Lazada Harga Termurah

Travel the world

Berita Nasional

Berita International

Hidup Sehat

Jualan

Teknologi

Hadits

LucuDikit

Hikayat Islam

Hikayat Nusantara

Post Page Advertisement [Top]

 

SH. Mintarja

Mahesa Jenar ingin membantah, sebab ia sama sekali tidak dapat membenarkan kezaliman yang demikian itu berlangsung terus. Tetapi sebelum ia sempat berkata, dengan penuh wibawa orang itu mendesaknya. Entahlah pengaruh apa yang menusuk perasaan Mahesa Jenar, sehingga ia tidak dapat membantah lagi.
 Sebentar kemudian benarlah apa yang dikatakan. Beberapa orang yang dipimpin oleh seorang yang bertubuh tegap tinggi serta berambut hampir di seluruh mukanya, datang dan langsung memasuki rumah orang tua itu. Tanpa berkata apa-apa orang tua itu dengan ganasnya diseret keluar dan dipukuli dengan cemeti semau-maunya.
 “Panggil seluruh penduduk desa ini...!” teriaknya kemudian.
 “Suruhlah mereka menyaksikan contoh bagi mereka yang mau sengaja menghindari kedatangan kami.”
 Sesaat kemudian anak buahnya telah berhasil memaksa penduduk desa itu berkumpul serta menyaksikan pertunjukan yang mengerikan. Semua penduduk tidak terkecuali, tuamuda, laki-laki dan perempuan, dengan wajah yang ketakutan terpaksa berkumpul dihalaman rumah petani tua itu.  Beberapa orang perempuan menutup mukanya dengan kedua belah tangannya, sedang beberapa orang laki-laki hanya bergumam.
 “Kasihan orang tua itu, kenapa ia tidak memenuhi permintaan orang-orang itu saja?
Bukankah dua-tiga butir kelapa telah dapat membebaskannya dari derita yang sedemikian?”
 Sementara itu orang yang tinggi besar itu berhenti memukul. Lalu dengan lantangnya ia
berkata.
 “Lihatlah, para penduduk daerah Pengrantunan. Inilah sebuah contoh dari seorang yang dengan sengaja membantah peraturan kami. Pada waktu kami datang untuk pertama kalinya pagi tadi, ia telah menghindarkan diri dengan meninggalkan rumahnya. Untunglah bahwa ketika kami datang untuk kedua kalinya ia sudah ada di dalam rumahnya, sehingga aku dapat memaafkannya untuk tidak membakar habis rumahnya serta merampas semua miliknya. Tetapi meskipun demikian kami anggap perlu untuk sedikit memberi pelajaran kepadanya.”
 Selesai mengucapkan kata-kata itu, kembali cemetinya terayun-ayun di udara serta dengan derasnya memukul-mukul orang tua itu. Segera beberapa jalur garis-garis merah darah membekas di punggung yang sudah berkerut-kerut serta hampir tak berdaging itu.
 Kembali beberapa orang memejamkan matanya. Apalagi ketika orang tinggi besar itu semakin keras memukul, terdengarlah jeritan-jeritan tertahan keluar dari mulut orang tua yang disiksa dengan ganasnya itu.  Tetapi meskipun demikian, meskipun ada kesan-kesan kesetia kawanan diantara penduduk, ternyata sama sekali tidak berani berbuat sesuatu. Beberapa ratus orang lakilaki yang tampaknya juga tegap-tegap dan kuat, tak dapat berbuat apa-apa melihat salah seorang warga desanya disiksa di hadapan matanya oleh tidak lebih dari 10 orang.
 Ini adalah suatu hal yang aneh. Hanya dalam waktu berapa tahun saja, desa ini tidak hanya mengalami kemunduran kemakmuran serta pemerintahan tetapi juga mengalami kemunduran jiwa yang sangat mengejutkan. Suatu daerah dimana seorang sakti yang bernama Sora Dipayana tinggal dan memerintah, kini mengalami suatu penghinaan yang sedemikian besarnya tanpa perlawanan sedikit pun.
 Mahesa Jenar yang kemudian menggabungkan diri dengan para penduduk setempat menyaksikan semua itu dengan darah yang bergolak. Ia tidak bisa membiarkan kelaliman-kelaliman serta kemaksiatan semacam itu berlangsung. Tetapi meskipun demikian ia mempertimbangkan juga beberapa kemungkinan. Sayang bahwa saat itu ia masih belum bisa menjajaki kekuatan Sima Rodra yang sebenarnya. Ia juga mempunyai dugaan bahwa apabila terjadi sesuatu dengan orang-orangnya di suatu daerah pasti Sima Rodra tidak akan tinggal diam. Mungkin daerah itu akan digilasnya habis, serta dijadikan lautan api. Karena itu Mahesa Jenar jadi bimbang  Ancaman itu pasti merupakan salah satu sebab kenapa tak seorangpun yang berani menentang peraturan Sima Rodra, kecuali malahan seorang tua yang sudah putih seluruh rambutnya. Juga merupakan suatu sebab kenapa hanya dengan 10 orang, mereka berani melakukan tugasnya, bahkan berani melakukan siksaan yang sedemikian kejamnya.
 Cemeti orang berewok yang gagah itu masih tetap memukul-mukul dengan bunyi yang menyentak-nyentak. Juga dari mulut orangnya sendiri pun tak habis-habisnya terdengar caci maki dan umpatan-umpatan yang kotor. Melihat semuanya itu, hati Mahesa Jenar semakin tidak tahan lagi. Tetapi hanya karena perhitungan keselamatan penduduk setempat, ia tidak segera bertindak. Ia telah memutuskan untuk mengikuti gerombolan itu sampai jauh keluar desa. Di sanalah ia akan memuntahkan segala kemauan hatinya, kemarahannya serta kebenciannya. Sebab dalam wawasannya, ke 10 orang itu tidaklah lebih dari kelinci-kelinci yang sama sekali tak bekerja, kecuali hanya berteriak-teriak saja.
 Tetapi tiba-tiba hatinya menjadi tak tahan lagi, ketika ia melihat orang tua yang
kesakitan itu dengan menangis-nangis memeluk kaki orang yang tinggi besar dan sedang
memukulinya itu, minta untuk dimaafkan. Tetapi apa yang didapatnya, adalah tidak saja
pukulan-pukulan cemeti, juga kakinya yang besar-besar itu, yang sedang dipeluk
demikian eratnya, dengan sekuat tenaga dikibaskan, sehingga orang tua yang malang itu
terpelanting.
 Pada saat itu hampir saja Mahesa Jenar meloncat maju. Tetapi, tiba-tiba terasa
punggungnya ditepuk orang dengan mengandung tenaga dalam yang luar biasa besarnya.
Mendapat tepukan yang bertenaga luar biasa itu, Mahesa Jenar sangat terkejut. Apalagi
ketika ia menoleh dan melihat orang yang menepuknya. Malahan hampir saja ia
berteriak, kalau saja orang itu tidak mendahuluinya berkata.
 “Sst, jangan sebut namaku, panggil aku dengan sebutan lain.”
 Orang itu tidak lain adalah Ki Ageng Pandan Alas. Sehingga demikian terkejutnya
Mahesa Jenar menjawab sambil tergagap,
 “Baik Ki Ageng....”
 “Sst...,” kembali Ki Ageng Pandan Alas berdesis, sambil tersenyum geli.
 “Jangan kau sebut itu.”
 “Ach...,” jawab Mahesa Jenar. “Aku menjadi bingung atas kehadiran Tuan yang tibatiba.”
 “Kau akan menolong orang itu?” tanya Ki Ageng Pandan Alas masih berbisik.  “Ya, aku tidak sampai hati melihat siksaan yang sama sekali tak berperikemanusiaan
itu,” jawab Mahesa Jenar.
 Ki Ageng Pandan Alas tersenyum dengan wajah Ki Ardi yang jenaka. Kemudian
katanya,
 “Seharusnya kau berpikir sebaik-baiknya.”
 Mendengar keterangan Ki Ageng Pandan Alas, Mahesa Jenar teringat akan kecurigaan
atas pembicaraan orang tua itu. Maka jawabnya.
 “Memang, Tuan, aku merasakan beberapa keanehan dari orang itu.”
 “Nah lihatlah apa yang akan terjadi,” potong Ki Ageng Pandan Alas, sambil menunjuk
kepada orang tinggi besar yang sedang memukuli petani miskin itu.
 Benarlah bahwa sejenak kemudian terjadilah suatu hal yang sama sekali tak terdugaduga. Tiba-tiba saja orang yang tinggi besar itu tubuhnya menjadi kejang. Wajahnya
berubah menjadi pucat. Beberapa kali ia meneriakkan kata-kata yang tak begitu jelas, dan
hanya dalam waktu yang singkat ia terjatuh tak tahu diri.
 Segera terjadilah suatu kegemparan. Beberapa orang anak buahnya segera berloncatan
untuk memberikan pertolongan, tetapi usaha itu sia-sia. Orang yang tinggi besar dan
berewok itu ternyata sudah tidak bernapas lagi.
 Melihat kejadian itu, salah seorang anggota gerombolan itu menjadi marah sekali. Ia pun
bertubuh tinggi besar, tetapi tidak berewok. Rambutnya bahkan hanya tumbuh jarangjarang. Segera ia meloncat maju dengan wajah yang merah padam. Ia sebenarnya tidak
tahu apakah sebabnya maka kawannya mengalami nasib yang demikian.
 Tetapi karena yang menjadi sebab menurut pikirannya adalah orang tua yang tak mau
mentaati peraturan itu, maka kepadanyalah kemarahannya akan ditumpahkan.
 Melihat sikap yang garang sekali, orang tua itu tampaknya menjadi semakin ketakutan.
Maka dengan gemetar segera iapun berlutut dan mencium kaki orang yang sedang marah
itu. Tetapi juga orang itu sama sekali tak menghiraukan. Bahkan sedemikian marahnya
karena ia telah kehilangan pemimpinnya, ia bermaksud membunuh saja orang tua itu.
Maka dengan menggeram hebat sekali ia mencabut golok yang terselip dipinggangnya.
 Tetapi belum lagi ia berhasil mencabut golok itu, iapun tiba-tiba menjadi kejang-kejang
pula, dan tak lama kemudian iapun jatuh tak sadarkan diri, untuk kemudian
menghembuskan nafasnya yang penghabisan.
 Melihat hal itu, semakin gemparlah mereka yang menyaksikan. Terutama para
gerombolan Sima Rodra. Ke-8 orang sisanya, bagaimanapun marahnya, tak seorang pun
lagi yang berani berbuat sesuatu atas orang tua itu.  Sebab mereka mengira bahwa orang tua itulah yang menyebabkan kematian kedua orang
kawannya. Maka ketika salah seorang dari mereka dengan perasaan takut meloncat ke
atas kudanya, yang lain pun berbuat demikian.
 Ketika mereka akan pergi, salah seorang dari mereka sempat pula menakut-nakuti
penduduk.
 “Kamu semua telah mencoba melawan kami. Baiklah, lain kali kami akan datang, dan
membunuh kamu semua sampai ke anak cucu.”
 Setelah mengucapkan kata-kata itu, segera mereka melarikan kuda mereka kencangkencang.
 Sepeninggal mereka, penduduk yang menyaksikan peristiwa itu semua, untuk sementara
tertegun kaku. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Tetapi tiba-tiba mereka
sadar akan arti ancaman gerombolan Sima Rodra itu bagi keluarga mereka masingmasing.
 Kalau benar hal itu akan mereka lakukan, pastilah mereka akan ludes tanpa ada yang
melanjutkan nama serta garis keluarga masing-masing.
 Mengingat hal yang demikian itu, penduduk Pangrantunan segera menjadi ketakutan.
Takut pada pembalasan yang bakal datang, karena seorang tua yang belum lama tinggal
di tempat itu tidak mau memenuhi permintaan gerombolan Sima Rodra untuk
menyerahkan dua tiga butir kelapa.
 Kalau mula-mula mereka merasa kasihan kepada orang tua itu, kini tiba-tiba berubah
menjadi perasaan marah. Alangkah kikirnya orang tua itu. Serta karena kekikirannya
maka seluruh penduduk akan mengalami akibatnya. Meskipun andaikata dua orang
anggota gerombolan itu mati karena kebetulan saja, tetapi orang tua yang kikir itulah
yang menjadi sebabnya. Apalagi kalau orang tua itu sengaja meracun atau menyihirnya.
 Dalam pada itu tiba-tiba penduduk yang bertubuh pendek ketat penuh dengan otot-otot
yang menonjol, berteriak dengan kerasnya.
 “Hai, saudara-saudara penduduk desa ini. Siapakah sebenarnya yang bersalah andaikata
gerombolan Sima Rodra marah kepada kita?”
 Maka terdengarlah jawaban dari segenap penjuru.
 “Orang tua itu, orang tua yang kikir itu.”
 Orang tua yang tadi dipukuli gerombolan Sima Rodra itu menjadi bertambah gemetar.
 “Saudara-saudaraku, apakah salahku terhadap desa ini. Aku telah menerima hukumanku karena aku tidak mau membayar pajak bahan makanan kepada gerombolan Sima Rodra.
Lalu apa lagi kesalahanku terhadap kalian?”
 “Jangan banyak omong,” bentak orang yang tinggi kekurus-kurusan.
 “Sejak kau tinggal di desa ini bulan yang lalu, kau hanya mendatangkan bencana saja.
Sekarang kau mempergunakan ilmu sihir atau senjata-senjata racun untuk membunuh
anggota gerombolan Sima Rodra itu, tanpa mempertimbangkan akibatnya. Bukankah kau
tadi mendengar sendiri ancaman mereka terhadap desa kita?”
 Orang tua itu seolah-olah menjadi bertambah ketakutan, seperti seekor tikus yang sudah
berada di dalam cengkeraman kucing yang sedang marah.
 Sementara semua peristiwa itu berlangsung, Mahesa Jenar yang tidak mengerti terhadap
semua yang terjadi, menjadi diam kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan
terhadap orang tua itu. Apakah ia harus menolong ataukah dibiarkannya saja menjadi
korban kemarahan penduduk.
 Ki Ageng Pandan Alas dapat meraba perasaan Mahesa Jenar, maka katanya.
 “Mahesa Jenar, jangan kau ributkan orang tua itu. Ia cukup mampu, bahkan
berlebihanlah kemampuannya untuk menjaga diri.”
 “Tuan...,” tanya Mahesa Jenar, “permainan apakah yang sedang dilakukan oleh orang tua
itu sebenarnya? Adakah orang itu pula yang telah melakukan pembunuhan terhadap
kedua orang anggota gerombolan itu?”
 “Ya....,” sahut Ki Ageng Pandan Alas. “Tangan orang itu adalah tangan maut apabila
dikehendakinya. Dengan sekali tekan pada urat-urat tertentu, seseorang tidak akan dapat
hidup lebih dari lima tarikan nafas lagi.”
 Mahesa Jenar mendengar keterangan itu dengan penuh keheranan. Alangkah saktinya.
Sehingga akhirnya ia bertanya.
 “Tuan..., guruku, termasuk Tuan yang mempunyai ciri Keris Sigar Penjalin, serta yang
akhir-akhir ini dengan sebuah tembang Dandanggula yang merdu.”
 “Ah..!” potong Pandan Alas, “kau senang pada lagu itu?”
 “Tentu... tentu,” sahut Mahesa Jenar, “tetapi siapakah orang tua itu, yang sama sekali
tidak mempergunakan ciri-ciri khusus?”
 “Aneh kau Mahesa Jenar,” jawab Ki Ageng Pandan Alas. “Kalau ciri-ciri khusus itu
ditunjukkan pada setiap saat dan tempat maka ia akan kehilangan arti kekhususannya.
Kecuali hanya dalam saat-saat yang perlu dan penting. Tentang orang tua itupun
demikian pula. Ia menganggap sama sekali tidak perlu untuk memperkenalkan dirinya di hadapan penduduk ini.”
 “Tetapi siapakah sebenarnya orang itu?” desak Mahesa Jenar tidak sabar.
 Ki Ageng Pandan Alas tersenyum lucu, tepat seperti pada saat Sagotra mendesaknya
untuk melanjutkan ceritera tentang dua ekor naga yang bertempur melawan orang bintang
kemukus.
 “Mahesa Jenar... sebenarnya kau harus dapat menerka. Siapakah yang paling
berkepentingan dengan daerah ini? Beberapa tokoh sakti yang kau kenal? Siapakah
diantara mereka yang paling tersinggung apabila daerah ini sampai dinodai? Aku, yang
tidak begitu berkepentingan, memerlukan untuk membuktikan kebenaran berita yang aku
dengar bahwa daerah ini telah merupakan daerah yang harus menyerahkan bulu bekti
kepada salah satu gerombolan aliran hitam. Bagaimanapun aku merasa tidak rela atas hal
yang berlaku itu, sebab aku pernah ikut serta menikmati kebesaran daerah ini, sebagai
daerah sahabatku. Tetapi untunglah bahwa yang berhak telah datang untuk melindungi
daerahnya,” jawab Pandan Alas kemudian.
 Mendengar penjelasan Ki Ageng Pandan Alas hati Mahesa Jenar berdesir.
 “Jadi, beliau itukah Ki Ageng Sora Dipayana?” tanya Mahesa Jenar.
 “Sst... jangan terlalu keras,” desis Pandan Alas.
 Perasaan Mahesa Jenar menjadi terputar-putar tidak karuan menyaksikan kenyataan itu.
Gembira, terharu, sedih dan segala macam, berkecamuk di dadanya. Seorang yang sakti,
serta telah memutuskan untuk menarik diri dari pergaulan, terpaksa turun tangan, dan
benar-benar mempergunakan tubuhnya sendiri, untuk soal-soal tetek bengek yang
seharusnya dapat diselesaikan oleh orang lain.
 Tetapi disamping itu, tumbuh pulalah perasaan hormat serta kekaguman Mahesa Jenar
atas sifat kepemimpinan Ki Ageng Sora Dipayana. Sehingga apabila perlu, ia sendiri
tidak segan-segan untuk bertindak serta mengorbankan diri.
 Sementara itu, kemarahan rakyat Pangrantunan rupa-rupanya sudah memuncak.
Sehingga beberapa orang berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tinjunya.
 Tiba-tiba terdengar suara melengking dari seorang yang bertubuh gemuk, tinggi dan
berwajah keras seperti batu.
 “Saudara-saudara, marilah kita tangkap saja orang itu. Kita serahkan kepada Sima Rodra
sebagai tumbal untuk keselamatan desa kita.”
 “Bagus... bagus.... Setuju..., setuju....” teriak yang lain dari segala penjuru.
 Orang Tua yang tidak lain adalah Ki Ageng Sora Dipayana sendiri, tampak semakin ketakutan. Tetapi perasaan Mahesa Jenar sudah tidak lagi tersiksa menyaksikan kejadiankejadian itu.
 "Tetapi... ," kata orang tua itu mencoba membela dirinya kembali.
 "Apa yang aku lakukan sebenarnya bukanlah maksudku sendiri. Bagaimana aku berani
membantah peraturan pajak itu? Apalagi apa-apa yang dibutuhkan telah ada tersedia."
 "Bukan maksudmu sendiri...?," tanya yang tinggi kekurus-kurusan.
 "Ya, bukan!", jawab orang tua itu.
 "Lalu, siapakah yang menyuruhmu berbuat demikian?" tanya yang pendek ketat dengan
otot-otot yang menjorok keluar."
 Kembali terjadilah suatu hal di luar dugaan. Tiba-tiba orang tua itu menunjukkan jarinya
kepada Mahesa Jenar dan Pandan Alas.
 "Orang asing beserta anaknya itulah yang telah memaksa aku untuk tidak mentaati
peraturan dari gerombolan Sima Rodra. Aku sama sekali tidak tahu maksudnya, tetapi
aku tak berani menolaknya. Tanyakan pada anak muda itu, apakah maksudnya ia berbuat
demikian," kata orang tua itu.
 Mendengar jawaban itu, serta merta semua mata memandang kepada Mahesa Jenar dan
Ki Ageng Pandan Alas yang berdiri tidak begitu jauh di belakang mereka.
 Sedang Mahesa Jenar sendiri, yang tidak menduga sama sekali akan terlibat dalam
masalah itu, menjadi terkejut tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia jadi cemas.
 Kalau saja kemarahan penduduk ditujukan kepada Mahesa Jenar, lalu apa yang harus
dikerjakan. Haruskah ia melawan dan mungkin akan menimbulkan bencana bagi
penduduk yang seharusnya mendapat perlindungan?.
 Tetapi ia lebih tidak mengerti lagi, ketika ia memandang wajah Ki Ageng Pandan Alas
yang sama sekali tak berkesan apa-apa, malahan wajahnya tampak menggelikan.
Sehingga terpaksa ia bertanya.
 "Kenapa Ki Ageng Sora Dipayana membebankan masalah ini kepada kami, Tuan."
 "Mahesa Jenar... Dalam keadaan demikian, sebagaimana kau ketahui orang tua itu telah
mengetahui kehadiranku. Serta malahan ia mempunyai cara yang aneh untuk
mengucapkan selamat datang. Tetapi rupa-rupanya ia masih belum perlu langsung
menemuiku seperti juga aku merasa belum waktunya, tetapi terang ia minta tolong
kepadamu untuk menjelaskan maksudnya. Nah Mahesa Jenar, terserah pelaksanaannya
kepadamu, untuk membangkitkan kembali jiwa kejantanan bagi penduduk daerah ini.
Tolonglah orang tua itu serta kalau perlu berilah sedikit penerangan dan pertunjukan yang mengesankan," jawab Pandan Alas berbisik.
 Sementara itu perhatian semua orang telah tertuju kepada Mahesa Jenar dan Ki Ageng
Pandan Alas. Bahkan ada diantara mereka yang sudah mulai bergerak mendekati.
Seorang yang kurus pendek dengan suara yang menjerit bertanya kepada Mahesa Jenar,
 "He anak muda..., benarkah kau memaksa kepada orang tua itu untuk tidak mentaati
peraturan Sima Rodra?"
 Mahesa Jenar merasa akan canggung juga untuk menjawab, sampai orang kurus itu
membentaknya kembali.
 "Ayo jawab!"
 Tetapi Mahesa Jenar masih juga rikuh untuk berbuat gagah-gagahan di hadapan Ki
Ageng Sora Dipayana. Karena itu ia untuk beberapa saat hanya dapat memandangi wajah
orang tua itu, yang tiba-tiba tidak ada lagi perhatian terhadapnya, tetapi tersenyumsenyum sambil mengangguk-angguk kepada Ki Ageng Pandan Alas.
 Sebaliknya wajah Ki Ageng Pandan Alas yang kemudian berubah menjadi ketakutan.
 Melihat permainan itu semua hampir-hampir Mahesa Jenar tak dapat menahan
tertawanya. Rupa-rupanya sedemikian karib persahabatan orang-orang sakti pada saat itu,
sehingga sampai hari tuanya pun mereka masih saja bergurau, meskipun dalam keadaan
yang demikian.
 Sejenak kemudian ketika Mahesa Jenar masih juga belum menjawab, Ki Ageng Sora
Dipayana berteriak.
 "Ya, itulah orangnya yang memaksa aku untuk tidak mentaati peraturan Sima Rodra,
sehingga mungkin akan menimbulkan bencana."
 Mendengar suara itu, Mahesa Jenar menjadi sadar bahwa ia harus benar-benar
membantu orang tua itu untuk kepentingan kebangkitan daerah Pangrantunan. Karena itu
ia menjawab.
 "Ya, akulah yang memaksa orang tua itu untuk tidak menyerahkan pajak kepada Sima
Rodra."
 "Jadi... kaulah biang keladi dari bencana ini, " teriak salah seorang dari mereka.
 "Tangkap juga orang itu," teriak yang lain tiba-tiba.
 "Bagus, tangkap juga orang itu. Kita serahkan pula kepada Sima Rodra untuk tumbal
bersama-sama orang tua celaka itu," sahut yang gemuk tinggi serta berwajah keras seperti
batu.  "Tangkap..., tangkap.... " teriak yang lain bersama-sama. Dan serentak mulailah mereka bergerak.
 Melihat gerakan itu Ki Ageng Pandan Alas tampaknya menjadi ketakutan sekali,
sehingga tubuhnya gemetar. Dan tiba-tiba ia meloncat melarikan diri.
 "Tangkap..., tangkap...."
 Teriak penduduk itu dengan marahnya, ketika mereka melihat salah seorang dari orang
asing itu melarikan diri. Tetapi tiba-tiba terdengarlah suara Mahesa Jenar.
 "Jangan kejar dia. Akulah yang akan mempertanggung jawabkan."
 Suara itu dilontarkan dengan sepenuh tenaga yang dapat langsung merangsang mereka
yang mendengarnya, sehingga terkejutlah semua orang yang sedang siap untuk memburu
Ki Ageng Pandan Alas. Mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi. Tetapi yang terasa oleh
mereka hanyalah suara Mahesa Jenar itu seperti memukul dada mereka masing-masing,
sehingga dengan demikian serentak mereka berhenti.
 Mereka tersadar ketika Ki Ageng Pandan Alas sudah lenyap, sehingga salah seorang
berteriak marah sekali.
 ” He..., kenapa dibiarkan orang tua tadi melarikan diri. Sekarang jangan lepaskan anak
muda itu.”
 ”Jangan takut aku melarikan diri, “ jawab Mahesa Jenar dengan suara yang mantap.
 ”Aku akan tetap tinggal di sini. Tangkaplah.”
 Mendengar tantangan itu, beberapa orang yang sudah akan menyerbu justru terhenti.
Mereka menjadi ragu-ragu dan bimbang. Kenapa orang itu begitu berani menghadapi
seluruh penduduk Pangrantunan.
 ”Saudara-saudara penduduk Pangrantunan, salahkah aku kalau aku menasehati orang tua
itu untuk tidak tunduk kepada gerombolan liar yang mengganggu ketenteraman desa
kalian?, “ kata Mahesa Jenar selanjutnya.
 Mendengar pertanyaan itu semua orang menjadi terdiam. Memang dalam hati kecil
mereka, sama sekali mereka tidak rela menyerahkan harta benda mereka kepada orangorang yang datang untuk memerasnya. Tetapi karena ketakutan dan tidak adanya
pimpinan, mereka terpaksa melakukannya. Baru setelah beberapa saat terdengar jawaban
diantara mereka.
 “Tetapi dengan tindakan itu, nasib kita semua akan celaka.”  ”Nasib saudara-saudara bukanlah mereka yang menentukan,” sambung Mahesa Jenar.
 “Tetapi ada di tangan saudara sendiri. Kenapa saudara tidak berbuat sesuatu?”
 Kembali mereka terdiam mendengar kata-kata Mahesa Jenar. Ya, kenapa mereka tidak
pernah berpikir untuk suatu usaha menghindarkan diri dari pemerasan itu. Tetapi apakah
yang dapat dilakukan...?
 Tiba-tiba diantara mereka berteriak seorang yang berkumis tebal dan bermata tajam
seperti mata burung hantu.
 “Hai anak muda, kau jangan memperuncing kemarahan kami. Dengan omonganmu itu
kau akan berusaha menjelomprongkan kami ke lembah kesengsaraan yang lebih hebat.
Kau lihat sekarang, betapa sulitnya keadaan kami sehari-hari, tiba-tiba orang tua celaka
itu menambah beban kesulitan kami karena hasutanmu. Sekarang kau berusaha untuk
menghasut seluruh penduduk. Apa kau kira kami ini semuanya orang-orang bebal seperti
si tua celaka itu? “
 ”Memang...,” jawab Mahesa Jenar, “aku ingin menghasutmu supaya kamu semua tidak
lagi mau menyerahkan sebutir padi pun kepada Sima Rodra.”
 ”Dengan perbuatan itu,” sambung si kumis tebal dan bermata Burung Hantu, “apakah
keuntunganmu? Nah, sekarang tutup mulutnya dan jangan mencoba melawan. Kau akan
kami ikat bersama-sama orang tua itu untuk tumbal keselamatan desa ini. Bukankah
begitu kawan-kawan...?”
 ”Betul..., betul....,” sahut mereka hampir serentak.
 Dan bersamaan dengan itu, mulailah mereka beramai-ramai menyerbu Mahesa Jenar.
Tetapi seperti patung, Mahesa Jenar tetap di tempatnya. Melihat orang asing itu sama
sekali tidak bergerak, kembali mereka jadi ragu-ragu dan malahan berhenti beberapa
langkah di sekitar Mahesa Jenar. Mereka memandang dengan mata yang bertanya-tanya.
Bahkan beberapa diantaranya malahan mulai agak takut-takut melihat sikap yang
sedemikian tenangnya.
 Melihat hal itu Mahesa Jenar mengeluh dalam hati. Juga Ki Ageng Sora Dipayana tak
kalah sedihnya. Sebab dengan peristiwa itu terbuktilah betapa mundurnya keberanian
penduduk menghadapi suatu persoalan.
 Beberapa tahun yang lalu mereka adalah rakyat yang cukup tangguh dalam menghadapi
kesulitan-kesulitan. Tetapi sekarang mereka tidak lebih dari segerombolan pengecut yang
berjiwa budak yang paling rendah. Ketika Mahesa Jenar sempat mengerlingkan mata
kepada Ki Ageng Sora Dipayana, alangkah terperanjatnya, melihat mata orang tua itu
mengaca.
 Tetapi tiba-tiba ia berteriak  “Ya..., itulah yang telah menghasutku, kenapa kalian diam saja? Bukankah kalian akan
menangkapnya?”
 Selesai mengucapkan kata-kata itu segera ia meloncat menyusup di antara orang banyak
dan langsung menyerbu Mahesa Jenar. Mahesa Jenar segera menangkap maksud Ki
Ageng Sora Dipayana. Meskipun dengan agak segan dan malu-malu, ia meladeni juga
orang tua itu. Maka segera terjadilah perkelahian. Ki Ageng Sora Dipayana bergerak
dengan sekenanya saja. Memukul, menendang tak berketentuan. Tetapi maksudnya untuk
memancing keberanian penduduk, ternyata berhasil.
 Melihat orang tua itu mendahului menyerang, segera yang lain pun bertindak. Melihat
orang-orang kampung itu mulai berlari-lari untuk menangkapnya, segera Mahesa Jenar
meloncat kesana kemari dan sekadar mengadakan perlawanan. Dalam beberapa benturan
Mahesa Jenar mengetahui bahwa diantara mereka ada juga yang mempunyai kekuatan
cukup serta pengetahuan tata berkelahi yang agak tinggi.
 Karena itu anehlah kalau daerah ini tidak dapat berbuat sesuatu untuk melawan
kekuasaan Sima Rodra.
 Maka, kunci dari kemunduran ini pasti terletak pada pimpinan. Bagaimanapun, kepala
daerah Perdikan Pengrantunan yang sekarang adalah putra Ki Ageng Sora Dipayana,
yang bernama Ki Ageng Lembu Sora. Apakah Ki Ageng Lembu Sora ini sama sekali tak
memiliki sifat-sifat ayahnya? Bukankah apabila dikehendaki untuk melawan Sima Rodra,
daerah ini tidak berdiri sendiri?
 Pangrantunan hanyalah salah satu dari desa-desa yang berada di dalam lingkaran
Perdikan yang sekarang berkedudukan di Pamingit. Tetapi menilik kekuatan
Pangrantunan ini sendiri ditambah dengan daerah-daerah lain, pastilah mereka dapat
setidak-tidaknya mencegah kekuasaan Sima Rodra atas daerah ini.
 Maka setelah mereka berkejar-kejaran serta berkelahi beberapa lama, segera Mahesa
Jenar meloncat dengan tangkasnya menembus kepungan mereka, lalu dengan teguhnya
berdiri menghadapi penduduk Pangrantunan yang mengejarnya itu sambil berteriak
nyaring,
 “Cukup kawan-kawan, permainan kita ternyata berhasil baik. Jangan menyerang aku
lagi. Aku tidak akan melawan. Aku akan tunduk kepada kalian. Tetapi sebelumnya aku
ingin berbicara sedikit lagi kepada kalian.”
 Ketika penduduk Pangrantunan yang sedang mengejar Mahesa Jenar itu melihat
buruannya meloncat dengan tangkasnya, seolah-olah melampaui kemampuan manusia
biasa, serta dalam waktu yang hanya sekejap itu telah dapat dengan tiba-tiba berdiri di
luar kepungan mereka, hati mereka tergetar hebat. Segera mereka sadar bahwa itu
pastilah orang yang berilmu tinggi. Karena itu, kembali mereka berhenti beberapa
langkah di sekeliling Mahesa Jenar, yang dengan tegapnya berdiri di atas kedua kakinya yang kokoh kuat bagaikan tonggak baja.
 Kesadaran mereka akan ketinggian ilmu orang asing itu, ternyata telah menuntun ingatan
penduduk Pangrantunan kepada kekaguman-kekaguman mereka terhadap orang dari
daerah mereka sendiri. Terutama pemimpin mereka yang mereka cintai dengan sepenuh
hati, yang sejak beberapa tahun lalu telah menyisihkan diri. Yaitu Ki Ageng Sora
Dipayana.
 Tetapi tak seorang pun diantara mereka yang dapat mengenal, bahwa orang yang mereka
kenangkan itu, telah ada diantara mereka. Bahkan baru saja mengalami siksaan di
hadapan mereka. Orang kedua yang mereka kagumi adalah Ki Ageng Gajah Sora, putra
sulung Ki Ageng Sora Dipayana. Meskipun belum dapat memiliki seluruh ketinggian
ilmu ayahnya, Ki Ageng Gajah Sora telah dapat digolongkan manusia yang memiliki
kelebihan dibanding manusia biasa.
 Orang ketiga sesudah itu adalah Ki Ageng Lembu Sora, adik Ki Ageng Gajah Sora.
Orang inilah yang sekarang menerima kepercayaan dari ayahnya untuk menggantikan
kedudukannya sebagai kepala daerah perdikan Pangrantunan bagian selatan. Tetapi tabiat
seseorang ternyata tidak dapat ditentukan dari tetesan darah yang menurunkan. Ki Ageng
Lembu Sora yang oleh ayahnya diharapkan akan dapat melanjutkan cita-citanya untuk
mengembangkan daerahnya, ternyata yang terjadi adalah kebalikannya. Ia lebih
mementingkan kesenangan sendiri.
 Bahkan kadang-kadang ia sampai melupakan kedudukannya sebagai pengayom.
Malahan tidak jarang ia berbuat hal yang dapat melukai hati rakyatnya. Hal-hal yang
demikian itu menimbulkan banyak kegelisahan dan ketidakpuasan di kalangan rakyat,
yang akhirnya menjadikan rakyat tidak peduli lagi kepada keadaan di sekelilingnya,
kecuali kepentingan mereka sendiri-sendiri.
 Dan sekarang tiba-tiba muncul seorang yang agaknya termasuk orang yang berilmu
tinggi dan bertabiat aneh. Kalau orang ini memaksakan sesuatu peraturan yang
bertentangan dengan kemauan gerombolan Sima Rodra, maka akan celakalah nasib
penduduk setempat. Sebab mereka tentu tidak akan mampu melawan salah satu
diantaranya.
 Sementara itu ketika setiap otak dari mereka yang ada di halaman itu sedang dipenuhi
dengan berbagai masalah dan persoalan-persoalan, terdengarlah Mahesa Jenar mulai
berkata,
 "Saudara-saudara penduduk Pangrantunan. Setelah kita bermain-main sebentar, aku
mendapat kesimpulan bahwa daerah ini bukanlah daerah yang seharusnya dapat menjadi
lembu perahan bagi gerombolan Sima Rodra. Seberapakah sebenarnya kekuatan dari
gerombolan itu dibandingkan dengan keperkasaan kalian? Kalau kalian merasa bahwa
apa yang kalian sediakan untuk gerombolan Sima Rodra setiap bulannya bukanlah
kekayaan yang berharga, memang mungkin sekali. Tetapi arti dari kesediaan saudarasaudara menyerahkan pajak kepada gerombolan itulah yang sebenarnya patut disesalkan. Sebab dengan demikian kalian telah menempatkan diri kalian sendiri di bawah kekuasaan
Sima Rodra. Apalagi kalau kalian sampai pada perhitungan nilai dari barang-barang itu
kalian kumpulkan, lalu kalian jual. Maka pastilah dalam waktu yang singkat kalian dapat
mendirikan banjar-banjar desa, tempat-tempat ibadah dan sebagainya. Tetapi lebih dari
itu, kalian adalah rakyat yang merdeka, bukan rakyat yang diperbudak oleh Sima Rodra,
yang patut mempergunakan segala sumber kekayaan kalian untuk kepentingan kalian
sendiri. Nah saudara-saudara, pertahankan kemerdekaan ini. Kalau perlu dengan darah
dan jiwa kalian."
 Kata-kata Mahesa Jenar ini terasa seperti membakar dada mereka yang mendengarnya,
disamping perasaan malu dan sesal yang menghantam bertubi-tubi.
 Hampir semua orang tampak menundukkan mukanya, seolah-olah hendak langsung
memandang kekecilan jiwa mereka masing-masing. Disamping itu, makin jelaslah dalam
ingatan mereka, keperwiraan serta kejantanan yang pernah mereka alami semasa
pemerintahan Ki Ageng Sora Dipayana.
 Mahesa Jenar dapat merasakan, bahwa kata-katanya berhasil menusuk langsung kedalam
sanubari pendengarnya. Karena itu sambungnya, Nah saudara, keputusan terakhir adalah
di tangan saudara-saudara. Masihkah saudara ingin merdeka, ataukah saudara telah
merasa berbahagia dalam penindasan dan pemerasan Sima Rodra? Kalau saudara
memilih yang kedua maka aku bersedia untuk saudara-saudara tangkap serta saudarasaudara serahkan kepada Sima Rodra sebagai tumbal keselamatan penduduk.
 Kalau kata-kata Mahesa Jenar yang terdahulu telah membakar dada rakyat
Pangrantunan, maka kata-katanya yang terakhir itu bagaikan cermin yang langsung
diletakkan di hadapan mereka. Sehingga semakin jelaslah noda-noda yang melekat dalam
wajah kepribadian mereka.
 Untuk mempertegas kata-katanya, Mahesa Jenar melanjutkan.
 "Saudara-saudara, kalau saudara-saudara sudah merasa bimbang maka sebaiknya
saudara-saudara pulang saja sambil merenungkan pilihan manakah yang saudara-saudara
anggap paling sesuai dengan sifat serta watak saudara-saudara. Sekarang saudara-saudara
kami persilahkan meninggalkan halaman ini. Selama saudara merenungkan kemungkinan
yang paling menguntungkan bagi saudara-saudara, aku ingin minta ijin untuk dua-tiga
hari. Setelah itu, aku akan datang lagi untuk menerima keputusan kalian."
 Mendengar kata-kata Mahesa Jenar yang terakhir, penduduk Pangrantunan itu saling
pandang. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Sampai kembali Mahesa Jenar
berkata
 "Aku harap kalian meninggalkan halaman ini untuk merenungkan apa yang akan saudara
lakukan. Aku yakin bahwa saudara akan memilih keputusan yang benar demi tanah
tercinta serta kebesaran nama daerah ini, yang telah diletakkan oleh Ki Ageng Sora
Dipayana."  Meskipun Mahesa Jenar mengucapkan kata-katanya dengan lunak serta sopan, tetapi
tajamnya seperti sembilu yang langsung membelah jantung mereka, sehingga terasa suatu
desiran yang pedih di dalam dada masing-masing.
 
 Sambil menundukkan kepala serta langkah yang lemah, penduduk Pangrantunan mulai
satu demi satu bergerak meninggalkan halaman rumah petani tua yang sama sekali tak
diketahuinya, bahwa beliaulah Ki Ageng Sora Dipayana.
 Dalam kepala mereka berkecamuklah seribu macam masalah. Tetapi satu hal yang telah
menyusup di dalam hati mereka tanpa mereka sadari. Sejak saat itu mereka bertekad
untuk mempertahankan tanah tercinta ini dari segala macam penindasan dan pemerasan.
Kalau perlu akan mereka pertaruhkan darah dan nyawa.
 Ketika tidak ada lagi seorang pun di halaman petani miskin itu, segera Mahesa Jenar
menundukkan kepalanya kepada Ki Ageng Sora Dipayana sambil berkata
 "Tuan..., maafkanlah aku yang sama sekali tidak tahu bahwa Tuanlah yang terkenal
dengan sebutan Ki Ageng Sora Dipayana."
 Orang tua itu tersenyum.
 "Tak apalah. Kalau sampai engkau tidak mengenal, maka berbanggalah aku. Sebab
dengan demikian aku merasa bahwa permainanku dapat berhasil," jawab orang tua itu.
 Kembali Mahesa Jenar menghormat.
 "Dengan ini atas nama perguruanku aku menyampaikan hormat," kata Mahesa Jenar.
 Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk lemah.
 "Rupanya kau adalah satu-satunya waris dari gurumu," kata Ki Ageng Sora Dipayana.
 "Benar Tuan, aku tinggal satu-satunya waris yang harus menjunjung nama perguruanku.
Tetapi kemampuanku sangatlah terbatas, sehingga aku sangat cemas bahwa tugas itu tak
akan berhasil," jawab Mahesa Jenar.
 Ki Ageng Sora Dipayana tertawa lirih.
 "Aku tadi ternyata salah tebak. Ketika aku melihat orang tua dari Gunung Kidul yang
malahan terkenal dari Wanasaba tadi, aku mengira bahwa kau adalah muridnya. Tetapi
ketika aku melihat kau melangkah, barulah aku tahu bahwa kau adalah murid Ki Ageng
Pengging Sepuh," sahut Sora Dipayana.  “Benar Ki Ageng, aku adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh” Jawab Mahesa Jenar
lagi.
 “Siapakah namamu?” tanya Ki Ageng kemudian.
 “Mahesa Jenar Ki Ageng” jawab Mahesa Jenar.
 “Lalu adakah kau mendapat tugas dari perguruanmu sehingga kau sampai ke daerah
Pangrantunan ini?”
 Mendengar pertanyaan Ki Ageng Sora Dipayana, Mahesa Jenar jadi bimbang. Haruskah
ia menyatakan tujuan sebenarnya, ataukah tidak? Dalam kebimbangan hati, Mahesa Jenar
tidak segera dapat menjawab sehingga dalam beberapa saat ia berdiri kebingungan. Ki
Ageng Sora Dipayana ternyata memang orang yang bijaksana. Karena itu segera ia
menyambung.
 “Mungkin kau mendapat tugas rahasia dari seseorang. Nah, kalau begitu baiklah aku
bertanya soal lain saja”
 “Tidak, Ki Ageng... tidak...,” potong Mahesa Jenar tergagap.
 Ki Ageng Sora Dipayana tertawa perlahan. Kemudian ia bertanya,
 “Kaukah satu-satunya Murid Ki Ageng Pengging, yang masih ada? Gurumu almarhum
adalah sahabat dekatku. Jadi jangan kau menaruh prasangka apapun kepadaku. Nah,
tinggallah untuk sementara bersama aku di Pangrantunan”
 “Terima kasih Ki Ageng, terpaksa aku dengan menyesal tak dapat memenuhi, sebab aku
masih harus meneruskan perjalanan” jawab Mahesa Jenar.
 “Begitu tergesa-gesa?” potong Ki Ageng.
 “Benar Ki Ageng”
 Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya. Keningnya tampak
berkerut, dan tiba-tiba terloncat kata dari mulutnya.
 “Ke Gunung Tidar?”
 Pertanyaan ini rupanya mengejutkan Mahesa Jenar, sehingga ia kebingungan, sampai Ki
Ageng Sora Dipayana meneruskan.
 “Bagus, pergilah ke sana. Barangkali ada perlunya. Aku menduga bahwa kau tidak akan
menderita sesuatu kalau kau cukup hati-hati. Bukankah Ki Ageng Pengging Sepuh
terkenal dengan Sasra Birawa-nya? Aku kira kau telah memiliki itu pula”  Mahesa Jenar tak dapat berbuat lain kecuali mengiakan semua kata-kata Ki Ageng Sora
Dipayana, meskipun ia sendiri tak habis heran, kenapa orang tua itu dapat menebak
maksudnya dengan tepat.
 “Meskipun demikian...,” sambung orang tua itu, “kau harus tetap waspada. Sebab
penghuni Gunung Tidar bukan pula orang yang patut direndahkan. Dan jagalah bahwa
kau dapat langsung mendekati tempat tinggal Sima Rodra, usahakan untuk tidak
diketahui oleh para penjaga-penjaganya. Sebab bagaimanapun, jumlah yang banyak akan
turut serta menentukan keseimbangan pertempuran. Apalagi disamping Sima Rodra
sendiri masih ada beberapa orang yang termasuk orang-orang yang berilmu”
 Kata-kata Ki Ageng Sora Dipayana itu bagi Mahesa Jenar merupakan petunjuk yang
sangat berharga. Maka dengan perasaan yang gembira ia mengucapkan terima kasih yang
tak terhingga.
 “Kau pernah ke Gunung itu?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana kemudian.
 “Belum Ki Ageng” jawab Mahesa Jenar. “Tetapi aku pernah lewat desa Gelangan di
dekat Gunung itu”
 ”Desa yang berbentuk gelang serta di tengah-tengahnya ada danaunya?”
 Tanya Ki Ageng Sora Dipayana.
 “Benar Ki Ageng” jawab Mahesa Jenar.
 Ki Ageng Sora Dipayana kemudian menyarankan.
 “Sebaiknya kau mengambil jalan ke arah desa itu, sebab kau akan terlalu banyak
membuang waktu. Sebaiknya kau mengambil jalan yang biasa dilalui oleh gerombolan
itu, melewati hutan bagian selatan. Kau tidak perlu lagi mencari-cari jalan, sebab daerah
itu sering dilewati oleh anak buah Sima Rodra sehingga seakan-akan telah menjadi
sebuah jalan raya. Sedang kalau kau bertemu dengan satu-dua orang dari mereka maka
hal itu bukanlah hal yang perlu diributkan. Kau dapat dengan mudah menyembunyikan
diri, atau dengan semudah itu pula membinasakan mereka” kata Ki Ageng.
 Mahesa Jenar mendengarkan semua nasihat itu dengan saksama. Memang pekerjaan
yang akan dilakukan bukanlah pekerjaan yang gampang. Dengan petunjuk-petunjuk yang
diterima dari Ki Ageng Sora Dipayana, semakin teranglah jalan yang akan ditempuhnya.
 “Nah.. Mahesa Jenar” kata Ki Ageng Sora Dipayana akhirnya
 “Memang sebaiknya kau tidak banyak membuang waktu. Kau dapat segera berangkat
sekarang juga. Kalau tidak ada halangan, besok malam kau sudah akan sampai ke pusar
pulau Jawa itu. Ingatlah, hindari pertemuan dengan para pengawal gunung. Pergilah langsung ke lambung utara. Di sana terletak sebuah goa tempat tinggal suami-istri Sima
Rodra itu. Sedang untuk mendekati bukit itu ambillah jalan sebelah selatan, ambillah
waktu ketika matahari telah terbenam”
 Sekali lagi Mahesa Jenar mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Dan sesudah itu
ia mohon diri untuk segera melanjutkan perjalanannya ke Gunung Tidar. Ia sudah
memutuskan untuk mengikuti segala petunjuk yang diberikan oleh Ki Ageng Sora
Dipayana.
 Tetapi satu hal yang sama sekali tak diduganya, adalah bahwa dengan memberikan
segala petunjuk itu, Ki Ageng Sora Dipayana telah membuat suatu rencana. Rencana
yang hanya diketahui oleh Ki Ageng Sora Dipayana itu sendiri. Karena itu ketika ia
melihat Mahesa Jenar dengan langkah yang tetap berjalan menurut petunjuknya,
tampaklah orang tua itu tersenyum sambil bergumam, Mudah-mudahan rencanaku
berhasil. Bukankah dengan demikian aku telah membuat suatu jasa pada mereka...
 Sementara itu Mahesa Jenar berjalan dengan langkah yang cepat. Ia mengharap bahwa
besok malam ia sudah dapat sampai ke tempat tinggal Sima Rodra. Menilik rencana
pertemuan dari golongan hitam, dimana Sima Rodra akan ikut serta, maka dapatlah
dibayangkan bahwa setidak-tidaknya Sima Rodra sendiri atau berdua dengan istrinya,
pasti mempunyai tingkat kepandaian sama dengan Lawa Ijo.
 Ditambah lagi mereka ternyata memiliki pusaka keris Nagasasra dan Sabuk Inten.
Karena itu, ia harus berhati-hati dalam tiap tindakannya untuk mendapatkan kembali
keris Nagasasra dan Sabuk Inten.
 Ketika itu, ketika ia telah agak jauh meninggalkan desa Pangrantunan, matahari telah
condong ke barat. Angin yang bertiup agak kencang dari hutan terasa betapa silirnya.
Meskipun demikian panas yang dipantulkan oleh debu-debu di jalan terasa seperti
menyengat-nyengat kaki. Karena itu Mahesa Jenar semakin mempercepat langkahnya.
Sekali-kali ia meloncat-loncat di atas rumput yang tumbuh di tepi-tepi jalan.
 Sebentar kemudian Mahesa Jenar telah meninggalkan daerah-daerah persawahan
Pangrantunan. Ia mulai memasuki daerah-daerah padang ilalang dan hutan-hutan kecil
untuk segera sampai ke induk hutan yang memagari tanah perdikan Pangrantunan.
 Tiba-tiba Mahesa Jenar yang sedang berjalan cepat-cepat itu mendengar suara ringkik
kuda. Segera ia menghentikan langkahnya serta bersiap-siap, kalau-kalau suara ringkik
kuda itu berasal dari gerombolan Sima Rodra. Tetapi sampai beberapa saat ia sama sekali
tidak mendengar langkahnya. Karena itu Mahesa Jenar menduga bahwa kuda itu pastilah
berhenti.
 Perlahan-lahan Mahesa Jenar menyusup batang-batang ilalang, mendekati arah suara
ringkikan kuda itu. Setelah beberapa langkah, benar-benar Mahesa Jenar melihat kuda
lengkap dengan pelananya, tetapi tidak ada penunggangnya. Maka timbullah
kecurigaannya. Tiba-tiba ia menjadi sangat terkejut ketika dilihatnya di samping kuda itu, menggeletak sesosok tubuh yang rupa-rupanya sudah tidak bernyawa lagi.
 Perlahan-lahan dan hati-hati ia merunduk mendekati mayat itu. Ternyata bahwa mayat
itu adalah mayat seorang laki-laki yang gagah. Di tangannya masih tergenggam sebatang
tombak pendek. Ketika Mahesa Jenar mengamat-amati daerah di sekitar mayat itu, sama
sekali tidak terdapat bekas-bekas telapak, baik telapak kuda maupun telapak kaki
manusia yang lain kecuali telapak kuda yang seekor itu.
 Ketika Mahesa Jenar sudah yakin bahwa di sekitar tempat itu sama sekali tidak ada
bahaya, maka mulailah ia mengamat-amati mayat orang gagah itu dengan saksama.
 Wajah mayat itu tampak biru kemerah-merahan, hampir di seluruh permukaan kulitnya
tampak noda-noda biru kemerah-merahan. Melihat tanda-tanda itu segera Mahesa Jenar
dapat menerka bahwa orang itu pasti meninggal karena racun.
 Sampai beberapa lama Mahesa Jenar mencari, masih belum dapat ditemukan luka yang
menyebabkan kematian orang itu. Baru ketika mayat itu ditelungkupkan, tampaklah
sebuah jarum sumpit yang masih menancap di punggungnya. Maka tahulah Mahesa Jenar
bahwa orang itu telah diserang dari belakang. Atau kemungkinan lain orang itu dikenai
sumpit pada waktu ia sedang melarikan diri.
 Lebih heran lagi Mahesa Jenar ketika melihat pada ikat pinggang orang itu, yang
lebarnya hampir selebar telapak tangan, dan dibuat dari kulit kerbau, tampaklah sebuah
pahatan yang mirip dengan dua ekor ular yang saling membelit. Mula-mula Mahesa Jenar
agak bingung menafsirkan gambar itu, tetapi akhirnya berdesirlah jantungnya. Ini pastilah
gambar dua ekor uling. Kalau demikian maka orang ini pasti termasuk salah seorang
anggota gerombolan yang dikenal dengan nama pimpinannya, sepasang uling dari Rawa
Pening.
 Tetapi kenapa ia sampai kemari, juga siapa yang membunuhnya, merupakan suatu tekateki bagi Mahesa Jenar. Yang terang baginya adalah, bahwa orang itu belum terlalu lama
meninggal. Mungkin pagi tadi, atau malahan sesudah hampir tengah hari.
 Belum lagi Mahesa Jenar selesai meneliti tubuh mayat itu, tiba-tiba terdengarlah derap
beberapa ekor kuda. Cepat-cepat Mahesa Jenar memperhatikan arahnya, lalu dengan
cepat sekali ia meloncat ke gerumbul yang terdekat. Ia harus berusaha untuk
bersembunyi, sebab ia masih belum tahu siapakah yang datang. Beberapa saat kemudian
derap kuda itu sudah dekat benar, dan segera muncullah dari dalam hutan beberapa orang
berkuda. Rupanya mereka sedang mencari sesuatu atau mencari jejak, sebab hampir
semua dari mereka mengawasi jalan yang akan dilewatinya.
 Melihat rombongan itu, sekali lagi Mahesa Jenar tersirap. Diantara orang-orang berkuda
itu, Mahesa Jenar melihat, bahwa meskipun orang itu berpakaian laki-laki, tetapi jelas
bahwa ia adalah seorang perempuan. Maka tanggapan Mahesa Jenar segera mengarah
kepada istri Sima Rodra. Sedangkan apakah Sima Rodra sendiri ada diantara mereka,
Mahesa Jenar masih belum tahu.  Rombongan itu ternyata benar-benar sedang mencari jejak kaki. Malahan jejak kaki
orang yang meninggal itu. Karena itu, pada mayat orang gagah itulah rombongan berkuda
itu mengarah. Dengan demikian Mahesa Jenar harus semakin rapat bersembunyi.
 Ternyata setelah mereka dekat serta semakin jelas, jumlah mereka seluruhnya ada tujuh
orang, satu diantaranya seorang perempuan yang sudah hampir setengah umur, tetapi
menilik tubuh serta wajahnya ia masih tampak lincah dan cantik, ketika salah seorang
dari mereka melihat mayat itu, ia segera berteriak.
 “Itulah dia... Ki Lurah”
 Mendengar teriakan itu, seorang yang bertubuh tegap, gagah, bahkan lebih agak gagah
dari mayat itu, segera meloncat turun dari kudanya dan berjalan mendekati mayat itu,
yang segera disusul oleh satu-satunya perempuan dalam rombongan itu.
 Melihat mereka berdua, segera Mahesa Jenar menebak bahwa mereka berdualah yang
terkenal dengan suami-istri Sima Rodra.
 Setelah mereka sampai pada mayat itu, segera suami-istri itu berjongkok mengamatamati. Kemudian segera tangannya meraih tombak pendek itu.
 “Hem.., sayang adi Gemak Paron. Terpaksa aku membunuhnya. Kalau tidak, pastilah
Kiai Kala Tadah ini jatuh ke tangan sepasang Uling Rawa Pening” gumamnya.
 “Mungkin tujuannya lebih dari itu” sahut istrinya “Mungkin Adi Gemak Paron mendapat
tugas untuk mengambil kedua keris itu.”
 “Mungkin juga,” jawab si suami, “sebab kalau tidak, tugas yang penting itu pastilah
bukan Adi Gemak Paron yang harus melaksanakan. “
 ‘Tetapi kejadian ini pasti ada akibatnya” sela istrinya, “Apakah kakak-beradik dari Rawa
Pening itu akan tinggal diam?”
 “Pasti tidak” jawab si suami, “Tetapi ia tidak pula akan bertindak gegabah. Sebab kalau
tindakannya terdengar oleh golongan lain, pasti akan menimbulkan keributan pula.
Pastilah Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya tidak pula akan tinggal diam”
 Si istri tampak berpikir sejenak, lalu katanya,
 ‘Itu berarti akan mempercepat saat pertemuan akhir tahun ini di Rawa Pening. Mungkin
mereka akan bersama-sama datang ke Gunung Tidar untuk memperebutkan pusakapusaka itu.”
 “Mungkin” jawab suaminya. “Itu berarti pekerjaan kita bertambah berat.”  “Lalu bagaimana dengan Adi Gemak Paron itu?” potong istrinya. “Sebab Adi Yuyu
Rumpung yang lolos dari kejaran kami pasti segera akan melaporkan kejadian ini”
 Belum lagi mereka menentukan sikap, tiba-tiba terdengarlah derap kuda dari arah lain.
Tampaklah bahwa semua orang dalam gerombolan itu terkejut. Tidak terkecuali suamiistri Sima Rodra.
 ”Rupa-rupanya Adi Gemak Paron tidak hanya berdua” desis si istri.
 “Kau benar” jawab suaminya.
 “Bersiaplah kalian!!” Perintahnya kepada anak buahnya.
 Maka segera mereka pun bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Suara derap kuda itu
semakin lama semakin jelas. Dan Mahesa Jenar pun tidak kalah cemasnya, sebab arah
derap kuda itu menuju kepadanya. Karena itu, ia pun melipat dirinya lebih kecil lagi di
bawah sebuah gerumbul yang berdaun rapat.
 Sejenak kemudian kuda yang larinya seperti terbang meluncur hanya beberapa langkah
di samping Mahesa Jenar. Melihat penunggang-penunggangnya, Mahesa Jenar agak
keheran-heranan pula. Mungkinkah mereka dari gerombolan Uling Rawa Pening? Sebab
tampaklah wajah mereka berbeda dengan wajah-wajah gerombolan Sima Rodra.
Sedangkan pakaian mereka pun sama sekali tidak seperti pakaian orang yang mati itu.
 Rombongan yang kedua ini terdiri dari orang yang jumlahnya lebih banyak. Semua kirakira ada 15 orang. Ketika rombongan yang kedua ini melihat rombongan Sima Rodra,
mereka pun tampak terkejut. Maka dengan segera mereka menarik tali kekang kuda
mereka, sehingga kuda-kuda mereka berdiri dan berhenti seketika.
 Melihat rombongan yang baru saja datang itu, ternyata Sima Rodra beserta anak buahnya
bertambah terkejut lagi, sehingga ketika rombongan yang kedua itu telah berhenti. Sima
Rodra segera berkata.
 “Aku menyampaikan hormat yang setinggi-tingginya kepada rombongan Ki Ageng
Lembu Sora.”
 Mendengar sapa Sima Rodra itu, giliran Mahesa Jenar yang terkejut bukan kepalang.
Inilah orangnya yang bernama Ki Ageng Lembu Sora, putra kedua dari Ki Ageng Sora
Dipayana.
 Ki Ageng Lembu Sora adalah seorang yang bertubuh sedang, berwajah keras. Matanya
memancarkan sinar ketamakan dan pemujaan kepada nafsu-nafsu jasmaniah.
 Sambil masih duduk di atas kudanya ia menjawab.
 “Salamku kepada kalian.”  ”Terima kasih Ki Ageng,” jawab Sima Rodra.
 “Kenapa kalian berada di tempat ini?” tanya Ki Ageng Lembu Sora.
 “Kami sedang mengejar orang ini, Ki Ageng,” jawab Sima Rodra sambil menunjuk
kepada mayat Gemak Paron.
 ”Siapakah dia?” tanya Lembu Sora kembali.
 “Ia berusaha untuk mencuri pusaka kami, Kiai Kala Tadah. Untunglah bahwa aku dapat
mengenainya dengan sumpit, sehingga ia tidak dapat melarikan diri lebih jauh lagi”
 Jawab Sima Rodra.
 Lembu Sora tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya.
 "Dari manakah dia?"
 "Dari daerah Rawa Pening," jawab Sima Rodra.
 "Gerombolan yang dipimpin oleh Uling Rawa Pening...?" Lembu Sora menegaskan.
 "Ya," jawab Sima Rodra.
 Sekali lagi Lembu Sora mengangguk-angguk.
 “Untunglah gerombolan Uling itu sampai sekarang masih diberi kesempatan berdiri.
Kalau saja Kakang Gajah Sora sudah mau bertindak maka umur gerombolan itu tidak
akan lebih dari satu senja” kata Lembu Sora kemudian.
 “Rupanya hal itu pun disadari oleh sepasang Uling itu, sehingga mereka tidak berani
berbuat apa-apa di dalam wilayah kekuasaan Ki Ageng Gajah Sora. Meskipun secara
perseorangan belumlah pasti bahwa kakak-beradik Uling itu dapat dikalahkan oleh Gajah
Sora” sahut Sima Rodra.
 "Kau yakin akan hal itu?" potong Lembu Sora.
 "Hal yang mungkin sekali," jawab Sima Rodra.
 Lembu Sora tampak mengernyitkan alisnya. Ia tampak tidak begitu senang mendengar
keterangan Sima Rodra itu. Seperti kau yakin bahwa kau tidak dapat aku kalahkan,
katanya kemudian.
 Sima Rodra menarik nafas panjang. Tampaklah betapa tajam pandangan matanya.  Perlahan-lahan ia menegakkan kepalanya, memandang ke arah puncak-puncak pohon
raksasa yang bertebaran di hutan. Jelas, betapa ia mencoba menguasai dirinya untuk tidak
bertindak tergesa-gesa.
 Sebentar kemudian, baru Sima Rodra menjawab.
 "Ki Ageng, aku tidak ingin berkata demikian. Selama kita masih saling menghormati
persetujuan kita. Biarlah, apa saja yang akan terjadi di daerah Banyu Biru dan Rawa
Pening. Sedang diantara kita hendaknya tetap berlaku persetujuan yang sudah sama-sama
kita terima, supaya kita tidak usah menilai, siapakah diantara kita yang lebih kuat.
Sedangkan apa yang berlaku sekarang aku rasa sudah saling menguntungkan."
 Wajah Lembu Sora menjadi tegang pula. Rupanya ia pun sedang berusaha untuk
menguasai perasaannya.
 Sejenak kemudian dengan mata yang berapi-api ia berkata.
 "Bagus, kalau kau masih tetap dalam pendirianmu itu. Tetapi aku dengar kau mulai
membuat perkara. Karena itu aku sekarang memerlukan berkeliling pagar perdikanku
untuk mengetahui kebenaran berita bahwa kau mulai merambah ke daerah lalu lintas
dengan Pamingit."
 "Itu tidak benar, " potong Sima Rodra, "Aku tidak biasa berbuat kecurangan-kecurangan
yang naif semacam itu. Mungkin dalam kehidupanku telah ribuan kali aku berbuat
curang, tetapi untuk keperluan yang cukup bernilai dan seimbang dengan kecurangan
yang terpaksa aku lakukan."
 Sima Rodra diam sejenak. Suasana segera meningkat semakin tegang. Tampaklah bahwa
masing-masing telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi setiap kemungkinan.
 "Yang benar... dua orangku pagi ini telah mati di Pangrantunan, " lanjut Sima Rodra.
 Lembu Sora tampaknya agak terkejut mendengar berita itu, sehingga ia bertanya.
 "Kenapa? "
 "Sebabnya masih belum begitu jelas, sebab aku masih belum sempat mengusutnya,
karena ada peristiwa pencurian pusaka ini. Tetapi dua-tiga hari yang akan datang, pastilah
aku sendiri akan datang ke Pangrantunan untuk melihat siapakah yang telah berbuat
kejahatan itu, " jawab Sima Rodra.
 “Sima Rodra..., yang termasuk dalam persetujuan kita hanyalah sumbangan hasil bumi
dari penduduk Pangrantunan, bukan orang-orangnya, sahut Lembu Sora.
 "Tetapi aku tidak membiarkan pembunuhan itu menjadi kebiasaan. Karena itu, yang
bersalah harus mendapat hukuman, " jawab Sima Rodra.  "Aku beri wewenang kau melakukan hukuman hanya kepada yang bersalah. Tetapi
awas, jangan berbuat sekehendakmu saja atas orang-orangku. Sebab ganti yang kau
berikan kepadaku akhir-akhir ini ternyata mulai merosot nilainya, " kata Lembu Sora.
 Mendengar kata-kata Lembu Sora yang terakhir, tiba-tiba Sima Rodra tertawa
menggelegar, katanya kemudian.
 "Jangan takut Ki Ageng, lain kali pasti akan lebih memberi kepuasan kepada Ki
Ageng..."
 "Aku berkata sebenarnya, karena itu segala sesuatunya terserah kepadamu. Aku akan
melanjutkan perjalanan sekarang," potong Ki Lembu Sora.
 Sehabis mengucapkan kata-kata itu, segera ia menarik tali kekang kudanya, serta
mencambuknya keras-keras, sehingga kudanya terloncat dan berlari kencang. Para
pengikutnya segera mengikutinya pula. Suami-istri Sima Rodra bersama anak buahnya
mengawasinya sampai hilang di balik semak-semak.
 Setelah itu kembali terdengar Sima Rodra tertawa tergelak-gelak.
 "Orang gila. Rupa-rupanya masih juga ada sisa-sisa minatnya untuk meninjau daerah
perdikannya yang sebentar lagi pasti akan dapat aku telan seluruhnya," kata Sima Rodra
kemudian.
 “Jangan terlalu tergesa-gesa. Apa kau kira Ki Ageng Gajah Sora akan tinggal diam?”
potong istrinya.
 “Dengan kedua pusaka keris Nagasasra dan Sabuk Inten itu di tangan kita, pastilah
bahwa kita akan menguasai segenap aliran hitam di pulau Jawa, seperti apa yang pernah
kita janjikan bersama. Sesudah itu apakah arti kekuasaan Gajah Sora. Sedangkan Demak
sendiri lambat laun pasti akan dapat aku lenyapkan pula” kata Sima Rodra.
 Istri Sima Rodra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya.
 “Mudah-mudahan semua itu tidak hanya merupakan sebuah impian yang akan lenyap
bersama terbitnya matahari.”
 Si suami tertawa perlahan-lahan. Seperti kepada dirinya sendiri ia berkata.
 “Aku harus bekerja lebih keras. Mungkin akan banyak hal yang harus aku hadapi dalam
perjalanan ke istana Demak.”
 “Lalu apa yang akan kita perbuat sekarang?” Tiba-tiba istrinya bertanya.
 Sima Rodra itu menjadi seperti orang yang tersadar dari lamunannya. Kembali ia mengamat-amati mayat Gemak Paron.
 Sebentar kemudian ia berkata.
 “Marilah Nyai, sebaiknya kita kembali. Mungkin sehari dua hari kakak-beradik Uling
dari Rawa Pening akan berkunjung ke rumah kita. Baru sesudah itu kita pergi ke
Pangrantunan untuk mencari pembunuh-pembunuh itu.”
 “Tidakkah kita selesaikan sama sekali masalah Pangrantunan yang tinggal tidak seberapa
jauh lagi?”
 Sima Rodra tampak agak berpikir, tetapi segera ia menjawab.
 “Masalah Pangrantunan sama sekali bukan masalah yang perlu mendapat perhatian
banyak. Tetapi sepasang Uling itu benar-benar memerlukan persiapan yang cukup untuk
menyambutnya.”
 Setelah itu maka segera ia pun berdiri meninggalkan mayat Gemak Paron, langsung
menuju ke kudanya. Dan sejenak kemudian rombongan itu pun pergi meninggalkan
mayat itu tetap terkapar, sambil membawa kembali pusaka yang disebutnya Kiai Kala
Tadah.
 Setelah derap kuda mereka tak terdengar lagi, Mahesa Jenar perlahan-lahan keluar dari
persembunyiannya. Tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya sambil mengusap dadanya.
Meskipun ia tidak tahu bunyi perjanjian antara Ki Ageng Lembu Sora dan Sima Rodra,
tetapi bahwa Ki Ageng Lembu Sora bersedia menyerahkan sebagian dari wilayahnya
untuk sumber perbekalan dari golongan hitam, adalah suatu tindakan yang tercela.
 Apapun yang diterima Lembu Sora dari Sima Rodra sebagai gantinya, hal itu adalah
suatu penghinaan atas kekuasaan yang dipegangnya, dengan membiarkan adanya
kekuasaan asing turut serta mencampuri masalah di dalam rangkah. Apalagi ketika
Mahesa Jenar teringat akan rencana Sima Rodra, tidak saja menguasai Perdikan ini, tetapi
ia sudah mulai merintis jalan ke Demak.
 Tetapi ketika ia teringat bahwa Ki Ageng Sora Dipayana dengan ujudnya yang baru telah
kembali ke Pangrantunan, hatinya menjadi agak tenteram. Pasti orang tua itu tidak akan
membiarkan pengkhianatan itu tetap berlangsung. Sebab kekuasaan yang selalu
dibayangi oleh kekuasaan lain tidaklah lebih dari kekuasaan boneka.
 Sebentar kemudian segera Mahesa Jenar sadar akan tugasnya. Ia harus cepat-cepat pergi
ke Gunung Tidar. Kalau benar apa yang diperhitungkan oleh Sima Rodra, yaitu
kemungkinan akan datangnya Uling dari Rawa Pening, maka ia harus berusaha untuk
mendahuluinya. Sebab kalau tidak, dan sepasang Uling itu sampai berhasil merebut
kedua keris pusaka itu, maka tugasnya akan bertambah sulit.
 Karena itu Mahesa Jenar pun segera melanjutkan perjalanannya. Sejenak kemudian ia telah memasuki daerah hutan yang cukup lebat pula. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Ki
Ageng Sora Dipayana, bahwa di dalam hutan itu seolah-olah telah dibuat sebuah jalan,
yang walaupun sempit tetapi cukup baik untuk lalu lintas kuda maupun orang berjalan.
Maka tidaklah ada kesulitan apa-apa bagi Mahesa Jenar untuk langsung menuju ke
Gunung Tidar.
 Tetapi belum lama ia menyusur jalan rimba, tiba-tiba didengarnya telapak kuda yang lari
sangat kencang dari arah depan.
 Mula-mula Mahesa Jenar mengira orang-orang Sima Rodra. Tetapi ketika diketahuinya
bahwa suara derap kuda itu tidak lebih dari seekor, maka maksudnya untuk menghindar
itu diurungkan. Ia tetap saja berdiri menepi dengan maksud untuk mendapatkan suatu
pengertian baru tentang Sima Rodra dari orang itu.
 Sebentar kemudian tampaklah seekor kuda yang lari seperti terbang menuju ke arahnya.
Penunggangnya adalah orang yang pendek kokoh dan berjambang tebal.
 Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar, ia pun tampak terkejut. Segera ia menarik
kekang kudanya sehingga kuda itu berhenti beberapa langkah di hadapan Mahesa Jenar.
Mula-mula wajah orang itu tampak tegang.
 Tetapi ketika ia melihat ikat pinggang orang itu, yang lebarnya hampir selebar telapak
tangan serta dibuat dari kulit kerbau, menjadi terkejut. Segera ia ingat kepada Gemak
Paron yang mati kena sumpit punggungnya, juga memakai ikat pinggang yang serupa.
 Maka kesimpulan bagi Mahesa Jenar, orang ini pasti juga salah seorang dari gerombolan
Uling Rawa Pening. Mungkin orang inilah yang tadi disebut-sebut dengan nama Yuyu
Rumpung, yang berhasil meloloskan diri dari kejaran Sima Rodra.
 Kalau demikian, kiranya Yuyu Rumpung tadi telah berhasil menyelinap ke dalam hutan,
sementara gemak Paron berlari terus. Kemudian setelah diketahuinya bahwa Sima Rodra
telah kembali ke sarangnya, ia segera berusaha untuk melarikan diri.
 Orang berkuda itu, setelah memandangi Mahesa Jenar sejenak segera bertanya,
 “Siapakah kau yang berani lewat di jalan yang khusus bagi gerombolan Sima Rodra? “
 Tiba-tiba timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menjajagi kekuatan gerombolan
Uling ini, dengan mencoba kekuatan salah seorang anggotanya yang terkemuka. Dengan
demikian ia akan dapat mengetahui kira-kira sampai dimana kekuatan anggota-anggota
yang lain. Sedang pimpinan rombongannya sendiri pastilah tidak akan banyak terpaut
dengan Lawa Ijo, Jaka Soka dan mungkin juga Sima Rodra.
 Setelah berpikir sejenak, Mahesa Jenar segera menjawab.
 “Namaku Yuyu Rumpung, dan berasal dari Rawa Pening. Aku adalah salah seorang kepercayaan kakak-beradik Uling untuk mencari keris Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi
sayang bahwa aku dan Gemak Paron hanya berhasil mengambil tombak pendek yang
bernama Kala Tadah. Itu saja Gemak Paron terpaksa menebus dengan nyawanya, sedang
tombak itu kembali kepada pemiliknya.”
 Mendengar jawaban Mahesa Jenar, segera wajah orang itu, yang sebenarnya adalah
Yuyu Rumpung, menjadi merah menyala. Ia menjadi marah sekali karena jawaban itu
seolah-olah merupakan suatu sindiran akan ketidakmampuannya melakukan tugas yang
dibebankan kepadanya bersama Gemak Paron. Karena itu dengan gigi yang gemeretak ia
berteriak.
 “Orang gila, jangan kau mau main-main dengan Yuyu Rumpung. Meskipun aku tidak
berhasil mencuri kedua pusaka itu, tetapi aku pasti akan bisa mematahkan lehermu.
Tetapi sebelum itu, supaya aku tahu, siapakah yang telah aku bunuh, hendaknya kau
mengatakan namamu yang sebenarnya.”
 Mendengar teriakan Yuyu Rumpung, Mahesa Jenar hanya tertawa dingin.
 “Kau memang lekas marah. Untuk melaksanakan tugas yang sulit itu seharusnya Uling
Rawa Pening memilih orang yang tenang dan dapat menguasai perasaannya. Mungkin
Gemak Paron tidak selekas engkau ini menjadi marah” jawab Mahesa Jenar.
 Rupanya Yuyu Rumpung sudah tidak dapat menguasai dirinya lagi. Segera ia meloncat
dari kudanya dan dengan suatu gerakan yang dahsyat ia langsung menyerang Mahesa
Jenar dengan suatu pukulan ke arah pelipis.
 Ternyata Yuyu Rumpung adalah orang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa.
Pukulannya mengandung tenaga yang hebat, serta cepat.
 Mendapat serangan yang demikian cepatnya, Mahesa Jenar segera merendahkan diri dan
dengan sebagian tenaganya ia mempergunakan ujung sikunya untuk menyerang lambung
lawannya. Tetapi Yuyu Rumpung pun ternyata lincah sekali, sehingga ia tidak terlambat
meloncat mundur menghindar. Tetapi dalam hati ia pun tidak habis heran.
 Siapakah orang yang berjalan di dalam hutan seorang diri, tetapi mempunyai keuletan
yang sedemikian tinggi. Apalagi ia sudah tahu nama, asal serta tugas yang sedang
dilaksanakan.
 Mahesa Jenar tidak sempat merenung-renung, sebab ketika sadar bahwa serangannya
gagal, segera ia memutar tubuhnya, dan dengan kaki kirinya ia menghantam perut Yuyu
Rumpung. Sekali lagi Yuyu Rumpung terpaksa meloncat ke samping, tetapi kali ini ia
tidak mau terus-menerus diserang. Karena itu demikian kakinya melekat diatas tanah,
segera ia maju menyodok perut Mahesa Jenar.
 Kali ini sengaja Mahesa Jenar tidak menghindarkan diri, tetapi dengan tangannya ia
memukul tangan Yuyu Rumpung ke samping. Yuyu Rumpung yang percaya pada kekuatannya, ketika melihat Mahesa Jenar menangkis pukulannya sama sekali ia tidak
berusaha menarik tangannya, malahan seluruh tenaganya dikerahkan. Maka segera
terjadilah suatu benturan yang keras sekali. Dengan tak diduga sama sekali oleh Yuyu
Rumpung, bahwa lawannya memiliki tenaga yang dahsyat, sehingga ia jatuh terguling.
 Sebaliknya Mahesa Jenar pun merasakan kekuatan Yuyu Rumpung sehingga tangannya
terasa agak sakit.
 Sampai sekian Mahesa Jenar dapat mengetahui bahwa orang ini kira-kira tidak lebih dari
Carang Lampit, orang kedua sesudah Wadas Gunung dalam gerombolan Lawa Ijo. Maka
ketika dengan sedikit kesulitan Yuyu Rumpung berdiri, segera Mahesa Jenar
meloncatinya, dan dengan tangannya yang kokoh kuat, segera ia menangkap kedua
lengan Yuyu Rumpung, dan dengan lututnya ia menekan punggungnya. Yuyu Rumpung
terkejut melihat kegarangan lawannya. Tetapi tak ada lagi kesempatan baginya untuk
melepaskan diri.
 Selanjutnya terdengar Mahesa Jenar bertanya,
 “Yuyu Rumpung, selain kau dan Gemak Paron, siapakah yang termasuk orang-orang
penting dalam gerombolanmu?”
 Pertanyaan ini telah memusingkan kepala Yuyu Rumpung. Ia pun segera mengetahui
bahwa orang ini pasti bukan dari golongan hitam, sebab dari golongan itu, pada
umumnya sudah mengenal siapa-siapa yang menjadi orang-orang terpenting dalam
gerombolan masing-masing.
 Ketika sampai beberapa lama ia tidak menjawab, terasa tekanan lutut di punggungnya
semakin keras semakin keras. Sehingga terpaksa ia berkata,
 “Apakah kepentinganmu dengan mengetahui orang-orang kami?”
 “Itu adalah soalku, yang kuminta hanyalah kau sebutkan nama-nama itu, dan jangan
bohong” jawab Mahesa Jenar,
 Sementara itu punggung Yuyu Rumpung semakin terasa sakit, sehingga akhirnya ia tak
dapat mengelak lagi.
 “Gemak Paron adalah orang kedua dalam gerombolan kami, sedang aku adalah orang
ketiga” jawabnya.
 “Siapakah orang pertama?” tanya Mahesa Jenar lagi.
 “Orang pertama adalah kakang Seri Gunting“
 “Kenapa bukan Seri Gunting itu yang pergi untuk mencuri pusaka-pusaka itu?  “Kakang Seri Gunting sedang tidak ada di rumah. “
 “Kemana dia?”
 “Ke Nusa Kambangan. “
 “Ke tempat Jaka Soka?”
 Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, Yuyu Rumpung menjadi bertambah heran.
Rupanya orang ini sudah agak banyak mengenal tokoh-tokoh hitam. Karena itu ia harus
lebih berhati-hati, sebab mungkin malahan seluruhnya sudah diketahui, sehingga
pertanyaan-pertanyaannya hanya merupakan sebuah pancingan saja.
 Maka jawabnya..
 “Ya, kakang Seri Gunting pergi ke tempat Jaka Soka.”
 Mahesa Jenar mengangguk-angguk. Tahulah ia bahwa kekuatan gerombolan hitam itu
benar-benar seimbang, sehingga pertemuan akhir tahun di Rawa Pening benar-benar akan
menarik.
 Ketika Mahesa Jenar tidak memerlukan hal-hal lain lagi, segera Yuyu Rumpung
dilepaskan, tetapi ia tidak membiarkannya pergi berkuda.
 “Yuyu Rumpung, kau boleh pergi, tetapi aku ingin meminjam kudamu. Sedang kau
dapat mencari kuda Gemak Paron untuk kau pakai. Aku temukan tadi mayatnya di luar
hutan. Kalau kau akan mencarinya, pergilah membelok ke selatan, di mulut lorong ini”
kata Mahesa Jenar.
 Mahesa Jenar sengaja membiarkan Yuyu Rumpung berjalan kaki dan menunjukkan arah
yang salah atas mayat Gemak Paron, supaya orang ini tidak segera sampai di Rawa
Pening. Ia mengharap untuk dapat mendahului kakak beradik Uling itu.
 Yuyu Rumpung yang tidak tahu maksud Mahesa Jenar, menjadi keheranan. Tetapi
bagaimanapun juga ia merasakan keperkasaan orang itu. Maka ketika ia mendapat
kesempatan untuk pergi, segera iapun meloncat dan melangkah cepat sekali menjauhi
Mahesa Jenar, meskipun ia menggerutu tak habisnya karena kudanya dirampas.
 Sedangkan Mahesa Jenar merasa mendapat keuntungan dengan pertemuannya dengan
Yuyu Rumpung. Ia sudah mendapat gambaran sedikit tentang kekuatan gerombolan
Uling Rawa Pening, sedangkan keuntungannya yang lain ia telah dapat menghambat
dijalan orang itu, sehingga, kemungkinan untuk dapat mendahului sampai ke Gunung
Tidar semakin besar. Sedangkan kuda yang dirampasnya, sama sekali tak diperlukannya,
sebab dengan kuda itu, ia tidak lagi bebas untuk dapat menyusup kegerumbulan apabila
ia berjumpa dengan orang yang perlu dihindari. Juga jarak yang ditempuhnya sudah tidak
begitu jauh lagi. Kalau misalnya ia dapat mencapai Gunung itu sebelum sore, ia masih juga harus menunggu sampai matahari terbenam. Maka akhirnya dilepaskannya kuda
Yuyu Rumpung itu, dan Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.
 Sementara itu cahaya merah telah membayang di langit mewarnai mega yang betebaran.
Sedang didalam hutan, sinar matahari yang sudah sangat lemah itu tidak kuasa lagi untuk
melawan kegelapan yang perlahan tapi pasti akan turun menyeluruh sampai kesegenap
lekuknya.
 Malam itu seperti biasa dalam perjalanannya di hutan, Mahesa Jenar memilih tempat
tidurnya diatas cabang pohon untuk menghindari serangan binatang buas. Meskipun
hutan itu tidak segarang hutan Mentaok, tetapi didalamnya hidup pula jenis harimau yang
cukup berbahaya, yaitu harimau loreng. Malam itu tak ada sesuatu hal yang terjadi.
Kecuali tubuh Mahesa Jenar menjadi gatal digigit nyamuk yang banyaknya bukan main.
 Ketika langit disebelah Timur mulai meremang, Mahesa Jenar segera turun dari tempat
istirahatnya. Dan setelah sekali dua kali ia menggeliat, maka ia segera memulai kembali
perjalanannya ke Gunung Tidar sambil mencari sumber air untuk mencuci mukanya.
Jalan yang ditunjukkan oleh Ki Ageng Sora Dipayana itu ternyata jauh lebih dekat
daripada apabila ia menempuh jalan yang direncanakannya semula. Jalan ini langsung
memotong arah ketujuannya. karena itu maka ia tidak perlu untuk tergesa sebab ia masih
harus menunggu gelap untuk bertindak.
 Pada saat ia melewati longkangan hutan itu, ia dapat jelas melihat Gunung Tidar berdiri
tegak seperti jamur raksasa, yang konon merupakan pusar Pulau Jawa, sudah tidak begitu
jauh lagi dihadapannya. Sehingga perjalanan Mahesa Jenar kali ini merupakan sebuah
perjalanan yang justru diperlambat. Meskipun demikian ia masih juga agak kesiangan
sampai didataran yang mengitari bukit itu, sehingga ia mempunyai waktu sekedar untuk
beristirahat.
 Maka ketika sampai saaatnya matahari turun serta burung mulai berkitaran mencari
tempat untuk tidurnya, berdirinya Mahesa Jenar dengan wajah yang tegang memandangi
Gunug Tidar dimana berdiam suami isteri Sima Rodra, yang telah berhasil menyimpan
sepasang keris Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten.
 Dalam keadaan yang demikian seolah-olah ia mulai menilai dirinya kembali. Sudahkah
ia siap untuk melakukan tugas yang penting itu. Ia seorang diri harus terjun langsung
kedalam sarang sepasang harimau yang cukup ganas. Berkali-kali ia meremaskan
tangannya dimana disimpan senjata kepercayaannya Sasra Birawa.
 Sementara kemudian, ketika benar-benar matahari telah melenyapkan diri dibalik
Gunung Tidar itu, mulailah Mahesa Jenar melaksanakan tugas untuk membebaskan
kedua pusaka itu berdasarkan petunjuk dari Kiai Ageng Sora Dipayana.
 Untuk naik ke bukit itu, ia tidak langsung mendaki dari arah Timur, tetapi ia melingkar
ke Selatan dan dari sanalah dengan hati-hati sekali ai selangkah demi selangkah
mendekati lereng bukit itu. Sebentar ia berhenti untuk mendengarkan kalau ada langkah seseorang ataupun tarikan napas. Untunglah bahwa telinga dan matanya cukup terlatih.
 Ketika sampai pada tanjakan pertama dari Bukit Tidar tampaklah bahwa Sima Rodra
benar-benar memasang perbentengan untuk melindungi sarangnya. Batu besar yang
tampaknya berserak itu ternyata merupakan pasangan yang apabila sedikit saja tersentuh,
pasti akan tergelincir dan menggelundung ke bawah. Untunglah bahwa tiap gerak Mahesa
Jenar selalu dilandasi oleh ketelitian serta kehati-hatian. Setelah merayap bebrapa saat
Mahesa Jenar berhasil melintasi pagar yang pertama untuk kemudian menjumpai
benteng. Batu padas yang besar disusun meninggi sampai hampir dua kali tinggi orang.
Dengan hati-hati
 Mahesa Jenar mendekati benteng itu. Kemudian dengan tangannya ia meraba-raba,
seolah ingin mengetahui sampai dimana kira-kira kekuatan padas itu. Mungkin dengan
kekuatan tangannya ia bisa, meskipun tidak sekaligus tetapi setidaknya sedikit demi
sedikit menghancurkan padas yang tidak sekeras batu.
 Kalau Mahesa Jenar menghancurkan padas itu, maka besar kemungkinannya bahwa
kedatangannya akan segera diketahui oleh pengawal-pengawal yang pasti berkeliaran di
dalam benteng itu. Maka dicarinya cara lain untuk dapat melampauinya. Sekali lagi
Mahesa Jenar meraba-raba serta menaksir kekuatannya. Kemudian dipilihnya cara
dengan memanjat saja, dan kemudian meloncat masuk.
 Demikianlah Mahesa Jenar dengan hati-hati memanjat dinding batu padas itu. Sampai di
atasnya ia tidak langsung meloncat, tetapi dengan perlahan-lahan sekali ia melekatkan
dirinya merapat dinding dan untuk beberapa lama ia menelungkup di situ sambil
mengamat-amati keadaan di dalam daerah sarang Sima Rodra itu.
 Malam itu rasanya sepi sekali. Lebih sepi daripada malam-malam yang pernah
dilewatinya. Sekali duakali terdengar anjing liar menyalak di kejauhan, disaut dengan
pekikan burung hantu yang sedang mencari mangsa.
 Mahesa Jenar masih saja berbaring menelungkup diatas dinding batu. Matanya berputar
menjelajahi seluruh lingkaran yang membentang di hadapannya. Adapun daerah di dalam
benteng Sima Rodra itu pun merupakan suatu lapangan yang bersemak-semak dan
rumput-rumput liar bertebaran tumbuh di sana sini. Sebenarnya tempat itu merupakan
tempat yang baik sekali untuk dapat menyusup mendekati goa Sima Rodra di lambung
sebelah utara bukit itu. Sebab dengan adanya semak-semak dan rumput-rumput liar itu,
justru memberi kemungkinan yang lain, bahwa di dalam semak-semak itulah orang-orang
Sima Rodra berjaga-jaga untuk mengawasi keamanan sarangnya.
 Sampai beberapa lama Mahesa Jenar masih saja melekatkan dirinya pada dinding padas
itu. Tiba-tiba terasalah angin yang bertiup perlahan-lahan menghembuskan bau yang
wangi. Bau yang dibawa angin dari utara ini mempunyai pengaruh yang aneh sekali.
Terasa betapa tubuh Mahesa Jenar menjadi nyaman, serta matanya menjadi berat sekali.
 Angin yang aneh ini datang mengalir terus-menerus seperti mengalirnya air sungai. Sehingga pengaruhnya semakin lama semakin mencengkeram diri Mahesa Jenar.
 Tetapi Mahesa Jenar adalah seorang prajurit yang terlatih lahir-batin. Untunglah bahwa
ia segera menyadari keadaannya, bahwa pasti ia telah kena pengaruh bau wangi itu, yang
sengaja disebarkan orang untuk melemahkan syaraf, sehingga orang menjadi kantuk.
 Inilah kekuatan sirep yang seperti pernah dialami beberapa tahun lalu, yang disebarkan
oleh Lawa Ijo. Tetapi menilik kekuatannya, rasanya sirep kali ini agak lebih kuat dari
yang dahulu, serta sifatnyapun berlainan pula.
 Karena itu Mahesa Jenar segera memusatkan kekuatan batin, dan seperti orang yang
sedang mengheningkan cipta, Mahesa Jenar diam tanpa bergerak di tempatnya berusaha
melawan pengaruh sirep itu.
 Meskipun agak lambat, tapi sedikit demi sedikit ia berhasil menguasai dirinya kembali,
sehingga akhirnya ia merasa bahwa ia telah lepas dari daya sirep itu.
 Mengalami hal yang demikian Mahesa Jenar berpikir keras. Apakah sirep ini datang dari
Sima Rodra? Tetapi kalau benar demikian, maka anak buahnya sendiri yang tidak
mempunyai daya tahan yang cukup akan tertidur pula. Dengan demikian maka kekuatan
mereka akan jauh berkurang. Jadi adalah suatu kemungkinan bahwa sirep ini datangnya
dari luar. Dari orang lain. Tetapi siapa? Kakak-beradik Uling tak mungkin akan secepat
ini mencapai Bukit Tidar, kecuali kalau ia berada pada jarak yang dekat sejak Gemak
Paron menyusup masuk ke goa Sima Rodra ini.
 “Akh..., tak akan selesai pekerjaan ini dengan menimbang-nimbang saja. Lebih baik aku
masuk dan melihat keadaan” gerutu Mahesa Jenar.
 Segera setelah itu, dengan tidak meninggalkan ke hati-hatian, Mahesa Jenar meloncat
masuk ke dalam lingkungan sarang sepasang harimau yang cukup ganas itu. Dengan
mengendap-endap ia berjalan, lewat lambung sebelah timur ia memutar ke arah utara.
 Tetapi mendadak ia dikejutkan oleh teriakan yang mirip dengan aum seekor harimau,
disusul oleh jerit yang mengerikan. Pastilah suara ini berasal dari suami-istri Sima Rodra
yang sedang marah. Cepat Mahesa Jenar meloncat semakin dekat ke arah suara itu.
Beberapa kali ia melihat beberapa penjaga tidak dapat meloloskan diri dari pengaruh
sirep yang tajam itu.
 Ketika ia sudah semakin dekat, ia bertambah terkejut lagi ketika ia mendengar derap
orang berkelahi. Darah Mahesa Jenar segera bergejolak hebat. Siapakah yang telah
mendahuluinya masuk sarang Sima Rodra...?
 Perlahan-lahan ia maju setapak demi setapak, sehingga akhirnya ia mendapat
perlindungan sebuah padas yang cukup besar di sebelah timur goa Sima Rodra.  Kembali darah Mahesa Jenar tersirap ketika ia menyaksikan suami-istri Sima Rodra itu
sedang bertempur dengan seorang yang bertubuh tinggi, berwajah bulat, serta berdada
lebar. Tetapi karena gelap, ia tidak dapat segera mengenal wajahnya. Pertempuran itu
ternyata berlangsung dengan hebatnya.
 Suami-istri Sima Rodra ternyata memang bukan namanya saja yang garang. Tetapi
tandangnya pun tidak kalah hebat dengan namanya. Kakinya yang meskipun besar-besar,
sebesar bumbung petung, tetapi seperti seekor harimau, dengan lincahnya ia meloncat,
menyerang dan menghantam. Sedang istrinya bertempur dengan tangan yang
dikembangkan.
 Segera Mahesa Jenar mengenal bahwa cara yang demikian selalu dipergunakan oleh
seorang yang sangat percaya akan kekuatan jari-jarinya, atau yang lebih mengerikan, ia
bersenjatakan kuku-kukunya yang beracun.
 Melihat cara suami-istri Sima Rodra bertempur, segera ia mengingat akan ceritera
Demang Pananggalan. Maka Mahesa Jenar hampir dapat memastikan bahwa yang pernah
datang ke Prambanan serta pernah menculik gadis dan dibawa ke Gunung Baka adalah
gerombolan Sima Rodra ini. Maka ketika ia telah menyaksikan sendiri kegarangannya, ia
pun menjadi yakin bahwa Demang Pananggalan memang bukan lawan dari orang ini.
 Dalam menghadapi segala hal, tampaknya suami-istri Sima Rodra selalu bertempur
bersama, sehingga untuk melawan orang yang baru setingkat Pananggalan pun mereka
bertempur bersama.
 Kalau demikian halnya, maka bagaimanakah kira-kira yang akan terjadi dalam
pertemuan golongan hitam di Rawa Pening? Bolehkah mereka bertempur berpasangpasang, ataukah hanya seorang-seorang?
 Menilik gerak serta keperkasaannya, maka pastilah Sima Rodra sendiri memiliki
kehebatan yang sama dengan Lawa Ijo, sedang istrinya ternyata sedikit di bawahnya.
 Tetapi karena perempuan itu bersenjatakan kuku-kukunya sendiri maka ia pun nampak
sangat berbahaya. Apalagi ketika sekali tampak di ujung kuku itu berkilat suatu cahaya,
maka sudah pasti bahwa di ujung kuku-kuku itu ditaruh logam yang mungkin sekali
beracun.
 Tetapi lawan Sima Rodra itu pun ternyata orang luar biasa. Mahesa Jenar sendiri pernah
bertempur berpuluh kali menghadapi orang-orang perkasa. Yang terakhir adalah Jaka
Soka serta Lawa Ijo. Tetapi untuk menghadapi dua orang sekaligus baginya adalah
pekerjaan yang berat sekali. Kalau ia terpaksa bertempur melawan keduanya, maka
pastilah pagi-pagi ia sudah mempergunakan ilmunya Sasra Birawa.
 Sedang orang itu, yang bertempur dengan Sima Rodra, nampaknya tanpa
mempergunakan lambaran ilmu apapun, kecuali ketangkasan serta kekuatan jasmaniah
yang cukup terlatih.  Maka, Mahesa Jenar tak berhenti menebak. Siapakah gerangan dia. Kalau yang datang kakak-beradik Uling, hampir dapat dipastikan bahwa mereka akan bertempur
berpasangan pula. Ataukah dia yang bernama Sri Gunting? Kalau orang ini Sri Gunting,
maka Uling Rawa Pening itu seharusnya mempunyai kesaktian yang luar biasa.
 Sambil berpikir berputar balik, Mahesa Jenar menyaksikan pertempuran yang berjalan
seru itu. Berkali-kali suami-istri Sima Rodra itu mengaum dan memekik hebat dibarengi
dengan serangan-serangan sangat berbahaya. Tetapi orang yang melawannya itu
meskipun agak kerepotan selalu juga berhasil menghindar, bahkan beberapa kali ia dapat
mengadakan pembalasan-pembalasan.
 Gerak suami-istri Sima Rodra itu tampaknya memang serasi sekali dalam keganasannya.
Mereka selalu berhasil saling mengisi dengan gerak-gerak membingungkan. Kadangkadang mereka tidak menyerang, tetapi hanya berlari berputar mengelilingi lawannya,
dan kadang-kadang mereka bersama-sama menerkam dari arah yang berlawanan.
 Sebaliknya, lawannya pun memiliki ketangkasan yang luar biasa pula. Sekali-kali ia
melesat jauh, tetapi sesaat kemudian ia sudah berdiri di satu sisi dari kedua-duanya dan
menyerang dengan pukulan yang dahsyat. Beberapa kali ia melingkar, meloncat dan
berputar selagi masih di udara. Tangannya bergerak menyambar-nyambar, seolah-olah
berubah menjadi seorang raksasa jelmaan Harjuna Sasra Bahu yang mempunyai seribu
tangan memegang seribu macam senjata, dalam ceritera pewayangan.
 Demikianlah maka pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya. Tetapi karena Sima
Rodra seolah-olah dapat mensenyawakan diri, serta kekuatannya, maka semakin lama
tampaklah bahwa lawannya menjadi semakin terdesak.
 Melihat keadaan itu, otak Mahesa Jenar bekerja keras. Bagaimanakah kalau ia
mengambil keuntungan dari pertempuran itu? Ia masih belum tahu sama sekali, siapakah
gerangan yang bertempur itu.
 Tetapi menurut perhitungan Mahesa Jenar, ia lebih baik melawan yang seorang itu
apabila terpaksa, daripada melawan Sima Rodra suami-istri. Karena itu ia memutuskan
untuk menerjunkan diri dalam kancah pertarungan itu untuk membantu lawan Sima
Rodra. Dan sesudah itu ia akan mengadakan perhitungan dengan lawannya. Mudahmudahan lawan Sima Rodra itu tidak bersamaan maksud dengan kedatangannya,
sehingga ia tidak perlu berhadap-hadapan sebagai lawan.
 Setelah Mahesa Jenar mendapatkan ketetapan hati, maka segera ia mempersiapkan diri.
Dibetulkannya ikat pinggangnya, kancing-kancing bajunya, dan ikat kepalanya, supaya
nanti tidak mengganggunya.
 Demikianlah dengan menggeram keras untuk menandai kehadiran, Mahesa Jenar
langsung menyerang istri Sima Rodra, dengan suatu kepercayaan bahwa ia telah
dibebaskan dari akibat racun karena jasa kawan sepermainannya, Anis dari Sela. Racun Lawa Ijo yang didapatkannya dari Pasingsingan pun tak berhasil membunuhnya, apalagi
jenis racun yang lain, yang tidak berasal dari orang seperti Pasingsingan.
 Kedatangan Mahesa Jenar sangat mengejutkan mereka yang sedang bertempur, sehingga
suami-istri Sima Rodra berloncatan mundur. Lawannya pun sejenak berdiri termangu,
sehingga untuk sesaat suasana jadi hening, sepi seperti daerah kematian yang
mengerikan. Tetapi hal yang sedemikian itu tidak berlangsung lama, sebab terdengar
suara parau Sima Rodra membentak Mahesa Jenar.
 “Hei..! siapakah kau yang ikut serta mengantarkan nyawa? “
 Mahesa Jenar tidak menyahut pertanyaan itu, tetapi ia berkata kepada lawan Mahesa
Jenar,
 “Aku belum mengenal Tuan, tetapi aku berdiri di pihak Tuan.”
 Sebelum orang itu menjawab, terdengar teriakan istri Sima Rodra,
 “Kami bunuh kalian berdua”
 Istri Sima Rodra tidak menantikan lagi jawaban, tetapi dengan loncatan yang garang ia
menyerang dengan kuku-kukunya yang diarahkan kepada Mahesa Jenar.
 Segera pertempuran itu dimulai kembali. Tetapi sekarang Sima Rodra tidak dapat lagi
mengurung lawannya, sebab sekarang mereka harus berhadapan satu lawan satu.
Meskipun demikian, tidak segera dapat dilihat siapakah yang akan dapat memenangkan
pertempuran itu.
 Suami-istri Sima Rodra yang menjadi semakin marah itu bertempur semakin garang
pula. Mereka segera mengerahkan tenaga serta kesaktian mereka untuk segera dapat
membinasakan lawan-lawannya yang berani memasuki daerahnya, apalagi berani
menantangnya.
 Dalam keadaan demikian, lawan Sima Rodra itu sempat juga menyaksikan Mahesa Jenar
bertempur. Menyaksikan kelincahannya, keperkasaannya, serta kepercayaannya kepada
diri seperti lazimnya seorang perwira, ia pun menjadi berpikir tentang Mahesa Jenar.
Sebab orang yang memiliki kehebatan yang sampai ke tingkat itu, pastilah bukan orang
sembarangan.
 Pertempuran berlangsung terus. Tetapi dalam beberapa saat kemudian tampaklah bahwa
Mahesa Jenar berhasil menguasai lawannya, sebaliknya orang yang telah bertempur
itupun, setelah lawannya berkurang seorang, dapat pula sedikit demi sedikit mendesak
musuhnya. Dengan demikian pertempuran itu ternyata sudah tidak seimbang lagi.
 Dalam kemarahannya, suami-istri Sima Rodra itu bertempur semakin buas, liar dan
kasar. Sedang lawannya, tampaknya tetap tenang dan yakin.  Sesaat kemudian terdengar suara yang aneh keluar dari mulut Sima Rodra. Suara jeritan
yang mirip dengan aba-aba. Apalagi setelah itu, tampak pula gerak-gerak mereka yang
mencurigakan.
 Meskipun mereka bertempur terus, tampak bahwa mereka sedang berusaha untuk
mendekati lobang goa. Mahesa Jenar maupun lawan yang seorang lagi, dapat segera
menangkap maksud itu, karena itu mereka menjadi lebih waspada.
 Dan apa yang dicurigakan itu memang ternyata benar. Untunglah bahwa kawan
bertempur Mahesa Jenar memiliki kecepatan bergerak yang luar biasa. Sehingga ketika
pada suatu saat, dengan sekali gerakan suami-istri Sima Rodra itu meloncat akan
memasuki goanya, secepat itu pula kawan bertempur Mahesa Jenar itu telah meloncat
menghalang-halangi.
 Kembali Sima Rodra mengaum hebat karena marahnya. Bersamaan dengan itu geraknya
menjadi semakin liar. Tetapi keadaan itu tetap tidak menolong dirinya, sehingga mereka
tetap terdesak terus. Dalam keadaan yang demikian sekali lagi terdengar suara aneh dari
harimau liar itu. Tetapi kali ini ternyata mereka lebih berhati-hati.
 Demikian teriakan itu berhenti demikian mereka meloncat cepat seperti didera halilintar
ke balik sebuah batu besar di samping goanya. Segera Mahesa Jenar dan kawan
bertempurnya itu memburu. Tetapi terlambat.
 Sesaat kemudian terdengar deru yang hebat dibalik batu itu, dan berguguranlah tanah di
sekitarnya menyeret batu besar itu seolah-olah terhisap kedalam sebuah lobang besar di
bawah tanah. Agar tidak turut terseret ke dalamnya, maka Mahesa Jenar bersama dengan
lawan Sima Rodra itu serentak meloncat mundur. Selanjutnya untuk beberapa lama
mereka hanya merenungi onggokan tanah bekas guguran itu.
 “Sebuah pintu rahasia,” desis orang itu.
 Memang sejak semula Mahesa Jenar juga menduganya demikian, apabila yang
berkepentingan sudah ada di dalamnya, dengan sedikit sentuhan pada alat yang
diperlukan, gugurlah tanah di atas pintu itu, dan menutup lubangnya sehingga mereka
tidak akan dapat dikejar, untuk selanjutnya keluar dari pintu rahasia yang lain.
 Sebentar kemudian kembali orang itu berkata,
 “Terimakasih atas pertolongan Tuan.”
 “Aku hanya membantu mempercepat penyelesaian saja, sebab tanpa aku pun tampaknya
Ki Sanak pasti dapat menyelesaikan seorang diri,” jawab Mahesa jenar.
 Orang itu tertawa lirih.  “Tuan terlalu menyanjung aku, tetapi sebenarnya bahwa kedatangan tuan menyelamatkan nyawaku. Hanya sayang bahwa aku terpaksa tidak dapat terlalu lama
menemui Tuan, sebab ada satu pekerjaan yang harus aku selesaikan, katanya kemudian“
 Jantung Mahesa Jenar berdesir lembut. Apakah gerangan yang akan dilakukannya?
Karena itu ia mencoba bertanya,  “Apakah yang memaksa Ki Sanak begitu tergesa-gesa?”
 “Suatu pekerjaan yang tak berarti. Aku hanya ingin memeriksa keadaan di dalam goa,
jawabnya.”
 Mahesa Jenar mulai melihat adanya sesuatu rahasia pada orang itu. Karenanya ia tidak
bertanya tentang siapakah dia dan dari manakah datangnya, sebab pertanyaan yang
demikian tentu tidak akan mendapat jawaban. Maka kemudian ia hanya berkata,
 “Bolehkah aku turut serta masuk kedalam goa? “
 Orang itu tampak ragu-ragu sejenak, baru ia menjawab dengan mengajukan sebuah
pertanyaan,
 “Tuan, apakah sebenarnya yang akan Tuan lakukan di atas bukit kecil ini?”
 Mendengar pertanyaan orang itu, Mahesa Jenar menjadi agak bingung. Tetapi pasti
bahwa ia tidak akan menyebutkan keperluan yang sebenarnya. Maka dijawabnya dengan
sekenanya saja,
 “Aku datang untuk menuntut balas atas kematian kakakku di Pangrantunan.”
 “Pangrantunan?” sahut orang itu.
 “Ya,” jawab Mahesa Jenar.
 Tampaklah orang itu berpikir sejenak. Lalu katanya kemudian,
 “Tuan... orang Pangrantunan?”
 ”Ya,” jawab Mahesa Jenar pendek.
 Sayanglah bahwa Mahesa Jenar tak dapat melihat sorot mata orang itu di dalam gelap.
Kalau saja ia mengetahui, dapatlah ia mengerti bahwa orang itu curiga kepadanya.
 
 Sejenak kemudian orang itu berkata,  “Apakah yang Tuan lakukan seterusnya? Tuan pasti tidak akan dapat menemukan Suami-Istri itu untuk beberapa lama.”
 “Tak apalah. Tetapi aku hanya ingin melihat-lihat saja,” jawab Mahesa Jenar.
 “Mudah-mudahan apa yang Tuan katakan benar, silahkan Tuan melihat. Seterusnya aku
berjanji untuk membalas budi Tuan membinasakan suami-istri itu pada kesempatan lain.
Semoga Tuan benar-benar tidak mempunyai kepentingan lain” gumam orang itu.
 Kemudian orang itu pergi bersama Mahesa Jenar, memasuki goa Sima Rodra dengan
hati-hati. Mungkin terdapat berbagai rahasia di dalamnya. Goa itu sebenarnya tidaklah
begitu dalam. Tetapi di dalamnya terdapat beberapa ruang yang dindingnya dilapisi
papan, tak ubahnya seperti ruang-ruang rumah biasa. Ruang itu diterangi dengan oncoroncor.
 Dua ruang sudah mereka masuki, tetapi mereka tak menemukan sesuatu. Maka
sampailah mereka pada ruang yang ketiga, yang tidak seperti ruang-ruang lain. Ruang ini
mempergunakan pintu yang ditutup rapat. Ternyata pintu ini tidak hanya ditutup rapat,
tetapi juga dikancing dengan kancing yang tak dapat diketahui oleh orang lain.
 Ketika sudah beberapa lama mereka tak berhasil membukanya, mereka menjadi tidak
sabar lagi. Mereka berdua sepakat untuk membuka pintu itu dengan paksa. Dengan
demikian, mereka mempergunakan kaki mereka untuk bersama-sama menjebol pintu
kayu yang terkancing itu.
 Dengan satu tendangan yang hampir bersamaan mereka dapat memecahkan pintu itu,
yang dengan suara gemeretak pecah berserakan. Tetapi meskipun pintu itu sudah
menganga lebar, mereka tidak tergesa-gesa masuk. Sebab bukanlah mustahil bahwa ada
apa-apa di dalamnya.
 Setelah beberapa saat tak ditemukan apapun, maka dengan langkah yang sangat hati-hati
mereka melangkah masuk. Tetapi demikian mereka melangkahkan kakinya melewati
tlundak pintu, demikian serentak bulu roma mereka berdiri.
 Di sudut ruangan itu mereka melihat sebuah nampan di atas sebuah meja yang dialasi
dengan kain beludru buatan Tiongkok yang berwarna kuning keemasan. Dan yang
mengejutkan mereka adalah cahaya yang biru kekuning-kuningan, yang memancar dari
dua keris yang diletakkan di atas kain beludru itu. Karena itu, untuk sesaat mereka tegak
berdiri seperti patung.
 Mahesa Jenar, sebagai seorang perwira istana, sudah pasti bahwa apa yang dilihatnya itu
sangat mengharukan hatinya. Ia yakin sekarang bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten itu
adalah keris-keris yang asli.
 Mahesa jenar memang pernah melihat keris itu beberapa kali, dahulu sebelum lenyap
dari Istana Demak. Memang tidak semua prajurit bahkan perwira yang beruntung dapat menyaksikan keris itu. Karena Mahesa Jenar saat itu menjadi pengawal raja dan istana,
maka ia diberi kesempatan untuk menyaksikan pada saat keris itu dimandikan pada hari
pertama setiap tahun. Karena itu ia hampir tidak dapat lagi mengendalikan diri. Hampir
saja ia meloncat mendekati keris-keris itu kalau saja orang yang berdiri di sampingnya itu
tidak menggamitnya.
 “Apakah Tuan berkepentingan dengan keris-keris itu?” kata orang itu.
 Mahesa Jenar kini tak dapat mengelak lagi. Kedua keris yang dicarinya sudah ada di
hadapannya. Maka apapun yang terjadi haruslah dihadapinya.
 “Benar Ki Sanak, aku datang untuk kedua keris ini. Aku harap Tuan mempunyai
kepentingan yang tidak sama dengan kepentinganku,” jawab Mahesa Jenar tegas.
 ”Hem....!” orang itu menggeram. “Aku sudah menduga. Tetapi sayang bahwa
kepentingan kita sama.”
 Mendengar kata-kata orang itu seharusnya Mahesa Jenar tidak lagi terkejut, namun
demikian darahnya bergelora hebat.
 “Ki Sanak, maafkanlah, aku tidak dapat melepaskannya lagi,” kata Mahesa Jenar sambil
menahan diri.
 Orang itu merenung sejenak. Dalam keremangan cahaya oncor-oncor, Mahesa Jenar
melihat betapa gelisah perasaannya, sehingga akhirnya keluarlah kata dari mulutnya,
 “Tuan, aku telah berhutang budi kepada Tuan. Tetapi aku akan tetap pada pendirianku
untuk mendapatkan benda-benda keramat dari Istana Demak itu.”
 Mahesa Jenar tidak tahu siapakah orang itu sebagaimana orang itu tidak mengenal
Mahesa Jenar. Karena itu mereka saling berketetapan hati untuk dapat menguasai kedua
pusaka itu.
 Bagaimanapun Mahesa Jenar menyabarkan diri, namun akhirnya terloncat pula katakatanya yang tajam, “Ki Sanak, seharusnya tadi aku membiarkan Tuan bertempur seorang diri dan sekaligus
dibinasakan oleh suami-istri Sima Rodra itu.”
 “Kalau demikian... Tuan akan berbuat kesalahan. Bukankah lebih mudah untuk melawan
aku seorang menurut pertimbangan Tuan daripada melawan mereka berdua?”
 Jawab orang itu, yang meskipun nampaknya masih setenang semula, tetapi isi katakatanya tidak kalah runcingnya.
 Sekali lagi darah Mahesa Jenar menggelegak. Ternyata orang itu dapat dengan cepat menebak perhitungannya.
 “Ki Sanak benar, memang demikianlah apa yang akan aku lakukan” jawab Mahesa Jenar
tanpa tedeng aling-aling.
 “Baik Tuan. Tetapi sebaiknya Tuan mempertimbangkan sekali lagi” sahut orang itu.
 ”Tidak ada pertimbangan lain” jawab Mahesa Jenar.
 Mahesa Jenar sudah pasti sekarang, bahwa ia harus bertempur melawan orang itu.
 Sebenarnya ia masih bimbang terhadap bakal lawannya. Menilik sikap serta katakatanya, agak aneh kalau ia termasuk golongan hitam yang lain, yang menginginkan
pusaka-pusaka itu. Sebentar kemudian Mahesa Jenar teringat pula keramahan Jaka Soka
pada waktu ia akan menyertai rombongan orang-orang yang akan melintas hutan
Tambakbaya, juga suami-istri Sima Rodra itu sendiri, yang dengan ramah minta
menginap di Kademangan Prambanan. Karena itu ia tidak akan menilai orang itu dari
sikap serta kata-katanya.
 Sementara itu orang itu menjawab, Kalau demikian, marilah kita tentukan bersama,
siapakah yang berhak untuk menguasai kedua keris itu.
 Mahesa Jenar sudah yakin bahwa memang demikianlah yang akan terjadi. Tetapi
meskipun demikian ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut orang itu, mau tak
mau ia terpaksa menaruh hormat kepadanya.
 “Kata-kata Tuan adalah kata-kata jantan. Mudah-mudahan aku dapat mengimbangi
kejantanan Tuan,” jawab Mahesa Jenar kemudian.
 Yang mengherankan, tetapi juga agak menjengkelkan Mahesa Jenar, orang itu masih saja
tertawa lirih.
 “Marilah kita keluar, supaya kita tidak harus berdesak desakan dengan dinding-dinding
ruang ini,” katanya.
 Mahesa Jenar tidak menjawab. Ia langsung melangkah keluar diikuti oleh orang itu.
Sambil berjalan Mahesa Jenar menimbang-nimbang tentang lawannya. Pastilah orang ini
berilmu tinggi dan pasti orang itu pula yang telah menyebarkan sirep sedemikian
tajamnya.
 Maka ketika mereka sudah sampai di luar goa, segera mereka saling berhadapan dengan
taruhan yang besar. Juga masing-masing menyadari bahwa mereka akan berhadapan
dengan lawan yang cukup tangguh. Karena itu tidak ada pilihan lain kecuali bekerja matimatian untuk memperebutkan kedua pusaka itu. Apalagi Mahesa Jenar yang langsung
atau tidak langsung ikut serta bertanggung jawab akan keselamatan pusaka itu. Maka
taruhannya untuk mendapatkan kedua keris itu adalah nyawanya.  Sejenak kemudian setelah mereka bersiap, terdengarlah orang itu berkata,
 “Marilah Tuan, permainan kita mulai.”
 “Silahkan,” jawab Mahesa Jenar pendek.
 Dan segera terjadilah suatu pertarungan yang dahsyat. Meskipun mula-mula mereka
tampaknya agak segan-segan, tetapi ketika mereka merasakan benturan-benturan serta
tekanan-tekanan dari masing-masing pihak, akhirnya mereka tidak lagi mengendalikan
diri.
 Lawan Mahesa Jenar itu ternyata memang orang perkasa luar biasa, gerakan-gerakannya
serba cepat dan mempunyai tenaga yang hebat, sehingga menimbulkan desiran-desiran
angin yang menyambar-nyambar mengiringi setiap gerak dari tubuhnya. Sedang Mahesa
Jenar adalah seorang yang mempunyai pengalaman yang cukup baik, sehingga setiap
gerakan tangan serta kakinya selalu mempunyai arti serta membahayakan. Tubuhnya
yang tidak sebesar lawannya itu, bergerak-gerak seperti bayangan yang dengan
lincahanya menari-nari mengitari lawannya dengan belaian maut.
 Lawannya yang bertubuh tegap itu lebih mempercayakan diri pada kekuatannya,
sehingga beberapa kali ia dengan beraninya menyerang dengan mempergunakan kedua
tangannya, bahkan dengan serangan-serangan berganda, sehingga suatu ketika Mahesa
Jenar tidak sempat lagi mengelakkan diri.
 Pukulan orang itu, ditambah sekaligus dengan berat tubuhnya yang besar, mengenai
pelipis Mahesa Jenar demikian kerasnya, sehingga Mahesa Jenar terdorong beberapa
langkah ke belakang. Tetapi rupanya ia tidak saja berhenti sampai sekian. Sebelum
Mahesa Jenar dapat memperbaiki keadaannya, kembali ia berhasil mengenai lambung
Mahesa Jenar dengan kakinya. Kembali Mahesa Jenar terhuyung-huyung surut beberapa
langkah. Untunglah bahwa ia mempunyai ilmu yang tinggi sehingga meskipun dengan
agak kesulitan, dalam sekejap ia telah berhasil tegak diatas kedua kakinya yang kokoh
kuat bagaikan tonggak baja.
 Karena beberapa pukulan yang dapat mengenainya itu, Mahesa Jenar menjadi marah
bukan buatan. Wajahnya tampak menyala, serta matanya menyorotkan sinar-sinar yang
memancarkan pergolakan darahnya. Sekali ia melompat ke depan, dan dengan sebuah
gerak tipuan yang bagus ia berhasil menarik perhatian lawannya pada tangan-tangannya
yang menyerang ke arah kepala. Kemudian dengan kecepatan yang hampir tidak tampak,
ia mengangkat kaki kanannya dan langsung menghantam dada lawannya.
 Demikian keras serangan itu, sehinggam lawannya terpental beberapa langkah. Tetapi
demikian ia tegak, demikian ia telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.
 Bahkan sesaat kemudian ia telah melangkah maju, dan dengan kuatnya ia menghantam
ke arah dada Mahesa Jenar. Dengan satu langkah, Mahesa Jenar bergerak ke samping, dan demikian pukulan itu tidak mengenai sasarannya demikian Mahesa Jenar membalas
dengan sebuah pukulan pada wajah orang itu.
 Kali ini Mahesa Jenar sekali lagi tak berhasil mengenainya, sehingga orang itu terdorong
mundur. Mahesa Jenar tidak mau memberi kesempatan lagi, sekali lagi ia menyodok
perut lawannya, sehingga orang itu menggeliat kesakitan dan meloncat beberapa langkah
ke samping. Tetapi Mahesa Jenar tidak mau kehilangan kesempatan yang baik itu. Ia pun
sekali lagi meloncat dan dengan bergelombang ia menyerang bertubi-tubi sehingga orang
itu terdesak mundur dan mundur.
 Tetapi rupanya keadaannya tidaklah tetap demikian. Tiba-tiba orang itu menggeliat ke
samping, dan dengan suatu putaran yang cepat ia berhasil membingungkan Mahesa Jenar,
yang ingin memotong putaran itu. Cepat ia mempergunakan kesempatan ini untuk
meloncat ke samping lawannya, dan dengan suatu gerakan yang tangkas ia merendahkan
diri. Setengah lingkaran ia memutar tubuhnya untuk langsung menyerang Mahesa Jenar.
 Mahesa Jenar terkejut melihat gerakan-gerakan yang berubah-ubah itu, sehingga ketika
sebuah pukulan melayang ke wajahnya, ia tidak sempat mengelakkan diri.
 Demikian kerasnya pukulan itu sehingga Mahesa Jenar terdorong beberapa langkah.
 Pukulan itu terasa sakitnya bukan main.
 Sebagai seorang perwira, tubuh Mahesa Jenar cukup mempunyai daya tahan yang kuat.
Tetapi dikenai oleh pukulan ini wajahnya menjadi panas dan sejenak pandangan matanya
agak kabur. Ketika ia mengusap wajah itu dengan tangannya, terasa sesuatu yang cair dan
hangat meleleh dari hidungnya…..darah.
 Mengalami kenyataan itu, marahnya semakin memuncak. Ia benar-benar harus berkelahi
dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Maka ketika orang itu menyerangnya
kembali, Mahesa Jenar segera merendahkan diri. Dengan pangkal telapak tangannya ia
berhasil menghantam dagu lawannya. Terdengarlah suara gemeratak gigi beradu.
Demikian kerasnya serta dibarengi kemarahan, maka pukulan Mahesa Jenar seperti
berlipat-lipat dahsyatnya, sehingga muka orang itu terangkat tinggi-tinggi.
 Mahesa Jenar tidak mengabaikan kesempatan berikutnya. Selagi muka orang itu masih
terangkat, ia meloncat maju menumbukkan dirinya sambil menghantam perut orang itu
dengan lututnya. Terdengarlah orang it mengaduh tertahan dan terlontar surut. Mahesa
Jenar langsung memburu dan menghantamnya bertubi-tubi.
 Orang itu terdorong terus hingga suatu ketika ia tidak dapat mundur lagi karena
punggungnya sudah melekat dengan dinding padas. Mahesa Jenar melihat kesempatan
itu. Ia tidak mau melepaskan lawannya kali ini. Maka dengan kekuatan penuh ia
meloncat maju dan menghantamkan muka orang itu dengan kedua tangannya sekaligus.
Tetapi orang itu ternyata tidak menyerah demikian saja.  Tiba-tiba, ketika Mahesa Jenar meloncat, orang itu pun menyerang dengan kakinya ke
arah perut Mahesa Jenar. Serangan yang sama sekali tak diduga oleh Mahesa Jenar.
Karenanya, serangan itu bulat-bulat telah melemparkannya dan ia jatuh terguling
beberapa kali.
 Mahesa Jenar telah mengalami pertempuran dengan lawan yang beraneka macam, pada
saat ia bertempur dengan Lawa Ijo, seorang tokoh hitam yang perkasa, ia pun
mengerahkan segenap tenaganya. Tetapi bagaimanapun ia tidak merasakan adanya
tekanan-tekanan yang sedemikian hebatnya seperti saat ini. Tidak saja ia tidak berhasil
menekan lawannya, tetapi benar-benar ia merasakan bahwa tubuhnya menjadi sakit-sakit
dan nyeri.
 Mengingat bahwa yang dipertaruhkan adalah pusaka-pusaka istana, serta kesadarannya
akan pertanggungjawabannya sebagai seorang yang merasa turut serta membina
kesejahteraan rakyat, maka ia merasakan kengerian yang sangat apabila pusaka-pusaka
itu sampai jatuh ke golongan hitam yang manapun. Karena itu tidak ada jalan lain bagi
Mahesa Jenar kecuali membinasakan orang itu.
 Pada saat ia tidak dapat menguasai lawannya, maka cara satu-satunya adalah
mempergunakan ilmunya Sasra Birawa. Maka ketika tidak ada pilihan lain, segera ia
meloncat bangkit dan segera ia memusatkan segala kekuatan batinnya serta mengatur
pernafasannya, memusatkan segala kekuatan lahir-batin pada telapak tangan kanannya.
 Demikianlah ia berdiri di atas satu kakinya, sedang kakinya yang lain ditekuk ke depan.
Tangan kirinya disilangkannya di muka dadanya, sedang tangan kanannya diangkat
tinggi-tinggi. Kemudian demikian cepat bagai sambaran kilat ia meloncat maju dan
dengan dahsyat ia mengayunkan tangan kanannya ke arah kepala lawannya.
 Melihat sikap itu, lawan Mahesa Jenar terkejut bukan buatan. Segera ia meloncat
mundur sambil berteriak,
 “Tahan... Tuan, tahankan dulu. “
 Tetapi Mahesa Jenar sudah terlanjur bergerak. Kalau ia menahan serangannya maka
kekuatan yang sudah tersalur itu pasti akan memukul dirinya sendiri lewat bagian dalam
tubuhnya. Karena itu tidak ada cara lain kecuali melanjutkan serangannya untuk
membinasakan lawannya.
 Melihat Mahesa Jenar tidak mengubah serangannya, tiba-tiba orang itu pun segera
bersiap, tidak menghindarkan diri, karena tidak ada kesempatan lagi, melainkan ia berdiri
di atas kedua kakinya yang melangkah setengah langkah ke depan, lutut kaki kanannya
diteuk sedikit.
 Mula-mula ia merentangkan kedua tangannya, tapi ketika pukulan Mahesa Jenar sudah
melayang, segera ia menyilangkan kedua tangannya di muka wajahnya, melihat sikap itu,
jantung Mahesa Jenar seperti berhenti berdenyut karena terkejut.  Tetapi segala sesuatu sudah terlambat. Sebab tangan Mahesa Jenar sudah tinggal
berjarak beberapa cengkang saja dari orang itu, dengan satu gerakan pendek, kedua
tangan yang disilangkan di muka wajahnya, orang itu menahan hantaman tangan Mahesa
Jenar. Dan sesaat kemudian terjadilah suatu benturan yang maha dahsyat seperti
berbenturnya halilintar.
 Akibatnya dahsyat pula. Orang itu terlempar jauh ke belakang dan bulat-bulat terbanting
di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu. Matanya menjadi gelap dan nafasnya tersekat di
kerongkongan. Sebentar kemudian ia tak dapat merasakan sesuatu.
 Pingsan.
 Mahesa Jenar sendiri, yang menghantamkan ilmunya Sasra Birawa, merasakan bahwa
tangannya seolah-olah tertahan oleh selapis baja yang tebalnya lebih dari sedepa. Karena
itu kekuatan yang dilontarkan itu seolah-olah membalik dan memukul bagian dalam
tubuhnya, ditambah dengan desakan dari orang yang dipukulnya itu. Karena itu Mahesa
Jenar juga terlempar, tidak hanya seperti sebuah balok yang melayang, tetapi seperti kayu
yang oleh kekuatan raksasa dihantamkan ke punggung padas yang ada di belakangnya.
 Demikian dahsyatnya Mahesa Jenar terbanting sehingga pada saat itu juga, pada saat ia
terhempas, ia sudah tak dapat lagi merasakan apa-apa kecuali kepekatan yang dahsyat
menerkam dirinya. Dan ia pun pingsan.
 Demikianlah keadaan segera menjadi senyap. Hanya desir angin di rerumputan serta
semak-semak yang kedengaran gemeresik lembut. Di kejauhan terdengar suara binatang
malam, serta gonggong anjing yang berebutan mangsa. Di mulut goa Sima Rodra itu
menggeletak sebelah-menyebelah dua sosok tubuh yang sama sekali tak sadarkan diri.
 Baru beberapa saat kemudian, oleh kesegaran angin yang mengusap wajahnya, orang itu,
yang telah bertempur mati-matian melawan Mahesa Jenar, yang ternyata mempunyai
ketahanan tubuh yang luar biasa, sehingga dialah yang pertama-tama dapat menarik nafas
dan perlahan-lahan menggerakkan tubuhnya. Tetapi demikian ia berusaha bergerak
terdengarlah ia mengeluh perlahan. Ternyata tubuhnya terasa nyeri dan sakit seluruhnya.
 Unuk beberapa saat orang itu terpaksa berdiam diri, mengatur jalan pernafasannya serta
berusaha untuk menguasai kembali pikirannya.
 Angin masih berhembus perlahan-lahan. Dan ini telah menolong menyegarkan tubuh
orang itu, sehingga beberapa saat kemudian ia berhasil dengan susah payah mengangkat
tubuhnya dan duduk bersandar pada kedua tangannya.
 Berkali-kali ia menarik nafas panjang. Keringat dingin masih saja mengalir membasahi
seluruh pakaiannya. Baru setelah tubuhnya terasa bertambah segar ia perlahan-lahan
bangkit berdiri.  Ketika ia memandang ke daerah sekelilingnya, tiba-tiba matanya tertumbuk pada tubuh yang masih terbaring tak bergerak, beberapa langkah dari mulut goa. Sekali lagi ia menarik nafas. Ia tahu benar bahwa pukulan lawannya itu adalah pukulan yang tak ada
taranya dahsyatnya.
 Perlahan-lahan dan tertatih-tatih ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati
Mahesa Jenar yang masih belum sadar. Dengan mata yang bercahaya orang itu
memandangi tubuh Mahesa Jenar dari ujung kakinya sampai ke ujung kepalanya.
 Memandangi tubuh yang meskipun tidak setinggi dia, tetapi tampak kokoh kuat bagai
seekor banteng.
 Ketika orang itu melangkah selangkah lagi mendekati Mahesa Jenar, terasa bahwa
tubuhnya semakin terasa sakit. Karena itu ia berhenti dan duduk di atas padas beberapa
langkah dari tubuh Mahesa Jenar yang masih terbujur tak bergerak.
 Ia terpaksa menahan diri, tidak segera mendekatinya sampai tubuhnya sendiri agak
terasa kuat. Karena itu dibiarkannya Mahesa Jenar terbaring tak bergerak beberapa
langkah di hadapannya.
 Ketika sekali lagi angin malam membelai tubuh-tubuh yang sedang kesakitan itu,
tampak bahwa Mahesa Jenar mulai bergerak-gerak. Dan sesaat kemudian ia sudah dapat
membuka matanya, meskipun masih samar-samar. Apalagi di dalam kegelapan malam.
 Yang pertama-tama dilihatnya adalah bintang-bintang yang bertaburan di langit, dan
sesudah itu matanya tertumbuk pada tubuh tinggi tegap berdada lebar, duduk di atas
padas di hadapannya, yang dengan tajam memandanginya seperti sebuah bayangan hantu
hitam yang akan menerkamnya. Tetapi pada sat itu ia sama sekali tak dapat berbuat
sesuatu. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri. Sambungan-sambungan tulangnya
terasa seperti lepas dan tak dapat dikuasainya. Karena itu kalau terjadi sesuatu ia sama
sekali tak akan dapat membela diri.
 Maka sekali lagi Mahesa Jenar memejamkan matanya untuk mengumpulkan ingatannya.
Dan perlahan-lahan ketika tubuhnya terasa semakin segar karena angin malam yang
lembut, ingatannya pun sedikit demi sedikit menjadi cerah kembali meskipun kepalanya
masih saja pening dan seperti berputar-putar.
 Apa yang baru saja dialami menjadi semakin jelas dalam kepalanya. Bagaimana ia
mempergunakan ilmu kepercayaannya Sasra Birawa dan bagaimana orang yang
dihantamnya itu merentangkan tangannya dan selanjutnya disilangkan di muka wajahnya.
 Dan sekarang, orang yang dikenai ilmunya itu ternyata masih saja hidup dan duduk di
dekatnya. Mengingat hal itu, Mahesa Jenar tiba-tiba merasa gembira sekali. Dan
kegembiraannya itu telah sangat mempengaruhi keadaannya, sehingga tiba-tiba ia dapat
duduk, meskipun dengan susah payah untuk menegakkan tubuhnya yang duduk lemah
seperti tak bertulang. Meskipun demikian, wajah Mahesa jenar tampak cerah dan matanya menyorotkan cahaya segar.
 Demikian pula orang yang duduk di atas padas itu. Ketika ia menyaksikan Mahesa Jenar
telah dapat duduk, ia pun menjadi gembira. Senyum yang tulus telah menggerakkan
bibirnya. Perlahan-lahan dengan suara parau ia menyapa,
 “Tidakkah tuan mengalami sesuatu? “
 Mahea Jenar tersenyum pula, meskipun agak kecut. Bagaimana aku mengatakan bahwa
aku tidak mengalami sesuatu kalau bangun saja rasanya seperti tidak mungkin, jawab
Mahesa Jenar.
 Orang itu menundukkan kepalanya seperti menyesali dirinya.
 “Maafkan aku,” katanya kemudian.
 Mendengar kata-kata itu segera Mahesa Jenar menyahut,
 “Jangan Tuan menyalahkan diri sendiri. Akulah yang seharusnya minta maaf kepada
Tuan, sebab akulah yang pertama-tama mulai. Berbahagialah aku bahwa Tuan ternyata
sehat walafiat karena kesaktian Tuan.”
 “Tuan salah duga. Aku pun mengalami keadaan seperti Tuan. Sampai sekarang aku
masih belum berhasil untuk mencapai jarak ke dekat Tuan terbaring, karena seluruh sendi
tulang-tulangku sakit bukan kepalang, karena di dalam tangan Tuan tersimpan aji Sasra
Birawa,” sahut orang itu sambil tertawa lirih.
 Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam.
 “Sekali lagi, maafkan aku,” katanya.
 “Tak apalah... malahan aku merasakan suatu keuntungan, mendapat kehormatan
mencicipi ilmu Tuan yang maha dahsyat itu. Dan dengan demikian aku mengenal Tuan,
yang pasti salah seorang murid dari Paman Pengging Sepuh,” jawab orang itu.
 Mahesa Jenar mengangguk perlahan.
 “Benar Tuan, aku tinggal satu-satunya murid yang masih harus menjunjung tinggi nama
kebesaran Ki Ageng Pengging Sepuh Almarhum. Untung jugalah bahwa aku tidak binasa
kali ini. Kalau hal itu terjadi, berakhirlah nama perguruan Pengging. Bukankah Tuan
telah mempergunakan aji Lebur Sekethi?”
 “Terpaksa. Hanya sekadar supaya aku tidak lumat,” gumam orang itu seperti kepada diri
sendiri.
 “Benar Tuan..., Tuan sama sekali benar. Akulah yang terlalu lancang. Tetapi siapakah sebenarnya Tuan? Bukankah Lebur Sakethi itu menurut guruku Almarhum dan yang
kukenal adalah milik Ki Ageng Dipayana?” potong Mahesa Jenar.
 “Tuan menebak dengan tepat. Karena itu ketika Tuan mengatakan bahwa Tuan adalah
orang Pangrantunan, segera aku menjadi curiga. Sebab Pangrantunan adalah daerah masa
kanak-kanakku. Aku adalah anak Ki Ageng Sora Dipayana,” jawab orang itu.
 “Apakah Tuan yang disebut Ki Ageng Gajah Sora?”
 “Benar Tuan. Akulah yang bernama Gajah Sora”
 Mendengar jawaban itu, Mahesa Jenar jadi merenung. Untunglah bahwa tak terjadi
sesuatu dalam pertempuran tadi. Kalau saja ada salah langkah, maka akibatnya akan
mengerikan. Salah satu diantaranya pasti binasa. Sebab ajian seperti Sasra Birawa dan
Lebur Sakethi mempunyai daya yang dahsyatnya luar biasa. Tidak hanya sebagai ajian
yang tidak saja dipergunakan menyerang, tetapi juga bertahan.
 Sejenak kemudian terdengarlah Ki Ageng Gajah Sora bertanya kepadanya,
 “Tetapi sampai sekarang Tuan belum menyebut nama Tuan.”
 Mahesa Jenar seperti tersadar dari renungannya, maka jawabnya,
 “Namaku adalah Mahesa Jenar.”
 “Mahesa Jenar?” ulang Gajah Sora. “Aku belum pernah mendengar nama ini dari ayahku
yang sering menyebut-nyebut nama sahabat-sahabatnya serta murid-muridnya. Bukankah
seorang murid Ki Ageng Pengging itu terbunuh...?”
 “Ya,” jawab Mahesa Jenar, “Bahkan tidak saja ia muridnya, tetapi juga putranya.”
 Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya.
 “Ki Kebo Kenanga.... Bukankah begitu?”
 “Ya,” jawab Mahesa Jenar pendek.
 “Kakaknya, Ki Kebo Kanigara, kabarnya lenyap tak meninggalkan bekas” sambung
Gajah Sora “Dan Tuan? Adakah Tuan mempunyai sebutan yang lain?”
 “Semua yang Tuan katakan adalah benar. Akulah yang sedikit sekali mengenal sahabatsahabat guruku. Mungkin ini disebabkan Guru sudah lama melenyapkan diri, dan
akhirnya diketahui bahwa beliau telah wafat, sehingga tidak banyak yang dapat
diceritakan kepadaku.”
 ”Adapun mengenai aku sendiri, memang benarlah kata Tuan, sebab sejak aku menjadi prajurit, aku selalu dipanggil dengan nama Tohjaya.”
 “Tohjaya..., ya Tohjaya” ulang Gajah Sora, “Kalau nama ini memang pernah aku dengar.
Tidak saja dari ayahku, tetapi hampir setiap orang menyebutnya sebagai pengawal raja.
Tetapi kenapa Tuan sampai di sini?”
 Akhirnya dengan singkat Mahesa Jenar bercerita tentang segala-galanya yang pernah
dialami. Juga tentang pertemuannya dengan Ki Ageng Sora Dipayana di Pangrantunan
dan pertemuannya dengan Ki Ageng Lembu Sora.
 “Memang, anak itu agak Bengal” sahut Gajah Sora kemudian. “Biarlah lain kali aku
mengurusnya. Juga tentang sepasang Uling, yang sampai sekarang masih aku biarkan
saja sambil menunggu orang-orang golongan hitam itu berkumpul. Tetapi yang penting
sekarang, apakah yang kita lakukan?”
 Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepala sambil memandangi mulut goa yang
masih saja ternganga seperti mulut seekor naga raksasa yang siap menelannya.
 Beberapa saat ia agak kebingungan. Tetapi akhirnya ia berkata,
 “Kalau saja tadi aku tahu bahwa Tuan adalah Ki Ageng Gajah Sora, maka aku kira aku
tidak akan mengganggu Tuan. Nah Tuan, sekarang terserah kepada Tuan akan kedua
keris itu.”
 “Tidak” jawab Gajah Sora, “Tuan lebih berhak untuk mengambilnya serta menyerahkan
kembali ke Istana Demak”
 “Aku adalah seorang perantau, Aku kira lebih aman kalau Tuan yang menyimpannya
sampai datang waktunya untuk diserahkan kepada yang berhak nanti”
 Tampaklah sejenak Gajah Sora merenung menimbang-nimbang. Akhirnya ia berkata,
 “Baiklah, sekarang kedua pusaka itu kita ambil dan kita bawa pulang. Bukankah Tuan
sudi singgah ke Banyu Biru sehari dua hari...? Atau sampai pada saat pertemuan kalangan
hitam. Di sana dengan aman segala sesuatu dapat kita bicarakan”
 Tentu saja Mahesa Jenar tidak dapat menolak ajakan itu. Karena itu ia pun segera
mengiakan. Maka setelah itu, setelah mereka merasa bahwa tubuh mereka telah dapat
dibawa berjalan, masuklah mereka dengan sangat hati-hati ke dalam goa itu dan langsung
menuju ke ruang dimana kedua pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten disimpan.
 Setelah menyembah beberapa kali, maka diambillah kedua pusaka itu dan dibawa keluar
seorang satu, dengan tujuan untuk membawanya ke Banyu Biru, ke rumah Ki Ageng
Gajah Sora yang untuk selanjutnya akan dibicarakan penyerahannya kepada yang berhak
di Istana Demak.  Tetapi belum lagi mereka sempat meninggalkan daerah bukit Tidar, tiba-tiba mereka mendengar derap langkah kuda yang cukup banyak mendaki Gunung Tidar dari arah
utara. Kedatangan mereka ini sudah pasti sangat mengejutkan Mahesa Jenar maupun Ki
Ageng Gajah Sora.
 “Siapakah mereka?” tanya Mahesa Jenar.
 “Entahlah” jawab Ki Ageng Gajah Sora sambil menggelengkan kepalanya.
 Derap kuda itu semakin lama semakin dekat, dan tampaknya mereka langsung menuju
ke arah goa
 “Mereka menuju kemari” desis Gajah Sora.
 “Ya, mereka menuju kemari” ulang Mahesa Jenar.
 “Lalu bagaimanakah sebaiknya sikap kita?” Gajah Sora ingin mendapat pertimbangan.
 Dalam kondisi tubuh mereka yang hampir remuk itu, sudah pasti bahwa mereka tak akan
cepat berbuat apa-apa seandainya yang datang itu akan membahayakan. Karena itu yang
sebaik-baiknya bagi mereka adalah menghindari orang-orang berkuda itu.
 “Dengan keadaan kita seperti ini, sebaiknyalah kalau kita menghindari mereka”
 Kata Mahesa Jenar.
 “Baiklah. Marilah kita bersembunyi” jawab Gajah Sora.
 Sementara itu, kuda-kuda itu semakin dekat. Segera Gajah Sora dan Mahesa Jenar
mencari tempat untuk berlindung, di bawah semak yang rimbun.
 Belum lagi mereka selesai menempatkan diri, muncullah dari balik-balik padas beberapa
orang berkuda. Meskipun gelap malam masih menyeluruh, tetapi remang-remang mereka
dapat juga menyaksikan tubuh-tubuh orang-orang berkuda itu.
 Tepat di muka goa mereka menghentikan kuda mereka, dan langsung dengan suara
lantang terdengar salah seorang dari mereka berteriak,
 “Hei Sima Rodra, sudah gilakah engkau. Kau biarkan semua penjaga-penjagamu tidur?”
 Suara itu melontar memukul dinding-dinding padas dan dipantulkan kembali berturutturut beberapa kali. Namun tak ada jawaban yang terdengar. Berkali-kali orang itu
berteriak-teriak memanggil, tetapi juga tak pernah ada jawaban. Akhirnya mereka
berhenti berteriak-teriak.
 “Ada sesuatu yang tidak beres. Hai salah seorang dari kamu, bangunkan semua orang yang tidur. Juga pengawal-pengawal gerbang,” kata salah seorang diantara orang-orang
itu kepada pengikutnya.
 Baik Ki Lurah, jawab salah satu diantaranya. Dan sejenak kemudian terdengar langkah
seekor kuda menjauh.
 Sementara itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar beruntung dapat menyaksikan orang-orang
berkuda itu dengan jelas. Yang berkuda paling depan adalah dua orang yang gagah tegap,
meskipun badannya tidak begitu besar. Mukanya tampak panjang meruncing, dan
masing-masing menggenggam sebuah cemeti panjang. Mereka tampaknya hampir seperti
dua orang kembar.
 Ketika Mahesa Jenar sedang menduga-duga, terdengarlah Gajah Sora berbisik, Itulah
Sepasang Uling dari Rawa Pening. Yang di sebelah kanan itulah yang tua, yang disebut
Uling Putih, sedang yang lain adalah Uling Kuning.
 Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Itulah mereka yang bernama Uling
Putih dan Uling Kuning. Kedatangan mereka sudah pasti untuk menuntut dendam akibat
terbunuhnya salah seorang kepercayaannya.
 Sebentar kemudian datanglah beberapa orang berlari-lari ke arah goa itu pula.
 Mereka adalah anak buah Sima Rodra yang tertidur karena kekuatan sirep Gajah Sora.
Salah seorang diantaranya, yang gemuk agak pendek, bertubuh kuat seperti seekor orang
hutan, maju mendekati sepasang Uling yang masih saja duduk di atas kudanya.
 Salam kami untuk Sepasang Uling dari Rawa Pening, katanya.
 Rupanya kakak-beradik Uling itu sama sekali tak memperhatikan sapa itu. Bahkan salah
seorang dari mereka membentak, “Hai, Sakayon, di manakah suami-istri macan liar itu?”
 Rupanya yang dipanggil Sakayon itu tersinggung juga hatinya. “Buat apa kau cari
mereka?” Jawabnya
 ”Jangan banyak cakap. Cari mereka” bentak Uling Kuning.
 Terdengar Sakayon mendengus, “Hemm.... Kau kira kau bisa memerintah aku...?”
 “Tanyakan dengan baik, aku akan menyuruh salah seorang untuk memanggilnya”
 Sepasang Uling yang kasar itu menjadi marah. “Kalau kau masih juga berlagak, aku
patahkan lehermu” teriaknya.
 Tetapi Sakayon sama sekali tidak takut. Malahan terdengar ia tertawa. “Kau jangan main
sekarat di sini. Katakan apa perlumu. Kalau suami-istri Sima Rodra tidak ada, akulah
yang harus menyelesaikan semua soal”  Ternyata Uling Kuning hatinya lebih mudah terbakar daripada kakaknya. Hampir saja ia memutar cemetinya kalau Uling Putih tidak mencegahnya. Sedang Sakayon pun telah pula menarik pedang pendek tetapi besar seperti tubuhnya.
 “Jangan layani dia, Kuning” kata Uling Putih, sambil menarik kekang kudanya dan
melangkah beberapa langkah maju.
 “Baiklah Sakayon... aku tunduk kepada peraturanmu. Tolong, katakan kepada SuamiIstri Sima Rodra bahwa aku ingin menemui mereka, kata Uling Kuning”
 Sakayon yang merasa mendapat kemenangan, membusungkan dadanya sambil
menjawab, “Itulah namanya tamu yang tahu diri”
 Lalu katanya kepada salah seorang anak buahnya, “Panggilkan Ki Lurah. Katakan bahwa
kakak-beradik dari Rawa Pening ingin menemuinya”
 Orang yang disuruhnya itu segera berlari ke dalam goa. Tetapi sebentar kemudian ia
telah muncul kembali dengan nafas yang terengah-engah.
 “Kakang Sakayon..., Ki Lurah tidak ada di dalam goa. Bahkan ruang penyimpanan yang
tidak pernah terbuka itu pun tampaknya telah dibuka dengan paksa” katanya gugup.
 “Hei...!” teriak Sakayon terkejut. Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi ia meloncat
dengan tangkasnya masuk ke dalam goa. Menilik geraknya maka Sakayon pun pasti
termasuk orang yang berilmu tinggi. Mungkin ia adalah kepercayaan Suami-Istri Sima
Rodra. Sakayon telah keluar dari dalam goa. Gerak-geriknya menunjukkan kegelisahan
hatinya. Sejenak kemudian tanpa berkata apapun ia berlari kesamping goa dimana Sima
Rodra tadi lenyap.
 Mereka telah mempergunakan pintu rahasia ini. Pasti terjadi sesuatu atas mereka,
teriaknya.
 Kemudian kembali ia berlari ke arah tamu-tamunya.
 “Mereka telah lenyap. Untuk tiga hari setidak-tidaknya kalian tak akan dapat menemui
mereka. Sedangkan kedua pusaka yang disimpannya itu telah lenyap pula. Kalau yang
mengambil Suami-Istri Sima Rodra, mereka tidak perlu memecahkan pintu,” katanya
dengan nafas yang memburu.
 “Keris itu lenyap...?” tanya Uling Putih. Suaranya pun menunjukkan suatu kecemasan
yang sangat. “Kalau kata-katanya betul, pasti akan menimbulkan suasana yang panas
dalam pertemuan kami nanti, katanya”
 Uling Kuning yang lebih kasar itu tidak berkata apapun, tetapi segera ia meloncat turun
dari kudanya dan langsung masuk goa.  ”Kau tidak percaya?,” teriak Sakayon, “Baiklah, lihatlah sendiri.”
 Rupanya Uling Putih tidak tega membiarkan adiknya memasuki goa seorang diri. Sebab
mungkin ada hal-hal yang tidak beres. Karena itu ia pun segera meloncat turun dan cepatcepat menyusul memasuki goa itu.
 Sejenak suasana menjadi sepi. Masing-masing diam sambil menunggu kakak-beradik itu
keluar dari mulut goa.
 Sementara itu, ketika semua perhatian dicurahkan ke mulut goa, berbisiklah Gajah Sora,
“Tuan, bukankah kita dapat mempergunakan kesempatan ini untuk menyingkir dari
kandang macan ini? “
 Rupanya Mahesa Jenar pun telah memperhitungkan demikian, sehingga ia segera
menyetujuinya. “Baik Tuan, tetapi jalan mana yang akan kita lalui?”
 Apakah Tuan belum melihat gerbang dari benteng Sima Rodra ini? tanya Gajah Sora.
 Belum, jawab Mahesa Jenar, Aku memasuki halaman ini dengan memanjat dinding
belakang.
 Tampaklah Gajah Sora tersenyum. “Akh, Tuan kurang hati-hati. Seharusnya Tuan
mengetahui lebih dahulu sebelum berbuat sesuatu, arah-arah mana yang dapat Tuan
lewati kalau bahaya datang. Atau setidaknya Tuan telah memiliki pengetahuan tentang
itu,” katanya.
 Mahesa Jenar tersenyum pula. “Tuan benar. Aku memang kurang hati-hati. Tetapi
apakah sekarang kita dapat melewati gerbang?” sahutnya.
 “Tentu,” jawab Gajah Sora, “Orang-orang yang menjaganya sedang berkumpul di sini.
 Kalau demikian marilah kita pergi” sahut Mahesa Jenar lagi.
 Maka sebentar kemudian, Gajah Sora dan Mahesa Jenar dengan hati-hati sekali
menyelinap dari satu rumpun ke rumpun yang lain, dari balik padas yang satu ke padas
yang lain. Selangkah demi selangkah mereka berhasil mendekati gerbang yang
menghadap ke utara.
 Gerbang ini dalam keadaan biasanya selalu dijaga dengan kuatnya oleh orang-orang
kepercayaan Sima Rodra. Tetapi orang-orang itu sekarang sedang berkumpul di depan
goa untuk dapat mencegah kalau sepasang Uling itu akan berbuat sesuatu. Maka dengan
tidak banyak mendapat kesulitan, Gajah Sora dan Mahesa Jenar berhasil keluar melewati
gerbang yang menganga tak terjaga.  Setelah itu, setelah mereka berada di luar, segera mereka meloncat ke dalam semaksemak dan menjauhi benteng Sima Rodra itu dengan mengambil jalan menyusup
rumpun-rumpun liar dan menjauhi jalan yang semestinya. Dengan keadaan tubuh mereka
yang hampir remuk itu, mereka harus dengan hati-hati sekali menuruni tebing yang
curam serta menloncati padas-padas yang rumpil. Untunglah bahwa mereka berdua
mempunyai dasar kecekatan yang cukup, sehingga meskipun dengan susah payah pula
mereka dalam waktu singkat telah dapat mencapai dataran di sebelah bukit kecil itu.
 Tetapi demikian mereka merasa bahwa jalan yang akan mereka lalui tidak lagi sulit,
mereka mendengar lamat-lamat derap kuda yang keluar dari gerbang benteng bukit Tidar,
yang semakin lama terdengar semakin jauh. Rupanya sepasang Uling dari Rawa Pening
itu ketika sudah yakin bahwa Suami-Istri Sima Rodra tak dapat mereka temui, serta
sepasang keris itu tidak lagi berada di tangan mereka, mereka merasa bahwa tak ada
gunanya lagi tinggal terlalu lama di Bukit Tidar.
 Setelah suara derap kuda itu lenyap, kembali Gajah Sora dan Mahesa Jenar melanjutkan
perjalanan untuk secepat-cepatnya menjauhi gunung Tidar. Untuk menghilangkah jejak,
mereka tidak langsung berjalan ke timur, tetapi mula-mula mereka melingkar ke barat
untuk selanjutnya membelok ke utara, ke Banyu Biru.
 Di perjalanan, ternyata bahwa Gajah Sora dan Mahesa Jenar yang baru saja berkenalan
itu menjadi begitu akrab, seolah-olah mereka telah berkenalan bertahun-tahun. Dalam
banyak hal mereka selalu bersamaan pendapat dan perhitungan.
 Setelah beberapa lama mereka berjalan, serta mereka sudah yakin benar bahwa orangorang Sima Rodra tidak lagi dapat menemukan mereka, mereka merasa perlu untuk
beristirahat, untuk menyegarkan tubuh mereka. Maka dicarilah tempat yang sesuai untuk
sekadar melepaskan lelah.
 Tetapi demikian mereka duduk bersandar di pepohonan, karena lelah dan tegang yang
dialaminya beberapa saat yang lalu, segera mereka jatuh tertidur.
 Demikian nyenyaknya, sehingga mereka sama sekali tak merasa bahwa malam telah
lama lewat, dan matahari telah tinggi di langit.
 Ketika cahaya matahari itu, menerobos daun-daun dan memanaskan tubuh mereka,
kedua orang yang kelelahan itu baru terbangun. Terasalah sesudah mereka beristirahat
benar-benar, meskipun hanya sebentar, tubuh mereka menjadi bertambah segar.
Meskipun masih saja terasa agak kaku-kaku dan nyeri, namun mereka telah sanggup
untuk berdiri tegak dan melangkah dengan tangkas, berkat daya tahan tubuh mereka yang
cukup kuat.
 Setelah mereka mencuci muka serta sekadar minum air dari sumber yang ditemukannya
di dekat mereka beristirahat, mulailah mereka melanjutkan perjalanan. Mula-mula
mereka akan singgah ke Pangrantunan untuk menemui Ki Ageng Sora Dipayana. Tetapi setelah dipertimbangkan untung-ruginya, mereka membatalkan maksud itu.
 Di perjalanan pulang itu, barulah mereka mengetahui bahwa wajah-wajah mereka
tampaknya seperti berubah. Beberapa noda biru dan bengkak-bengkak tampak di sanasini. Hal itu menunjukkan betapa hebatnya perkelahian mereka semalam. Sehingga
apabila mereka saling memandang, mereka menjadi tertawa sendiri.
 Di samping itu, dalam hati masing-masing timbullah rasa kagum satu sama lain. Sebab
dalam pertempuran dan perkelahian yang mereka alami sebelum itu, jarang tubuh mereka
dapat disakiti, apalagi sampai biru-biru dan bengkak-bengkak
 Perasaan Gajah Sora dan Mahesa Jenar juga menjadi geli bercampur heran.
 Kenapa Ki Ageng Sora Dipayana begitu yakin bahwa cara perkenalan yang aneh itu
tidak akan membawa akibat yang dapat berbahaya. Sebab rupanya, dengan memberi
banyak petunjuk kepada Mahesa Jenar, Ki Ageng Sora Dipayana memang bermaksud
untuk mempertemukannya dengan Gajah Sora yang kebetulan juga sedang disuruhnya
mengambil kedua pusaka itu, tanpa memberitahukan lebih dahulu.
 Dengan wajah-wajah yang demikian, apabila mereka singgah di Pangrantunan, tentu
akan menimbulkan kecurigaan. Baik kepada mereka sendiri maupun kepada Ki Ageng
Sora Dipayana yang menyamar sebagai seorang petani miskin. Karena itu mereka
berketetapan hati untuk melangsungkan saja perjalanan mereka ke Banyu Biru.
 Pada malam berikutnya mereka bermalam pula di tengah-tengah hutan. Sengaja mereka
tidak menuruti jalan ke Bergota karena mereka merasa bahwa barang-barang yang
mereka bawa adalah bukan barang biasa, yang apabila sampai diketahui orang akan dapat
banyak menimbulkan kerepotan.
 Seperti juga malam kemarin, karena lelah dan mereka belum pulih seluruhnya, Gajah
Sora dan Mahesa Jenar demikian meletakkan tubuhnya, demikian mereka mendengkur
nyenyak sekali. Tetapi malam ini ternyata tidak setenteram malam kemarin. Belum lagi
mereka melampaui tengah malam, mendadak terasa tubuh mereka dikenai sesuatu. Gajah
Sora dan Mahesa Jenar adalah orang-orang yang pernah mengalami latihan-latihan
jasmaniah maupun kesiagaan batin. Maka demikian tubuh mereka kena sentuhan yang
tidak wajar, demikian mereka meloncat berdiri dan dalam sekejap mereka telah bersiaga.
 Tepat pada saatnya, terdengarlah gemerisik dedaunan disamping mereka, dan dengan
suatu auman yang dahsyat meloncatlah seekor harimau hitam yang besarnya bukan
kepalang, menerkam Mahesa Jenar. Untunglah bahwa tubuh Mahesa Jenar telah agak
terasa baik, sehingga dengan menjatuhkan diri ia bebas dari terkaman harimau hitam itu.
Bahkan tiba-tiba ia menjadi marah sekali atas gangguan yang mendadak datangnya.
 Karena itu ia tidak menanti lebih lama lagi. Saat itu pula segera ia mengatur jalan
pernafasan menurut ajaran gurunya, menyilangkan tangan kirinya di muka dada serta
mengangkat tangan kanannya, satu kakinya ditekuk ke depan. Dan dengan menggeram penuh kemarahan, ia meloncat ke arah harimau yang baru saja menjejakkan kakinya
keatas tanah itu, berbareng dengan mengayunkan pukulan Sasra Birawa. Tetapi ketika
tangannya sudah hampir menyentuh tubuh harimau itu, tiba-tiba dengan gerakan aneh
harimau itu berguling-guling tangkas sekali sehingga pukulan Mahesa Jenar yang
dilambari kekuatan ilmu Sasra Birawa itu tidak mengenai sasarannya. Dengan demikian
ia terseret oleh kekuatannya sendiri sehingga hampir saja ia kehilangan keseimbangan.
 Untunglah bahwa dengan cepat Mahesa Jenar dapat menguasai dirinya kembali sehingga
ia tidak jatuh tertelungkup. Tetapi pada saat yang demikian, pada saat dimana Mahesa
Jenar masih belum dapat menguasai keseimbangan sepenuhnya, harimau itu telah siap
merobek-robeknya. Untunglah bahwa kawan seperjalanannya bukan pula orang
kebanyakan. Ia menyaksikan kegagalan Mahesa Jenar dengan penuh keheranan. Heran
atas sikap seekor harimau yang dengan tangkas dapat membebaskan dirinya dari pukulan
maut Mahesa Jenar, bahkan harimau itu telah siap pula untuk menerkamnya.
 Karena itu Gajah Sora tidak mau kehilangan waktu. Cepat seperti kilat ia meloncat
sambil merentangkan tangannya, yang sesaat kemudian telah menyilang dadanya.
Dengan suatu gerakan melingkar lewat atas kepalanya ia menghantam harimau itu
dengan dahsyatnya. Bahkan Gajah Sora telah mempergunakan ilmunya Lebur Sakethi.
 Melihat serangan yang tiba-tiba datang itu, harimau hitam biasa meloncat menghindari
pukulan Lebur Saketi yang tidak pula kalah dahsyatnya. Juga kali ini Gajah Sora tak
berhasil mengenainya.
 Tetapi sementara itu, Mahesa Jenar telah dapat menguasai diri sepenuhnya. Sehingga
demikian ia melihat harimau itu berhasil menghindari pukulah Gajah Sora, demikian
Mahesa Jenar mengulangi serangannya dengan ilmunya Sasra Birawa. Kali ini harimau
hitam yang sedang mengelak itu tidak sempat berbuat apa-apa. Tangan Mahesa Jenar
berhasil mengenai tengkuknya. Harimau itu meloncat tinggi-tinggi dan mengaum hebat
sekali. Gajah Sora, yang menjadi marah pula, tidak mau membiarkan harimau itu,
karenanya sebelum harimau itu jatuh di tanah ia telah mengulangi pula serangannya
dengan aji Lebur Sakethi.
 Akibat dari dua pukulan maha dahsyat itu hebat sekali. Harimau hitam itu terpental
beberapa langkah.
 Tetapi alangkah terkejut mereka berdua, ketika Gajah Sora dan Mahesa Jenar
menyaksikan harimau itu jatuh berguling-guling dan kemudian menggeliat dan seperti
melenting ia meloncat dan bangun berdiri. Ya, berdiri di atas dua kaki seperti manusia
berdiri. Akhirnya, barulah Gajah Sora dan Mahesa Jenar sempat menyaksikan bahwa
yang berdiri di hadapannya sama sekali bukanlah seekor harimau hitam, tetapi benarbenar seorang manusia yang berkerudung kulit harimau berwarna hitam.
 Karena itu darah mereka bergolak hebat.
 Manusia itu, yang berdiri di hadapannya, pasti bukan manusia biasa, sebab ia telah dapat membebaskan dirinya dari akibat pukulan-pukulan Lebur Sakethi dan sekaligus Sasra
Birawa.
 Orang yang berkerudung kulit harimau hitam itu berdiri dengan angkuhnya. Tubuhnya
gagah besar melampaui ukuran yang biasa. Jambang dan janggutnya tidaklah begitu
lebat, tetapi hampir memenuhi seluruh mukanya. Matanya tampak bercahaya di dalam
gelap, benar-benar seperti mata seekor harimau.
 Dalam cahaya bintang yang samar-samar, Mahesa Jenar dan Gajah Sora yang
berpandangan tajam itu dapat menyaksikan bahwa wajah orang itu pastilah bengis dan
kejam.
 Sebentar kemudian terdengarlah ia menggeram perlahan-lahan, lalu terdengarlah
suaranya dalam sekali.
 “Pukulan kalian luar biasa dahsyatnya. Terasa betapa sakit dan nyerinya. Karena itu, kau
telah berbuat kesalahan dalam dua hal. Mengambil kedua pusaka itu dan menyakiti
tubuhku. Akibatnya adalah dua hal pula, kembalikan keris itu dan aku akan membalas
pukulan kalian. Kalau kalian mati karena pukulanku bukanlah salahku.”
 Mendengar kata-kata itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar menjadi gemetar karena marah.
Biarpun orang itu tidak dapat dibunuhnya karena kesaktian andalan mereka yang terakhir,
tetapi mereka bukanlah anak-anak kecil yang harus menerima saja hukuman dari orang
tuanya. Karena itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera menyiagakan diri untuk bersamasama menghadapi bahaya yang besar, dan untuk taruhan yang besar pula, yaitu kedua
keris Pusaka Demak dan nyawa mereka.
 Menurut pertimbangan Gajah Sora dan Mahesa Jenar, tidaklah mereka bersalah apabila
mereka terpaksa mempergunakan keris-keris yang sedang mereka pertahankan matimatian itu. Karena itu, tangan Mahesa Jenar dan Gajah Sora segera melekat pada ukiran
keris yang mereka bawa masing-masing.
 Melihat gelagat itu, orang yang berkerudung kulit harimau itu berdesis, “Hem.., kalian
akan mempergunakan Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten itu untuk melawan aku. Bagus.
Memang tak seorangpun di dunia ini yang akan dapat tetap hidup meskipun hanya
tergores seujung rambut saja. Tetapi aku harus meyakinkan kalian, bahwa kalian tak akan
dapat menyentuh tubuhku dengan kedua pusaka itu”
 Habis mengucapkan kata-kata itu, orang itu segera bersiap untuk menyerang Gajah Sora
dan Mahesa Jenar. Bagaimanapun beraninya Gajah Sora dan Mahesa Jenar, hati mereka
bergetar juga. Tergetar karena menghadapi bahaya yang mungkin akan dapat
menggagalkan tugas mereka untuk menyelamatkan Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten.
 Sejenak kemudian seperti angin menyambar, orang itu mulai dengan serangannya.
Alangkah dahsyatnya, Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera memencarkan diri, dan tak
ada pilihan lain kecuali mencabut kedua pusaka yang mereka bawa yang kemudian sejenak diungkulkan di atas kepala masing-masing. Kiai Nagasasra berbentuk seekor
naga bersisik emas, yang memancarkan cahaya kuning menyilaukan, sedang Kiai Sabuk
Inten yang ber-luk 11 tampak berkilat-kilat memancarkan cahaya yang kebiru-biruan.
 Gajah Sora dan Mahesa Jenar meskipun tidak dapat menyamai kecepatan gerak
lawannya tetapi mereka bukan pula anak-anak ingusan. Apalagi di tangan mereka
sekarang bercahaya-cahaya pusaka yang tiada taranya. Karena itu orang yang
berkerudung kulit harimau itupun tidak berani merendahkan. Segera mereka bertiga
terlibat dalam satu pertempuran yang luar biasa hebatnya.
 Tampaklah sebuah bayangan hitam menyelinap menyusup dan kemudian meloncati
gumpalan-gumpalan cahaya kuning yang silau dan cahaya biru yang gemerlapan. Itulah
cahaya dari kedua pusaka itu di tangan orang-orang yang hampir sempurna olah senjata.
 Tetapi ternyata apa yang dikatakan orang itu benar-benar terjadi. Mahesa Jenar dan
Gajah Sora yang sudah bekerja mati-matian, sama sekali tak berhasil menyentuh kulit
lawannya dengan senjata-senjatanya. Hanya untunglah bahwa karena kedua pusaka itu
pula, lawan mereka belum juga berhasil dapat mengenai tubuh mereka. Kalau saja Gajah
Sora atau Mahesa Jenar sampai tersinggung oleh tangan hantu itu, pastilah kulit mereka
akan robek.
 Akhirnya, ketika pertempuran itu sudah berlangsung beberapa saat, dan masih saja Gajah
Sora dan Mahesa Jenar memberikan perlawanan yang sengit, orang yang berkerudung
kulit harimau itu tidak sabar lagi. Ia meloncat beberapa langkah ke belakang, dan dengan
gerak yang menakutkan ia menggetarkan tubuhnya sambil mengaum mengerikan. Sesaat
kemudian ia telah siap untuk mengadakan serangan-serangan terakhir yang mematikan.
 Meskipun Gajah Sora dan Mahesa Jenar tidak mengerti arti dari gerakan-gerakan itu,
mereka yakin bahwa saat yang menentukan segera akan tiba.
 Gajah Sora dan Mahesa Jenar pun segera mempersiapkan diri. Mereka berdiri kira-kira
berjarak 3 sampai 4 langkah, yang dapat dicapainya dalam satu loncatan. Mereka sudah
bertekad untuk bertempur sampai kemungkinan yang terakhir. Kalau mereka berdua
harus mati, maka setan itu pun harus dapat dilukainya pula dengan salah satu dari kedua
keris itu, sehingga ia pun pasti akan mati pula.
 Orang yang berkerudung kulit harimau itu setelah berhenti mengaum segera bersikap
seperti akan menerkam. Tangannya terjulur ke depan, sedangkan jari-jarinya
dikembangkan. Melihat sikap itu, segera Gajah Sora dan Mahesa Jenar teringat kepada
istri Sima Rodra yang bertempur dengan cara yang serupa. Tetapi orang ini ternyata
mempunyai ketinggian ilmu yang berlipat-lipat.
 Sejenak kemudian, hampir pada saat orang itu meloncati Gajah Sora, tiba-tiba
terdengarlah suara tertawa yang nyaring meskipun tidak terlalu keras. Kemudian disusul
gemerisik daun-daun yang tergetar karena suara tertawa itu. Alangkah besar tenaga yang
dilontarkan lewat suara yang tidak begitu keras itu.  Mendengar suara itu, orang berkerudung kulit harimau itu tampak terkejut bukan main.
Dan keadaan itu sangat mengejutkan Gajah Sora dan Mahesa Jenar pula. Mereka telah
terkejut karena getaran suara itu, disusul oleh sikap orang yang berkerudung itu.
 Orang berkerudung itu kemudian menegakkan kepalanya. Ia menggeram hebat
menunjukkan kemarahannya. Kemudian terdengar ia berkata, “Hem..., apa
kepentinganmu dengan mengganggu pekerjaanku?”
 Dan terdengarlah jawaban yang lunak halus hampir seperti suara perempuan. “Terhadap
anak-anak itu kau sudah akan mempergunakan ajimu Macan Liwung?” katanya.
 “Apa pedulimu?” jawab orang itu.
 “Banyak kepentinganku atasnya, mereka adalah murid-murid sahabatku. Dan bukankah
persoalan itu adalah persoalan anak-anak. Sebaiknya orang tua tidak usah ikut campur”
jawab suara itu.
 “Sebaiknya kau mengurus kepentinganmu sendiri” sahut orang berkerudung itu.
 “Ini juga termasuk kepentinganku” jawab suara itu pula.
 “Aku tidak pedulikan kau” potong orang berkerudung itu.
 “Tetapi aku mempedulikan kau. Kalau kau memaksa pula untuk mencampuri perkara
anak-anak. Baiklah kita yang tua-tua ini membuka permainan sendiri. Sedang anak-anak
biarlah mereka belajar menyelesaikan masalah mereka.”
 “Gila.... Selamanya kau gila. Kau berharap dapat mengalahkan aku sekarang?”
 “Tidak. Aku tahu bahwa aku tak akan mengalahkan kau. Tetapi setidak-tidaknya kau
juga tidak akan dapat mengalahkan aku. Dan permainan itu akan memberi kesempatan
kepada anak-anak itu untuk berlindung pada bapak-bapaknya. Karena ada seorang bapak
telah ikut campur pula” jawab orang itu.
 Suara orang asing yang lunak dan mirip suara perempuan itu terang berasal dari
belakang Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Meskipun demikian, Gajah Sora dan Mahesa
Jenar tidak berani menoleh ke belakang. Mereka tahu bahwa orang itu pasti tidak akan
bermaksud jahat, sebab kalau demikian sudah sejak tadi ia dapat membunuhnya dari arah
punggung. Apalagi ketika mereka berdua mendengar pembiaraannya dengan orang yang
berkerudung itu, hati mereka seperti disiram embun.
 Tetapi meskipun demikian mereka hampir tak berani berkedip. Sebab setiap saat orang
yang berkerudung itu dapat meloncatinya dan merebut pusaka-pusaka itu, yang
barangkali malahan dapat dipergunakan untuk melawan orang yang berada di
belakangnya itu.  Sebentar kemudian kembali orang berkerudung itu menggeram. “Jangan coba halangi aku” katanya.
 Sesudah itu terjadilah suatu hal diluar daya pengamatan Gajah Sora dan Mahesa Jenar.
Meskipun mereka berdua termasuk orang-orang yang disegani karena kesaktiannya,
tetapi mereka samasekali tidak dapat menangkap gerakan orang berkerudung itu. Apa
yang dilihatnya hanyalah seperti pancaran kilat yang membelah langit, sedemikian tibatiba dan berlangsung cepat sekali.
 Orang berkerudung itu tahu-tahu rasanya sudah melekat di pelupuk mata Gajah Sora.
Kemudian segera disusul dengan peristiwa yang sama cepatnya. Sebuah benturan yang
luar biasa dahsyat terjadi di hadapan mata Gajah Sora dan Mahesa Jenar tanpa dapat
diketahui permulaannya.
 Apa yang mereka ketahui kemudian adalah orang berkerudung itu telah berdiri
berhadap-hadapan dengan seorang yang berperawakan kecil. Sikapnya pun mirip dengan
suaranya. Sama sekali tidak gagah dan garang, tetapi justru mirip sikap seorang
perempuan.
 Orang itu berdiri dengan tubuh masih bergetar diantara Gajah Sora dan Mahesa Jenar.
Dan dihadapannya berdiri orang berkerudung itu, yang juga tampak sedang berusaha
menguasai keseimbangannya.
 “Kau benar-benar akan mencampuri urusanku?” bentak orang berkerudung itu.
 “Sudah aku katakan sejak tadi” jawab orang yang mirip dengan perempuan itu.
 Kemudian tampaklah orang berkerudung itu memandangi berganti-ganti Gajah Sora,
Mahesa Jenar dan orang asing itu. Mukanya yang hampir seluruhnya ditumbuhi rambut
yang jarang-jarang itu tampak berkerut. Lalu katanya dengan suara parau, “Baiklah, aku
tidak dapat melawan kalian bertiga. Tetapi jangan mengira bahwa aku telah melepaskan
kepentinganku atas kedua anak-anak yang bermain-main dengan pusaka-pusaka itu”
 Setelah berkata demikian, segera ia meloncat tak ubahnya seekor harimau dan kemudian
menyusup lenyap di gerumbul liar.
 Setelah orang berkerudung itu tidak nampak lagi, berkatalah orang asing itu kepada
Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Guru kalian ternyata kurang hati-hati. Untunglah aku
melihat harimau itu, sedang kalian tidur nyenyak. Sehingga aku terpaksa membangunkan
kalian dengan batu. Seharusnya guru kalian tidak melepaskan kalian tanpa
pengawasannya.
 Gajah Sora dan Mahesa Jenar kemudian dengan membungkuk hormat mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya, dan dengan agak berdebar-debar Gajah Sora
mencoba bertanya, “Bolehkan aku mengetahui, siapakah Tuan?”  Orang itu tersenyum. Tidaklah gurumu pernah berceritera tentang aku? jawabnya.
 Gajah Sora mengernyitkan alisnya sambil mengingat-ingat ceritera gurunya tentang
sahabat-sahabatnya. Mahesa Jenar juga mencoba untuk menebak-nebak siapakah kiranya
yang berdiri dihadapannya itu. Tiba-tiba mereka hampir bersamaan teringat kepada
ceritera guru masing-masing.
 Pendekar sakti yang menurut istilah guru mereka, sama sekali tampangnya tak berarti.
Mungkin orang inilah yang dimaksud. Maka dengan hampir bersamaan pula mereka
mengucapkan sebuah nama, “Tuankah yang bergelar Titis Anganten dari Banyuwangi?”
 Kembali orang itu tersenyum. “Nah ternyata kalian kenal aku. Guru-gurumu pasti pernah
berkata tentang orang yang tampangnya tak berarti” jawabnya lagi.
 Lalu terdengarlah ia tertawa nyaring.
 “Aku dengar Kakang Pengging Sepuh telah wafat” katanya tiba-tiba kepada Mahesa
Jenar. Mahesa Jenar tertegun. Rupanya dengan tepat orang itu mengetahui bahwa Macan
Ireng itu berada di sini.
 Gajah Sora segera menjawab, “Mungkin Tuan, sebab Guru tak pernah menyebutkan itu.”
 
 “Mungkin” sahut orang yang ternyata adalah Titis Anganten. “Sebab kedatangannya
belum seberapa lama. Ketika aku ketahui bahwa alas Lodaya kosong, segera aku pergi ke
Gunung Tidar. Ketahuilah bahwa orang itulah yang sebenarnya bernama Sima Rodra. Ia
adalah ayah dari isteri Sima Rodra yang sekarang. Dan terkaanku adalah tepat. Ia pergi
mengunjungi anak perempuannya di Gunung Tidar. Beberapa lama aku terpaksa
mengeram mengawasinya. Jadi aku dapat melihat seluruhnya yang terjadi di muka goa
Sima Rodra. Aku dapat melihat kedatangan kalian dari arah yang berbeda. Dan aku
terpaksa membantu ketajaman sirep yang kau sebarkan, sebab Sima Rodra itupun telah
mencoba melawannya. Dan karena kami lakukan berdua, maka sirep kamipun menang.
Untunglah bahwa Sima Rodra berdua itu berlari ke dalam pintu rahasia, sehingga
ayahnya memerlukan waktu untuk keluar melalui lobang yang lain sehingga ia baru dapat
menyusul kalian sekarang ini. Dan agaknya karena kedatangannya itu ingin dirahasiakan,
dan karena kepercayaannya kepada anaknya, ia tidak merasa perlu untuk membantu”
lanjut Titis Anganten.
 Persoalannya menjadi jelas bagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora. Ternyata ketika mereka
tertidur nyenyak, mereka telah dibangunkan oleh Titis Anganten. Itulah sebabnya mereka
merasa seperti dilempar dengan batu. Dan apa yang mereka hasilkan sekarang, sebagian
adalah karena jasa orang itu pula.
 Karena itu, sekali lagi mereka mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.  “Tetapi... sampai sekarang aku masih belum mengenal nama-nama kalian. Siapakah
namamu anak muda?” tanya Titis Anganten kepada Mahesa Jenar.
 “Namaku Mahesa Jenar, Tuan. Sebagai seorang prajurit aku disebut Ronggo Tohjaya”
jawab Mahesa Jenar.
 Titis Anganten mengangguk-angguk. “Sudah lama sekali aku tak bertemu dengan
Kakang Pengging Sepuh, sehingga aku belum mengenal nama murid-muridnya, Sedang
apa yang kau lakukan terhadap lawan-lawanmu dengan Sasra Birawa yang terkenal itu,
kau benar-benar mengingatkan aku kepada gurumu. Kelak kalau telah mengendap benarbenar dan dapat menguasai setiap saluran nafasmu dengan baik, maka dapat diharapkan
bahwa kau setidak-tidaknya akan dapat menyamai gurumu. Hanya sayang bahwa gurumu
itu tidak lagi berkesempatan menuntunmu lebih lama lagi, sehingga kau harus berjuang
sendiri untuk mencapai kesempurnaan, kata Titis Anganten kepada Mahesa Jenar.
 Kemudian Titis Anganten bertanya kepada Gajah Sora, “Ilmumu Lebur Seketi ternyata
sedikit lebih masak dari Mahesa Jenar. Siapakah namamu?”
 “Aku bernama Gajah Sora, Tuan” jawab Gajah Sora.
 Titis Anganten mengernyitkan alisnya. “Namamu mirip dengan nama gurumu. Mungkin
kau tidak saja muridnya. Menilik wajahmu yang mirip dengan wajah Kakang Sora, aku
sejak tadi sudah mengira bahwa kau adalah anaknya” katanya kemudian.
 “Benar Tuan... aku adalah anaknya yang sulung” jawab Gajah Sora.
 Kembali Titis Anganten mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mungkin karena gurumu
yang bahkan ayahmu masih selalu dapat mendampingimu itulah maka ilmumu agak lebih
masak sedikit dari Mahesa Jenar. Tetapi bagaimanapun aku telah dapat menyaksikan
suatu pertunjukan yang luar biasa. Sasra Birawa beradu dengan Lebur Seketi. Dua
macam ilmu yang tak ada bandingnya” lanjutnya.
 Mendengar pujian itu, Mahesa Jenar dan Gajah Sora agak canggung pula.
 “Nah sekarang sarungkan pusaka-pusaka itu” kata Titis Anganten lebih lanjut.
 Kata-kata itu telah menyadarkan Gajah Sora dan Mahesa Jenar bahwa sejak tadi kedua
pusaka keramat itu masih saja digenggamnya erat-erat. Karena itu maka setelah
diungkupkan di atas kepala masing-masing, keris itu kemudian disarungkan kembali.
 “Sekarang...,” kata Titis Anganten melanjutkan, “untuk sementara kalian akan aman.
Macan Ireng itu pasti tidak akan mengganggumu lagi. Tetapi untuk seterusnya kau harus
berhati-hati. Sebab ilmunya yang dinamainya Macan Liwung itu tak kalah pula
dahsyatnya. Mungkin ilmu itu masih belum diturunkan kepada anak atau menantunya.
Tetapi dengan kejadian-kejadian ini tidak mustahil bahwa ia akan menurunkan ilmunya itu segera untuk mendapat tenaga-tenaga yang akan membantunya melawan angkatan tua
dan kalian. Akibatnya, pastilah besar. Apalagi kalau Sima Rodra itu menghubungi
sahabat-sahabatnya. Misalnya Bugel Kaliki dari Lembah Gunung Cerme”
 “Mungkin juga dengan Ki Pasingsingan dari Mentaok” sela Mahesa Jenar.
 Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu tampaklah Titis Anganten agak terkejut. Tetapi
akhirnya ia menjawab juga, “Ya... Tuan, Pasingsingan, guru Lawa Ijo di Mentaok”
 “Ah, barangkali kau keliru Mahesa Jenar” kata Titis Anganten, “Tidakkah gurumu sering
mengatakan kepadamu bahwa Pasingsingan itu termasuk salah seorang dari kami?”
 “Benar, Tuan” Mahesa Jenar menjelaskan. “Tetapi ternyata ia telah mengambil seorang
murid yang terkenal dengan sebutan Lawa Ijo, yang termasuk dalam golongan hitam”
 Kembali wajah Titis Anganten berubah. Rupanya ia tidak menyetujui keterangan
Mahesa Jenar. “Siapakah yang mengatakan itu kepadamu?” tanyanya.
 “Aku pernah melukai Lawa Ijo itu dengan Sasra Birawa, jawab Mahesa Jenar. Hal itu
terpaksa aku lakukan karena Lawa Ijo mempergunakan cincin bermata akik yang merah
menyala dan beracun”
 ”Pada saat itulah muncul Pasingsingan yang akan membunuhku. Untunglah bahwa pada
saat itu hadir pula Ki Ageng Pandan Alas, meskipun tidak menampakkan diri”
 “Pandan Alas?” potong Titis Anganten. Dan tiba-tiba wajahnya menjadi terang oleh
suatu kesan yang lucu terhadap Pandan Alas.
 “Ya, Ki Ageng Pandan Alas telah memberikan tanda-tanda kehadirannya dengan sebuah
tembang Dandanggula” sambung Mahesa Jenar.
 “Ah, masih saja orang tua itu senang pada tembang. Masihkah suaranya baik dan
nadanya tidak sumbang?”
 Terdengarlah Titis Anganten tertawa lirih. “Bagus-bagus, orang tua jenaka itu rupanya
masih akan panjang umur. Tetapi bagaimana dengan Pasingsingan?”
 Mendengar pertanyaan itu segera Mahesa Jenar menjawab, “Orang itu memakai kedok
kayu yang kasar.”
 “Betul..., kau betul. Pasingsingan itu mungkin berwajah bopeng sehingga ia malu
menampakkan wajahnya. Kami sahabat-sahabatnya pun belum pernah mengenal
wajahnya yang asli. Dan batu merah yang disebutnya akik Kelabang Sayuta itu benarbenar miliknya. Tetapi...“ Titis Anganten berhenti sebentar, lalu melanjutkannya, “Aneh
kalau ia termasuk aliran hitam”  “Menurut Ki Ageng Pandan Alas, beliau meragukan keaslian Pasingsingan itu” sahut
Mahesa Jenar.
 “He...?” kembali Titis Anganten terkejut. “Mungkin..., mungkin. Tetapi setan mana yang
berani mengaku Pasingsingan itu? Pasti ia termasuk dalam tingkatan orang tua itu pula.
Kalau tidak, barangkali umurnya tidak akan lebih dari satu hari saja”
 Titis Anganten berhenti berbicara. Tampaklah ia sedang berpikir.
 Lalu tiba-tiba katanya, “Nah Gajah Sora dan Mahesa Jenar, pulanglah kalian. Sebaiknya
Kakang Sora Dipayana segera diberi tahu mengenai kehadiran Sima Rodra. Perkara
Pasingsingan biarlah diurus oleh Pandan Alas, yang sudah tidak punya urusan apa-apa
lagi kecuali bertanam jagung. Ya, memang ia suka menanam jagung sejak muda. Itulah
pokok makanannya. Ia sama sekali tidak pernah makan beras”
 Kemudian terdengarlah Titis Anganten itu tertawa. Lalu sambungnya, “Kalau Kakang
Sora Dipayana sudah tahu, selesailah tugasku. Aku ingin melanjutkan perjalanan ke
barat, mumpung aku sudah sampai di sini. Aku ingin mengunjungi Kakang di Gunung
Slamet”
 “Tetapi tidakkah Tuan hendak singgah di rumahku?” sahut Gajah Sora. “Dan mungkin
Tuan akan dapat bertemu dengan ayah. Barangkali pertemuan itu dapat menggembirakan
ayah”
 Titis Anganten menggelengkan kepalanya. "Pertemuan semacam itu selalu menjadi
pembicaraan orang. Apalagi di daerah yang sedang ribut ini. Katakanlah bahwa aku akan
datang besok kalau aku akan pulang ke Banyuwangi. Ketahuilah bahwa di sini segala
sesuatu tak dapat dirahasiakan kalau kita tidak melakukannya dengan sembunyisembunyi. Sekarang, aku sudah lelah setelah bersembunyi beberapa hari mengintip Sima
Rodra. Nah selamat berpisah. Salam buat ayahmu Gajah Sora”
 Setelah itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar tidak sempat lagi untuk mengatakan sesuatu,
sebab segera Titis Anganten melangkah pergi menyelinap diantara dedaunan, dan hilang
ditelan gelap. Tinggallah kini Gajah Sora dan Mahesa Jenar, yang segera teringat kepada
pekerjaannya. Karena itu segera mereka pun melanjutkan perjalanan.
 Makin cepat mereka sampai ke Banyubiru, makin amanlah keris yang dipertaruhkannya
itu.
 Sampai di Sarapadan, segera mereka memotong jalan ke Bergota. Mereka berjalan
dengan cepat tanpa berhenti. Sebab bagaimanapun kemungkinan Sima Rodra akan
menyusul mereka masih tetap ada, meskipun Titis Anganten telah mengatakan bahwa
untuk sementara mereka dapat merasa aman.
 Demikianlah mereka berjalan tanpa berhenti, sehingga pada hari berikutnya, ketika
matahari sudah condong ke barat, mereka dengan selamat sampai ke Banyubiru.  Beberapa orang yang sedang bekerja di sawah segera berhenti memandang ke arah Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Bahkan beberapa orang datang berlari-lari menyambut kepala daerah perdikan mereka.
 Segera jalan-jalan yang akan mereka lewati menjadi ramai. Mereka menyambut dengan
tulus dan bangga atas kepala daerah mereka, yang mereka taati. Tetapi tak seorangpun
dari mereka yang mengetahui bahwa kepala daerah mereka itu baru saja menyelesaikan
suatu pekerjaan yang hampir membawa nyawanya.
 Beberapa orang yang berdiri di tepi jalan itu bersorak-sorak ramai sekali, tetapi ada pula
yang berbisik, “Dari manakah Ki Ageng Gajah Sora itu...? Dan siapakah kawan
seperjalanannya itu...?”
 Tampaklah kesibukan yang luar biasa. Hal ini disebabkan tak seorang pun dari penduduk
Banyubiru yang mengetahui bahwa Ki Ageng Gajah Sora pergi meninggalkan kota. Tibatiba mereka melihat Ki Ageng Gajah Sora telah kembali.
 Mahesa Jenar menyaksikan sambutan rakyat yang meriah itu dengan hati yang berdebardebar. Tampaklah betapa Ki Ageng Gajah Sora memiliki sifat kepemimpinan yang tinggi, sehingga rakyatnya sangat mencintainya.
 Di kiri kanan jalan, di balik pagar manusia yang menyambutnya, tampaklah halamanhalaman yang luas-luas dan bersih. Dan di atas halaman-halaman itu berdiri rumahrumah yang besar dan bagus. Hal itu memberi pertanda bahwa Banyubiru tergolong daerah yang bercukupan.
 Apalagi ketika Mahesa Jenar menyaksikan bahwa pada umumnya lumbung-lumbung
mereka sama sekali tak berdinding, malahan ada yang bentuknya hanya seperti payung
yang berdaun lebar. Maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa daerah itu merupakan
daerah yang aman dan makmur.
 Banyu Biru terletak di lambung bukit Telamaya di kaki Gunung Merbabu sebelah utara.
Di hadapannya terbentang dataran tinggi yang dibagi dalam dua jenis tanah. Di sebelah
barat merupakan tanah persawahan yang subur, sedang di sebelah timur terdapat sebuah
rawa yang besar. Kemudian di bagian utara dari rawa-rawa itu ditumbuhi pohon-pohon
liar yang lebat, disambung dengan hutan-hutan belukar.
 Di dalam hutan-hutan belukar yang berawa-rawa itulah bersembunyi gerombolan Uling
yang terkenal dengan nama Sepasang Uling dari Rawa Pening. Daerahnya merupakan
daerah yang sangat sulit dicapai. Meskipun demikian, Sepasang Uling itu telah membuat
sendiri jalan rahasia menuju ke sarangnya.
 Bagi rakyat Banyubiru, sawah serta Rawa Pening itu merupakan sumber penghasilan
yang utama. Rawa Pening terkenal banyak sekali menyimpan ikan-ikan rawa yang besarbesar.  Sehingga dengan demikian penghidupan mereka agak dapat terjamin pula. Sedangkan
gerombolan Uling itu, sama sekali tidak berani mengganggu mereka, sebab di bawah
pimpinan Ki Ageng Gajah Sora, rakyat Banyubiru merupakan rakyat yang kuat lahir dan
batinnya.
 Demikianlah maka Ki Ageng Gajah Sora di sepanjang jalan melambai-lambaikan
tangannya untuk menyambut sorak-sorai rakyatnya. Tiada lama berselang, terdengarlah
derap beberapa ekor kuda yang datang dari arah depan. Dan muncullah dari kelokan
jalan, beberapa orang berkuda menyongsong kedatangan Ki Ageng Gajah Sora dan
Mahesa Jenar.
 Demikian kuda-kuda itu mendekati Ki Ageng Gajah Sora, meloncatlah seorang yang
bertubuh agak pendek dan gemuk dari atas kudanya. Wajahnya, meskipun sudah ditandai
dengan garis-garis umur, tetapi tampak kekanak-kanakan dan jenaka. Kecuali kuda yang
dinaikinya, orang itu masih menuntun seekor kuda lagi yang berwarna putih, sudah
lengkap dengan pelananya.
 Ketika yang lain melihat orang itu meloncat turun, maka berloncatan pulalah mereka dari
atas kuda-kuda mereka.
 Maka berkatalah orang yang pendek gemuk itu dengan suara berderai, “Anakmas Gajah
Sora, hampir seluruh Rawa Pening aku suruh aduk untuk mencari Anakmas, kalau-kalau
sedang mandi di sana. Bahkan Gunung Gajahmungkur itu aku suruh balikkan, mungkin
Anakmas terselip di dalamnya. Sungguh pandai Anakmas membikin orang tua bingung.
Kemanakah Anakmas selama beberapa hari ini?”
 Ki Ageng Gajah Sora tersenyum. “Tetapi tak sesuatu yang Paman lakukan. Untunglah
aku selamat” jawabnya.
 Alis orang tua yang sudah memutih itu bergerak-gerak. “Aku sudah memerintahkan.
Tetapi Nyi Ageng melarangnya. Katanya aku disuruh menunggu sampai seminggu ini.
Kalau tidak, Nyi Ageng sendiri akan memberi perintah untuk mencari Anakmas”
katanya.
 Kembali Gajah Sora tersenyum. “Dan sekarang aku sudah kembali, Paman”
 Kembali orang tua itu berkata, “Aku memang sudah mendapat kesimpulan, bahwa
Anakmas pergi untuk sesuatu tugas yang tak seorang pun boleh mengetahui, kecuali Nyi
Ageng. Kalau tidak, pastilah Nyi Ageng Gajah Sora sudah ribut sejak semula”
 Lalu terdengarlah suara orang itu tertawa berderai. “Karena itu aku tidak berusaha lagi
untuk mencari Anakmas. Dan sekarang Anakmas sudah pulang dengan selamat bersamasama seorang yang belum aku kenal” sambungnya.  Lalu membungkuklah orang itu kepada Mahesa Jenar. “Bolehkah aku memperkenalkan
diri Anakmas...? Namaku Wanamerta” tanya orang itu sambil memperkenalkan diri.
 Mahesa Jenar membalas hormat orang tua itu.
 “Aku bernama Mahesa Jenar, yang oleh kebaikan hati Ki Ageng Gajah Sora, aku
mendapat kehormatan singgah di Banyubiru”
 Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kepada Ki Ageng Gajah
Sora, “Anakmas Gajah Sora, karena aku tidak tahu bahwa Anakmas datang berdua, maka
aku hanya membawa seekor kuda untuk Anakmas. Maka baiklah kalau Anakmas Mahesa
Jenar ini mempergunakan kudaku saja untuk bersama-sama dengan Anakmas Gajah
Sora”
 “Lalu Paman...?” tanya Gajah Sora.
 “Biarlah aku memakai salah satu dari kuda anak-anak itu” jawabnya.
 Maka dipersilahkannya Mahesa Jenar mempergunakan kuda Wanamerta yang berwarna
abu-abu agak kemerah-merahan, sedang Gajah Sora mempergunakan kudanya sendiri
yang berwarna putih.
 Meskipun mereka sekarang berkuda, tetapi mereka berjalan perlahan-lahan juga, sebab
masih saja orang-orang menyambut mereka di kiri kanan jalan.
 Setelah beberapa lama mereka berjalan diantara rakyat Banyubiru, sampailah iringiringan berkuda itu ke sebuah lapangan luas, yang di tengah-tengahnya tumbuh sepasang
pohon beringin. Lewat tengah-tengah lapangan yang tak lain adalah Alun-alun
Banyubiru, mereka menuju ke sebuah rumah besar yang berpendapa luas dan bertiang
ukir-ukiran. Itulah tempat kediaman Ki Ageng Gajah Sora.
 Di muka pendapa itu telah banyak orang berjajar-jajar menanti. Diantara mereka berdiri
seorang perempuan. Ketika iring-iringan itu sampai di muka pendapa, segera Ki Ageng
Gajah Sora dan Mahesa Jenar turun dari kuda, dan berjalan ke arah para penyambut.
 Sampai di muka tangga, perempuan itu segera mengambil siwur dan mencuci kaki Ki
Ageng Gajah Sora. Orang itulah Nyi Ageng Gajah Sora.
 Setelah Nyi Ageng Gajah Sora mencuci kaki suaminya maka dipersilahkan Mahesa
Jenar mencuci kakinya, dan seterusnya berganti-ganti dengan mereka yang turut serta
menjemput kedatangan Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Setelah itu Gajah Sora suami-istri
bersama-sama dengan Mahesa Jenar langsung menuju ke Pringgitan.
 Mereka jadi tertegun sejenak ketika mereka melihat di dalam Pringgitan itu duduk
seorang yang telah lanjut usianya, berkain kotak-kotak dan berbaju lurik hijau bergarisgaris besar. Dari wajahnya memancar keagungan pribadinya yang berwibawa.  Melihat orang itu, segera Gajah Sora berlutut sebagai pernyataan bakti dari seorang putra
kepada ayahnya. Orang itulah Kiai Ageng Sora Dipayana.
 Mahesa Jenar pun segera membungkuk hormat. Ia sudah pernah bertemu dengan Ki
Ageng Sora Dipayana itu di Pangrantunan. Bahkan ia banyak memberikan petunjukpetunjuk untuk mendapatkan Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten, meskipun harus melalui
suatu ujian, bertempur melawan Gajah Sora.
 Tetapi orang yang sama itu, sekarang nampak jauh berbeda dengan yang pernah
ditemuinya di Pangrantunan dahulu. Kalau saja ia tidak mengenal jenggotnya yang
panjang, rambutnya serta alisnya yang telah memutih seluruhnya, juga tidak di rumah Ki
Ageng Gajah Sora, maka besarlah kemungkinan bahwa ia sudah tidak dapat mengenal
lagi.
 Melihat kedatangan anaknya serta Mahesa Jenar, Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum.
Setelah Mahesa Jenar dan Gajah Sora suami-istri mengambil tempat duduk di atas sebuah
tikar pandan di hadapan Ki Ageng Sora Dipayana, berkatalah orang tua itu, Selamatlah
kedatangan kalian setelah menunaikan kewajiban kalian yang berat.
 Maka berceriteralah Gajah Sora atas segala pengalaman-pengalaman mereka berdua
selama mereka berusaha untuk menemukan kedua keris pusaka dari Demak itu. Dan yang
terakhir diceritakan pula kehadiran Sima Rodra dari Alas Lodaya yang berusaha untuk
merebut kembali kedua keris itu. Juga diceriterakan bahwa mereka mendapat pertolongan
Pendekar Sakti dari Banyuwangi. Mendengar cerita Gajah Sora itu Ki Ageng Sora
Dipayana mengernyitkan alisnya yang sudah putih. Tampaklah bahwa orang tua itu
sedang sibuk berpikir.
 “Kau memang beruntung Gajah Sora, bahwa Titis Anganten sempat membebaskan
engkau dari tangan Sima Rodra itu. Kalau saja Pendekar Banyuwangi itu tidak
menyaksikan pertemuanmu dengan Sima Rodra, kau berdua meskipun mempergunakan
Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten maka tidak ada kemungkinan kau berdua dapat
membebaskan diri dari padanya. Kalau hal itu terjadi maka kesalahan yang terbesar
adalah terletak di pundakku. Aku terlalu menyisihkan diri dan yang terakhir terlalu sibuk
dengan urusan-urusan kecil di Pangrantunan sehingga aku tidak tahu atas kedatangan
Harimau Hitam itu. Dan yang pasti Pandan Alas pun masih belum tahu akan hal itu,
sebab kalau ia tahu maka setidak-tidaknya ia akan mencegah Mahesa Jenar mendekati
Gunung Tidar, ujar Ki Ageng Sora Dipayana.
 Kemudian kembali Ki Ageng Sora Dipayana itu merenung. Mungkin ia sedang
memecahkan cara untuk mengusir Sima Rodra itu dari Gunung Tidar.
 Tetapi Sima Rodra bukanlah seorang yang dapat diremehkan. Ia mempunyai kesaktian
yang setingkat dengan Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas, Pasingsingan
dan sebagainya.  Tetapi bagaimanapun, dengan diketahuinya bahwa Sima Rodra ada di Bukit Tidar merupakan suatu hal yang sangat menguntungkan. Sebab dengan demikian dapatlah
diadakan persiapan-persiapan seperlunya untuk menghindari kemungkinan kemungkinan
yang tidak diharapkan.
 “Baiklah Gajah Sora...” kata Ki Ageng Sora Dipayana kemudian. “Urusan Sima Rodra
serahkan saja padaku. Itu merupakan soal orang tua-tua. Sekarang yang penting
simpanlah Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten itu di tempat yang baik, sehingga keduanya
aman sampai dapat kalian serahkan kepada kalangan Istana, jagalah bahwa hal itu
merupakan rahasia sehingga tak seorangpun, meskipun orang dalam, boleh
mengetahuinya, juga adikmu Lembu Sora”
 Maka segera Ki Ageng Gajah Sora melaksanakan petunjuk-petunjuk ayahnya.
Disimpannya Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten di dalam ruang tidurnya.
 Setelah itu, setelah semuanya dilaksanakan dengan baik, segera Ki Ageng Sora Dipayana
minta diri. Gajah Sora yang telah mengetahui tabiat ayahnya, sama sekali tidak
menahannya. Sebab ia tahu betul bahwa apa yang dilakukan ayahnya sebagian besar
adalah atas perhitungannya yang tepat.
 Karena itu maka diantarkannya Ki Ageng Sora Dipayana itu sampai ke halaman
belakang, bersama-sama dengan Mahesa Jenar. Dan pergilah orang tua itu tanpa ada yang
mengetahuinya, kecuali mereka bertiga.
 Setelah itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera pergi ke pendapa, menemui orangorang yang sudah lama menanti untuk mendengarkan kemana Gajah Sora selama ini
pergi. Tetapi apa yang dikatakan Gajah Sora hanya sekadar memuaskan hati mereka,
sedangkan kepentingan yang sebenarnya sama sekali tak disinggung-singgung.
 Meskipun demikian pembicaraan itu ternyata menarik juga. Pertanyaan-pertanyaan
datang bertubi-tubi, yang kadang-kadang memang agak merepotkan. Tetapi dengan
sedikit berputar balik, akhirnya puaslah semua orang.
 Maka setelah pertemuan itu berlangsung beberapa saat, segera Gajah Sora dan tamunya
minta waktu untuk beristirahat, sehingga sesaat kemudian bubarlah pertemuan itu.
 Gajah Sora kemudian mempersilahkan tamunya untuk beristirahat di Gandok sebelah
timur dimana sudah disediakan ruangan untuk Mahesa Jenar. Disana ia akan tinggal
untuk beberapa waktu, memenuhi permintaan Ki Ageng Gajah Sora.
 Keluarga Gajah Sora seluruhnya hanyalah terdiri dari tiga orang kecuali pembantupembantunya.
 Gajah Sora dan istrinya yang ramah selalu melakukan kewajibannya dengan baik selaku
seorang istri kepala Daerah Perdikan. Ia mengerti apa yang harus dilakukan, tidak hanya
terhadap suaminya tetapi juga kepada rakyatnya. Ia selalu siap memberikan pertolongan-pertolongan yang diperlukan oleh penduduk wilayahnya. Kemudian seorang anak lakilaki, putra Gajah Sora.
 Mahesa Jenar mengenal anak itu pertama kali ketika ia sedang duduk bersama-sama Ki
Ageng Gajah Sora di halaman depan rumahnya. Tiba-tiba dari atas pohon melayanglah
sebuah bayangan ke arah Gajah Sora. Mahesa Jenar yang tidak tahu-menahu, hampir saja
menangkap bayangan itu. Tetapi ketika dilihatnya Gajah Sora tidak bergerak, Mahesa
Jenar pun mengurungkan niatnya.
 Bayangan itu kemudian dengan kuatnya melekat di punggung Ki Ageng Gajah Sora.
Ternyata ia adalah seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 13 tahun. Badannya
tampak kuat dan agak gemuk. Wajahnya bulat mirip benar dengan wajah ayahnya. Ia
sudah agak besar, tetapi karena ia putra satu-satunya, tampaklah bahwa ia agak manja
juga meskipun tidak berlebih-lebihan. Menilik sikap dan geraknya, pastilah ia sudah
banyak menerima pendidikan dan pelajaran-pelajaran dari ayahnya.
 Ki Ageng Gajah Sora sendiri, umurnya agak terpaut sedikit dari Mahesa Jenar. Mereka
setuju untuk memanggil dengan sebutan kekeluargaan. Karena Gajah Sora agak lebih tua
dari Mahesa Jenar, maka Mahesa Jenar memanggilnya Kakang.
 Di rumah Ki Ageng Gajah Sora, Mahesa Jenar merasakan ketenteraman hidup
kekeluargaan. Berbeda sekali dengan jalan hidup yang ditempuhnya akhir-akhir ini. Pergi
dari satu tempat ke tempat lain. Mengalami bermacam-macam kejadian yang sebagian
besar adalah di luar kehendaknya.
 Sekali-kali kalau ia sedang terbaring di ruang tidurnya, yang bersih dan teratur segala
perabotnya. Timbullah iri hatinya kepada mereka yang berhasil membangun rumah
tangga yang baik. Dalam saat-saat yang demikian, kadang-kadang merayap pula di dalam
dadanya suatu keinginan untuk dapat menikmati kehidupan seperti ini.
 Ketika ingatan Mahesa Jenar yang kadang-kadang melayang itu sampai kepada masamasa yang baru saja dilampauinya, terbayang kembali dengan jelas satu persatu
peristiwa-peristiwa itu muncul berganti-ganti di dalam angan-angannya. Teringatlah ia
kepada sebuah halaman yang sejuk dan nyaman dari rumah Wirasaba yang digarap oleh
istrinya yang cantik dan setia, yang karena kebodohannya, terpaksa terjadi kesalahpahaman.
 Suaminya, seorang yang tinggi hati, yang tidak mau mendapat pertolongan dari orang
lain. Tetapi hatinya merasa lega, kalau diingatnya bahwa orang itu telah menemukan
kesadarannya.
 Kemudian ingatan Mahesa Jenar terlempar kepada suatu peristiwa di hutan Tambak
Baya. Pertemuannya dengan Jaka Sora dan Lawa Ijo. Dan tiba-tiba ia menjadi berdebardebar ketika terbayang wajah seorang gadis yang ketakutan dan yang kemudian akan
membunuh dirinya sendiri dengan keris Sigar Penjalin. Dan jantungnya terasa berdegup
keras sekali ketika ia mencoba mengingat- ingat gadis itu, yang sedang tidur nyenyak di hadapannya. Tetapi kemudian Rara Wilis itu lenyap pula.
 Yang ada kini hanyalah dirinya.
 Dipandanginya kulitnya yang berwarna merah tembaga terbakar terik matahari. Tiba-tiba
terasa bahwa belum waktunya bagi Mahesa Jenar untuk membayangkan ketenteraman
hidup berkeluarga. Karena itu, maka jalan sebaik-baliknya adalah melanjutkan usahanya
untuk melaksanakan tujuan hidupnya, bekerja keras diantara rakyat untuk kepentingan
rakyat. Membebaskan mereka dari segenap gangguan kejahatan yang dilakukan oleh
gerombolan-gerombolan liar dan jahat.
 Ketika Mahesa Jenar bangun dari tidurnya pada suatu pagi yang cerah, ia mendengar
derap kuda memasuki halaman. Dari celah-celah pintu yang kemudian dibukanya sedikit,
ia dapat melihat rombongan orang-orang berkuda langsung menuju ke pendapa.
 Ketika Mahesa Jenar melihat orang yang paling depan, ia mengernyitkan dahinya. Ia
sendiri tidak menyadari bahwa ia menjadi muak melihat wajah itu. Berbeda sekali dengan
Ki Ageng Gajah Sora yang tampak agung dan berwibawa. Tetapi orang ini, meskipun
dari tetesan darah yang sama, sama sekali tak mempunyai ciri-ciri kebesaran seperti
kakaknya. Karena itu Mahesa Jenar acuh tak acuh saja atas kedatangan adik Ki Ageng
Gajah Sora, yaitu Ki Ageng Lembu Sora dengan beberapa pengiringnya.
 Kembali pintu gandok itu ditutup. Kemudian Mahesa Jenar melemparkan dirinya di atas
amben bambu yang panjang disisi ruang tempat tidurnya.
 Sebentar kemudian terdengar suara ribut di pendapa. Rupanya mereka sedang sibuk
menyambut kedatangan tamu-tamunya dari Pamingit. Terdengarlah kemudian suara Ki
Ageng Gajah Sora dengan ramahnya mempersilahkan adiknya masuk ke pringgitan.
 Ketika mereka semua sudah masuk, Mahesa Jenar berdiri, lalu dengan kesal pergi keluar
ke samping gandok.
 Mahesa Jenar melayangkan pandangan matanya ke dataran yang terbentang di bawah
lambung bukit Telamaya. Di bagian barat terbentang tanah persawahan yang subur. Padi
yang pada saat itu sedang menguning dan burung-burung yang terbang di atasnya. Tetapi
burung-burung itu sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mencuri butiran-butiran
padi yang bergoyang-goyang karena tiupan angin pagi yang lembut, sebab anak-anak
yang menungguinya selalu menghalau mereka, dengan goprak dan hantu-hantuan yang
digerakkan dengan tali.
 Di bagian timur, agak jauh menjorok ke utara terbentang rawa. Airnya yang gelisah
memantulkan cahaya matahari yang masih merah, yang baru saja tersembul dari balik
cakrawala. Beberapa perahu lesung para nelayan masih tampak hilir- mudik seperti
sepotong lidi yang terapung-apung untuk menggali kekayaan yang tersimpan di
dalamnya.  Tiba-tiba Mahesa Jenar mendengar derap kuda yang lari sangat kencang seperti dikejar
hantu. Kuda itu tidak masuk halaman lewat gerbang depan, tetapi menyusup melalui
pintu butulan di samping. Mahesa Jenar memalingkan mukanya dengan agak segansegan.
 Anak itu lagi, desis Mahesa Jenar. Dan muncullah dari pintu butulan pagar itu seorang
anak laki-laki yang berwajah bulat dan agak gemuk menunggang kuda hitam mengkilat.
Ketika anak itu melihat Mahesa Jenar, cepat-cepat ia menghentikan kudanya.
 “Assalaumalaikum Paman” sapanya sambil menyeringai.
 “Dari mana kau Arya?” tanya Mahesa Jenar kepada anak Ki Ageng Gajah Sora itu.
 Arya Salaka itu tidak segera menjawab, tetapi dijatuhkannya sebuah benda yang cukup
berat dari punggung kuda itu. Melihat benda itu Mahesa Jenar terkejut. “Uling...?”
katanya.
 “Ya, Paman, aku dari Rawa Pening menangkap uling itu” jawabnya.
 Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau memang nakal Arya. Bukankah
ayahmu telah melarangmu pergi ke Rawa Pening? Besok, kalau kau sudah bertambah
besar tentu kau boleh pergi ke sana. Tetapi sekarang belum waktunya kau pergi sendiri,”
katanya.
 Anak itu meloncat turun lalu mendekati Mahesa Jenar. “Paman, jangan Paman katakan
kepada ayah kalau aku pergi sendiri” bisiknya.
 “Lalu uling itu...?” tanya Mahesa Jenar.
 Arya Salaka diam termangu. Kemudian jawabnya, “Aku katakan bahwa Pamanlah yang
menangkap”
 Mahesa Jenar tersenyum. “Hampir semalam suntuk aku bersama ayahmu di pendapa itu.
Bagaimana aku pergi menangkap uling?” katanya.
 Kembali Arya Salaka kebingungan. Akhirnya ia mendapat jawaban. Dengan tertawa ia
berkata, “Gampang Paman, aku akan katakan bahwa seorang kawan memberi aku uling
sebagai hadiah”
 “Hadiah apa?” tanya Mahesa Jenar.
 “Aku tidak tahu, Paman” Ia menjadi kebingungan lagi.
 “Tetapi seharusnya kau tidak pergi ke sana, Arya. Banyak bahayanya. Bukan saja ulinguling macam itu, tetapi uling yang tinggal di sebelah rawa itu akan lebih berbahaya
bagimu, kalau mereka tahu bahwa kau adalah putra Ki Ageng Gajah Sora” kata Mahesa Jenar menasehati.
 Anak itu memandang Mahesa Jenar dengan penuh perhatian. “Uling Putih dan Uling
Kuning, maksud Paman?”
 Mahesa Jenar mengangguk.
 “Baiklah Paman, tetapi pada suatu saat aku pasti akan dapat menangkapnya seperti
menangkap uling itu”
 “Nah, pergilah, gantilah pakaianmu yang basah kuyup itu”
 Tanpa menjawab, anak itu memutar tubuhnya lalu melangkah pergi. Tetapi demikian
Mahesa Jenar memandang punggung anak itu, ia menjadi terkejut, sebab punggung itu
terluka dan darah cair mengalir dari luka itu.
 “Arya...” panggil Mahesa Jenar, “kenapa punggungmu luka?”
 “Luka...?” tanya Arya keheranan. “Ah tidak seberapa Paman”
 “Tetapi dari luka itu banyak mengalir darah”
 Arya Salaka menggosok punggungnya dengan tangannya, dan terasa sesuatu yang cair
dan hangat.
 “Uling itu mencoba melawan, Paman, katanya kemudian, Kami berkelahi beberapa
lama. Tetapi akhirnya aku dapat membunuhnya”
 “Untunglah uling itu tidak menyeretmu ke dalam rawa” sahut Mahesa Jenar.
 “Kakiku dibelitnya, Paman” jawab Arya Salaka bangga. “Dan memang ia mencoba
menarik aku ke rawa. Tetapi tentu saja aku tidak mau. Rasa-rasanya tidak akan menarik
berkunjung ke lubang uling. Karena itu aku berusaha membunuhnya dengan belati. Dan
akhirnya sebagai Paman lihat sekarang, uling itu sudah mati. Kalau saja ibuku tidak tahu
bahwa aku yang menangkapnya, pasti beliau senang untuk memasaknya.”
 Setelah berkata demikian, segera Arya meloncat dengan lincahnya menangkap ekor
uling itu lalu diseretnya ke dapur sambil berlari-lari.
 Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepala. Luar biasa, katanya kepada diri sendiri.
 Memang, sejak ia melihat anak itu pertama kali, ia sudah merasa kagum. Arya Salaka
merupakan seorang anak-anak laki-laki yang memiliki bakat yang baik. Badannya kukuh
dan otaknya pun ternyata dapat bekerja dengan baik. Uling adalah sebangsa binatang air
yang mirip dengan ular dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia adalah belut raksasa.
Tetapi anak ini dapat menangkapnya.  Sebentar kemudian terdengar suara Nyai Ageng Gajah Sora nyaring. Rupanya Nyai Ageng sedang memarahi Arya Salaka. Kemudian terdengarlah langkah Arya berlari-lari keluar dan langsung meloncat memanjat sebatang pohon. Dari sana ia meloncat ke atas atap yang dibuat dari papan, untuk bersembunyi.
 Setelah itu tampak Nyai Ageng menyusul di belakang, tetapi Arya Salaka telah lenyap.
Mahesa Jenar segera memalingkan kepalanya, dan pura-pura tidak mengetahui.
 Tetapi ketika Nyai Ageng melihatnya, segera ia mendekati Mahesa Jenar, “Kami
mendapat tamu dari Pamingit, Adik dari Ki Ageng. Barangkali Adi Lembu Sora dapat
memperkenalkan diri dengan Adi Mahesa Jenar.”
 Mahesa Jenar pura-pura terkejut lalu membalikkan dirinya. “Baiklah Nyai Ageng,
sebaiknya aku mandi dulu” jawabnya.
 “Silakanlah Adi” katanya kemudian. Lalu ditinggalkannya Mahesa Jenar kembali
seorang diri.
 Dengan langkah-langkah segan Mahesa Jenar pergi menuruni tangga batu yang dibuat di
lereng bukit di samping rumah Ki Ageng Gajah Sora, pergi ke mata air. Di sanalah
biasanya ia mandi. Ia sama sekali tidak bernafsu untuk bertemu dengan Lembu Sora.
Tetapi sebagai seorang tamu maka tak baik kalau ia menolak.
 Setelah Mahesa Jenar selesai membersihkan diri, segera ia pun naik ke pendapa dan
langsung masuk ke pringgitan untuk menemui Ki Ageng Lembu Sora.
 Melihat kehadiran Mahesa Jenar, segera Gajah Sora memperkenalkannya kepada Lembu
Sora. “Adi Lembu Sora, ini adalah Adi Mahesa Jenar, sahabatku yang telah lama tidak
bertemu, katanya”
 Kemudian kepada Mahesa Jenar ia berkata, “Adi Mahesa Jenar..., Adi Lembu Sora ini
adalah adikku satu-satunya yang sekarang memerintah daerah Perdikan Pamingit. Ia
datang juga hanya untuk kunjungan kekeluargaan”
 Ternyata memang Ki Ageng Lembu Sora seorang yang sombong. Ketika Mahesa Jenar
membungkukkan diri menghormatnya atas perkenalan itu, ia mengangkat dadanya dan
memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang merendahkan. Kemudian ia bertanya,
“Sahabat, adakah yang menarik perhatianmu, sampai kau datang dari jarak yang
sedemikian jauhnya ke Banyubiru?”
 Pertanyaan itu sungguh tidak menyenangkan. Tetapi bagaimanapun Mahesa Jenar adalah
tamu yang sopan, maka ia mencoba untuk tidak mengesankan ketidaksenangannya. Maka
jawabnya, “Ki Ageng, memang banyak yang menarik perhatianku di sini. Terutama
keramah-tamahan penduduknya”  Lembu Sora menarik dagunya hampir melekat dadanya. Matanya menjadi berkilat-kilat.
Rupanya ia merasakan sindiran halus yang diucapkan oleh Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak
menjawab, sebab segera Gajah Sora yang bijaksana mengalihkan pembicaraan mereka ke
hal-hal yang tak berarti.
 Namun bagaimanapun ada suatu kesan yang dalam menggores di dalam jantung Mahesa
Jenar, bahwa Ki Ageng Lembu Sora bukanlah seorang yang baik hati. Dan sebenarnyalah
bahwa memang orang ini telah banyak memusingkan kepala ayahnya. Ki Ageng Sora
Dipayana.
 Andaikan Lembu Sora itu orang lain, maka mudahlah soalnya. Tetapi ia adalah anak Ki
Ageng Sora Dipayana, seperti juga Gajah Sora Dipayana. Di sinilah mulanya letak
kesalahannya. Nyai Ageng Sora Dipayana dahulu terlalu memanjakan anak bungsunya,
sehingga akhirnya anak ini susah diatur. Sedangkan Ki Ageng Sora Dipayana tidak mau
mengecewakan istrinya, karena ia sangat menyayanginya.
 Nyai Ageng Sora Dipayana adalah seorang istri yang setia, sejak Ki Ageng masih
menjadi seorang yang harus mulai segala soal. Membuka hutan dan segala macam kerja
yang harus dikerjakan dalam suasana sakit dan pedih.
 Pada keadaan yang demikian, satu-satunya orang yang bersedia membantunya adalah
almarhum istrinya itu. Karena itu, meskipun sekarang istrinya sudah tidak ada lagi, Ki
Ageng Sora Dipayana tidak sampai hati untuk berlaku keras kepada anak kesayangan
istrinya itu.
 Setelah Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah cukup lama turut serta menemui Ki Ageng
Lembu Sora, segera ia minta diri untuk pergi berjalan-jalan, melihat-lihat kota Banyubiru.
Ia tidak ingin lebih lama lagi bercakap-cakap dengan Ki Ageng Lembu Sora, yang
tampaknya tak mau menghargai orang lain. Sebab ia sendiri bukanlah orang yang amat
kuat menahan hati.
 Maka setelah ia mendapat izin dari tuan rumah, segera ia turun ke halaman dan berjalan
keluar. Ia sama sekali tidak mempunyai tujuan kecuali sekadar menuruti langkah
kakinya.
 Tetapi demikian ia keluar halaman, dilihatnya seorang yang berdiri bersandar dinding.
Orang ini belum pernah dikenalnya. Beberapa orang Banyubiru yang dekat dengan Gajah
Sora sudah hampir dikenal seluruhnya. Melihat Mahesa Jenar keluar, segera orang itu
memutar tubuhnya dan berjalan perlahan-lahan menjauhi gerbang.
 Mahesa Jenar menjadi agak curiga. Tetapi apakah yang akan dilakukan di siang hari,
dimana sinar matahari yang mulai terik ini membakar seluruh halaman?
 Tetapi bagaimanapun, orang itu sangat menarik perhatiannya. Sehingga timbullah
keinginan Mahesa Jenar untuk mengetahui maksud orang itu.  Maka segera Mahesa Jenar pun berjalan mengikutinya dari jarak kira-kira 50 langkah. Ia
menjadi semakin curiga ketika orang itu beberapa kali menengoknya dan mempercepat
langkahnya.
 Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar terkejut melihat bayangan yang melayang dari sebatang
pohon di pinggir jalan, langsung menyerang orang yang diikutinya.
 Ia menjadi bertambah terkejut ketika diketahuinya bahwa bayangan itu adalah Arya
Salaka yang tak diketahui sebab-sebabnya menyerang orang yang berjalan di depan
Mahesa Jenar itu.
 Ternyata orang itu pun bukan orang sembarangan. Dengan tangkasnya ia mengelakkan
diri, bahkan sekaligus ia berputar sambil menyerang dengan tumitnya. Arya Salaka,
ketika tidak berhasil menyerang orang itu dari atas pohon, rupanya menyadari bahwa
lawannya berbahaya. Karena itu ia pun segera bersiap, sehingga ketika kaki lawannya
melayang ke perutnya, ia meloncat mundur.
 Demikian kaki yang tak berhasil mengenainya itu berdesing di hadapan perutnya, Arya
Salaka segera meloncat sambil menghantam dada orang itu.
 Tetapi bagaimanapun Arya Salaka adalah seorang anak yang belum dewasa. Apalagi
lawannya ternyata memiliki kecepatan bergerak, sehingga demikian Arya Salaka
meloncat, demikian ia masuk ke dalam perangkap lawannya. Tangannya yang terjulur
untuk menyerang itu dapat ditangkap dan dengan sekali gerak tangan itu dipilinnya.
 Tetapi Arya Salaka ternyata cerdik juga. Ia mengikuti saja putaran tangannya, tetapi
demikian ia membelakangi orang itu demikian cepat ia menendangnya.
 Orang itu sama sekali tidak mengira bahwa anak-anak itu dapat berbuat demikian,
sehingga karena hal yang sama sekali tak terduga-duga itu ia terlontar ke belakang dan
tangkapannyapun lepas.
 Rupanya orang itu menjadi marah sekali. Matanya tampak berapi-api dan dengan tidak
ragu-ragu lagi ia pun meloncat maju menghantam Arya Salaka. Gerakan itu demikian
cepatnya sehingga Arya Salaka tidak sempat mengelak. Maka yang dapat dikerjakan
hanyalah menangkis pukulan itu.
 Bagaimanapun kuatnya, Arya Salaka adalah seorang anak yang sama sekali tak
seimbang dengan lawannya. Maka demikian tangannya yang disilangkan di muka
kepalanya itu terbentur tangan lawannya, ia terpental jauh dan hampir saja kepalanya
membentur dinding halaman. Untunglah bahwa Mahesa Jenar dengan cepatnya meloncat
dan menangkap Arya Salaka.
 Arya Salaka berdesis menahan sakit. Tangannya terasa panas seperti terbakar. Tetapi
meskipun demikian ia masih saja akan meloncat maju kalau tidak ditahan oleh Mahesa
Jenar, sehingga ia meronta-ronta berusaha melepaskan pegangan itu.  “Lepaskan..., lepaskan aku Paman” teriak Arya Salaka.
 Orang yang diserangnya itu rupanya juga benar-benar marah. “Lepaskan anak kurangajar
itu, biar aku pecahkan kepalanya” katanya.
 ”Tunggu dulu Arya.... Apakah sebabnya kau menyerang orang itu?” tanya Mahesa Jenar
perlahan-lahan.
 “Ia berjalan hilir-mudik dan mengintai-intai rumah kami. Mungkin ia seorang penjahat
yang akan memasuki rumah kami ini” jawabnya.
 “Tutup mulutmu!” hardik orang itu.
 “Tutup sendiri mulutmu” balas Arya Salaka. “Selama ini, di kota ini tidak ada orang
yang bertingkah laku seperti kau. Tak pernah kota ini ada kejahatan seperti kota-kota
lain. Dan kau aku kira bukan orang Banyubiru, yang datang untuk membuat onar di sini”
 Mendengar makian Arya Salaka, orang itu tak dapat menahan diri lagi. Karena itu ia
melangkah maju dan dengan tangannya yang kuat ia menampar muka Arya Salaka.
 Tetapi Arya Salaka sudah berada di tangan Mahesa Jenar. Karena itu sudah pasti kalau
Mahesa Jenar tidak akan membiarkan begitu saja hal itu terjadi. Maka ketika tangan itu
sudah terayun, Mahesa Jenar memutar tubuhnya dan memasang sikunya, sehingga tangan
orang itu mengenai siku Mahesa Jenar.
 Mengalami perlakuan Mahesa Jenar, orang itu menjadi semakin marah.
 “Apamukah anak ini...? Anakmu...? Kalau begitu kau tak pandai mengajar anakmu
sehingga anakmu kurangajar” bentaknya.
 “Tunggu dulu...” jawab Mahesa Jenar, “Jangan berlaku kasar terhadap anak-anak.
Memang barangkali anak ini terlalu nakal, tetapi biarlah orang tuanya yang mengajarnya.
Seharusnya kau melaporkan saja kepada ayah bundanya. Sedang kau sendiri, memang
dapat menimbulkan sangkaan yang bukan-bukan. Sikapmu agak mencurigakan”
 Wajah orang itu menjadi merah padam. Kata-kata Mahesa Jenar sangat menusuk
perasaannya. Karena itu, hampir berteriak ia kembali membentak, “Apa hakmu berkata
demikian. Adakah kau pengawal kota atau Kepala Daerah Perdikan ini?”
 Aku bukan apa-apanya, jawab Mahesa Jenar, masih setenang tadi. “Tetapi tiap-tiap
warga kota ini berhak turut serta menjaga keamanan kotanya. Dan bukankah kau bukan
penduduk Banyubiru?”
 Mata orang itu menjadi semakin berapi-api. Tetapi rupanya ada sesuatu pertimbangan yang menahannya untuk tidak berbuat sesuatu. Akhirnya ia berkata lantang, “Tak ada
gunanya aku melayani orang-orang gila macam kau dan anak itu”
 Lalu ia memutar tubuhnya, dan melangkah pergi. Tetapi kali ini Mahesa Jenar yang
kemudian tidak membiarkan orang itu pergi. Ia segera menahannya.
 “Nanti dulu, bukankah kau bermaksud melaporkan anak ini kepada ayahnya. Nah,
marilah aku antar kau kepadanya. Ayah anak ini adalah Ki Ageng Gajah Sora” kata
Mahesa Jenar.
 Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, segera wajah orang itu berubah. Sebentar kemudian
nampak ia menjadi pucat dan gemetar. Tetapi sebentar kemudian kembali wajahnya
menyala-nyala. Kemudian kembali ia melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
 Melihat sikapnya, Mahesa Jenar bertambah curiga. Segera Arya Salaka dilepaskan dan
didorongnya ke pinggir, sedangkan ia sendiri segera meloncat untuk menghadang orang
yang dicurigainya itu.
 “Tunggu dulu... urusan kita belum selesai” katanya.
 Terdengar gigi orang itu gemeretak menahan marah. Sikap Mahesa Jenar dirasa sudah
keterlaluan. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk menghindari bentrokan. Tidak
ada persoalan diantara kita, sebaiknya kau jangan memulainya, kata orang itu.
 Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu segera tertarik dan mengerumuninya.
Mereka mengenal Mahesa Jenar sebagai sahabat Ki Ageng Gajah Sora. Beberapa orang
diantara mereka bertanya-tanya, “apakah yang terjadi...?“
 Belum lagi Mahesa Jenar sempat menjawab, Arya Salaka telah mendahului berceritera
dengan suara yang mengalir seperti air terjun.
 Orang itu menjadi semakin gelisah, wajahnya kembali menjadi pucat. Jangan dengarkan
omongan anak itu. Sekarang beri aku jalan, katanya.
 “Ki Sanak... potong Mahesa Jenar, kenapa kau begitu tergesa-gesa. Sebaiknya kau
memperkenalkan dirimu kepada penduduk Banyubiru ini supaya mata mereka tidak
menyorotkan pandangan kecurigaan.”
 Orang itu sekarang sudah tidak dapat lagi mengendalikan dirinya karena putus asa. Ia
tidak mendapat kesempatan untuk meninggalkan tempat itu begitu saja. Matanya berubah
menjadi liar dan mencari tempat-tempat yang lemah, di mana ia mungkin menerobos
untuk melarikan diri. Tetapi orang yang mengerumuninya itu seolah-olah sengaja
mengepungnya rapat-rapat.
 Setelah orang itu tidak dapat melihat kemungkinan itu tiba-tiba ia menarik keris yang terselip di bawah bajunya. Maka dengan suara yang parau ia berteriak, “Minggir, atau
aku terpaksa membunuh kalian.”
 Melihat orang itu menarik kerisnya, beberapa orang yang mengerumuninya surut ke
belakang. Tetapi mereka sama sekali tidak takut. Orang Banyubiru bukanlah sebangsa
penakut. Kalau mereka mundur hanyalah supaya ada jarak cukup dapat bertindak tepat.
Apalagi Mahesa Jenar. Ia sama sekali tak berkisar dari tempatnya.
 “Janganlah bermain-main dengan benda yang demikian, sebab senjata hanyalah
mendatangkan bencana, terutama bagi yang membawanya” kata Mahesa Jenar sambil
tersenyum.
 “Diam...!” teriak orang itu semakin putus asa. “Pergi kau, atau biarkan aku pergi.”
 Orang itu selangkah mendekati Mahesa Jenar dengan keris terhunus. Melihat orang itu
mendekati Mahesa Jenar, beberapa orang bergerak pula. Mereka masih belum tahu
sampai di mana kemampuan bertindak Mahesa Jenar, sehingga penduduk Banyubiru
merasa perlu untuk melindungi tamu mereka. Tetapi Mahesa Jenar masih saja berdiri di
tempatnya.
 Sementara itu terdengarlah beberapa orang keluar dari halaman. Mereka ternyata Ki
Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Lembu Sora dengan beberapa pengiringnya. Ketika mereka
mendengar ribut-ribut di luar, mereka ingin pula mengetahuinya. Dan ternyata Arya
Salaka telah berlari memberitahukan persoalan itu kepada ayahnya.
 Orang-orang yang berdiri berkerumun segera menyibak, ketika mereka melihat kepala
daerah mereka datang. Melihat orang-orang berdatangan, orang yang mencurigakan itu
menjadi semakin pucat, dan semakin kebingungan.
 Tiba-tiba terjadilah suatu hal yang tidak terduga-duga. Ketika Ki Ageng Lembu Sora
melihat orang itu, matanya menjadi merah menyala. Dan tidak seorang pun yang mengira
bahwa Lembu Sora secepat kilat menarik kerisnya dan sambil berteriak ia meloncat
menikam perut orang itu.
 “Orang inikah yang telah berani menganiaya putra Kakang Gajah Sora?” katanya.
 Gerakan Lembu Sora terlalu cepat sehingga tak seorang pun dapat mencegahnya.
 Orang itu terdorong mundur beberapa langkah. Cepat-cepat tangannya memegang
perutnya yang terluka, dan kerisnya sendiri terlepas jatuh. Tubuhnya menggigil seperti
orang kedinginan, sedang wajahnya memancarkan rasa heran dan kemarahan yang tak
terhingga. Ia memandangi Lembu Sora dengan matanya yang semakin pucat. Dari selasela jarinya mengalir gumpalan-gumpalan darah cair. Bibirnya yang menjadi putih itu
bergerak-gerak, tetapi tak sepatah katapun terucapkan, sampai akhirnya ia tersungkur dan
tak bernafas lagi.  Kemudian terdengarlah suara-suara yang tidak jelas dari beberapa orang yang
menyaksikan dengan penuh keheranan atas kejadian itu. Mereka semua sudah mengenal
bahwa Lembu Sora adalah adik Ki Ageng Gajah Sora, tetapi mereka sama sekali tidak
membayangkan bahwa adik Gajah Sora dapat bertindak sekasar itu terhadap seseorang
yang belum jelas kesalahannya.
 Apalagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora sendiri, yang menjadi kurang senang atas tindakan
Lembu Sora.
 Kau terlalu tergesa-gesa Adi Lembu Sora, kata Gajah Sora.
 “Maafkan aku Kakang....” jawab Lembu Sora. “Aku terlalu tidak dapat menahan hati
terhadap orang yang menganiaya putra Kakang. Sebab aku sendiri mempunyai seorang
anak yang sebaya dengan Arya, yaitu Sawung Sariti, sehingga aku merasa bahwa
tindakan yang kasar terhadap anak-anak adalah tindakan yang paling terkutuk”
 Gajah Sora menarik alisnya. Kemudian diperintahkannya beberapa orang untuk
mengurusi jenazah itu, sedang beberapa orang yang lain supaya mencari keluarganya,
apabila mungkin. 

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]