembali, yang
tidak pernah merasakan betapa indahnya hidup manusia yang dapat menikmati terbitnya
fajar, serta bulatnya bulan. Serta betapa tenteramnya hidup ini apabila ia berkesempatan
mengagungkan alam. Lebih-lebih penciptanya, ALLAH Yang Maha Agung. Hal yang
demikian tidaklah pernah dialami selama Sagotra hidup di dalam sarang gerombolannya,
dimana setiap saat hanyalah berlaku hukum kekerasan dan pembunuhan bagi mereka
yang tidak mentaati peraturan.
"Tuan," katanya kemudian, "Benarkah Tuan yang bernama Rangga Tohjaya?"
Mahesa Jenar mengangguk mengiakan.
"Aku telah mendapat tugas untuk mencari Tuan," lanjutnya. Kembali Mahesa Jenar mengangguk perlahan.
"Sekarang aku sudah kau ketemukan," kata Mahesa Jenar.
"Ya, aku sudah menemukan Tuan. Tetapi keperkasaan Tuan jauh diatas dugaanku.
Sehingga Tuan tanpa menoleh dapat melihat kedatanganku."
"Tetapi kenapa kau tidak berbuat sesuatu pada saat kau temukan aku? Bahkan kau hanya
mengintip lalu pergi?"
Sagotra membetulkan duduknya, lalu jawabnya.
"Memang, aku hanya mendapat perintah untuk menemukan tempat Tuan. Sesudah itu
aku harus melaporkan. Sebab kami yakin, bahwa untuk menangkap Tuan diperlukan 10
sampai 20 orang yang tergolong tingkat atasan dalam gerombolan kami."
"Kau ini sebenarnya termasuk gerombolan apa?" tanya Mahesa Jenar kemudian.
Kembali orang itu ragu-ragu. Dengan menyebutkan nama gerombolannya, mungkin
sangat tidak menguntungkan baginya. Tetapi ketika ia melihat wajah Mahesa Jenar yang
sama sekali tidak memancarkan rasa permusuhan, hatinya agak tenang sedikit.
Meski dengan jantung berdegup, berkatalah Sagotra,
"Tuan, sebenarnya aku sama sekali tidak berani menyebut nama gerombolanku, sebab
aku tahu bahwa Tuan mempunyai persoalan yang mendalam dengan pemimpinku.
Meskipun demikian, karena sikap Tuan yang tak pernah aku temui dalam gerombolan
kami, menimbulkan kepercayaan pada diriku, bahwa Tuan mempunyai kepribadian lain
daripada orang-orang kami."
Orang itu berhenti sejenak untuk meyakinkan kata-katanya sendiri. Lalu sambungnya,
"Tuan... kami adalah gerombolan Lawa Ijo."
Pengakuan itu sama sekali tidak mengejutkan hati Mahesa Jenar. Memang ia sudah
mempunyai dugaan bahwa kemungkinan terbesar orang itu datang dari gerombolan Lawa
Ijo atas perintah Pasingsingan. Hanya kecepatan mereka bertindak itulah yang
mengagumkan.
"Sagotra, kata Mahesa Jenar kemudian, Aku dengar gerombolan kini sedang dibekukan.
Benarkah itu?"
"Benar, Tuan. Tetapi meskipun demikian, kami, beberapa orang tetap dalam tugas kami.
Sedang orang lain yang tidak diperlukan diperkenankan untuk sementara meninggalkan
sarang kami. Tetapi kami 25 orang yang merupakan anggota inti di bawah pimpinan
Wadas Gunung, saudara muda seperguruan Lawa Ijo, harus selalu bersiap untuk setiap saat bertindak," kata Sagotra.
Mendengar nama Wadas Gunung, Mahesa Jenar jadi teringat kepada Watu Gunung,
yang menurut Samparan juga merupakan saudara muda seperguruan dengan Lawa Ijo.
Karena itu ia bertanya,
" Sagotra, kenalkah kau dengan Watu Gunung?"
"Ya, pastilah aku kenal. Ia adalah saudara kembar Wadas Gunung. Dan kedua-duanya
saudara seperguruan Lawa Ijo. Aku juga sudah mendengar kabar yang dibawa oleh Ki
Pasingsingan, bahwa Watu Gunung telah Tuan binasakan ketika ia sedang mengunjungi
kampung kelahirannya. Serta karena itu pulalah sekarang kami 20 orang di bawah
pimpinan Wadas Gunung sendiri sedang mencari Tuan," jawab Sagotra.
Mendengar keterangan terakhir dari Sagotra ini hati Mahesa Jenar tergoncang pula, 20
orang sedang mencarinya. Sementara itu Sagotra melanjutkan,
"Tetapi anehlah Tuan, bahwa kali ini Ki Pasingsingan salah hitung. Hal seperti ini belum
pernah terjadi. Kami telah mendapat petunjuk untuk mencegat Tuan di suatu tempat.
Menurut perhitungan Ki Pasingsingan, pada hari ini menjelang malam Tuan pasti sampai
ke tempat itu. Tetapi ternyata perhitungan itu meleset. Dan tuan telah mengambil jalan
lain menghindari tempat yang telah kami persiapkan untuk menjebak Tuan. Karena itu,
kami lima orang telah disebarkan untuk mencari Tuan."
Mahesa Jenar mendengarkan keterangan Sagotra dengan penuh perhatian. Akhirnya ia
bertanya,
"Kapan kah Pasingsingan sampai ke sarang gerombolanmu? "
"Kemarin lusa, " jawab Sagotra.
"Kemarin lusa? " ulang Mahesa Jenar dengan herannya. Sulit baginya untuk
membayangkan kecepatan berjalan Pasingsingan. Ditambah lagi ketika ia teringat telapak
kaki yang masih tampak baru, yang ditemuinya sore tadi. Mahesa Jenar menjadi
bertambah heran lagi.
Kemudian Mahesa Jenar bertanya, "Adakah orang lain yang kau temui lewat jalan yang
seharusnya aku lalui?"
"Tidak Tuan, tidak ada. Kalau ada, pastilah orang itu kami tangkap. Sebab pasti orang itu
kami sangka Tuan, karena diantara kami tidak ada yang pernah mengenal wajah Tuan,
kecuali hanya ciri-ciri Tuan yang digambarkan oleh Ki Pasingsingan."
Mahesa Jenar menjadi bertambah heran.
"Adakah pihak ketiga yang sengaja memberi tanda kepadanya supaya mengambil jalan lain? Ia jadi bingung menimbang-nimbang. Tetapi sampai sekian lama tak dapat ia
memecahkan teka-teki itu. Satu-satunya kemungkinan yang membayang di kepala
Mahesa Jenar hanyalah Ki Ageng Pandan Alas. "
Belum lagi masalah telapak kaki bisa dipecahkan, mereka melihat di arah sebelah selatan
warna merah membayang di udara. Pasti di sana ada orang yang menyalakan api. Segera
Mahesa Jenar ingat, bahwa Wadas Gunung beserta 20 orangnya sedang bersiap
menghadangnya. Tetapi menilik arahnya, pasti bukan mereka.
"Sagotra...," kata Mahesa Jenar kemudian.
"Kawan-kawanmukah yang menyalakan api itu? "
Sagotra memandang pula ke arah warna merah yang mewarnai keremangan malam. Ia
menggeleng perlahan. Lalu jawabnya.
"Bukan, Itu pasti bukan kawan-kawan. Mereka menghadang Tuan tidak di arah itu."
"Lalu siapakah menurut pendapatmu yang menyalakan api itu?"
Sagotra tampak berpikir sejenak dan akhirnya ia menjawab.
"Tuan, mungkin itu adalah orang tua yang agak kurang waras, yang merupakan satusatunya penghuni daerah ini."
"Satu-satunya?"
Sahut Mahesa Jenar agak terkejut.
"Jadi didaerah ini tidak lagi ditinggali manusia kecuali orang tua itu?"
Sagotra menggelengkan kepalanya.
"Tidak Tuan, Memang daerah ini sekarang sama sekali kosong, kecuali seorang itu, "
Jawab Sagotra kemudian.
"Kenapa orang itu tidak pergi?" tanya Mahesa Jenar. "Tidakkah dia takut menghadapi
keganasan gerombolan-gerombolan itu? Ataukah dia sedemikian hebatnya sehingga tak
seorang pun berani mengganggunya...?"
" Tidak, Tuan.... Ia sama sekali tidak memiliki kepandaian apa-apa. Aku sendiri pernah
datang mengunjunginya. Tetapi seperti yang sudah aku katakan, orang itu agak kurang
waras. Ia merasa bahwa ia sama sekali tidak mempunyai milik, sehingga menurut
perhitungannya tidak akan ada orang yang datang mengganggunya, " sahut Sagotra. Mahesa Jenar mendengar keterangan Sagotra dengan saksama. Ia mulai menghubung
hubungkan keterangan itu dengan kakek Rara Wilis. Mungkinkah orang tua itu adalah Ki
Santanu...?
"Siapakah nama orang tua itu?" tanya Mahesa Jenar tiba-tiba.
Sagotra menggelengkan kepalanya.
“Tak ada orang yang mengetahui nama sebenarnya. Aku juga pernah menanyakan
kepadanya, tetapi ia hanya menyebutkan panggilan yang biasa diperuntukkannya saja”
"Ya, siapa panggilan itu?" desak Mahesa Jenar
"Orang memanggilnya dengan sebutan Ki Ardi."
"Ardi? "ulang Mahesa Jenar. Sagotra mengangguk.
Tiba-tiba terlintaslah dalam benak Mahesa Jenar, bahwa Ardi dapat berarti Gunung.
Sedang kakek Rara Wilis pun berasal dari daerah pegunungan. Ah, apakah salahnya
kalau ia berkenalan dengan orang tua itu?
"Sagotra...," katanya kemudian
"Dapatkah kau menunjukkan jalan ke rumah Ki Ardi itu?"
Sagotra diam-diam menimbang-nimbang. Ia menjadi agak kebingungan. Tentang dirinya
sendiri, ia belum mendapat penyelesaian. Sekarang ia mendapat pekerjaan baru,
mengantarkan Mahesa Jenar ke rumah orang tua itu. Tetapi sesudah itu lalu bagaimana?
Mestikah ia harus bunuh diri, atau Mahesa Jenar akan membunuhnya...? Serta
bagaimanakah kalau ia bertemu dengan kawan-kawannya yang juga sedang mencari
Mahesa Jenar?
Mahesa Jenar melihat kebingungan hati Sagotra serta sedikit banyak menangkap
perasaannya. tetapi disamping itu mendadak timbul pula kebimbangan di hatinya sendiri.
Lalu bagaimana dengan Sagotra itu kemudian? Kalau orang itu dilepaskan, maka soalnya
akan berkepanjangan. Pastilah ia akan melaporkan semuanya kepada Wadas Gunung
dengan keduapuluh kawannya. Dan ini berarti suatu pekerjaan yang sangat berat.
Sedangkan untuk membunuhnya, tidaklah terlintas dalam angan-anannya. Sebab orang
seperti Sagotra bukanlah seorang yang pantas untuk menerima hukuman yang demikian
berat. Sebab ia tidaklah lebih dari seorang pesuruh.
Karena itu kemungkinan satu-satunya adalah membawa Sagotra itu seterusnya, sampai
keadaan terasa aman. Mendapat pikiran yang demikian itu, maka Mahesa Jenar segera
mengambil keputusan.
"Sagotra, barangkali kau segan untuk melakukan permintaanku, menunjukkan jalan ke rumah Ki Ardi, sebab kau merasa bahwa tak ada gunanya kau berbaik hati kepadaku.
Tetapi ketahuilah Sagotra, aku terpaksa memutuskan untuk membawamu kemana aku
pergi, demi keamananku. Kalau aku seorang diri, barangkali aku segera melepaskanmu.
Lalu sesudah itu aku dapat menyelamatkan diriku secepat-cepatnya. Tetapi sekarang aku
sedang melindungi seorang gadis. Karena itu, janganlah membantah perintahku.
Janganlah kau takut, bahwa sesudah semuanya selesai aku akan membunuhmu. Sebab
bagiku kau tidak lebih dari sebuah alat yang tak perlu dirusak. "
Kalau yang berkata demikian itu Wadas Gunung, atau salah seorang dari rombongannya,
hati Sagotra pasti tidak akan banyak terpengaruh. Sebab ia tahu pasti, bahwa kata-kata
yang demikian itu sama sekali tak berarti. Bagi Wadas Gunung serta kawan-kawan
segerombolannya, tidak ada batas antara sahabat yang setia pada hari ini, serta lawan
yang harus dibinasakan hari esok.
Tetapi yang berkata demikian adalah orang lain. Orang yang baru saja dikenalnya,
bahkan yang telah diserangnya dengan sekuat tenaga untuk dibunuh. Namun demikian
orang itu masih berkata kepadanya, bahwa ia masih boleh mengharap untuk dapat
menyaksikan matahari terbit esok pagi. Dan kata-kata ini mempunyai kesan yang jauh
berlainan dengan segala pujian, janji dan segala macam yang pernah keluar dari
pemimpin-pemimpin rombongannya. Karena itu hati Sagotra bergoncang hebat. Tanpa
sadar, Sagotra meloncat, lalu bersujud di muka Mahesa Jenar sampai mencium tanah.
Dan anehnya, sejak ia meninggalkan masa kanak-kanaknya, serta kemudian terperosok
dalam dunia yang hitam kelam, baru sekaranglah orang yang bernama Sagotra itu sampai
meneteskan air mata. Bukan saja karena ia terlepas dari terkaman maut. Sebab hal yang
demikian itu telah seringkali dialami.
Dalam segala kegiatannya sebagai anggota gerombolan penjahat, banyak tangkapantangkapan maut yang dapat dihindari Sagotra. Tetapi ia tidak pernah merasa terharu sama
sekali mengalami peristiwa-peristiwa itu, bahkan yang ada di dalam benaknya adalah
dendam yang membara, serta kebanggaan dan kesombongan.
Mahesa Jenar menyaksikan sikap Sagotra itu dengan penuh keheranan. Ia tidak dapat
menangkap seluruh perasaan yang bergelut dalam dada orang itu, sehingga tampak sangat
menggelikan. Bahwa orang itu tinggi tegap, berkumis tebal serta berkulit hitam
mengkilap, tetapi menangis tersedu-sedu.
"Sagotra, agak aneh kelakuanmu itu bagiku. Seorang laki-laki macam kau yang dengan
sikap jantan berani menentang maut, kini tiba-tiba menangis macam anak-anak, " kata
Mahesa Jenar.
"Tuan...," jawab Sagotra sambil mengangkat kepalanya, "Tak pernah selama hidupku
merasakan sesuatu yang demikian mengharukan seperti kali ini."
Sagotra merasakan bahwa ternyata bukanlah kekerasan melulu yang dapat
menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan ini. "Meskipun Tuan bermodalkan kekuatan yang tiada taranya, tetapi sikap Tuan adalah
suatu penguasaan mutlak atas diriku. Seandainya Tuan tidak berbuat demikian, mungkin
dalam kesempatan-kesempatan yang ada aku pasti akan menyerang Tuan, atau setidaktidaknya aku ingin mati sebagai seorang laki-laki sejati. Tetapi sekarang, hidup matiku
bulat-bulat di tangan Tuan. Juga seandainya Tuan ingin menyaksikan aku mati di sarang
semut Salaka, tidaklah menjadi masalah lagi bagiku," kata Sagotra.
Mahesa Jenar terharu juga mendengar kata-kata Sagotra. Tetapi meskipun demikian, ia
tetap berhati-hati. Sebab kata-kata itu keluar dari mulut seorang penjahat yang cukup
mempunyai ikatan yang sempurna.
Tidak mustahil bahwa cara-cara yang demikian sering dilakukan untuk mengurangi
kewaspadaan lawan. Hanya karena kejadian itu tampaknya meyakinkan, maka Mahesa
Jenar pun tidak perlu lagi terlalu mencurigainya. Sejenak kemudian mereka saling
berdiam diri, hanyut oleh arus perasaan masing-masing.
Sementara itu nyala api di sebelah selatan itu pun tampak semakin terang. Angin malam
pun terasa demikian dingin menggigit tulang.
"Sagotra, marilah kita pergi,"
Kata Mahesa Jenar kemudian, memecahkan kediaman mereka.
"Mari Tuan," jawab Sagotra.
Perlahan-lahan Mahesa Jenar berdiri tegak serta memandang ke arah Rara Wilis
berbaring.
"Tetapi mestikah gadis itu aku bangunkan? " desis Mahesa Jenar.
"Atau kita menunggu sampai besok, " sahut Sagotra.
"Tidakkah ada bahayanya? Apakah tidak mungkin salah seorang kawanmu datang pula
ke tempat ini? Dengan demikian kaupun pasti akan mendapat kesulitan, " jawab Mahesa
Jenar.
Sagotra diam menimbang-nimbang. Memang mungkin sekali salah seorang dari
kawannya datang pula ke tempat ini meskipun mula-mula mereka berpencaran.
"Jadi bagaimana pendapat Tuan?" tanya Sagotra lagi.
Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Ia pun sedang berpikir, bagaimana sebaiknya.
Kalau pada saat itu ia langsung bersama-sama Rara Wilis, pergi ke arah api itu, tidakkah
ada kemungkinan orang-orang yang sedang mencarinya pergi ke arah api itu juga?
"Sagotra, tidakkah kawan-kawanmu juga akan pergi ke arah api itu?" "Aku kira tidak, Tuan. Pasti mereka tahu bahwa arah itu adalah arah rumah Ki Ardi,"
jawabnya.
Tetapi mungkin pula mereka berpikir bahwa di sana akan dapat mereka temukan kami,
yang dapat diperhitungkan, bahwa kami akan pergi ke arah api itu.
Sagotra mengangguk kecil. Memang masuk akal pula bahwa kawan-kawannya
mempunyai perhitungan yang demikian.
“Jadi bagaimanakah sebaiknya...?”
Kembali mereka diam menimbang-nimbang. Memang tidaklah mudah menghindari
gerombolan Lawa Ijo yang berjumlah 20 orang, justru di wilayah mereka sendiri. Sagotra
yang merupakan salah seorang dari gerombolan itu pun masih belum dapat menemukan,
bagaimanakah jalan yang sebaik-baiknya untuk menghindari kawan-kawannya.
"Tuan..." akhirnya Sagotra bertanya.
"Adakah sesuatu kepentingan Tuan dengan orang itu?"
Mendapat pertanyaan yang demikian, Mahesa Jenar agak menjadi repot untuk
menjawabnya. Pastilah ia tidak akan dapat mengatakan bahwa ia sedang mencari
seseorang ada hubungannya dengan keris Sigar Penjalin. Sebab pastilah ia mendapat
jawaban bahwa orang itu bernama Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak, Wanasaba.
Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat bahwa kakek Rara Wilis itu menyebut dirinya Ki
Santanu, karena itu segera ia menjawab.
"Sagotra, sebenarnya kedatanganku ke daerah Pliridan ini adalah untuk mencari
seseorang yang bernama Ki Santanu. Kalau aku dapat bertemu dengan Ki Ardi, mungkin
aku akan dapat menanyakan kepadanya tentang orang-orang yang pernah tinggal di
daerah ini. Mungkin ia mengenal orang yang bernama Ki Santanu itu."
Sagotra tampak mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat orang-orang yang
pernah tinggal di daerah ini. Sebab ia dalam melakukan tugasnya banyak berhubungan
pula dengan penduduk, sehingga hampir semua dikenalnya. Tetapi nama Santanu belum
pernah dikenalnya.
"Tuan, barangkali aku dapat mengenal semua orang di sini sedemikian baiknya, seperti
juga Ki Ardi. Tetapi nama itu belum aku dengar. Mungkin disamping namanya ia
mempunyai sebutan lain, atau barangkali Tuan dapat mengatakan kepadaku
bagaimanakah ciri-ciri orang itu? " jawab Sagotra.
Mahesa Jenar menggeleng perlahan-lahan. Katanya. "Aku sendiri belum pernah mengenal wajahnya. Ia adalah kakek gadis itu. Nah, mungkin
kau dapat bertanya kepadanya. Marilah kita tengok ia, barangkali sudah bangun."
Sagotra tidak menjawab. Segera ia berdiri dan berjalan di belakang Mahesa Jenar. Tetapi
mendadak terjadilah sesuatu yang mengejutkan. Cepat seperti kilat, Mahesa Jenar
meloncat ke arah tikar yang masih terbentang. Tetapi Rara Wilis sudah tidak ada lagi
terbaring diatasnya. Jantung Mahesa Jenar bergelora hebat sekali.
Sadarlah ia bahwa ia telah berbuat suatu kelengahan. Di daerah yang berbahaya serta
mengandung banyak rahasia ini, ia telah terlalu lama meninggalkan Rara Wilis seorang
diri. Segera ia berdiri tegak serta mengangkat kepalanya. Memusatkan pikiran serta
segenap pancainderanya untuk menangkap tiap-tiap gerakan maupun suara di sekitarnya.
Tetapi tidak ada yang tampak selain daun dan ranting yang digoyangkan angin, serta tak
ada yang didengar selain gemersik dedaunan itu, serta tarikan nafas Sagotra.
Mahesa Jenar adalah seorang yang cukup matang. Ia memiliki ketenangan pikiran serta
kecepatan bertindak. Tetapi meskipun demikian, kali ini hampir kehilangan semua sifatsifatnya itu. Pada saat ia menghadapi Pasingsingan, ia masih tetap sadar dan dapat
menguasai pikiran sepenuhnya. Tetapi sekarang ia menghadapi suatu peristiwa yang
belum pernah dirasakan.
Hilangnya Rara Wilis dirasakannya sebagai suatu peristiwa yang langsung menusuk
perasaannya yang paling dalam. Dalam ketidaksadarannya tiba-tiba Mahesa Jenar berlari
kesana kemari sambil memanggil-manggil nama Rara Wilis.
Melihat sikap Mahesa Jenar yang demikian itu, Sagotra menjadi heran bercampur cemas,
sehingga terpaksa ia pun turut berlari-lari kian kemari. Tetapi sebagai orang yang lebih
tua, tahulah Sagotra bahwa Mahesa Jenar tidak hanya merasa bertanggung jawab atas
hilangnya Rara Wilis, tetapi pastilah ada suatu perasaan yang jauh lebih dalam daripada
itu. Dan memang demikianlah kiranya.
Mahesa Jenar mencoba mendesak perasaan-perasaan yang menyentuh-nyentuh hatinya
terhadap Rara Wilis, tetapi ternyata perasaan itu telah menyangkut di hatinya sedemikian
eratnya.
Hilangnya Rara Wilis dirasakannya sebagai hilangnya sebagian dari jiwanya sendiri.
Sampai beberapa saat masih saja Mahesa Jenar memanggil-manggil Rara Wilis. Tetapi
tidak ada suara yang menyambutnya. Sehingga ketika Mahesa Jenar sudah pasti, bahwa
Rara Wilis telah lenyap, menggelegaklah darahnya. Tubuhnya bergetar, serta giginya
gemeretak. Tiba-tiba saja ia ingin menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya untuk
menyalurkan amarahnya.
Dalam keadaan yang demikian, dengan penuh kemarahan Mahesa Jenar menyalurkan
segala kekuatannya ke sisi telapak tangannya, disilangkannya tangan kirinya di muka
dada, serta diangkatnya tangan kanannya tinggi-tinggi. Dengan sekali loncat ia telah berdiri disamping sebuah batu seperut kerbau. Maka dengan menggeram hebat sekali,
dihantamnya batu itu sampai pecah berserakan.
Sagotra adalah seorang penjahat yang telah banyak makan garam. Telah banyak sekali ia
menyaksikan betapa hebatnya Lawa Ijo. Tetapi ketika ia menyaksikan apa yang telah
dilakukan oleh Mahesa Jenar, tubuhnya menjadi gemetar. Pada saat ia menyaksikan
Lawa Ijo terluka parah, sama sekali ia tidak percaya, bahwa luka itu disebabkan oleh
karena pukulan tangan saja. Ia menyangka, bahwa orang yang telah melukainya pasti
mempergunakan senjata rahasia atau sebangsanya.
Tetapi sekarang, ketika ia berkesempatan untuk menyaksikan sendiri, akibat dari
pukulan orang yang telah melukai Lawa Ijo itu, bulu tengkuknya serentak berdiri. Kalau
misalnya saja, pukulan itu dikenakan kepalanya, pastilah akan hancur berserakan pula
lebih dari batu itu.
Diam-diam Sagotra mengucap syukur dalam hatinya, bahwa Mahesa Jenar tidak masuk
dalam jebakan mereka. Sebab kalau sampai hal itu terjadi, maka akibatnya pasti hebat
sekali.
Meskipun gerombolannya berjumlah 20 orang, serta diantaranya ada orang-orang seperti
Wadas Gunung, Carang Lampit yang mempunyai kepandaian hampir setingkat Wadas
Gunung, Bagolan yang terkenal mempunyai aji welut putih, serta beberapa orang lagi,
tetapi sulitlah kiranya untuk dapat menangkap Mahesa Jenar. Andaikata itu bisa terjadi,
pastilah lebih dari separo diantaranya sudah tak lagi sempat menyaksikan datangnya
fajar.
Tetapi belum lagi Sagotra habis berangan-angan, tiba-tiba matanya terbelalak lebar,
tubuhnya semakin gemetar lagi, serta peluh dingin mengalir membasahi seluruh
badannya. Pada saat itu, Mahesa Jenar yang tidak puas dengan pelepasan amarahnya,
mendadak meloncati Sagotra dan langsung memegang leher orang itu, sambil
menggeram.
"Setan, rupanya kau telah memancing aku untuk menjauhi Wilis."
Belum lagi Mahesa Jenar berbuat sesuatu, nafas Sagotra telah terasa sesak. Ingin ia
menjawab, tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, karena ketakutannya yang
amat sangat. Ia tahu betul, bahwa dalam keadaan yang demikian dapat saja Mahesa Jenar
bertindak diluar kesadarannya.
Wajah Mahesa Jenar yang lunak, kini telah berubah menjadi merah membara dibakar
oleh kemarahannya. Kedua tangannya yang memegang leher Sagotra semakin lama
semakin menekan.
Kini nafas Sagotra benar-benar menjadi sesak. Tangan Mahesa Jenar itu terasa demikian
erat mencekik lehernya, sampai akhirnya ia merasa, bahwa akhir hidupnya telah tiba,
justru karena hal yang sama sekali tak diketahuinya. Tetapi ketika telah terasa, bahwa harapan untuk hidup sudah tidak ada lagi, hatinya malahan menjadi tenang.
"Tuan, aku tidak akan menghindarkan diri dari hukuman yang akan Tuan jatuhkan atas
diriku. Sebab hal yang demikian adalah wajar sekali. Tetapi yang aku sangat sedih adalah
justru kematianku disebabkan oleh suatu hal yang sama sekali tak kumengerti. Sebab aku
sama sekali tak sengaja menjauhkan Tuan dari gadis itu. Maka, kalau Tuan benar-benar
akan membunuhku, bunuhlah aku sebagai salah seorang anggota gerombolan Lawa Ijo
yang ingin mencelakakan Tuan, " kata Sagotra suara susah payah.
Ternyata kata-kata yang diucapkan dalam keadaan yang putus asa itu, dapat menyentuh
kesadaran Mahesa Jenar. Apalagi ketika Mahesa Jenar sejenak memandang wajah
Sagotra yang kasar, jelek dan kotor, tetapi yang dari matanya memancar keputus-asaan
dan kekosongan. Bahkan lama-kelamaan berubah menjadi seperti mata kanak-kanak yang
belum pernah dijamah dosa.
Demikianlah, maka sedikit demi sedikit Mahesa Jenar dijalari kembali oleh sifatsifatnya, serta sedikit demi sedikit pikirannya dapat bekerja kembali. Sejalan dengan itu
pegangan tangannya pun menjadi semakin kendor dan kendor, sehingga akhirnya
dilepaskanlah leher Sagotra itu sama sekali.
"Maafkanlah aku," Sagotra, bisik Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata itu kembali hati Sagotra melonjak hebat sekali. Hampir saja air
matanya tidak lagi dapat ditahannya.
"Sagotra...," kata Mahesa Jenar selanjutnya, yang bagaimanapun masih ingin mendapat
lebih banyak penjelasan.
"Benarkah kau tidak berbuat itu?"
"Tuan, memang aku dapat memahami tuduhan itu. Tetapi sebenarnyalah, bahwa
kedatanganku sama sekali tak ada hubungannya dengan hilangnya gadis itu. Kecuali
kalau hal ini dilakukan oleh orang-orang segerombolanku di luar rencana semula,"
jawab Sagotra.
Mahesa Jenar menundukkan kepala. Tetapi ia dapat mempercayai kata-kata Sagotra.
Sebab andaikata hal itu dilakukan oleh kawan-kawan Sagotra, bahkan Jaka Soka
sekalipun, ia pasti akan dapat menangkap suara ataupun gerak dari orang itu, sebab untuk
mengalahkan Sagotra ia sama sekali tidak perlu memusatkan segala perhatiannya.
Apalagi jarak mereka dengan Rara Wilis berbaring tidaklah demikian jauhnya. Karena
itu ia menduga, bahwa hal ini dilakukan oleh seseorang yang memiliki kehebatan luar
biasa pula. Tiba-tiba bulu tengkuknya meremang, ketika ia mengingat betapa cepatnya Pasingsingan
bertindak. Perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tikar yang masih terbentang itu. Tibatiba Mahesa Jenar melihat bungkusan Rara Wilis masih juga ada di situ. Ia jadi teringat,
bahwa dalam bungkusan itu terdapat sebilah keris pusaka Ki Ageng Pandan Alas, yaitu
Kiai Sigar Penjalin.
Tetapi alangkah terkejut serta kecewanya ketika ternyata keris itu telah lenyap pula.
Akhirnya seperti orang yang dicopoti segala tulangnya. Ia duduk lemas diatas tikar Rara
Wilis.
Sagotra yang masih saja mengikutinya kemana ia pergi, duduk pula di atas tikar di
belakang Mahesa Jenar. Tetapi sama sekali ia tidak berani menegurnya.
Angin malam masih saja berhembus silir, yang bagi Mahesa Jenar terdengar sebagai
sebuah lagu sedih yang mengiringi ratapan hatinya. Tiba-tiba saja ia merasa, bahwa tanpa
disengaja ia telah menguntai butiran-butiran mutiara harapan yang kini telah terenggut
dan berderai berserakan.
Alangkah dalam luka yang dideritanya. Dua masalah yang sekaligus menghancurkan
perasaannya. Sebagai seorang laki-laki langsung ia telah dihinakan. Sebuah
pertanggungjawaban yang digenggamnya telah dirampas oleh orang tanpa dapat berbuat
apa-apa, dan sekaligus yang hilang itu adalah sebagian dari jiwanya pula.
Dalam keadaan yang demikian tiba-tiba seperti orang bermimpi Mahesa Jenar
mendengar alunan lagu Dandanggula sayup-sayup sampai. Mendengar lagu itu,
geragapan Mahesa Jenar berdiri. Meskipun lagu itu tidak begitu jelas, tetapi segera
Mahesa Jenar mengenal, bahwa Dandanggula itu telah dibawakan oleh seorang yang oleh
Pasingsingan beberapa hari yang lalu disebut Pandan Alas.
Seperti juga beberapa hari yang lalu, suara itupun bergulung-gulung berkumandang
memenuhi segala penjuru. Sehingga sulitlah bagi Mahesa Jenar untuk mengetahui dengan
pasti arah suara itu.
Mahesa Jenar segera berdiri tegak, kepalanya sedikit diangkat ke atas dengan
memusatkan pancainderanya untuk menangkap getaran Dandanggula yang lamat-lamat
sampai ke telinganya. Pada saat itu, perasaan Mahesa Jenar sedang bergolak hebat,
karena hilangnya Rara Wilis.
Karena itu, seakan-akan Mahesa Jenar mendapat suatu tenaga rohaniah tambahan yang
cukup besar, sehingga kemampuan Mahesa Jenar pun seakan-akan bertambah. Dengan
demikian, setelah beberapa saat Mahesa Jenar berdiam diri, hampir seperti orang
bersamadi, perlahan-lahan ia dapat menangkap arah suara yang sayup-sayup sampai ke
telinganya itu, maka ketika ia telah mendapat suatu kepastian dari mana arah suara itu,
cepat seperti kilat ia meloncat dan kemudian menyusup gerumbul menuju arah barat. Sagotra bertambah heran menyaksikan kelakuan Mahesa Jenar, disamping keheranannya
mendengar suara lagu Dandanggula itu. Karena itu ia pun segera berlari mengikuti
Mahesa Jenar, sehingga mereka berdua seolah-olah sedang bermain kejar-kejaran.
Sebentar kemudian Mahesa Jenar telah keluar dari gerumbul kecil itu, serta dengan
cekatan sekali ia melompat keatas gundukan tanah yang agak tinggi untuk dapat
menangkap setiap gerak di padang rumput yang terbuka itu. Sebab mustahil kalau sampai
ada orang di padang terbuka yang sedemikian itu sampai terlepas dari pengawasannya
yang seakan-akan mempunyai kelebihan dibanding mata orang biasa.
Tetapi sampai beberapa saat, sama sekali ia tidak melihat suatu apapun. Sedang suara
Dandanggula itupun telah berhenti.
Sementara itu, bulan pun telah rendah sekali, hampir sampai ke garis cakrawala,
sehingga malam menjadi semakin kelam. Mahesa Jenar menjadi semakin mengeluh
dalam hati. Dirasanya betapa picik pengetahuan serta rendah ilmu yang dimilikinya,
sehingga dalam keadaan seperti ini sama sekali ia tidak berdaya.
Pada mulanya ia merasa, bahwa cukuplah kiranya bekal yang dimiliki untuk menghadapi
kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang dalam perantauannya. Tetapi ternyata
menghadapi tokoh-tokoh macam Pasingsingan, Ki Ageng Pandan Alas, ia tidak lebih dari
seorang anak kecil yang baru pandai berdiri.
Tiba-tiba saja ia menangkap bayangan yang membayang tepat di hadapan wajah bulan
yang hampir lenyap itu. Heranlah Mahesa Jenar, kenapa baru saat itu ia menangkap
bayangan yang berada di tempat terbuka.
Dalam keremangan bulan yang masih memancarkan sinarnya yang terakhir itu Mahesa
Jenar dapat melihat dengan jelas bayangan dari dua orang, laki-laki dan perempuan. Ia
hampir pasti bahwa perempuan itu adalah Rara Wilis, sedang laki-laki yang
membimbingnya itu tampak bertubuh kurus tinggi.
Melihat hal itu berdebarlah jantungnya cepat sekali. Tetapi ketika ia hampir saja
melompat mengejar bayangan itu, tiba-tiba ia menjadi tertegun heran. Kedua orang itu
melambaikan tangannya kepadanya, seakan-akan menyampaikan ucapan selamat tinggal.
Terasa ada suatu kesan yang aneh meraba-raba hati Mahesa Jenar. Mula-mula timbul
suatu perasaan yang sakit, ketika ia melihat Rara Wilis bersama-sama dengan seorang
laki-laki yang tidak dikenalnya. Tetapi ketika Mahesa Jenar teringat akan lagu
Dandanggula yang baru saja didengarnya, segera teringat pulalah ia akan Ki Ageng
Pandan Alas. Lebih-lebih ketika ternyata laki-laki itu dengan tangannya yang lain
melambaikan sebilah keris yang tampak seperti membara di keremangan malam.
Tahulah Mahesa Jenar, bahwa itulah Sigar Penjalin yang sudah berada di tangan
pemiliknya. Juga mau tidak mau pastilah ia menghubungkan nama Ki Santanu dengan Ki
Ageng Pandan Alas. Maka dengan sedih serta hati yang kosong, diluar sadarnya Mahesa Jenar mengangkat tangannya pula untuk melambaikan salam perpisahan.
Sesaat kemudian lenyaplah bayangan itu bersama dengan lenyapnya butiran-butiran
yang pernah berkilau di hatinya.
Sekali lagi Mahesa Jenar lemas seperti kehilangan segala tulang-belulangnya.
Sebagaimana manusia biasa, ia merasa betapa sedihnya perpisahan yang terjadi secara
tiba-tiba itu.
Terbayanglah kembali segala peristiwa yang pernah terjadi, sejak pertama kalinya ia
tertarik kepada wajah Rara Wilis yang terselip diantara beberapa orang yang akan
menyeberang hutan Tambakbaya. Terbayang pula bagaimana pada malam pertama gadis
cantik itu ketakutan mendengar teriakan-teriakan binatang hutan, serta bagaimana Jaka
Soka berusaha untuk menculiknya, sehingga terpaksalah ia ikut serta dalam perkelahian
antara para pengawal dengan Jaka Soka. Dengan terpaksa pula ia harus berhadapan untuk
kedua kalinya dengan Lawa Ijo. Juga terbayang dengan jelas, bagaimana selanjutnya ia
harus mengantar Rara Wilis seorang diri ke daerah Tambakbaya yang rasanya bagaikan
tamasya yang tak akan terlupakan. Juga pada saat terakhir dimana ia menunggui gadis
itu, yang tidur dengan nyenyaknya karena lelah. Kakinya, tangannya, dadanya yang
penuh berisi serta rambutnya yang bergerak-gerak dibelai angin.
Mahesa Jenar terduduk di rerumputan liar sambil menutup mukanya dengan kedua belah
tangannya. Ingin ia segera melenyapkan segala kenang-kenangan itu. Tetapi semakin
keras ia berusaha, semakin jelas gambaran-gambaran itu menerawang di hatinya.
Sagotra juga masih saja berada di belakang Mahesa Jenar, dapat merasakan kesedihan
Mahesa Jenar sepenuhnya. Meskipun selama ini perasaannya dikuasai oleh nafsu untuk
membunuh, merampas dan sebagainya, tetapi sebagai manusia ia pun pernah merasakan
tali batin yang pernah menjeratnya.
Tetapi sampai sekian, yang tak dimengertinya, kenapa Mahesa Jenar sama sekali tak
berbuat apa-apa ketika ia menyaksikan bayangan yang tiba-tiba muncul di depan wajah
bulan yang hampir tenggelam itu. Meskipun ia tahu betapa hebatnya orang yang
membawa Rara Wilis itu, tetapi ia mengagumi Mahesa Jenar sebagai manusia luar biasa.
Sehingga meskipun dengan agak ragu-ragu ia beranikan diri untuk bertanya,
"Tuan, kenapa Tuan tidak bertindak ketika mereka menampakkan diri di hadapan Tuan?"
Mahesa Jenar baru merasa bahwa ia berkawan, ketika ia mendengar sapa itu. Perlahanlahan ia menoleh, serta menjawabnya.
"Sagotra, tidakkah kau tahu siapa dia? Sehingga tak akan bergunalah kalau aku
mengejarnya."
"Siapakah orang itu, Tuan?" tanya Sagotra ingin tahu. "Ki Ageng Pandan Alas," jawab Mahesa Jenar.
"Ki Ageng Pandan Alas...?" ulang Sagotra terkejut.
"Jadi dialah orangnya yang mempunyai kesaktian sejajar dengan Ki Pasingsingan? "
Mahesa Jenar mengangguk perlahan, sedang Sagotra dengan penuh ketakjuban
menggeleng-gelengkan kepalanya. Itulah sebabnya maka orang itu berhasil mengambil
Rara Wilis tanpa diketahui oleh orang seperti Mahesa Jenar.
"Kenapa Rara Wilis ia ambil?" tanyanya lebih lanjut.
"Adakah hubungan antara mereka? "
"Aku tidak tahu, Sagotra," jawab Mahesa Jenar.
"Tetapi yang aku ketahui adalah Rara Wilis membawa keris Sigar Penjalin."
"Itulah pusaka Ki Ageng Pandan Alas," potong Sagotra.
"Ya," sambung Mahesa Jenar. "Tetapi Rara Wilis mengatakan, bahwa keris itu berasal
dari kakeknya yang bernama Ki Santanu."
Tiba-tiba saja karena kata-katanya sendiri Mahesa Jenar teringat pada nama yang
disebutkan Sagotra, yaitu Ki Ardi. Apalagi ketika ia memandang ke arah selatan, masih
tampaklah di sana bayangan warna merah di udara. Maka timbullah kembali
keinginannya untuk bertemu dengan orang itu. Sebab darinya ia ingin mendapat beberapa
keterangan tentang orang-orang yang pernah tinggal di daerah itu. Karena itu katanya
kepada Sagotra.
"Sagotra, marilah antarkan aku kepada Ki Ardi."
"Masih adakah gunanya?" sahut Sagotra.
"Aku tidak tahu, Sagotra. Tetapi antarkan aku ke sana," jawab Mahesa Jenar.
Maka dengan tidak menjawab lagi Sagotra langsung berdiri serta bersama-sama Mahesa
Jenar menempuh jalan ke arah selatan menuju rumah Ki Ardi.
Demikianlah malam menjadi gulita, karena kedipan bintang-bintang di langit tidak
mampu menyibakkan gelapnya malam, mereka berjalan tanpa lagi banyak berbicara.
Sagotra yang tampaknya sudah agak biasa berjalan di daerah ini, berjalan di depan.
Sedang Mahesa Jenar, meskipun belum banyak mengerti tentang daerah yang dilalui,
tetapi ia mempunyai pandangan yang tajam sekali, sehingga tidaklah banyak menemui
kesulitan. Demikianlah maka setapak demi setapak mereka mendekati arah api yang masih
menyala-nyala, maka setelah mereka berjalan beberapa lama, melewati padang ilalang,
serta menyusup gerumbul-gerumbul kecil yang berserakan disana-sini, sampailah mereka
di sebuah bukit kapur yang kecil. Mahesa Jenar serta Sagotra tidak langsung
menampakkan diri, tetapi dari jarak beberapa depa mereka masih berdiri di semak-semak.
Dari situlah mereka menyaksikan tempat kediaman Ki Ardi
Ki Ardi sendiri yang pada saat itu sedang berada disamping api yang menyala nyala,
sedang memahat sebuah batu besar. Ternyata rumah Ki Ardi tidaklah lebih dari sebuah
goa di bukit kecil itu, yang langsung menghadap ke batu besar yang sedang dipahatnya.
Ketika Mahesa Jenar mengamat-amati pahatan Ki Ardi itu, ia menjadi kagum. Di atas
batu yang besar itu dipahatkan gambar seekor ular naga besar, yang tampaknya sedang
marah, kepalanya menengadah ke atas, serta mulutnya menganga lebar. Disela-sela
giginya yang runcing mengerikan itu tampaklah lidahnya menjulur keluar. Sedang ekor
naga itu terurai ke belakang, berlekuk-lekuk. Di belakang serta di depan ular yang sedang
marah itu, tampaklah dua ekor yang tak kalah garangnya, siap menerkam. Kuku-kuku
serta taring-taring harimau itu tampak tajam menakutkan.
Sebelum itu Mahesa Jenar telah sering melihat pahatan-pahatan batu serta patung-patung
yang bagus buatannya di kota-kota. Bahkan candi-candi yang termasyur pun telah sering
pula dikunjungi. Namun pahatan Ki Ardi itu tidak pula kalah indahnya. Garis-garisnya
tegas dan mantap, sehingga pahatan itu dapat mengungkapkan watak serta keadaan
binatang-binatang itu sejelas-jelasnya.
Mereka yang menangkap pahatan itu segera akan dapat merasakan, bahwa seolah-olah
sebentar lagi akan terjadi pergulatan dahsyat antara naga raksasa itu melawan dua ekor
harimau yang ganas.
Sagotra yang hampir sepanjang hidupnya tak pernah mengenal arti bentuk semacam itu,
tak begitu dapat mengenal betapa tinggi nilai pahatan Ki Ardi. Yang tampak olehnya
pada saat itu tidaklah lebih gambar seekor naga yang hendak bertempur melawan dua
ekor harimau. Tidak nampak olehnya mata naga itu sedemikian menyala karena
marahnya, sedang kedua harimau itu telah begitu bernafsu untuk menguasai lawannya.
Mahesa Jenar yang mengagumi keindahan pahatan itu, tidak jemu-jemu selalu
memandanginya dengan saksama. Baris demi baris dinilainya dari berbagai sudut. Tetapi
lebih dari itu, mendadak ia terperanjat. Hatinya bergoncang hebat, sampai diluar sadarnya
ia meloncat maju. Melihat hal itu, Sagotra menjadi terkejut pula. Apalagi yang
menyebabkan Mahesa Jenar berbuat demikian? Tidak pula kalah kagetnya Ki Ardi
sendiri, sampai-sampai ia terlonjak.
Apa yang nampak pada Mahesa Jenar, lukisan naga itu tidak lain daripada lukisan Keris
Nagasasra. Ketika tanpa disengaja ia menghitung lekuk tubuh naga itu yang berjumlah
11, maka Nagasasra itu sekaligus mewujudkan dapur Sabuk Inten pula. "Nagasasra Sabuk Inten...?" desis Mahesa Jenar.
Ki Ardi yang masih belum dapat menguasai dirinya, menjadi ketakutan, sampai
tubuhnya gemetar. Tanpa menduga-duga, tiba-tiba saja seseorang telah muncul di
sampingnya tanpa suara.
Dengan mata yang menyorotkan berbagai dugaan Mahesa Jenar bergantian memandang
kepada Ki Ardi dan hasil pahatannya yang berwujud Nagasasra Sabuk Inten. Melihat
bentuk Naga yang hampir tepat seperti bentuk keris Kiai Nagasasra, yang hanya berbeda
ukurannya saja, pastilah Ki Ardi pernah setidak-tidaknya melihat keris itu, sedang dapur
Sabuk Inten yang menyamai lekuk keris Kiai Sabuk Inten pun menimbulkan dugaan pada
Mahesa Jenar bahwa Ki Ardi pernah melihat kedua duanya, yang kebetulan pada saat ia
meninggalkan Demak, kedua keris itu sedang lenyap dari gedung perbendaharaan.
Apalagi telah didengarnya pula dari Samparan bahwa ada kepercayaan golongan hitam,
bahwa kedua keris itu telah mempunyai keturunan atau rangkapannya masing-masing
yang justru sedang diperebutkan. Tetapi yang masih belum dapat diketahui dengan pasti
adalah yang diperebutkan itu benar-benar rangkapannya atau malahan aslinya yang
lenyap dari perbendaharaan Kerajaan Demak.
Berbagai pikiran hinggap pergi di kepala Mahesa Jenar. Tetapi tidaklah mungkin kalau
hal ini hanyalah suatu kebetulan. Atau malah Ki Ardi termasuk salah seorang dari
golongan hitam yang juga sedang memperebutkan keris itu? Sedemikian besar
keinginannya untuk memilikinya, sehingga terwujud dalam pahatannya sebagai ungkapan
perasaannya. Malahan tiba-tiba Mahesa Jenar teringat pada kata-kata Samparan beberapa
hari yang lalu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, bahwa di kalangan hitam
terdapat nama sepasang suami-istri Sima Rodra.
Tetapi menurut Samparan, Sima Rodra itu berdiam di Gunung Tidar. Namun tidak
mustahil kalau si suami pergi merantau dalam usahanya menemukan Nagasasra dan
Sabuk Inten. Kalau demikian halnya, anehlah kalau Lawa Ijo sampai tidak tahu, bahwa di
daerahnya bermukim salah seorang saingannya. Kalau saja Sagotra yang tidak mengerti,
itu adalah hal yang wajar.
Tetapi apa yang dilukiskan dalam pahatan itu, hampir jelas sekali. Dua ekor harimau
yang dikatakan itu adalah suami Sima Rodra yang sedang siap menerkam seekor naga
yang melukiskan Keris Kyai Nagasasra sekaligus Kyai Sabuk Inten.
Karena itu Mahesa Jenar ingin mendapatkan kepastian dari dugaannya. Kalau saja orang
itu benar-benar Sima Rodra, pastilah ia mempunyai ketahanan yang setingkat dengan
Lawa Ijo. Karena itu ia tidak ingin terlibat dalam pertempuran, sebab dalam keadaannya
yang sekarang ini, dimana jiwanya sedang bergolak, maka tidaklah mustahil baginya,
segera mengambil keputusan untuk mempergunakan ilmunya Sasra Birawa apabila
sedikit saja ia terdesak. Karena itu ia ingin dengan singkat serta tanpa diduga-duga,
menguasai orang itu, sehingga tidak usah terjadi pertempuran. Sedang ia akan dapat
memaksa lawannya untuk memberi keterangan tentang kedua keris itu. Maka setelah Mahesa Jenar mendapat kepastian pikiran, segera dengan gerakan kilat ia
meloncat menangkap dengan tangkapan mati pergelangan tangan Ki Ardi. Tetapi apa
yang dialami adalah diluar dugaan. Ketika tangannya menyentuh kulit Ki Ardi terasalah
bahwa tangan itu sedemikian kendornya, serta tak bertenaga. Sehingga Mahesa Jenar
malah terkejut.
Dengan tak disengaja maka mulailah Mahesa Jenar memandangi tubuh Ki Ardi.
Ternyata baru saat itulah ia dapat mengenal tubuh itu dengan seksama, sebab sejak
kehadirannya, perhatiannya telah terikat oleh pahatan orang itu.
Ki Ardi meskipun tidak tergolong tinggi, namun ia tidaklah pendek. Umurnya telah agak
lanjut, dan ini ditandai oleh kerut-kerut mukanya serta rambutnya yang sudah putih.
Ketika Mahesa Jenar memandang mata orang tua, yang menatapnya dengan keheranheranan atas kelakuannya, Mahesa Jenar menjadi terkejut. Meskipun orang itu matanya
yang tampaknya sedemikian bening, seolah-olah air di dalam sumur, yang dalam sekali.
Juga nampaklah dasarnya yang berputar-putar semakin lama semakin dalam, seakan-akan
sumur itu akan mengisap hanyut. Mahesa Jenar menjadi semakin heran, bahkan
kemudian menjadi cemas, sebab dirinya menjadi seakan-akan ikut serta berputar semakin
cepat.
Sadarlah Mahesa Jenar kemudian, bahwa ia sama sekali tidak berhadapan dengan
seorang yang mengutamakan kekuatan jasmaniah. Tetapi orang tua itu ternyata
mempunyai kekuatan batin yang luar biasa, sehingga dengan kekuatan itu ia dapat
mempengaruhi orang lain. Akhirnya Mahesa Jenar tidak tahan lagi melihat perputaran
yang melilitnya itu, sehingga segera tangan Ki Ardi dilepaskan dan ia meloncat tiga
langkah surut.
Sagotra sama sekali tidak tahu maksud serta akibat perbuatan Mahesa Jenar itu, sehingga
ia masih saja berdiri diam seperti patung. Tetapi ia menjadi heran, ketika dilihatnya tibatiba Mahesa Jenar membungkuk hormat kepada orang itu, sambil berkata, Maafkan aku
Ki Ardi, aku telah salah duga terhadap Bapak.
Ki Ardi masih saja memandanginya dengan sorot mata keheranan. Bahkan kesan-kesan
ketakutannya pun masih ada. Dan inilah yang menjadikan Mahesa Jenar semakin pening.
Orang yang mempunyai pengaruh sedemikian besarnya, hanya dengan sorot matanya
saja, tetapi yang seakan-akan tidak sadar akan kekuatannya sendiri, sehingga masih saja
berkesan ketakutan.
Mengalami hal yang demikian Mahesa Jenar berpikir keras. Bagaimanapun, ia adalah
seorang bekas prajurit pengawal raja yang sudah sering mengalami hal-hal yang
tampaknya diluar kewajaran. Maka dalam hal itu pun segera Mahesa Jenar sadar, bahwa
pastilah ada suatu rahasia yang menyelubungi orang tua itu. Pastilah ada hal-hal yang
sengaja disembunyikan. Mungkin ia sengaja berbuat demikian supaya orang tidak
mengenal atau menduga, bahwa sebenarnya ia mempunyai kelebihan dari orang lain. Maka dengan hormatnya, sekali lagi Mahesa Jenar berkata, Maafkan, aku yang salah
duga terhadap Bapak.
Sejenak kemudian tampaklah bibir orang itu bergerak-gerak dan terdengarlah suaranya
kecil bergetar.
"Tuan, apakah salahku sehingga Tuan menyakiti aku?"
Mahesa Jenar menundukkan mukanya dengan penuh penyesalan atas kelancangannya.
Maka jawabnya.
"Bapak, sama sekali Bapak tidak bersalah. Tetapi akulah yang berbuat kesalahan
terhadap Bapak."
Orang tua itu tidak menjawab lagi. Hanya matanya yang sudah cekung itu merenung
jauh sekali menembus gelap malam. Kembali Mahesa Jenar kagum atas mata itu, yang
seakan-akan dapat menelan segala isi padang ilalang luas itu, bahkan isi dari hutan
Tambakbaya.
Ingin ia menghubungkan orang tua ini dengan Ki Ageng Pandan Alas yang diduganya
juga Ki Santanu. Tetapi Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang yang mempunyai
kekuatan jasmaniah luar biasa, sehingga hanya dengan kapak batu kuno ia dapat melukai
sebatang pohon yang besarnya lebih dari empat pemeluk, hampir separonya. Sedangkan
orang tua ini mempunyai tubuh yang kendor dan sama sekali tak bertenaga.
Apalagi baru beberapa saat berselang Ki Ageng Pandan Alas pergi bersama-sama Rara
Wilis. Meskipun demikian, setiap kemungkinan bisa terjadi. Mengingat hal itu semua,
Mahesa Jenar semakin sibuk berpikir.
Akhirnya ia mengambil ketetapan bahwa sebaiknya ia dengan baik-baik bertanya,
mengenai pahatan itu.
"Bapak..., yang kau lakukan mendorong keinginanku untuk mengetahui pahatan yang
sedang Bapak buat itu," kata Mahesa Jenar.
Orang itu menjadi heran mendengar kata-kata Mahesa Jenar.
"Adakah dengan membuat pahatan ini aku telah berbuat kesalahan terhadap tuan? "
Jawab orangtua itu.
"Tidak Bapak," sahut Mahesa Jenar cepat-cepat, "Tetapi bolehkah aku bertanya, apakah
yang sedang Bapak pahat itu? "
Kembali orang itu heran. Kemudian dengan langkah yang lambat serta agak kebongkok
bongkokan orang itu berjalan menjauhi pahatannya beberapa depa, lalu mengamat-amati dengan seksama.
Tiba-tiba saja ia tersenyum, serta matanya menjadi cerah.
"Pahatanku sudah hampir selesai. Apa yang tadi tuan tanyakan?"
"Pahatan itu.... Apakah yang sedang Bapak pahat?" tanya Mahesa Jenar.
"Tidakkah Tuan tahu.... "
Kata orang tua itu sambil mendekati pahatannya. Dan kemudian diraba-rabanya hasil
kerjanya itu dengan mesra.
"Bukankah ini seekor naga? Katakanlah Tuan, apakah aku tidak berhasil melukis seekor
naga?"
"Tentu, tentu," jawab Mahesa Jenar dengan cepat.
"Lalu apa yang Tuan tanyakan?" tanya orang tua itu.
"Maksudku, apakah yang Bapak lukiskan itu seekor naga, atau suatu bentuk dari bendabenda yang pernah Bapak lihat sebelumnya?"
Orang tua itu semakin heran.
"Adakah Tuan pernah melihat sesuatu benda yang mirip dengan pahatanku ini?"
Mahesa Jenar jadi ragu. Mula-mula ia ingin mengatakan tentang keris Nagasasra yang
mempunyai bentuk yang sama dengan pahatan naga itu. Mustahil kalau kesamaan itu
hanyalah kebetulan saja. Kesamaan cita dalam cipta yang sampai sedemikian dekatnya
dengan aslinya. Kesamaan yang sedemikian itu pastilah yang satu diilhami oleh yang lain
atau malahan salinan sepenuhnya. Tetapi akhirnya diurungkannya keinginan itu. Karena
tidak akan banyak gunanya. Sebab pastilah orang tua itu sengaja merahasiakan.
Akhirnya Mahesa Jenar hanya berkata.
"Tidak... pak, tetapi apa yang Bapak pahatkan adalah suatu bentuk yang dahsyat sekali.
Ataukah Bapak pernah melihat seekor naga yang sedemikian?"
Ki Ardi mengerutkan keningnya, tetapi sejenak kemudian ia tersenyum.
"Belum, Tuan. Aku belum pernah melihat seekor naga pun. Yang pernah aku lihat
hanyalah ular-ular kecil yang sering berkeliaran di sekitar tempat ini. Tetapi aku pernah
mendengar dongeng dongeng tentang seekor naga. Nah, menurut gambaran angan
anganku sedemikianlah kira-kira bentuknya." Kembali orang tua itu meraba-raba pahatannya. Ia nampaknya bangga serta bahagia sekali atas hasil kerjanya.
"Tuan...," katanya kemudian, "Silakan Tuan berdua duduk. Aku ingin menyelesaikan
pekerjaan ini, sekarang juga. Sebab tidaklah mungkin untuk ditunda. Sementara itu
silakan Tuan mendengarkan dongeng tentang naga yang sedang aku pahatkan ini."
Tanpa menunggu jawaban, Ki Ardi segera mulai dengan kerjanya kembali. Mahesa Jenar
dan Sagotra segera mengambil tempat duduk di dekat api yang masih menyala-nyala.
Suaranya gemeretak, karena ledakan-ledakan kecil yang ditimbulkan oleh dahan-dahan
yang sedang dimakan api.
Sambil memahat, Ki Ardi mulai berceritera.
"Naga ini menurut ceritera dilahirkan dalam dua alam yang berbeda tempatnya. Tetapi
dalam pahatanku ini, tidaklah kedua-duanya aku lukiskan, tetapi aku ingin mendapat satu
bentuk kesatuan dari dua ekor naga itu. Seekor naga dilahirkan di samodra, sedangkan
satu lagi dilahirkan di angkasa. Tetapi diatas bumi ini mereka bertemu dan bersahabat.
Keanehan dari kedua ekor naga itu adalah, yang seekor bersisikkan emas, sedangkan
yang seekor, di leher, perut serta ekornya berbalutkan intan permata. Pada suatu hari, raja
yang sedang berkuasa diatas bumi ini, merasa disusahkan oleh seorang putrinya," kata Ki
Ardi mengawali ceritanya.
"Putri itu," lanjut Ki Ardi, "jatuh cinta kepada seorang yang sama sekali tak dikehendaki
oleh ayahandanya. Sebab laki-laki itu bukanlah laki-laki biasa. Menurut ceritera, laki-laki
itu berasal dari bintang kemukus yang sering membawa bencana. Hanya karena laki-laki
itu terlalu sakti, maka tidak ada yang berani mengganggunya. Maka pada suatu ketika
bertemulah raja itu dengan kedua ekor naga yang sedang merantau mengelilingi bumi ini,
raja itu kemudian minta kedua ekor naga itu untuk mengusir laki-laki yang mengganggu
puterinya. Kedua ekor naga itu menyanggupinya. Didatanginya laki-laki yang berasal
dari bintang kemukus itu. Maksudnya, apabila tidak perlu, masalahnya akan diselesaikan
dengan damai. Tetapi rupanya laki-laki itu merasa yakin akan kesaktiannya, sehingga
akhirnya terjadilah pertempuran yang maha dahsyat. Kedua ekor naga itu pun ternyata
mempunyai kesaktian yang luar biasa. Laki-laki itu dengan bersenjatakan petir di kedua
belah tangannya menyerang dengan ganasnya, sedangkan naga yang bersisik emas itu,
dari mulutnya menyembur api yang menyala-nyala. Sementara itu naga yang bersisik
intan permata itu, dari kedua matanya memancar sinar yang beracun."
"Tetapi karena kesaktian mereka masing-masing, senjata-senjata itu hampir tidak banyak
berguna. Laki-laki bintang itu ternyata tidak saja mampu bertempur di atas daratan.
Sekali-sekali ia terjun pula ke dasar lautan. Tetapi naga yang lahir di dalam samodra itu
tidak membiarkannya, disusullah ia ke dasar lautan dan bertempurlah mereka di sana. Air
laut pun menjadi bergolak seakan-akan mendidih. Kalau laki-laki itu jemu bertempur di
lautan, terbanglah ia ke angkasa. Dan bertempurlah mereka di udara."
"Demikian dahsyat pertempuran itu sampai langit menjadi gelap, hanya kadang-kadang saja memancar kilat dan petir disela oleh semburan api yang tak terkira panasnya, keluar
dari mulut naga bersisik emas itu."
"Demikianlah pertempuran itu berlangsung sampai 40 hari, 40 malam. Tetapi masih saja
belum ada yang nampak akan kalah. Bahkan pertempuran itu semakin lama semakin
sengit. Sekali waktu terjadi di dalam samodra, dan sekali waktu di angkasa," cerita Ki
Ardi.
Tiba-tiba orang tua itu berhenti, sambil perlahan-lahan ia berjalan mundur menjauhi
pahatannya. Sebentar ia tersenyum dan sebentar kemudian keningnya berkerut.
"Tuan, pahatanku telah selesai. Apakah kata tuan tentang ini?"
Kata orangtua itu kepada Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar yang sejak semula telah merasakan keindahan pahatan itu menjawab,
"Bagus, Ki Ardi."
Ki Ardi tertawa perlahan. Lalu sambungnya,
"Baru sekarang aku mendapat pujian atas hasil kerjaku. Selama ini tidak pernah seorang
pun, jangankan pujian-pujian, sedang perhatian saja tidak pernah aku dapatkan. Sagotra
dengan kawan-kawannya yang sering berkeliaran di daerah ini, sama sekali tidak dapat
menikmati hasil pekerjaanku. Nah, Sagotra, apa katamu sekarang?"
Sagotra yang sejak tadi berdiam diri, menjadi agak bingung untuk menjawab pertanyaan
Ki Ardi itu. Maka ia menjawab sekenanya saja,
"Bagus, Ki Ardi."
Ki Ardi tertawa terkekeh-kekeh mendengar jawaban Sagotra.
"Apa yang bagus?"
Sagotra menjadi agak tersipu mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak mau kalah.
"Nagamu itu Ki Ardi, kalau saja bersisikkan emas benar-benar, serta berbalutkan intan
permata, mungkin umurmu tidak lebih dari malam ini."
Kembali Ki Ardi tertawa terkekeh-kekeh.
"Pastilah itu terjadi kalau nagaku benar-benar seperti dongeng yang pernah aku dengar
itu. Tetapi sesudah kau bunuh aku, kau juga akan mati ditelan nagaku ini." Rupanya Sagotra bukan ahli berdebat.
"Orang tua gila. Kalau kau tanyakan pendapat orang lain mengenai pahatanmu itu,
pastilah kau mengharap orang itu memujinya. Tetapi pahatanmu itu sebenarnya sangatlah
jelek," gerutu Sagotra.
Ki Ardi masih saja tertawa. Rupanya ia sudah biasa bergaul dengan Sagotra serta kawankawannya Lawa Ijo yang lain.
"Sebaiknya kau makan dulu, baru menilai pahatanku ini. Nah masuklah ke mulut gua itu,
nanti kau akan mendapatkan jagung bakar. Makanlah itu, baru kau memberikan
pendapatmu," kata Ki Ardi kepada Sagotra.
Tetapi Sagotra rupanya malu dengan adanya Mahesa Jenar di situ. Karena itu pura-pura
saja ia tidak mendengar. Bahkan ia berkata terus.
"Ki Ardi, aku lebih suka mendengar dongenganmu daripada menyaksikan pahatanmu
itu."
Sambil masih tertawa, Ki Ardi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya.
"Baiklah aku lanjutkan dongeng itu, tetapi aku ingin bertanya, siapakah kawan barumu
ini?"
Mendengar pertanyaan itu darah Mahesa Jenar tersirap, sedang Sagotra menjadi
bingung, bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Sebentar mereka berdiam diri
mencari jawaban, akhirnya Mahesa Jenar yang menjawab.
"Ki Ardi aku dan Sagotra secara kebetulan saja bertemu di perjalanan. Dan Sagotra telah
berbaik hati mengantarkan aku ke arah api yang Bapak nyalakan."
Ki Ardi mengangguk-angguk kecil.
"Anehlah kalau hal itu terjadi. Biasanya apa yang dilakukan oleh Sagotra dan kawankawannya membunuh dan merampas terhadap siapa saja yang dijumpainya di daerah ini,
" lanjutnya.
"Ki Ardi, jangan kau membual. Lebih baik kau berkata atau berceritera tentang hal-hal
yang baik, potong Sagotra dengan nada tidak senang."
Mendengar kata Sagotra yang diucapkan dengan nada keras, Ki Ardi nampak agak takut
juga, maka katanya membetulkan.
"Maaf Sagotra... maksudku bukan tidak baik, aku hanya ingin bergurau saja. Nah
sekarang aku lanjutkan saja ceriteraku." Kemudian Ki Ardi mengambil tempat duduk di hadapan Mahesa Jenar, juga di dekat api.
Sebentar kemudian mulailah ia melanjutkan ceriteranya.
"Kedua ekor naga itu, yang telah berumur 40 hari 40 malam, belum dapat menguasai
lawannya. Karena itu pertempuran semakin bertambah sengit. Seluruh penduduk bumi
menjadi ketakutan. Tidak ada tempat untuk mengungsikan diri. Sebab pertempuran itu
terjadi di seluruh permukaan bumi, di seluruh lautan, dan diseluruh langit. Raja bumi itu
pun menjadi bertambah prihatin. Apalagi putrinya setiap hari selalu menangis saja. Tetapi
untuk mengabulkan permintaan putri itu, tidak terlintas di dalam pikiran ayahanda raja.
Karena itu ia tidak tahu apa yang akan dikerjakan. Akhirnya ia terpaksa menunggu saja
akan kesudahan pertempuran yang maha dahsyat antara laki-laki dari bintang kemukus
itu dengan dua ekor naga yang dimintai bantuan”
Demikianlah pertempuran itu masih berlangsung terus, di laut timbul gelombang sebesar
gunung, di darat bertiup angin topan yang dahsyat. Sedangkan di udara, petir
menyambar-nyambar guruh dan bunga-bunga api yang maha panas. Sampai hari yang ke100, keadaan masih belum berubah, hati raja bertambah gelisah pula
Maka pada hari yang ke 101, dengan tidak disangka-sangka menghadaplah seekor naga
yang amat sederhana, ke hadapan raja. Naga itu berwarna agak kehitam-hitaman.
Matanya berkilat-kilat seperti bintang. Dengan rendah hati naga itu berkata kepada raja.
“Paduka yang memerintah kerajaan bumi, perkenankanlah hamba mengabdikan diri
kepada Paduka serta diperkenankan membantu kedua saudara hamba yang sedang
bertempur melawan laki-laki yang berasal dari bintang kemukus”
Tentu saja permintaan itu dikabulkan oleh raja. Maka dengan senang hati, naga itu
langsung menuju ke medan pertempuran yang saat itu sedang terjadi di daratan.
Kedatangannya menimbulkan perbawa yang luar biasa, sehingga dengan tiba-tiba saja
pertempuran itu berhenti sejenak.
Melihat kedatangan naga ini, mereka bertiga yang sedang bertempur menjadi heran.
Maka bertanyalah naga yang bersisik emas.
“Hai naga yang sangat sederhana, tanpa menunjukkan tanda-tanda kebesaran apapun,
apakah maksud kedatanganmu? “
Naga itu menjawab.
“Saudaraku, aku datang untuk membantumu.”
Mendengar jawaban itu, naga berbalut intan merasa tidak senang. Lalu katanya,
“Saudaraku hanyalah mereka yang dapat menunjukkan tanda kebesarannya”
Alangkah sedih hati naga yang kehitam-hitaman itu, ditambah lagi laki-laki dari bintang kemukus itu memakinya pula.
“Kau yang mirip sebatang pohon roboh itu akan turut serta dalam permainan ini...?”
Tetapi disabarkannya hati naga yang sederhana itu, jawabnya.
“Terserahlah kata-kata kalian atas diriku. Tetapi aku ingin menunjukkan pengabdianku”
“Kalau demikian kerjakanlah itu sendiri” kata naga bersisik emas.
“Ya, kerjakanlah sendiri” sahut naga yang bersalutkan intan.
“Baiklah, jawab naga yang kehitam-hitaman itu. Silakan kalian beristirahat”
Mendengar kata-kata Naga Hitam itu, alangkah marahnya laki-laki bintang yang merasa
dirinya sangat sakti. Maka tanpa mengucapkan sepatah kata pun langsung diserangnya
naga hitam itu dengan kedua belah tangannya yang memegang petir. Tetapi apa yang
disaksikannya sangatlah mengagumkan. Naga hitam itu melingkar cepat sekali dan
dengan sekali menggerakkan ekornya kedua petir itu pun telah dapat direbutnya, dan
dengan suara menggelegar petir-petir itu dibantingnya di punggung gunung sampai pecah
berserakan.
Laki-laki bintang itu terkejut menyaksikan hal yang demikian. Tetapi ia pun tidak kurang
saktinya. Segera kedua tangannya itu bergerak menangkap guruh yang sedang
berkeliaran di langit. Maka dengan sekuat tenaga, guruh itu pun dihantamkan ke kepala
lawannya. Naga itu melihat guruh yang dengan suara gemuruh mengarah ke kepalanya,
segera menyemburkan angin kencang dari mulutnya, sehingga guruh itu pun terlontar
kembali ke arah laki-laki bintang itu.
Karena kecepatannya menghindar, laki-laki itu tidak hancur karena senjatanya sendiri.
Dengan kejadian-kejadian itu, laki-laki bintang kemukus yang merasa dirinya tak
terkalahkan itu menjadi marah sekali. Dikeluarkannya segala kesaktian serta
kepandaiannya yang terakhir untuk menyerang naga hitam itu. Maka segera terjadilah
pertempuran yang tak terkira dahsyatnya.
Tidak hanya lautan menjadi bergolak, topan mengalir dengan derasnya, serta petir
menyambar-nyambar, tetapi segera hutan-hutan menjadi terbakar. Lautan mendidih serta
gunung-gunung terlempar berserak-serakan. Kedua lawan yang sedang mengadu tenaga
itu telah mempergunakan apa saja yang dapat dipegangnya untuk dijadikan senjata.
Maka semakin ketakutanlah segenap penduduk negeri bumi itu. Pada hari yang ketujuh,
pertempuran itu bertambah seru dan cepat. Laki-laki bintang kemukus itu telah
mengalami perkelahian 100 hari melawan dua ekor naga yang cukup sakti. Tetapi
tenaganya masih tetap segar.
Sekarang ia baru tujuh hari bertempur melawan seekor naga yang dikatakannya sebagai sebatang pohon yang roboh saja, namun ia merasa bahwa tenaganya telah mulai kendor.
Ia telah mencoba mengerahkan segala kesaktiannya, tetapi tidaklah banyak hasilnya.
Sekali waktu ia berhasil menangkap ekor naga hitam itu. Lalu dengan tangannya yang
kokoh kuat itu, diputarnya naga itu di udara, sehingga menimbulkan angin putaran yang
luar biasa. Baik di darat maupun di lautan. Banyak gunung dan pulau-pulau yang
terangkat dan terlempar bertebaran.
Tetapi naga itu tidak pula kehilangan akal. Tubuhnya yang kehitam-hitaman itu tiba-tiba
menyala-nyala, sehingga ketika tangan laki-laki bintang itu merasa panas, terpaksa naga
itu dilepaskan dan terlontar ke udara. Timbullah suatu pemandangan yang mengerikan.
Suatu lingkaran api berputar-putar di udara.
Sebentar kemudian berubahlah naga itu menjadi gumpalan api yang bergulung-gulung
menghantam lawannya. Laki-laki bintang itu menjadi agak kebingungan. Maka segera ia
menghindar dengan terjun ke dasar Samodra. Namun api-api itu pun menyusulnya ke
dasar samodra, dengan api masih tetap menyala, sehingga air lautan menjadi mendidih
karenanya. Segera laki-laki itu meninggalkan lautan, dan terbang ke udara. Naga itu juga
tetap mengejarnya.
Kemana laki-laki itu pergi, gumpalan api itu tetap menyusul di belakangnya, sehingga
akhirnya laki-laki bintang kemukus itu merasa bahwa ia tak mampu lagi menandingi naga
hitam yang dapat menyalakan api dari tubuhnya, jauh lebih panas daripada api yang
keluar dari mulut naga yang bersisik emas, dan jauh lebih berbahaya dari sorot beracun di
kedua belah mata naga yang berbalut intan permata.
Maka tidak ada jalan lain, kecuali kembali ke asalnya. Segera laki-laki bintang itu pun
terbang lebih tinggi, dan akhirnya lenyaplah ia berlindung di balik kabut beracun yang
memancarkan cahaya yang menyilaukan, yang menyelubungi dunianya, yaitu bintang
kemukus.
Setelah melihat lawannya kembali ke asalnya, naga hitam itu merasa bahwa tugasnya
telah selesai. Segera ia turun kembali ke bumi untuk menemui kedua naga yang bersisik
emas dan berbalut intan. Mudah-mudahan setelah ia menunjukkan jasanya, sudilah
kiranya kedua naga itu mengaku sebagai saudara, tetapi alangkah kecewanya, ketika ia
sampai di bumi, kedua ekor naga itu sudah tidak ada lagi.
Maka menghadaplah naga hitam itu kepada baginda raja bumi untuk menanyakan kalaukalau kedua ekor naga itu sudah mendahuluinya menghadap. Di sepanjang jalan, naga
hitam itu selalu bersyukur di dalam hati, mereka dalam keadaan telah hampir pulih
kembali. Orang-orang sudah tidak lagi ketakutan.
Agak berbanggalah hatinya kalau ia mendengar beberapa orang menyebut-nyebutnya
sebagai pahlawan yang berhasil mengusir laki-laki bintang kemukus yang membawa
bencana wabah berbahaya. Tetapi kebanggaan itu disimpannya dalam hati, sebab ia
merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah amal pengabdian semata. Ketika ia menghadap raja bumi, alangkah terkejutnya waktu ia melihat upacara
penyambutan yang luar biasa. Ia bahkan menjadi malu dan kaku.
Ketika ia berkesempatan menghadap baginda, yang pertama ditanyakan adalah kedua
ekor naga yang bersisik emas dan berbalut intan. Tetapi dengan menyesal, baginda
bersabda.
“Naga Hitam.., kedua saudaramu itu telah meninggalkan kerajaan bumi di luar
pengetahuan kami, seorang menteri yang melihatnya, menanyakan kemana mereka pergi.
Naga bersisik emas menjawab bahwa ia akan pergi tanpa tujuan, sebab ia telah merasa
bersalah menghinakan engkau. Sedangkan naga yang berbalut intan berkata bahwa ia
minta maaf kepadamu. Juga mereka merasa malu sekali bahwa mereka tak dapat
memenuhi janjinya, mengusir laki-laki dari bintang itu”
Naga hitam itu menjadi sedih sekali. Hampir saja ia meneteskan air mata. Untunglah
bahwa ia sadar, kalau ia sedang berada diantara mereka yang menyambutnya dengan
penuh kebesaran.
Dari baginda, naga hitam itu mendapat hadiah sebuah gua yang indah sekali, yang
berdinding emas dan bertahtakan intan berlian. Tetapi naga hitam itu masih saja senang
berkeliaran di rawa-rawa dan hutan-hutan, sebagai daerah permainannya masa kanakkanak.
Sekali waktu masih terasa kesedihan hatinya mengenang kedua ekor naga yang pergi
meninggalkannya.
Ki Ardimenghentikan ceritanya sejenak. Ia membetulkan duduknya sambil kembali
mengamat-amati pahatannya, seolah-olah ingin memahami kesesuaian antara bentuk
pahatannya serta isi ceriteranya.
Sagotra meskipun orang yang kasar, namun rupanya ia gemar juga mendengarkan
dongeng tentang kesaktian-kesaktian. Karena itu ketika beberapa saat Ki Ardi masih
belum melanjutkan ceriteranya, ia berkata.
"Ki Ardi ceriteramu bagus sekali. Tetapi rupanya kau sengaja menjengkelkan kami
dengan memutus-mutus ceritera itu."
Sekali lagi Ki Ardi tertawa terkekeh-kekeh. Lalu jawabnya.
"Sabarlah Sagotra, pastilah ceritera itu aku lanjutkan.... Nah dengarlah baik-baik."
"Naga hitam itu sepanjang waktunya masih dipergunakan untuk mengharap pada suatu
saat bertemu kembali dengan kedua Naga yang dirasanya senasib. Apalagi setelah
keduanya mengaku bersalah terhadapnya." "Tetapi akhirnya yang paling menyedihkan adalah, ketika ia mendengar kabar bahwa
terjadilah kerusuhan-kerusuhan di istana raja bumi. Banyak bangsawan dan kesatria
saling bertengkar, bertempur, bahkan saling membunuh. Soalnya adalah karena mereka
berebut untuk mendapatkan putri baginda yang pernah jatuh cinta pada laki-laki bintang
kemukus. Sedemikian hebatnya perebutan itu sehingga para bangsawan dan kesatria tidak
malu-malu lagi mempergunakan laskar pengikut masing-masing untuk mencapai
maksudnya. Sehingga memang kadang-kadang terjadilah pertempuran-pertempuran kecil
diantara mereka."
"Hampir saja naga hitam itu marah, dan mengambil keputusan untuk memusnahkan
sekalian bangsawan dan kesatria, malahan kerajaan bumi sekaligus. Tetapi untunglah
bahwa ia dapat menyabarkan diri. Sebab ia pun pernah merasa berjuang untuknya."
"Adapun naga yang bersisik emas serta naga yang bersalut intan memang sebenarnya
pergi meninggalkan kerajaan bumi karena menyesal dan malu. Mereka pergi merantau
tanpa arah dan tujuan, dengan maksud untuk bertapa dan menjauhkan diri dari masalahmasalah lahiriah. Sebab ternyata tanda-tanda kebesaran yang mereka miliki tidaklah
dapat dipergunakan untuk mengatasi lawan yang cukup sakti, bahkan tidak berguna sama
sekali."
"Kabar kepergian kedua ekor naga itu menggemparkan kerajaan-kerajaan di luar bumi.
Yaitu kerajaan di bawah tanah, di bawah lautan dan di lapisan-lapisan langit. Serentak
mereka menyebar panglima-panglimanya untuk menemukan serta membujuk kedua ekor
naga untuk berpihak kepada mereka masing-masing."
"Dengan perhitungan kesaktian kedua ekor naga itu digabungkan dengan kesaktiankesaktian yang telah ada pastilah dapat mengalahkan kerajaan bumi, walaupun dibantu
oleh naga hitam yang sakti."
"Pada suatu saat sampailah ia di suatu daerah yang kelam. Daerah yang sama sekali tak
dikenal."
Kembali Ki Ardi berhenti. Dan kembali pula ia memandangi pahatannya. Sebentar
kemudian katanya, Nah, pada bagian inilah ceritera itu aku ambil sebagai bahan
pahatanku ini. Daerah kelam itu dikuasai oleh dua ekor harimau raksasa yang berkulit
hitam legam. Ternyata kedua ekor harimau ini pun ingin dapat menguasai kedua ekor
naga itu. Baik secara halus ataupun secara kasar."
"Ketika ternyata kedua ekor naga itu menolak bekerja sama dengan mereka, terjadilah
suatu perselisihan. Sehingga akhirnya pertempuranpun tak dapat dihindarkan. Sebenarnya
kedua ekor harimau itu tak dapat menguasai lawannya, kalau saja daerah mereka tidak
menguntungkan.
Daerah kelam yang penuh rahasia itu sangat membingungkan kedua ekor naga itu.
Sehingga akhirnya naga itu pun hanya bertahan apabila diserang. Tetapi setelah ia
terjebak ke dalam daerah itu, sulit bagi mereka untuk mencari jalan keluar." Sampai sekian Ki Ardi menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya legalah hatinya, seolaholah ia telah melahirkan suatu rahasia yang selama ini disimpannya.
Tetapi sementara itu Sagotrapun mendesak.
"Tidakkah Ki Ardi akan mengakhiri dongeng itu?"
"Mengakhiri...? Bagaimana aku akan mengakhiri? Kejadian itu memang baru sampai
sekian," jawab Ki Ardi.
"Baru sampai sekian...?" tanya Sagotra heran.
Mahesa Jenar pun tidak kalah herannya. Apalagi ketika dilihatnya perubahan garis wajah
Ki Ardi. Kesan-kesan kejenakaan yang selama ini selalu tersembul diantara tawanya,
lenyap sama sekali. Bahkan ketika Mahesa Jenar memandang matanya, yang sejak
semula sudah mengagumkan, kini seakan-akan dunia ini ada di dalamnya.
Tetapi rupanya Sagotra tidak melihat perubahan itu, sehingga masih saja ia mendesak,
"Ki Ardi... katakanlah akhir dari dongeng itu. Nanti aku akan memuji pahatanmu itu
pula."
Ki Ardi tersenyum, tetapi senyumnya kosong. Malahan tiba-tiba ia berkata sambil
berdiri,
"Tunggulah Sagotra, akhir dari cerita ini masih agak lama. Sekarang aku akan masuk
sebentar. Kawanilah Tuan ini."
Rupanya Sagotra ingin lekas-lekas mendengar akhir ceritera itu sehingga ia menggerutu
tak habis-habisnya. Meskipun demikian Ki Ardi seolah-olah tidak mau lagi
mendengarkan. Ia berjalan perlahan- lahan masuk ke dalam goa dan sejenak kemudian
lenyaplah ia ditelan gelap.
Mahesa Jenar yang melihat perubahan itu, menjadi curiga. Tetapi ia sama sekali tak
menunjukkan kecurigaannya. Hanya saja karena mungkin segala sesuatu dapat terjadi,
maka haruslah ia bersiaga.
Apalagi ketika sampai beberapa lama, Ki Ardi masih juga belum muncul. Kecurigaan
Mahesa Jenar semakin bertambah. Kembali terasa betapa bodohnya, sehingga ia dapat
dipermainkan oleh keadaan. Ataukah ia sudah berubah menjadi seorang penakut, yang
selalu diliputi oleh perasaan was-was dan curiga...?
Sagotra pun akhirnya merasa tidak sabar, hanya masalahnya yang berbeda. Maka segera
ia pun berdiri dan memanggil-manggil Ki Ardi. Tetapi tidak ada terdengar orang
menyahut. Tampaknya Sagotra telah terbiasa bergaul dengan Ki Ardi. Tampaknya telah pula
Sagotra terbiasa masuk-keluar rumahnya. Maka, ketika panggilannya tiada mendapat
sambutan, segera Mahesa Jenar pun berdiri dan melangkah menuju ke mulut goa. Dan
sejenak kemudian ia pun telah lenyap ditelan gelap.
Saat itu, Mahesa Jenar tinggal duduk seorang diri disamping api yang masih menyalanyala. Bayangan-bayangan yang ditimbulkan tampak selalu bergerak-gerak. Kadangkadang membesar bagai akan menerkam, dan kadang-kadang mengecil seperti akan
lenyap.
Suasana malam itu rasanya diliputi oleh suatu rahasia. Dan ini sangat menggelisahkan
Mahesa Jenar. Aneh, bahwa pada saat itu ia merasa kehilangan ketenangan.
Sejenak kemudian, apa yang digelisahkan ternyata terjadi. Tiba-tiba dengan tak
diketahui arahnya, di atas bukit kapur kecil itu tampaklah sesosok tubuh manusia yang
berdiri tegap. Meskipun cahaya api itu samar-samar mencapainya, tetapi tidak dilihatnya
wajah orang itu dengan jelas, meskipun Mahesa Jenar yang berpandangan sangat tajam.
Segera Mahesa Jenar pun meloncat berdiri. Ia tidak tahu maksud orang itu. Tetapi
pastilah ia tergolong orang sakti, sehingga dengan begitu saja, tanpa diketahui arahnya, ia
sudah hadir di situ. Sehingga untuk menjaga diri dari segala kemungkinan, segera
Mahesa Jenar memusatkan pikirannya, mengatur pernafasannya serta menyalurkan segala
kekuatannya ke sisi telapak tangannya, meskipun ia belum bersikap.
Melihat kesiagaan Mahesa Jenar, orang itu tertawa lirih. Bunyi tertawanya lunak dan
menyenangkan. Ketika kemudian orang itu berkata, Mahesa Jenar menjadi terkejut,
sampai tubuhnya gemetar. Suara orang itu ternyata kecil dan nyaring.
"Mahesa Jenar, tidak perlu kau kerahkan ilmumu Sasra Birawa, aku tak bermaksud apaapa. Maafkan kalau aku mengejutkan engkau."
Ternyata suara itu pernah didengarnya. Ya, bahkan baru saja. Suara itu adalah suara Ki
Ardi. Jadi ternyata benarlah dugaannya, bahwa Ki Ardi bukanlah orang sembarangan.
Apalagi ketika orang itu melambaikan sebilah keris yang tampaknya seperti membara di
kegelapan malam. Jantung Mahesa Jenar serasa akan berhenti.
"Kalau begitu, Tuan adalah Ki Ageng Pandan Alas," sahut Mahesa Jenar tergagap.
"Ya... sengaja aku bersembunyi di sini untuk membayangi setiap gerak Pasingsingan
yang aku sangsikan keasliannya. Sebab Pasingsingan, adalah sahabatku dimasa muda,
tidaklah tergolong dalam aliran hitam. Dan sementara ini, Pasingsingan memelihara
murid kesayangannya yang kau lukai, biarlah aku mengurus keluargaku pula. Kau
sementara ini dapat tinggal di sini. Seminggu lagi kau dapat menuai jagung di belakang
bukit ini. Baru setelah itu kau lanjutkan perjalanmu, Sayanglah jagung itu kalau tak ada
yang memetiknya," ujar orang itu. Dengan tak sengaja Mahesa Jenar melangkah maju mendekati bukit kapur itu. Tetapi
segera Ki Ardi yang ternyata juga Ki Ageng Pandan Alas mencegahnya.
"Mahesa Jenar, aku masih belum mempunyai waktu untuk menemuimu. Yang penting
kau ketahui adalah tak perlu Sagotra kau beritahu masalah ini. Mungkin ia sudah berubah
pikiran, tetapi di dalam keadaan terpaksa sulitlah ia menyimpan rahasia. Juga kau tak
perlu menjelentrehkan ceritera yang baru saja aku ceritakan. Aku percaya bahwa pasti
kau tahu maksudnya, kalau aku katakan bahwa Naga Hitam itu kemudian dikenal dengan
nama Kyai Sengkelat."
"Nah, Mahesa Jenar," kata Ki Ardi kemudian,
“Baiklah aku pergi dahulu, aku harap kita dapat bertemu lagi dalam keadaan yang lebih
baik”
Belum lagi Mahesa Jenar sempat menjawab, Ki Ageng Pandan Alas telah pergi dengan
cepatnya dan segera lenyap ditelan gelap.
Sepeninggal Ki Ageng Pandan Alas, kembali Mahesa Jenar merasa, bahwa apabila ia
berhadapan dengan tokoh-tokoh itu, alangkah kecil dirinya. Ki Ageng Pandan Alas, Ki
Pasingsingan dan yang pernah didengarnya lagi dari gurunya tentang orang-orang yang
setingkat dengan mereka itu, kecuali gurunya sendiri almarhum juga yang terkenal
dengan sebutan Pangeran Gunung Slamet, Ki Ageng Sora Dipayana dari pinggang
Gunung Merbabu yang kemudian hampir tak pernah terdengar namanya, dan juga yang
terkenal dengan sebutan yang aneh Titis Angentan yang berasal dari Banyuwangi yang
memiliki kesaktian seperti Adipati Blambangan Wirabumi yang hanya dapat dikalahkan
oleh Raden Gajah pada waktu itu.
Tetapi sementara Mahesa Jenar merenungkan dirinya, teringatlah ia akan pesan Ki
Ageng Pandan Alas tentang dongengannya yang dihubungkannya dengan Kyai
Sengkelat. Cepat-cepat ingatan Mahesa Jenar bekerja. Akhirnya diketemukanlah
hubungan dongengan Ki Ardi itu dengan cerita yang pernah didengarnya. Yaitu tentang
Naga yang bersisik emas dan bersalut intan pastilah yang dimaksud Kyai Nagasasra dan
Kyai Sabuk Inten, yang pada waktu itu, untuk menyembuhkan penyakit seorang putri
Majapahit, terpaksa pada suatu malam bertempur di udara dengan sebilah keris sakti pula
yang bernama Kyai Condong Campur.
Tetapi kedua keris itu tak dapat menyelesaikan tugasnya, malahan Kyai Sabuk Inten
agak mengalami luka-luka, patah sedikit ujungnya. Sementara itu Kyai Sangkelat yang
dapat mengusir Kyai Condong Campur sehingga menjelma menjadi bintang kemukus
yang masih mendendam kepada umat manusia dengan memancarkan bermacam-macam
kuman penyakit.
Juga jelaslah sudah sekarang dimana Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten itu berada.
Pastilah kedua keris itu ada di tangan suami-istri Sima Rodra dari Gunung Tidar. Dengan menceriterakan itu pastilah maksud Ki Ageng Pandan Alas minta kepadanya untuk
menemukan kembali kedua keris itu. Tentu saja Mahesa Jenar menerima tugas ini dengan
penuh tanggung jawab.
Sementara itu tampaklah Sagotra keluar dari dalam goa. Ia masih saja menggerutu.
Orang itu gila, dimana ia bersembunyi, gumamnya.
"Tuan... orang itu tidak ada di dalam rumahnya. Sudah aku aduk sampai ke sudutsudutnya tetapi aku tak bisa menemukannya. Memang kalau orang itu sedang kambuh
gilanya, rumah ini sering ditinggalkan begitu saja sampai berhari-hari. Mungkin kini tibatiba sakitnya itu datang lagi” kata Sagotra kepada Mahesa Jenar.
"Sudahlah Sagotra," jawab Mahesa Jenar "janganlah kau pikirkan orang tua itu. Biarlah
ia mendapatkan kepuasan dengan caranya sendiri. Sekarang baiklah kita bicarakan
masalah kita sendiri, masalahmu dan masalahku."
Tiba-tiba tersadarlah Sagotra terhadap keadaannya, sehingga membelitlah kembali
kegelisahan hatinya.
"Sagotra," kata Mahesa Jenar melanjutkan, "apakah kau akan kembali kepada kawankawanmu ?. Kalau demikian pertimbanganmu, sekarang aku kira belum begitu terlambat.
Tentang diriku terserah kepadamu. Apakah akan kau laporkan kepada kawan-kawanmu
apakah tidak."
Tampaklah Sagotra diam-diam menimbang-nimbang dipikirkannya setiap segi yang
mungkin menguntungkan dan yang mungkin mencelakakan. Bagaimanakah akibatnya
kalau ia kembali kedalam gerombolannya. sedangkan kalau tidak lalu kemanakah ia akan
pergi ?. Setelah Sagotra berkenalan dengan seorang seperti Mahesa Jenar, terasalah
betapa miskinnya hidup dalam sarang gerombolan. Meskipun ia tidak pernah merasakan
kekurangan akan sandang dan pangan, tetapi ternyata bukanlah itu-itu melulu yang
diperlukan bagi pemenuhan kebutuhan hidup. Karena itu, timbulah keinginannya untuk
dapat menemukan suatu kehidupan baru.
"Tuan," katanya kemudian, "sebenarnya aku tidak lagi mempunyai keinginan untuk
kembali kepada gerombolanku. Tetapi karena selama ini aku hanya mengenal
penghidupan yang sedemikian, aku menjadi bingung, bagaiman aku harus memulai
penghidupan baru. Atau barangkali kalau tuan menghendaki, aku dapat ikut serta dengan
tuan kemana tuan pergi."
Mendengar permintaan Sagotra, Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Sudah
wajarlah kalau Sagotra merasa canggung untuk memulai suatu macam penghidupan yang
lain daripada selama ini dilakukannya. Tetapi iapun tidak akan dapat menerima Sagotra
selalu bersamanya. Sebab banyaklah hal-hal yang tidak boleh dimengerti oleh orang lain,
yang harus dikerjakan.
Tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat suatu pikiran yang dapat menolong menemukan jalan keluar, Katanya.
"Sagotra, kau tidak dapat terus menerus bersamaku. Sebab akupun tidaklah tahu pasti
akan masa depanku. Tetapi aku mau menunjukkan kau suatu jalan keluar yang barangkali
dapat kau tempuh, apabila benar-benar kau menghendaki jalan keluar dari
penghidupanmu yang hitam sekarang ini. Dan sekaligus kau dapat menolong aku pula,
maukah kau ?"
Sagotra memandang Mahesa Jenar dengan mata yang hampir tak dapat berkedip.
Permintaan Mahesa Jenar untuk menolongnya adalah suatu penghormatan baginya.
Karena itu dijawabnya kemudian.
"Tuan, apa yang tuan perintahkan pasti akan aku lakukan dengan sepenuh kemampuan
yang ada padaku. Nah katakankah tuan."
"Sagotra," kata Mahesa Jenar selanjutnya "tolonglah aku menyampaikan kabar kepada
sahabatku. Pergilah kau menyeberang hutan Tambak Baya. Terserahlah jalan mana yang
akan kau ambil. Tetapi arahnya adalah arah diamana kau temukan aku tadi, sedikit agak
ke utara. Kau akan sampai disebuah desa diseberang hutan Tambak Baya yang bernama
Cupu Watu. Dari sana kau langsung menuju kearah timur. Lewat sebuah candi yang
terkenal dengan nama Candi Tara, bekas tempat pemujaan dewi Tara. Dari sana kau
langsung menuju Prambanan. Temuilah Demang yang bernama Pananggalan. Sampaikan
salam keselamatanku kepadanya. Dan katakanlah aku mengharap kedatangan adiknya Ki
Dalang Mantingan di daerah Rawa Pening, dua hari sebelum purnama penuh, pada bulan
terakhir tahun ini."
"Katakanlah bahwa Ki Dalang Mantingan sudah tahu kepentingannya. Selanjutnya atas
tanggunganku mintalah perlindungan kepadanya untuk dapat hidup dalam lingkungan
keluarga Kademangan itu. Asal kau mau mencurahkan segala ketulusan serta keihlasan
hati, pastilah kau akan diterima dengan baik."
Sagotra agak berbimbang sebentar mendengar kata-kata Mahesa Jenar. Memang ia selalu
ragu-ragu untuk dapat mempercayai dirinya sendiri. tetapi ia tidak mau mengecewakan
Mahesa Jenar. Karena itu ia berjanji dalam hatinya, bahwa ia akan memenuhi permintaan
itu sedapat-dapatnya.
Maka setelah segala petunjuk-petunjuk yang diperlukan telah diberikan oleh Mahesa
Jenar, segera Sagotrapun bersiap untuk menempuh suatu perjalanan yang cukup
berbahaya bagi dirinya. Tetapi sebenarnya Sagotra bukanlah seorang penakut. Dan ia
termasuk tokoh yang ke 6 sesudah Wadas Gunung, Carang Lampit dan sebagainya
diantara ke-20 orang yang sedang mencegat Mahesa Jenar. Karena itu setelah
berketetapan hati untuk menempuh perjalanan itu, maka iapun tak pula mengenal gentar.
Karena perjalanan didaerah hutan itu akan berlangsung beberapa hari, meskipun dengan
agak malu-malu sedikit diperlukannya juga mengambil beberapa ontong jagung sebagai
bekal perjalanannya. Dan berangkatlah Sagotra pada malam itu juga supaya tidak terlambat. Sebab apabila ditunggu sampai besok pastilah beberapa lawannya sudah mencarinya.
Sepeninggal Sagotra, Mahesa Jenar segera merasa betapa sepinya tinggal seorang diri
ditengah padang, dibawah sebuah bukit kapur. Tetapi bagaimana juga ia ingin memenuhi
permintaan Ki Ageng Pandan Alas untuk tinggal kira-kira seminggu di tempat itu.
Rupanya Ki Ageng Pandan Alas merasa sayang pula pada tanaman-tanamannya kalau
tak ada yang memetiknya. Tetapi karena menunggu jagung itulah maka Mahesa Jenar
terpaksa terikat dalam keadaan yang sulit.
Pada hari pertama, Mahesa Jenar memerlukan untuk mengenal seluruh daerah di sekitar
bukit kapur itu. Benarlah kata Ki Ageng Pandan Alas, bahwa di belakang bukit itu
banyak terdapat tanaman jagung yang subur. Sedangkan agak kesamping sedikit terdapat
sebuah blumbang yang berair jernih.
Demikianlah Mahesa Jenar berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan Ki
Ardi. Merebus jagung dan membakar daging hasil buruan semalam. Kemudian
mengelilingi tanaman jagung, kalau-kalau diganggu burung, makan pagi, berburu dan
seterusnya.
Pada hari kedelapan ia telah mulai merasa jemu. Apalagi sebuah tugas yang besar, yaitu
membebaskan keris Nagasasra dan Sabuk Inten masih menantinya. Tetapi meskipun
demikian disabarkan juga hatinya sebab jagung yang sudah mulai kuning itu dua hari lagi
pasti sudah masak untuk dipetiknya.
Tetapi pada hari ke 9 terjadilah suatu hal yang dapat merubah rencananya.
Pada hari itu Mahesa Jenar sedang sibuk menyalakan api sebagaimana dilakukan tiaptiap hari apabila malam tiba, seperti juga yang dilakukan oleh Ki Ardi. Tiba-tiba
telinganya yang tajam menangkap suara beberapa orang yang dihanyutkan angin utara.
Suara itu semakin lama semakin jelas, sehingga dapat diterka bahwa orang-orang itu
sedang mendekatinya. Mahesa Jenar tidak tahu siapakah kira-kira orang-orang yang
datang itu. Untuk tidak menimbulkan hal-hal yang tidak dikehendaki maka segera
Mahesa Jenar menyelinap masuk ke dalam goa. Dari sana, dari dalam gelap, ia akan
dapat melihat siapakah mereka itu, apabila mereka mendekati perapian.
Benarlah dugaannya. Beberapa orang datang beriring-iringan mendekati perapian. Di
muka sendiri berdiri seorang gagah tegap. Sedang di belakangnya berjalan seorang yang
tinggi agak kekurus-kurusan. Di belakangnya lagi berjalan seorang yang pendek bulat
dan berkumis lebat. Di belakang mereka berjalan beberapa orang yang tampak garanggarang. Melihat orang yang berjalan paling depan darah Mahesa Jenar berdegupan. Segera
teringatlah ia akan wajah seseorang yang pernah dibinasakannya. Yaitu Watu Gunung.
Teringatlah Mahesa Jenar akan kata-kata Sagotra bahwa seorang saudara kembar Watu
Gunung, yaitu Wadas Gunung, sedang mencarinya. Kalau demikian pastilah orang yang
berjalan paling depan itu Wadas Gunung, sedangkan yang lain adalah sebagian dari
rombongan gerombolan Lawa Ijo yang berjumlah 18 orang.
Mahesa Jenar masih saja berdiri di dalam gelap. Kalau tidak perlu, ia akan menghindari
bentrokan-bentrokan yang akan terjadi.
Tiba-tiba orang yang pendek bulat itu berteriak dengan nyaringnya.
“Ardi..., Ki Ardi...!”
Mahesa Jenar jadi bimbang. Perlukah panggilan itu dijawab? Kalau demikian halnya,
pastilah segera dikenal bahwa suaranya lain dengan suara Ki Ardi. Karena itu maka ia
berdiam diri saja, karena tidak mendapat jawaban, orang pendek itu mengulangi lagi,
teriaknya.
“Ardi..., hai Ki Ardi. Jangan main-main.Kali ini waktu kami hanya sedikit. Kami hanya
ingin mendapat beberapa ontong jagung untuk makan kami besok. Sesudah itu kami akan
pergi.”
Kembali suara itu tidak mendapat jawaban.
“Orang tua gila. Masih saja ia suka bermain gila dalam waktu yang begini.”
“Ki Ardi...! Kami sedang sibuk dengan tugas kami. Keluarlah! Jangan bermain gilagilaan selagi kami tergesa-gesa,” teriak yang tinggi kurus itu kemudian.
Juga teriakan ini lenyap ditelan malam tanpa ada jawaban. Rupanya Wadas Gunung
menjadi jengkel.
“Carang Lampit dan Bagolan. Masuklah. Seret orang itu keluar dan ambil saja
persediaan makanan yang ada. Aku masih ingin menunggu setan itu sampai tiga hari,”
kata Wadas Gunung.
Mahesa Jenar segera menangkap isi kata-kata Wadas Gunung. Rupanya dalam
menunggu kedatangannya, rombongan itu kehabisan makanan. Sedang yang dimaksud
dengan setan yang ditunggu itu, pastilah dirinya. Kembali Mahesa Jenar bimbang.
Apakah yang akan dilakukan? Untuk tetap berdiam diri di dalam goa adalah sangat
berbahaya. Apabila benar-benar ada diantara mereka yang masuk dan mengenalnya,
maka pasti akan terjadi perkelahian. Dan perkelahian melawan beberapa orang, di
ruangan yang sempit tidaklah menguntungkan baginya. Karena itu, segera sebelum orang yang disebut Carang Lampit dan Bagolan itu
memasuki goa, Mahesa Jenar telah lebih dahulu meloncat ke mulut goa. Kehadiran
Mahesa Jenar yang tiba-tiba itu sangat mengejutkan seluruh rombongan Lawa Ijo. Juga
Bagolan yang pendek bulat, Carang Lampit yang tinggi kekurus-kurusan, bahkan juga
Wadas Gunung sendiri. Baru setelah beberapa saat Wadas Gunung dapat mengatur
perasaannya bertanyalah ia.
“Siapakah kau yang berada di rumah Ki Ardi?”
“Aku adalah anaknya,” jawab Mahesa Jenar.
Wadas Gunung mengerutkan alisnya, kemudian katanya.
“Sudah sejak lama aku mengenal Ki Ardi. Tetapi tak pernah aku mendengar bahwa ia
mempunyai seorang anak.”
“Aku kira tidak ada perlunya untuk menceriterakan anak-anaknya kepada orang lain,”
jawab Mahesa Jenar
Kembali Wadas Gunung menarik alisnya tinggi-tinggi. Tetapi sementara itu ia pun tidak
habis-habisnya mengamat-amati tubuh Mahesa Jenar. Akhirnya diketemukannya ciri-ciri
yang cocok dengan keterangan yang diterimanya dari Ki Pasingsingan. Karena itu tibatiba saja ia bertolak pinggang dan dari mulutnya berderailah sebuah tawa yang
mengerikan yang menusuk-nusuk ulu hati, seperti suara jeritan hantu kubur.
Melihat sikap Wadas Gunung serta mendengar derai tertawanya, tahulah Mahesa Jenar,
bahwa Wadas Gunung telah mengenalnya. Karena itu ia pun segera bersiap menghadapi
segala kemungkinan.
Setelah beberapa lama surutlah suara tertawanya. Dan demikian suara itu berhenti,
berteriaklah Wadas Gunung itu dengan suaranya yang nyaring.
“Hai, seluruh rombongan yang sedang mencari seorang yang bernama Rangga Tohjaya.
Pantaslah, bahwa orang ini dapat memperpanjang umurnya sampai sembilan hari, karena
ia disembunyikan oleh Ki Ardi. Tetapi bagaimanapun akhirnya orang itu dapat kami
temukan juga. Nah, sekarang pandanglah orang ini dengan baik, amatilah dengan
saksama, sebab sebentar lagi ia harus kita binasakan. Sekarang kita boleh mengaguminya
sebagai seorang yang perkasa, yang telah berhasil membunuh saudara kembarku Watu
Gunung dan yang dapat melukai pemimpin kami Lawa Ijo. Dendam kami adalah setinggi
gunung, sedalam lautan. Sekarang bersiaplah dan jangan lepaskan orang ini. Juga setelah
orang ini binasa, harus dibinasakan juga Ki Ardi, yang telah berusaha membebaskan
orang ini dari tangan kita.”
Mendengar kata-kata Wadas Gunung, segera setiap orang anggota gerombolan itu
mempersiapkan diri dan mencabut senjata masing-masing. Sebagian besar dari mereka
bersenjatakan sebilah belati panjang sebagai senjata yang khusus diperuntukkan anggota rombongan Lawa Ijo. Tetapi diantaranya ada juga yang bersenjata dua. Di tangan kirinya
ia memegang pisau belati panjang, sedang tangan kanannya menggenggam sepotong
carang pring ori sebesar ibujari kaki, tetapi panjangnya tidak lebih dari lima jengkang.
Bagolan, di kedua belah tangannya menggenggam bola besi bertangkai. Wadas Gunung
sendiri ternyata juga tidak mau memandang ringan kepada Mahesa Jenar. Ia pun
memegang dua buah senjata di kedua belah tangannya. Yaitu belati panjang.
Melihat semua lawannya bersenjata, Mahesa Jenar mulai menimbang diri. Hatinya terasa
berdegupan juga. Sebab orang-orang seperti Wadas Gunung, Carang Lampit, Bagolan
dan sebagainya tampaknya bukan pula orang sembarangan. Apalagi kini mereka
menggenggam senjata masing-masing. Maka mulailah Mahesa Jenar berpikir. Di
manakah tempat yang paling menguntungkan untuk melawan mereka ?
Di mulut goa, ia tidak akan dapat diserang dari samping dan belakang. Tetapi kalau
ujung-ujung senjata itu bersama menyerangnya dari depan, sulit baginya untuk
menghindar. Maka lebih baik baginya apabila bertempur di tempat terbuka. Ia akan dapat
mempergunakan kegesitan, serta mudah-mudahan gelap malam di luar membantunya.
Mendapat pikiran itu, sebelum Mahesa Jenar mendapat serangan, segera ia meloncat
dengan kecepatan yang luar biasa, menerobos orang-orang yang mengepungnya. Dan
tahu-tahu Mahesa Jenar telah berada di belakang mereka, di dekat api yang menyalanyala. Secepat kilat tangannya memegang dua batang kayu yang sedang dimakan api.
Dengan kedua batang cabang kayu sebesar lengan itulah ia siap menghadapi segala
kemungkinan.
Melihat kecepatan Mahesa Jenar bergerak, hampir semua orang sangat heran sampai
terdiam seperti patung. Dengan loncatan yang hampir tak dapat dilihat, kepungan mereka
dengan begitu saja sudah dapat ditembus.
Menyaksikan buruannya telah berada di luar jaring, Wadas Gunung menjadi marah
sekali. Sehingga dengan teriakan keras ia memerintahkan kepada anak buahnya segera
untuk mengepung kembali.
Wadas Gunung sendiri bersama-sama Carang Lampit, Bagolan, Seco Ireng, Cemara
Aking, dan Tembini, langsung menyerang. Meski dikurangi Sagotra, tujuh tokoh itu
merupakan tenaga gabungan yang luar biasa kuatnya, meskipun tidak lengkap. Senjata
mereka tampak gemerlapan memenuhi udara dan seolah-olah bergulung-gulung melanda
Mahesa Jenar dengan dahsyatnya. Mahesa Jenar segera melihat bahaya yang akan datang.
Sudah pasti Mahesa Jenar tidak akan dapat sekaligus menangkis serangan dari enam
orang yang mempunyai kekuatan yang cukup. Karena itu segera Mahesa Jenar mencari
akal. Maka dengan tiba-tiba tanpa diduga oleh seorangpun, Mahesa Jenar dengan kedua
cabang kayu di tangannya memukul api yang sedang menyala-nyala ke arah penyerangpenyerangnya. Segera bara-bara api serta potongan-potongan kayu yang masih menyala
bertebaran di udara dan mengarah kepada lawan-lawannya. Wadas Gunung beserta kawan-kawannya terkejut bukan alang kepalang. Sama sekali tak
terlintas di dalam pikirannya, bahwa serangan mereka akan mendapat sambutan begitu
panas. Karena itu segera mereka sibuk menghindarkan diri dari serangan api. Mereka
yang sempat menghindar segera berloncatan kian kemari, sedang mereka yang tidak lagi
mempunyai kesempatan, segera berusaha memukul api itu dengan senjata masingmasing.
Melihat kebingungan itu Mahesa Jenar tidak menyia-nyiakan waktu. Segera ia melompat
serta memutar kedua potong kayunya, menyerang keenam orang yang masih belum
sempat mempersiapkan diri. Serangannya ini ternyata mempunyai hasil yang cukup baik.
Kayu di tangan kirinya dengan derasnya menyambar Cemara Aking.
Melihat serangan yang datang tiba-tiba itu Cemara Aking tidak sempat menghindar.
Maka yang dapat dilakukan hanyalah menangkis serangan Mahesa Jenar dengan kedua
pisau belati panjangnya yang disilangkan di muka kepalanya.
Tetapi pukulan Mahesa Jenar demikian kerasnya sehingga tangan Cemara Aking tidak
mampu untuk melawannya. Ia tak berhasil menghindarkan kepalanya dari benturan kayu
Mahesa Jenar.
Segera pemandangannya menjadi kuning berputaran, serta kepalanya seolah-olah
ditindih batu yang besar sekali. Cemara Aking terhuyung-huyung surut beberapa langkah
ke belakang dan akhirnya ia terduduk lemah.
Dalam saat yang bersamaan pula, tangan kanan Mahesa Jenar sempat menyambar
lambung Carang Lampit. Tetapi Carang Lapit ternyata mempunyai kekuatan yang cukup
pula sehingga ia berhasil mengurangi tekanan serangan Mahesa Jenar dengan carang
orinya. Meskipun demikian lambungnya terasa sakit bukan kepalang. Dan ini telah
banyak mengurangi kebebasan geraknya.
Melihat kedua kawannya dikenai dalam saat yang sangat singkat Wadas Gunung
menjadi bertambah marah, disamping perasaan keheranan serta keseganan yang
merambati hatinya. Segera iapun membuka sebuah serangan dengan menusuk dada
Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar dengan gerakan yang sedikit saja, dengan menarik tubuhnya miring tanpa
mengubah letak kakinya, telah dapat menghindari serangan Wadas Gunung. Malahan
dengan tangan kirinya ia sempat menyodokkan batang kayunya ke perut lawannya.
Melihat serangannya gagal serta malahan mendapat serangan balasan, segera Wadas
Gunung meloncat ke samping.
Pada saat itu, serangan Tembini datang sangat mendadak, dengan sebuah tombak terkait.
Melihat kilatan senjata yang dengan cepatnya mengarah ke perutnya, Mahesa Jenar agak
terkejut. Rupanya Tembini yang masih muda ini mempunyai kegesitan yang luar biasa.
Tetapi segera Mahesa Jenar melihat kekurangan lawannya. Belum lagi ia yakin bahwa serangannya akan berhasil, ia sudah mempergunakan seluruh kekuatannya, sehingga ia
tidak lagi mempunyai tenaga cadangan.
Melihat hal itu segera Mahesa Jenar dengan sebagian besar kekuatannya menghantam
mata tombak Tembini dengan kayunya, sehingga terjadilah suatu benturan yang dahsyat.
Tangan Tembini bergetar hebat sampai terasa sakit, sedang tombaknya menancap ke
kayu Mahesa Jenar. Belum lagi Tembini sadar, Mahesa Jenar telah merenggut kayunya
sehingga terseretlah tombak Tembini itu, dan terlepas dari tangannya.
Tetapi belum lagi Mahesa Jenar menangkap tombak pendek itu, Bagolan orang yang
pendek bulat, dengan garangnya meloncat sambil memutar bola besinya yang bertangkai.
Mahesa Jenar melihat serangan yang akan datang. Tangan kanannya yang memegang
kayu dimana tombak Tembini menancap, pastilah belum dapat dipergunakan dengan
baik. Maka sebelum Bagolan mencapai jarak yang cukup untuk mempergunakan
senjatanya, Mahesa Jenar dengan kekuatan yang hampir penuh melemparkan kayu di
tangan kirinya ke arah Bagolan.
Kayu itu meluncur cepat, sehingga Bagolan tidak lagi dapat berbuat lain daripada
menangkis serangan itu dengan kedua bola besinya. Tetapi serangan Mahesa Jenar terlalu
deras dan keras. Maka ketika terjadi benturan yang hebat, salah satu bolabesi Bagolan
ikut serta terlempar bersama kayu Mahesa Jenar, sehingga menimbulkan rasa nyeri yang
tak terhingga pada telapak tangan Bagolan.
Dengan demikian maka terpaksalah ia mengurungkan serangannya dan berlari-lari
mengambil bola besinya yang terjatuh. Dalam saat yang sekejap itu Mahesa Jenar telah
dapat mencabut tombak berkait Tembini yang menancap di batang kayunya. Mendapat
senjata yang cukup baik itu, Mahesa Jenar menjadi bertambah garang. Meskipun pada
saat itu segera datang pula serangan Wadas Gunung dan Seco Ireng bersama-sama, tetapi
serangan-serangan itu dapat pula satu demi satu dipunahkan.
Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin dahsyat. Api yang dinyalakan Mahesa
Jenar sudah tidak lagi menyala, Hal ini sangat menguntungkan Mahesa Jenar yang
berpandangan tajam sekali. Ia melawan kerubutan itu dengan berloncatan kesana-kemari,
menyusup diantara mereka dan kadang-kadang meloncat menjauhi. Tetapi lawannya
bukan orang-orang sembarangan. Ternyata Wadas Gunung mempunyai kecakapan sejajar
dengan Watu Gunung. Sedangkan Carang Lampit hanya sedikit berada di bawah Wadas
Gunung.
Untunglah orang ini telah dilukainya lebih dulu sehingga geraknya tidaklah berbahaya
sekali. Bagolanpun ternyata tidak kalah gesitnya dengan Gagak Bangah yang bersamasama dengan Watu Gunung dulu mengerubutnya. Ditambah lagi dengan Seco Ireng,
Tembini dan Cemara Aking yang baru dapat bergerak sedikit-sedikit saja, karena
kepalanya masih pening sekali. Disamping itu mereka masih mempunyai tenaga
cadangan yang siap menyerangnya dari segala jurusan.
Ketika pertempuran itu sedang berlangsung dengan dahsyatnya, dimana masing-masing pihak berusaha untuk mengalahkan lawannya. Maka di sebelah timur membayanglah
warna fajar. Langit yang kelam menjadi kemerah-merahan, sedangkan bintang fajar
memancar dengan cemerlangnya.
Melihat cahaya merah itu, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Apabila sebentar
lagi langit menjadi terang, akan sulitlah kedudukannya. Apalagi sampai saat itu saja
sudah terasa bahwa tenaganya sebagai manusia biasa adalah sangat terbatas. Melawan 6
orang cukup kuat, ditambah lagi yang lain-lain yang telah pula mulai bergerak
mengeroyoknya, adalah suatu pekerjaan yang barangkali diluar kemampuan tenaganya
yang biasa.
Tekanan yang kuat dari Wadas Gunung, serangan yang tiba-tiba dari Tembini yang telah
bersenjatakan pisau belati panjang, gempuran-gempuran bola bertangkai Bagolan,
sambaran-sambaran carang ori yang tidak kalah berbahayanya, serta tusukan-tusukan
parang Seco Ireng yang dahsyat adalah bahaya-bahaya yang setiap saat dapat merenggut
jiwanya.
Dalam keadaan gelap, mereka masih agak ragu-ragu mempergunakan senjata itu, sebab
Mahesa Jenar selalu berusaha untuk membelit lawan-lawannya. Tetapi kalau matahari
sudah terbit, akan berbedalah keadaannya. Mungkin ia tak akan mampu melawan sampai
tengah hari saja. Karena itu mengingat keselamatan diri, tugas yang masih harus
diselesaikan serta pertimbangan yang sebaik-baiknya, adalah membinasakan gerombolan
hitam itu.
Terlintas dalam pikiran Mahesa Jenar untuk segera menyelesaikan pertempuran ini
sebelum fajar. Adapun cara satu-satunya adalah dengan mempergunakan ilmunya Sasra
Birawa, di sisi telapak tangan kanannya, digabungkan dengan kemahirannya
mempergunakan segala macam senjata dengan tangan kirinya. Dan untunglah pada saat
itu ia memegang sebuah tombak berkait. Dengan mempergunakan gabungan kedua
macam kekuatan itu ia memperhitungkan bahwa ia akan dapat mengakhiri pertempuran
sebelum cahaya matahari yang pertama.
Tetapi belum lagi ia melaksanakan maksudnya, tiba-tiba terjadilah suatu hal yang sangat
mengejutkan dan tak terduga-duga, pada saat itu, pada saat pengikut Lawa Ijo siap untuk
menyerang Mahesa Jenar bersama-sama, terjunlah seseorang ke kancah pertempuran.
Meskipun Mahesa Jenar tidak berkesempatan untuk mengenal orang baru itu dengan
seksama, tetapi sepintas ia melihat bahwa orang itu berperawakan sedang, serta
bersenjatakan sebuah kapak sangat besar. Tampaknya ia tidak begitu lincah, tetapi
mendengar desing ayunan kapaknya dapat diduga betapa besar tenaganya.
Dengan kekuatan yang luar biasa, ia memutar kapaknya, dan langsung menyerang
pengikut-pengikut Wadas Gunung. Sejenak kemudian terjadilah dua lingkaran
pertempuran yang amat dahsyat. Dengan hadirnya orang baru, yang masih belum sempat
dikenalnya, Mahesa Jenar merasa bahwa pekerjaannya menjadi berkurang. Sebab mau
tidak mau perhatian Wadas Gunung sebagai pemimpin rombongan menjadi terpecah,
sehingga ia tidak lagi dengan sepenuhnya mengadakan tekanan kepada Mahesa Jenar. Apalagi ternyata luka di lambung Carang Lampit tidak dapat dianggap ringan. Di arah
luka itu terasa makin lama semakin sakit. Karena itu gerakan-gerakannya menjadi
semakin lemah dan hampir tak berarti. Demikian juga keadaan Cemara Aking.
Di dalam dua lingkaran pertempuran itu, Mahesa Jenar harus melawan tokoh-tokoh
gerombolan Lawa Ijo yang sudah tidak begitu penuh lagi kekuatannya, sedang anggotaanggota gerombolan itu terpaksa tidak dapat turut serta mengeroyok Mahesa Jenar, sebab
mereka harus melayani pendatang baru yang dengan garangnya menghantam mereka
dengan kapaknya.
Mengalami perubahan keadaan ini, Mahesa Jenar pun merasa masih belum waktunya
mempergunakan ilmunya Sasra Birawa. Sebab ia merasa bahwa bersama dengan orang
baru itu ia akan dapat mematahkan kekuatan Wadas Gunung.
Perhitungan Mahesa Jenar memanglah tepat. Meskipun orang baru itu tidak begitu
lincah, tetapi tiba-tiba sambaran kapaknya selalu diikuti dengan berdesingnya angin
maut. Anggota-anggota gerombolan Lawa Ijo yang mencoba menangkis ayunan kapak
itu, senjatanya terlepas dan terpatahkan.
Melihat keadaan itu Wadas Gunung menjadi marah sekali. Tetapi ia tidak dapat
meninggalkan Mahesa Jenar yang bagaimanapun dirasakan lebih berbahaya, apalagi
kepadanyalah ia menyimpan dendam. Karena itu dengan teriakan nyaring ia
memerintahkan Bagolan untuk melawan orang berkapak itu.
Mendengar perintah Wadas Gunung segera Bagolan dengan loncatan panjang
meninggalkan gelanggang dan segera terjun ke lingkaran pertempuran lain. Ternyata
Bagolan pun mempunyai tenaga raksasa. Sehingga dalam pertempurannya melawan
orang berkapak itu seringkali terjadi benturan-benturan yang dahsyat antara bola besi
bertangkai dengan kapak raksasa itu.
Bagaimanapun perkasanya orang berkapak itu, ketika ia harus melawan keroyokan yang
sedemikian banyaknya ditambah lagi dengan seorang tokoh seperti Bagolan, akhirnya
tampak juga bahwa ia agak terdesak.
Sebaliknya Mahesa Jenar yang lawannya berkurang lagi seorang menjadi semakin
leluasa bergerak. Tetapi dalam pada itu segera ia melihat kerepotan orang yang
bersenjatakan kapak itu. Maka segera iapun menjadi cemas.
Meskipun ia sama sekali belum mengenalnya, tetapi pada saat ia melibatkan diri dalam
pertempuran itu, adalah sangat menguntungkannya. Karena itu ia tidak dapat membiarkan
saja ketika ia melihat orang berkapak itu terdesak.
Untuk mengimbangkan keadaan, Mahesa Jenar berpikir bahwa sebaiknya pertempuran
tidak terbagi. Ia dan orang berkapak itu harus berada dalam satu lingkaran pertempuran
menghadapi seluruh gerombolan. Dengan demikian ruang pertempuran menjadi
bertambah sempit. Mendapat pikiran yang demikian segera Mahesa Jenar memutar tombaknya, dan dengan
gerakan kilat ia meloncat menembus kepungan lawan. Selanjutnya dengan cepat sekali ia
meloncat kesamping orang yang bersenjata kapak itu, sambil berkata.
“Ki Sanak, baiklah kita bekerja bersama. Kau hadapi separo lingkaran, aku separo.
Disamping itu kita pergunakan setiap kesempatan untuk menghantam lawan.”
Orang berkapak itu tidak menjawab tetapi ia tahu maksud Mahesa Jenar, maka segera ia
pun menempatkan diri beradu punggung dengan Mahesa Jenar.
Kembali hati Wadas Gunung terperanjat melihat kelincahan Mahesa Jenar. Mengertilah
ia sekarang kenapa Pasingsingan memaksanya membawa 20 orang anak buahnya
bersama-sama untuk menangkap satu orang saja. Ternyata buruannya memang bukan
orang biasa. Tetapi Wadas Gunung adalah orang yang berpengalaman cukup, sehingga
ketika ia melihat sikap Mahesa Jenar dan orang berkapak itu saling membelakang,
tahulah ia maksudnya, Untuk mencegah kesulitan-kesulitan selanjutnya, cepat-cepat ia
memerintahkan untuk menghantam lawan sebelum mereka mencapai keseimbangan
dalam bekerja bersama. Ia sendiri beserta tokoh-tokoh rombongan itu segera melancarkan
serangan-serangan yang berbahaya. Tetapi karena perubahan keadaan yang demikian
cepatnya itu, tidak semua anak buah Wadas Gunung dapat mengikuti jalan pikiran
pimpinannya, sehingga dalam pelaksanaannya terjadilah kekacauan.
Karena lawan mereka berkumpul pada satu titik, maka ketika mereka akan menyerang
bersama-sama, terjadilah desak-mendesak diantara mereka, sehingga mereka tidak
leluasa mempergunakan senjata masing-masing. Dalam keadaan yang demikian, segera
Mahesa Jenar mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya.
Mahesa Jenar segara meloncat maju, dan memutar tombak berkaitnya seperti balingbaling. Kemudian dengan gerakan yang sangat mengejutkan lawannya, Mahesa Jenar
langsung menyerang beberapa orang yang berdiri di hadapannya. Mendapat serangan
yang tak terduga-duga ini, tak seorang pun sempat mengelak diri, sehingga dalam satu
ayunan Mahesa Jenar sekaligus dapat melukai 4 orang anggota gerombolan Lawa Ijo, dan
melemparkan beberapa senjata dari tangan pemiliknya.
Melihat kejadian itu, tergetarlah hati para anggota gerombolan Lawa Ijo, sehingga
hampir serentak mereka berdesakan mundur. Untunglah bahwa para pemimpin
gerombolan itu cepat bertindak. Serentak mereka berloncatan maju dan dengan
dahsyatnya mereka melakukan serangan-serangan balasan.
Melihat orang ini tampil, segera Mahesa Jenar menarik diri serta menyesuaikan
kedudukannya dengan orang yang bersenjatakan kapak, yang ternyata telah pula memutar
kapaknya untuk melindungi dirinya dan sekali-sekali menyambar mereka yang berani
mendekatinya. Dalam siasat perkelahian ternyata Wadas Gunung pun tak kalah cerdiknya. Untuk
memecah kerja sama lawannya, segera Watu Gunung memerintahkan untuk
melumpuhkan kedudukan yang lemah. Karena itu berkumpullah tokoh-tokoh mereka
untuk menyerang orang berkapak itu bersama-sama.
Tetapi maksud ini pun segera diketahui oleh Mahesa Jenar, karena itu katanya kepada
orang berkapak itu.
“Ki Sanak, baiklah kita selalu bergerak, supaya tak dapat mereka patahkan batas diantara
kita.”
Kali ini orang berkapak itu pun tidak menjawab, tetapi rupanya ia pun mengerti maksud
Mahesa Jenar. Maka ketika Mahesa Jenar mulai dengan loncatan loncatannya kesanakemari, orang itu pun selalu menyesuaikan dirinya, meskipun ia tidak selincah Mahesa
Jenar.
Melihat perubahan cara bertempur Mahesa Jenar, Wadas Gunung mengeluh dalam hati.
Belum lagi rencananya dapat berjalan lancar, ia harus sudah menghadapi keadaan baru.
Sehingga kembali timbul kekacauan di barisannya. Kesempatan ini pun dipergunakan
oleh Mahesa Jenar dan orang berkapak itu. Dengan deras sekali kapak raksasa itu
terayun, dan tiga buah senjata melesat dari tangan pemiliknya, dan sekaligus dua orang
tersobek dadanya.
Disamping itu dengan lincahnya pula Mahesa Jenar mengadakan serangan. Tombaknya
mematuk-matuk membingungkan. Dalam serangan ini pun ia berhasil melukai dua orang
sekaligus. Bahkan dalam serangan berikutnya, pundak Tembini tergores oleh tombaknya
sendiri.
Mengalami hal itu, Tembini menjadi marah bukan buatan. Matanya merah menyala.
Tetapi baru saja ia akan meloncat menerkam lawannya dengan kedua pisau belatinya,
mendadak Wadas Gunung yang tidak pula kalah marahnya menyaksikan Tembini
dilukai, telah mendahuluinya mengadakan serangan yang dahsyat sekali.
Mendapat serangan Wadas Gunung dengan penuh kekuatan, segera Mahesa Jenar
menarik diri, meloncat kecil kesamping, dan dengan satu putaran mengait senjata-senjata
di tangan Wadas Gunung. Tetapi Wadas Gunung pun cukup siaga. Segera ia menarik
kedua tangannya. Sayang bahwa ia agak terlambat sehingga satu dari pisaunya tak dapat
dipertahankan sehingga jatuh dari tangannya.
Wadas Gunung adalah seorang pemarah yang keras hati. Bahkan karena marahnya,
kadang-kadang ia kehilangan perhitungan. Juga pada saat itu. Ia pun menjadi mata gelap.
Dengan sebuah pisau yang masih ada di tangannya, ia meloncat menyerang Mahesa Jenar
sejadi-jadinya.
Serangan ini ternyata sangat menguntungkan Mahesa Jenar, sebab belati Wadas Gunung
lebih pendek dari tombak berkait yang dipegang oleh Mahesa Jenar. Karena itu Mahesa Jenar sama sekali tidak menghindar. Hanya tombaknya yang dijulurkan menanti
terkaman Wadas Gunung.
Melihat mata tombak mengarah ke dadanya, Wadas Gunung terperanjat. Tetapi ia telah
terlanjur meloncat keras sekali. Maka segera ditariknya pisaunya untuk menangkis
tombak Mahesa Jenar. Tetapi tangan Mahesa Jenar adalah tangan yang perkasa, sehingga
pukulan pisau Wadas Gunung, yang tak dapat dilakukan dengan sepenuh tenaga, karena
ia sendiri baru dalam keadaan meloncat, tidaklah banyak artinya.
Tetapi pada saat terakhir, Bagolan telah berusaha menyelamatkan pemimpinnya. Dengan
sekuat tenaga ia melemparkan bola besinya ke arah kepala Mahesa Jenar. Melihat bola
besi bertangkai itu melayang ke arahnya sedemikian kerasnya, maka mau tidak mau
Mahesa Jenar harus berusaha menghindar dengan menggerakkan kepalanya. Dan tepat
pada saatnya, kembali Tembini yang meskipun sudah terluka, menunjukkan kegesitannya
bergerak.
Dengan satu loncatan Tembini memukul tombak berkait Mahesa Jenar yang sedang
berusaha menghindari bola besi itu, sekuat-kuat tenaganya. Maka terdengarlah suara
berdentang senjata beradu. Oleh pukulan Tembini dengan kedua buah pisau belati
panjangnya, ujung tombak Mahesa Jenar berhasil digerakkan. Meskipun demikian Wadas
Gunung tak dapat membebaskan dirinya sama sekali, sehingga ujung tombak berkait itu
merobek paha kanannya.
Sambil mengerang kesakitan, Wadas Gunung meloncat beberapa langkah mundur.
Tetapi karena kesakitan yang amat sangat, ia pun beberapa kali terhuyung-huyung hampir
jatuh.
Kejadian itu rupanya sangat berpengaruh pada semangat bertempur Wadas Gunung.
Meskipun ia menyesal sekali tak dapat membalaskan dendam adiknya serta
pemimpinnya, tetapi tak adalah yang dapat dilakukan. Ia juga menjadi marah sekali
kepada orang berkapak yang telah mencampuri urusannya. Selain itu juga kepada
Sagotra, salah seorang anak buahnya, ia menjadi marah sekali, serta berjanji dalam
hatinya, bahwa anak itu diketemukan pastilah akan dikupas kulit kepalanya. Sebab dalam
keadaan yang sedemikian sulit, ia sama sekali tidak menampakkan dirinya.
Dalam keadaan yang demikian tidak ada jalan lain bagi Wadas Gunung kecuali harus
menyelamatkan diri, meskipun hanya untuk sementara, sampai dapat tersusun kekuatan
untuk membalas dendam. Karena itu segera ia bersiul keras dan dengan segera pula anak
buahnya berloncatan mengundurkan diri dari gelanggang perkelahian.
Bagolan, yang ternyata mempunyai tenaga raksasa, segera mendukung Wadas Gunung,
dan dengan cepatnya berlari menjauhi lawannya. Sementara itu, yang lain berusaha
melindungi apabila mereka dikejar.
Melihat lawan-lawannya berlari, Mahesa Jenar sama sekali tidak berusaha mengejarnya.
Orang berkapak itu juga tidak. Pada saat itu, warna langit di sebelah timur sudah semakin terang. Bayangan pepohonan
serta bentuk-bentuk batang-batang ilalang menjadi semakin jelas. Juga wajah orang
berkapak itu menjadi jelas.
Kalau sebelumnya, kecuali karena gelapnya malam, juga karena Mahesa Jenar tidak
sempat mengamati orang berkapak itu, kini ia dapat dengan jelas melihat wajahnya.
Dan ketika Mahesa Jenar melihat wajah orang itu, darahnya tersirap, seakan-akan ada
sesuatu masalah yang memukul rongga dadanya. Karena itu sampai beberapa saat ia
berdiri diam seperti patung.
Sedang orang berkapak itu, setelah melihat bahwa lawan-lawan Mahesa Jenar berlari,
berdiri seperti acuh tak acuh saja. Juga ketika ia melihat Mahesa Jenar memandangnya
dengan wajah yang membayangkan keruwetan hatinya, orang berkapak itu sama sekali
tidak mempedulikannya.
Akhirnya, setelah agak tenang hatinya, Mahesa Jenar segera mendekati orang itu sambil
berkata.
”Terimakasih atas segala pertolongan yang telah aku terima, sehingga aku terbebaskan
dari tangan mereka.”
Orang itu masih saja berdiri acuh tak acuh. Meskipun demikian ia menjawab pula.
”Tak usah kau menyatakan terimakasih kepadaku. Ketahuilah bahwa kedatanganku
membawa suatu masalah yang harus kita selesaikan. Kalau aku menolongmu, itu adalah
karena aku takut bahwa masalah kita akan tetap merupakan masalah yang tidak selesai.”
Mendengar jawaban orang itu, sebenarnya Mahesa Jenar merasa sedikit tersinggung oleh
ketinggian hatinya. Tetapi meskipun demikian ia berusaha juga menyabarkannya.
Katanya pula.
”Bagaimanapun kali ini engkau telah melepaskan aku dari kekuasaan mereka.”
”Mungkin.... Tetapi belumlah pasti bahwa kau dapat melepaskan diri dari persoalan yang
kau hadapi sekarang,” jawab orang itu, masih dengan nada dingin.
Kembali Mahesa Jenar terpaksa menyabarkan dirinya. Meskipun hatinya bergetar hebat.
Sampai orang tadi melanjutkan.
”Kedatanganku kemari adalah pertama-tama karena seseorang merasa mempunyai
pinjaman sesuatu barang kepadamu. Dan tak seorangpun dapat disuruhnya menyerahkan
kembali. Akulah yang menyanggupkan diri untuk mengembalikan barang itu kepadamu”
Kedua, adalah karena masalahku sendiri. Masalah yang pada saat itu kau putar-balikkan kenyataannya dengan mengumpankan seorang yang sama sekali tak berarti. Kau kira
bahwa dengan perbuatan yang demikian itu kau akan dapat menyembunyikan kenyataan
untuk seterusnya. Dengan kesombonganmu, menyediakan diri dalam sayembara tanding
itu, aku kira kau adalah seorang yang benar-benar jantan. Tetapi menghadapi suatu
masalah terakhir, kau melarikan diri.”
Darah Mahesa Jenar benar-benar bergolak hebat. Tuduhan-tuduhan yang datang bertubitubi seperti mengalirnya sungai yang sedang banjir melanda dirinya tanpa didugaduganya. Sebenarnya Mahesa Jenar bukanlah termasuk seorang pemarah. Karena itu
untuk menahan diri, Mahesa Jenar menekankan giginya sampai gemeretak.
Apalagi ketika orang itu menyambung bicaranya.
”Nah, aku beri waktu kau sehari ini untuk beristirahat. Aku kira kau masih lelah setelah
mengalami pertempuran pagi ini. Sesudah hari ini dan malam nanti, baiklah besok kita
selesaikan masalah kita. Sayang aku tak dapat menyaksikan sebaik-baiknya cara kau
membela diri terhadap orang yang mengeroyokmu. Sebab aku terlalu cemas menyaksikan
pertarungan tadi. Kalau-kalau kau dapat dibinasakan, maka aku akan tetap menyesali
hidupku selama-lamanya. Tetapi mengingat apa yang telah kau lakukan, serta apa yang
baru saja terjadi, meskipun aku tidak menyaksikan dengan jelas, kau adalah termasuk
orang yang berkepandaian tinggi. Mungkin pula aku tak akan dapat menyamai
kepandaianmu. Tetapi bagaimanapun juga aku akan puas dengan penyelesaian terakhir
yang akan kita tentukan bersama.”
Hampir saja kemarahan Mahesa Jenar meledak. Tetapi untunglah bahwa ia masih dapat
menahan diri. Apalagi ketika tiba-tiba dilihatnya orang itu memutar tubuhnya, lalu
berjalan perlahan-lahan menjauhinya.
Mahesa Jenar masih saja berdiri tegak dengan gemetar menahan diri. Dipandangnya
punggung orang itu dengan seksama. Alangkah tinggi hatinya. Tetapi sejenak kemudian
Mahesa Jenar telah dapat menenangkan hatinya. Ia dapat memahami kenapa orang itu
harus bersikap sedemikian, bahkan sudah hampir merupakan sebuah kesombongan yang
besar.
Tetapi menurut keterangan yang pernah didengarnya, sebenarnya ia bukanlah seorang
yang jahat. Ia hanyalah seorang yang mempunyai dua alam yang terpisah. Alam anganangan dan alam kenyataan. Juga ceritera tentang masa mudanya, yang selalu dipenuhi
dengan perantauan-perantauan yang penuh dengan kejadian-kejadian yang hebat-hebat,
tetapi kemudian tak ada lagi kesempatan baginya untuk mengalami kembali,
membuatnya seperti orang yang tak tahu melihat kenyataan.
Perlahan-lahan Mahesa Jenar dapat menguasai dirinya kembali. Apa yang baru saja
terjadi dianggapnya sebagai suatu kesalahpahaman saja. Hanya ia masih belum
menemukan jalan penyelesaian yang sebaik-baiknya.
Sementara itu matahari telah semakin tinggi menanjak kaki langit. Terasalah betapa segar sinarnya menyentuh tubuh Mahesa Jenar yang kelelahan. Tiba-tiba saja terasa
betapa penatnya setelah semalam suntuk harus melayani 19 orang gerombolan Lawa Ijo.
Juga terasa betapa kantuknya. Alangkah nikmatnya kalau tubuhnya segera beristirahat,
meskipun hanya sejenak. Tapi baru saja Mahesa Jenar melangkah akan memasuki
guanya, berdesirlah hatinya mendengar seruling yang seperti membelai hatinya.
Segera ia menghentikan langkahnya dan melemparkan pandang ke arah suara seruling
yang berderai sesegar wajah pagi. Dilihatnya diatas sebuah batu hitam yang besar, orang
berkapak itu duduk meniup serulingnya. Kapaknya disandarkan pada batu tempat ia
duduk.
Mahesa Jenar adalah juga seorang penggemar lagu. Ia sendiri sebenarnya pandai juga
meniup seruling. Karena itu, ia sangat tertarik mendengar lagu yang demikian indahnya.
Maka ia mengurungkan niatnya untuk beristirahat. Malahan ia berdiri bersandar bibir goa
dan dengan nyamannya mendengarkan lagu yang memancar begitu segar.
Dan diluar sadarnya ia bergumam.
“Pantaslah kalau orang menyebutnya Seruling Gading. Kepandaiannya meniup seruling
hampir sampai pada tingkat sempurna. Ternyata apa yang diceriterakan Ki Asem Gede
sama sekali tidak berlebih-lebihan.”
Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba saja ia teringat kepada masalah yang harus
diselesaikannya dengan Seruling Gading. Masalah yang ingin ia kuburkan sedalamdalamnya. Yang kini tiba-tiba saja telah muncul kembali dalam bentuk yang justru lebih
tegas. Karena itu ia menjadi gelisah. Bukan karena ia harus berhadapan dengan Seruling
Gading yang apabila ia tetap dalam pendiriannya, akan merupakan suatu pertempuran
yang tak dapat dianggap ringan, tetapi seperti masalah yang pernah dihadapinya beberapa
waktu yang lalu, ialah menang atau kalah, ia akan tetap menyesali dirinya.
Berpikir tentang masalah itu, perhatiannya terhadap lagu itu jadi berkurang. Malahan
kembali terasa betapa penatnya setelah ia bekerja keras semalam suntuk. Karena itu
timbullah kembali keinginannya untuk beristirahat.
Maka segera ia pun melangkah masuk ke dalam goa, dan merebahkan diri diatas sebuah
tikar batang ilalang yang dibentangkan diatas sebuah batu panjang. Tetapi bagaimanapun
ia berusaha untuk melupakan, meskipun hanya sejenak, namun pikirannya tetap masih
saja melingkar-lingkar kepada Seruling Gading.
Tiba-tiba saja Mahesa Jenar teringat sesuatu, sampai ia terloncat berdiri. Bukankah
Seruling Gading itu pada saat ia tinggalkan berada dalam keadaan lumpuh...? Dan
bukankah Ki Asem Gede telah meminjam biji bisa ularnya untuk mencoba
menyembuhkan kelumpuhan itu...?
Ia jadi teringat pula kata-kata Seruling Gading bahwa ia mendapat suatu titipan untuknya. Karena pada saat pikirannya sedang digelisahkan oleh sikap tinggi hati orang
itu, sampai ia tidak begitu memperhatikan kata-katanya. Titipan itu pastilah dari Ki Asem
Gede untuk mengembalikan biji bisa yang telah menyembuhkan kaki Seruling Gading.
Mengingat hal-hal itu semua, Mahesa Jenar menjadi bimbang. Apakah Ki Asem Gede
tidak mengatakan kepadanya bahwa barang yang dibawa untuknya itulah yang telah
menyembuhkan kakinya? Ataukah Ki Asem Gede takut bahwa dengan demikian si
Tinggi Hati itu akan semakin tersinggung?
Mula-mula Mahesa Jenar berhasrat untuk mengatakan hal itu, tetapi niat itu diurungkan.
Sebab kalau Ki Asem Gede saja tidak mau mengatakannya, pastilah ada sebabnya.
Tetapi sejenak kemudian, mendadak wajah Mahesa Jenar menjadi terang. Ia telah
menemukan suatu cara untuk menyelesaikan masalah itu, meskipun ia terpaksa sedikit
menyombongkan diri, serta mempunyai kemungkinan yang berlawanan dengan
tujuannya.
Maka setelah mendapat pikiran yang demikian, agak legalah hatinya, sehingga
pikirannya tidak lagi digelisahkan oleh kehadiran Seruling Gading. Bahkan tiba-tiba
kembali ia bisa menikmati suara seruling yang lincah membentur dinding-dinding goa.
Dalam tangkapan Mahesa Jenar, Seruling Gading itu ingin berceritera tentang derai air
laut yang membelai pantai.
Suaranya gemericik berloncat-loncatan. Alangkah riangnya. Seriang anak domba yang
dilepaskan di padang hijau, di bawah lindungan gembala yang pengasih.
Namun tiba-tiba hampir mengejutkan, nada itu melonjak berputaran melukiskan
datangnya topan yang dahsyat serta kemudian mengguruh menimbulkan badai. Ombak
yang dahsyat datang bergulung-gulung menghantam keriangan wajah pantai.
Tetapi yang mengagumkan Mahesa Jenar adalah, Seruling Gading dalam lagunya yang
gemuruh dahsyat itu, berhasil menyelipkan sebuah nada yang melukiskan seolah-olah
sebuah perahu kecil sedang berusaha mencapai pantai sambil melawan tantangan alam
yang ganas itu. Tetapi mendadak lagu itu berhenti sampai sekian, sehingga Mahesa Jenar
agak terkejut pula karenanya.
Rupanya Seruling Gading dengan demikian ingin mengatakan kepadanya bahwa ia
sendiri, dalam perjalanan hidupnya, bagaikan sebuah perahu kecil yang diombangambingkan gelombang keadaan yang maha dahsyat. Namun demikian ia tetap berjuang
untuk masa depannya.
Untuk ketenteraman hidupnya. Sehingga mau tidak mau Mahesa Jenar memuji di dalam
hatinya. Hanya saja, perwujudan dari ketabahan Wirasaba dalam menghadapi tantangan
hari depannya, kadang-kadang dilahirkan dalam bentuk yang kurang tepat, sehingga sifatnya yang memang sudah tinggi hati itu, mencapai bentuk yang agak berlebih-lebihan.
Sampai sekian, Mahesa Jenar tidak sempat lagi terlalu banyak menilai Seruling Gading.
Kelelahan dan kantuknya tak dapat lagi ditahannya, sehingga sesaat kemudian ia jatuh
tertidur.
Seruling Gading yang baru saja menempuh perjalanan yang cukup jauh, ditambah pula
dengan pertempuran yang baru saja dilakukan, tidak pula kalah lelahnya. Maka, ketika
matahari sudah melewati puncak langit, segera ia pun terserang kantuk pula.
Apalagi ketika angin silir mengusap tubuhnya. Terasa betapa nyamannya. Karena itu
segera Seruling Gading mencari tempat yang teduh, di bawah bayangan pohon yang
rindang, untuk merebahkan diri. Dan sejenak kemudian ia pun tertidur.
Baru ketika matahari hampir tenggelam, Seruling Gading terbangun oleh suara seruling.
Alangkah terkejutnya, ketika ia mendengar lagu yang berkumandang demikian
merdunya. Ia sendiri demikian mahirnya meniup seruling sampai orang menyebutnya
Seruling Gading. Tetapi di sini, di padang rumput, di sela-sela hutan rimba, ia mendengar
dengan telinganya sendiri suara seruling yang demikian indahnya, sampai ia sendiri tak
dapat menilainya. Siapakah yang lebih pandai, selain ia sendiri, yang mendapat julukan
Seruling Gading? Siapakah peniup seruling di tengah-tengah padang ilalang ini...?
Lebih kagum lagi ketika ia mendengar, bagaimana orang yang meniup seruling itu
berusaha untuk mengulang kembali ceriteranya yang telah diungkapkan lewat nada siang
tadi. Ceritera tentang derai air laut yang membelai pantai, gemericik berloncat-loncatan.
Bahkan ceritera itu kini dilengkapi dengan desir angin yang bermain bersama burungburung camar yang beterbangan dengan lincahnya.
Tetapi dengan tiba-tiba pula, nada itu melonjak melingkar-lingkar bagaikan topan yang
dengan dahsyatnya menimbulkan putaran-putaran air serta gelombang yang bergolak
mengerikan. Sedangkan di sela-sela riuhnya gelombang yang membentur pantai itu,
terselip pula sebuah nada yang melukiskan seolah-olah sebuah perahu yang kecil sedang
menyusup diantara gelegak ombak, berusaha mencapai pantai.
Sampai sekian perasaan Seruling Gading menjadi tegang. Ia tidak tahu, siapakah yang
telah meniup seruling sedemikian pandainya sehingga hampir mencapai tingkat
sempurna. Juga ia sama sekali tidak tahu maksud peniup seruling itu, kenapa ia berusaha
melukiskan kembali ceriteranya, meskipun dalam ungkapan yang berbeda, tetapi
mempunyai bentuk yang sama.
Tetapi tiba-tiba Seruling Gading terlonjak bangkit. Perahu kecil yang sedang berjuang
mati-matian untuk mencapai pantai itu, tiba-tiba terseret oleh deru gelombang dahsyat,
serta kemudian diputar oleh topan yang ganas. Sehingga nada lagu itu menjadi menjerit
seperti tangis anak-anak yang kehilangan ibunya.
Mendengar akhir lagu itu, hati Seruling Gading tersinggung bukan main. Tahulah ia
sekarang maksudnya, bahwa peniup seruling ingin menghinanya sebagai seorang yang minta belas kasihan, serta sedang berteriak-teriak minta pertolongan. Sebagai seorang
yang tinggi hati, Seruling Gading marah bukan buatan. Darahnya tiba-tiba menjadi
bergelora. Timbullah keinginannya untuk menjawab hinaan itu, serta menghantam lewat
nada pula.
Tetapi ketika ia ingin mengambil serulingnya dari dalam bajunya, kembali Seruling
Gading terperanjat, sampai menjerit nyaring karena marahnya. Serulingnya yang dibuat
dari pring gadhing, serta tak pernah terpisah dari tubuhnya itu, ternyata sudah tidak ada
lagi. Ketika sekali lagi ia memperhatikan warna suara yang masih saja melingkar-lingkar
di telinganya, ternyata bahwa seruling itu adalah miliknya.
Kembali Seruling Gading menggeram. Dua kali ia dihinakan oleh orang yang meniup
seruling itu. Pertama-tama orang itu menuduhnya sebagai anak-anak yang berteriakteriak minta belas kasihan, sedang yang kedua, orang itu berhasil mencuri serulingnya
tanpa diketahui.
Maka cepat-cepat ia berdiri. Diangkatnya kepalanya untuk mengetahui dari mana arah
suara seruling itu. Tetapi kembali darahnya meluap-luap. Suara seruling itu ternyata
melingkar-lingkar tak tentu arahnya. Meskipun sudah beberapa lama ia mencoba untuk
mengetahui, tetapi ia tidak berhasil. Semakin keras suara seruling itu, semakin ribut
pulalah gemanya bersahut-sahutan susul-menyusul dari segala arah. Sehingga semakin
bingung pulalah Seruling Gading.
Ia sendiri adalah seorang peniup seruling yang hampir sempurna pula. Tetapi ia tidak
memiliki tenaga lontar yang sedemikian membingungkan. Getaran yang dapat diisinya
dengan tenaga, hanyalah dapat untuk menghantam perasaan seseorang, sebagai suatu
tenaga kekerasan. Tetapi tenaga yang sedemikian lunak, namun memusingkan tidaklah
dipunyainya.
Dengan demikian ia dapat mengambil kesimpulan bahwa orang yang meniup dan
sekaligus mencuri serulingnya itu, pastilah bukan orang sembarangan. Meskipun
demikian Seruling Gading bukanlah orang yang lekas menjadi cemas dan takut. Tetapi ia
adalah orang yang tinggi hati dan terlalu percaya kepada kekuatan sendiri.
Apalagi ketika diingatnya bahwa satu-satunya orang yang berada di daerah itu hanya
Mahesa Jenar. Marahnya semakin menjadi-jadi. Sehingga ia tidak lagi bisa menguasai
gelora perasaannya, Seruling Gading itu berteriak keras.
“Hai pengecut yang hanya berani menghina dari tempat yang jauh dan tersembunyi, coba
tampakkanlah dirimu...!”
Tetapi suaranya sendiri juga hanya menghantam bukit kecil di padang ilalang itu, serta
berpantulan susul-menyusul. Sedangkan suara seruling itu masih saja merintih-rintih
hampir putus asa.
Ketika suara teriakannya tidak mendapat sahutan, Seruling Gading semakin marah. Sekali lagi ia berteriak bertambah keras. Tetapi juga suaranya tak mendapat sahutan.
Maka sedemikian marahnya Seruling Gading, serta ketidaktahuannya, kepada siapa
kemarahannya itu harus diarahkan. Tiba-tiba kapaknya diayunkannya deras sekali
menghantam sebatang pohon sebesar tubuh orang, yang berdiri di hadapannya.
Sedemikian besar tenaganya, sehingga pohon itu sekaligus berderak-derak patah dan
roboh seketika.
Bersamaan dengan robohnya pohon itu, terdengarlah suara memujinya dari kejauhan.
“Bagus..., bagus Wirasaba. Tenagamu memang tenaga raksasa.”
Seruling Gading terkejut mendengar suara itu. Segera ia membalikkan diri untuk
mencari siapakah yang telah memujinya. Tetapi juga ia tak dapat menemukan seseorang.
Apalagi pada saat itu matahari telah tenggelam. Yang tampak hanyalah bentuk-bentuk
bukit-bukit kapur dan puntuk-puntuk kecil yang dibalut oleh hitamnya malam.
Rasanya darah Seruling Gading sudah benar-benar mendidih. Ia merasa sebagai seorang
kanak-kanak yang sedang dipermainkan. Demikian bingung serta marahnya, akhirnya ia
berlari ke mulut goa di bukit kapur, dimana dilihatnya Mahesa Jenar siang tadi masuk.
Kembali di sana ia berteriak ke dalam goa.
“Hai... pengecut yang tak tahu malu. Keluarlah. Tak perlu kita menunggu esok. Marilah
kita selesaikan masalah kita sekarang juga.”
Seruling Gading berteriak asal berteriak saja, tanpa mengharapkan jawaban. Sebab telah
sekian kali ia melakukannya, namun tidak ada jawaban.
Tetapi tiba-tiba saat itu terdengarlah orang menjawab, sehingga malahan Seruling
Gading terkejut sampai tersentak. Arah jawaban itu ternyata sama sekali tidak dari dalam
goa, tetapi malahan dari arah belakangnya, sehingga secepat kilat ia pun membalikkan
diri.
“Wirasaba...” kata suara itu, “janganlah kau terlalu cepat berpanas hati. Sebab dengan
demikian itu, akan mudah menghilangkan ketenangan berpikir. Kalau kita tidak lekaslekas menjadi marah, mungkin kau tidak akan terlalu sulit mencari aku. Nah di sinilah
aku.”
Mendengar kata-kata itu, serta ketika ia melihat bahwa orang yang dicarinya itu duduk di
atas batu hitam, tempat ia meniup seruling siang tadi, tubuhnya menjadi gemetar karena
kemarahan yang memuncak. Benar-benar ia dipermainkan.
Karena itu, tanpa berpikir panjang segera ia berlari ke arah bayangan di atas batu hitam
itu. Apalagi ketika ia melihat bahwa orang yang dicarinya itu benar-benar Mahesa Jenar,
maka menggeramlah Seruling Gading. “Setan, kau jangan mencoba menolong dirimu, menakuti aku dengan permainan hantuhantuan itu. Bagaimanapun juga aku tetap dalam pendirianku. Menyelesaikan masalah kita dengan laku seorang jantan, sekarang juga.”
Sementara itu bulan yang sudah tidak bulat lagi mulai menampakkan dirinya, seperti
mengapung di langit, diantara mega-mega yang mengalir dihembus angin. Sinarnya yang
kuning berpencaran diantara batang-batang ilalang, serta bukit-bukit kapur.
Diantara cahaya bulan berkedipan, wajah-wajah bintang yang iri hati atas kurnia alam
kepada bulan itu, yang memiliki kecantikan yang sempurna.
Dalam taburan sinar bulan, tampaklah wajah Wirasaba yang merah menyala,
membayangkan kemarahan yang meluap-luap. Tangan kanannya menggenggam
kapaknya erat sekali, siap diayunkan untuk membelah kepala Mahesa Jenar.
Mahesa Jenar melihat gelagat itu. Karena itu ia pun segera mempersiapkan diri,
meskipun tampaknya ia tidak mengubah sikap duduknya. Bahkan masih dengan
tersenyum ia berkata tidak menjawab tantangan Seruling Gading.
“Wirasaba..., maafkan kalau aku meminjam serulingmu tanpa izinmu. Sebab aku tidak
mau mengganggu membangunkan kau, nampaknya kau terlalu nyenyak tidur. Mungkin
kaupun sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh serta permainan pagi
tadi yang sama sekali tak menyenangkan.”
“Cukup!” bentak Wirasaba. “Jangan kau coba lagi merendahkan aku. Sebaiknya kau
jangan terlalu yakin akan kehebatanmu dengan mengalahkan Samparan dan Watu
Gunung, serta dengan pertunjukanmu pagi tadi. Sebelum kau mampu melenyapkan diri
dalam satu kedipan mata, jangan kau merasa dirimu tak terkalahkan.
Sekarang bersiaplah kau. Ambillah senjatamu, tombak berkait yang kau pergunakan pagi
tadi. Biarlah kita lihat bersama bagaimanakah akhir persoalan kita.”
Mahesa Jenar melihat bahwa kemarahan Seruling Gading telah mencapai puncaknya.
Meskipun demikian ia masih ingin berusaha untuk menyelesaikan masalah ini dengan
baik. Baru kalau usahanya gagal ia akan melaksanakan rencananya.
“Wirasaba... baiklah tawaranmu aku terima, tetapi tidakkah kau ingin mendengarkan dari
mulutku keterangan-keterangan yang barangkali belum pernah kau dengar sebelumnya?”
kata Mahesa Jenar.
“Ha...?” teriak Wirasaba, “alangkah pengecutnya kau. Dengan pembelaan-pembelaan itu
kau ingin menghindari penyelesaian secara jantan. Kau barangkali ingin menjelaskan
bahwa kau sama sekali tak mempunyai pamrih apa-apa dengan memasuki sayembara
tanding itu. Kau tentu akan berkata, bahwa karena kau adalah sahabat mertuaku Ki Asem
Gede. Tetapi pasti kau tidak mengatakan bahwa kau takut menghadapi cara penyelesaian seperti yang aku maui. Juga kau pasti tidak akan mengatakan bahwa kau telah
mengumpankan Samparan untuk membersihkan namamu, setelah kau tak berani
menerima tawaranku.”
“Wirasaba...” potong Mahesa Jenar.
“Bagaimana aku sempat mengumpankan Samparan, sedang saat itu aku selalu berada di
hadapanmu?”
“Ooo.... tidakkah ada pencuri yang berhasil mengambil milik orang lain di hadapan
orang itu sendiri...?” jawab Seruling Gading.
Sampai sekian Mahesa Jenar yakin bahwa Seruling Gading tidak lagi dapat diajak
berunding. Karena itu kemungkinan yang lain adalah, menyelesaikan menurut rencananya.
Mahesa Jenar kemudian berkata.
“Wirasaba yang digelari orang Seruling Gading... kau adalah orang yang perkasa dengan
memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada kekuatan orang biasa. Seseorang yang
belum pernah melihat kau mengayunkan kapakmu pun tentu dapat menduga yang
demikian itu, dengan menilik senjatamu yang mempunyai ukuran terlalu besar bagi
senjata umumnya itu telah menunjukkan betapa tinggi hatimu. Kau adalah orang yang
tidak dapat mendengarkan keterangan orang lain selain mendengarkan angan-anganmu
sendiri. Tetapi, Wirasaba, ketahuilah bahwa bagaimanapun perkasanya kau, jangan kau
menepuk dada serta menyangka bahwa aku tidak berani menerima tantanganmu pada saat
itu. Dengarlah, apa yang dapat dilakukan oleh seorang yang lumpuh seperti kau pada
waktu itu? Apa pula arti keperkasaanmu dengan hanya mampu duduk di pinggir
ranjang....?”
Belum lagi Mahesa Jenar selesai dengan kata-katanya, Wirasaba sudah tidak dapat
menahan diri lagi. Darahnya sudah bergelora membakar kepalanya. Karena itu dengan
tidak mengucapkan sepatah katapun, serta dengan menekan giginya, dihimpunnya segala
kekuatannya. Dan dengan dahsyatnya ia berteriak. Bersamaan dengan itu, kapak besar itu
terangkat dan dengan derasnya terayun mengarah kepala Mahesa Jenar yang masih saja
duduk di atas batu hitam itu.
Memang Wirasaba benar-benar memiliki tenaga raksasa. Ayunan kapak yang dilambari
kemarahan itu, menimbulkan suara berdesing yang hebat sekali, sehingga seolah-olah
bunyi sangkakala yang memberi pertanda bahwa dewa maut akan melakukan
kewajibannya.
Tetapi sementara itu Mahesa Jenar telah siap pula. Memang ia menunggu-nunggu saat
yang demikian itu. Saat kemarahan Wirasaba mencapai ke puncaknya.
Maka ketika kapak itu dengan cepatnya mengarah kepalanya, iapun segera meloncat selangkah ke samping, sehingga kapak itu tidak mengenai sasarannya. Demikian
kerasnya Wirasaba menghantamkan senjatanya, maka ketika kapak itu tak mengenai
Mahesa Jenar, terhantamlah batu hitam yang semula dipakai sebagai tempat duduknya.
Dan ternyatalah betapa besar kekuatan Wirasaba. Dalam benturan itu, berderailah bungabunga api. Serta bertebaranlah pecahan-pecahan yang dilemparkan dari luka batu hitam
itu, yang ditimbulkan karena hantaman kapak Wirasaba, meskipun batu itu sangat keras.
Melihat luka di atas batu hitam itu, Mahesa Jenar memuji di dalam hatinya. Tetapi
sementara itu sampailah ia kepuncak permainannya. Ia ingin menaklukkan ketinggian
hati Seruling Gading dengan sebuah pertunjukan yang tidak kalah seramnya. Dalam
waktu yang sekejap itu, segera ia mengatur jalan pernafasannya, memusatkan perhatian
serta kekuatannya di sisi telapak tangan kanannya. Segera disilangkannya tangan kirinya
di muka dada. Satu kakinya diangkat ke depan serta tangan kanannya diangkatnya tinggitinggi.
Sejenak kemudian dengan garangnya ia meloncat ke depan batu itu, dan sebelum
Wirasaba menarik kapaknya, segera Mahesa Jenar menyusul menghantam batu hitam itu
dengan tangannya yang dilambari dengan ilmu Sasra Birawa. Alangkah dahsyat
akibatnya. Batu hitam yang sedemikian kerasnya, yang terluka tak sampai sejengkal oleh
pukulan kapak Wirasaba dengan tenaga raksasanya, pada saat itu, dengan bunyi yang
mengejutkan pecah berserakan karena sisi telapak tangan Mahesa Jenar.
Wirasaba terkejut bukan alang kepalang, sampai tanpa disengaja ia terloncat surut serta
kapaknya terlepas dari tangannya. Tubuhnya menggigil serta jantungnya berdegupan
tanpa dapat dikuasainya. Sampai beberapa saat ia berdiri termangu seperti kehilangan
kesadaran, dan tak mengerti apa yang harus dilakukannya, karena ia telah melihat suatu
kejadian yang sama sekali tak dapat dibayangkan sebelumnya.
Demikianlah sampai beberapa saat Wirasaba berdiri kaku, sampai tiba-tiba terasa
pundaknya ditepuk orang. Dengan geragapan ia memandang kepada orang itu, yang tidak
lain adalah Mahesa Jenar yang membangunkannya sambil berkata.
“Tenanglah hatimu Wirasaba. Itu tadi hanyalah suatu permainan yang jelek.”
Wirasaba masih belum memiliki seluruh kesadarannya, sehingga ia tidak dapat
menjawab kata-kata Mahesa Jenar, kecuali memandangnya saja dengan pandangan yang
berputar-putar kebingungan.
Sampai kembali Mahesa Jenar berkata sambil menuntunnya duduk di atas sebuah
gundukan tanah.
“Wirasaba..., lupakan semua yang telah terjadi. Marilah kita bercakap-cakap sebagai
sahabat yang telah beberapa hari tidak bertemu, bukankah kau dapat banyak berceritera
tentang Ki Asem Gede, Kakang Dalang Mantingan, Kakang Demang Penanggalan serta sahabat-sahabat lain di Pucangan dan Prambanan...? Sesudah itu aku juga banyak sekali
mempunyai ceritera yang barangkali menarik.”
Seperti kanak-kanak yang dibimbing ibunya, Wirasaba sama sekali tak menolak. Ia
menurut saja kemana Mahesa Jenar menuntunnya, serta seperti orang bermimpi pula ia
duduk disamping Mahesa Jenar.
Ketika sampai beberapa saat Wirasaba masih berdiam diri, kembali Mahesa Jenar
bertanya.
“Wirasaba... siapakah yang memberitahukan kepadamu serta Ki Asem Gede bahwa aku
berada di sini?”
Kini lamat-lamat Wirasaba telah dapat mendengar pertanyaan-pertanyaan Mahesa Jenar
serta telah dapat mengerti. Tetapi meskipun demikian ia masih belum juga dapat
menjawab, sebab ia baru mengumpulkan kembali ingatan-ingatan atas kejadian-kejadian
yang baru saja berlalu.
Wirasaba adalah seorang tinggi hati yang dalam perbendaharaan pengalamannya selalu
dipenuhi dengan kejadian-kejadian dahsyat di masa mudanya, serta keunggulan kekuatan
atas hampir terhadap semua lawan-lawannya. Sampai ia dipisahkan dari cara hidupnya itu
oleh racun-racun yang melumpuhkan simpul-simpul saraf kakinya.
Tetapi meskipun dalam keadaan lumpuh, masih saja ia merasa keperkasaannya tidak
berkurang. Sehingga suatu ketika sampailah saatnya kakinya dapat sembuh kembali.
Dengan demikian ia semakin merasa dirinya akan dapat mengulangi peristiwa
kemenangan demi kemenangan yang pernah dicapainya.
Apalagi pada saat itu ia menghadapi suatu peristiwa yang menurut pendapatnya adalah
suatu hinaan bagi sifat kejantanannya. Kehadiran Mahesa Jenar yang telah membebaskan
istrinya dari tangan Samparan, diterimanya dengan pengertian yang salah.
Ketika seseorang yang bernama Sagotra datang kepada mertua Wirasaba dan
mengabarkan bahwa Mahesa Jenar berada di daerah Pliridan, maka maksud Wirasaba
untuk membuat perhitungan tak dapat dikekang lagi, meskipun kakinya baru saja sembuh
dan belum pulih kembali seperti sediakala.
Tetapi tiba-tiba, ketika ia telah dapat bertemu dengan orang yang dicarinya itu,
disaksikannya suatu peristiwa yang bermimpipun belum pernah diangankan. Hanya
dengan telapak tangan saja, batu hitam sebesar itu dapat dihantam hancur.
Bagaimanakah jadinya kalau yang dikenai sisi telapak tangan itu kepalanya?
Menghadapi peristiwa itu, rontoklah sifat tinggi hatinya. Mendadak tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, Wirasaba berdiri serta membungkuk hormat. Siapakah
sebenarnya Tuan yang telah membingungkan perasaanku?
Sambil tersenyum, Mahesa Jenar menunduk hormat pula. Lalu jawabnya, Sebagaimana
kau ketahui, aku adalah Mahesa Jenar, Wirasaba mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi tampaklah bahwa ia sama sekali tidak puas dengan jawaban itu. Sebab orang yang
dapat berbuat demikian pastilah orang yang sudah punya nama.
Karena itu ia memberanikan diri untuk mendesak.
“Tuan, tetapi barangkali Tuan mempunyai sebuah gelar lain yang dapat memperkenalkan
diri Tuan...?”
Mahesa Jenar ragu-ragu sejenak. Adakah untungnya kalau disebutkannya gelar
keprajuritannya? Tetapi kemudian ia berpikir, barangkali dengan demikian ia dapat
mengurangi kepahitan yang baru saja dialami oleh Wirasaba.
Sebagai seorang yang tinggi hati, pastilah Wirasaba akan menderita batin untuk
seterusnya kalau ia sampai dapat dikalahkan oleh orang yang tak bernama. Karena itu,
jawabnya, Wirasaba..., ketahuilah bahwa sebenarnya akulah yang bernama Rangga
Tohjaya.
Mendengar nama itu, membersitlah warna merah di wajah Wirasaba, serta jantungnya
berdegup keras. Pantaslah kalau yang dapat berbuat sedemikian dahsyatnya itu adalah
orang yang bergelar Rangga Tohjaya. Karena itu kembali ia membungkuk hormat.
“Tuan Rangga Tohjaya yang perwira, maafkanlah segala kelancanganku. Karena Tuan
telah berbuat kemurahan hati untuk membebaskan istriku. Maka berdosalah aku, yang
telah berani menuduhkan hal yang sama sekali tidak wajar kepada Tuan. Karena itu aku
serahkan diriku kepada Tuan untuk menerima hukuman apapun yang Tuan kehendaki”
Kata Wirasaba dengan suara yang berat penuh penyesalan, kembali Mahesa Jenar
tersenyum.
“Wirasaba... tidaklah ada hukuman yang pantas aku berikan kepadamu. Sebab wajarlah
kalau seseorang dalam perjalanan hidupnya suatu kali mengalami keterlanjuran. Hanya
pengalaman yang demikian itulah yang dapat menjadi peringatan. Bahwa untuk
selanjutnya kita harus lebih hati-hati dalam tiap-tiap tindakan kita. Tetapi selain dari itu semua, tadi kau katakan bahwa kau mendapat suatu titipan dari seseorang. Apakah itu?”
kata Mahesa Jenar.
Wirasaba menjadi seperti tersadar. Lalu ia menjawab.
“Tuan, aku mendapat titipan dari mertuaku Ki Asem Gede. Sebuah bumbung kecil yang
aku tidak tahu isinya.” Sesudah berkata demikian segera Wirasaba mengambil bumbung dari kantong ikat
pinggangnya dan diserahkannya kepada Mahesa Jenar, segera bumbung itu pun diterima
oleh Mahesa Jenar, serta ketika dilihat isinya, betul bahwa yang di dalamnya adalah biji
bisa ular yang telah dipinjamkan kepada Ki Asem Gede.
”Wirasaba... kata Mahesa Jenar kemudian, tidakkah Ki Asem Gede mengatakan
kepadamu, apakah kasiat benda yang kau bawa ini?”
“Tidak Tuan,” jawab Wirasaba sambil menggelengkan kepalanya.
“Ketahuilah, benda ini adalah biji ular yang sangat keras, yang dapat dipergunakan
sebagai obat pemusnah bisa atau racun yang lain. Bagi perjalanan hidup, benda ini sangat
penting artinya, sebab dengan benda ini pula Ki Asem Gede telah berhasil
menyembuhkan kelumpuhanmu” jelas Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar ini, Wirasaba kembali terkejut. Ditambah pula
dengan perasaan haru yang mendalam. Ternyata atas pertolongan Rangga Tohjaya ini
pula kelumpuhan kakinya itu disembuhkan. Mengingat hal itu semua, semakin dalamlah
penyesalan yang dirasakannya.
Sementara itu Mahesa Jenar telah mengajukan pula beberapa pertanyaan mengenai Ki
Asem Gede. Kademangan Pucangan serta Prambanan, dan banyak hal mengenai orangorang yang pernah dikenalnya. Karena itu sebentar kemudian pembicaraan telah dapat
berlangsung lancar.
Dari pembicaraan itu diketahui, ternyata sepeninggal Mahesa Jenar, Ki Dalang
Mantingan pun segera kembali ke Prambanan. Dan menurut Wirasaba yang mendengar
dari Ki Asem Gede, bahwa orang yang bernama Mantingan itu telah kembali ke
Wanakerta.
Setelah pembicaraan mereka berlangsung beberapa lama, berkisar dari yang satu ke yang
lain, maka berkatalah Mahesa Jenar.
“Nah, Wirasaba, marilah kita anggap bahwa apa yang pernah terjadi itu merupakan suatu
mimpi yang tak menyenangkan. Dan sekarang ternyata kita telah bangun dan melupakan
mimpi itu. Karena itu kembalilah kepada istrimu seperti pada masa kau datang untuk
mengambilnya dahulu.”
“Baiklah Tuan..., aku akan kembali kepada keluargaku, serta mengatakan apa yang
sudah aku lihat” jawab Wirasaba.
“Sekarang, Marilah kita beristirahat. Besok kita akan melakukan tugas kita masingmasing. Kau akan kembali kepada keluargamu, sedang aku masih dinanti oleh suatu
tugas berat.”
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, Wirasaba termenung sejenak. Lalu katanya. “Kalau Tuan masih harus melalukan tugas berat, dapatkah kiranya aku membantu?”
Mahesa Jenar menggelengkan kepalanya.
“Wirasaba..., bagaimanapun beratnya, tetapi aku tak dapat membagi pekerjaan itu
dengan orang lain. Karena itu dengan menyesal aku tak dapat menerima tawaranmu.”
Wirasaba menjadi terdiam. Tugas apakah yang sedang dihadapi Mahesa Jenar? Tetapi
karena Mahesa Jenar sendiri telah menyatakan keberatan atas tawarannya, maka ia pun
tidak berani lagi mendesak.
Sejenak kemudian Mahesa Jenar telah berdiri, sambil melangkah ia berkata.
”Selamat malam Wirasaba, beristirahatlah. Kalau kau mau, tidurlah di dalam goa
bersama aku. Besok kita bisa menuai jagung. Dan sesudah itu kita berangkat dengan
tujuan masing-masing.”
Segera Wirasaba pun berdiri, serta berjalan mengikuti Mahesa Jenar, masuk ke dalam
goa, untuk bersama-sama beristirahat, sebelum esok paginya mereka masing-masing akan
menempuh perjalanan yang cukup berat.
Bagi Mahesa Jenar, adalah sebaik-baiknya segera meninggalkan tempat itu. Sebab
apabila Wadas Gunung beserta kawan-kawannya sampai dapat mencapai sarangnya,
sebelum ia meninggalkan tempat itu, mungkin untuk selama-lamanya ia tidak akan lagi
dapat pergi. Karena tidaklah mustahil kalau Pasingsingan sendiri akan melakukan
pembalasan.
Ketika ayam hutan pada fajar pagi harinya mulai berkokok, Mahesa Jenar pun segera
bangun. Wirasaba bangun pula. Sejenak kemudian ketika sudah mulai terang tanah,
keduanya berkemas.
Tetapi sebelum mereka pergi, Mahesa Jenar bersama Wirasaba memerlukan memenuhi
pesan Ki Ageng Pandan Alas untuk menuai jagung di belakang bukit kapur, serta
menyimpannya di dalam goa. Mungkin pada suatu saat Ki Ageng Pandan Alas akan
kembali lagi ke goa itu, atau salah satu dari mereka pada suatu kali akan mengunjungi
tempat itu.
Ketika semuanya sudah selesai, maka yang pertama-tama siap untuk berangkat adalah
Wirasaba. Atas permintaan Mahesa Jenar, Wirasaba membawa bekal beberapa ontong
jagung.
Sesudah sekali lagi Wirasaba minta maaf serta menyatakan terima kasihnya, maka
segera ia pun berangkat ke timur, kembali kepada keluarganya dengan perasaan yang
seolah-olah baru sama sekali. Sepeninggal Wirasaba, segera Mahesa Jenar pun ingat akan tugasnya. Maka tanpa disengaja, ia berdiri di atas sebuah gundukan tanah sambil memandang ke arah barat, ke arah hutan Mentaok yang pekat oleh pepohonan liar, dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Pohon-pohon raksasa serta pohon-pohon yang membelit.
Meskipun masih agak jauh, tetapi lamat-lamat hutan yang liar itu telah tampak sebagai
suatu tabir yang di belakangnya tersembunyi banyak sekali rahasia dan bahaya.
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak pernah takut untuk
menghadapi bahaya yang bagaimanapun besar. Tetapi sebagai seorang prajurit, ia bisa
memperhitungkan tindakan-tindakannya. Apa yang harus diusahakannya sekarang adalah
membebaskan keris Nagasasra dan Sabuk Inten dari tangan Sima Rodra. Sebelum itu
berhasil, harus dihindari kemungkinan-kemungkinan yang akan menggagalkan usahanya.
Bahaya yang paling besar yang dihadapinya, apabila ia menempuh hutan itu adalah
kemungkinan bertemu dengan Pasingsingan. Sebab bila ia bertemu dengan orang itu,
pastilah ia tidak akan dapat melepaskan diri. Bahkan tidak mungkin baginya untuk dapat
bertahan menghadapi tokoh yang terkenal itu.
Karena itu timbul pikiran dalam diri Mahesa Jenar untuk menempuh jalan lain. Ia bisa
pula mengambil jalan utara. Lewat hutan Turi di kaki Gunung Merapi. Lalu sesudah itu
akan dilaluinya lapangan batu-batu yang luas. Konon daerah ini telah pernah dilanda
banjir batu yang dimuntahkan dari Gunung Merapi, sehingga merupakan daerah yang
sama sekali tak dapat ditumbuhi pepohonan. Karena itu daerah ini biasa disebut Ngentakentak.
Dari sana akan sampailah perjalanan itu ke daerah hutan di lembah antara Gunung
Merapi dan Merbabu. Dan apabila ia mendaki sedikit lambung Gunung Merbabu itu,
akan sampailah ia di daerah Parangrantunan. Dari sana ia harus turun dan berjalan ke
barat agak ke selatan. Meskipun perjalanan melewati daerah ini pun harus menerobos
rimba-rimba yang tak kalah dahsyatnya dari alas Mentaok, tetapi kemungkinan untuk
bertemu dengan Pasingsingan adalah tipis sekali.
Setelah mempertimbangkan masak-masak, akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan
untuk mengambil jalan utara, meskipun daerahnya agak lebih sulit. Kecuali hutan-hutan
yang cukup lebat, juga harus didaki tebing-tebing yang curam serta harus dituruni
lembah-lembah yang terjal.
Setelah tetap hatinya, maka dengan berbekal beberapa ontong jagung , Mahesa Jenar
segera berangkat. Tidak ke barat, tetapi ke utara, untuk menghindari kemungkinan
rintangan-rintangan yang akan dapat menggagalkan usahanya.
Saat itu, matahari telah cukup tinggi. Sinarnya telah terasa hangat mengenai tubuh.
Tetapi meskipun demikian, burung liar masih bersiul ramai, seolah-olah menyatakan
ucapan selamat jalan kepada Mahesa Jenar yang sedang memulai kembali perjalanannya
untuk menemukan pusaka yang lenyap dari perbendaharaan Kraton Demak. Namun demikian pikirannya masih saja terganggu oleh kata-kata Samparan, bahwa yang
sedang diperebutkan oleh golongan hitam itu adalah keturunannya saja dari keris
Nagasasra dan Sabuk Inten, jadi bukan keris aslinya. Kalau demikian, bila Sima Rodra
benar-benar menyimpan keris itu, adalah hanya keturunannya saja, ataukah aslinya
seperti yang digambarkan oleh Ki Ageng Pandan Alas...?
Dua tokoh ternama ternyata mempunyai pendapat yang berbeda tentang Keris Nagasasra
dan Sabuk Inten. Pasingsingan menganggap bahwa yang ada di luar Kraton itu adalah
keturunannya saja, sehingga ia menyuruh Lawa Ijo untuk mencari pusaka aslinya.
Menilik hal tersebut ternyata Pasingsingan tidak mengetahui bahwa pusaka aslinya itu
sedang lenyap dari perbendaharaan Kraton.
Demikianlah dengan beberapa pemikiran dan persoalan Mahesa Jenar berjalan dengan
cepatnya, dengan satu harapan untuk dapat segera sampai ke tempat tujuannya. Menurut
perhitungannya, apabila tidak ada suatu halangan, ia akan sampai ke tujuan kira-kira lima
hari empat malam.
Tidak banyak hal-hal yang dialami Mahesa Jenar dalam perjalanannya, kecuali
kesulitan-kesulitan melawan alam. Tetapi itu pun satu demi satu dapat diatasinya. Dan
hal-hal yang demikian bagi Mahesa Jenar bukanlah merupakan rintangan dibandingkan
dengan orang yang bernama Pasingsingan.
Apabila malam tiba, Mahesa Jenar selalu mencari tempat untuk tidur, di atas cabangcabang pohon untuk menghindari gangguan-gangguan binatang buas. Sedang di siang
hari, ia berjalan sejak matahari terbit sampai matahari terbenam.
Maka pada hari ketiga, Mahesa Jenar telah dapat meninggalkan daerah-daerah hutan di
lereng Gunung Merbabu, untuk segera sampai ke Pangrantunan.
Tetapi demikian ia sampai ke daerah persawahan Pangrantunan, hatinya segera
dikejutkan oleh sebuah panji-panji yang terpancang dengan megahnya, bergambar
harimau hitam yang sedang mengaum hebat.
Harimau hitam itu digambar di atas dasar merah darah, pada kain yang dianyam dari
serat kulit kayu yang dikemplong halus.
Melihat panji-panji itu segera Mahesa Jenar dapat menebak, bahwa panji-panji itu adalah
tanda-tanda yang ditinggalkan oleh Gerombolan Sima Rodra. Tetapi apakah
kepentingannya, panji-panji itu dipasang di tempat ini? Itulah yang menjadi pertanyaan.
Apalagi di daerah Pangrantunan.
Menurut keterangan gurunya, Pangrantunan pernah menjadi pusat percaturan para tokoh
sakti. Sebab di daerah ini beberapa puluh tahun yang lalu pernah diadakan semacam
pertemuan dari beberapa tokoh sakti yang saat ini pada umumnya sudah tidak pernah
menampakkan diri lagi. Diantara beberapa tokoh yang pernah mengadakan pertemuan itu adalah Almarhum Ujung Kulon, Pasingsingan, Titis Anganten serta Ki Ageng Pandan Alas. Adapun yang
menjadi tuan rumah dalam pertemuan itu adalah Ki Ageng Sora Dipayana, yang pada
saat itu menjadi kepala daerah Perdikan Pangrantunan.
Sekarang, di bekas daerah yang terkenal itu berkibar panji-panji sebuah gerombolan dari
golongan hitam. Ini adalah suatu hal yang aneh. Tidak adakah seorangpun murid Ki
Ageng Sora Dipayana yang dapat mempertahankan kebesaran namanya...? Ataukah
memang Ki Ageng Sora Dipayana tidak mengambil seorang murid pun...? Atau
barangkali gerombolan Sima Rodra ini sudah merasa demikian kuatnya sehingga berani
meremehkan kebesaran Ki Ageng Sora Dipayana...?
Hal itu hanyalah mungkin apabila gerombolan Sima Rodra ini seperti juga gerombolan
Lawa Ijo, yang didalangi oleh salah seorang dari tokoh-tokoh golongan hitam.
Tetapi kemungkinan ini adalah tipis sekali. Keberadaan Pasingsingan dalam kalangan
hitam telah cukup mengejutkan, sehingga Ki Ageng Pandan Alas sendiri perlu
membayanginya, untuk membuktikan kebenarannya. Apalagi tokoh-tokoh lain, yang
tidak seaneh Pasingsingan, pastilah akan semakin menggemparkan.
Karena hal-hal yang mencurigakan itu, maka Mahesa Jenar harus berhati-hati untuk
tidak mengalami hal-hal yang merugikan dirinya serta tugasnya. Dengan penuh
kewaspadaan ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati desa yang berada di
hadapannya, yang menurut ingatannya adalah desa Pangrantunan.
Dahulu, saat Mahesa Jenar belum lama berguru, pernah diajak gurunya bersama sama
dengan Kebo Kenanga menjelajahi hampir seluruh pulau Jawa bagian tengah. Dan pada
suatu kali ia pernah diajak pula mampir ke Pangrantunan. Sayang pada saat itu Ki Ageng
Sora Dipayana sedang tidak di rumah, sehingga mereka tidak dapat bertemu. Meskipun
demikian, oleh gurunya banyak yang diceriterakan tentang orang ini. Tentang
keistimewaan-keistimewaannya, serta tentang budinya yang luhur.
Ketika Mahesa Jenar telah mendekati desa itu, maka kesan pertama-tama didapatnya
adalah, daerah ini telah mengalami banyak kemunduran. Dinding-dinding desa sudah
tidak serapi beberapa tahun yang lalu. Saluran-saluran air juga telah tidak teratur, bahkan
banyak parit yang kering. Maka semakin nyatalah bagi Mahesa Jenar bahwa sepeninggal
Ki Ageng Sora Dipayana, tak ada orang lain, baik keturunannya maupun muridnya yang
dapat melanjutkan memelihara kebesaran nama daerah ini.
Rupanya Ki Ageng Sora Dipayana setelah memutuskan menarik diri dari pergaulan,
sudah tidak menaruh perhatian lagi kepada daerahnya.
Maka, ketika Mahesa Jenar melihat seorang petani tua sedang mencangkul tanah yang
tampaknya keras dan tandus, ia memerlukan mendekatinya. Barangkali darinya dapat
didengar ceritera tentang sebab-sebab kemunduran daerah ini, serta yang penting panji-panji yang dipancangkan oleh Sima Rodra itu.
Melihat orang asing mendatanginya, maka petani tua itu pun berhenti mencangkul, serta
mengawasi Mahesa Jenar dengan saksama. Meskipun pandangan matanya tidak
memancarkan kecurigaan, tetapi jelas mengandung pertanyaan-pertanyaan.
Setelah sampai di hadapan orang itu, segera Mahesa Jenar membungkuk hormat. Orang
itu ternyata juga orang yang ramah dan sopan.
Karena itu sambil tertawa ia pun membungkuk hormat. Malahan sebelum Mahesa Jenar
bertanya, ia sudah mendahuluinya.
“Selamat datang di daerah ini Anakmas, rupa-rupanya Anakmas memerlukan
pertolonganku?”
Mendapat sambutan yang demikian ramahnya serta tak diduga-duga, Mahesa Jenar
terperanjat. Maka cepat-cepat dijawabnya.
“Mudah-mudahan kedatanganku tidak mengganggu pekerjaan Bapak.”
“Tidak... tidak... sama sekali tidak. Apakah yang dapat aku kerjakan untuk Anakmas?”
sahut orang itu.
“Aku ingin mendapat beberapa keterangan mengenai daerah ini,” jawab Mahesa Jenar.
Orang Tua itu mengangguk-angguk kecil. Cangkulnya lalu diletakkannya. Katanya
kemudian.
“Baiklah Anakmas, kalau saja aku mengetahui, pastilah aku akan menjawabnya.
Banyakkah keterangan-keterangan yang Anakmas perlukan?”
“Tidak, Bapak... hanya sekedar sebagai petunjuk jalan,” jawab Mahesa Jenar.
“Keterangan mengenai apakah itu?” tanya orang tua itu.
“Bapak...” sambung Mahesa Jenar, “Apakah Bapak mengetahui mengenai panji-panji
yang terpancang di tepi desa itu?”
Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, tiba-tiba wajahnya berubah. Tampaklah
kecemasan membayang di wajahnya.
“Keterangan mengenai bendera itu agak panjang Anakmas. Kalau Anakmas sudi,
marilah mampir ke pondokku sebentar. Barangkali aku dapat menyuguhkan sesuatu,
walaupun hanya air kelapa sebagai penawar haus. Serta barangkali sedikit keterangan
mengenai panji-panji merah itu.” Mahesa Jenar sulit untuk menolak ajakan orang tua yang nampaknya sangat terbuka hatinya. Ditambah lagi dengan keinginannya mendengar keterangan-keterangan tentang
panji-panji yang bergambar harimau itu. Karena itu tidak ada jalan lain kecuali dengan
ucapan terima kasih ia menerima ajakannya.
Ternyata rumah orang tua itu tidaklah begitu jauh. Hanya berjarak beberapa tonggak saja
dari sawahnya yang tampaknya tidak begitu subur. Rumahnya tidak lebih dari sebuah
gubug yang sudah agak miring, meskipun tampaknya masih agak baru, serta beratapkan
daun ilalang.
Dengan ramah pula dipersilahkan Mahesa Jenar masuk serta duduk di atas balai-balai
bambu satu- satunya, di samping sebuah paga dan tlundhak tempat lampu.
“Duduklah Anakmas, aku ambilkan untuk Anakmas buah kelapa muda,” kata orang itu.
“Terima kasih, pak. Aku senang sekali mendapat sebuah kelapa muda. Tetapi biarlah aku
sendiri memanjatnya. Apakah Bapak yang sudah setua ini masih dapat memanjat pohon
kelapa?” jawab Mahesa Jenar.
Orang itu tersenyum, lalu jawabnya.
“Meskipun aku sudah tua, tetapi karena tak ada orang lain di dalam rumah ini, jadi aku
masih harus mengerjakan apa-apa sendiri. Juga memanjat kelapa. Malahan tidak saja
mengambil buahnya, bahkan aku juga nderes beberapa pohon.”
“Bapak masih nderes juga?” tanya Mahesa Jenar keheranan.
Orang tua itu mengangguk. Dan karena itu Mahesa Jenar terpaksa percaya bahwa orang
tua itu masih mampu memanjat pohon kelapa. Karena itu ia tidak lagi mencoba
menghalangi orang itu memanjat pohon kelapa.
Sejenak kemudian orang itu sudah kembali masuk rumahnya, dengan membawa dua
buah kelapa muda yang sudah diparas serta dilubangi, langsung disuguhkan kepada
Mahesa Jenar. Mahesa Jenar yang baru saja berjalan di bawah terik matahari, menerima
kelapa muda itu dengan gembira serta berterima kasih, sehingga dengan sekali minum
habislah isi dari sebuah kelapa muda.
Maka setelah Mahesa Jenar berisitirahat sejenak, mulailah ia menanyakan kembali
tentang panji-panji merah bergambar harimau itu.
“Panji-panji itu adalah panji-panji dari sebuah gerombolan yang dikepalai oleh suamiistri yang menamakan dirinya Sima Rodra.” Orangtua itu mulai bercerita.
“Desa-desa yang diberinya panji-panji semacam itu, adalah pertanda bahwa desa itu
telah menjadi daerah yang setiap bulan harus menyediakan pajak bahan makanan untuk
gerombolan itu. Demikian juga daerah ini, yang baru menjadi daerah perbekalan Sima Rodra sejak dua bulan yang lalu. Setiap bulan, mereka datang untuk memasuki setiap
rumah yang ada”
Mahesa Jenar mendengarkan cerita orang tua itu dengan penuh keheranan. Sampai
sekian jauh tindakan Sima Rodra di daerah itu tanpa mendapat gangguan apapun.
“Bapak... apakah Sima Rodra menentukan apakah yang harus diserahkan oleh masingmasing kepadanya?” Mahesa Jenar akhirnya bertanya kepada orangtua itu.
“Tidak. Mereka tidak menentukan bahan apa yang harus diserahkan, tetapi asal saja
mereka menyediakan. Mungkin beras, kelapa, jagung dan sebagainya” jawab orang itu.
“Jadi, tidakkah penduduk di daerah ini mendapat perlindungan dari siapapun?” tanya
Mahesa Jenar selanjutnya.
Orang tua itu menghela nafas dalam-dalam. Wajahnya yang sudah berkerut-kerut karena
garis-garis umur itu, tampak semakin berkerut.
“Anakmas, benar apa yang Anakmas katakan,” jawab orang itu. Memang, penduduk di
daerah ini seolah-olah tidak mendapat suatu perlindungan dari siapapun. Sebab daerah ini
adalah daerah perdikan, yang sebenarnya segala sesuatu, seluk-beluk pemerintahan dan
keamanan serta kesejahteraan rakyatnya telah bulat-bulat diserahkan kepada daerah ini
sendiri. Tetapi pimpinan daerah perdikan yang sekarang ini rupanya tidak begitu
menghiraukan keadaan rakyatnya.
“Bukankah daerah ini mula-mula dipimpin oleh seorang sakti serta bijaksana yang
bernama Ki Ageng Sora Dipayana?” sela Mahesa Jenar.
“Ya,” jawab orang tua itu.
“Tetapi Ki Ageng itu telah lama mengundurkan diri dari pemerintahan. Daerah
Pangrantunan ini sepeninggalnya dibagi menjadi dua bagian, dan masing-masing
diserahkan kepada dua orang putranya. Maksudnya jelas, supaya tidak ada rebutan
diantara mereka. Tetapi akibatnya adalah seperti sekarang ini. Daerah Utara yang
dipimpin oleh Ki Ageng Gajah Sora, yang berkedudukan di Banyu Biru mengalami
kemajuan yang pesat. Tetapi daerah ini, yang dipimpin oleh adiknya, Ki Ageng Lembu
Sora, dan berkedudukan di Pamingit, mengalami kemunduran dalam hal kesejahteraan
rakyatnya. Pangrantunan, yang pernah menjadi pusat pemerintahan, sekarang tidak lebih
dari sebuah desa kecil yang terpencil dilambung Gunung Merbabu ini,” jelas orangtua itu,
melanjutkan ceritanya.
Tampaklah wajah orang tua itu semakin bersedih. Rupanya ia sedang mengenang masa
jaya dari desanya ini.
“Bapak... apakah Bapak mengalami masa-masa pemerintahan Ki Ageng Sora
Dipayana?” tanya Mahesa Jenar kemudian. Orang itu tampak ragu-ragu sebentar. Lalu akhirnya ia menggelengkan kepalanya.
“Aku di sini adalah orang baru. Tetapi sebelum aku tinggal di tempat ini aku sudah
banyak mendengar ceritera tentang Ki Ageng Sora Dipayana,” katanya.
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Jadi jelaslah bahwa rabaannya
mengenai kemunduran daerah ini adalah benar. Tetapi disamping itu ia mempunyai kesan
yang aneh terhadap orang tua itu. Menilik caranya bicara, pastilah ia bukan orang biasa
seperti yang tampak pada tata lahirnya, yang tidak lebih dari seorang petani miskin.
“Anakmas...” orangtua itu melanjutkan, “pada hari ini, kebetulan adalah hari pungutan
pajak. Karena itu, tak seorang pun yang meninggalkan rumahnya. Mereka menanti
dengan setia, kedatangan para pemungut pajak. Dan karena itu pulalah maka tadi tak
seorang pun yang Anakmas jumpai di sawah, kecuali aku.”
“Kenapa Bapak tidak berbuat seperti orang lain?” desak Mahesa Jenar. Orang itu
menggelengkan kepala.
“Aku tak mau,” jawabnya.
Belum lagi mereka habis bercakap-cakap, tiba-tiba terdengarlah derap beberapa ekor
kuda. Orang tua itu tampak agak terkejut.
“Anakmas, itulah mereka datang. Pergilah ke belakang rumah ini supaya Anakmas tidak
terlibat,” kata orang itu.


No comments:
Post a Comment