Lazada Harga Termurah

Travel the world

Berita Nasional

Berita International

Hidup Sehat

Jualan

Teknologi

Hadits

LucuDikit

Hikayat Islam

Hikayat Nusantara

Post Page Advertisement [Top]

 

SH.Mintarja

 Setelah semuanya mulai dikerjakan, Gajah Sora dan Lembu Sora serta para pengiringnya masuk kembali. Mahesa Jenar masih saja berdiri diantara mereka yang sedang menyelesaikan penguburan jenazah itu. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai masalah. Tadi ia sempat meneliti wajah Lembu Sora lebih saksama.
 Matanya yang berapi-api, bibirnya yang agak tebal dan selalu tertarik ke bawah bagianbagian tepinya, menunjukkan bahwa ia benar-benar orang yang tidak tanggung-tanggung. Yang dapat membunuh orang, asal ia mau, dan sesudah itu dapat melupakannya dengan sekaligus seperti tak terjadi apa-apa.
 Tetapi bagaimanapun, apa yang baru dilakukan adalah tindakan yang kasar sekali. Tibatiba Mahesa Jenar mendapat pikiran lain. “Apakah hal itu cukup kuat sebagai suatu
alasan untuk membunuh. Tidak mungkinkah kalau pembunuhan itu dilakukan karena ada
sebab-sebab lain...?”
 Sementara itu datanglah Arya Salaka mendekatinya. Wajahnya tampak tidak seriang
biasanya. “Aku menyesal Paman. Aku tidak mengira bahwa orang itu akan mengalami
nasib terlalu buruk, sehingga Paman Lembu Sora membunuhnya,” bisiknya kepada
Mahesa Jenar.
 “Sudahlah, Arya... lain kali jangan terlalu nakal. Untunglah aku melihat kau berkelahi.
Kalau tidak, barangkali kepalamu tadi sudah terbentur dinding,” jawabnya.
 “Mula-mula aku hanya ingin mengetahui, apakah yang akan dilakukan orang itu,
Paman,” katanya. “Kelakuannya nampak aneh. Dan aku tidak sempat memberitahukan
kepada siapapun.”  “Sudah pernahkah kau melihat orang itu sebelumnya?” tanya Mahesa Jenar.
 “Belum. Yang pasti ia bukan orang Banyubiru. Aku hampir mengenal semua orang di
kota ini,” jawabnya.
 Mahesa Jenar merenung sejenak. Lalu katanya, “Sudahlah, lupakan itu. Marilah kita
sekarang berjalan-jalan. Barangkali kau dapat menunjukkan tempat-tempat yang belum
pernah aku lihat.”
 Maka kembali Mahesa Jenar berjalan-jalan tanpa tujuan. Kali ini ia pergi bersama Arya
Salaka yang nakal. Diajaknya Mahesa Jenar mendaki lereng bukit Telamaya.
 “Dari sana Paman dapat melihat seluruh dataran Tanah Rawa,” kata Arya Salaka.
 “Dari Banyubiru, dataran itu juga dapat dilihat, Arya,” jawab Mahesa Jenar.
 “Tetapi pandangan kita tidak seluas apabila kita berdiri di sana” bantah Arya Salaka.
 Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Memang ia sama sekali tidak mempunyai tujuan.
Jadi ke mana saja pergi, bagi Mahesa Jenar adalah sama saja.
 Sampai di lereng bukit yang agak tinggi, mereka berdua dapat melihat hampir seluruh
dataran. Tanah-tanah yang subur dengan padinya tampak seperti permadani kuning yang
dibentangkan di bawah kaki mereka. Sedang di bagian timur tampak Rawa Pening
berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari.
 Tiba-tiba mata Mahesa Jenar yang tajam tertarik pada beberapa titik yang bergerakgerak. Titik-titik itu terlalu kecil, tetapi mata Mahesa Jenar segera dapat mengenalnya
bahwa titik-titik itu adalah orang-orang berkuda.
 “Kau lihat titik-titik yang bergerak-gerak itu?” tanya Mahesa Jenar kepada Arya Salaka.
 ”Yang mana Paman?” tanya Arya Salaka sambil berusaha mempertajam pandangan
matanya.
 ”Di sebelah selatan rawa itu,” jawab Mahesa Jenar.
 Akhirnya Arya Salaka dapat melihatnya pula.
 “Ya..., aku melihatnya, Paman,” katanya.
 “Kau tahu, apakah itu kira-kira?” tanya Mahesa Jenar.
 Arya mengerinyitkan alisnya. “Entahlah,” jawabnya. “Itu adalah orang-orang berkuda,” kata Mahesa Jenar.
 “Orang-orang berkuda?” tanya Arya. Rupanya ia sangat tertarik. “Di sini memang sering
ada orang-orang berkuda. Tetapi yang bergerombol demikian adalah jarang sekali.
Berapa orang kira-kira mereka, Paman?”
 Mahesa Jenar mengamat-amati sejenak, lalu katanya, “Ya, antara sepuluh orang.“
 Tiba-tiba wajah Arya Salaka berubah. Pasti terpikir sesuatu olehnya. Maka berkatalah
“Ia, Paman, marilah kita lihat, siapakah mereka itu.”
 Mahesa Jenar tersenyum. “Jarak itu tidak terlalu dekat Arya, belum tentu lewat tengah
hari kita sampai ke sana. Bukankah jalan menuju ke tempat itu berkelok-kelok?”
 “Kita pulang dahulu. Lalu kita ambil kuda, dan pergi ke sana,” Arya menjelaskan
maksudnya.
 Arya tidak menunggu jawaban Mahesa Jenar, tetapi terus saja menghambur lari
menuruni tebing.
 Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain kecuali mengikutinya. Memang sebenarnya ia pun
tertarik pada rombongan orang-orang berkuda yang datang dari arah timur itu.
 Ketika Mahesa Jenar sampai di luar dinding halaman rumah Arya, ia melihat Arya sudah
menunggunya dengan dua ekor kuda. Yang seekor berwarna hitam mengkilat dan yang
seekor lagi berwarna abu-abu. Ketika Mahesa Jenar menghampirinya, segera Arya
menyerahkan kuda yang berwarna abu-abu itu kepadanya.
 “Mudah-mudahan tamasya ini menyenangkan Paman,” kata Arya sambil meloncat ke
atas punggung kudanya. Kemudian tanpa menunggu Mahesa Jenar, ia telah memacu
kudanya. Mahesa Jenar segera menyusul sambil menggerutu di dalam hati, “Memang
anak ini nakal sekali.”
 Sebentar kemudian kuda-kuda itu telah menuruni jalan-jalan perbukitan, dan segera
mencapai jalan yang menuju ke Rawa Pening.
 Debu yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda itu bergulung-gulung di terik matahari.
Berkali-kali Mahesa Jenar yang berjalan di belakang menghapus wajahnya, yang rasanya
bertambah tebal oleh debu yang melekat.
 Setelah mereka berkuda beberapa saat, tampaklah jauh di depan mereka debu yang
berhambur-hamburan. Segera Arya memperlambat kudanya sampai Mahesa Jenar
berjalan di sampingnya.
 ”Itukah mereka Paman?” tanya Arya Salaka.  “Ya, itulah mereka,” jawab Mahesa Jenar.
 “Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Arya lagi.
 “Terserahlah kepadamu,” jawab Mahesa Jenar tersenyum. “Bukankah aku hanya
mengikutimu?”
 Arya mengerutkan keningnya. Ia mencoba untuk mengingat-ingat, apakah yang
mendorongnya untuk pergi. Tetapi yang ditemukannya hanyalah suatu keinginan untuk
mengetahui semata-mata. Sesudah itu tidak ada apa-apa lagi. Karena itu ia menjadi
bingung mendengar jawaban Mahesa Jenar.
 Mahesa Jenar menangkap kesan itu. Lalu katanya, “Arya, lain kali pikirkan dahulu
sebelum kau bertindak, supaya kau tidak mudah terjerat dalam suatu bahaya. Sekarang
aku kau bawa ke dalam suatu tindakan yang tak kau ketahui sendiri maksudnya.”
 Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan penuh kesibukan di dalam hati. Tetapi
ketika ia melihat kesan wajah Mahesa Jenar, segera ia berkata hampir berteriak “Paman,
jangan Paman mengganggu. Aku sudah kebingungan.”
 Kembali Mahesa Jenar tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab, sehingga kembali Arya
bertanya, “Aku akan tidak berbuat lagi Paman. Tetapi bagaimana sekarang?”
 Akhirnya Mahesa Jenar kasihan juga melihat Arya bingung. Maka katanya, “Kenapa kau
menjadi bingung? Bukankah biasa saja kalau kita berjalan berpapasan? Apa
halangannya?”
 Jawaban Mahesa Jenar yang sederhana itu telah membuat Arya menjadi geli sendiri.
Katanya dalam hati, “Ya kenapa aku bingung. Bukankah benar kata Paman Mahesa Jenar
itu...?”
 
 Akhirnya Arya Salaka tertawa sendiri. Tetapi tanpa disadarinya sendiri otaknya yang
tangkas dapat mengikuti jalan pikiran Mahesa Jenar. Dengan berpapasan saja sudah
dapatlah kiranya didapat kesan mengenai orang-orang berkuda itu.
 Orang-orang berkuda itu semakin lama jaraknya menjadi semakin dekat. Mahesa Jenar
masih selalu cemas atas tindakan-tindakan Arya yang kadang-kadang tak terkendalikan
itu.
 “Arya, terhadap orang-orang yang sama sekali belum kau kenal, jangan berbuat sebelum
kau ketahui beberapa hal lebih dahulu. Juga terhadap orang-orang berkuda itu. Kita
berjalan biasa saja dan jangan menimbulkan kesan yang menarik perhatian mereka,
supaya mereka tidak bercuriga,” kata Mahesa Jenar memperingatkan Arya.  Arya memalingkan kepalanya. Sambil tersenyum ia menjawab, “Aku sudah berjanji
Paman, untuk tidak melanggar nasehat-nasehat Paman.”
 Orang-orang berkuda itu sudah demikian dekat, dan sebentar kemudian mereka telah
bersilang jalan. Ternyata mereka terdiri sekitar 10 orang dan bersenjata lengkap. Mereka
pada umumnya bertubuh tegap dan gagah. Wajah-wajah mereka tampak keras dan
mengandung sifat-sifat yang kurang menyenangkan.
 Ketika mereka berpapasan, 10 pasang mata itu bersama-sama mengawasi Mahesa Jenar
dan Arya Salaka. Untunglah Arya Salaka tidak berbuat sesuatu yang menarik perhatian
sehingga mereka biarkan saja anak itu lewat bersama seseorang yang mungkin dianggap
bapaknya.
 Tetapi dalam waktu yang sekejap itu banyak artinya bagi Mahesa Jenar. Orang-orang itu
pastilah mempunyai maksud yang tidak baik. Kedatangan mereka di daerah Perdikan
Banyubiru dengan senjata lengkap, pasti mempunyai hubungan dengan keris Nagasasra
dan Sabuk Inten. Sebab bagaimanapun hal itu disekapnya sebagai suatu rahasia, namun
tidaklah mustahil bahwa Sima Rodra sendirilah yang dengan sengaja meniup-niupkan
berita bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten berada di Banyubiru. Hal ini harus segera
diketahui oleh Ki Ageng Gajah Sora.
 “Paman..., kemana kita sekarang?” Tiba-tiba suara Arya mengejutkan Mahesa Jenar
yang sedang sibuk berpikir.
 Mahesa Jenar segera menoleh ke belakang. Orang-orang berkuda itu telah agak jauh di
belakang mereka.
 “Ke manakah jalan ini Arya?” tanya Mahesa Jenar.
 “Aku belum pernah berjalan jauh lewat jalan ini, Paman,” jawab Arya. “Tetapi kata
ayah, jalan ini menuju ke Pajaten dan kemudian lewat daerah hutan akan sampai ke jalan
silang ke Bergota setelah membelok kembali ke arah barat.”
 Mahesa Jenar tampak berpikir sejenak. Kemudian ia bertanya lagi, “Adakah simpangan
yang dapat menghubungkan kembali dengan Banyubiru tanpa mengambil jalan yang kita
lewati tadi?”
 ”Aku belum tahu, Paman,” jawab Arya.
 “Kita berhenti sebentar Arya,” kata Mahesa Jenar sambil menarik kekang kudanya. Arya
juga segera menghentikan kudanya.
 “Arya...,” kata Mahesa Jenar, “Kita harus segera kembali. Kalau mungkin lewat jalan
lain. Sebab kalau kita mengambil jalan yang sama, pasti akan menimbulkan kecurigaan
orang-orang berkuda itu sehingga mungkin mereka akan berbuat sesuatu atas kita.”  Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya ia dapat mengerti keterangan Mahesa
Jenar. Tiba-tiba hampir berteriak ia berkata, “Paman... aku pernah pergi berburu bersama
ayah. Kami mendaki lereng bukit ini lewat lorong sempit yang biasa dilewati orang
mencari kayu. Aku tidak tahu apakah aku dapat menemukan jalan itu kembali. Tetapi
yang masih aku ingat, kami lewat di sebelah randu alas raksasa yang tampak itu, Paman.”
 Mahesa Jenar memandang ke arah pohon raksasa yang ditunjukkan oleh Arya. Pohon itu
terletak di tengah-tengah hutan yang tidak begitu lebat di lereng bukit itu.
 “Mungkinkah orang-orang tadi juga akan pergi berburu, Arya...?” tanya Mahesa Jenar.
 “Aku kira tidak, Paman. Sebab perlengkapan mereka sama sekali bukan perlengkapan
orang berburu,” jawab Arya.
 Diam-diam Mahesa Jenar memuji kecerdasan otak anak itu. Katanya kemudian,
“Beranikah kau mencoba membawa aku bertamasya ke bawah pohon itu?”
 Arya berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Marilah kita coba, Paman. Bila kita dapat
mencapai pohon itu jalannya akan lebih mudah untuk mencapai Banyubiru. Sebab lorong
di bawah pohon itu akan tembus sampai ke Sendang Muncul. Kalau sudah sampai di
sendang itu sambil memejamkan mata aku dapat menuntun Paman sampai ke rumah
ayah.”
 “Kau terlalu sombong Arya,” potong Mahesa Jenar sambil tersenyum. “Sebaiknya kita
coba saja. Tetapi kalau kau tidak berhasil membawa aku sampai ke rumahmu, awas. Aku
tidak mau lagi bermain gundu.”
 Arya tidak menjawab lagi. Tetapi segera ia menarik kekang kudanya dan memutarnya
untuk seterusnya meloncat menyusup hutan yang tidak begitu lebat di lereng timur
pegunungan Telamaya.
 Mahesa Jenar pun segera mengikuti Arya. Sebenarnya ia sama sekali tidak sangsi lagi
setelah Arya dapat menunjukkan ancar-ancar untuk mencapai Banyubiru. Sebab baginya
sama sekali tidak akan menemui kesulitan untuk mencapai pohon randu alas raksasa itu.
Meskipun demikian sengaja ia berjalan di belakang untuk memberi kesempatan kepada
anak Ki Ageng Gajah Sora itu.
 Ternyata Arya sama sekali tidak mengecewakan. Dengan tangkasnya ia mengendalikan
kudanya ke arah yang benar, meskipun sekali-sekali kuda itu harus berjalan sangat
berhati-hati kalau sedang mendaki tebing yang terjal.
 Akhirnya setelah beberapa lama mereka menyusup semak-semak dan belukar yang tidak
begitu tebal, akhirnya dengan bangga Arya berkata, “Inilah Paman, Arya telah dapat
menemukan jalan”
 Mahesa Jenar tersenyum melihat wajah Arya yang lucu. Maka katanya, “Kau memang seorang pemburu yang hebat, Arya. Binatang-binatang buruanmu pasti tidak akan dapat
melepaskan diri kalau kau sedang memburunya”
 Di luar dugaan Mahesa Jenar, tampak wajah Arya tiba-tiba merengut.
 “Hanya itukah, Paman...? Tidakkah aku dapat menjadi lebih baik daripada seorang
pemburu? Ayah mengharap bahwa aku akan dapat menjadi seorang pahlawan”
 Kata-kata Arya itu sangat mengejutkan Mahesa Jenar. Ia tidak mengira bahwa di dalam
dada anak itu telah tertanam suatu cita-cita yang sedemikian besarnya.
 Kembali Mahesa Jenar kagum, tidak hanya kepada anak itu, tetapi sekaligus Ki Ageng
Gajah Sora yang telah berhasil mencetak pola cita-cita hari depan anaknya.
 Saat yang demikian, kembali mengetuk perasaan Mahesa Jenar tentang gambaran masa
depannya sendiri. Tak seorang pun yang akan dapat melanjutkan cita-citanya.
 Kalau pada suatu ketika ia sudah tidak dapat lagi menggerakkan tangannya serta tak
dapat lagi melangkahkan kakinya, maka ia akan terpencil dari segenap percaturan. Dan
tak seorang pun akan berkata, Aku adalah keturunan Mahesa Jenar, dan ayahku
mengharap aku menjadi seorang pahlawan.
 Apakah artinya perjuangan masa kini, apabila perjuangan itu tidak dapat tanggapan dari
masa depan? Pastilah apa yang telah dihasilkan atas cucuran keringat dan darah itu satu
persatu akan lenyap seperti lenyapnya batu dari permukaan air. Hilang. Tenggelam
ditelan bergolaknya gelombang sejarah.
 Tiba-tiba Mahesa Jenar tersadar oleh suara Arya yang masih belum puas ketika Mahesa
Jenar tidak menjawab pertanyaannya.
 “Benarkah begitu Paman, bahwa suatu waktu aku akan dapat menjadi seorang
pahlawan?” tanya Arya.
 “Tentu, tentu... Arya. Kau akan menjadi seorang pahlawan,” jawab Mahesa Jenar cepatcepat.
 Tampaklah Arya Salaka mengangguk puas.
 “Nah, sekarang kita tinggal menuruti lorong sempit ini untuk mencapai Sendang
Muncul,” sambung Arya Salaka.
 “Marilah Arya, kau berjalan di depan,” jawab Mahesa Jenar.
 Segera Arya dan Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya menuju ke Sendang Muncul.
Tetapi di sepanjang perjalanan itu Mahesa Jenar tidak dapat melepaskan diri dari
gangguan gagasannya mengenai masa depannya.  Tiba-tiba belum beberapa lama mereka berjalan, Arya Salaka menghentikan kudanya.
Matanya tertambat pada sesuatu di atas tanah, di jalan yang sedang dilaluinya. Tetapi
belum lagi ia mengucapkan sesuatu, Mahesa Jenar telah melihat telapak-telapak kuda di
lorong sempit itu. Telapak-telapak itu muncul dari dalam belukar di tepi lorong itu dan
beberapa langkah setelah mengikuti lorong itu, kemudian lenyap pula ke seberang yang
lain.
 “Telapak-telapak kuda Paman,” desis Arya.
 Mahesa Jenar menganggukkan kepala. Ia mencoba untuk mengetahui adakah telapaktelapak kuda itu ada hubungannya dengan orang-orang berkuda yang baru saja
berpapasan jalan. Menilik arahnya, maka tidaklah mungkin bahwa telapak telapak ini
adalah telapak kaki-kaki kuda yang dijumpainya tadi. Jumlahnya juga tidak sesuai.
Telapak-telapak ini tidak lebih dari lima ekor kuda.
 Maka segera ia mendapat firasat bahwa bahaya yang besar telah mendatangi kota ini.
Karena itu katanya kepada Arya.
 “Arya... mungkin ada bahaya di sekitar kita, karena itu marilah kita pulang. Mungkin ada
gunanya kita membicarakan hal ini dengan ayahmu.”
 Rupanya Arya mengerti pula. Karena itu sambil mengangguk ia mempercepat jalan
kudanya.
 Ketika matahari telah melampaui titik tengah, mereka sampai di Sendang Muncul. Dari
sana mereka dapat menaburkan pandangan ke dataran di muka lambung pegunungan itu.
Tetapi mereka sama sekali tidak melihat lagi orang-orang berkuda yang dijumpainya tadi.
Pasti mereka telah membelok masuk hutan. Hal ini juga merupakan suatu pertanda yang
berbahaya.
 Mungkin tapak-tapak kuda yang dijumpainya itu juga berasal dari orang-orang berkuda
yang ditemuinya tadi. Karena itu maka mereka berdua segera melanjutkan perjalanan
pulang, untuk menyampaikan apa yang telah mereka lihat itu kepada Ki Ageng Gajah
Sora.
 Sampai di rumah, segera mereka menambatkan kuda-kuda mereka di belakang dapur,
dan sesudah itu mereka langsung pergi ke pendapa.
 Ki Ageng Gajah Sora ketika melihat kedatangan Mahesa Jenar segera
mempersilahkannya. Pada saat itu Ki Ageng Gajah Sora dan Ki Ageng Lembu Sora
beserta beberapa orang pengiringnya sedang duduk bercakap-cakap di pendapa.
 Sikap Ki Ageng Lembu Sora masih saja tidak menyenangkan bagi Mahesa Jenar.
 Meskipun demikian Mahesa Jenar sama sekali tak menunjukkan ketidaksenangannya.  “Sudahkah Adi berkeliling sampai ke segala sudut?” tanya Ki Ageng Gajah Sora.
 “Sudah Kakang,” jawab Mahesa Jenar. “Bahkan aku telah sampai agak jauh ke sebelah
timur. Aku dibawa Arya sampai ke pohon randu alas raksasa, yang katanya, ia pernah
mengikuti Kakang berburu ke sana.”
 “Kau bawa Pamanmu sampai ke kediaman Kaki Klantung itu Arya?” tanya Gajah Sora
kepada anaknya.
 “Ya..., Ayah...,” jawab Arya yang rupanya akan berceritera lebih banyak lagi, tetapi
segera disahut oleh Mahesa Jenar, “Jadi randu alas itu terkenal dengan tempat kediaman
Kaki Klantung?”
 “Begitulah kata orang,” jawab Gajah Sora.
 “Di perjalanan, kami bertemu dengan beberapa orang pemburu. Yang pertama kami
bertemu dengan 10 orang, lalu di sebelah randu alas itu kami temui telapak-telapak kaki
kuda, kira-kira sebanyak lima ekor,” sambung Mahesa Jenar.
 Mendengar keterangan Mahesa Jenar, Ki Ageng Gajah Sora mengerutkan keningnya.
Terbayang pada wajahnya, perasaan yang kurang wajar.
 Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan keheran-heranan. Mahesa Jenar tahu betul
bahwa yang mereka jumpai bukanlah pemburu-pemburu. Tetapi meskipun demikian ia
sama sekali tidak berkata apa-apa. Ia tidak tahu, apakah maksud Mahesa Jenar dengan
berkata demikian.
 “Suatu kehormatan bagiku,” tiba-tiba Ki Ageng Gajah Sora berkata, “Sekian banyak
pemburu-pemburu telah memerlukan datang berburu ke wilayah Banyu Biru. Memang
sebelum ini, sering benar orang pergi berburu babi hutan. Tetapi sekian banyak orang
sekaligus adalah suatu hal yang jarang-jarang sekali terjadi.”
 Sementara itu, Mahesa Jenar selalu berusaha untuk memperhatikan wajah Ki Ageng
Lembu Sora. Tetapi ternyata wajah itu tidak menunjukkan perubahan. Ia mendengarkan
saja percakapan Mahesa Jenar dengan Gajah Sora tanpa menaruh perhatian apa-apa.
 Ketika udara menjadi semakin panas, maka Ki Ageng Lembu Sora beserta para
pengiringnya dipersilakan beristirahat di gandok kulon, sedang Mahesa Jenar
dipersilakan untuk makan siang bersama Arya, sebab yang lain telah mendahuluinya.
 Sementara Mahesa Jenar makan, ia sempat melihat kesibukan Gajah Sora. Rupanya
laporannya menarik perhatiannya. Ia memerintahkan beberapa orang untuk melihat lihat
keadaan kota di bagian timur, sedang beberapa orang lain diperintahkan untuk
mengelilingi bagian kota yang lain.  Sesudah makan, Mahesa Jenarpun segera kembali ke ruangnya di gandok wetan. Tetapi
baru saja ia membaringkan dirinya, didengarnya seseorang mendatanginya. Ternyata
orang itu adalah Ki Ageng Gajah Sora.
 “Adi...” kata Gajah Sora sambil duduk di atas bale-bale panjang di sisi tempat berbaring
Mahesa Jenar.
 “Aku sangat tertarik kepada ceriteramu.”
 Mahesa Jenar pun segera bangkit. “Memang, orang-orang yang aku jumpai itu menarik
perhatian, Kakang,“ jawabnya.
 “Bagaimanakah pertimbanganmu tentang orang-orang itu, Adi?” tanya Gajah Sora.
 “Kesannya kurang baik,” jawab Mahesa Jenar. “Dan rupa-rupanya Kakang telah
mengambil tindakan yang benar. Memerintahkan beberapa orang untuk berjaga-jaga.
Mereka, orang-orang berkuda itu, aku kira sedang berada di hutan-hutan, menanti saat
untuk bertindak. Tetapi aku tidak tahu apakah yang akan mereka lakukan.”
 “Limabelas orang adalah jumlah yang kecil, Adi,” kata Gajah Sora. “Tetapi mungkin
tidak hanya itu. Dan apabila mereka dikendalikan oleh tangan yang baik, maka
akibatnyapun besar pula.”
 “Nah, baiklah kita tunggu laporan orang-orangku sambil berjaga-jaga. Sekarang aku
persilakan Adi beristirahat.”
 Kembali Mahesa Jenar ditinggalkan seorang diri di dalam ruang itu. Ia mencoba
membayangkan kembali wajah-wajah orang-orang berkuda yang ditemuinya tadi.
 Pastilah sesuatu akan terjadi di kota ini. Terbayanglah dalam angan-angannya beberapa
puluh orang berkuda sedang merayap-rayap mendekati kota, yang selanjutnya pasti akan
membuat keributan. Kalau mereka merasa cukup kuat, mungkin mereka akan menyerbu
rumah ini untuk mengambil Keris Nagasasra dan Sabuk Inten.
 Sejenak kemudian Mahesa Jenar mendengar derap kuda memasuki halaman. Dari celahcelah pintu yang tidak tertutup rapat, ia dapat melihat Wanamerta dengan beberapa orang
pengiring memasuki halaman. Meskipun Wanamerta telah lanjut usia, tetapi nampaklah
betapa tangkasnya ia meloncat turun dari kudanya.
 Dengan langkah yang tergesa-gesa, Wanamerta naik ke pendapa untuk menemui Ki
Ageng Gajah Sora. Tetapi sejenak kemudian ia telah turun kembali. Dipanggilnya
beberapa orang pengiringnya untuk diberi perintah-perintah. Setelah itu segera orangorangnya meloncat ke atas kuda masing-masing dan sekejap kemudian mereka telah
lenyap di balik regol halaman.
 Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia lega melihat kecepatan bertindak Gajah Sora. Tetapi ia sama sekali tidak berani mencampurinya apabila tidak diminta.
 Ketika orang-orang itu telah pergi, Wanamerta kembali ke pendapa, untuk mengadakan
pembicaraan-pembicaraan dengan Ki Ageng Gajah Sora.
 Sementara itu wajah langit di sebelah barat mulai membayang cahaya kemerah-merahan.
Dan sejalan dengan semakin rendahnya matahari, hati Mahesa Jenar menjadi semakin
tegang pula. Teringat jelas kata-kata Sima Rodra tua bahwa ia sama sekali belum
melepaskan keinginannya untuk memiliki kembali keris Nagasasra dan Sabuk Inten.
 Mahesa Jenar mulai menghubung-hubungkan, apakah orang-orang berkuda itu
mempunyai hubungan dengan kata-kata Sima Rodra itu.
 Belum lagi ia mendapat suatu kesimpulan apapun, maka masuklah seseorang ke dalam
ruangannya untuk meminta Mahesa Jenar naik ke pendapa.
 Di dalam pendapa itu ternyata telah hadir pula kecuali Wanamerta, juga Ki Ageng
Lembu Sora dan beberapa orang pengiringnya. Juga tampak beberapa orang pembantu
Gajah Sora dalam melakukan tugasnya sebagai kepala daerah perdikan.
 Menghadapi beberapa tokoh itu, Mahesa Jenar teringat pada masa-masa ia masih
menjadi seorang prajurit. Sesudah itu, ia biasa menghadapi setiap masalah seorang diri.
Dan sekarang ia akan menghadapi suatu masalah, dimana ia tidak berdiri sendiri. Karena
itu disamping ketegangan yang ada di dalam hatinya, sedikit membersit kegembiraannya
pula.
 Ternyata Ki Ageng Gajah Sora pada saat itu sedang membicarakan masalah orang-orang
berkuda yang berada di sekitar kota. Orang-orang berkuda itu tidak saja datang dari arah
timur seperti yang ditemui oleh Mahesa Jenar, tetapi menurut laporan, orang-orang
berkuda semacam itu datang pula dari arah barat. Maka jelaslah sudah bahwa mereka
mempunyai maksud yang jahat.
 Pada pertemuan itu Mahesa Jenar mendengar pula kesediaan Ki Ageng Lembu Sora
untuk tidak pulang pada hari itu. Ia bermaksud untuk turut serta berjaga-jaga apabila ada
hal-hal yang tidak dikehendaki.
 “Adi Mahesa Jenar... sebenarnya aku tidak mau mengganggu kesenangan Adi di Banyu
Biru ini sebagai seorang tamu. Tetapi tiba-tiba keadaan orang-orang itu mendatangi
daerah yang tak berarti sama sekali ini. Kalau mereka bermaksud merampas harta benda,
maka di daerah miskin ini sama sekali akan mengecewakan mereka. Tetapi
bagaimanapun kami terpaksa mempertahankan diri terhadap apapun yang pernah kami
miliki,” kata Gajah Sora beberapa saat kemudian.
 Kata-kata itu tegas bagi Mahesa Jenar. Meskipun Gajah Sora tidak menyebut-nyebut
tentang kedua pusaka simpanannya, tetapi ia telah minta kepada Mahesa Jenar untuk
bersama-sama mempertahankan pusaka-pusaka itu.  Sementara itu, terdengarlah derap kuda dengan kencangnya berlari memasuki halaman.
Seorang pemuda yang tegap kuat segera menghentikan kuda itu dan langsung meloncat
turun. Dengan langkah yang tergesa-gesa ia naik ke pendapa menghadap Ki Ageng Gajah
Sora.
 Menilik wajahnya, pasti ia membawa sesuatu berita yang penting. Untuk beberapa lama
ia tidak berkata apa-apa sambil memandangi orang-orang yang hadir. Tampaknya ia
ragu-ragu untuk menyampaikan sesuatu.
 Ki Ageng Gajah Sora melihat keragu-raguannya, maka katanya, “Katakanlah apa yang
telah kau lihat.”
 “Ki Ageng...” katanya di sela-sela nafasnya yang mengalir cepat, “Pasukan Paman
Sanepa telah terlibat dalam suatu pertempuran dengan kira-kira 30 orang berkuda yang
datang dari arah barat.”
 “Tigapuluh...?” ulang Gajah Sora.
 “Ya, Ki Ageng,” jawab pemuda itu.
 “Berapa orang yang dibawa oleh pamanmu?” tanya Ki Ageng.
 “25 Orang, Ki Ageng,” jawabnya.
 “Seimbang,” kata Ki Ageng. “Tetapi kau boleh membawa orang-orang Sanjaya
bersamamu. Nah, pergilah. Di sana ada 10 orang.”
 “Baik, Ki Ageng.” Lalu dengan tangkasnya ia meloncat turun dan dengan kecepatan luar
biasa, ia naik ke punggung kudanya. Sekejap kemudian derap kuda itu telah semakin jauh
dan lenyap.
 “Kita sudah mulai,” kata Gajah Sora yang tampaknya masih tenang saja.
 “Kakang Wanamerta,” sambung Gajah Sora, “Suruhlah membunyikan tanda bahaya,
supaya orang-orang kita di segenap arah mempersiapkan diri dan mengerti bahwa di
salah satu sudut kota ini telah terjadi bentrokan.”
 Wanamerta segera memerintahkan seorang untuk membunyikan tanda bahaya. Dan
sebentar kemudian telah meraung-raung hampir di seluruh kota Banyubiru, bunyi titir
yang bersahut-sahutan.
 Orang-orang yang duduk di pendapa itu wajahnya menjadi bertambah tegang. Mereka
masih menanti perintah, apakah yang harus mereka kerjakan.
 Tetapi Ki Ageng Gajah Sora sendiri dapat melakukan tugasnya dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.
 Pada saat itu gelap malam telah mulai turun. Batang-batang pohon di halaman menjadi
semakin kabur diselubungi oleh kehitaman malam yang bertambah pekat.
 Tiba-tiba di daerah utara tampaklah langit berwarna darah. Disusul oleh bunyi kentongan
tiga kali lima kali ganda, berturut-turut.
 “Kebakaran,” kata Wanamerta.
 Dengan mata yang memancarkan kemarahan Ki Ageng Gajah Sora memandang kearah
langit yang membara diarah utara itu. Tetapi meskipun demikian ia masih bersikap
tenang.
 “Siapakah yang berada di sana?” tanya Gajah Sora kepada Wanamerta.
 “Adi Pandan Kuning,” jawab Wanamerta singkat.
 “Pandan Kuning...?” ulang Gajah Sora.
 “Ya.”
 “Kalau begitu mereka pasti terdiri dari orang-orang pilihan pula, sehingga di hadapan
Paman Pandan Kuning, mereka berhasil membakar rumah,” kata Gajah Sora hampir
bergumam.
 “Paman...,” kata Gajah Sora kemudian, “Suruh seseorang sediakan kuda-kuda kami.”
 Meskipun kata-kata itu diucapkan dengan perlahan-lahan tetapi artinya adalah besar
sekali. Gajah Sora sendiri telah merasa perlu untuk sewaktu-waktu bertindak. Menurut
perhitungannya, orang-orang yang mendatangi Banyubiru itu pasti terdiri dari orangorang yang tak dapat direndahkan.
 Wanamerta tidak lagi mau membuang waktu. Maka segera diperintahkan seorang untuk
menyiapkan kuda-kuda mereka. Berbareng dengan itu Ki Ageng Lembu Sorapun telah
memerintahkan orangnya untuk mempersiapkan kuda-kuda mereka pula.
 Saat orang-orang itu menyiapkan kuda di halaman, muncullah diantara mereka Arya
dengan dua ekor kuda di tangannya. Seekor berwarna hitam mengkilat dan yang seekor
lagi berwarna abu-abu.
 “Inilah kuda Paman,” teriaknya kepada Mahesa Jenar. Mahesa Jenar terkejut melihat
Arya hadir dalam kesibukan itu. “Kau mau kemana, Arya?” tanya Mahesa Jenar.
 “Aku ikut Paman ke tempat kebakaran itu,” jawabnya.  “Arya..., potong Gajah Sora, Kau jangan menambah kesibukanku dan pamanmu.
Masuklah ke dalam. Kalau kau mau pergi juga, seterusnya aku tak mau mengajari kau
sama sekali.”
 Arya memandang ayahnya dengan penuh kecewa. Tetapi ia sama sekali tidak berani
membantah. Sebab dalam saat-saat yang demikian ayahnya memang dapat bertindak
agak keras terhadapnya.
 Sementara itu keributan semakin menjadi-jadi. Orang-orang Banyubiru adalah orangorang yang cukup terlatih di bawah pimpinan Gajah Sora.
 Karena itu di beberapa tempat yang juga timbul pertempuran-pertempuran, Laskar
Banyubiru segera dapat menguasai keadaan. Tetapi di bagian barat dan utara, ternyata
kekuatan mereka tak dapat dianggap ringan.
 Di pendapa, Ki Ageng Gajah Sora beberapa kali menerima penghubung-penghubung
dari daerah pertempuran, dan dengan cermatnya ia memberikan perintah dan petunjukpetunjuk.
 Tetapi tiba-tiba orang-orang yang berada di pendapa itu bersama-sama digetarkan oleh
bunyi kentongan dua-tiga-dua-tiga dari arah utara, sedangkan api tampak semakin
menjalar ke beberapa arah.
 Mendengar bunyi kentongan itu, kemarahan Gajah Sora tak dapat dikendalikan lagi.
Bunyi kentong dua-tiga-dua-tiga mempunyai arti yang sama sekali tidak menyenangkan.
Tanda itu mengatakan bahwa Laskar Banyubiru terdesak hebat.
 Dengan gigi yang terkatub rapat, Gajah Sora terloncat dari duduknya. “Setan manakah
yang mencoba mengganggu ketenteraman Banyubiru?” katanya geram.
 “Paman Wanamerta...” kata Gajah Sora kepada Wanamerta, “Aku akan pergi ke tempat
itu. Rupanya kekuatan lawan dipusatkan di sana. Berilah tanda supaya sebagian dari
pasukan cadangan dikerahkan ke utara.”
 Segera Wanamerta memerintahkan memukul kentongan dua-empat-dua-empat berturutturut. Bersama dengan itu Gajah Sora meloncat ke atas kudanya. Adi Lembu Sora dan
Mahesa Jenar, marilah kita lihat daerah itu, katanya.
 Mahesa Jenar nampak ragu sebentar. Kalau mereka seluruhnya meninggalkan tempat itu,
lalu bagaimanakah dengan keris yang disimpan oleh Gajah Sora?
 Rupanya keragu-raguan itu diketahui oleh Gajah Sora.
 “Tak seorang pun yang akan dapat mengalahkan Paman Pandan Kuning kalau bukan
seorang yang luar biasa hebatnya. Jadi menurut perhitunganku, pimpinan dari
gerombolan itu berada di sana. Biarlah rumah ini aku serahkan kepada Paman Wanamerta dan Paman Sawungrana. Aku percaya kepada Paman berdua dengan beberapa orang pasukannya. Berilah aku tanda kalau keadaan memaksa. Ingat Paman, tak seorangpun boleh menginjakkan kakinya di halaman rumah ini.”
 “Baik Anakmas, aku akan menjaganya,” jawab Wanamerta.
 “Siapa yang di halaman belakang?” tanya Gajah Sora.
 “Panjawi dengan laskarnya,” jawab Wanamerta.
 “Bagus, aku percaya pula pada anak muda itu. Kelak ia pasti menjadi seorang prajurit
pilihan. Nah, Paman... aku akan berangkat.”
 Sekejap kemudian Gajah Sora mendera kudanya dan lari dengan kencangnya.
 Lembu Sora dengan beberapa pengiringnya segera menyusul dan yang paling belakang
adalah Mahesa Jenar dengan kuda abu-abu yang dibawa oleh Arya tadi.
 Maka segera iring-iringan itu meluncur seperti angin ke arah tempat kebakaran di
sebelah utara Banyubiru di kaki bukit Telamaya. Dari tempat yang agak tinggi di luar
halaman, mereka dapat melihat dengan jelas api yang berkobar-kobar di beberapa tempat.
 Melihat nyala api itu, hati Gajah sora menjadi semakin panas. Ia memacu kudanya lebih
laju lagi. Kuda yang telah berlari sekuat tenaga itu menurut perasaan Gajah Sora seperti
ular yang merambat di dedaunan. Lambat sekali.
 Tetapi akhirnya dengan menahan kekesalan hati, mereka sampai juga di tempat
pertempuran. Dari jarak yang cukup, Gajah Sora dengan rombongannya dapat melihat
arena pertempuran yang terjadi di pinggir sebuah perkampungan.
 Rupanya pertempuran itu telah berlangsung dengan serunya. Di kedua belah pihak telah
jatuh beberapa orang korban.
 Ternyata, pasukan-pasukan cadangan Banyubiru yang dipimpin oleh Ki Bantaran telah
tiba di tempat itu dan telah pula melibatkan diri dalam pertempuran. Dalam pengamatan
yang sebentar itu Gajah Sora melihat betapa kuatnya pihak lawan.
 Dilihat dari bekas-bekasnya, ternyata bahwa arena pertempuran itu telah bergeser agak
jauh mendekati perkampungan. Bahkan beberapa orang dari mereka telah membakar
rumah-rumah penduduk yang tak bersalah.
 Kemarahan hati Gajah Sora semakin menggelora. Karena itu setelah ia menemukan
pertimbangan mengenai keseluruhan pertempuran itu, segera ia memberikan perintah.
“Lembu Sora... bawalah anak buahmu ke sebelah kiri. Lingkari arena ini, dan kau harus
dapat menguasai jalan kecil di ujung sawah itu. Kalau aku berhasil mendesak mereka,
usahakan jangan dibiarkan mereka lolos. Aku ingin tahu siapa mereka. Bawalah beberapa orang bersamamu.”
 “Baik Kakang,” jawab Lembu Sora. Setelah itu iapun segera pergi ke tempat yang telah
ditentukan. Ia melingkar menyusup perkampungan untuk kemudian muncul kembali
menuju ke jalan kecil di ujung sawah.
 Dalam keremangan cahaya api yang menjilat ke udara, arena pertempuran itu seolaholah sengaja dijadikan daerah yang diterangi oleh ribuan obor di sekitarnya.
 Sepeninggal Lembu Sora, Gajah Sora dan Mahesa Jenar berdiri mengawasi medan.
Mahesa Jenar adalah bekas prajurit pengawal raja. Karena itu ia mempunyai pandangan
yang cukup masak mengenai keadaan medan. Maka segera ia melihat kelemahan Laskar
Banyubiru.
 “Kakang, menurut pengamatanku, letak kesalahan Laskar Banyubiru adalah, beberapa
orang yang cukup masak berkumpul di dalam satu titik. Sehingga di bagian-bagian lain
banyak terdapat kelemahan,” kata Mahesa Jenar.
 Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau benar Adi Mahesa Jenar. Aku
melihat pula kelemahan itu. Tetapi pastilah mereka menghadapi keadaan darurat. Bahkan
Bantaran pun telah terlibat dalam perkelahian di titik itu,” jawabnya.
 “Siapakah yang bersenjatakan pedang panjang serta melompat-lompat dengan lincahnya
itu?” tanya Mahesa Jenar.
 “Itulah Pandan Kuning,” jawab Gajah Sora. Yang bersenjata tombak itu adalah
Bantaran. Lainnya adalah orang-orang pilihan dari Laskar Banyubiru.”
 “Kakang...” tiba-tiba Mahesa Jenar berkata agak terkejut, Rupanya mereka hanya
melawan satu orang saja.”
 Gajah Sora mempertajam pandangannya. Nyala api yang berkobar-kobar di sekitar
daerah pertempuran itu membuat ratusan bayangan dari orang-orang yang bertempur itu,
beraneka ragam. Ada yang panjang, ada yang besar seperti raksasa yang meloncat-loncat
menerkam mangsanya. Karena itu keadaan medan menjadi agak kabur.
 “Aku kira tidak hanya seorang, Adi, tetapi dua orang,” jawab Gajah Sora.
 “Ya, dua orang, sambung Mahesa Jenar hampir berteriak, Dan aku pernah mengenal
kedua orang itu.”
 Hampir saja Mahesa Jenar meloncat menyerbu. Tetapi tiba-tiba dilihatnya Lembu Sora
telah mendahuluinya dari arah belakang. Lembu Sora menyambar dari atas kudanya
seperti seekor elang yang sedang marah. Geraknya tangkas dan tangguh. Rupanya ia
adalah seorang yang ahli bertempur di atas kuda.  Pandan Kuning, Bantaran, dan lebih dari tujuh orang bertempur bersama-sama melawan
dua orang. Tetapi dua orang itu ternyata tangguh sekali. Sehingga sampai sekian lama
kedua orang itu masih tampak segar dan lincah.
 Sekarang mereka mendapat bantuan Lembu Sora. Ternyata Lembu Sora juga tidak
mengecewakan. Ia bersenjatakan sebuah pedang yang panjang dan besar. Pedang itu di
tangannya yang kokoh kuat, hanya seperti setangkai lidi yang berputar-putar dan
berkilauan kena cahaya api.
 Dari jarak yang agak jauh itu, terdengar tidak jelas Lembu Sora memberikan aba-aba,
dan sebentar kemudian keadaan segera berubah dengan cepatnya. Pandan Kuning dengan
kawan-kawannya segera memotong batas kedua lawannya, sedang Lembu Sora dengan
garangnya menyerang yang seorang dari mereka. Maka segera terjadi dua lingkaran
pertempuran. Lembu Sora melawan seorang, sedang seorang lagi harus melayani Pandan
Kuning dan kawan-kawannya.
 “Anak itu punya otak juga,” gumam Gajah Sora. “Ia pasti bermaksud membunuh
seorang demi seorang.”
 “Bukankah ia putra Ki Ageng Sora Dipayana pula?” kata Mahesa Jenar.
 Gajah Sora tersenyum.
 “Sayang ia agak bengal,” jawabnya.
 Mahesa Jenar tidak menjawab, perhatiannya terikat sekali pada pertempuran yang
berlangsung dengan hebatnya. Tetapi kemudian ia menjadi agak bingung melihat
ketidak-wajaran dalam pertempuran itu.
 “Kakang Gajah Sora, tidakkah Kakang melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya?”
 ”Ya.” jawab Gajah Sora. Rupa-rupanya ada pertempuran segitiga di daerah ini.
 “Tepat,” Kakang, kata Mahesa Jenar.
 “Lalu apakah yang akan kita lakukan?”
 “Biarlah Lembu Sora dan Paman Pandan Kuning melayani lawannya yang rupa-rupanya
tidak terlalu membahayakan,” jawab Gajah Sora.
 “Marilah kita bersihkan saja yang lain, baru kita membantu menangkap kedua orang
itu,” kata Gajah Sora selanjutnya. Sehabis berkata demikian, Gajah Sora mendera
kudanya langsung terjun ke dalam kancah pertempuran.
 Sepeninggal Gajah Sora, Mahesa Jenar masih beberapa saat berdiri mengawasi medan.
Rupanya Gajah Sora ingin mempergunakan siasat lawan untuk memukul mereka kembali. Pemimpin-pemimpin gerombolan penyerbu itu agaknya telah mengatur siasat
dengan cermatnya. Mereka berhasil memancing tokoh-tokoh Laskar Banyubiru untuk
berkumpul di dalam satu lingkaran, sedang orang-orangnya akan menjadi agak leluasa
untuk menjalankan pengacauan dan pembakaran.
 Gajah Sora memaklumi siasat itu. Dan ia juga tidak dapat menyalahkan pemimpin
pemimpin laskarnya untuk mengepung pimpinan gerombolan yang tangguh itu. Sebab
apabila mereka tidak menghadapi bersama-sama, maka dengan mudahnya mereka akan
dibinasakan satu demi satu.
 Karena itu, Gajah Sora berhasrat memecahkan siasat itu dengan merusak barisan laskar
gerombolan itu. Dengan demikian pemimpin-pemimpin mereka pasti akan
mendatanginya tanpa diminta. Sebab pastilah mereka menyangka bahwa tak seorang pun
akan mampu menahan laskar mereka yang mereka perkuat, meskipun ada laskar lain
yang ada diluar perhitungan, sehingga terpaksa terjadi pertempuran segitiga.
 Namun salah satu dari mereka ternyata telah berhasil dengan siasat mereka, dan
membakar rumah penduduk yang tak berdaya. Sedang di dalam perhitungan mereka,
Gajah Sora sendiri akan tetap berada di rumahnya untuk menjaga pusaka-pusaka yang
disimpannya.
 Tetapi yang masih belum dapat dipecahkan, baik oleh Mahesa Jenar maupun Gajah Sora,
adalah adanya dua laskar yang dalam waktu bersamaan menyerang Banyubiru.
 Sedang mereka bertempur pula satu sama lain, meskipun maksud mereka hampir jelas,
yaitu menginginkan pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
 Kecuali itu Mahesa Jenar juga sangat tertarik ketangguhan dua orang tokoh gerombolan
yang dengan tangkasnya dapat mempertahankan diri dari kepungan Pandan Kuning serta
kawan-kawannya.
 Pertempuran berlangsung terus dengan hebatnya. Laskar Banyu Biru telah berjuang
mati-matian untuk mencoba mempertahankan tanah mereka serta seluruh isinya.
 Dengan munculnya Lembu Sora, keadaan sudah mulai berubah. Lembu Sora ternyata
juga merupakan seorang laki-laki yang luar biasa. Pedangnya yang terlalu besar menurut
ukuran biasa itu berputar seperti baling-baling yang dengan dahsyatnya selalu melingkari
lawannya dengan serangan-serangan maut.
 Tetapi lawan Lembu Sora pun memiliki kelincahan yang luar biasa. Sayang bahwa jarak
mereka agak jauh dari Mahesa Jenar. Apalagi prajurit-prajurit yang sedang bertempur itu
selalu bergerak-gerak membayangi pandangannya, sehingga ia tidak dapat melihat
dengan jelas.
 Karena tertarik kepada kedua orang pemimpin gerombolan yang perkasa itu, Mahesa
Jenar ingin lebih mendekat lagi. Maka segera ia turun dari kudanya dan mengikatkan kuda itu pada sebatang pohon. Dengan perlahan-lahan, ia menerobos medan yang sedang
ribut, ia berjalan mendekati Lembu Sora.
 Beberapa kali Mahesa Jenar mendapat serangan dari laskar-laskar gerombolan itu, tetapi
dengan satu-dua gerakan saja Mahesa Jenar telah dapat merobohkan mereka.
 Di bagian lain, di tengah pertempuran itu tiba-tiba terdengar sorak sorai yang riuh
rendah. Rupanya Laskar Banyubiru ketika melihat kepala daerah mereka yang perkasa
terjun ke arena, mereka menjadi gembira sekali.
 Tiba-tiba, seolah-olah tubuh mereka masing-masing mendapat tambahan kekuatan yang
hebat. Karena itu mereka bersorak-sorak gemuruh. Dan bersamaan dengan itu gerak
mereka menjadi lebih dahsyat.
 Sorak sorai itu segera disambut oleh hampir seluruh Laskar Banyubiru yang berada di
arena itu.
 Dengan kehadiran Lembu Sora, Gajah Sora dan Mahesa Jenar, segera keadaan medan
menjadi berubah. Laskar dari kedua gerombolan yang semula bertempur satu sama lain,
memusatkan kekuatan mereka untuk menggempur Laskar Banyubiru.
 Meskipun demikian, Laskar Banyubiru kini kekuatannya sudah jauh bertambah.
 Sejalan dengan itu, lawan Pandan Kuning yang semula bertempur berpasangan, dan
kemudian harus melawan seorang diri, merasakan juga tekanan yang semakin berat.
Karena itu ia bertempur semakin seru serta mengerahkan seluruh tenaganya. Apalagi
ketika didengarnya Laskar Banyubiru bersorak-sorak.
 Tiba-tiba dari arah lain terdengarlah sebuah suitan nyaring. Disusul dengan bunyi suitan
pula dari orang yang sedang bertempur melawan Pandan Kuning.
 Rupanya suitan-suitan itu merupakan tanda-tanda dan perintah. Segera tampaklah
beberapa laskar gerombolan berlontaran menyerbu Pandan Kuning dan kawan-kawannya.
Mereka mencoba untuk mengganti kedudukan pemimpinnya yang dengan satu gerakan
dahsyat memecahkan kepungan Pandan Kuning dan kawan-kawannya. Ia melepaskan diri
dari pertempuran itu untuk dapat langsung menghadapi Gajah Sora.
 Maka ketika orang itu telah berdiri di luar lingkaran, Mahesa Jenar segera dapat
melihatnya dengan jelas. Dan pada saat itu pula rasanya jantung Mahesa Jenar
menggelegak hebat.
 Orang yang memimpin gerombolan itu, dan yang telah bertempur dengan gagahnya,
adalah seorang yang bertubuh kekar, berkumis setebal ibu jari, dan di kedua belah
tangannya tergenggam dua bilah pisau belati panjang.
 “Lawa Ijo....” geram Mahesa Jenar diantara suara gemeretak giginya yang beradu dengan kerasnya.
 Maka dengan gerak tanpa sadar, Mahesa Jenar meloncat lebih dekat lagi untuk
mengenali pasangan Lawa Ijo yang sedang bertempur melawan Lembu Sora dengan
kekuatan yang seimbang. Orang itu pasti memiliki kekuatan setidak-tidaknya sama
dengan Lawa Ijo.
 Ketika Mahesa Jenar sudah menjadi semakin dekat dan dapat melihat lawan Lembu Sora
itu agak jelas, ia menjadi bertambah terkejut lagi. Orang itu adalah seorang laki-laki
tampan, dengan sebuah tongkat hitam di tangan kiri yang dipergunakan sebagai perisai,
sedang di tangan kanannya tampak sebilah pedang tipis yang lentur.
 Sebuah permainan gila-gilaan, desis Mahesa Jenar. Tubuhnya menjadi gemetar menahan
deru darahnya yang menggelora seperti gemuruhnya air bah.
 Dengan tak disangka-sangka, tiba-tiba ia bertemu dengan orang-orang yang menjadi
musuh utamanya. Terutama Lawa Ijo, yang sampai dua kali berhasil melepaskan diri dari
Mahesa Jenar.
 Meskipun demikian di dalam hati Mahesa Jenar memuji kekuatan daya tahan tubuh
Lawa Ijo yang besar sekali. Beberapa saat yang lalu ia berhasil menghantam Lawa Ijo
dengan senjata andalannya, yaitu Sasra Birawa. Tetapi sekarang ia melihat Lawa Ijo telah
segar bugar kembali.
 Bagaimanapun hebatnya daya pengobatan Pasingsingan, namun kalau di dalam tubuh
Lawa Ijo itu sendiri belum dialasi oleh kekuatan yang hebat, pastilah ia memerlukan
waktu berbulan-bulan untuk dapat sembuh kembali.
 Sekarang, kedua orang itu, Lawa Ijo dan Jaka Soka, yang sebenarnya merupakan saingan
yang hebat sekali, untuk sementara dapat bekerja bersama-sama, untuk dapat merampas
Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.
 Karena itu, tidak ada suatu hasrat pun yang bergolak di dalam dada Mahesa Jenar pada
saat itu, kecuali membinasakan Lawa Ijo dan sekaligus kalau mungkin Jaka Soka. Sebab
orang-orang yang berciri watak demikian, merupakan duri yang selamanya selalu akan
menyakiti tubuh masyarakat.
 Pada saat itu Jaka Soka sedang bertempur mati-matian melawan Lembu Sora.
 Kekuatan keduanya benar-benar seimbang.
 Lembu Sora kini sudah turun dari kudanya untuk melawan Jaka Soka yang bertempur
seolah-olah melilit dan melingkar-lingkar seperti ular. Tetapi dalam pertempuran itu, Jaka
Soka benar-benar tak mampu mendekati lawannya yang dapat mengurung dirinya dalam
lingkaran sambaran pedangnya yang besar itu.  Maka untuk sementara Mahesa Jenar dapat melepaskan Jaka Soka. Syukurlah apabila
Lembu Sora berhasil membinasakannya. Tetapi setidak-tidaknya pertempuran itu akan
berlangsung lama, sehingga ia akan mendapat kesempatan untuk menemaninya bermain,
setelah ia membinasakan Lawa Ijo.
 Mahesa Jenar pada saat itu telah memutuskan untuk tidak memperpanjang waktu. Ia
sudah bersedia untuk mempergunakan ilmunya Sasra Birawa dalam pukulannya yang
pertama. Ia tidak mau didahului oleh Gajah Sora dengan Lebur Seketinya untuk
membinasakan Lawa Ijo.
 Tetapi kembali dadanya terguncang. Ketika ia sudah hampir meloncat ke arah Lawa Ijo,
tiba-tiba dari antara laskar yang bertempur itu meloncatlah seorang yang berperawakan
tinggi besar berambut lebat dengan kumis dan janggut yang lebat pula.
 Ia bersenjata tombak pendek. Dan bersamaan dengan serangannya yang menderu seperti
angin ribut itu, terdengar suaranya mengaum dahsyat seperti seekor harimau yang sedang
marah.
 “Kau gila Lawa Ijo...,” teriaknya. Jangan mencoba menghalangi aku atau mendahului
maksudku.
 Lawa Ijo tampaknya agak terkejut mendapat serangan itu. Tetapi ia adalah seorang yang
tangkas. Karena itu, dengan satu loncatan ia berhasil membebaskan dirinya. Bahkan
kemudian terdengarlah suara tertawanya yang menyeramkan.
 “Kita sama-sama mengail di satu kolam, Harimau jelek,” katanya kemudian. “Apakah
salahnya?”
 “Tetapi akulah yang paling berhak atas keris-keris itu,” jawab orang yang tinggi besar
itu, yang tidak lain adalah Sima Rodra muda dari Gunung Tidar.
 Kembali Lawa Ijo tertawa pendek, “Salahmulah bahwa keris-keris itu sampai terlepas
dari tanganmu.”
 Sima Rodra muda itu tidak menjawab, tetapi segera ia melanjutkan serangannya dengan
tombak pendeknya yang dinamainya Kyai Kalatadah, yang pernah hampir saja dicuri
oleh anak buah sepasang Uling dari Rawa Pening.
 Serangan itu datangnya cepat sekali sehingga Lawa Ijo tidak sempat mengelak. Segera ia
menggerakkan kedua pisau belatinya untuk menangkis serangan Sima Rodra. Dua
kekuatan yang dahsyat saling beradu. Terdengarlah suara gemerincing nyaring dan bunga
api berpencaran di udara.
 Mahesa Jenar tertegun melihat kejadian itu. Segera ia mengurungkan niatnya. Dan tibatiba saja timbul keinginannya untuk menyaksikan dua tokoh golongan hitam itu mengadu
tenaga.  Maka segera terjadilah pertempuran yang dahsyat. Kedua-duanya percaya pada kekuatan tubuhnya sehingga tampaknya mereka berdua segan untuk mengelakkan diri dari
benturan-benturan. Kedua tangan Lawa Ijo yang memegang dua bilah pisau belati
panjang itu menyambar-nyambar, seolah-olah berdatangan dari segala arah. Sedang Sima
Rodra dengan dahsyatnya pula memutar tombak pendeknya mengarah ke segenap bagian
tubuh Lawa Ijo.
 Kedua orang tokoh hitam itu, apabila tidak dikendalikan oleh kemarahan yang meluapluap, pastilah mereka akan menghindari pertempuran. Sebab mereka telah merasa bahwa
kekuatan mereka seimbang, sehingga perkelahian yang semacam itu hanya akan
membuang-buang waktu saja.
 Beberapa waktu yang lalu Lawa Ijo sudah pernah bertempur melawan Sima Rodra.
Tetapi tak seorang pun yang dapat mengatasi yang lain. Kemudian setelah beberapa lama
mereka berpisah merendam diri untuk mempersiapkan pertemuan terakhir tahun ini, tibatiba mereka bertemu dalam satu tujuan yang sama.
 Meskipun masing-masing telah mendapat tambahan ilmu yang cukup banyak, namun
ternyata kekuatan mereka masih tetap seimbang.
 Melihat pertempuran itu, hati Mahesa Jenar tergetar juga. Seandainya ia tidak memiliki
ilmu sakti Sasra Birawa, mungkin sulit baginya untuk dapat mengalahkan baik Lawa Ijo
maupun Sima Rodra.
 Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya ingin dapat
menjatuhkan lawannya dengan segera.
 Tetapi yang agak mengherankan Mahesa Jenar, kenapa Sima Rodra baru saat itu muncul
di arena. “Apakah kerjanya sebelum itu...?” Padahal sesaat sebelum ia menyerang Lawa
Ijo, laskarnya sudah jauh terdesak oleh Laskar Banyubiru yang merasa mendapat tenaga
baru dengan hadirnya Gajah Sora.
 Di lain bagian dari pertempuran itu nampak Lembu Sora dan Jaka Soka bekerja keras
untuk dapat menguasai lawannya. Tetapi ternyata keduanya pun memiliki kekuatan yang
seimbang. Hanya keseimbangan pertempuran diantara laskar-laskar mereka kini telah
berubah sama sekali. Laskar Banyubiru dalam waktu yang dekat pasti akan dapat
menguasai keadaan, apalagi pada saat itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar ada didalam
barisan Laskar Banyubiru tanpa ada yang dapat menghalangi gerakan-gerakan mereka.
 Tetapi sementara itu, tiba-tiba agak jauh di ujung desa, Mahesa Jenar melihat bayangan
yang bergerak-gerak dengan kecepatan yang luar biasa. Gerakan-gerakan mereka jauh
lebih cepat dan lincah daripada gerakan-gerakan Sima Rodra maupun Lawa Ijo.
 Segera Mahesa Jenar tertarik pada bayangan itu. Dan untuk sementara ia lupa bahwa ia
sedang menonton pertempuran antara dua orang tokoh hitam yang gagah itu.  Oleh karena itu ia segera meloncat memburu ke arah bayangan yang tampaknya hanya
samar-samar, dan selalu bergerak-gerak itu. Ketika sudah dekat, barulah ia dapat melihat
agak jelas bahwa dalam kepekatan malam yang hanya dapat dicapai samar-samar oleh
sinar-sinar api yang masih berkobar-kobar itu, ada dua orang yang sedang bertempur
pula.
 Tetapi pertempuran ini sangat mengejutkan hati Mahesa Jenar. Kedua orang yang sedang
bertempur itu ternyata memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Mereka bergerak-gerak,
berputar-putar dan meloncat-loncat seperti tubuhnya tidak memiliki berat. Bahkan
kadang-kadang kedua orang itu meloncat tinggi berputar di udara, dan kadang-kadang
hampir seperti terapung-apung untuk beberapa saat. Tetapi kadang-kadang mereka
berubah menjadi dua orang yang seolah-olah bertubuh besi yang saling membentur,
menghantam dengan kuatnya, seakan-akan mereka bukan manusia-manusia yang
tubuhnya terdiri dari daging dan tulang-tulang yang dapat patah.
 Melihat bayangan yang bertempur dengan hebatnya itu Mahesa Jenar tertegun heran.
 Pastilah kedua orang itu memiliki ilmu yang tinggi.
 Sementara itu, rupanya Gajah Sora melihat pula dua orang yang sedang bertempur itu.
Ternyata seperti juga Mahesa Jenar, ia pun berusaha untuk mendekat.
 “Siapakah mereka?” tanya Gajah Sora.
 Mahesa Jenar menggelengkan kepala. “Entahlah,” jawabnya.
 “Marilah dengan hati-hati kita dekati, mereka pasti tergolong dalam angkatan yang jauh
di atas kita,” sambung Gajah Sora.
 Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi apa yang dikatakan oleh Gajah Sora itu memang
sudah terpikir olehnya. Karena itu segera ia pun menyusup ke sebuah halaman dan
dengan mengendap-endap bersama Gajah Sora, berusaha untuk mendekati dua orang
yang sedang bertempur dengan hebatnya itu.
 Untuk mendekati tempat pertarungan itu tidaklah sulit bagi Mahesa Jenar dan Gajah
Sora, sebab mereka bertempur di satu tempat yang sempit tanpa berkisar dari satu titik,
yaitu di tengah jalan dusun di ujung desa.
 Semakin dekat mereka dengan titik pertarungan itu, menjadi semakin jelas pula
ketinggian ilmu kedua orang yang bertanding itu. Mereka saling menghantam,
menangkap dan membanting lawannya. Tetapi demikian salah seorang terlempar ke atas
tanah, demikian ia melenting dan tegak kembali untuk dalam sekejap telah dapat
membalas menyerang pula.
 Gajah Sora dan Mahesa Jenar tergolong orang-orang yang memiliki kesaktian yang tidak kecil artinya di kalangan orang-orang perkasa. Tetapi melihat cara kedua orang itu
bertempur terasalah bahwa ilmu mereka itu baru merupakan ilmu yang permulaan saja.
 Ketika mereka berdua, Gajah Sora dan Mahesa Jenar, sedang terikat oleh pertempuran
itu, tiba-tiba terdengarlah salah seorang diantara mereka berkata, “Hei, apa kerjamu di
sini?”
 Gajah Sora dan Mahesa Jenar terkejut bukan main. Mereka berdua berada di tempat
yang terlindung dan gelap. Sedangkan mereka berdua saja masih belum sempat
menyaksikan kedua orang yang berdiri di tengah jalan itu dengan baik, tetapi justru salah
seorang diantaranya sudah dapat melihat mereka yang berlindung.
 Untuk sementara Gajah Sora dan Mahesa Jenar masih berdiam diri. Mungkin bukan
mereka yang disapa.
 “Rupa-rupanya kau sengaja memanggilnya supaya membantumu,” jawab yang lain
masih sambil bertempur.
 “Tutup mulutmu,” bentak yang lain pula. Jangan terlalu sombong. “Kau kira bahwa aku
tak mampu melawanmu.”
 Yang lain diam tak menjawab, tetapi rasanya mereka bertempur semakin seru.
 Ketika sesaat kemudian Gajah Sora dan Mahesa Jenar masih belum menjawab, kembali
terdengar suara orang yang pertama.
 “Hai Gajah Sora dan Mahesa Jenar, kenapa kau berdiri seperti patung di situ?”
 Mendengar nama mereka disebut, baru Gajah Sora dan Mahesa Jenar yakin bahwa
benar-benar mereka berdualah yang disapa oleh orang itu. Tetapi belum lagi salah
seorang menjawab, terdengar suara orang kedua, “Hei, kenapa kalian tak membantu
bapakmu yang sudah hampir kehabisan napas?”
 Mendengar kata-kata itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar tersentak. Mereka tidak perlu
lagi bersembunyi-sembunyi. Karena itu mereka berdua meloncat mendekat.
 Ketika mereka sudah demikian dekat, barulah mereka tahu bahwa benar-benar Ki Ageng
Sora Dipayana yang sedang bertempur dengan dahsyatnya itu melawan seorang bertubuh
raksasa yang mempunyai kesaktian sejajar pula. Tetapi rasa-rasanya mereka masih belum
mengenal orang itu.
 “Gajah Sora...” kata Ki Ageng Sora Dipayana tanpa mengalihkan perhatiannya
sedikitpun dari lawan-lawannya. “Kenapa kau begitu bodoh meninggalkan rumahmu tak
terjaga?”
 “Paman Wanamerta, Sawungrana dan Panjawi dengan pasukannya berjaga-jaga di sana, Ayah,” jawabnya.
 “Apa arti dari mereka bertiga. Pulanglah. Ajak Mahesa Jenar. Tinggalkan Lembu Sora
bersamaku di sini,” perintahnya. “Bukankah laskarmu di sini tidak banyak menderita
kekalahan?”
 “Mereka memberikan tanda kekalahan itu, Ayah,” jawab Gajah Sora.
 “Akh... kau memang terlalu muda digugah kemarahan Gajah Sora. Prajurit Banyubiru
meskipun terpaksa menarik pasukannya beberapa kali tetapi masih belum memberi tanda
kekalahan. Paling-paling mereka akan minta bantuan laskar cadangan.”
 “Tetapi tanda itu telah dibunyikan, Ayah....” Gajah Sora mencoba menjelaskan.
 Ki Ageng Sora Dipayana Dipayana masih melayani lawannya dengan gigih. Mereka
bertempur dengan cara yang agak membingungkan bagi Gajah Sora dan Mahesa Jenar.
Tubuh mereka seolah-olah menjadi kebal dan tidak dapat disakiti oleh pukulan yang
bagaimanapun kerasnya. Karena itu baik Gajah Sora maupun Mahesa Jenar tidak tahu
bagaimana terbuka kemungkinan untuk dapat memenangkan pertempuran itu.
 "Gajah Sora... yang membunyikan tanda itu bukanlah Laskar Banyubiru. Tetapi itu
hanyalah suatu cara buat menarikmu untuk datang ke daerah pertempuran ini," kata Ki
Ageng Sora Dipayana.
 Mendengar keterangan ayahnya, hati Gajah Sora terguncang hebat. Karena itu segera ia
meloncat meninggalkan tempat itu untuk segera kembali ke rumahnya.
 "Gajah Sora..." panggil ayahnya sebelum Gajah Sora jauh. Gajah Sora berhenti sejenak.
 "Suruhlah Pandan Kuning, Bantaran, Panunggal dan beberapa orang kemari. Suruhlah
mereka membawa tali yang kuat untuk mengikat kucing sakit-sakitan ini."
 "Hemmm....!" geram lawannya. "Kau kira kau bisa menangkap aku?"
 "Kalau dalam keadaan keseimbangan... setetes air akan mempunyai pengaruh untuk
mengubah keseimbangan itu. Maka kedatangan beberapa orang yang tak berarti itu pasti
mempunyai akibat yang tak kau harapkan," jawab Sora Dipayana.
 "Setan tua..., kau licik sekali!", Kembali orang itu menggeram berusaha menangkap
seorang penyerang.
 "Apakah itu licik?", jawab Sora Dipayana.
 "Nah Gajah Sora dan Mahesa Jenar," berangkatlah, katanya kepada Gajah Sora dan
Mahesa Jenar.  Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera berlari meninggalkan tempat itu, sambil memberi
aba-aba kepada Pandan Kuning dan kawan-kawannya. Apalagi pada waktu itu keadaan
pertempuran seolah-olah sudah hampir seluruhnya dapat dikuasai oleh Laskar Banyubiru,
kecuali pertarungan antara Sima Rodra muda dengan Lawa Ijo serta Jaka Soka melawan
Lembu Sora.
 Gajah Sora cepat-cepat melompat ke kuda putihnya, sedang Mahesa Jenar berlari
kencang-kencang ke kudanya yang ditambatkannya tadi. Dan sejenak kemudian mereka
telah berpacu ke arah rumah Ki Ageng Gajah Sora.
 Seperti pada saat mereka berangkat, demikian pula pada saat itu, rasanya kuda-kuda itu
berjalan demikian lambatnya. Beberapa kali mereka mendera kuda mereka untuk segera
sampai di rumah. Sebab kalau sampai Ki Ageng Sora Dipayana merasa khawatir, maka
pastilah ada sesuatu yang mengancam keselamatan pusaka-pusaka yang disimpannya.
 Pada saat mereka meninggalkan arena pertempuran itu, mereka masih dapat mendengar
suara lawan Ki Ageng Soradipayana itu mengaum seperti seekor harimau, dan sesaat
kemudian disahut oleh auman yang menyeramkan pula dari Sima Rodra muda.
 Ketika mereka menoleh, tampaklah sebagian dari laskar yang sedang bertempur itu
berloncatan meninggalkan gelanggang, seperti air laut yang sedang surut. Maka dengan
cepatnya jumlah laskar itu menjadi berkurang.
 Tetapi mereka sudah tidak punya waktu lagi untuk memperhatikan perubahan itu dengan
seksama, sebab pikiran mereka telah lari mendahului ke arah pusaka-pusaka yang mereka
simpan.
 Namun demikian Gajah Sora sambil memacu kudanya masih sempat bertanya, "Adi
Mahesa Jenar, siapakah kira-kira yang bertempur melawan ayah itu? "
 Mahesa Jenar menarik keningnya. Lalu jawabnya, "Aku tak dapat mengatakan dengan
pasti Kakang. Tetapi aku kira ia adalah Sima Rodra tua dari Lodaya."
 "Tepat seperti dugaanku," sahut Gajah Sora. "Bulu-bulu yang jarang-jarang yang tumbuh
di wajahnya, tubuhnya yang besar seperti raksasa, dan akhirnya teriakannya yang seperti
aum seekor harimau. Hanya saja ia tidak mengenakan kerudung kulit harimau hutan
seperti pada saat kita jumpai pertama kali. Itu adalah usahanya untuk menyamar sebagai
laskar biasa, Kakang.
 "Untunglah bahwa Ki Ageng Sora Dipayana tidak membiarkan daerah ini," kata Mahesa
Jenar.
 Gajah Sora tidak menjawab lagi. Kudanya dipacu semakin kencang. Kudanya adalah
kuda pilihan, yang memiliki kecepatan berlari seperti anak panah. Tetapi pada saat itu
rasa-rasanya kuda itu berlari seperti keong yang merayap-rayap di batu-batu berlumut.  Semakin dekat mereka dengan halaman rumah Gajah Sora, hati mereka menjadi semakin
tegang. Pikiran mereka dipenuhi oleh berbagai macam gambaran yang mungkin terjadi
pada kedua keris pusaka yang disimpannya.
 Akhirnya ketika mereka muncul dari sebuah kelokan jalan, terbentanglah di hadapan
mereka Alun-alun Banyubiru, dan setelah menyeberangi jalan-jalan itu, mereka akan
sampai di rumah Gajah Sora.
 Dari kejauhan, rumah itu nampaknya sepi saja. Tak ada sesuatu yang mencurigakan,
apalagi keributan-keributan. Tetapi meskipun demikian hati mereka malahan semakin
bergelora.
 Tiba-tiba tampaklah di hadapan mereka, di tengah-tengah alun-alun, di antara dua batang
beringin tua yang tumbuh di alun-alun itu, meloncat-loncat dua bayangan dengan
gerakan-gerakan aneh.
 
 Ternyata mereka adalah dua orang yang sedang bertempur pula, gerakan-gerakan mereka
tampak aneh dan cepat seperti dua ekor burung yang sedang berlaga, sambar menyambar.
Sebentar mereka berloncatan dan berkelahi diatas dinding pohon beringin yang hanya
secengkal tebalnya. Tetapi seolah-olah kaki mereka memiliki alat perekat, sehingga
mereka tidak dapat jatuh. Yang mengagumkan kadang-kadang mereka berloncatan dan
berkejaran diantara ranting-ranting dan sulur beringin tua itu, dengan gerakan yang
seolah-olah mereka berada diatas tanah saja.
 Melihat mereka yang bertempur itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar menarik kekang
kudanya, dan berhenti beberapa langkah dari pohon beringin itu. Didalam gelap malam
serta gerak-gerak yang melontar kesana kemari, agak sulitlah bagi Mahesa Jenar dan
Gajah Sora untuk segera mengenal orang yang sedang berkelahi itu. Tetapi menilik gerak
serta cara mereka, pastilah mereka tergolong dalam tataran yang sama tinggi dengan Ki
Ageng Sora Dipayana.
 Beberapa kali Gajah Sora dan Mahesa Jenar melarikan kudanya melingkari pohon
beringin itu. Tetapi setiap kali mereka hanya melihat bayangan yang berloncatan dan
lenyap di balik pohon beringin itu.
 Namun bagaimanapun, Gajah Sora dan Mahesa Jenar telah memiliki dasar-dasar ilmu
kepandaian yang cukup, sehingga meskipun agak lama akhirnya dengan terperanjat sekali
mereka melihat salah seorang diantaranya mengenakan jubah abu-abu dan bertopeng
kayu yang kasar buatannya, sehingga mirip dengan wajah hantu.
 “Pasingsingan,” desis Mahesa Jenar.
 “Ya, Pasingsingan,” ulang Gajah Sora.  Belum lagi mereka dapat mengenal dengan baik yang satu lagi, terdengarlah lawan
Pasingsingan itu berkata, “Hai anak-anak bodoh, jangan menonton seperti menonton adu
jago. Lebih baik kau pulang dan lihat barang-barangmu.”
 Mendengar suara orang itu, darah Mahesa Jenar tersirap. Ia pernah mendengar suara itu
dan bahkan ia pernah menerima perintahnya untuk mencari keris Nagasasra dan Sabuk
Inten.
 Maka dengan tak disengaja ia berteriak, “Bukankah tuan Ki Ageng Pandan Alas”
 Maka jawab orang itu, “Ingatanmu baik sekali Mahesa Jenar, tetapi lekaslah pergi.”
 Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Dua tokoh sakti telah memperingatkan mereka
mengenai pusaka-pusaka itu. Maka segera mereka memutar kuda mereka dan dilarikan
menuju ke halaman rumah Gajah Sora. Dalam waktu yang pendek itu Gajah Sora sempat
bertanya, “Beliaukah Ki Ageng Pandan Alas?”
 “Ya, beliaulah. Apakah Kakang Gajah Sora belum pernah mengenalnya?” kata Mahesa
Jenar.
 Pernah, tetapi sudah lama sekali, jawab Gajah Sora.
 Sementara itu kuda mereka telah sampai di muka pintu gerbang halaman rumah Gajah
Sora. Dua orang penjaga gerbang masih berdiri dengan tegapnya. Ketika mereka melihat
Ki Ageng Gajah Sora dan Mahesa Jenar datang, segera kedua penjaga itu membungkuk
hormat.
 Gajah Sora tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk menanyakan tentang keamanan
rumahnya, maka kepada dua orang penjaga itu ia bertanya, “Apakah yang sudah terjadi?”
 “Tidak ada apa-apa yang terjadi, Ki Ageng,” jawabnya.
 Mendengar jawaban itu perasaan Gajah Sora dan Mahesa Jenar agak lega sedikit, tetapi
dalam lubuk hati mereka yang paling dalam tersembunyi suatu kebimbangan atas
kebenaran keterangan penjaga itu.
 Mereka berdua seolah-olah mendapat suatu firasat yang kurang menenteramkan hati
mereka. Maka mereka berdua segera memasuki halaman dan langsung menuju ke
pendapa.
 Di pendapa itu tampak Wanamerta dan Sawungrana masih duduk dengan tenangnya.
Ketika mereka melihat Gajah Sora dan Mahesa Jenar, segera mereka berdua pun berdiri
menyambutnya.
 ”Paman Wanamerta... tidak adakah sesuatu yang terjadi di sini?” tanya Gajah Sora tidak
sabar.  “Pangestu Anakmas tak ada sesuatu yang terjadi,” jawab Wanamerta.
 Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia tambah lega mendengar jawaban
itu. Sebab Wanamerta dan Sawungrana bukanlah anak kecil yang dapat dipermainkan.
 Di halaman rumah itu masih nampak beberapa orang laskar yang berjaga-jaga berjalan
hilir mudik dengan senjata siap di tangan, sedangkan di gandok kulon, tempat pondokan
Ki Ageng Lembu Sora pun masih nampak beberapa orangnya ikut berjaga-jaga.
 “Bagaimanakah dengan Panjawi?” tanya Gajah Sora pula.
 “Agaknya juga tidak mengalami sesuatu, Anakmas. Baru saja Adi Sawungrana
nganglang ke belakang rumah, dan di sana Panjawi tampak selalu bersiaga,” jawab
Wanamerta,
 “Syukurlah,” desis Gajah Sora.
 Mendengar semua keterangan itu, gelora perasaan Gajah Sora dan Mahesa Jenar terasa
agak mengendor sedikit, setelah mereka mengalami ketegangan perasaan beberapa saat
lamanya. Memang sulit untuk dapat memasuki halaman itu tanpa dilihat oleh salah
seorang pengawal. Sebab dinding halaman Gajah Sora cukup tinggi dan gerbangnya pun
terjaga rapat.
 Beberapa orang pengawal berjaga-jaga di sekeliling halaman, di setiap tujuh delapan
langkah seorang dan melekat dinding halaman. Kalau demikian, maka agaknya
peringatan-peringatan yang diberikan oleh Ki Ageng Sora Dipayana maupun Ki Ageng
Pandan Alas hanyalah sikap hati-hati dari orang-orang tua saja.
 Tetapi belum lagi Gajah Sora dan Mahesa Jenar puas menarik nafas lega, tiba-tiba
dikejutkan oleh jerit Arya Salaka dari dalam rumah. Serentak mereka berdiri dan dengan
kecepatan yang luar biasa mereka meloncat ke arah suara Arya. Wanamerta dan dua tiga
orang yang berdiri paling dekat dengan pintu segera mendorongnya dan meloncat masuk.
 Gajah Sora dan Mahesa Jenar rupa-rupanya tidak sabar lagi menunggu Wanamerta yang
meskipun geraknya termasuk dalam tataran yang tinggi, untuk bergantian masuk lewat
pintu yang hanya satu itu. Karena itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar dengan kekuatan
penuh menerobos dinding gebyok itu sehingga pecah berantakan.
 Ketika mereka bersama-sama telah sampai di muka ruangan Gajah Sora, rasa-rasanya
darah mereka berhenti mengalir.
 Mereka masih sempat menyaksikan Arya Salaka terpelanting dan terbentur dinding.
 Seketika itu juga ia terjatuh dan pingsan. Dari mulutnya meleleh darah merah segar.  Sedang di tangannya tergenggam erat sebuah tombak pendek yang juga berlumuran
darah. Tombak itu adalah tombak pusaka Ki Ageng Gajah Sora yang bernama Kyai
Bancak, hadiah dari Pangeran Sabrang Lor, yang juga bergelar Adipati Unus, pada waktu
ia mengikuti pasukan Sabrang Lor itu ke Semenanjung Melayu untuk mengusir
penjajahan Portugis. Kyai Bancak sebenarnya adalah pasangan dari pusaka lain yang
berupa sebuah bende.
 Sedang di muka pintu kamarnya ia melihat sesosok tubuh yang terhuyung-huyung. Di
dadanya tampak luka yang menyemburkan darah. Dalam kejadian yang sekejap itu
melayanglah sebuah bayangan yang hampir tak dapat ditangkap oleh penglihatan,
menyambar orang yang hampir terjatuh karena luka di dadanya itu. Maka berpindahlah
dua buah keris yang dipegang oleh orang yang terluka di dadanya itu ke tangan yang
menyambarnya. Itulah Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.
 Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Wanamerta adalah orang-orang yang memiliki kecepatan
bergerak dalam tingkatan yang cukup tinggi. Tetapi terhadap bayangan itu, mereka tak
mampu berbuat sesuatu. Mereka hanya melihat bayangan itu lenyap lewat atap.
 Meskpun demikian, Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Wanamerta bukanlah orang yang
mudah putus asa. Sambil berteriak nyaring Gajah Sora meloncat memburu bayangan itu,
disusul oleh Mahesa Jenar dan Wanamerta. Tetapi demikian Gajah Sora muncul di atas
atap lewat lobang yang sama, bayangan itu telah lenyap sama sekali.
 Karena itu bergetarlah dada mereka bertiga oleh kemarahan dan keheranan yang
bercampur aduk. Bayangan itu seolah-olah adalah bayangan hantu yang tiba-tiba muncul
untuk menambah keributan di Banyubiru dan kemudian lenyap seperti lenyapnya asap
dihembus angin.
 Tetapi bagaimanapun cepatnya bergerak bayangan itu, namun ada sesuatu yang dapat
ditangkap oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar.
 Bayangan itu agaknya memakai jubah abu-abu. Tetapi Gajah Sora dan Mahesa Jenar
sama sekali tak dapat melihat wajahnya. Namun demikian segera perasaan mereka lari
kepada Pasingsingan. Orang itu beberapa saat yang lalu bertempur melawan Ki Ageng
Pandan Alas di alun-alun, tak begitu jauh dari rumah itu. Tetapi bagaimana ia dapat
berhasil melepaskan diri dari pengawasan Pandan Alas? Maka bergulatlah di dalam otak
Gajah Sora dan Mahesa Jenar berbagai pertanyaan. Adakah Pasingsingan berhasil
mengalahkan Pandan Alas...?
 Pada saat itu, lebih-lebih Gajah Sora yang menyaksikan pusaka simpanannya dan yang
telah direbutnya dengan taruhan nyawanya hilang tanpa dapat berbuat sesuatu di
hadapannya. Juga anaknya dilukai oleh seseorang yang tak dikenal di rumahnya. Seolaholah di dalam dadanya menyalalah api yang berkobar-kobar dan jauh lebih panas dari api
yang menyala-nyala di ujung utara kotanya. Nyala di dalam dadanya ini memancar lewat
matanya yang merah berapi-api, giginya gemeretak, dan bibirnya bergerak-gerak. Tetapi
tak sepatah kata pun yang terucapkan.  Otak Gajah Sora yang cerdas segera dapat meraba apa yang telah terjadi di rumahnya.
Rupa-rupanya seseorang telah berusaha untuk mengambil kedua pusakanya. Tetapi
malang baginya, sebab Arya dapat mengetahui perbuatan itu sehingga anak yang otaknya
cemerlang itu mengintipnya dengan tombak pusaka di tangan.
 Rupa-rupanya pada saat ia keluar dari ruang tidurnya, Arya telah menusuk dada orang
itu dengan Kyai Bancak. Tetapi meskipun demikian orang yang sudah pasti bukan orang
sembarangan itu dengan sisa tenaganya yang sudah lemah, berhasil menghantam Arya
sehingga Arya terlempar dan terbanting membentur dinding. Pada saat itulah datang
orang ketiga yang dengan kecepatan seperti cahaya kilat, berhasil merampas kedua
pusaka itu.
 Api kemarahan yang membentur dinding perasaan Gajah Sora itu tidak lagi dapat
dibendungnya. Karena itu dengan gerak yang seolah-olah tak dikuasainya sendiri, ia
meloncat terjun dari atap rumahnya. Dengan tangkasnya ia meloncat sambil berlari,
tangannya menggapai tombak pusakanya dan menariknya dari tangan Arya, langsung
keluar halaman dan sekaligus meloncat ke punggung kudanya.
 Mahesa Jenar dapat menangkap apa yang bergolak di dalam dada sahabatnya, sebab
memang ia pun mempunyai rabaan yang sama pula atas kejadian yang baru saja berlalu.
Karena itu ia dapat menduga kemana Gajah Sora akan pergi. Pastilah ia akan melihat
apakah Pandan Alas masih ada di antara Ringin Kurung dan bertempur dengan
Pasingsingan, ataukah Pandan Alas itu sudah tidak berdaya lagi. Maka tanpa berpikir
lagi, ia pun meloncat ke atas punggung kudanya dan lari menyusul Gajah Sora.
 Wanamerta yang meskipun dapat mengambil kesimpulan yang sama atas kejadian yang
disaksikannya, namun ia sama sekali tidak mengetahui tentang orang yang berjubah abuabu yang telah dilihat oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar di tengah alun-alun. Karena itu
ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang akan dilakukan.
 Untunglah sebelum berangkat Mahesa Jenar sempat berkata kepadanya, Paman
Wanamerta. Paman tidak perlu ikut bersama kami, jagalah rumah ini baik-baik. Mungkin
ada suatu perkembangan keadaan. Aduklah seluruh halaman rumah ini, meskipun
kemungkinan untuk menemukan hantu itu tipis sekali.
 Setelah itu Mahesa Jenar lenyap pula di atas punggung kuda abu-abu yang berlari
dengan derap yang gemuruh seperti badai, mengejar Gajah Sora dengan kuda putihnya.
 Jarak antara rumah Gajah Sora dan pohon beringin yang berdiri tegak di tengah alunalun, yang seakan-akan tidak peduli atas apa yang sudah terjadi di sekitarnya itu tidaklah
begitu jauh. Karena itu dalam waktu yang singkat mereka berdua telah berhasil
mendekati ringin kurung itu.
 Maka mereka menjadi terkejut dan heran tak habis-habisnya ketika dari jarak yang sudah
agak dekat mereka masih melihat dua bayangan yang berloncat-loncat dan melontar kesana kemari diantara sepasang beringin itu. Di sana masih jelas dapat disaksikan
Pasingsingan dan Ki Ageng Pandan Alas bertempur. Bahkan semakin sengit. Tetapi
jubah yang dipakai oleh orang yang menyambar kedua keris pusaka itu tepat benar
dengan jubah yang dipakai oleh Pasingsingan.
 Sebenarnya dalam keadaan yang biasa, Gajah Sora akan dapat mempertimbangkan
bahwa tidak mungkin dalam satu saat Pasingsingan dapat berada di dua tempat dan
melakukan dua pekerjaan sekaligus. Tetapi pada saat itu, karena kemarahannya yang
meluap-luap, ia membutuhkan wadah untuk menumpahkannya.
 Satu-satunya kemungkinan sebagai tempat penampungan kemarahan Gajah Sora adalah
Pasingsingan yang sedang bertempur dengan Pandan Alas.
 Meskipun ia tahu bahwa Pasingsingan bukanlah lawannya, karena orang itu memiliki
ilmu yang sejajar dengan Ki Ageng Sora Dipayana, namun sama sekali Gajah Sora sudah
tidak mampu lagi membuat pertimbangan-pertimbangan.
 Karena itu, dengan otak yang buntu, ia memacu kudanya habis-habisan, langsung
mengarah kepada kedua orang yang sedang bertempur itu dengan Kyai Bancak siap di
tangan.
 Melihat sikap Gajah Sora, yang seolah-olah tidak dapat terkendali itu, Mahesa Jenar
menjadi cemas. Sebenarnya ia sendiri merasa sangat marah atas hilangnya Nagasasra dan
Sabuk Inten, tetapi karena justru hal itu terjadi di rumah Gajah Sora maka Gajah Sora-lah
yang merasa lebih bertanggungjawab. Ditambah lagi cedera yang dialami oleh anak satusatunya. Karena itu bagaimanapun hebatnya kemarahan yang bergolak di dada, Mahesa
Jenar masih dapat bersikap lebih tenang.
 Maka segera Mahesa Jenar berusaha sekuat-kuatnya untuk memacu kudanya lebih cepat
agar dapat menyusul Gajah Sora, untuk mencoba mencegahnya berbuat sesuatu yang
berbahaya. Dibungkukkannya badannya dalam-dalam sampai melekat ke punggung
kudanya. Namun kuda Gajah Sora bukanlah kuda sembarangan.
 Larinya bahkan semakin cepat seperti angin.
 Pada saat itu Gajah Sora sudah tidak dapat berpikir lain, kecuali menyerang
Pasingsingan habis-habisan. Ia sama sekali sudah tidak mempertimbangkan
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi karena perbuatannya itu.
 Maka ketika jarak mereka sudah semakin dekat, segera Gajah Sora mengangkat tombak
pusakanya. Tombak yang jarang sekali keluar dari rangkanya. Tapi kali ini, tombak yang
ujungnya sudah membekas darah itu seolah-olah menjadi semakin haus dan buas.
 Untunglah bahwa Gajah Sora tidak bermaksud langsung menyerang Pasingsingan
dengan tombak di tangan. Ternyata bagaimanapun gelap pikirannya, namun sebagai
seorang yang cukup berpengalaman, nalurinya yang tajam masih dapat mempengaruhi tindakannya.
 Dengan hati yang dibakar oleh kemarahan, Gajah Sora mengangkat tombaknya yang
bermaksud membinasakan Pasingsingan. Maka dengan sekuat tenaga, bahkan dengan
ilmunya Lebur Seketi yang disalurkan lewat tangannya yang memegang tombak pusaka
itu, ditambah lagi dengan tenaga dorong dari kecepatan berlari kuda putihnya yang
seperti angin, Gajah Sora melepaskan tombaknya ke arah Pasingsingan, yang sedang
sibuk melayani Ki Ageng Pandan Alas.
 Perbuatan Gajah Sora itu sama sekali tak diduganya. Meskipun Pasingsingan sudah tahu
bahwa Gajah Sora bersenjata, tetapi ia tidak mengira bahwa senjata itu akan dilemparkan
kepadanya. Karena itu ketika ia melihat Gajah Sora mengangkat tombaknya,
Pasingsingan menjadi terkejut.
 Kalau saja pada saat itu Pasingsingan berdiri seorang diri, maka serangan Gajah Sora itu
tidak akan berarti sama sekali baginya. Tetapi pada saat itu ia sedang bertempur matimatian melawan Ki Ageng Pandan Alas. Untuk melayani lawannya itu saja Pasingsingan
sudah harus mengerahkan segenap tenaganya, apalagi tiba-tiba ia menerima serangan
yang cukup berbahaya. Sebab bagaimanapun Gajah Sora bukanlah anak kemarin sore
yang dengan begitu saja boleh diletakkan di luar garis. Karena itu ketika Pasingsingan
melihat sebatang tombak yang berkilauan, seperti kilat datang menyambarnya, ia menjadi
agak gugup.
 Meskipun demikian ia adalah seorang tokoh yang namanya boleh disejajarkan dengan Ki
Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana, Titis Anganten, dan sebagainya. Karena
itu, bagaimanapun sulitnya keadaan, masih saja ia mampu menghindar.
 Dengan suatu gerakan yang sukar dilihat dengan mata, Pasingsingan melontarkan diri
jauh ke belakang dan seolah-olah hinggap di atas dinding ringin kurung. Sedang pada
saat yang bersamaan, Ki Ageng Pandan Alas meloncat beberapa langkah ke belakang
untuk menghindarkan diri dari kaki kuda Gajah Sora yang seakan-akan tidak lagi dapat
dikendalikan, seperti pikiran Gajah Sora.
 Apalagi ketika Gajah Sora melihat bahwa serangannya gagal maka hatinya yang sudah
terbakar itu rasa-rasanya menjadi semakin hangus. Dengan sekuat tenaga ia menarik
kekang kudanya dan kemudian memutarnya menghadap ke arah Pasingsingan untuk
segera menyerangnya kembali. Meskipun ia kini sudah tidak bersenjata namun di telapak
tangannya masih tersimpan aji Lebur Seketi.
 Tetapi tiba-tiba Gajah Sora terpaksa mengurungkan serangannya, sebab pada saat itu
tiba-tiba terdengarlah Pasingsingan tertawa menggelegar. Meskipun suara tertawanya
tidak begitu keras, getarannya memukul-mukul seperti akan memecahkan dada.
 Ternyata, meskipun tombak Gajah Sora tidak mengenai tubuh Pasingsingan, tetapi
karena keadaan yang sulit, Pasingsingan agak terlambat menghindar sehingga tombak
yang menyambarnya itu menyobek jubah abu-abunya. Karena itu, ia merasa terhina sekali oleh seorang anak-anak saja. Maka ia menjadi marah sekali. Dan terlontarlah
kemarahannya itu lewat suara tertawanya yang mengerikan.
 Mahesa Jenar yang pada saat itu telah sampai pula ke tempat itu segera menghentikan
kudanya dan memusatkan segala kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh suara
tertawa Pasingsingan yang mengerikan itu. Tetapi suara tertawa itu ternyata tidak segera
berhenti, malahan semakin berkepanjangan dan merupakan serangan-serangan yang
datang bertubi-tubi dengan dahsyatnya. Ia pernah mendengar Lawa Ijo menyalurkan
kesaktiannya lewat suara tertawa yang menggeletar, sehingga memerlukan daya
perlawanan yang kuat untuk tidak jatuh ke dalam pengaruhnya yang berbahaya.
 Tetapi suara tertawa Pasingsingan yang tidak begitu keras itu mengandung tenaga
kesaktian yang jauh lebih hebat dari suara Lawa Ijo.
 Karena itu, baik Mahesa Jenar maupun Gajah Sora pada saat itu harus mengerahkan
segenap daya kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh suara itu. Namun demikian
kesaktian Pasingsingan yang tersalur lewat bunyi tertawa itu bagaikan jarum yang
menusuk-nusuk ulu hati. Alangkah nyerinya, bahkan panas pula seperti dijilat lidah api.
 Meskipun pada saat itu Mahesa Jenar dan Gajah Sora telah mengerahkan segala
kekuatannya, namun terasa tubuhnya menggigil dan semakin lama semakin kehilangan
kesadaran.
 Baik Gajah Sora maupun Mahesa Jenar pernah mendengar kisah dari sahabat-sahabatnya
yang sering mengarungi samudera-samudera besar, bahwa di Laut Cina terdapat sebuah
pulau kecil yang sangat ditakuti, sehingga pulau itu dinamai pulau hantu. Apabila ada
kapal yang terjerumus ke dekat pulau itu, maka akibatnya akan mengerikan sekali. Dari
pulau itu terdengarlah berbagai macam nada orang tertawa-tawa dengan getaran yang
dahsyat sehingga orang yang mendengarnya akan menjadi gila karenanya. Bahkan tidak
jarang diantara pelaut-pelaut itu kemudian menemui ajalnya dengan cara yang
mengerikan. Ada yang terjun ke laut, ada yang mati lemas, dan ada yang mati karena
saling bertempur dan menggigit.
 Sekarang, mereka meskipun tidak mendekati pulau hantu itu, mendengar pula suara
tertawa yang mengerikan dan telah hampir berhasil merontokkan kesadaran mereka.
 Tetapi ketika Gajah Sora dan Mahesa Jenar sudah hampir benar-benar jatuh ke dalam
pengaruh suara itu, tiba-tiba terdengarlah suara tembang yang mengalun seolah-olah
menyusur dedaunan dan sulur-sulur sepasang beringin itu. Kemudian dengan pengaruh
yang sejuk, nada-nada itu menggetarkan udara dan menyusup ke dalam dada Gajah Sora
dan Mahesa Jenar. Suara tembang itupun mempunyai pengaruh yang luar biasa pula.
Tetapi dayanya berlawanan dengan suara tertawa Pasingsingan. Suara tembang itu
seolah-olah siraman air yang memadamkan api yang menyala-nyala membakar kesadaran
mereka.
 Maka bersama-sama dengan daya perlawanan masing-masing, suara tembang itu segera dapat menenangkan pikiran Gajah Sora dan Mahesa Jenar.
 Dan ketika mereka berdua bersama-sama menoleh ke arah suara itu, dilihatnya Ki Ageng
Pandan Alas dengan enaknya duduk di atas tanah bersandar dinding ringin kurung itu
dengan kaki bersilang. Sikapnya seperti seorang anak gembala yang dengan tenangnya
berdendang di bawah pohon rindang. Ketika itu sinar matahari sedang dengan teriknya
memanasi padang rumput. Lagunya adalah lagu kesayangan orang tua, yang sudah sering
didengar oleh Mahesa Jenar, yaitu lagu Dandanggula.
 Lewat lagunya itu, Pandan Alas pun telah memancarkan kesaktiannya pula untuk
melawan kesaktian Pasingsingan.
 Pasingsingan yang merasa bahwa serangannya dapat digagalkan oleh Pandan Alas,
menjadi semakin marah. Maka dengan menggeram hebat ia berkata, “Setan tua.... Tidak
dapatkah kau menahan dirimu untuk tidak mencampuri urusanku. Aku telah mencoba
melupakan kelakuanmu di Hutan Tambakbaya beberapa minggu lalu? Kini kembali kau
berbuat gila, Pandan Alas, jangan menunggu sampai kesabaranku habis.”
 Ki Ageng Pandan Alas seolah-olah tidak mendengar kata-kata Pasingsingan itu. Ia masih
saja berlagu terus sampai kalimat yang terakhir.
 Melihat sikap Pandan Alas yang seolah-olah tidak mempedulikan ancamannya,
Pasingsingan menjadi bertambah marah. Kini kesabarannya telah benar-benar habis.
Menurut anggapannya, Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Pandan Alas telah bersepakat
untuk bersama-sama menghinanya. Karena itu ia telah bertekad untuk membuat
perhitungan yang terakhir.
 “Pandan Alas..., biarlah aku berkata kepadamu demi persahabatan kita yang telah
berpuluh-puluh tahun. Kalau kali ini kau tidak mau mendengarkan, biarlah untuk
seterusnya kau tidak akan pernah mendengarnya lagi.”
 ”Pandan Alas..., coba kau tahan dirimu sedikit kali ini. Janganlah kau menghalangi aku
untuk mengambil Nagasasra dan Sabuk Inten. Kalau kau sendiri ingin memilikinya,
sebaiknya kita berlomba siapakah yang mendapatkannya lebih dahulu. Juga terhadap
kedua anak-anak yang tidak mempunyai sangkut paut apa-apa dengan kau itu. Biarlah
aku bereskan dahulu. Yang seorang telah menghantam muridku dengan Sasra Birawa di
hutan Tambakbaya, sedang seorang lagi telah menyerang aku sehingga jubahku
tersobek,” kata Pasingsingan.
 Terdengar suara Pandan Alas tertawa pendek. “Pasingsingan..., benarkah aku pernah
bersahabat dengan kau? Kalau dahulu aku mempunyai seorang sahabat yang bernama
Pasingsingan pula, aku kira berbeda dengan Pasingsingan yang aku hadapi sekarang,”
tanya Pandan Alas.
 “Maksudmu?” tanya Pasingsingan. Suaranya terdengar bergetar menahan kemarahan
yang sudah memuncak. Tetapi karena ia memakai kedok maka kesan mukanya tak dapat diketahui.
 “Maksudku adalah...” jawab Pandan Alas, “Pasingsingan yang aku kenal sifatnya sama
sekali berbeda dengan Pasingsingan yang sekarang berdiri di hadapanku. Pasingsingan
yang aku kenal dahulu meskipun ujud dan bentuknya tepat seperti kau ini, tetapi
wataknya adalah berlawanan sama sekali. Menurut perhitunganku, Pasingsingan
sahabatku itu tidak mungkin mengambil seorang murid yang menamakan dirinya Lawa
Ijo. Tidak mungkin pula kini bekerja mati-matian untuk merampas Nagasasra dan sabuk
Inten dari tangan murid sahabatnya yang lain, yang bernama Ki Ageng Pengging Sepuh,
serta putra sahabatnya yang bernama Sora Dipayana.”
 Tampaklah tubuh Pasingsingan menggigil menahan diri. Nafasnya berjalan semakin
cepat. Kembali terdengar suaranya yang dalam, yang seolah-olah melingkar-lingkar di
dalam perutnya. “Pandan Alas..., lalu siapakah menurut dugaanmu aku ini?”
 Pandan Alas mengerinyitkan alisnya. “Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah kau
menamakan dirimu Pasingsingan. Aku tidak membantah bahwa kau bernama
Pasingsingan. Tetapi kau bukan Pasingsingan sahabatku itu, meskipun kau juga
mempunyai tanda-tanda yang bersamaan dan ilmu Gelap Ngampar yang baru saja kau
pertunjukkan untuk menjebol dada anak-anak itu.”
 Gajah Sora dan Mahesa Jenar tak sepatah kata pun berani mencampuri perbantahan
mereka. Setelah mereka berdua mengalami serangan Pasingsingan dengan nada
tertawanya yang bernama Gelap Ngampar itu, mereka merasa betapa kecil diri mereka
untuk menghadapinya. Untunglah bahwa Pandan Alas berhasil menolong mereka
menyelamatkan dari pengaruh ilmu Gelap Ngampar yang dahsyat itu.
 Sekarang mereka berdua melihat kedua tokoh itu telah kehilangan kesabaran dan akan
bertempur mati-matian. Maka sebaiknya bahwa mereka untuk sementara tidak usah
mencampurinya.
 Maka berdesirlah dada mereka ketika mereka melihat Pasingsingan yang sedang marah
itu, tiba-tiba dari dalam jubahnya menarik sebilah pisau belati panjang. Pisau ini mirip
benar bentuknya dengan pisau yang sering dipergunakan oleh gerombolan Lawa Ijo,
tetapi pisau ini tidak berwarna putih mengkilap, melainkan kuning berkilau-kilauan.
 Sambil memegang belati itu, Pasingsingan menggeram, “Pandan Alas, aku tidak biasa
bertempur dengan senjata kalau tidak sedang mempertimbangkan untuk memotong
kepala seseorang. Sekarang kau di sini bertiga dengan tikus-tikus itu untuk bersama-sama
mengeroyok aku. Biarlah aku tidak akan mundur. Bahkan aku ingin membawa kepalamu
bertiga ke Mentaok sebagai suatu bukti bahwa Pasingsingan tak dapat dihinakan orang.”
 Melihat pisau belati panjang itu di tangan Pasingsingan serta mendengar kata-katanya,
mau tidak mau hati Gajah Sora dan Mahesa Jenar bergetar hebat. Meskipun mereka
bukan orang-orang kerdil yang takut mati, namun menghadapi seorang seperti
Pasingsingan, mereka merasa gentar juga. Tetapi bagaimanapun apabila keadaan sudah memaksa maka apapun yang akan terjadi pasti harus dihadapi.
 Diam-diam Gajah Sora dan Mahesa Jenar memusatkan segala kemampuannya yang ada
lahir batin, dan disalurkannya menurut saluran masing-masing. Gajah Sora dengan Lebur
Seketi dan Mahesa Jenar dengan Sasra Birawanya.
 Pandan Alas yang sejak tadi tampaknya acuh tak acuh saja, setelah melihat Pasingsingan
bersenjata, menjadi agak terkejut juga. Perlahan-lahan ia berdiri dan dengan mata yang
berapi-api ia memandang Pasingsingan seperti memandang hantu. Rupa-rupanya orang
tua itu pun telah menjadi marah.
 “Pasingsingan..., kau ingat bahwa dahulu kita pernah bertempur?”
 Pasingsingan tidak segera menjawab, agaknya ia sedang mengingat-ingat. Baru beberapa
lama kemudian ia berkata, “Aku ingat, Pandan Alas.”
 “Barangkali waktu itu kita baru pertama kali bertempur. Bukankah begitu?,” sambung
Pandan Alas.
 Kembali Pasingsingan mengingat-ingat. Apakah maksudmu dengan menceritakan
kembali masa-masa yang telah lama silam itu. Banyak hal yang sudah tak dapat aku ingat
kembali.
 ’Aneh...,” sahut Pandan Alas, “pertemuan yang menarik itu, kau kira, baik kau maupun
aku tak akan melupakannya.”
 “Ya, aku ingat,” jawab Pasingsingan kesal.
 “Waktu itu aku mengira kalau kau adalah seorang penjahat yang sedang
menyembunyikan wajah aslimu di belakang kedokmu yang jelek itu. Tetapi setelah kita
bertempur tiga hari tiga malam tanpa berkesudahan, barulah kita saling bertanya.”
 Pandan Alas... potong Pasingsingan, adakah kau sedang mengorek rasa persahabatanku
supaya aku memaafkan kau sekarang ini? Ketahuilah, aku sudah terlanjur mencabut
pisauku ini. Maka pisau ini harus menemukan korbannya. Kalau kau menyesal telah
mencampuri urusanku, kau boleh pergi. Tetapi tikus-tikus ini tetap di tanganku.”
 Mendengar kata-kata Pasingsingan itu bergeloralah dada Pandan Alas yang biasanya
senang berkelakar. Meskipun demikian ia masih berkata tenang, “Kenapa kau takut
mendengar ceritera-ceritera masa silam Pasingsingan? Adakah sesuatu yang telah
menyiksa perasaanmu sehingga kau tidak berani mengingatnya lagi?”
 “Persetan dengan masa lampau,” bentak Pasingsingan. “Masa itu tak akan kembali lagi.
Yang penting bagiku adalah masa kini dan masa depan perguruanku. Itu sebabnya aku
berkeras untuk menemukan Nagasasra dan Sabuk Inten.”  Kembali terdengar suara tertawa Pandan Alas yang dipaksakan. Katanya; "tetapi hari ini
adalah kelangsungan dari hari kemarin dan seterusnya. Hidupmu sekarang adalah
kelanjutan dari hidupmu 25 tahun yang lalu."
 "Omongan orang sekarat," bantah Pasingsingan. "Aku pata menjalani kehidupanku kini
tanpa masa lampau itu. Dan masa lampau itu sama sekali tak berarti bagiku."
 "Sebab masa lampau dari Pasingsingan itu bukan milikmu," jawab Pandan Alas.
 Jawaban yang diucapkan meskipun diucapkan alam nada yang rendah, tetapi mempunyai
akibat yang hebat sekali. Pasingsingan yang telah sekian lama menahan kemarahannya,
mendengar kata-kata Pandan Alas dengan darah yang menggelegak.
 Maka dijawabnya hampir berteriak, "Apa perdulimu. Bahkan aku sendiri tidak perduli
kepada masa lampau itu. Dan sekarang menghadapi saat terakhirmu kau tidak usah
mengigau tentang Pasingsingan. Apakah aku Pasingsingan sahabatmu ataukah
Pasingsingan yang lain tidaklah penting bagimu. Tetapi Pasingsingan yang sekarang
berada dihadapanmu inilah yang akan menentukan saat terakhirmu bersama-sama dengan
kedua orang yang terlalu sombong itu. Nah bersedialah untuk mati. Aku sudah hampir
mulai."
 Ketegangan yang memuncak telah melibat otak Gajah Sora dan Mahesa Jenar. namun
mereka melihat Pandan Alas tersenyum pahit sambil berkata: " Nah kalau demikian aku
yang seharusnya menentukan sikap pula. Kau tidak usah menyebut lagi demi
persahabatan kita, sebab persahabatan diantara kita tidak pernah kita alami. Kalau aku
menyebut masa lampau itu hanyalah supaya aku yakin dengan siapa aku berhadapan.
Sebab terhadap Pasingsingan sahabatku itu, tak mungkin aku bersikap keras. Sekarang
silahkan mulai," lalu tiba-tiba saja ditangan orang tua itu bercahayalah sinar yang
kemilau. Itulah pusaka Pandan Alas yang dahsyat, yang bernama Kiai Sigar Penjalin.
 Suasana segera menjadi hening sepi, tetapi diliputi oleh ketegangan yang memuncak.
Gajah Sora dan Mahesa Jenar duduk diatas kuda masing-masing seperti patung.
Meskipun didalam dada mereka bergolak berpuluh macam persoalan yang simpang siur
sebab dihadapan mereka dua orang tokoh sakti akan bertanding mati-matian sehingga
meeka berdua merasa perlu untuk mempergunakan pusak masing-masing.
 Karena itu, maka pertempuran yang akan berlangsung pasti akan merupakan
pertempuran antara hidup dan mati.
 Tetapi sampai beberapa saat, mereka masih berpijak pada tempatnya masing-masing.
Tak seorangpun dari kedua tokoh sakti yang bergerak. Sehingga terdengar kembali suara
Ki Ageng Pandan Alas berkata: "Pasingsingan, silahkan mulai. Aku sudah siap."
 Tetapi Pasingsingan tidak juga bergerak dan tidak menyahut pula. Ketika kata-katanya
tidak mendapat sambutan, kembali Pandan Alas berkata "Pasingsingan, kau jangan takut
aku akan maju bersama kedua anak-anak itu. Sebenarnya aku merasa kurangperlu untuk mempergunakan pisau dapur yang tak berharga ini untuk melawanmu, tetapi aku tidak
ingin merendahkanmu, sehingga terpaksa aku mempergunakannya juga. Meskipun
demikian baiklah aku katakan kepadamu, bahwa mungkin karena kau sama sekali tak
menghargai masa lampaumu itulah maka terasa ilmumu mengalami kemunduran."
 Mendengar kata Ki Ageng Pandan Alas itu tampaklah tubuh Pasingsingan bergetar serta
tangannya yang memegang pusaka itu menggigil hebat. Ia sama sekali tidak menjawab,
tetapi terdengar ia menggeram hebat untuk menahan marahnya. Meskipun demikian
Pasingsingan masih tidak bergerak dari tempatnya.
 Sampai Ki Ageng Pandan Alas berkata; "Gajah Sora dan Mahesa, kenapa kalian datang
kemari ?. , tak usahlah kalian menonton orang tua bermain-main. Barangkali bagi kalian
lebih baik apabila kalian kembali dan menjaga kedua keris itu."
 Mendengar kata Ki Ageng Pandan Alas tergetarlah dada Gajah Sora dan Mahesa Jenar.
Mereka segera teringat kepada kedua pusaka yang hilang itu. Maka jawab Gajah Sora "Ki
Ageng, ketika aku pulang tadi, aku masih sempat menyaksikan pusaka itu dicuri oleh
Pasingsingan, tetapi aku sama sekali tak berdaya untuk menahannya."
 Kata-kata itu menggelegar seperti guruh yang meledak diatas kepala Ki Ageng Pandan
Alas dan Pasingsingan, sehingga Ki Ageng Pandan Alas terloncat maju mendekati Gajah
Sora sambil berteriak; "apa katamu? kedua pusaka itu hilang diambil Pasingsingan ?."
 Belum lagi Gajah Sora menjawab terdengar Pasingsingan menyahut; "Gila, kau jangan
mencoba memutar balikkan keadaan. Tipu muslihat yang tak berharga itu jangan kau
pamerkan dihadapanku, supaya aku tidak lagi berusaha untuk mendapatkan pusaka dari
tanganmu."
 Maka terdengarlah Gajah Sora berkata, "Ki Ageng Pandan Alas, aku berkata sebenarnya
bahwa kedua keris itu telah hilang."
 "Tidak mungkin," potong Ki Ageng Pandan Alas. "Pasingsingan sejak kau
meninggalkan kami masih tetap bersama dengan aku."
 Gajah Sora menjadi ragu sebentar. Memang tidak mungkinlah bahwa Pasingsingan yang
sedang bertempur dengan Ki Ageng Pandan Alas dapat mengambil kedua keris itu.
Karena itu katanya kemudian dengan jujur, "Ki Ageng, aku tidak dapat memastikan
dengan jelas siapakah yang telah mengambil kedua keris itu. Tetapi aku dapat melihat
bahwa orang itu memakai jubah abu-abu pula tepat seperti apa yang dipakai oleh
Pasingsingan itu."
 "Apakah orang itu berkedok pula ?," tanya Pandan Alas.
 "Itulah yang tidak jelas," jawab Gajah Sora.
 Ki Ageng Pandan Alas tampak merenung. Rupa-rupanya ia seding berfikir keras apakah kira-kira yang telah terjadi.
 Tiba-tiba terdengarlah Pasingsingan berkata, "Aku dapat mempercayai omonganmu
Gajah Sora. Tampaknya kau memang tidak bermaksud membohongi kami. Dan ruparupanya karena itu pula kau menyerang aku dengan tombakmu. Nah kalau demikian aku
tidak perlu terlalu lama lagi berada disini, sebab kedua keris yang aku kehendaki itu
sudah tidak ada lagi. Tak ada gunanya lagi bagiku untuk melayani orang gila macam
Pandan Alas. Tetapi meskipun demikian sekali waktu aku ingin bertemu dengan kau
kembali."
 Pasingsingan tidak menunggu jawaban lagi. Dalam waktu sekejap ia telah hilang dari
pandangan mereka.
 Maka tinggallah kini Ki Ageng Pandan Alas, Gajah Sora dan Mahesa Jenar yang telah
maju pula mendekati Gajah Sora, serta kemudian bersama-sama meloncat dari punggung
kuda masing-masing.
 “Mahesa Jenar...,” kata Ki Ageng Pandan Alas, “aku berharap sekali bahwa aku atau kau
berdua dapat menyerahkan kembali pusaka-pusaka itu ke Istana Demak. Tetapi ruparupanya keadaan belum mengizinkan.”
 Gajah Sora dan Mahesa Jenar tidak menjawab sepatah kata pun. Mereka berdua merasa
bahwa mereka ternyata tak dapat memenuhi keinginan orang-orang tua.
 Tampaklah bahwa Ki Ageng Pandan Alas terguncang pula hatinya. Kepalanya tertunduk
dalam-dalam serta beberapa kali ia menghela nafas panjang. Sementara itu dari arah utara
tampaklah sebuah bayangan yang seolah-olah melayang di udara mendekati mereka
bertiga yang berdiri terpaku diantara kedua batang ringin kurung yang masih saja acuh
tak acuh pada keadaan di sekitarnya.
 Ternyata bahwa yang datang itu adalah Ki Ageng Sora Dipayana. Ketika dilihatnya
bahwa Ki Ageng Pandan Alas berada di situ pula, maka segera ia menyapanya,
“Assalamualaikum Adi Pandan Alas, apakah yang telah terjadi di sini?”
 Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera membungkuk hormat. Namun dalam dada mereka
terasa bahwa jantung mereka berdenyut semakin cepat.
 Wa’alaikum Salam, Kakang, jawab Pandan Alas. Aku baru saja bermain-main di sini
bersama Pasingsingan.”
 “Pasingsingan...?” ulang Sora Dipayana sambil mengerutkan keningnya. “Rupa-rupanya
ia datang bersama muridnya Lawa Ijo.”
 “Rupa-rupanya orang itu benar-benar menginginkan kedua pusaka Demak yang
disimpan oleh putramu,” jawab Ki Ageng Pandan Alas. “Tidak hanya Pasingsingan,” jawab Sora Dipayana. “Untunglah bahwa Adi berada pula
di sini, sebab aku tadi sedang sibuk melayani tamu dari Lodaya.”
 “Sima Rodra?” potong Pandan Alas.
 “Ya, ia datang bersama menantunya, dengan maksud yang sama.”
 “Hebat..., hebat sekali,” desis Pandan Alas. “Setan dari Lodaya itu memerlukan datang
pula.”
 ”Tetapi...“ sambung Pandan Alas setengah berbisik, “tanyakanlah kepada putramu apa
yang telah terjadi.”
 Tampaklah Ki Ageng Sora Dipayana menarik alisnya sehingga hampir bertemu.
 “Ada apa Gajah Sora...? Agaknya telah terjadi sesuatu?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana
kepada Gajah Sora.
 Maka segera Gajah Sora menceriterakan tentang apa yang telah dilihatnya pada saat
lenyapnya Nagasasra dan Sabuk Inten dari rumahnya.
 Mendengar keterangan Gajah Sora, hati Ki Ageng Sora Dipayana terguncang hebat,
sampai tubuhnya menggigil. Wajahnya yang bening itu segera menjadi seolah-olah
diaduk oleh kemarahannya.
 “Setan manakah yang telah mengganggu kami itu?” geramnya.
 “Adi Pandan Alas...” katanya kemudian, “bukankah kau tidak melepaskan Pasingsingan
itu barang sekejap?”
 “Tidak, Kakang,” jawab Pandan Alas. “Ia tetap dalam pengawasanku.”
 Kembali keadaan menjadi sunyi. Kesunyian yang tegang. Masing-masing dikuasai oleh
perasaan yang bercampur baur diantara marah, kesal dan kecewa.
 Akhirnya berkatalah Ki Ageng Sora Dipayana, “Gajah Sora dan Mahesa Jenar...
memang apa yang terjadi adalah diluar kemampuanmu berdua. Apalagi kalian, kami yang
tua-tua inipun menjadi pusing karenanya. Mungkin ada sesuatu yang tak beres pada
Pasingsingan itu. Bukankah begitu Adi Pandan Alas?”
 Pandan Alas mengangguk mengiyakan. Lalu ia berkata, “Aku menjadi sulit untuk
mengatakan tentang Pasingsingan. Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang tidak wajar.
Meskipun demikian aku masih belum berani meyakinkan bahwa ada lebih dari satu
Pasingsingan.”
 Kalau begitu marilah kita lihat rumah itu, ajak Sora Dipayana. Barangkali ada sesuatu yang dapat menunjukkan tanda-tanda siapakah yang telah mengambil kedua keris itu.
 Maka segera berangkatlah mereka menuju ke rumah Gajah Sora, setelah Gajah Sora
memungut kembali pusakanya. Mereka menjadi terkejut ketika mereka melihat kesibukan
yang luar biasa. Segera mereka meloncat lebih cepat untuk segera dapat mengetahui
apakah yang telah terjadi. Ternyata di Pringgitan, mereka melihat Wanamerta dan
Sawungrana menggeletak tak sadarkan diri, sedang di sudut yang lain Panjawi yang luka
parah menggeletak tak berdaya. Ketika mereka melangkah memasuki bagian dalam
rumah Gajah Sora, mereka melihat Nyai Ageng Gajah Sora duduk bersimpuh, sedang di
pangkuannya terletak kepala Arya yang masih pingsan.
 Melihat kejadian itu semua, kembali Gajah Sora tergugah kemarahannya. Tetapi ia tidak
mampu berbuat apa-apa, sehingga karena itu giginya terdengar gemeretak dan nafasnya
berjalan semakin cepat.
 Sebenarnya ketika Sora Dipayana menyaksikan kejadian itu, hatinya tergetar pula.
 Tetapi wajahnya nampak tenang-tenang saja.Perlahan-lahan Sora Dipayana
membungkuk, meraba dada Arya dan meneliti bagian-bagian tubuhnya yang lain. Dari
ceritera Gajah Sora, ia sudah tahu apakah yang menyebabkan Arya luka-luka. Tetapi
tentang Wanamerta, Sawungrana, Panjawi serta beberapa orang pengawal yang lain,
belumlah diketahuinya.
 Di depan ruang tidur Gajah Sora masih menggeletak sesosok tubuh yang masih belum
dikenal. “Apakah yang sudah terjadi dengan Paman Wanamerta dan yang lain-lain?”
 Tiba-tiba terdengar suara Gajah Sora gemetar.
 Istri Gajah Sora menjawab, “Ketika aku mendengar ribut-ribut... aku waktu itu sedang
mengatur orang-orang yang mengungsi ke rumah ini di belakang, segera aku berlari
masuk. Aku sudah tidak sempat menjumpai Kakang Gajah Sora dan Adi Mahesa Jenar
yang katanya sedang mengejar seseorang berjubah abu-abu yang mencuri kedua pusaka
simpanan Kakang. Tetapi tidak beberapa lama, muncullah begitu tiba-tiba saja di
hadapan kami. Aku, Paman Wanamerta dan Paman Sawungrana. Seorang yang pendek
bongkok dan berwajah menakutkan, seolah-olah ia pernah mengalami suatu penyakit
yang mengerikan. Orang itu datang kemari juga untuk mencari Kyai Nagasasra dan Kyai
Sabuk Inten. Paman Wanamerta menyatakan bahwa ia tidak tahu-menahu kedua keris itu,
serta menceriterakan dengan betul apa yang sudah terjadi. Tetapi rupa-rupanya orang itu
tidak percaya, sehingga terjadilah pertempuran antara orang itu seorang melawan Paman
Wanamerta berdua dengan Paman Sawungrana yang kemudian dibantu juga oleh Panjawi
dan beberapa orang. Tetapi ternyata bahwa dengan mudahnya orang itu dapat
mengalahkan mereka. Lalu langsung dibongkarnya segala barang-barang yang ada di
rumah ini untuk mendapatkan kedua keris itu. Baru setelah ia yakin benar-benar bahwa
kedua keris itu tak dapat diketemukan, maka seperti pada saat ia datang, segera ia pun
lenyap.”  Mendengar ceritera itu betapa terkejutnya Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Orang itu pasti
seorang yang mempunyai ilmu yang tinggi pula. Tetapi terlebih-lebih lagi adalah Sora
Dipayana dan Pandan Alas, sehingga nampaklah wajah mereka berubah. Kedua orang itu
hampir bersama-sama menyebutkan suatu nama yang cukup menggetarkan.
 Itulah Bugel Kaliki dari Gunung Cerme.
 Mendengar nama itu disebut, barulah Gajah Sora dan Mahesa Jenar sadar betapa
berbahayanya orang itu. Ia pernah mendengar nama Bugel Kaliki dari lembah Gunung
Cerme itu dari mulut seorang sakti dari Banyuwangi, Titis Anganten. Dalam sekejap itu
tiba-tiba kesunyian mencengkam suasana. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas mereka
yang dengan tegang membayangkan apakah kira-kira yang telah terjadi.
 Rupanya hantu itu telah mendengar pula tentang Kyai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten.
Akhirnya terdengar Ki Ageng Pandan Alas berkata perlahan.
 “Keadaan telah menjadi sedemikian rumit serta saling berkait,” jawab Ki Ageng Sora
Dipayana, “mengenai Bugel itu, sudah jelas, sambung Ki Ageng Pandan Alas. Dan ia
tidak mendapatkan apa yang dicari setelah dengan leluasa ia menggeledah setiap sudut di
dalam rumah ini. Dengan demikian ada kemungkinan bahwa ia tidak akan kembali lagi
kemari. Tetapi ia akan mencari di tempat-tempat lain. Yang belum kita ketahui, justru
yang berhasil membawa kedua pusaka itu, seorang yang berjubah abu-abu seperti jubah
yang selalu dipakai oleh Pasingsingan.”
 Alis Ki Ageng Sora Dipayana yang sudah putih itu tampak bergerak-gerak. Ruparupanya ia pun sedang berpikir hebat. Akhirnya terdengarlah ia berkata, “Gajah Sora dan
Mahesa Jenar..., rupa-rupanya belum saatnya aku yang tua-tua ini menghabiskan sisa
hidup kami untuk menikmati ketenteraman. Rupa-rupanya kini kami tidak dapat tinggal
diam, menyendiri di puncak-puncak bukit. Aku tahu bahwa kau tentu bingung mengalami
peristiwa-peristiwa ini. Jangan cemas, sebab kami pun telah pula menjadi bingung.”
 Ki Ageng Pandan Alas tersenyum mendengar kata-kata sahabatnya. “Jadi kalian
mempunyai kawan-kawan yang cukup banyak dalam kebingungan kalian,” sambungnya.
 “Akh... kau badut tua,” potong Sora Dipayana.
 “Maksudku, kami pun menjadi bingung, apalagi kalian, yang masih muda-muda. Nah,
sekarang Gajah Sora... kau dapat mengundang Ki Lemah Telasih. Suruhlah orang itu
mengobati anakmu dan orang-orangmu yang luka parah. Aku yakin bahwa luka-luka
anakmu dan orang-orang itu tidak akan sampai membahayakan jiwanya di tangan Ki
Lemah Telasih. Sekarang aku kira justru Banyubiru ini dapat aku tinggal dengan aman
setelah kedua keris itu lenyap. Tetapi percayalah bahwa kepergianku itu merupakan suatu
usaha untuk menemukannya pula,” sambung Sora Dipayana.
 Gajah Sora menundukkan kepalanya. Kemudian terdengarlah ia menjawab dengan suara
yang dalam dan gemetar, “Ayah..., maafkan aku yang sudah setua ini masih saja selalu mengganggu ketenteraman hidup ayah. Tetapi hal ini adalah benar-benar diluar
kemampuanku.”
 Terdengarlah Ki Ageng Sora Dipayana tertawa pendek. “Jangan salahkan dirimu.
Akulah yang tidak mampu menjadikan kau orang yang luar biasa. Tak apalah. Sekarang
biarlah aku pergi dengan Adi Pandan Alas. Mungkin arah kita berbeda, tetapi tujuan kita
adalah sama. Menemukan kedua keris itu kembali, sebab permainan ini sudah mulai
dicampuri pula oleh orang-orang tua.”
 Gajah Sora tidak dapat menjawab kata-kata ayahnya. Ia menjadi terharu sekali.
Sebaliknya Mahesa Jenar merasakan betapa sepi hidupnya sepeninggal gurunya. Tak ada
lagi orang yang akan menjadi tempat mengadu dan mohon pertolongan. Meskipun ia
merasa bahwa sebagai seorang laki-laki dirinyalah tempat untuk mengadu. Serta pada
dirinya itu pulalah kepercayaan yang terakhir harus dilandaskan.
 Menghadapi kenyataan itu, dirasakan betapa pahitnya hidup Mahesa Jenar sebatang kara,
diantara manusia-manusia perkasa yang dalam setiap saat memungkinkan adanya
bentrokan-bentrokan yang hanya dapat diselesaikan dengan mengadu kesaktian.
 Tetapi hati Mahesa Jenar agak terhibur juga melihat adanya orang-orang tua seperti Ki
Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana dan Titis Anganten yang sudah pernah
dirasakan betapa persahabatan mereka dengan gurunya melimpah pula kepada dirinya.
 Sesaat kemudian terdengarlah Ki Ageng Pandan Alas berkata, “Gajah Sora dan Mahesa
Jenar..., aku sependapat dengan Kakang Sora Dipayana. Sebab berhadapan dengan orangorang tua macam Sima Rodra, Pasingsingan, Bugel Kaliki, harus orang-orang tua pulalah
yang melayaninya. Meskipun bagi kami sebenarnya lebih senang minum-minum sambil
mengunyah jadah jenang alot. Bukan begitu, Kakang?”
 Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum, lalu jawabnya, “Begitulah kira-kira. Dan sekarang,
marilah kita mulai kehidupan kita seperti beberapa puluh tahun yang lalu. Seperti seekor
burung yang lepas di udara, hinggap dari satu dahan ke lain dahan, dari satu cabang ke
lain cabang.”
 “Tetapi aku tak akan sebebas dahulu, sahut Ki Ageng Pandan Alas. Sebab aku sekarang
mempunyai seorang murid. Akan aku bawa muridku itu untuk menambah
pengalamannya.”
 “Murid...?” potong Ki Ageng Sora Dipayana.
 “Ya, muridku seorang pemuda tampan yang masih seperti batu pecahan,” jawab Pandan
Alas, “dan aku harus mengasahnya sejak gosokan yang pertama. Untunglah bahwa ia
memiliki bakat yang baik.”
 Setelah mengadakan beberapa persiapan dan pesan-pesan, Ki Ageng Sora Dipayana dan
Ki Ageng Pandan Alas segera minta diri untuk memulai penghidupan dalam pengembaraan yang kedua sejak mereka menghentikan pengembaraan mereka pada masa
muda mereka.
 Mereka tidak perlu lagi menunggu sampai esok atau lusa. Sebab bagi seorang
pengembara, siang atau malam sama saja. Gajah Sora suami- istri dan Mahesa Jenar
melepas mereka dengan perasaan yang berat dan terharu. Orang-orang tua yang
seharusnya tinggal menikmati hasil lelah masa mudanya, masih harus bekerja keras untuk
kesejahteraan umat manusia.
 “Tak ada yang membatasi umur kita untuk berjuang,” kata Ki Ageng Sora Dipayana
ketika ia melangkah keluar gerbang halaman. Yang disambung oleh Ki Ageng Pandan
Alas, “He, Mahesa Jenar, adakah kau dahulu memenuhi permintaanku? Menunggu
sampai jagungku tua? Kalau begitu aku akan singgah dahulu ke sana untuk menikmati
dua tiga buah jagung bakar.”
 Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, seperti terbang Ki Ageng Pandan Alas segera
lenyap di gelap malam. Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum melihat tingkah laku
sahabatnya itu. Memang Adi Pandan Alas dalam keadaan yang bagaimanapun juga, tetap
saja dapat tertawa. Dengan begitu, rupa-rupanya ia akan panjang umur, kata Ki Ageng
Sora Dipayana.
 “Nah Gajah Sora dan Mahesa Jenar, hati-hatilah dengan pekerjaanmu masing-masing.
Mudah-mudahan semuanya selamat dan baik. Biarlah aku pergi sekarang,” sambung Ki
Ageng kepada Gajah Sora dan Mahesa Jenar.
 Gajah Sora dan Mahesa Jenar bersama-sama mengangguk hormat dan mengucapkan
selamat jalan. Maka berangkatlah Ki Ageng Sora Dipayana ke arah yang bertentangan
dengan Ki Ageng Pandan Alas. Orang tua itu melangkah perlahan-lahan seperti orang
yang sedang berjalan-jalan menghirup kesejukan udara malam.
 Setelah Ki Ageng Sora Dipayana lenyap dari pandangan mereka, dan tenggelam dalam
kehitaman malam, segera Gajah Sora dan Mahesa Jenar masuk kembali ke dalam rumah.
Dilihatnya di sana Ki Lemah Telasih telah datang dan telah mencoba mengobati Aria
Salaka, Wanamerta, Sawungrana, Penjawi dan orang-orang yang terluka, dengan ramuan
dedaunan, dan dengan memijat-mijat berusaha mengembalikan urat-urat yang salah letak.
 Ki Lemah Telasih tampaknya masih agak lebih muda dari Ki Asem Gede, tetapi
tubuhnya jauh lebih besar dan lebih tinggi. Hanya matanya sajalah yang mirip benar
dengan Ki Asem Gede, sejuk dan damai.
 Dengan cekatan ia merawat orang-orang yang terluka itu berganti-ganti, sehingga
beberapa saat kemudian semua telah diobatinya dan dibaringkannya di tempat yang
tenang.
 Nyai Gajah Sora masih saja merenungi putranya yang terbaring di bale-bale tempat tidur
ayahnya dengan tanpa bergerak. Sedang di mata Nyi Ageng Gajah Sora itu kadang-kadang masih tampak butiran-butiran air mata yang satu-satu menetes memercikkan
kesedihan hatinya. Tetapi karena kepandaian Ki Lemah Telasih, nafas Arya Salaka telah
mulai berjalan teratur dan detak jantungnya sudah mulai berjalan wajar.
 Gajah Sora dan Mahesa Jenar duduk berdiam diri sebelah-menyebelah dari ruang tidur
tempat Arya terbaring. Wajah-wajah mereka tampak suram serta pandangan mereka
seakan-akan jauh menembus lantai kelam yang tak dikenal.
 Suasana menjadi sepi. Di kejauhan terdengar semakin jelas gonggongan anjing-anjing
liar bersahut-sahutan, seolah-olah mereka berkata bahwa malam adalah milik mereka.
 Sepi malam yang mencengkam itu kemudian dipecahkan oleh suara Ki Lemah Telasih.
“Ki Ageng, luka-luka Ananda Arya tidaklah begitu berat. Mudah-mudahan atas
kemurahan Allah Yang Maha Kuasa, dalam waktu yang singkat luka itu akan segera
sembuh kembali.”
 Gajah Sora menoleh perlahan-lahan ke arah Ki Lemah Telasih. “Syukurlah, Kakang.
Mudah-mudahan Allah SWT memperkenankan. Lalu bagaimana dengan Paman
Wanamerta, Sawungrana, Penjawi dan lain-lain?”
 Tampaknya luka-luka mereka pun akan dapat disembuhkan.
 Ki Ageng Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun bagaimanapun,
hilangnya Nagasasra dan Sabuk Inten telah merupakan suatu lecutan pedih yang tak akan
pernah dilupakan.
 Tiba-tiba tanpa disengaja, pandangan mata Gajah Sora terlempar ke arah sesosok tubuh
yang masih belum ada seorang pun yang berani mengubah letaknya, yang menggeletak di
muka ruang tidur Gajah Sora. Seketika itu dadanya menggelora kembali, tetapi dicobanya
untuk menenangkan dirinya. Perlahan-lahan ia berdiri dan memeriksa mayat yang masih
belum berkisar sama sekali itu. Tetapi pada mayat itu sama sekali tak dijumpainya tandatanda apapun yang dapat memberi petunjuk tentang peristiwa yang baru saja terjadi.
Karena itu ia pun segera duduk kembali.
 Suasana di dalam rumah itu kembali dikuasai oleh kesepian yang menekan, tetapi
didalam setiap dada orang-orang yang berada di dalam rumah itu bergulatlah perasaanperasaan yang simpang siur.
 Dalam kesepian malam, di sela-sela gonggong anjing-anjing liar dan pekik burungburung malam, lamat-lamat terdengarlah derap kaki kuda yang menderu-deru, semakin
lama semakin dekat. Mahesa Jenar dan Gajah Sora segera mengangkat kepalanya untuk
mengetahui dari manakah datangnya suara-suara itu.
 Suara itu ternyata adalah suara derap dari berpuluh-puluh ekor kuda. Tetapi karena
sampai beberapa lama masih tidak terdengar tanda apapun, maka tahulah mereka bahwa
rombongan itu pasti bukanlah rombongan dari orang-orang yang menyerang Banyubiru.  Dan apa yang diduganya adalah benar. Rombongan itu adalah rombongan dari Laskar
Banyubiru yang telah berhasil mengusir laskar-laskar yang menyerbu daerah mereka.
Diantara mereka adalah Ki Ageng Lembu Sora, Pandan Kuning, dan tokoh-tokoh
lainnya.
 Sampai di halaman rumah Gajah Sora, segera mereka turun dari kuda masing-masing.
Dengan wajah berseri-seri mereka segera masuk. Tetapi demikian mereka melangkah
masuk, segera mereka menjadi terkejut dan bertanya-tanya. Di hadapan mereka terkapar
sesosok mayat, sedang di bale-bale di sisi-sisi ruangan itu terbaring pula Wanamerta,
Sawungrana, Panjawi dan beberapa orang lagi.
 “Apakah yang terjadi di rumah ini, Anakmas?” tanya Pandan Kuning gugup.
 ”Beberapa orang telah datang ke rumah ini dan mengaduk segala isinya,” jawab Gajah
Sora.
 Lembu Sora ketika melihat orang yang terbaring di depan ruang tidur Gajah Sora itu,
menjadi terkejut. Wajahnya segera berubah. Tetapi sebentar kemudian ia telah berhasil
menguasai dirinya kembali. Meskipun demikian segera ia melangkah masuk, langsung
menuju ke arah mayat yang masih terkapar itu. Dengan kakinya ia menggerak-gerakkan
tubuh itu dan membalikkannya sehingga mayat itu terlentang.
 Bagaimanapun Lembu Sora mencoba menahan hatinya, Mahesa Jenar dapat menangkap
suatu kesan yang aneh pada wajah Lembu Sora itu.
 “Siapakah orang ini, Kakang?” tanya Lembu Sora kepada Gajah Sora.
 Gajah Sora sama sekali tidak memperhatikan wajah adiknya sehingga tak suatu pun
dapat ditangkap dari kelakuan Lembu Sora, yang menurut tangkapan Mahesa Jenar agak
kurang wajar.
 “Entahlah, Adik,” jawab Gajah Sora. “Ia termasuk salah seorang dari tiga orang yang
telah memasuki rumah ini.”
 “Tiga orang?” ulang Lembu Sora terkejut.
 “Ya, tiga orang. Dan satu dapat dibinasakan. Dialah orangnya yang tak beruntung, dapat
dibunuh oleh Arya dengan tombak pusaka Kiai Bancak,” sambung Gajah Sora.
 “Arya dapat membunuh orang ini?”
 Agaknya, bagi Lembu Sora sangatlah mustahil bahwa Arya dapat berbuat demikian.
 Gajah Sora mengangguk mengiyakan.  “Siapakah yang dua lagi?” tanya Lembu Sora lebih lanjut.
 “Yang kedua, aku tidak tahu, Sedang yang ketiga adalah Bugel Kaliki.”
 “Bugel Kaliki...? Siapakah orang itu?” tanya Lembu Sora.
 Akhirnya Gajah Sora dengan agak segan-segan terpaksa menceriterakan tentang
kedatangan tokoh-tokoh sakti ke dalam rumah ini.
 “Adakah salah seorang dari mereka berhasil mengambil Nagasasra dan Sabuk Inten?”
tanya Lembu Sora lebih lanjut.
 “Orang kedua yang tak kukenal itulah yang membawanya,” jawab Gajah Sora.
 Mendengar jawaban itu, wajah Lembu Sora berubah menjadi merah membara. Tubuhnya
gemetar serta giginya gemeretak. Rupa-rupanya ia pun marah sekali akan hilangnya
kedua pusaka simpanan kakaknya itu.
 Tetapi dalam tanggapan Mahesa Jenar, sama sekali bukanlah demikian. Bagaimanapun
ia sudah mempunyai prasangka yang tidak baik terhadap Lembu Sora.
 “Tidakkah Kakang dapat mencurigai seseorang?” kata Lembu Sora tiba-tiba.
 Mendengar kata-kata adiknya itu Gajah Sora terkejut. Ia tidak tahu maksud kata-kata itu.
Melihat kesan itu, Lembu Sora menyambung, “Kakang.., aku percaya akan kesetiaan
rakyat Banyubiru terhadap Kakang, sehingga tidaklah mungkin mereka mau
mengkhianati Kakang. Tetapi ternyata keris itu lenyap juga, meskipun menilik cara
penjagaan halaman ini adalah tidak mungkin sama sekali, kecuali orang macam Bugel
Kaliki. Tetapi barangkali Kakang lupa, bahwa diantara rakyat Banyubiru yang setia ini,
di dalam rumah ini terdapat orang lain.”
 Kata-kata yang diucapkan dengan tegas itu terdengar di telinga Mahesa Jenar seperti
petir yang meledak di tengkuknya.
 Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit yang berwatak ksatria serta benar-benar
seorang laki-laki jantan. Ia sendiri sangat membenci sifat-sifat licik dan curang.
 Sekarang didengarnya lewat telinganya sendiri, seseorang memfitnahnya, menuduhnya
berbuat curang dan pengkhianatan terhadap Gajah Sora, yang meskipun belum begitu
lama dikenalnya, tetapi karena sifat-sifatnya serta persamaan tujuan, maka orang itu
sudah dianggapnya lebih dari seorang sahabat biasa.
 Darah Mahesa Jenar segera bergolak. Dadanya tiba-tiba merasa sesak oleh desakan
kemarahan. Untunglah bahwa masih diingatnya bahwa di ruangan itu terbaring beberapa
orang yang terluka serta di dalam ruang sebelah putera Gajah Sora masih juga belum
sadarkan diri. Karena itu sekuat-kuatnya ia masih mencoba menguasai dirinya.  “Adi Lembu Sora...,kau jangan terlalu cepat mengemukakan pendapat sebelum kau
pikirkan masak-masak untung-ruginya. Sudah aku katakan bahwa aku sendiri dapat
melihat orangnya yang mengambil pusaka-pusaka itu. Jadi kalau benar dugaanmu pasti
akulah orangnya yang pertama-tama akan bertindak.”
 Rupa-rupanya Lembu Sora masih belum puas mendengar jawaban kakaknya, maka ia
menyahut, “Untuk melakukan pekerjaan itu, tidaklah perlu harus ditangani sendiri. Tetapi
adanya seorang asing di dalam halaman ini, telah merupakan suatu kemungkinan untuk
menuntun datangnya orang kedua, ketiga dan seterusnya. Sebab segala sesuatu telah
dapat dipersiapkannya dengan saksama.”
 Jantung Mahesa Jenar rasa-rasanya hampir meledak mendengar kata-kata itu. Tetapi
ketika ia melihat Gajah Sora telah berdiri dari duduknya, ia masih mencoba sekuatkuatnya menahan diri.
 “Sudahlah, Adi Lembu Sora, pendapatmu baik aku perhatikan. Tetapi biarlah aku yang
memutuskan.”
 “Tidak, Kakang... Mumpung sekarang kita sedang lengkap di hadapan Kakang, siap
untuk menghukum siapapun yang mencoba untuk mengganggu ketenangan Banyubiru,
meskipun ia adalah bekas sahabat Kakang sendiri. Adakah Kakang yakin bahwa orang itu
sama sekali tak ada hubungannya dengan orang-orang yang menyerang Banyubiru?”
 Kembali Lembu Sora melanjutkan hasutannya, “Kakang Gajah Sora, paman Pandan
Kuning, Bantaran Wirapati dan lain-lainnya telah bertempur dengan gagah perkasa
mengusik laskar penyerbu itu. Dan sekarang di sini mereka harus menyaksikan seorang
diantara penjahat-penjahat itu, yang mungkin lebih licik dan licin mendapat perlindungan
dari Kakang. Apakah.....”
 “Cukup! Kau jangan mengurus aku, Lembu Sora. Aku senang sekali bahwa kau
mencoba ikut serta memecahkan kesulitan-kesulitan yang aku alami. Tetapi janganlah
kau memaksakan suatu pendapat yang belum dapat diyakinkan kebenarannya.
Menghukum seseorang bukanlah suatu pekerjaan yang dapat dilakukan begitu saja tanpa
bukti-bukti akan kesalahannya. Karena itu sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas
perhatianmu itu, tetapi sebaiknya kau beristirahat di tempat yang sudah kami sediakan.”
 “Paman Pandan Kuning...,” kata Lembu Sora seolah-olah tidak mendengar kata-kata
kakaknya, “... dan paman-paman yang lain serta para perwira di Banyubiru.... Dapatkah
kalian membiarkan orang yang berkedok persahabatan ini mengkhianati kepala daerah
kalian? Hilangnya kedua pusaka itu adalah suatu pengkhianatan yang tiada taranya dalam
sejarah Banyubiru, sejak ayah Sora Dipayana masih memegang pemerintahan di
Pangrantunan. Tetapi ternyata Kakang Gajah Sora adalah seorang yang terlalu luhur budi
dan pengasih, sehingga ia tidak sampai hati untuk bertindak terhadap seorang yang
menamakan diri sahabatnya, nah, para pahlawan, sekarang adalah waktunya bagi kalian
untuk menunjukkan bakti kalian terhadap kepala daerah kalian serta daerah kelahiran kalian,” tambah Lembu Sora.
 Akibat kata-kata Lembu Sora yang diucapkan dengan berapi-api itu, ternyata hebat
sekali. Mereka yang disebutnya pahlawan yang mempunyai kesempatan untuk berbakti
itu, tiba-tiba menjadi lupa diri. Beberapa orang telah bergerak untuk menangkap Mahesa
Jenar. Sedangkan Lembu Sora sendiri segera menarik pedangnya yang besar sekali, dan
siap diayunkan.
 Kini Mahesa Jenar sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Banyak hal yang akan
dikatakan untuk menyatakan kebersihannya serta banyak hal lagi yang dapat dikatakan
pula tentang ketidakwajaran Lembu Sora. Tetapi terdorong oleh kemarahan yang
memuncak maka bibirnya hanyalah tampak bergetar tanpa mengeluarkan sepatah
katapun. Apalagi ketika ia melihat Lembu Sora telah menarik pedangnya, maka tidak ada
pilihan lain kecuali bertempur mati-matian.
 Segera Mahesa Jenar memusatkan segala kekuatan lahir batin, mengatur jalan
pernafasannya dan siap untuk mempergunakan Sasra Birawa dalam pukulan yang
pertama. Sebab ia tidak mau menanggung akibatnya apabila Lembu Sora telah memiliki
aji Lebur Seketi seperti kakaknya. Maka sebagai seekor banteng murka, ia cepat berdiri
dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.
 Tetapi ketika Lembu Sora beserta beberapa orang yang berotak kosong serta hanya
berpikir pendek untuk dapat disebut sebagai seorang pahlawan tanpa menilik masalahnya
lebih dalam lagi, mulai bergerak. Tampaklah dengan kecepatan kilat Gajah Sora
meloncat maju ke depan adiknya beserta orang-orang itu.
 Dengan wajah merah membara, Gajah Sora berteriak dengan penuh kemarahan, “Hai
orang-orang Banyubiru, akulah kepala daerah perdikan di sini. Kalau kalian maju
selangkah lagi, kalian akan berhadapan dengan aku.”
 Lontaran suara yang penuh dengan perasaan marah itu terdengar dahsyat sekali.
Beberapa orang yang telah bergerak seperti orang mabuk itu, tiba-tiba seperti terlempar
kembali ke alam kesadaran. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang dengan penuh
kebaktian dan kesetiaan mengabdikan diri mereka kepada tanah kelahiran serta kepala
daerah perdikan mereka.
 Tetapi karena itu pulalah dengan mempergunakan kesadaran akan kesetiaan itulah maka
mereka kadang-kadang dapat dengan mudah digelincirkan ke dalam suatu perbuatan yang
salah, yang justru bertentangan dengan kesetiaan mereka sendiri tanpa sesadar mereka.
 Sekarang tiba-tiba pemimpin yang ditakuti, disegani dan dicintai itu seolah-olah telah
menantang mereka. Maka tidaklah mustahil bahwa beberapa orang kemudian menjadi
gemetar ketakutan seperti seekor tikus di tangan seekor kucing yang ganas.
 Lembu Sora, bagaimanapun angkuhnya, ketika melihat kakaknya benar-benar telah
marah, dan benar-benar tidak termakan oleh hasutan-hasutannya itu pun menjadi agak takut pula. Sebab ia tahu betul akan sifat-sifat Gajah Sora. Meskipun dalam banyak hal
Gajah Sora selalu mencoba untuk mengalah terhadap adik kesayangan ibunya itu. Tetapi
apabila ia telah menentukan suatu sikap, tak seorang pun mampu mengubahnya.
 Karena itu dengan kecewa dan menyesal, Lembu Sora mundur beberapa langkah. Lalu
katanya.
 “Maafkan aku, Kakang. Maksudku adalah baik, untuk kepentingan masa datang Kakang
dan kesan yang teguh atas kepemimpinan Kakang. Tetapi agaknya Kakang salah terima”
 “Sarungkan senjata itu, perintah Gajah Sora.”
 Sekali lagi Lembu Sora tak berani melawan perintah kakaknya. Dengan segera
pedangnya itu disarungkannya pula.
 Suasana tegang itu kemudian untuk beberapa saat menjadi semakin tegang. Tak
seorangpun yang berani bergerak, meskipun hanya jari kakinya. Bernafaspun mereka
menjadi berhati-hati sekali, seolah-olah takut kalau-kalau bunyi nafasnya dapat
menambah kemarahan Gajah Sora.
 “Lembu Sora...,” kembali terdengar suara Gajah Sora. Tetapi kali ini terasa bahwa
kemarahannya telah menurun. Bagaimanapun ia adalah seorang kepala daerah yang
bijaksana. Maka sekali ini pun ia menunjukkan kebijaksanaannya.
 “Baiklah... kau beritirahat,” sambung Gajah Sora, “mungkin kau terlalu lelah sehingga
pikiranmu tak dapat berjalan dengan baik. Juga kalian laskar Banyubiru, aku persilahkan
meninggalkan ruangan ini untuk mengaso. Setelah kalian bertempur untuk
mempertahankan tanah ini, mungkin sekali otak kalian pun agak terganggu. Tetapi tak
apalah.... Sekarang pergilah.”
 Tak seorangpun mengucapkan sepatah kata. Dengan kepala tunduk, mereka berjalan
berebutan untuk lebih dahulu meninggalkan ruangan yang rasa-rasanya menjadi panas
sekali. Demikian mereka sampai di halaman, segera mereka meloncat ke atas kuda
masing-masing.
 Dengan segera kuda-kuda itu dipacu pulang ke rumah masing-masing untuk menyatakan
keselamatan mereka kepada keluarga mereka masing-masing yang menanti dengan hati
cemas. Sedang beberapa orang lagi bertugas untuk merawat kawan-kawan mereka yang
gugur, dan yang terluka pun segera dengan tekun melakukan tugas masing-masing.
 Lembu Sora pun segera mengundurkan diri bersama-sama dengan para pengiringnya, ke
tempat yang sudah disediakan, di gandok sebelah barat.
 Sepeninggal mereka, di dalam ruangan itu tinggalah Gajah Sora, Mahesa Jenar, Ki
Lemah Telasih, dan orang-orang yang terluka. Mereka duduk tepekur tanpa berkata-kata.
Angan-angan mereka mengalir menuruti pikiran masing-masing.  Suasana segera menjadi hening. Kembali terdengar di kejauhan gonggong anjing-anjing
liar berebut makanan. Sedang di ruang itu beberapa orang duduk seperti patung, kaku dan
membisu. Tetapi perasaan mereka berputar seperti baling-baling.
 Baru beberapa saat kemudian terdengar Gajah Sora berkata, “Adi Mahesa Jenar...
maafkan kelakuan Lembu Sora beserta beberapa orangku yang sama sekali tidak sopan.
 Tetapi percayalah bahwa orang-orangku sama sekali tak mempunyai pandangan yang
kurang baik terhadap Adi. Sayang bahwa Lembu Sora telah menyeret mereka ke dalam
suatu tindakan yang memalukan.”
 Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia sama sekali tidak akan dapat
melupakan tuduhan pengkhianatan yang dilancarkan oleh Lembu Sora. Terhadap laskar
Banyubiru, memang ia tidak menaruh banyak perhatian, sebab mereka hanya terpengaruh
oleh hasutan-hasutan Lembu Sora saja. Namun, meskipun demikian, kepada Gajah Sora
ia menjawab, “Sudahlah Kakang, mudah-mudahan aku dapat melupakannya. Aku
harapkan bahwa Ki Ageng Lembu Sora tidak berbuat hal-hal yang dapat mengeruhkan
keadaan.
 Gajah Sora mengangguk-angguk kecil. Ia dapat merasakan sepenuhnya kekecewaan
Mahesa Jenar terhadap adiknya. Karena itu ia berkata menyambung, Aku akan mencoba
selalu mengawasi anak itu selama ia berada di Banyubiru. Mudah-mudahan ia segan
meninggalkan rumah ini untuk tidak menambah pekerjaannku.
 Kembali mereka berdiam diri. Dan kembali keadaan ruangan itu menjadi sepi. Sepi dan
kaku, seperti garis-garis lurus dari sambungan-sambungan papan gebyok rumah Gajah
Sora yang pecah berserakan karena ditembus oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar
bersama-sama.
 Kesepian itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara rintih Arya Salaka dari dalam ruang tidur
Gajah Sora. Mendengar suara itu, hampir bersamaan Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Ki
Lemah Telasih meloncat, mendekati Arya. Wajah Gajah Sora yang suram itu segera
berubah, karena tumbuhnya harapan yang semakin besar, bahwa Arya Salaka akan segera
dapat sadar kembali.
 Ketika mereka bersama-sama memasuki ruangan itu, mereka melihat Arya sudah mulai
menggerakkan kepalanya, dan perlahan-lahan matanya mulai terbuka. Terdengarlah dari
mulutnya ia merintih dan akhirnya terdengar Arya perlahan-lahan sekali menangis,
meskipun agaknya ia mencoba menahannya kuat-kuat.
 Ibu Arya Salaka yang melihat Arya mulai sadar, segera memeluknya dan menciuminya
dengan penuh rasa kasih dari seorang ibu. Tetapi Ki Lemah Telasih sebagai seorang tabib
segera mencoba mencegahnya. ”Nyai Ageng, biarlah Ananda Arya bebas bernafas
dahulu, supaya tubuhnya menjadi segar.”  Wajah Gajah Sora pun segera menjadi cerah. Meskipun luka di hatinya dengan
hilangnya kedua pusaka itu begitu dalam, namun Arya Salaka pun merupakan mutiara di
hatinya yang tidak kalah nilainya.
 Mahesa Jenar yang sejak melihat Arya untuk pertama kali telah mengagumi anak itu,
kini ia bertambah kagum lagi. Anak-anak yang masih pantas bermain gundu itu,
andaikata tidak ada orang kedua, telah berhasil menggagalkan suatu usaha dari seorang
yang tentu berilmu tinggi, dalam usahanya mencuri Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.
 Dalam asuhan Ki Ageng Gajah Sora, pastilah Arya kelak akan menjadi manusia yang
mumpuni lahir dan batin. Apalagi andaikata kakeknya Ki Ageng Sora Dipayana juga mau
mengasuhnya.
 Sebentar kemudian Arya Salaka telah benar-benar sadar. Ia telah mulai mengenali orangorang yang berdiri di sekitar tempat pembaringannya.
 Pada saat itu malam telah semakin jauh, bahkan ayam jantan telah mulai berkokok untuk
ketiga kalinya, suatu pertanda bahwa sebentar lagi fajar akan datang.
 Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Ki Lemah Telasih pun segera meninggalkan Arya Salaka
yang sudah mulai dapat tidur ditunggui oleh ibunya yang berbaring di sampingnya. Ki
Lemah Telasih dan Mahesa Jenar kemudian meninggalkan ruangan itu pula untuk
beristirahat.
 Ketika Mahesa Jenar turun dari pendapa untuk mengantarkan Ki Lemah Telasih sampai
di gerbang halaman, tampaklah di timur sudah mulai membayang warna kemerahmerahan yang melapisi langit. Angin pagi yang sejuk menyapu wajah Mahesa Jenar yang
masih tampak berminyak karena keringat yang berlapis debu.
 Meskipun demikian perasaan segar terasa menusuk sampai ke tulang sungsum.
 Perlahan-lahan ia berjalan ke gandok sebelah timur untuk beristirahat. Tetapi alangkah
terkejutnya ketika ia memasuki ruang yang disediakan untuknya.
 Rupa-rupanya ruangan itu pun telah dibongkar dengan teliti.
 Melihat hal itu, Mahesa Jenar tertegun. Ia tiada tahu siapakah yang telah melakukan
perbuatan itu, tetapi kejadian itu telah menyalakan kembali kemarahannya. Sayanglah
bahwa Lembu Sora kebetulan adalah adik Gajah Sora. Kalau saja tidak ada hubungan
antara kedua orang itu, sudah pasti bahwa ia akan membuat perhitungan secepat-cepatnya
dengan Lembu Sora. Tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, yang dapat dilakukannya
hanyalah menyimpan kemarahannya itu di dalam dadanya yang menjadi sesak.
 Akhirnya dengan susah payah ia dapat meredakan gelora hatinya sendiri. Dan karena
kelelahan, Mahesa Jenar kemudian merebahkan dirinya di atas pembaringan dan sejenak
kemudian ia tertidur dengan nyenyaknya.  Demikian nyenyaknya ia tidur, sehingga tidak terasa bahwa hari telah tinggi. Meskipun
demikian masih saja ia belum bangun, apabila tidak didengarnya derap kuda di halaman.
Ketika ia bangun dan membuka pintu depan, tampak sudah siap untuk berangkat Ki
Ageng Lembu Sora beserta rombongannya.
 Melihat Lembu Sora siap meninggalkan Banyubiru, tanpa sadar Mahesa Jenar
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa syukur bahwa orang yang sama sekali tak
menyenangkan, baik wataknya maupun bentuk tubuhnya yang kaku itu, segera akan
meninggalkan Banyubiru sebelum terjadi sesuatu.
 Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba Ki Ageng Lembu Sorapun memandang ke arah pintu
yang sudah terbuka sedikit itu, dimana Mahesa Jenar sedang berdiri mengawasinya.
 Benturan pandangan yang terjadi dengan tiba-tiba itu telah menimbulkan ledakan yang
hebat di hati masing-masing. Pandangan mereka segera berubah menjadi tajam dan
seolah-olah meskipun tanpa diucapkan, mereka telah berjanji bahwa pada suatu ketika
mereka akan berhadapan sebagai lawan yang harus membuat perhitungan dengan taruhan
yang sangat mahal.
 Sebentar kemudian, Ki Ageng Lembu Sora segera memberi aba-aba kepada para
pengiringnya, dan segera mereka pun pergi meninggalkan halaman Kepala Daerah
Perdikan Banyubiru.
 Sampai di regol halaman, sekali lagi Lembu Sora menoleh kepada kakaknya yang
melepasnya dari atas pendapa beserta istrinya. Dan dengan sekali lagi menganggukkan
kepalanya, Lembu Sora lenyap dari pandangan mereka.
 Setelah Lembu Sora hilang di balik pagar halaman, serta Ki Ageng Gajah Sora telah
masuk kembali ke dalam rumah, segera Mahesa Jenar keluar dari Gandok Wetan dan
langsung pergi lewat pintu pagar samping, menuruti tangga batu, pergi ke mata air
dimana ia biasa mandi.
 Tetapi baru saja ia akan melepaskan pakaiannya, tiba-tiba dilihatnya dua bayangan
diantara pepohonan agak diatas mata air itu. Dan ketika ia memandangnya lebih tajam
lagi, dilihatnya seorang tua dengan seorang pemuda tampan berdiri memandangnya.
Alangkah terkejutnya ketika diketahuinya bahwa orang tua itu tidak lain adalah Ki Ageng
Pandan Alas yang berdiri bertolak pinggang sambil tertawa nyaring. ”Kau agak
kesiangan bangun, Mahesa Jenar,” katanya diantara derai tertawanya.
 Mahesa Jenar segera membungkuk hormat. ”Ya, Ki Ageng,” jawabnya.
 ”Mahesa Jenar...” sambung Ki Ageng Pandan Alas, ”Apakah Kakang Sora Dipayana
telah meninggalkan Banyubiru?”
 ”Sudah, Ki Ageng.”  ”Bagus,” sahut Pandan Alas. ”Aku juga akan segera pergi. Tetapi sengaja aku singgah
sebentar untuk memperkenalkan muridku ini kepadamu.”
 Barulah Mahesa Jenar sadar bahwa Pandan Alas itu berdiri di sana dengan seorang lagi.
Maka ketika ia mendengar bahwa Pandan Alas bermaksud memperkenalkannya dengan
muridnya, segera ia membetulkan pakaiannya dan melangkah mendekat.
 Tetapi segera ia berhenti ketika Ki Ageng Pandan Alas menegornya, ”Tak usah kau naik
kemari, Mahesa Jenar. Muridku agak malu berkenalan dengan kau yang telah memiliki
nama besar sebagai seorang perwira prajurit Demak. Tidak saja itu, tetapi juga sebagai
penolong yang luhur budi.”
 Mahesa Jenar segera tertegun heran. Apakah hubungannya dengan nama yang pernah
dimilikinya. Tetapi ketika sekali lagi ia memandang murid Pandan Alas itu, hatinya
terguncang hebat. Apalagi ketika orang itu menundukkan wajahnya yang tampak kemalumaluan.
 Mahesa Jenar segera mengenal siapakah murid Ki Pandan Alas itu. Karena itu wajahnya
menjadi terasa panas dan jantungnya berdetak lebih cepat.
 "Rupa-rupanya kau sudah mengenalnya Mahesa Jenar, " bertanya Pandan Alas sambil
tertawa.
 Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Mulutnya jadi seperti terkunci.
 Kemudian terdengar tertawa Pandan Alas semakin keras. Katanya; "Aku jadi geli, kalau
aku teringat ketika Mahesa Jenar jadi marah bukan main dan hampir saja membunuh
orang yang sama sekali tak bersalah beberapa pekan yang lalu di hutan Tambak Baya,
ketika ia kehilangan bebannya."
 Juga kali inipun Mahesa Jenar tidak menjawab.
 Ketika kata-katanya tidak mendapat jawaban Pandan Alas melanjutkan, "Mahesa Jenar,
inilah muridku yang aku katakan. Siapakah nama yang pantas aku berikan kepadanya?."
 Mendengar pertanyaan yang berturut-turut itu hati Mahesa Jenar menjadi bertambah
bingung. Ia sendiri tidak mengetahui, kenapa ia tidak dapat menahan perasaannya
sehingga ia kehilangan ketenangan. Murid Pandan Alas itu, meskipun jelas berpakaian
seperti seorang pemuda, namun ketika Mahesa Jenar memandangnya agak lama, ia
segera mengenal bahwa murid Pandan Alas itu sama sekali bukan seorang pemuda,
melainkan ia adalah seorang gadis cantik yang sedang mekar, yang tidak lain adalah cucu
Pandan Alas sendiri yaitu Rara Wilis yang pernah dikenalnya dan pernah ditolongnya.
Pertemuan yang tidak diduga itu membuat Mahesa Jenar kehilangan ketenangan.
Disamping itu iapun menjadi heran pula bahwa sedemikian cepat Ki Ageng Pandan Alas
telah kembali bersama gadis itu. Kalau demikian ketika Ki Ageng Pandan Alas sedang bertempur dengan Pasingsingan, Rara Wilis pasti disembunyikan ditempat yang tidak
begitu jauh dari Banyu Biru.
 Pada saat kenangannya sedang menelusur kembali ke masa lampau terdengan kembali
Pandan Alas berkata, "apakah kau mempunyai pilihan nama yang baik Mahesa Jenar ?
Aku sendiri bingung memberi nama yang sesuai. Tetapi yang jelas aku tidak akan
memberinya nama Lawa Ijo, meskipun nama aselinya bermakna hijau juga."
 Mahesa Jenar masih saja belum dapat menguasai dirinya sehingga mulutnya masih
belum dapat mengucapkan kata. Bahkan ia menjadi gelisah. Melihat sikap Mahesa Jenar,
Pandan Alas tertawa semakin keras, katanya, "Barangkali kau tidak siap menghadapi
kejadian yang sangat tiba-tiba datangnya ini Mahesa Jenar. Tetapi tidak mengapa.
Maksudku hanyalah supaya kau tahu bahwa cucuku ini aku bawa, supaya aku dapat
melakukan dua pekerjaan sekaligus, yaitu yang pertama untuk mengetahui siapakah yang
telah membawa kedua keris Kiai Nagasasra dan Sabukinten, sedangkan yang kedua,
supaya diperjalanan aku masih dapat mengajari anak ini selangkah dua langkah ilmu
yang tak berarti, supaya ia dapat menjaga keselamatan dirinya. Sukur ia berhasil
melepaskan pengaruh jahat ibu tirinya atas bapaknya yang sekarang bermukim di
Gunung Tidar."
 Mendengar kata-kata Pandan Alas yang terakhir Mahesa Jenar terkejut, sahutnya;
"Maksud Ki Ageng, Sima Rodra Gunung Tidar ?"
 "Ya," jawab Pandan Alas. "Sima Rodra muda itu adalah bekas menantuku yang
kemudian kena pengaruh seorang perempuan, maka ia seperti berubah ingatan. Sekarang
keturunanku satu-satunya adalah Wilis ini. Karena itu, meskipun ia seorang gadis aku
akan mencoba untuk membuatnya setidak-tidaknya dapat menyamai ibu tirinya. Maka
supaya pantas aku beri ia pakaian laki-laki dan seharusnya namanyapun harus nama
lelaki pula. Nah apa katamu kalau anak ini aku beri nama Pudak Wangi ?."
 Kembali Mahesa Jenar terbungkam. Tetapi nama itu rasanya amat manisnya. karena itu,
meskipun ia tidak menjawab, tetapi dengan tidak disengaja ia mengangguk juga. Ia
terkejut ketika Pandan Alas meneruskan, "Ha rupanya kau setuju juga. Bukankah Pudak
adalah nama dari bunga Pandan. Aku harap cucuku kelak akan dapat menjadi bunga
Pandan yang wangi."
 Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Ia ingin menjawab tetapi ia tidak tahu
bagaimana, sampai akhirnya Pandan Alas berkata lagi, "Mahesa Jenar kenapa kau diam
saja. Setuju atau tidak, atau barangkali kau punya nama yang lebih baik ?."
 "Tidak Ki Ageng" akhirnya terpaksa ia menjawab sekenanya, "nama itu sudah baik
sekali."
 "Bagus, Kau setuju dengan nama itu bukan. Nah kalau pada suatu ketika kau bertemu
dengan seorang pemuda yang bernama Pudak Wangi, jangan kau apa-apakan dia," sahut
Ki Ageng Pandan Alas. "Nah sekarang aku akan pergi. Marilah Pudak Wangi. Sebaiknya kau minta diri pada Mahesa Jenar."
 Wajah Rara Wilis segera berubah menjadi merah. Ia mencoba tersenyum, tetapi
alangkah sulitnya. Dengan terpaksa ia berkata, "Selamat tinggal tuan, aku mohon diri
untuk mengikuti kakek mencari pusaka yang hilang."
 Mendengar kata cucunya segera Pandan Alas membetulkan, "Eh Mahesa Jenar adalah
murid sahabatku. Kenapa kaupanggil dengan sebutan tuan? kau sekarang adalah muridku.
Panggil dengan sebutan yang lebih akrab sebagai dua murid dari dua orang sahabat."
 Kembali wajah Rara Wilis kemerahan. tetapi terpaksa ia berkata, "Aku mohon diri
kakang, aku akan menyertai guru."
 "Begitulah panggilan seorang sahabat," kata Pandan Alas sambil tertawa nyaring.
Sementara itu terdengar Mahesa Jenar menjawab, "mudah-mudahan semuanya selamat,
yang pergi dan yang ditinggalkan."
 "Baiklah Mahesa Jenar," sahut Pandan Alas. "Lekaslah mandi. Aku akan berangkat.
Mungkin untuk waktu yang agak lama kita tidak bertemu. Selamat tinggal."
 Sesudah mengucapkan kata-kata itu segera Ki Ageng Pandan Alas dan Rara Wilis yang
kemudian bernama Pudak Wangi itu pergi meninggalkan Mahesa Jenar dan berjalan
perlahan-lahan menyusup pepohonan. Mahesa Jenar berdiri tegak seperti patung
mengawasi mereka berdua. Pikirannya tiba-tiba menjadi risau. Ia tidak tahu kenapa
hatinya bergetar ketika mendengar Pandan Alas mengatakan bahwa mungkin untuk
waktu yang lama mereka tidak akan bertemu.
 Malam tadi, ketika ia melihat Pandan Alas itu berangkat untuk mencari pusaka-pusaka
yang hilang, ia tidak merasakan perasaan seperti pada saat itu.
 Baru beberapa saat kemudian Mahesa Jenar seperti orang sadar dari mimpi. Kembali ia
turun ke mata air untuk mandi. Tetapi bagaimanapun terasa bahwa ada sesuatu yang
mengganggu ketentraman hatinya.
 Rara Wilis meskipun sudah berpakaian seperti seorang pemuda, namun wajah itu selalu
mondar-mandir saja di dalam otaknya.
 Karena itulah maka setelah ia mandi dan kembali ke rumah sahabatnya, ia tampak agak
lain dari biasanya. Tetapi ia selalu berusaha untuk menyembunyikan perasaannya.
 Dua-tiga hari kemudian, Mahesa Jenar merasa agak kurang enak untuk tinggal berdiam
diri di rumah sahabatnya itu. Bagaimanapun ia merasa turut bertanggung jawab pula atas
hilangnya pusaka-pusaka Demak yang telah dengan susah payah diketemukan dan
direbut dari tangan Sima Rodra. Karena itu, meskipun ia tahu pasti bahwa yang berhasil
merampas kedua pusaka itu, termasuk angkatan gurunya atau setidak-tidaknya
mempunyai kesaktian yang setingkat dengan gurunya, serta Ki Ageng, namun adalah kewajibannya pula untuk mencoba-coba menemukannya kembali.
 Mahesa Jenar memutuskan menemui Ki Gajah Sora untuk minta diri, dan kemudian
meneruskan perantauannya, dan apabila mungkin untuk mendapatkan kembali Kyai
Nagasasra dan Sabuk Inten yang telah hilang.
 Tetapi ketika pada suatu pagi, Mahesa Jenar telah bersiap-siap untuk minta diri, tiba-tiba
terdengarlah sayup-sayup suara kentongan yang dipukul bertalu-talu dengan irama dara
muluk ganda. Itu adalah suatu pertanda bahwa ada pejabat penting dari Istana Demak
yang datang ke Daerah Perdikan Banyubiru.
 Tanda itu kemudian diulang dan diulang oleh pemukul-pemukul kentongan yang lain,
sehingga suaranya terdengar semakin lama semakin dekat.
 Mendengar tanda-tanda itu, Gajah Sora tampak agak sibuk mempersiapkan
penyambutan. Tetapi bagaimanapun tampak membayang di wajahnya perasaan yang
hambar dan kurang tenang. Meskipun ia belum tahu akan kepentingan para pejabat itu,
namun ia mendapat firasat bahwa sesuatu yang kurang baik akan terjadi.
 Wanamerta yang masih belum sembuh benar, segera diundang pula. Beberapa pejabat
lain, dengan sendirinya telah hadir pula setelah mendengar tanda-tanda itu.
 Mahesa Jenar yang mengerti juga akan tanda-tanda itu menjadi agak bingung. Ia
meninggalkan Demak serta melepaskan pakaian keprajuritan karena perbedaanperbedaan pendapat dengan beberapa pejabat istana.
 Dan sekarang di suatu tempat yang jauh dari istana, pejabat itu datang untuk suatu
keperluan. Ia menjadi bimbang, apakah ia harus menemui pejabat-pejabat itu ataukah
tidak.
 Akhirnya setelah menimbang masak-masak, akhirnya Mahesa Jenar minta kepada Gajah
Sora untuk diberi kesempatan tidak usah menemui mereka dan kehadiran tamu-tamu
tersebut. Juga tidak perlu dikabarkan bahwa Mahesa Jenar sedang berada di Banyubiru.
Ia akan berada di dalam ruangan tengah sambil mendengarkan apakah kepentingan para
pejabat itu datang ke daerah perdikan Banyubiru.
 Sejenak kemudian terdengarlah di kejauhan suara sangkakala. Itu adalah suatu pertanda
bahwa yang datng adalah pejabat-pejabat penting.
 Mendengar sangkakala itu, Gajah Sora menjadi bertambah sibuk. Diperintahkan seorang
meniup sangkakala pula untuk menyatakan kesediaan kepala perdikan Banyubiru
menerima tamu-tamu penting dari pusat.
 Sementara itu beberapa orang telah siap di atas kuda untuk menyongsong tamu-tamu
dari Demak itu. Ketika Ki Ageng memberikan tanda-tanda, segera mereka pun berangkat.  Mahesa Jenar yang menanti kedatangan tamu-tamu itu dari ruang dalam menjadi
semakin lama semakin gelisah. Kalau saja ia telah meninggalkan tempat itu, maka
apapun yang terjadi, ia sudah tidak melihatnya lagi. Tetapi sekarang, pada saat ia masih
berada di tempat itu, dapatkah kiranya ia berdiam diri? Sebab dalam tangkapan Mahesa
Jenar, kedatangan para utusan dari Demak itu pasti ada sangkut-pautnya dengan keris
Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.
 Beberapa saat kemudian, sebelah punggung Mahesa Jenar basah oleh keringat dingin
yang mengalir karena kegelisahannya. Terdengarlah derap kuda di halaman.
 Perasaan ingin tahu Mahesa Jenar sedemikian besar sehingga lewat lubang-lubang papan
sambungan dinding, ia mengintip. Ketika ia melihat pemimpin rombongan dari Demak
itu, dadanya bergetar. Rupa-rupanya rombongan ini dianggap sedemikian pentingnya
sehingga telah ditunjuk untuk memimpin rombongan ini, seorang perwira dari pengawal
bandar Bergota, yaitu Palindih, seorang perwira yang sangat terkenal, yang pada saat
Pangeran Sabrang Lor menyerang Portugis di Malaka, dialah yang mempergunakannya
sebagai batu loncatan untuk meluaskan jari-jari penjajahannya ke Pulau Jawa dan
sekitarnya. Ia sudah menjabat sebagai pimpinan dari salah satu kapal dalam armada yang
dipimpin langsung oleh Adipati Unus sendiri.
 Pada saat itu Gajah Sora, yang masih sangat muda, yang ikut sebagai sukarelawan dalam
penyerangan itu, beruntung terpilih menjadi anggota pengawal Sabrang Lor. Karena
pemuda itu telah menunjukkan ketangkasan yang luar biasa, maka dari Pangeran, ia
menerima hadiah sebuah tombak pusaka.
 Karena itu, ketika Ki Ageng Gajah Sora melihat, siapakah yang datang, maka dengan
tergopoh-gopoh ia turun ke halaman menyambut tamunya dengan salam persahabatan.
Mereka telah saling berkenalan dan telah mengetahui kebesaran masing-masing.
 Tamu-tamu dari Istana Demak itu segera dipersilahkan naik ke pendapa, dimana telah
hadir para pejabat tanah perdikan dan pimpinan-pimpinan laskar Banyubiru. Di belakang,
Nyi Ageng pun telah bekerja keras menyiapkan suguhan yang dianggapnya pantas, untuk
menjamu tamu-tamu dari kota.
 Setelah mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing, serta setelah mereka
yang datang mendapat jamuan pelepas haus, maka mulailah Arya Palindih
menyampaikan keperluannya datang ke Perdikan Banyubiru. Meskipun wajahnya tampak
keras, tetapi karena umurnya yang telah agak lanjut, maka ia berusaha untuk berhati-hati.
 “Anakmas Gajah Sora... izinkanlah aku menyampaikan pesan Baginda untuk Anakmas
kepala daerah Perdikan Banyubiru. Pertama Baginda Sultan Demak menyampaikan
salam taklim untuk Anakmas, serta doa mudah-mudahan pemerintahan perdikan
Banyubiru yang didasarkan atas ketetapan sejak Baginda Brawijaya Pamungkas ini dapat
berlangsung dengan sempurna, serta keputusan Baginda untuk tetap menghormati
prasasti ketetapan tanah perdikan ini, kata Arya Palindih.”  “Adapun yang kedua, lanjut Arya Palindih, Baginda Sultan Demak mengucap syukur ke
hadirat Allah SWT bahwa Anakmas dari Banyubiru yang sudah dikenal oleh Baginda
sejak penyerangan kedaerah Utara, yang pada saat itu Pemerintahan Demak masih
dipegang oleh Pangeran Sabrang Lor, telah berhasil menyelamatkan kedua pusaka istana,
Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.”
 Mendengar kata-kata itu, yang diucapkannya dengan jelas setiap suku katanya, baik
Gajah Sora maupun Mahesa Jenar yang berada di ruang dalam, dadanya merasa seolaholah tertindih beban yang sangat berat. Wajah Gajah Sora segera berubah, serta
pandangannya menjadi suram. Meskipun hal itu telah diduganya, namun bagaimanapun
darah Gajah Sora mengalir bertambah cepat juga.
 Maka dengan agak gemetar serta berusaha untuk menguasai diri, Ki Ageng Gajah Sora
menjawab, “Paman Arya Palindih yang aku hormati.... Pertama-tama aku merasa sangat
berbesar hati atas kesudian Paman serta atas kemurahan hati Baginda mengutus sebuah
rombongan untuk datang ke daerah yang terpencil ini. Adapun yang kedua, aku
menyatakan terima kasih yang sebesar-besarnya pula atas perhatian Baginda kepada hasil
yang telah aku dapatkan, yaitu menyelamatkan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.”
 Sampai sekian kata-kata Gajah Sora terputus. Hatinya menjadi semakin gelisah serta
dadanya bertambah berdebar. Dengan berusaha sedapat-dapatnya untuk menguasai
dirinya ia melanjutkan, “Tetapi Paman, sebaiknya aku berkata terus terang, bahwa
mungkin karena kesalahanku, karena aku tidak mampu menjaga keselamatan kedua
pusaka itu, maka beberapa hari yang lalu kedua pusaka itu hilang kembali.”
 Mendengar keterangan Gajah Sora itu, Arya Palindih terkejut, sehingga duduknya
tergeser ke belakang. Dengan mata yang mengandung seribu satu macam pertanyaan, ia
memandangi Gajah Sora tanpa berkedip.
 Gajah Sora merasakan bahwa sesuatu bergolak di dalam dada Arya Palindih, karena itu
ia merasa perlu untuk memberikan penjelasan atas hilangnya kedua pusaka itu.
 Maka dengan sedikit bergetar Gajah Sora menceriterakan bagaimana ia berhasil
mendapatkan kedua keris itu di Gunung Tidar, sampai kedua keris itu hilang dicuri orang,
dengan kesaksian orang-orang yang pada saat itu masih belum sembuh benar, seperti
Wanamerta, Panjawi dan lain-lainnya. Tetapi sudah tentu Gajah Sora sama sekali tak
menyebut-nyebut nama Mahesa Jenar atau yang lebih terkenal dengan sebutan Rangga
Tohjaya.
 Meskipun Gajah Sora telah mengatakan semuanya yang terjadi, tampaknya Arya
Palindih masih memancarkan rasa kesangsian. Beberapa kali ia memandang berkeliling.
Kepada Wanamerta, Bantaran, Panjawi, Sawungrana dan kepada para pengiringnya,
seolah-olah ia minta penjelasan yang lebih banyak lagi, serta minta pertimbanganpertimbangan.
 Akhirnya setelah beberapa saat mereka berdiam diri, berkatalah Arya Palindih, “Anakmas Gajah Sora, aku tahu betapa besar kemampuan Anakmas. Anakmas adalah
salah seorang kepercayaan almarhum Pangeran Sabrang Lor yang juga disebut Adipati
Unus pada usia yang masih sangat muda. Sekarang Anakmas telah berusia dua kali lipat.
Aku percaya bahwa dalam usia yang sekarang ini Anakmas telah merupakan seorang
yang maha perkasa, ditambah lagi aku dengar laskar Banyubiru adalah laskar yang teguh
dan perwira. Masih adakah gelombang-gelombang perampok yang hanya dapat mencegat
pedagang-pedagang yang tak berdaya itu, berani mendekati Banyubiru? Apalagi
memasuki rumah kepala daerah perdikan?”
 “Paman Arya Palindih..., Apa yang Paman katakan adalah benar. Tetapi yang datang ke
Banyubiru bukanlah rombongan pencuri-pencuri kerdil yang hanya mampu membongkar
dinding. Tidakkah Paman pernah mendengar nama-nama seperti Lawa Ijo, Sima Rodra,
Sepasang Uling dari Rawa Pening, Jaka Soka dari Nusakambangan dan yang lebih
terkenal lagi Pasingsingan, Sima Rodra tua dari Lodaya, Bugel Kaliki dari lembah
Gunung Cerme...?”
 Mereka itu semua telah beramai-ramai datang ke Banyubiru seperti orang yang dahulumendahului, seolah-olah kedua pusaka itu dapat mereka miliki dengan seenaknya saja.
Kami telah berusaha sekuat tenaga kami, sampai beberapa orang kami luka parah, bahkan
anakku sendiri terluka.
 Arya Palindih menarik nafas dalam-dalam. Dahinya tampak berkerut-kerut. Meskipun
usianya telah melebihi setengah abad, namun ia masih tampak segar dan perkasa.
Beberapa rambut putih yang tumbuh di pelipisnya, tampak menambah wibawanya.
Beberapa saat lamanya ia tidak berkata apa-apa. Ia sedang mencoba memahami
keterangan-keterangan Gajah Sora, yang bagaimanapun sebenarnya agak janggal
baginya.
 Kemudian terdengarlah ia berkata, “Aneh. Aneh sekali. Kenapa mereka baru akan
memperebutkan pusaka-pusaka itu setelah berada di tangan Anakmas. Kenapa mereka
tidak merebutnya selagi pusaka-pusaka itu masih berada di tangan Sima Rodra Gunung
Tidar.”
 Gajah Sora mengerutkan keningnya. Ia sadar bahwa Arya Palindih agak
membimbangkan keterangannya. Karena itu ia melanjutkan, “Adakah Paman dapat
membayangkan kekuatan raksasa yang mendatangi Banyubiru bersama-sama...?, tentang
keheranan Paman, kenapa baru setelah pusaka-pusaka itu berada di Banyubiru, mereka
beramai-ramai memperebutkan itu sama sekali tak aku ketahui. Itu adalah soal mereka,
tetapi mungkin sebelum itu tak seorangpun yang mengetahui, bahwa kedua pusaka itu
berada di tangan Sima Rodra. Baru setelah kedua pusaka itu lenyap dari tangannya, ia
sengaja meniup-niupkan berita bahwa pusaka-pusaka itu berada di Banyubiru.”
 “Itupun aneh, dengan demikian ia akan mendapat banyak saingan.”
 “Pendapat Palindih itu memang masuk akal. Gajah Sora terdiam untuk beberapa saat.
Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa kedua pusaka itu telah lenyap. Lalu apakah yang harus dikatakan, selain mengatakan apa yang telah terjadi. Apapun yang akan dikatakan,
tetapi sudah pasti bahwa pada saat itu, ia tidak akan dapat menunjukkan keris-keris Kyai
Nagasasra dan Sabuk Inten.”
 Sesaat kemudian Arya Palindih melanjutkan, “Anakmas..., aku memang telah pernah
mendengar beberapa diantara nama-nama yang Anakmas sebutkan itu, tetapi bagiku
adalah sulit untuk dapat membayangkan bahwa kekuatan dari sebuah gerombolan
perampok akan dapat menyamai kekuatan Banyubiru. Bagaimanapun kuatnya Bugel
Kaliki dari Gunung Cerme, namun dapatkah ia melawan para pengawal seperti yang
anakmas katakan itu?”
 Mendengar kata-kata Arya Palindih, kuping Gajah Sora rasa-rasanya seperti terjilat api.
Karena itu segera wajahnya berubah menjadi merah. Tetapi meskipun demikian ia
berkata tenang, “Paman..., mungkin Paman tidak percaya. sebab Paman adalah seorang
perwira prajurit yang lebih sering bertempur dalam satuan yang besar, bukan
pertempuran perorangan yang kadang-kadang mempunyai segi-segi yang jauh berbeda.
Meskipun aku tahu bahwa secara perseorangan pun Paman termasuk seorang yang
mumpuni. Atau barangkali karena Paman adalah seorang yang maha kuat, sehingga
Paman sukar membayangkan kelemahan orang lain?”
 Kata-kata Gajah Sora pun tak kurang tajamnya, sehingga sekali lagi Arya Palindih
menggeser duduknya. Tetapi Arya Palindih juga berusaha menahan dirinya, sehingga
masih dalam suasana yang baik ia berkata, “Mungkin Anakmas, mungkin. Aku lebih
senang mengatur siasat daripada menangani lawan. Juga terhadap orang seperti Bugel
Kaliki, Pasingsingan dan Sima Rodra dari Lodaya itu pun aku akan mempergunakan
siasat untuk menjebaknya.”
 Kembali perasaan Gajah Sora seperti tertusuk sembilu. Maka katanya di dalam hati,
“Sayang Paman Palindih belum pernah bertemu dengan tokoh-tokoh seperti
Pasingsingan, Sima Rodra, Ki Ageng Pandan Alas atau ayahnya sendiri.”
 Tokoh-tokoh yang lebih percaya pada dirinya sendiri daripada bertempur dalam satuansatuan yang besar, dalam keadaan-keadaan tertentu. Seandainya sekali waktu Arya
Palindih dapat berkenalan dengan salah seorang diantara mereka, maka mungkin ia akan
berubah pendirian. Sebab mulai dengan penggemblengan diri, Arya Palindih telah berada
di dalam lingkungan keprajuritan, sehingga kecuali para pelatih di dalam lingkungannya,
ia tidak banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh di luar.
 Berbeda dengan Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Mereka masuk di dalam lingkungan
keprajuritan dengan bekal yang telah cukup. Itulah sebabnya, mereka mempunyai
kelebihan.
 Suasana kemudian menjadi tegang. Masing-ma-sing berusaha untuk tetap menguasai
dirinya de-ngan baik.
 Tetapi bagaimanapun mereka telah merasa bahwa keadaan tidak menguntungkan. Arya Palindih datang dengan menjunjung kewajiban, sedang Gajah Sora terpaksa terlibat
dalam keadaan yang bertentangan dengan tugas tamu-tamunya.
 Apalagi ketika Arya Palindih kemudian melanjutkan, “Anakmas, sebenarnya,
perkenankanlah aku menyatakan, bahwa yang ketiga kalinya, dari keperluanku datang
kemari, adalah menjunjung perintah Baginda Sultan Demak, untuk menerima kembali
kedua pusaka Istana yang hilang itu, serta ada bersama kami, Baginda mengirimkan
berbagai hadiah yang seharusnya aku terimakan kepada Anakmas sebagai tanda
terimakasih Baginda kepada Kepala Daerah Perdikan Banyubiru.”
 Setelah berkata demikian, Palindih menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah sesuatu
yang menyekat dadanya telah terlontar keluar.
 Sebaliknya, dada Gajah Sora kini bertambah sesak. Ia tidak tahu bagaimana ia harus
bertindak. Bagaimanapun ia seharusnya mentaati perintah Baginda Sultan Demak. Tetapi
kedua karis itu benar-benar telah lenyap. Yang menyulitkan adalah, bahwa Arya Palindih
tidak dapat mempercayai keterangannya.
 Dalam pada itu, Mahesa Jenar yang mendengarkan segala pembicaraan Gajah Sora dan
Arya Palindih tidak kalah gelisahnya. Pikirannya pun menjadi kalut. Tidak aneh kalau
pada suatu saat mereka saling tidak dapat menguasai diri, maka akibatnya akan menjadi
jelek sekali.
 Mahesa Jenar kenal betul keduanya, kelebihan-kelebihan mereka dan kekurangankekurangan mereka. Mungkin dalam pertempuran seorang lawan seorang, Gajah Sora
akan dapat menguasai lawannya, meskipun tidak dengan begitu mudah. Tetapi dengan
beberapa orang, Arya Palindih merupakan seorang pemimpin yang berbahaya sekali.
Usianya yang telah banyak itu, telah menunjukkan kematangannya. Ditambah dengan
pengalamannya yang jauh lebih banyak daripada Gajah Sora. Apalagi orang-orang yang
dibawa Arya Palindih rata-rata mempunyai kekuatan yang sama. Berbeda dengan orangorang Banyubiru, selain Gajah Sora, maka jarak kepandaian mereka agak jauh.
 Dalam kegelisahannya, Mahesa Jenar hanya dapat berdoa, semoga keadaan berkembang
ke arah yang menguntungkan.
 “Paman Arya...” akhirnya Gajah Sora berkata, “Seharusnya aku merasa bahwa aku
mendapat kehormatan yang besar menerima hadiah langsung dari Baginda Sultan
Demak. Tetapi sekali lagi, bahwa kali ini terpaksa aku tidak dapat menyerahkan kedua
pusaka itu, karena kedua-duanya sudah tidak berada di tanganku lagi. Kalau Paman tidak
percaya, aku persilahkan Paman berbuat sekehendak Paman untuk membuktikan
kebenaran kata-kataku.”
 “Maafkanlah aku, Anakmas, Aku kira tak ada artinya, seandainya aku menggeledah
rumah Anakmas ini.”
 “Lalu apakah yang akan Paman lakukan?” tanya Gajah Sora.  Arya Palindih tidak segera menjawab. Sekali lagi ia memandang berkeliling, seolah-olah
sedang membanding-bandingkan kekuatan prajurit yang dibawanya dengan Laskar
Banyubiru yang berada di pendapa. Baru beberapa saat kemudian ia berkata, dengan nada
yang sudah agak berbeda;
 “Anakmas, aku adalah petugas negara. Sebenarnya aku sama sekali tidak menaruh syak
terhadap Anakmas. Tetapi aku merasa bahwa telah terjadi keanehan-keanehan di sini.
Sampai saat ini orang masih percaya, bahwa Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten bersama
akan dapat merupakan pusaka kebesaran raja-raja di Jawa. Bahkan ada yang percaya,
bahwa hanya mereka yang memiliki pusaka-pusaka itu yang dapat merajai pulau ini
dengan selamat. Karena itu, seandainya Anakmas memiliki kepercayaan yang
sedemikian, hendaknya Anakmas merelakan keinginan Anakmas merajai pulau ini, sebab
disamping pusaka-pusaka itu, ketentuan tahta masih bergantung kepada wahyu pula.”
 Kata-kata Arya Palindih, yang diucapkan dengan jelas itu, setiap patah, seolah-olah
merupakan sebuah tusukan langsung ke arah jantung Gajah Sora. Karena itu ia menjadi
gemetar menahan diri. Mulutnya menjadi seolah-olah terbungkam, meskipun di dalam
dadanya bergulung-gulung keterangan-keterangan yang banyak sekali, yang seperti banjir
akan menjebol tanggul.
 Sadarlah ia sekarang, bahwa pasti ada pihak ketiga yang akan memancing ikan di air
keruh. Ia jadi curiga, siapakah yang memberitahukan kepada para pejabat di Istana
Demak, bahwa kedua pusaka itu telah berada di tangannya. Siapapun yang telah
mengatur sedemikian cermatnya sehingga seolah-olah segala sesuatu itu berjalan menurut
urutan-urutan yang sudah ditentukan. Beberapa gerombolan bersama-sama datang
menyerbu daerahnya, sesudah itu, pejabat-pejabat Istana datang kepadanya untuk minta
pusaka-pusaka yang telah lenyap itu.
 Tetapi justru karena kesadaran akan adanya pihak ketiga yang sengaja akan mengadudomba dirinya dengan alat-alat negara itu, maka ia menjadi agak tenang. Karena itu
meskipun masih dengan bibir yang gemetar ia menjawab,
 “Paman Palindih. Sekali lagi aku mohon maaf. Paman telah mengenal aku sejak aku
masih muda. Aku selalu mementingkan kepentingan negara diatas segala-galanya,
jangankan aku berangan-angan untuk menjadi raja di pulau ini, sedangkan daerah
perdikan yang hanya selebar daun sirih ini pun aku sama sekali tak keberatan ketika
ayahku menyatakan untuk membagi dua. Kemudian lebih dari pada itu aku tak dapat
memberikan keterangan lebih banyak lagi. Tetapi harap Paman ketahui bahwa aku
berkata sejujur-jujurnya.”
 Arya Palindih adalah seorang prajurit yang sudah berpengalaman. Wajahnya yang masih
tampak segar itu ditandai oleh kekerasan hati serta sifat kepemimpinan yang tegas.
Namun bagaimanapun ia adalah pengemban tugas negara yang mempunyai batas-batas
tertentu.  Sebenarnya ia sama sekali tidak dapat mempercayai ceritera Gajah Sora itu. Ia mendapat
keterangan bahwa pusaka-pusaka itu benar-benar telah berada di Banyubiru. Dan ceritera
tentang serbuan-serbuan itu adalah usaha Gajah Sora sendiri untuk menyembunyikan
kedua pusaka-pusaka itu. Dan ia tidak dapat mengerti akan keterangan-keterangan yang
didengarnya. Apalagi ketika ia melihat bagaimana teraturnya Laskar Banyubiru
menerima kedatangannya, sehingga anehlah kalau hanya beberapa orang gerombolan liar
sampai dapat berhasil merampas kedua pusaka itu.
 Setelah mereka berdiam diri beberapa saat, kembali Palindih bertanya,
 ”Anakmas, bolehkah aku bertanya lagi, kenapa Anakmas tidak segera menyerahkan
kedua keris itu ke Demak setelah Anakmas berhasil merampasnya, sehingga sampai
Sultan Demak terpaksa memerintahkan petugas-petugasnya untuk datang mengambilnya?
Untunglah bahwa Sultan Demak cukup bijaksana sehingga masih juga beliau
mengirimkan hadiah-hadiah untuk Anakmas.”
 Pertanyaan yang demikian, sama sekali tak diduganya. Karena itu Gajah Sora menjadi
bingung. Memang ia merasakan suatu kekhilafan bahwa sampai beberapa hari ia masih
belum menyerahkan keris itu. Tetapi maksudnya mula-mula adalah untuk menenangkan
suasana dahulu. Pada suatu saat secara tiba-tiba ia akan mengejutkan Baginda dengan
penyerahan kedua pusaka itu. Disamping itu ia terlalu percaya pada kekuatan laskarnya
dan lingkungan ayahnya, Sora Dipayana. Namun bagaimanapun ia telah berbuat suatu
kekhilafan. Karena itu, karena ia tidak mungkin berkata lain, maka dengan jujur ia
menjawab, “Paman, memang aku telah melakukan kekhilafan.”
 Jawaban Gajah Sora itu sama sekali juga tidak diduga oleh Palindih, seperti juga Gajah
Sora tidak menduga bahwa ia akan mendapat pertanyaan yang demikian. Dan jawaban ini
telah mengejutkannya. Sebab ia melihat dari mata Gajah Sora bahwa ia telah berkata
sejujur-jujurnya. Karena itu ia jadi bimbang. Namun bagaimanapun keterangan Gajah
Sora tentang hilangnya kedua pusaka itu sangatlah aneh baginya.
 Memang, Arya Palindih pernah mendengar nama-nama beberapa orang penjahat ulung.
Bahkan ia mendengar pula bahwa diantaranya pernah berhasil memasuki Istana Demak
dan hampir saja memasuki Gedung Perbendaharaan. Untung pada saat itu, seorang
perwira yang perkasa dari pengawal raja yang bernama Rangga Tohjaya dapat
mencegahnya.
 Arya Palindih juga pernah mendengar tokoh-tokoh angkatan yang lebih tua daripada
Lawa Ijo yang berhasil memasuki istana itu, sebagai siluman-siluman yang berbahaya.
 Namun meskipun demikian, lepas dari masalah percaya atau tidak percaya, Palindih
adalah seorang perwira yang tegas dan taat akan kewajibannya. Ia adalah prajurit sejati,
namun cukup bijaksana. Karena itu berkatalah Arya Palindih, “Anakmas, pengakuan
Anakmas bahwa Anakmas khilaf telah membuka pikiranku, tetapi bagiamanapun juga
aku adalah prajurit yang mendapat tugas untuk meminta kembali pusaka-pusaka istana
itu. Dan aku telah melakukan tugasku. Sayang bahwa menurut keterangan Anakmas, kedua pusaka itu telah lenyap. Karena aku tidak mendapat kekuasaan untuk bertindak
lebih jauh, maka aku tidak akan melakukan hal-hal lain kecuali melaporkan peristiwa ini
kepada Baginda Sultan.”
 Baru kemudian kalau ada kewajiban-kewajiban lain serta ketentuan-ketentuan lain,
mungkin aku segera akan datang kembali ke Banyubiru.
 Kata-kata Arya Palindih itu merupakan angin sejuk yang telah mengendorkan semua
wajah-wajah yang tegang dari semua yang hadir di pendapa itu. Bahkan Mahesa Jenar
yang mendengar percakapan dari balik dinding, juga menarik nafas lega. Dengan
demikian setidak-tidaknya ada waktu sehari dua hari untuk mempertimbangkan
kemungkinan-kemungkinan yang akan datang. Untunglah seandainya dalam waktu yang
singkat itu Ki Ageng Pandan Alas atau Ki Ageng Sora Dipayana setidak-tidaknya telah
mendapat keterangan tentang kedua pusaka yang hilang itu.
 Gajah Sora yang dapat menanggapi keadaan serta kebijaksanaan Arya Palindih segera
menjawab, “Paman, aku sejak semula memang percaya bahwa Paman selalu bertindak
bijaksana. Meskipun demikian aku akan selalu berusaha untuk meyakinkan Paman bahwa
aku telah berkata dengan jujur. Aku berjanji bahwa aku akan berusaha sekuat tenaga serta
kemampuan yang ada di daerah ini, berusaha menemukan kembali kedua keris yang
hilang itu sebagai bukti kesetiaanku kepada negara.”
 Arya Palindih mendengarkan ucapan Gajah Sora itu sambil mengangguk-anggukkan
kepala. Di dalam hatinya menjalar suatu pengertian yang berpengaruh. Akhirnya dengan
kata-kata yang lunak ia berkata, “Anakmas..., Anakmas adalah bekas prajurit pilihan pada
masa Anakmas masih muda. Bagaimanapun juga aku tidak bisa mengerti peristiwa yang
terjadi menurut ceritera Anakmas, namun aku percaya bahwa oleh jiwa kepahlawanan
yang tersimpan di dalam dada Anakmas itu, maka Anakmas telah berlaku sebenarnya.”
 Baik Gajah Sora, Arya Palindih, Mahesa Jenar dan semuanya yang hadir di pendapa itu
menyadari, bila sampai terjadi suatu bentrokan, akibatnya pasti akan jelek sekali. Sebab
Laskar Banyubiru tidak dapat dianggap remeh. Laskar yang berakar pada jiwa rakyat
yang setia. Mungkin Demak akan dapat mengatasinya dengan tidak banyak kesukaran.
 Tetapi korbannya pasti akan banyak sekali. Tidak saja korban jiwa, tetapi korban yang
lebih besar artinya bagi negara yang pada saat itu sedang terancam oleh kekuasaan
penjajahan Portugis yang sudah membangun pangkalannya di Malaka. Maka usaha yang
pertama, yang harus diutamakan adalah memperkuat garis armada Banten - Jayakarta -
Cirebon - Demak - terus ke timur - Supit Urang - langsung ke Hitu dan Ambon, sebagai
garis utama untuk melumpuhkan usaha Portugis, terutama di bidang perniagaan laut dan
kesiap-siagaan armada, yang setiap saat dapat menerobos ke wilayah Demak.
 Bersandarkan pada kesadaran itulah, maka kemudian Arya Palindih yang tegas namun
bijaksana itu berkata, “Anakmas, aku kira tugasku kali ini sudah selesai, meskipun tidak
seperti yang aku harapkan. Dengan demikian aku akan minta diri, dan mudah-mudahan
perkembangan selanjutnya tidak akan menyulitkan Anakmas dan kami.”  Meskipun Gajah Sora mencoba menahannya, Arya Palindih sudah memutuskan untuk
segera pulang ke Demak dan melaporkan apa yang sudah terjadi, dengan harapan
bersama bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan dengan baik.
 Sepeninggal Arya Palindih, segera Gajah Sora mengadakan pertemuan dengan segenap
pembantunya serta Mahesa Jenar. Namun banyak hal yang tak dapat mereka selesaikan.
 Sebab kuncinya terletak pada kedua keris yang hilang itu. Tetapi adalah menjadi
kewajiban Gajah Sora untuk memerintahkan kepada semua laskarnya agar tidak berbuat
hal-hal yang dapat mengeruhkan suasana.
 Tetapi bagaimanapun, setelah peristiwa kedatangan utusan dari Demak itu, Gajah Sora
menjadi perenung. Mahesa Jenar yang semula bermaksud meninggalkan Banyubiru,
kemudian menjadi tidak sampai hati. Karena itu ditahankannya dirinya untuk tetap
tinggal di Banyubiru sebagai kawan berunding dan berbincang Gajah Sora.
 Hiburan yang utama bagi Gajah Sora adalah anaknya yang kini sudah hampir pulih
kembali. Bahkan sudah mulai lagi dengan tingkahnya yang aneh-aneh dan diluar
kebiasaan anak-anak yang sebaya dengan Arya Salaka, yang kadang-kadang sangat
memusingkan kepala ayahnya. Meskipun pada umumnya Arya tidak berani membantah
peringatan-peringatan ayahnya, tetapi kadang-kadang diluar pengawasan ia melakukan
hal-hal yang berbahaya.
 Beberapa kemudian tidak terjadi hal-hal yang luar biasa. Rakyat dengan tenang dan
tenteram bekerja di sawah serta ladang mereka. Padi-padi yang sudah mulai menguning,
bahkan ada diantaranya yang sudah masak untuk dipetik. Berduyun-duyunlah wanita
turun kesawah serta saling menolong memotong padi, sedang laki-laki bergotong royong
bekerja menyiapkan sawah-sawah yang telah dituai untuk ditanami kembali. Rumahrumah yang terbakar pada saat penyerbuan gerombolan-gerombolan liar itu, secara
gotong royong telah dibangun kembali. Bahkan tampak lebih kokoh dan lebih baik
daripada yang semula.
 Kehidupan yang aman damai telah memancar kembali menjiwai daerah Perdikan
Banyubiru.
 Tetapi, tidak demikian halnya dengan perasaan Gajah Sora. Meskipun sehari-hari ia
tampak tenang dan segar, serta seperti biasanya ia ikut serta bekerja dengan rakyat Banyu
Biru untuk kesejahteraan daerahnya, namun didalam hatinya tersimpan duri yang selalu
menusuk-nusuk perasaannya.
 Bagaimanapun, ia tidak dapat melupakan, bahwa akan datang saatnya ia harus
mempertanggungjawabkan hilangnya kembali keris Nagasasra dan Sabuk Inten.
Meskipun ia dapat mengharapkan etikad baik dari Arya Palindih, namun bagaimanapun
usaha-usaha dari pihak ketiga pasti masih selalu ada. Usaha-usaha dari golongan yang
tidak ingin melihat kehidupan damai di Banyubiru khususnya, dan Demak pada umumnya. Tidak aneh kalau hal ini didalangi oleh orang-orang yang sengaja merongrong
kebesaran Demak untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Sebab di dalam lingkungan
mereka ada orang-orang yang cukup tangkas otaknya. Pasingsingan, Bugel Kaliki, Sima
Rodra tua dapat mewayangkan orang-orang dalam yang tidak teguh imannya.
 Karena itu, karena kecurigaannya kepada golongan-golongan yang ingin dengan sengaja
mengeruhkan suasana. Gajah Sora telah mengambil kebijaksanaan untuk mengirimkan
beberapa orang kepercayaannya ke Demak untuk mengetahui perkembangan keadaan.
Orang-orang itu bertugas untuk mendengarkan desas-desus tentang keadaan Banyu Biru
yang tersiar dipusat pemerintahan itu, serta kalau perlu mengadakan perlawanan dengan
menceriterakan keadaan yang sebenarnya kepada kalangan yang seluas-luasnya.
 Tetapi akhirnya, dengan dada yang gemuruh Gajah Sora mendengar laporan dari salah
seorang kepercayaannya itu, bahwa di Demak telah berkembang keadaan yang sama
sekali tak menguntungkan. Di Demak dengan tak diketahui sumbernya, telah tersiar
berita bahwa kini di Banyubiru telah diadakan latihan keprajuritan secara teratur dan
besar-besaran, sebagai salah satu usaha untuk tetap mempertahankan Keris Kyai
Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
 Orang-orang Gajah Sora yang tidak seberapa jumlahnya itu telah berusaha untuk
menyebarkan berita yang sebenarnya, namun rupanya arus kabar yang sengaja
mengeruhkan suasana itu tak dapat dibendungnya. Bahkan akhirnya telah mempengaruhi
beberapa pejabat Istana Demak.
 Belum lagi Gajah Sora sempat mendalami serta mengupas masalah itu, datanglah
orangnya yang kedua dengan suatu berita yang lebih mengejutkan lagi, yaitu, bahwa
Demak telah mengirim satu pasukan untuk meneliti keadaan di Banyubiru.
 Mendengar berita ini, pikiran Gajah Sora seolah-olah menjadi gelap. Karena itu segera ia
memanggil pembantu-pembantunya beserta Mahesa Jenar. Apakah yang sebaiknya
mereka lakukan apabila pasukan dari Demak itu benar-benar mendatangi Banyubiru.
 Persoalan ini kemudian menjadi buntu. Tak seorangpun yang dapat memberikan
ketetapan pendirian. Tetapi bagaimanapun, mereka merasa bahwa sebenarnya mereka
sama sekali tak bersalah dengan hal ini. Gajah Sora hanyalah berbuat suatu kekhilafan
yang sebenarnya tak begitu besar seandainya akibatnya menjadi lain.
 Akhirnya, ketika tak seorangpun yang berhasil memecahkan persoalan itu dengan
sebaik-baiknya, maka satu-satunya kemungkinan adalah menunggu sampai pasukan dari
Demak itu datang, dan kemudian bersama-sama memperbincangkan masalahnya. Gajah
Sora sadar bahwa ia tidak boleh tergesa-gesa mengambil sikap, sebab kemungkinankemungkinan yang tak diinginkan selalu akan terjadi. Maka yang dapat dilakukan
sekarang adalah mempertinggi kewaspadaan.
 Diantara mereka yang selalu gelisah karena keadaan, maka yang paling gelisah adalah
Mahesa Jenar, karena ia dapat melihat kebenaran sikap masing-masing.  Ia tidak dapat menyalahkan Ki Ageng Gajah Sora seandainya orang itu tetap merasa tak
bersalah. Sebab ia sendiri telah berjuang mati-matian untuk merampas keris-keris itu, dan
kemudian dengan sekuat tenaga pula telah dipertahankannya. Juga orang-orang Gajah
Sora pasti akan mempertahankan kepala daerah mereka yang mereka segani dan cintai
itu.
 Tetapi sebaliknya, ia mengerti juga alasan Sultan Demak seandainya Baginda murka.
Sebab Baginda merasa bahwa yang paling berhak atas kedua pusaka itu adalah
pemerintah.
 
 Malam harinya, Mahesa Jenar hampir tidak dapat memejamkan mata. Ia selalu beranganangan apakah kiranya yang terjadi seandainya pasukan Demak itu telah berada di
Banyubiru. Yang menambah kesulitan pikiran Mahesa Jenar adalah, lalu bagaimana
dengan dirinya sendiri?
 Baru ketika ayam berkokok untuk ketiga kalinya, Mahesa Jenar terlena diatas
pembaringannya untuk beberapa saat. Sebab sebentar kemudian ia mendengar hirukpikuk di halaman. Segera ia meloncat bangun dan lari keluar. Dilihatnya beberapa orang
telah berada di sana, sedang Ki Ageng Gajah Sora dengan wajah merah menyala berdiri
di ambang pintu rumahnya.
 Segera Mahesa Jenar naik ke pendapa, langsung menuju kepada Gajah Sora. "Kakang...,
apakah yang terjadi?"
 Gajah Sora memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang gelisah. "Aku tahu
kesulitanmu Adi, karena itu sebaiknya kau tidak ikut serta," jawabnya.
 "Apakah yang akan Kakang lakukan?" tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.
 "Aku tidak dapat menahan diri lagi," jawabnya. "Aku telah memerintahkan untuk
menyiapkan laskar Banyubiru. Aku tidak peduli akan apa yang terjadi. Aku hormati
kebesaran Demak sebagai pimpinan tertinggi atas segala pemerintahan di daerah-daerah,
namun alangkah kerdilnya pikiran mereka."
 Mendengar jawaban Gajah Sora itu darah Mahesa Jenar serasa berhenti. Dengan penuh
kebingungan ia bertanya kembali, "Apa yang telah mereka lakukan?"
 Sementara itu terdengarlah tanda bahaya bergema di seluruh lereng bukit Telamaya,
disusul dengan tanda-tanda supaya laskar Banyubiru berkumpul di alun-alun. Mahesa
Jenar menjadi semakin gelisah mendengar tanda-tanda itu. Apa yang telah mereka
lakukan...”
 Gajah Sora tidak menjawab, tetapi sorot matanya bertambah menyala. Ketika dilihatnya kudanya telah siap di halaman, tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, ia berlari
melintasi pendapa dan langsung meloncat ke atas punggung kudanya. Sesaat kemudian
Gajah Sora sudah lenyap diantara beberapa orang yang bersama-sama memacu kudanya
ke alun-alun, dimana sudah berkumpul segenap Laskar Banyubiru.
 Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiri kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus
dilakukan. Tetapi untunglah bahwa Mahesa Jenar mempunyai otak yang jernih, sehingga
beberapa saat kemudian ia telah berhasil menguasai dirinya kembali.
 Maka dengan tangkasnya ia meloncat ke belakang, ke kandang kuda. Diambilnya kuda
abu-abu yang biasa dipakainya.
 Dengan cekatan ia mempersiapkan pelananya. Dan dalam sekejap kemudian, ia telah
berlari diatas punggung kuda abu-abu itu menyusul Gajah Sora, serta apabila mungkin
mencegah hal-hal yang tak diinginkan.
 Tetapi ketika ia keluar dari halaman, segera di arah timur tampak api menyala-nyala.
Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang, sehingga terlontar suatu teriakan tertahan. Tak
mungkin.... Tak mungkin. Tentara Demak bukan gerombolan-gerombolan liar yang biasa
membakar rumah dan merampok isinya.
 Maka segera timbul gambaran di dalam otaknya, bahwa ini pasti suatu usaha pengadudombaan. Walaupun demikian ia bermaksud untuk membuktikan siapakah yang telah
berbuat gila itu. Segera ia menarik kekang kudanya, dan memutar ke arah api yang
menyala-nyala di sebelah timur itu. Kudanya yang lari secepat angin itu, dalam beberapa
saat kemudian telah hampir sampai di tempat api yang menyala-nyala. Di beberapa
tempat, ia bertemu dengan orang-orang yang berusaha mengungsikan diri. Kepada salah
seorang diantaranya, ia bertanya, "He..., Kakang yang menjauhkan diri dari keributan,
tahukan kau siapakah yang membakari rumah-rumah itu?"
 Orang itu berhenti sejenak, lalu memandang kepada Mahesa Jenar dengan heran. Tetapi
bagaimanapun ia selalu mengharap perlindungan dari manapun datangnya. Maka
jawabnya, "Aku tidak tahu, tetapi mereka selalu berteriak-teriak, bahwa mereka adalah
prajurit-prajurit dari Demak yang mendapat perintah untuk menghancurkan Banyubiru,
sebab Banyubiru akan memberontak terhadap Demak."
 "Bagaimanakah cara mereka berpakaian?" selidik Mahesa Jenar lebih lanjut.
 "Mereka memakai baju merah, ikat kepala merah dan celana merah pula. Adapun
kainnya berwarna hitam," jawab pengungsi itu.
 “Wiratamtama,” desis Mahesa Jenar.
 "Terimakasih, Kakang," kata Mahesa Jenar kepada orang itu sambil menarik kekang
kudanya, yang kemudian berlari kembali secepat angin ke arah api yang semakin lama
semakin tinggi seolah-olah akan menjilat langit.  Pakaian orang-orang yang membakar rumah itu, adalah pakaian prajurit Demak dari
kesatuan penggempur yang bernama Wiratamtama, yang terdiri dari orang-orang pilihan
dan perwira, bahkan dapat dikatakan sama dengan pasukan pengawal raja, yang disebut
kesatuan Nara Manggala. Tetapi pakaian mereka agak berbeda. Sebab Nara Manggala
memakai ikat kepala biru, ikat pinggang kuning. Karena itu ia semakin bernafsu untuk
mengetahui siapakah sebenarnya yang telah menamakan diri mereka prajurit-prajurit dari
Demak itu.
 Ketika matahari mulai bercahaya di arah timur, Mahesa Jenar sampai di tempat
kebakaran. Ternyata orang yang membakar rumah-rumah itu sebagian besar sudah
melarikan diri. Tinggallah di sana-sini beberapa orang saja yang masih berusaha untuk
menemukan barang-barang yang berharga dari rumah-rumah yang terbakar itu.
 Melihat kelakuan mereka yang tak ubahnya dengan anjing yang mengais di keranjang
sampah, hati Mahesa Jenar terbakar oleh kemarahannya yang memuncak. Ia tidak saja
merasa marah, bahwa orang-orang yang menamakan diri prajurit-prajurit itu telah
membakar rumah-rumah penduduk yang tak bersalah, tetapi kelakuan mereka adalah
suatu penghinaan langsung terhadap kebesaran nama Wiratamtama khususnya dan
prajurit Demak umumnya.
 Karena itu segera ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa sama sekali mereka bukanlah
prajurit-prajurit Demak yang sebenarnya. Karena itu tanpa bertanya-tanya lagi Mahesa
Jenar segera menyerbu ke arah mereka.
 Beberapa orang yang sedang sibuk mencari barang-barang itu, segera terkejut ketika
mereka mendengar derap kuda mendekati mereka, apalagi ketika dilihatnya seorang yang
belum dikenalnya langsung menuju ke arah mereka, dengan sikap yang garang.
 Segera mereka melihat bahaya yang datang. Tetapi karena jumlah mereka yang banyak
itu, mereka sama sekali tidak takut ketika dilihatnya bahwa yang datang hanyalah
seorang. Meskipun demikian mereka bersiap-siap pula menanti kedatangan Mahesa
Jenar.
 Mahesa Jenar yang memacu kudanya seperti badai, dengan penuh kemarahan langsung
menyerang orang-orang yang menantinya dengan sikap tak acuh itu. Baru ketika tiga
orang bersama-sama terpelanting dengan meninggalkan suara parau yang terputus,
sadarlah mereka bahwa yang datang itu bukan orang sembarangan.
 Dengan kebingungan karena terkejut mereka mencoba mempersiapkan senjata-senjata
mereka, tetapi itu tidaklah banyak gunanya, sebab sekejap kemudian Mahesa Jenar telah
mengulangi serangannya. Sekali lagi dua orang sekaligus terlempar dengan
mengumandangkan teriakan tinggi.
 Orang-orang lain yang melihat kelima kawannya sudah menggeletak tak bernyawa itu,
menjadi ketakutan, dan dengan tidak menunggu lebih lama lagi segera mereka melarikan diri bercerai-berai.
 Mahesa Jenar segera berusaha menangkap salah seorang diantaranya. Dan kemudian
membantingnya di tanah. Dengan ibu jarinya yang kuat Mahesa Jenar siap menekan leher
orang itu. Sementara itu ia bertanya, “Siapakah kau sebenarnya?”
 Orang itu menjadi ketakutan setengah mati. Karena itu, meskipun ia berusaha menjawab,
tetapi mulutnya menjadi tergagap-gagap tak keruan. Mahesa Jenar menyumpah-nyumpah
di dalam hati. Karena bagaimanapun ia memaksa, mulut orang itu pasti tak akan dapat
mengeluarkan kata-kata yang dapat dimengerti.
 Akhirnya dengan sangat marah Mahesa Jenar menarik bajunya sehingga orang itu
berdiri. Bersamaan dengan itu darah Mahesa Jenar tersirap sampai ke kepala, ketika
dilihatnya, melingkar perut orang itu sebuah ikat pinggang yang lebar, dengan gambar
dua ekor uling yang saling melilit. Karena itu Mahesa Jenar berteriak nyaring, “Kau dari
gerombolan Uling Rawa Pening...?”
 Mulut orang itu tampak bergerak-gerak, tapi suara yang keluar dari mulutnya tak
ubahnya seperti suara orang bisu. Meskipun demikian karena kepalanya menganggukangguk, tahulah Mahesa jenar bahwa orang itu benar-benar dari gerombolan Uling Rawa
Pening. Karena itu marahnya semakin membara di dalam dadanya. Alangkah banyaknya
unsur-unsur yang ingin merusak kedamaian tanah perdikan kecil di lereng bukit
Telamaya itu.
 Tetapi kemudian Mahesa Jenar terkejut ketika ia mendengar suara tertawa di
belakangnya. Ketika ia menoleh, dilihatnya Arya Salaka agak jauh di belakangnya, duduk
di atas kuda hitamnya. Begitu asyiknya Mahesa Jenar mengurusi tangkapannya, sehinga
ia sama sekali tak memperhatikan kedatangan Arya yang tentu dengan sengaja
bersembunyi dan sangat berhati-hati.
 “Apa kerjamu di situ Arya?” teriak Mahesa Jenar.
 “Apa pula yang Paman kerjakan itu?” jawab Arya berteriak pula.
 Mendapat jawaban yang nakal itu, Mahesa Jenar menjadi jengkel.
 “Kemarilah,” panggilnya keras-keras.
 Perlahan-lahan Arya menjalankan kudanya mendekati Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak mau
dekat benar, sebab ia mengira bahwa Mahesa Jenar akan marah kepadanya.
 Dengan masih memegangi tangkapannya erat-erat, Mahesa Jenar mengulangi
pertanyaannya” Apa kerjamu disini?”
 Arya menjadi agak bingung, sebab ternyata Mahesa Jenar benar-benar tak senang akan
kehadirannya. Meskipun demikian ia menjawab dengan jujur. Aku melihat Paman memacu kuda ke arah timur. Aku kira pasti ada hal-hal yang menarik sehingga aku ingin
ikut melihatnya.
 “Lalu apa yang sudah kau lihat?” desak Mahesa Jenar.
 “Paman Mahesa Jenar menangkap kelinci,” jawab Arya. Mau tidak mau Mahesa Jenar
menjadi geli mendengar jawaban Arya. Memang anak itu nakalnya bukan main.
 “Nah, ayo lekas pulang,” perintah Mahesa Jenar.
 “Nanti bersama Paman,” jawab Arya.
 Mahesa Jenar menjadi bertambah jengkel. “Pulanglah Arya, supaya ayahmu tidak
marah.”
 ”Aku takut pulang sendiri,” jawabnya mengelak.
 Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu betul bahwa Arya sama sekali tidak
takut. Maka mau tidak mau ia harus mengantar anak itu pulang. Lalu dengan sebuah
sentakan yang keras Mahesa Jenar mendorong tangkapannya sehingga orang itu
terdorong dan terbanting menelentang. Matanya memancarkan perasaan takut yang amat
sangat, sedang nafasnya seperti berdesak berebut keluar. Arya menjadi geli melihat orang
itu. “Tidakkah Paman bermaksud membunuh orang itu?”
 Mendengar kata-kata Arya orang itu menjadi semakin ketakutan, sehingga akhirnya
malahan Mahesa Jenar menjadi kasihan kepadanya. “Kalau kau masih mempunyai sisa
tenaga, pergilah cepat-cepat menjauhi aku sebelum aku mencekikmu,” katanya.
 Orang itu menjadi ragu-ragu sebentar mendengar kata-kata Mahesa Jenar, seperti ia tidak
percaya pada pendengarannya.” Sampai kemudian terdengar, Pergilah!”
 Orang itu segera berdiri dan mundur beberapa langkah. Sesaat kemudian ia memutar
tubuhnya dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi Mahesa Jenar, seperti kuda pacu
di lapangan pertandingan.
 Arya melihat kelakuan orang itu seperti sebuah permainan yang menyenangkan. Maka
timbullah kenakalannya, untuk menakut-nakuti orang itu. “Tangkap orang itu, Paman...,
tangkap orang itu. Ia akan melaporkan kepada pemimpinnya bahwa Paman ada di sini.”
 Mendengar Arya berteriak-teriak, orang itu berlari semakin cepat tanpa menoleh,
dibarengi dengan suara tertawa. Arya bergelak-gelak. Arya baru berhenti tertawa ketika
didengarnya Mahesa Jenar berkata, “Marilah Arya, ada kerja yang lebih penting daripada
menunggumu bermain-main di sini.”
 Belum lagi habis kata-kata Mahesa Jenar, sayup-sayup menyusur lereng perbukitan
terdengarlah suara sangkakala bergema. Mahesa Jenar terkejut mendengar suara itu. Maka tanpa sesadarnya ia berkata – “Itulah pasukan dari Demak.”
 “Dari Demak?” ulang Arya.
 Mahesa Jenar memandang wajah Arya yang masih memancarkan kebeningan hatinya itu
dengan saksama. Meskipun anak itu nakalnya bukan main, tetapi hatinya bersih, sebersih
hati ayahnya.
 “Marilah kita lihat,” ajaknya.
 Kemudian mereka berdua melarikan kuda mereka naik ke lereng yang lebih tinggi lagi.
Dari sana dapatlah mereka melihat sebuah iring-iringan besar berjalan perlahan-lahan
seperti semut yang merayapi dinding-dinding batu.
 Mahesa Jenar menjadi terkejut bukan kepalang, ketika ia melihat pasukan Demak itu
berjalan sudah dengan gelar perang. Bukan lagi merupakan barisan yang akan
mengunjungi sebuah wilayah kerajaannya. Gelar itu merupakan gelar yang langsung akan
dapat menghantam pertahanan lawan. Yaitu gelar Cakra Byuha.
 Hati Mahesa Jenar berdebar sangat kerasnya. Mungkin beberapa penyelidik dari Demak
telah menangkap tanda bahwa yang sudah dibunyikan oleh Gajah Sora, serta mereka
mungkin salah terima terhadap nyala yang tidak boleh tidak pasti mereka saksikan. Nyala
api yang ditimbulkan oleh kelakuan gerombolang Uling dari Rawapening, yang merasa
sangat berkepentingan apabila di Banyubiru timbul keributan-keributan.
 Segera Mahesa Jenar pun teringat bahwa Gajah Sora telah pula menyiapkan pasukannya.
Maka apabila tidak ada pencegahan, pertempuran yang dahsyat pasti akan terjadi. Karena
itu dengan tergesa-gesa Mahesa Jenar mengajak Arya Salaka untuk segera kembali
menemui Ki Ageng Gajah Sora.
 Dengan kecepatan penuh, Mahesa Jenar dan Arya Salaka melarikan kuda masing-masing
langsung menuju ke alun-alun Banyubiru.
 Ketika mereka sudah memasuki kota, kembali dada Mahesa Jenar terpukul oleh suatu
kenyataan bahwa Gajah Sora telah membawa pasukannya untuk menyongsong pasukan
Demak itu dengan gelar yang seimbang. Yaitu gelar Gajah Meta.
 Gajah Sora tampak garang di atas kuda putihnya. Di tangannya tergenggam erat pusaka
Banyubiru yang sakti, Kyai Bancak. Disampingnya dengan kepala menengadah tampak
orang yang telah agak lanjut usianya, tetapi ialah satu-satunya kepercayaan yang tak
pernah berkisar dari samping Gajah Sora, yaitu Wanamerta.
 Di sisi yang lain dengan kepala tegak dan dada yang terbuka, seorang pemuda yang
kelak akan terkenal namanya sebagai seorang perwira, yaitu Penjawi. Di belakangnya
berturut-turut berjalan beberapa perwira pilihan.  Di belakangnya lagi berkibarlah dengan megahnya bendera-bendera lambang kebesaran
tanah perdikan Banyubiru. Panji-panji di atas dasar merah terlukis gambar seekor gajah
berwarna kuning keemasan. Di samping bendera itu berkibar pula beberapa panji-panji
kemegahan serta umbul-umbul beraneka warna, yang bertangkaikan tombak-tombak
yang sudah tak bersarung.
 Melihat pasukan itu, sejenak Mahesa Jenar tertegun. Ia adalah bekas seorang prajurit
yang tidak saja satu dua kali mengalami pertempuran-pertempuran hebat. Tetapi ketika ia
melihat tata barisan Gajah Sora dan gelar Gajah Meta, hatinya kagum juga. Ia jadi
percaya bahwa Laskar Banyubiru merupakan laskar yang sudah masak di bawah
pimpinan seorang yang mempunyai pengetahuan yang cukup.
 Tetapi ketika ia teringat akan kemungkinan yang terjadi apabila pasukan ini bertemu
dengan pasukan Demak, darahnya menjadi berdesir cepat. Maka segera ia melarikan
kudanya, langsung menuju ke arah Gajah Sora.
 Gajah Sora melihat kedatangan Mahesa Jenar, tetapi sikapnya menjadi agak lain dari
biasanya. Dengan pandangan kosong, Gajah Sora menghentikan kudanya dan bertanya
hambar, “Apakah maksud Adi Mahesa Jenar menemui aku?”
 Mahesa Jenar merasakan perbedaan sikap ini, tetapi ia tidak peduli. Dengan suara yang
perlahan-lahan tetapi jelas ia menceriterakan apa yang dilihatnya. Orang-orang yang
menyaru sebagai prajurit-prajurit Demak telah membakari rumah-rumah penduduk.
Dengan demikian maka laporan yang sampai kepada Gajah Sora pasti prajurit-prajurit
Demak yang melakukan pembakaran itu.
 Gajah Sora mendengar dengan baik kata-kata Mahesa Jenar, tetapi wajahnya sama sekali
tidak berubah. Meskipun demikian ia bertanya, “Lalu apa kata Adi Mahesa Jenar
terhadap gelar Cakra Byuha itu?”
 Mendengar pertanyaan itu terasa sesuatu berdesir di dada Mahesa Jenar. Rupa-rupanya
Gajah Sora telah mengetahui bahwa prajurit Demak mendekati Banyubiru dalam gelar
perang yang berbahaya. Karena itu untuk beberapa saat ia tidak menjawab. Baru
kemudian Mahesa Jenar berkata, Kakang Gajah Sora, ini adalah suatu kesalahpahaman
yang berbahaya.
 “Sudahlah Adi, Aku sudah mengatakan bahwa aku menyadari kesulitan Adi sekarang
ini. Karena itu aku persilahkan Adi kembali saja.”
 Sebenarnya Mahesa Jenar sama sekali tidak senang mendengar kata-kata Gajah Sora itu,
tetapi ketika ia akan menjawab, dilihatnya Gajah Sora melambaikan tangannya, dan
iring-iringan itu mulai bergerak kembali. Iring-iringan raksasa yang terdiri ribuan prajurit
yang terpecah-pecah menjadi bagian-bagian dalam gelar yang lengkap, Gajah Meta.
 Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Ia merasa bahwa agak terlambat untuk
menahan Gajah Sora, namun ia tidak putus asa. Tanpa mengingat kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya apabila ia bertemu dengan prajurit-prajurit Demak, Mahesa
Jenar mengikuti perjalanan pasukan Banyubiru, untuk menyongsong kedatangan
pasukan-pasukan dari Demak.
 Setelah itu tak sepatah katapun yang terdengar. Masing-masing berjalan tanpa bersuara.
Di kepala masing-masing berputarlah berbagai masalah yang berbeda-beda.
 Selangkah demi selangkah Laskar Banyubiru maju terus, dan selangkah demi selangkah
mereka semakin dekat dengan pasukan-pasukan yang datang. Tetapi setiap jengkal
mereka maju, setiap kali pula dada Mahesa Jenar merasa terbentur sesuatu yang seolaholah hendak pecah oleh ketegangan yang semakin memuncak.
 Sebentar kemudian pasukan itu menyusup, menerobos pepohonan dan kebun-kebun
yang sedang memamerkan buah-buahan yang lebat, menembus pagar-pagar dan
meloncati dinding-dinding rendah untuk tidak mengubah tata barisan mereka, dalam
gelar perang Dirada Meta.
 Kemudian muncullah pasukan itu di lapangan terbuka, sebuah padang rumput tempat
para penggembala melepaskan binatang-binatang peliharaan. Masih dalam tata barisan
yang teratur, mereka menuruni lereng bukit Telamaya.
 Sejenak kemudian Gajah Sora melambaikan tangannya, dan berhentilah iring-iringan
pasukan Banyubiru. Bersamaan dengan itu hampir berbareng terdengarlah gumam yang
seperti mengumandang diantara anggota laskar itu. Sebab jauh di hadapan mereka, di
bawah kaki bukit Telamaya, tampaklah dalam gelar Cakra Byuha pasukan-pasukan dari
Demak.
 Lebih dari itu semua adalah goncangan dada Mahesa Jenar. Kini benar-benar dadanya
serasa akan meledak. Tidak saja sedapat mungkin dirinya selalu berusaha untuk menjauhi
setiap prajurit dari Demak, untuk melenyapkan segala kenangan pada masa
kebanggaannya sebagai seorang prajurit pengawal raja, tetapi sekaligus ia merasa terharu
melihat kebesaran pasukan itu. Meskipun masih belum begitu jelas, tetapi bagi Mahesa
Jenar apa yang dilihatnya itu seolah-olah telah melekat di pelupuk matanya.
 Dengan membeda-bedakan warna pakaian mereka yang tampak seperti kelompokkelompok yang beraneka warna, Mahesa Jenar segera mengenal pasukan dari kesatuan
apa saja yang telah ditugaskan untuk datang ke Banyubiru. Karena pengenalan itu pula
Mahesa Jenar merasakan suatu tekanan yang dahsyat dalam hatinya. Sebab ia mengetahui
dengan pasti bahwa benar-benar pasukan itu merupakan pasukan tempur yang kuat
sekali.
 

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]